1,726,388 research outputs found
Rijal Hadist
Abstrak: Rijal Hadis merupakan disiplin ilmu dalam tradisi Islam yang meneliti perawi hadis dan aspek-aspek yang berkaitan dengan kredibilitas mereka. Fokus utama Rijal Hadis adalah menganalisis profil perawi untuk menentukan apakah suatu sanad hadis dapat dianggap sahih atau tidak. Penelitian ini melibatkan evaluasi karakteristik personal, integritas, dan keteguhan iman perawi hadis. Studi Rijal Hadis mencakup penelusuran riwayat hidup perawi, termasuk latar belakang keluarga, pendidikan, dan kehidupan sosial. Aspek-aspek ini dianggap relevan karena dapat memengaruhi keandalan perawi dalam menyampaikan tradisi keagamaan. Selain itu, Rijal Hadis juga meneliti hubungan perawi dengan ulama dan masyarakat sekitarnya untuk memastikan ketidakbiasan dan keadilan perawi dalam mentransmisikan hadis. Melalui metodologi ini, Rijal Hadis berperan penting dalam menyaring hadis-hadis yang dapat diterima secara akademis dan memberikan pandangan kritis terhadap kualitas suatu sanad. Implikasinya sangat signifikan dalam menjaga kesucian dan keotentikan ajaran Islam, serta menghindari penyebaran informasi yang tidak benar atau meragukan. Dalam konteks keberagaman tradisi hadis, Rijal Hadis memainkan peran sentral dalam menjaga integritas sanad hadis dan menyediakan landasan metodologis untuk mengevaluasi kredibilitas perawi. Dengan demikian, studi Rijal Hadis tidak hanya menjadi bagian integral dari ilmu hadis, tetapi juga berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam terhadap pewarisan dan penyebaran tradisi keagamaan dalam masyarakat Islam
Rijal Hadist
Abstrak: Rijal Hadis merupakan disiplin ilmu dalam tradisi Islam yang meneliti perawi hadis dan aspek-aspek yang berkaitan dengan kredibilitas mereka. Fokus utama Rijal Hadis adalah menganalisis profil perawi untuk menentukan apakah suatu sanad hadis dapat dianggap sahih atau tidak. Penelitian ini melibatkan evaluasi karakteristik personal, integritas, dan keteguhan iman perawi hadis. Studi Rijal Hadis mencakup penelusuran riwayat hidup perawi, termasuk latar belakang keluarga, pendidikan, dan kehidupan sosial. Aspek-aspek ini dianggap relevan karena dapat memengaruhi keandalan perawi dalam menyampaikan tradisi keagamaan. Selain itu, Rijal Hadis juga meneliti hubungan perawi dengan ulama dan masyarakat sekitarnya untuk memastikan ketidakbiasan dan keadilan perawi dalam mentransmisikan hadis. Melalui metodologi ini, Rijal Hadis berperan penting dalam menyaring hadis-hadis yang dapat diterima secara akademis dan memberikan pandangan kritis terhadap kualitas suatu sanad. Implikasinya sangat signifikan dalam menjaga kesucian dan keotentikan ajaran Islam, serta menghindari penyebaran informasi yang tidak benar atau meragukan. Dalam konteks keberagaman tradisi hadis, Rijal Hadis memainkan peran sentral dalam menjaga integritas sanad hadis dan menyediakan landasan metodologis untuk mengevaluasi kredibilitas perawi. Dengan demikian, studi Rijal Hadis tidak hanya menjadi bagian integral dari ilmu hadis, tetapi juga berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam terhadap pewarisan dan penyebaran tradisi keagamaan dalam masyarakat Islam
RIJAL DALAM AL-QUR’AN (Kajian Semantik)
ABSTRAK
Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh pemahaman tentang makna rijal dalam Al-Qur'an yang beraneka ragam maksudnya, baik dari sisi kebahasaan maupun dari sisi penafsiran. Kata rijal tidak hanya mengandung pengertian laki-laki saja akan tetapi terkadang mengandung pengertian sebagai sebuah keberanian, kegagahan, dan kekuatan.
Rumusan masalahnya: (1) Bagaimana pemahaman kata rijal dalam al-Qur’an? (2) Bagaimana karekteristik rijal dalam Al-Qur'an berdasarkan analisis semantik?
Tujuan dan Kegunaan Penelitian: (1) untuk mengetahui makna rijal dalam Al-Qur'an; (2) untuk mengetahui karaktersitik rijal dalam Al-Qur'an berdasarkan analisis semantik.
Kajian tentang rijal dalam Al-Qur'an ini merupakan kajian kepustakaan yang bersumber dari Al-Qur'an dan kitab-kitab tafsir. Dalam menganalisa menggunakan pendekatan semantik, maudhu’i dan tahlily. Tujuannya, untuk mengetahui makna rijal dan karaktersitik rijal dalam Al-Qur'an dengan pendekatan semantik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Pertama, Pemahaman kata rijal dalam Al-Qur'an banyak mengandung makna yang beragam, baik dari makna secara lafadz (semantik) maupun secara kontekstual. Kedua, Al-Qur'an menyebutkan beberapa karakteristik tentang pelafadzan Rijal (a) Penyebutan lafadz al- rajul atau al-rijal memiliki makna asli tentang jenis laki-laki secara gender, seperti dalam surat al-Nisa’ ayat 7 dan ayat 32. (b) Penyebutan kata al-rajul atau al-rijal mencakup terpuji dan agung, yang memiliki kekuatan dan keberanian. Seperti ungkapan dalam surat al-Nisa’ ayat 34. (c) Penyebutan kata al-rajul merupakan ungkapan sifat dari sifat- sifat buruk yang biasa diucapkan oleh orang-orang kafir seolah menganggap selain mereka adalah orang-orang yang melakukan kesalahan. Seperti yang tertuang dalam kisah Nabi Nuh yang dimuat dalam surat al-Mu’minun ayat 25
Ensiklopedi Kitab-Kitab Rijal Hadis Digital
Kitab-kitab Rijal Hadis berjumlah dua ratusan lebih. Sebagian kontennya sudah dibuatkan databasenya dan ditayangkan di website-website, seperti: sonnaonline.com, hawramani.com, hadith.islam-db.com, sunnah.alifta.gov.sa, muslimscholars.info. Namun sesuai tuntutan karya ilmiah kontemporer yang mengharuskan sitasi dengan meneger referensi, database-database tersebut harus dicari orisinalitasnya pada kitab-kitab rijal hadis cetak. Tulisan ini berisi tentang daftar kitab-kitab rijal daring dengan penomoran halaman sesuai versi cetak. Daftar kitab-kitab ini disusun sesuai pembagian Ilmu Rijāl al-Ḥadīṡ: Ilmu Tārīkh al-Ruwāt dan Ilmu al-Jarḥ wa al-Taʻdīl beserta trend-trend sistematika kitab dalam tradisi ilmu rijal hadis
MAKNA KATA RIJAL DAN DZAKAR DALAM QUR’AN ANALISIS TAFSIR TEMATIK
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Makna Kata Rijal Dan Dzakar Dalam Qur’an Analisis Tafsir Tematik” mengkaji persoalan taraduf (sinonim) di dalam Al- Qur‟an. Mengenai taraduf ini sangat hangat diperbincangkan oleh ulama Ahli Lughah (bahasa). Banyak dari kalangan ulama yang memperdebatkan keberadaan sinonim kata di dalam Al-Qur‟an dan sebagian mereka juga sepakat dengan keberadaan sinonim dalam Al-Qur‟an. Dalam skripsi ini mengkaji perbedaan kata rijal dan dzakar yang bermakna laki-laki. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library reaseach) dan munggunakan sumber data primer yaitu tafsir Al-Misbah, Al-Munir dan Al-Qurtubi dan adapun pendekatan atau teori yang di gunakan adalah taraduf (sinonim) yang merupakan bagian pembahasan di dalam ulumul Qur‟an atau kaidah tafsir. Lafadz rijal disebutkan 55 kali di dalam Al-Qur‟an sedangkan lafadz dzakar disebut 18 kali dalam Qur‟an. perbedaan makna rijal dan dzakar terletak pada aspek yang ditekankan pada masing-masing kata. kata rijal lebih kepada aspek maskulinitas dan kejantanan seseorang dan kata dzakar ditekankan kepada aspek biologisnya, yaitu jenis kelamin laki-laki. Maka di simpulkanlah bahwa semua orang yang termasuk dalam kategori rijal bisa masuk juga ke dalam kategori dzakar, namun semua orang yang termasuk dalam kategori dzakar belum tentu bisa masuk dalam kategori rijal.
Kata Kunci: Taraduf, Rijal dan Dzaka
Pandangan Sunni Terhadap RijaL Syi‘Ah (Telaah atas Kitab Lisan al-Mizan Karya Ibn Hajar Al-‘Asqalani)
Kontroversi antara mazhab Sunni dan Syi‘ah secara politis maupun teologis berdampak terhadap status rijal hadis. Berbagai literatur klasik Sunni menjadi saksi sejarah bagaimana sebuah hadis bisa tertolak karena unsur kesyi‘ahan rawinya. Lisan al-Mizan adalah kitab rijal hadis dari kalangan Sunni yang banyak membicarakan rawi hadis dari kalangan Syi‘ah. Disertasi ini mengkaji tentang pandangan Sunni terhadap rijal Syi‘ah dengan menelaah kitab Lisan al-Mizan karya Ibn Hajar al-‘Asqalani. Pembahasan dalam disertasi ini berkaitan dengan identifikasi status periwayatan rijal Syi‘ah, dan penerapan tajrih dan ta‘dil terhadap rijal Syi‘ah dalam Lisan al-Mizan. Library research (kajian pustaka) ini menggunakan pendekatan kalami (teologis), falsafi (filosofis), tarikhi (historis), siyasi (politis) dan al-jarh wa al-ta‘dil (ilmu kritik rawi hadis) dalam mengkaji segala aspek yang terkait dengan kitab Lisan al-Mizan dan penulisnya, serta pandangan Sunni terhadap rijal Syi‘ah dalam kitab tersebut.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kritikus hadis Sunni mengidentifikasi periwayatan rijal Syi‘ah dengan terlebih dahulu menunjukkan identitas kesyi‘ahan melalui penggunaan berbagai term. Term tersebut adakalanya menunjukkan sikap sektarian, di antaranya: Tasyayya‘a, dan al-rafd, terkadang juga menyebutkan nama komunitas tertentu, di antaranya: Al-Imamiyah, al-Kaisaniyah, al-Zaidiyah, al-Isma‘iliyah, dan al-Nusairiyah. Berdasarkan penggunaan term-term ini, dapat teridentifikasi ada 703 rijal Syi‘ah dalam Lisan al-Mizan, yang terdiri dari 30 rijal Syi‘ah Gulah, 51 rijal Syi‘ah Rafidah, dan 622 rijal dari kelompok Syi‘ah yang lain. Kritikus hadis Sunni juga mengidentifikasi rijal Syi‘ah melalui penisbahan sanad kepada imam-imam Syi‘ah, seperti: Rijal ‘Ali bin Abi Talib, rijal Hasan al-Zaki, rijal Husain Sayyid al-Syuhada’, rijal ‘Ali Zain al-‘Abidin, rijal Muhammad al-Baqir, rijal Ja‘far al-Sadiq, rijal Musa al-Kazim, rijal ‘Ali al-Rida, rijal Muhammad al-Jawad, rijal ‘Ali al-Hadi, rijal Hasan al-‘Askari, dan rijal Zaid bin ‘Ali. Identifikasi status periwayatan rijal Syi‘ah dilakukan dengan menganalisis berbagai pandangan para kritikus hadis Sunni yang termuat dari literatur beragam bidang keilmuan.
Tidak seluruh rijal Syi‘ah dalam Lisan al-Mizan mendapat kritikan dari sarjana Sunni terkait dengan identitas, penilaian ataupun periwayatan hadis. Hanya 41 rijal Syi‘ah Rafidah, 20 rijal Syi‘ah Gulah, dan 101 rijal Syi‘ah kelompok lainnya saja yang mendapat kritikan dalam Lisan al-Mizan. Berdasarkan penerapan kaidah al-jarh wa al-ta‘dil, ditemukan 23 rijal Syi‘ah Rafidah yang diterima periwayatannya dan 18 rijal tertolak, dengan intensitas keterkaitan kesyi‘ahan mencapai 56 %. Ada 3 rijal Syi‘ah Gulah yang diterima dan 17 rijal tertolak, dengan intensitas keterkaitan kesyi‘ahan 70 %. Ada 56 rijal Syi‘ah kelompok lainnya yang diterima, dan 45 rijal tertolak, dengan intensitas keterkaitan kesyi‘ahan hanya 25 %. Jadi, secara umum kritikus hadis Sunni masih menganggap kesyi‘ahan sebagai faktor penting dalam penentuan status periwayatan rijal Syi‘ah dalam Lisan al-Mizan. Penelitian ini juga menunjukkan pandangan Sunni terhadap rijal Syi‘ah dalam Lisan al-Mizan lebih didominasi oleh kelompok hadisolog Sunni-liberal/sekuler, yaitu kelompok yang menerima riwayat dari rijal Syi‘ah secara mutlak.
Disertasi ini merekomendasikan perlunya mengeliminasi aspek kebid‘ahan dalam pembuktian keadilan rawi karena mengandung bias mazhab. Perlunya penyusunan kitab rijal dengan menggunakan metode tematis hadis untuk mempermudah deteksi aspek promosi mazhab rawi serta menambah keyakinan bagi peneliti rijal hadis. Disertasi ini juga mendorong munculnya kajian-kajian baru lintas mazhab di kalangan akademisi, dan taqrib yaitu upaya-upaya pendekatan dan pencarian “titik mesra” di tengah-tengah masyarakat muslim yang plural
The Illusion of Connectivity: Quantifying the Hidden Safety Gaps Facing San Marcos Cyclists
This study investigates the disparity between mapped infrastructure and the on-the-ground reality of the student commute. By analyzing the interplay between traffic physics (Level of Traffic Stress), infrastructure continuity, and nighttime visibility, we quantified the "invisible" risks that standard planning documents overloo
Kumpulan makalah diskusi sejarah lokal sub tema konflik komunal dan ketersingkiran sosial i
Buku ini merupakan kumpulan makalah dalam Diskusi Sejarah lokal yang diselenggarakan Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan Nasional. Pertemuan ilmiah berbentuk diskusi sejarah
lokal sudah diadakan sebanyak lima kali yaitu pada tahun 1982, 1984, 1986, 1994, 2000. Dalam menghadapi era globalisasi sekarang kita dihadapkan pada ilmu sejarah dengan segala problematika eterkaitan antara pengalaman masa lalu dengan struktur realitas masa kini serta tantangan masa yang akan datang. Hal itu pula yang mendasari tema diskusi sejarah lokal tahun 2000 ini yaitu : Kerawanan Sosial Dalam Perspektif Sejarah. Dengan demikian materi yang telah dibahas di dalam diskusi sejarah lokal bukan saja menyangkut masa lalu bangsa Indonesia, tetapi juga tentang kerawanan dan konflik wilayah Indonesia
- …
