156 research outputs found

    TANDA DALAM CERPEN SI KUPU-KUPU KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA DAN CERPEN AKU WANITA PELACUR KARYA RIZAL ABRIYAN SYAH SAPUTRA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tanda berupa Ikon, Indeks, dan Simbol, dalam “cerpen Si Kupu-Kupu karya Seno Gumira Ajidarma dengan cerpen AkuWanita Pelacur karya Rizal Abriyan Syah Saputraâ€. Kedua cerpen tersebut dipilihsebagai perbandingan dan dipilih karena memiliki unsur dasar yaitu unsur instrinsikyang sama pada keduanya, kedua cerpen tersebut diteliti untuk mengetahui semiotikamengenai tanda yang terdapat pada kedua cerpen dan akan dibandingkan persamaanserta perbedaan mengenai tanda-tanda tersebut. Metode penelitian ini menggunakandeskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika teori Charles Sander Pierce. Datadalam penelitian ini didapatkan dengan teknik baca dan catat. Berdasarkan hasilanalisis ditemukan Persamaan : (1) Ikon judul cerpen pada cerpen Si Kupu-Kupu karya Seno Gumira Ajidarma dan cerpen Aku Wanita Pelacur karya Rizal Abriyan SyahSaputra, (2) Ikon tempat tinggal pada cerpen Si Kupu-Kupu karya Seno GumiraAjidarma dan cerpen Aku Wanita Pelacur karya Rizal Abriyan Syah Saputra, (3)Indeks fisiologis pada cerpen Si Kupu-Kupu karya Seno Gumira Ajidarma dan cerpenAku Wanita Pelacur karya Rizal Abriyan Syah Saputra. Dan ditemukan pula Perbedaan: (1) Ikon religi psds cerpen Aku Wanita Pelacur karya Rizal Abriyan Syah Saputra, (2)Indeks sikap Pasrah pada cerpen Aku Wanita Pelacur karya Rizal Abriyan SyahSaputra, (3) Simbol Warna pada cerpen Si Kupu-Kupu karya Seno Gumira Ajidarma.Kata kunci: Semiotika, Cerita Pendek, Sastra Bandinga

    Uji Komparasi Efisiensi Penggunaan Fakto-Faktor Produksi Antara Padi Organik Dan Padi Anorganik (Studi Kasus: Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perbandingan Pendapatan Usahatani Padi Organik Dan Anorganik di Desa Lubuk Bayas Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai. Teknik pengambilan sample menggunakan teknik (Cluster Sampling), untuk penelitian ini diambil sampel 30 orang, 15 petani organik dan 15 petani anorganik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan pendapatan petani padi organik dan petani padi anorganik. Dimana pendapatan petani organik lebih besar dari pendapatan padi anorganik dimana diproleh nilai signifikansi 0,000 T tabel (1.265,719 > 2,200) maka H1 diterima dan H0 ditolak pada tingkat kepercayaan 95

    Modul guru pembelajar paket keahlian teknik konstruksi batu beton kelompok kompetensi A

    Get PDF
    Pembuatan modul ini merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas professional guru dalam proses pembelajaran bagi lingkup kejuruan kelompok teknologi. Usaha tersebut adalah sebagai tindak lanjut dari reformasi Sistem pendidikan kejuruan yang diserahkan kepada penyiapan tamatan dengan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja

    Mempelajari Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Koagulan terhadap Pola Elektroforesis Protein Terkoagulasi serta Korelasinya terhadap Tekstur Curd Kedelai (Glycine max) yang Dihasilkan

    No full text
    Curd merupakan produk hasil koagulasi (penggumpalan) protein menggunakan bahan penggumpal (koagulan). Pembentukan struktur curd menjadi tahapan kritis dalam menentukan preferensi konsumen terhadap produk akhir. Perbedaan dalam penggunaan koagulan pada taraf konsentrasi tertentu akan memberikan hasil koagulasi yang berbeda dan mempengaruhi kesukaan konsumen terhadap tekstur curd yang dihasilkannya. Perbedaan dalam pembentukan tekstur curd ini dapat pula disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah mutu kedelai, kondisi proses yang dilakukan dan komposisi protein penyusun curd. Pengetahuan mengenai pengaruh koagulan, baik dari segi jenis maupun konsentrasi yang digunakan, terhadap tekstur curd yang diperoleh akan membantu pelaku produksi pangan dalam menciptakan produk yang konsisten secara organoleptik dan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkannya. Melalui penelitian ini, dipelajari pengaruh jenis dan konsentrasi koagulan terhadap komposisi protein yang difraksinasi dengan metode Osborne, pola elektroforesis masing-masing protein fraksi Osborne, dan pengaruhnya terhadap tekstur produk curd yang diperoleh, sehingga diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang diperlukan dalam pengembangan produk berbasis curd. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, tahap pertama berupa persiapan, penentuan proses standar, serta pembuatan curd, sedangkan tahap kedua berupa tahap analisis curd. Curd diperoleh melalui proses koagulasi menggunakan koagulan CaSO4.2H2O dan CH3COOH pada tiga konsentrasi, yaitu 0.015 N, 0.030 N, dan 0.045 N. Analisis yang dilakukan meliputi analisis tekstur curd secara subjektif dan objektif, analisis kadar protein Kjeldahl, analisis kadar air, analisis pH whey curd, analisis transmittan whey curd, fraksinasi protein metode Osborne, analisis kadar protein Bradford, dan analisis SDS-PAGE. Jenis dan konsentrasi koagulan yang digunakan memberikan variasi profil koagulasi protein yang diperoleh dan dapat diamati melalui pengukuran parameterparameter kimia seperti pH, kadar protein whey dan curd, nilai transmittan whey, serta kadar air curd. Penggunaan koagulan CaSO4.2H2O akan menghasilkan curd dengan pH yang lebih tinggi (5.69-5.96) dibandingkan koagulan CH3COOH (4.71-5.26). Selain itu curd yang dihasilkan melalui penggunaan koagulan CaSO4.2H2O memiliki kandungan protein (bb) yang lebih rendah (6.91%-10.81%) dan kadar air (bb) yang lebih tinggi (79.30%-87.83%) dibandingkan koagulan CH3COOH (kadar protein (bb) = 10.75%- 11.06%; kadar air (bb) = 76.44%-80.14%). Kandungan protein curd yang rendah menyebabkan whey hasil pengepressan curd memiliki kandungan protein yang tinggi dan berbanding terbalik dengan nilai transmittannya. Parameter tekstur curd yang diamati secara objektif menggunakan instrumen TA-XT2i menunjukkan bahwa nilai hardness sampel curd koagulan CaSO4.2H2O lebih rendah daripada curd dari koagulan CH3COOH dengan nilai kisaran masing-masing (pada konsentrasi 0.015N-0.045N) adalah 401.85g-749.21g dan 667.93g-862.93g. Kisaran nilai untuk parameter cohesiveness dan gumminess sampel curd koagulan CaSO4.2H2O dan curd koagulan CH3COOH masing-masing adalah 74.36%-76.03% dan 69.44%-71.24% serta 298.75g-563.15g dan 468.22g-599.23g. Hasil analisis tekstur subjektif dengan metode penekanan menunjukkan bahwa koagulasi dengan CaSO4.2H2O memberikan nilai kekerasan terendah, selain itu peningkatan konsentrasi cenderung meningkatkan kekerasan. Urutan sampel dari yang terlunak hingga yang terkeras menurut metode penggigitan adalah CaSO4.2H2O-0.015 N, CaSO4.2H2O-0.030 N, CH3COOH-0.045 N, CH3COOH-0.030 N, CaSO4.2H2O-0.045 N dan CH3COOH- 0.015 N. Sementara itu, urutan sampel dari yang terlunak hingga yang terkeras menurut metode penggigitan adalah CaSO4.2H2O-0.030 N, CH3COOH-0.045 N, CaSO4.2H2O- 0.045 N, CaSO4.2H2O-0.015 N, CH3COOH-0.030 N dan CH3COOH-0.015 N. Hasil pengukuran kerapuhan sampel curd dengan penggigitan memberikan urutan sampel (dari yang paling rapuh hingga yang paling tidak rapuh) CH3COOH-0.045 N, CaSO4.2H2O-0.030 N, CH3COOH-0.030 N, CaSO4.2H2O-0.045 N, CaSO4.2H2O-0.015 N, CH3COOH-0.015 N. Kesukaan panelis secara umum menunjukkan bahwa sampel curd CaSO4.2H2O lebih disukai. Nilai korelasi antara kekerasan objektif dengan kekerasan subjektif menggunakan metode penekanan menunjukkan nilai yang lebih tinggi (0.757 untuk CaSO4.2H2O dan 0.649 untuk CH3COOH) dibandingkan dengan metode penggigitan (-0.383 untuk CaSO4.2H2O dan 0.455 untuk CH3COOH). Proporsi masing-masing fraksi protein albumin, globulin, prolamin dan glutelin dalam sampel curd untuk masing-masing sampel adalah 2.29%, 0.41%, 0.13%, 64.01% (curd CaSO4.2H2O konsentrasi 0.015 N), 1.68%, 1.07%, 0.07%, 55.75% (curd CaSO4.2H2O konsentrasi 0.030 N), 1.48%, 1.37%, 0.27%, 56.74% (curd CaSO4.2H2O konsentrasi 0.045 N), 1.19%, 0.96%, 0.10%, 66.48% (curd CH3COOH konsentrasi 0.015 N), 0.74%, 1.15%, 0.30%, 69.17% (curd CH3COOH konsentrasi 0.030 N), 0.70%, 1.27%, 0.96%, 63.05% (CH3COOH konsentrasi 0.045 N). Melalui analisis regresi linear berganda, hubungan antara porsi protein fraksi Osborne dengan parameter kekerasan objektif dapat dijelaskan dengan persamaan Y = 401.306 -178.043 X1 +270.204 X2 -298.194 X3 +5.415 X4, dimana Y adalah kekerasan curd terhadap porsi protein fraksi Osborne, X1 adalah porsi fraksi albumin, X2 adalah porsi fraksi globulin, X3 adalah porsi fraksi prolamin, dan X4 adalah porsi fraksi glutelin. Globulin menjadi fraksi protein Osborne yang berkorelasi positif terhadap kekerasan curd, dimana berat molekul protein dominan untuk koagulan CaSO4.2H2O dan CH3COOH masing-masing adalah 40 kDa dan 15 kDa. Secara umum, pembentukan kekerasan tekstur curd dipengaruhi oleh profil koagulasi protein, terutama kandungan air yang terdapat di dalam sampel curd. Proporsi protein fraksi Osborne diduga juga berpengaruh terhadap kekerasan yang ditimbulkan curd, dimana porsi fraksi albumin dan prolamin bersifat menurunkan kekerasan sampel curd, sedangkan fraksi protein globulin berkorelasi positif terhadap kekerasan curd yang ditimbulkan

    Analisis Tari Kinayat Sindiran Pesan Koreografer Sunardi Di Sanggar Seni Megad Syah Alam Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau

    No full text
    This thesis aims to find out in detail about Tari Kinayat Says Message from Sunardi at the Megad Syah Alam Art Studio Lingga Regency, Riau Islands Province, this research was conducted in Sanggar Megad Syah Alam Art starting from October 17, 2018 - January 15, 2019. Kinayat Sindiran Pesan Dance is a dance originating from the Art Studio Megad Syah Alam created by a choreographer named Sunardi, this work was created in Daik Lingga in 2012 and displayed on Sasono Langen Budoyo Building. The purpose of this work was created for the event dance parade competition at the Riau Islands Province level. This dance tells about the meeting of Sultan Mahmud and Engku Hamidah who were children from Raja Ali Haji. Starting from an allusion to Sultan Mahmud's message to Raja Ali Haji through Abdullah Intermediary to replace Raja Ali's burden Hajj with the requirement to marry Engku Hamidah with Sultan Mahmud. Method used by the author is an interactive qualitative method of analysis with using non participant qualitative data. This work is useful for the writer namely to find out how the dance analysis of Kinayat Sindiran Message works Sunardi, for the Sendratasik Study Program this research is expected to be wrong one requirement to complete S1 Islamic Education in Riau University Teacher Training and Education Faculty Sendratasik Education Study Program

    Mempelajari Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Koagulan terhadap Pola Elektroforesis Protein Terkoagulasi serta Korelasinya terhadap Tekstur Curd Kedelai (Glycine max) yang Dihasilkan

    No full text
    Curd merupakan produk hasil koagulasi (penggumpalan) protein menggunakan bahan penggumpal (koagulan). Pembentukan struktur curd menjadi tahapan kritis dalam menentukan preferensi konsumen terhadap produk akhir. Perbedaan dalam penggunaan koagulan pada taraf konsentrasi tertentu akan memberikan hasil koagulasi yang berbeda dan mempengaruhi kesukaan konsumen terhadap tekstur curd yang dihasilkannya. Perbedaan dalam pembentukan tekstur curd ini dapat pula disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah mutu kedelai, kondisi proses yang dilakukan dan komposisi protein penyusun curd. Pengetahuan mengenai pengaruh koagulan, baik dari segi jenis maupun konsentrasi yang digunakan, terhadap tekstur curd yang diperoleh akan membantu pelaku produksi pangan dalam menciptakan produk yang konsisten secara organoleptik dan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkannya. Melalui penelitian ini, dipelajari pengaruh jenis dan konsentrasi koagulan terhadap komposisi protein yang difraksinasi dengan metode Osborne, pola elektroforesis masing-masing protein fraksi Osborne, dan pengaruhnya terhadap tekstur produk curd yang diperoleh, sehingga diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang diperlukan dalam pengembangan produk berbasis curd. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, tahap pertama berupa persiapan, penentuan proses standar, serta pembuatan curd, sedangkan tahap kedua berupa tahap analisis curd. Curd diperoleh melalui proses koagulasi menggunakan koagulan CaSO4.2H2O dan CH3COOH pada tiga konsentrasi, yaitu 0.015 N, 0.030 N, dan 0.045 N. Analisis yang dilakukan meliputi analisis tekstur curd secara subjektif dan objektif, analisis kadar protein Kjeldahl, analisis kadar air, analisis pH whey curd, analisis transmittan whey curd, fraksinasi protein metode Osborne, analisis kadar protein Bradford, dan analisis SDS-PAGE. Jenis dan konsentrasi koagulan yang digunakan memberikan variasi profil koagulasi protein yang diperoleh dan dapat diamati melalui pengukuran parameterparameter kimia seperti pH, kadar protein whey dan curd, nilai transmittan whey, serta kadar air curd. Penggunaan koagulan CaSO4.2H2O akan menghasilkan curd dengan pH yang lebih tinggi (5.69-5.96) dibandingkan koagulan CH3COOH (4.71-5.26). Selain itu curd yang dihasilkan melalui penggunaan koagulan CaSO4.2H2O memiliki kandungan protein (bb) yang lebih rendah (6.91%-10.81%) dan kadar air (bb) yang lebih tinggi (79.30%-87.83%) dibandingkan koagulan CH3COOH (kadar protein (bb) = 10.75%- 11.06%; kadar air (bb) = 76.44%-80.14%). Kandungan protein curd yang rendah menyebabkan whey hasil pengepressan curd memiliki kandungan protein yang tinggi dan berbanding terbalik dengan nilai transmittannya. Parameter tekstur curd yang diamati secara objektif menggunakan instrumen TA-XT2i menunjukkan bahwa nilai hardness sampel curd koagulan CaSO4.2H2O lebih rendah daripada curd dari koagulan CH3COOH dengan nilai kisaran masing-masing (pada konsentrasi 0.015N-0.045N) adalah 401.85g-749.21g dan 667.93g-862.93g. Kisaran nilai untuk parameter cohesiveness dan gumminess sampel curd koagulan CaSO4.2H2O dan curd koagulan CH3COOH masing-masing adalah 74.36%-76.03% dan 69.44%-71.24% serta 298.75g-563.15g dan 468.22g-599.23g. Hasil analisis tekstur subjektif dengan metode penekanan menunjukkan bahwa koagulasi dengan CaSO4.2H2O memberikan nilai kekerasan terendah, selain itu peningkatan konsentrasi cenderung meningkatkan kekerasan. Urutan sampel dari yang terlunak hingga yang terkeras menurut metode penggigitan adalah CaSO4.2H2O-0.015 N, CaSO4.2H2O-0.030 N, CH3COOH-0.045 N, CH3COOH-0.030 N, CaSO4.2H2O-0.045 N dan CH3COOH- 0.015 N. Sementara itu, urutan sampel dari yang terlunak hingga yang terkeras menurut metode penggigitan adalah CaSO4.2H2O-0.030 N, CH3COOH-0.045 N, CaSO4.2H2O- 0.045 N, CaSO4.2H2O-0.015 N, CH3COOH-0.030 N dan CH3COOH-0.015 N. Hasil pengukuran kerapuhan sampel curd dengan penggigitan memberikan urutan sampel (dari yang paling rapuh hingga yang paling tidak rapuh) CH3COOH-0.045 N, CaSO4.2H2O-0.030 N, CH3COOH-0.030 N, CaSO4.2H2O-0.045 N, CaSO4.2H2O-0.015 N, CH3COOH-0.015 N. Kesukaan panelis secara umum menunjukkan bahwa sampel curd CaSO4.2H2O lebih disukai. Nilai korelasi antara kekerasan objektif dengan kekerasan subjektif menggunakan metode penekanan menunjukkan nilai yang lebih tinggi (0.757 untuk CaSO4.2H2O dan 0.649 untuk CH3COOH) dibandingkan dengan metode penggigitan (-0.383 untuk CaSO4.2H2O dan 0.455 untuk CH3COOH). Proporsi masing-masing fraksi protein albumin, globulin, prolamin dan glutelin dalam sampel curd untuk masing-masing sampel adalah 2.29%, 0.41%, 0.13%, 64.01% (curd CaSO4.2H2O konsentrasi 0.015 N), 1.68%, 1.07%, 0.07%, 55.75% (curd CaSO4.2H2O konsentrasi 0.030 N), 1.48%, 1.37%, 0.27%, 56.74% (curd CaSO4.2H2O konsentrasi 0.045 N), 1.19%, 0.96%, 0.10%, 66.48% (curd CH3COOH konsentrasi 0.015 N), 0.74%, 1.15%, 0.30%, 69.17% (curd CH3COOH konsentrasi 0.030 N), 0.70%, 1.27%, 0.96%, 63.05% (CH3COOH konsentrasi 0.045 N). Melalui analisis regresi linear berganda, hubungan antara porsi protein fraksi Osborne dengan parameter kekerasan objektif dapat dijelaskan dengan persamaan Y = 401.306 -178.043 X1 +270.204 X2 -298.194 X3 +5.415 X4, dimana Y adalah kekerasan curd terhadap porsi protein fraksi Osborne, X1 adalah porsi fraksi albumin, X2 adalah porsi fraksi globulin, X3 adalah porsi fraksi prolamin, dan X4 adalah porsi fraksi glutelin. Globulin menjadi fraksi protein Osborne yang berkorelasi positif terhadap kekerasan curd, dimana berat molekul protein dominan untuk koagulan CaSO4.2H2O dan CH3COOH masing-masing adalah 40 kDa dan 15 kDa. Secara umum, pembentukan kekerasan tekstur curd dipengaruhi oleh profil koagulasi protein, terutama kandungan air yang terdapat di dalam sampel curd. Proporsi protein fraksi Osborne diduga juga berpengaruh terhadap kekerasan yang ditimbulkan curd, dimana porsi fraksi albumin dan prolamin bersifat menurunkan kekerasan sampel curd, sedangkan fraksi protein globulin berkorelasi positif terhadap kekerasan curd yang ditimbulkan

    Making a Video Profile of the Sultan Mahmud Riayat Syah Mosque: Pembuatan Video Profil Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah

    No full text
    In making mosque profile videos, the author chooses to use video to make it more interesting to see both in the community and for a wider scope such as introducing the media as religious tourism. Methods for using data using observation and literature study. After obtaining data to solve existing problems, namely using SWOT analysis (strengths, weaknesses, opportunities, threats) in order to position which ones need attention in the mosque profile video and be different from other mosques. In making a video profile of the Sultan Mahmud Riayat Syah Mosque, the author uses the Luther Sutopo method. There are 6 (six) stages of the development method, namely concept, design, material collection, assembly, testing and distribution. The research that resulted from the making of video profiles was analyzed from the quality of the video which was measured from the material and media aspects using the Likert scale and got "Very Good" results from the respondents with an interpretation value of 83.4%. Then with an analysis of the aspect of public understanding using the One Group Pre-test and Post-test, which before watching the video with an average value of 45 and after watching the video increased with a value of 83.Didalam pembuatan video profil masjid, penulis memilih menggunakan video agar dapat lebih menarik untuk ditampilkan baik dalam lingkup masyarakat maupun untuk lingkup yang lebih luas seperti media memperkenalkan sebagai wisata religi. Metode untuk pengumpulan data ini menggunakan observasi dan studi pustaka. Setelah mendapatkan data-data untuk memecahkan masalah yang ada, yaitu menggunakan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat) agar dapat memposisikan mana yang perlu ditampilkan dalam video profil masjid dan menjadi berbeda dengan masjid lain. Dalam Pembuatan Video Profil Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah ini, penulis menggunakan metode Luther Sutopo. Adapun metode pengembangan terdapat 6 (enam) tahapan yaitu concept, design, material collecting, assembly, testing dan distribution. Penelitian yang dihasilkan dari pembuatan video profil dianalisis dari kualitas video yang diukur dari aspek materi dan media menggunakan skala likert dan mendapatkan hasil "Sangat Baik" dari responden dengan hasil nilai interpretasi 83,4%. Kemudian dilanjutkan dengan analisis dari aspek pemahaman masyarakat dengan menggunakan One Group Pre-test dan Post-test, yang sebelum menonton video dengan rata-rata nilai 45 dan sesudah menonton video menjadi meningkat yaitu dengan nilai 83

    Kedudukan Anak Angkat Menurut Hukum Adat, Hukum Perdata (Staatsblad 1917 No. 129) dan Hukum Islam

    No full text
    Anak adalah merupakan generasi penerus keluarga dan cita-cita bangsa, oleh karena itu di zaman reformasi dewasa ini perhatian besar haruslah ditujukan pada pembinaan generasi penerus, karena apabila di dalam suatu negara terdapat banyak anak tarlantar maka hal ini amatlah disayangkan. Salah satu partisipasi nyata yang terealisir dewasa ini adalah diperbolehkannya mengangkat anak oleh keluarga-keluarga yang ingin mengasuhnya, mengingat bunyi Undang-undang No.4 Tahun 1979, bahwa pengangkatan anak adalah merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kesejahteraan anak. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Metode pendekatan yang digunakan adalah yuridis normatif dan yurudis sosiologis, lokasi penelitian b e r a d a d i K o t a Medan. Populasiny a orang y a ng p e rn ah mengajukan permohonan pengangkatan anak di kota Medan, sampelnya adalah masyarakat yang berada di empat Kecamatan yaitu, Kecamatan Medan Barat, Kecamatan Medan Tembung, Kecamatan Medan Sunggal dan Kecamatan Medan Belawan, yang berjumlah 20 orang sebagai responden dan ditambah dengan 12 orang informan, yang berasal dari Hakim/Panitera Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama (4 orang), Ulama (1 orang), Dinas Sosial (1 orang), Yayasan Ade Irma Suryani (1 orang) dan Pengetua adat (5 orang). Pengumpulan data dilakukan dengan quesioner, wawancara dan studi kepustakaan. Data dianalisis secara logis sistematis dengan metode induktif dan deduktif Pengangkatan anak ini tunduk pada hukum yang berbeda-beda yaitu, pengangkatan anak yang tunduk pada hukum adat, pengangkatan anak yang tunduk pada KUH. Perdata yang diatur secara tersendiri pada Staatsblad 1917 No. 129 dan pengangkatan anak yang tunduk pada Hukum Islam. Pada hukum Adat pengangkatan anak ini tidak memerlukan adanya putusan seorang Hakim, pengangkatan anak cukup disaksikan oleh ketua Adat dan masyarakat setempat, yang dilakukan dengan cara terang dan tunai. Kedudukan anak angkat pada hukum Adat ini berbeda -beda, bergantung pada sistem hukum kekeluargaan yang terdapat pada hukum adat tersebut. Pada hukum adat yaag mempunyai sistem hukum kekeluargaan yang bersifat patrilineal (adat Batak Toba dan Batak Kara), kedudukan anak angkat sama dengan anak kandung, anak angkat masuk ke dalam lingkungan kekerabatan geneologis marga ayah angkatnya, tetapi dalam hal mewaris anak angkat hanya dapat mewarisi harta gonogini keluarga angkatnya, sedang harta pusaka jatuh pada keluarga ayah angkatnya. Pada masyarakat yang mempunyai sistem hukum kekeluargaan yang bersifat matrilineal (hukum adat Minangkabau), kedudukan anak angkat tidak sama dengan anak kandung, dan pada hukum adat yang rnempunyai sistem hukum kekeluargaan yang bertsifat parental atau bilateral (adat Jawa dan adat Melayu), yaitu pada adat Jawa anak angkat ini disebut dengan "ngangsu sumur loro", yaitu mempunyai dua sumber warisan yang berasal dari sebacjian harta peninggalan orang tua angkatnya (hibah atau wasiat wajibah; dan warisan dari orang tua kandungnya. Pada hukum adat Melayu anak angkat tidak sama kedudukannya dengan anak kandung sehingga anak angkat tidak mewaris dari harta peninggalan orang tua angkatnya. Pada KUH. Perdata sebenarnya tidak mengatur tentang pengangkatan anak, namun karena kebutuhan masyarakat Tionghoa, maka pungangkatan anak tersebut diatur secara tersendiri dalam Staatsblad 1917 No. 129. Pengangkatan anak tersebut memutuskan hubungan keperdataan si anak dengan orang tua kandungnya, sehingga si anak berkedudukan sebagai anak kandung. Dalam Hukum Islam Pengangkatan anak ini hanya bersifat tolong menolong. Ajaran Islam mendorong seorarlg muslim untuk memelihara anak orang lain yang tidak mampu, miskin, terlantar dan lain sebagainya, dan menganggapnya sebagai suatu amal dan tidak memutuskan hubungan nasab antara si anak dengan orang tua kandungnya, sehingga kedudukan anak angkat tersebut tidak sama dengan anak kandung.Child is a young generation of the family and nation, therefore, it is necessary to pay attention to the building and development of young generation to avoid uncared children. A real participation is the concession for adoption of child by the families who need child according to the regulation No. 4 of 1979 said that adoption of child is one effort to increase the child prosperous. This is a descriptive analytics research. Applied approach method is normative juridis and sociological juridis and this research hold at Medan. Its population is people who submit application for child adoption in. Medan, and its sample are people at four sub district, namely Sub district of West Medan, Medan Tembung, Medan Sunggal, and Medan Belawan, Le 20 sample as respondents and 12 informans that consists of 4 informants from judges office, 1 of Ade Irma Suryani Foundation and 5 society figures. The data is collected by using questionnaire, interview and library research. Data are analyzed systematic logically in inductive and deductive methods. The adoption of child order to the different laws, i.e. the adoption of child based on custom law, civil law that regulated specifically in Staatsblad. 1917 No. 129 and based on the Islam law. According to the custom law, the adoption of child did not require a Judge's decision. It only requires witnesses from Custom figure and the society in transparency and cash. The position of adopted child in the custom law is different depend on the familial law system applied in the custom. In the custom law applied patrilineal (such as batak Toga and Batak Karo), the position of adopted Childs enter are similar to the own flesh child in which the adopted child enter the genealogical familial environment of his adopted father and. the adopted child only has a right on the common properties of his adopted father while the inheritance of the family to be the owning of his adopted father's family. In the society applied matrilineal (such as Minangkabau), the position of adopted child is not equal to the owns flesh child and for the- society applied parental or bilateral system (such as Java and Malay) where in Java custom the adopted child called as "ngansu sumur loro" i.e has two inheritance resources from his adopted father (liabilities inheritance) and the inheritance of his parents. While in Malayu tradition, the adopted child did not get inheritance from his adopted father. According to civil law, this is not regulate specifically, but for the requirement of Chinese society, the adoption of child is regulated separately in Staatsblad 1917 No. 129. The adoption of child break down the civil relationship of the child to his/her parents. The Islam dogmatic encourage a muslim to care the order Childs who is poor, uncared, etc. and to assume it as social deed, and did not break down the relationship of the child to his/her parents, so its position is not similar to the owns flesh child.Tesis Magiste

    Desain Modifikasi Struktur Rumah Susun Tambak Osowilangun Surabaya Dengan Metode Beton Pracetak

    Get PDF
    Pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia bertambah pesat setiap tahunnya. Sebagai kota metropolitan dan kota terbesar kedua di Indonesia, hal tersebut juga terjadi di Kota Surabaya. Laju pertumbuhan penduduk Kota Surabaya berimplikasi langsung pada kebutuhan akan hunian masyrakatnya. Namun, di sisi lain ketersediaan akan lahan semikin minim. Hunian vertikal dapat menjadi alternatif solusi terkait permasalahan tersebut. Bangunan gedung biasanya dibangun dengan metode konvensional. Dengan perkembangan jaman, tuntutan terhadap pekerjaan konstruksi yang cepat dan efisien sering kali terjadi.. Metode beton pracetak merupakan alternative yang dinilai tepat untuk dilaksanakan. Beton pracetak memiliki kelebihan dibandingkan metode konvensional, yaitu : mempercepat waktu penyelesaian proyek, lebih praktis, semakin hemat pada jumlah pemakaian elemen dengan tipe berulang. Tanpa mengurangi kemampuan bangunan dalam menerima beban. Gedung Rumah Susun Tambak Osowilangun Surabaya dengan ketinggian 16 lantai yang terletak di Kelurahan Tambak Osowilangun, Kecamatan Benowo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur ini dibangun untuk segera dapat memenuhi kebutuhan akan hunian masyarakat Surabaya. Dalam pada tugas akhir ini akan dilakukan desain modifikasi struktur Rumah Susun Tambak Osowilangun Surabaya pada kolom, balok, dan pelat yangii sebelumnya menggunakan metode cor di tempat menjadi menggunakan metode pracetak dan menggunakan system gedung yaitu system ganda (Dual System). Dalam perencanaan elemen-elemen beton pracetak, penulis menggunakan ketentuan seperti perencanaan beton konvensional menurut SNI 2847 : 2013, PCI Handbook dan beberaoa referensi terkait. Selain itu, bagian terpenting dalam perencanaan menggunakan metode beton pracetak adalah bagian sambungan. Metode penyambungan yang digunakan oleh penulis adalah produk dari Peikko Group untuk sambungan antar balok dan NMB Splice Sleeve untuk sambungan antar kolom, sambungan yang digunakan termasuk sambungan basah. Analisa perhitungan berdasarkan kekuatan gaya aksial sambungan yang dibandingkan dengan kekuatan tulangan setelah leleh (1.25 fy) dan panjang penyaluran sesuai dengan peraturan SNI 2847 : 2013. Untuk perencanaan pondasi, penulis menggunakan produk tiang pancang beton dari PT. Wika Beton.================================The population in Indonesia is growing rapidly every year. As the second largest metropolitan city in Indonesia, it also happens in Surabaya. The rate of population growth in Surabaya has direct implications on the people’s need for housing. However, on the other hand the availability of land will be diminishing so vertical housing can be an alternative solution related to the problem. Buildings are usually built by conventional methods. With the development of the times, demands for fast and efficient construction work often needed. Precast concrete method is an appropriate alternative to be implemented. Precast concrete has advantages over conventional methods, namely: speed up the project completion time, more practical, and also more efficient on the number of elements with the use of recurring types but without reducing the ability of buildings in accepting the burden. Tambak Osowilangun Flats Building Surabaya with a height of 16 floors located in Tambak Osowilangun village, Benowo Sub-district, Surabaya City, East Java Province was built to immediately meet the residential needs in Surabaya. In this final project, the author will design the modification of the structure of Tambak Osowilangun Flats Surabaya on columns, beams, and plates which previously use in-situ cast method changed into precast method and utilize the building system that is dual system.iv In the planning of precast concrete elements, the authors use provisions such as conventional concrete planning according to SNI 2847: 2013, PCI Handbook and some related references. In addition, the most important part in planning using the precast concrete method is the connection part. The connection method used by the authors is the product of Peikko Group for the connection between beams and NMB Splice Sleeve for the connection between columns, the connection used including the wet connection. The calculation analysis is based on the strength of the axial force of the connection compared with the strength of the reinforcement after melting (1.25 fy) and the length of distribution in accordance with the regulation of SNI 2847: 2013. For the foundation planning, the author uses concrete pile product from PT. Wika Beton
    corecore