5 research outputs found

    EKSISTENSI PEMBACAAN CERITA LEGENDA “BABAD CIREBON” DI KERATON KANOMAN SEBAGAI KEKUATAN LITERASI BUDAYA

    No full text
    Setiap daerah di Indonesia memiliki cerita rakyatnya masing-masing. Sehubungan dengan itu, di Jawa Barat terdapat sebuah cerita yang hingga saat ini tetap dilestarikan, yakni cerita legenda “Babad Cirebon”. Cerita tersebutdilisankan menggunakan bahasa Cirebon Babasanoleh Pangeran Kumisi setiap tanggal 1 Muharram. Dalam hal ini, pihak Keraton Kanoman merupakan pilar utama yang konsisten menjaga tradisi lisan itu. Dalam perjalanannya, cerita legenda babad Cirebon telah mengalami transformasi, yaitu dari bentuk tulis ke lisan. Hal itu dilakukan agar masyarakat Cirebon dan masyarakat pada umumnya mengetahui kearifan lokal daerahnya serta asal-usul berdirinya Kota Cirebon sehingga mereka dapat menghargai jasa para leluhurnya. Selain itu, mereka diharapkan dapat memaknai kisah-kisah kebajikan yang ada di dalamnya sebagai suri teladan. Kata babadsendiri memiliki makna menebas, merambah hutan, semak, dan belukar. Sementara itu, pada hakikatnya babad Cirebon mengisahkan awal mula pendirian Cirebon yang dilakukan oleh Pangeran Walangsungsang dibantu dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Seiring derasnya arus modern, masyarakat setempat perlu menjaga dan melestarikantradisi lisan “Pembacaan Babad Cirebon”. Hal tersebut sangat urgen karena cerita babad Cirebon memiliki fungsi strategis, salah satunya menjadi sebuah kekuatan literasi budaya.   Kata Kunci: Pembacaan Babad Cirebon, Tradisi Lisan, dan Literasi Buday

    KORUPSI DALAM KONSTRUKSI MEDIA: ANALISIS WACANA KRITIS PEMBERITAAN KORUPSI DI TELEVISI SWASTA NASIONAL TV ONE DAN KOMPAS TV

    No full text
    Kasus mengenai korupsi melibatkan pengusaha, birokrasi, dan politisi elite yang dapat direkonstruksi oleh media massa Tv One dan Kompas Tv dalam bentuk wacana pemberitaan. Penggunaan bahasa di dalam pemberitaan kedua massa tersebut bukan saja melibatkan untaian kata yang bersifat linguistik, melainkan juga kognisi sosial wartawan, dan konteks sosial yang berkembang di masyarakat. Hal itu merupakan hasil konstruksi dari wartawan dengan segala latar belakang, pengetahuan, dan ideologinya masing-masing. Penelitian ini difokuskan pada kajian wacana pemberitaan korupsi di Tv One dan Kompas Tv. Bertolak pada fokus penelitian tersebut, maka tujuan penelitian ini meliputi (1) mendeskripsikan tataran makrostruktur, superstruktur, dan mikrostruktur pada wacana berita yang dikonstruksi oleh stasiun televisi Tv One dan Kompas Tv, (2) menginterpretasi wacana pemberitaan korupsi dalam tataran kognisi sosial wartawan Tv One dan Kompas Tv, (3) mengeksplanasi wacana pemberitaan korupsi dalam tataran konteks sosial stasiun televisi Tv One dan Kompas Tv. Pendekatan penelitian ini berupa pendekatan kualitatif dalam perspektif analisis wacana kritis van Dijk. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan cakap dengan teknik lanjutan simak bebas libat cakap, teknik rekam, teknik catat, dan teknik cakap semuka, dan teknik cakap tan semuka. Analisis data dilakukan dengan model analisis wacana kritis van Dijk. Hasil penelitian ini meliputi (1) analisis struktur teks, makrostruktur cenderung menonjolkan topik pada bagian awal pemberitaan sebagai strategi Tv One dan Kompas Tv untuk menimbulkan daya tarik berita. Pada tataran superstruktur Tv One dan Kompas Tv menggambarkan kecenderungan pola struktur piramida terbalik pemberitaan yang terdiri dari judul, lead (inisari berita), tubuh berita. Pada tataran mikrostruktur penggunaan metafora Tv One sangat minim dalam penggunaan metafora. Sementara itu, Kompas Tv cenderung menggunakan metafora pada pemberitaan korupsi seperti uang panas, penggelapan dana, nama besar, tercium, menggelembungkan, turun tangan, bancakan uang haram, dalang, dan uang pelicin. Hal ini dilakukan sebagai strategi dalam merekonstruksi peristiwa korupsi sehingga bermakna kias sehingga perlu ditafsirkan masyarakat. (2) pada dimensi kognisi sosial diketahui Tv One menggunakan skema person, skema diri, skema peran, dan skema peristiwa dalam mengonstruksi wacana berita korupsi. Penggunaan skema tersebut didasarkan pada keutamaan nilai berita. Implikasi nilai berita yang tampak agar pemirsa meyakini bahwa wacana berita tersebut valid dan dapat dipertanggungjawabkan sedangkan, Kompas Tv diketahui menggunakan skema person, skema diri, skema peran, dan skema peristiwa. Penggunaan skema tersebut didasarkan pada ideologi media massa tersebut, yakni Fortiter in re suaviter modo (teguh dalam prinsip lentur dengan cara) yang digunakan dalam pembuatan wacana berita sehingga berlakulah adagium “menghibur yang papa mengingatkan yang mapan” di kalangan wartawan Kompas Tv. (3) pada dimensi konteks sosial Tv One dalam mengonstruksi wacana pemberitaan korupsi memberi KPK akses wacana yang lebih besar daripada pihak koruptor berupa akses perencanaan, akses setting, dan akses mengontrol wacana kepada pemirsa. Hal ini dimaksudkan agar wacana yang disampaikan dapat diterima dengan wajar dan tanpa paksaan oleh pemirsa. Sementara itu, Kompas Tv cenderung memberi KPK dan koruptor dalam mengakses wacana. Hal ini agar wacana yang disampaikan terdapat keseimbangan informasi. Saran yang dapat disampaikan, yaitu (1) peneliti lain yang tertarik dengan topik ini disarankan untuk mengembangkan penelitian serupa dengan objek yang berbeda seperti pemberitaan calon presiden, calon kepala daerah, dan lain sebagainya, (2) konstruksi pemberitaan korupsi tidak hanya pada media televisi. Hal ini masih memungkinkan untuk diteliti lebih lanjut pada media cetak atau media online dengan menggunakan analisis wacana kritis yang ada agar diperoleh keberagaman penelitian analisis wacana kritis, (3) wartawan Tv One dan Kompas Tv sebaiknya tidak hanya memberi akses wacana terhadap tokoh-tokoh yang dianggap pakar. Justru libatkan pengetahuan atau komentar-komentar masyarakat yang sesuai dengan kondisi di lapangan

    Eksistensi Pembacaan Cerita Legenda “Babad Cirebon†di Keraton Kanoman Sebagai Kekuatan Literasi Budaya

    No full text
    Setiap daerah di Indonesia memiliki cerita rakyatnya masing-masing. Sehubungan dengan itu, di Jawa Barat terdapat sebuah cerita yang hingga saat ini tetap dilestarikan, yakni cerita legenda “Babad Cirebonâ€. Cerita tersebutdilisankan menggunakan bahasa Cirebon Babasanoleh Pangeran Kumisi setiap tanggal 1 Muharram. Dalam hal ini, pihak Keraton Kanoman merupakan pilar utama yang konsisten menjaga tradisi lisan itu. Dalam perjalanannya, cerita legenda babad Cirebon telah mengalami transformasi, yaitu dari bentuk tulis ke lisan. Hal itu dilakukan agar masyarakat Cirebon dan masyarakat pada umumnya mengetahui kearifan lokal daerahnya serta asal-usul berdirinya Kota Cirebon sehingga mereka dapat menghargai jasa para leluhurnya. Selain itu, mereka diharapkan dapat memaknai kisah-kisah kebajikan yang ada di dalamnya sebagai suri teladan. Kata babadsendiri memiliki makna menebas, merambah hutan, semak, dan belukar. Sementara itu, pada hakikatnya babad Cirebon mengisahkan awal mula pendirian Cirebon yang dilakukan oleh Pangeran Walangsungsang dibantu dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Seiring derasnya arus modern, masyarakat setempat perlu menjaga dan melestarikantradisi lisan “Pembacaan Babad Cirebonâ€. Hal tersebut sangat urgen karena cerita babad Cirebon memiliki fungsi strategis, salah satunya menjadi sebuah kekuatan literasi budaya. Kata Kunci: Pembacaan Babad Cirebon, Tradisi Lisan, dan Literasi Buday

    KAJIAN STILISTIKA DALAM PUISI “TRAGEDI WINKA & SIHKA” KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI

    No full text
    Puisi merupakan bentuk imajinatif penyair yang mencerminkan perasaan, pengalaman, gagasan, dan lainnya. Puisi disajikan dalam bahasa yang indah, memiliki kedalaman makna, dan tipografi unik. Hal inilah yang tampak dalam puisi “Tragedi Winka dan Sihka” karya Sutardji Calzoum Bachri. Penelitian ini bertujuan mengkaji makna denotasi, konotasi, dan tipografi dengan menggunakan kajian Stilistika. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari segi judul hingga akhir puisi memuat kata “tragedi” dan “kawin”. Di sisi lain, penyair melakukan pemenggalan kata dan pembolak-balikan suku kata. Jika ditafsirkan, ketika sebuah kata utuh (normatif), maka maknanya pun sempurna. Bila kata-kata dibalik, maka maknanya pun terbalik atau berlawanan dengan arti kata aslinya. Berdasarkan penjelasan itu, maka puisi tersebut memuat makna denotasi (tragedi, kawin, ku) dan konotasi (winka, simbol &, sihka). Sementara itu, tipografi disusun secara zig-zag. Tujuannya, yaitu menciptakan makna ikonik atau indeksis. Tipografi semacam gelombang itu memberikan kesan khas bahwa kehidupan rumah tangga tentu akan mengalami pasang surut

    BINCANG SOAL KORUPSI: SOSIALISASI PENGUATAN INTEGRITAS SEBAGAI SARANA MENUMBUHKAN BUDAYA ANTI KORUPSI PADA MASYARAKAT DI CIREBON

    No full text
    This community service aims to socialize the understanding of anti-corruption from a theological perspective to foster a more massive anti-corruption culture during society. The method in this community service itself is to hold a talk show. The results of this community service show that this activity is quite effective in increasing the understanding of the socialization participants about the dangers of corruption and the importance of an attitude of Integrity in shaping an anti-corruption culture. --- Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan pemahaman anti korupsi dalam pespektif teologis sehingga dapat menumbuhkan budaya anti korupsi yang lebih masif ditengah lingkungan masyarakat. Metode dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini sendiri adalah dengan menyelenggarakan talkshow. Hasil dari pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa kegiatan ini cukup efektif dalam meningkatkan pemahaman para peserta akan bahaya korupsi dan bagaimana kemudian pentingnya sikap integritas dalam membentuk budaya anti korupsi
    corecore