1,721,204 research outputs found
Richard Bell: Uz vs. Them
Richard Bell, one of Australia's most collectable leading contemporary artists, has established a significant reputation as a political commentator and an "enfant terrible" in Indigenous art over the past two decades. This stunningly illustrated catalogue features more than 26 colour plates of his provocative and often humorous works. With their bold use of images and text, they force viewers to face the troubling issue of racism in Australia. Bell's inspiration is complex and multi-layered. He is an avid appropriator, borrowing from other artists, periods, and cultures, including Roy Lichtenstein, Jasper Johns, Jackson Pollock, and Aboriginal painter Emily Kam Kngwarreye, among others. He works across a wide range of media, including painting, performance, and video, producing powerful messages that confront and unsettle: about Aboriginal and non-Aboriginal Australians' relationship to each other, about their country's history and about art itself. Published in conjunction with the exhibition Richard Bell: Uz vs. Them: Tufts University Art Gallery, Medford, Massachusetts, September 14-November 20, 2011; University of Kentucky Art Museum, Lexington, Kentucky, February 12-May 6, 2012; Victoria H. Myhren Gallery, University of Denver, Denver, Colorado, September 13-December 9, 2012; Indiana University Art Museum, Bloomington, Indiana. March 1-May 5, 2013Arts, Education & Law Group, Queensland College of ArtNo Full Tex
Studi kritis atas teori Naskh Mansukh Richard Bell
Penelitian ini mengkaji salah satu tokoh orientalis Richard Bell beserta teori naskh mansukhnya. Richard Bell merupakan salah satu tokoh orientalis yang berpengaruh pada abad ke-20. Melalui tulisan-tulisan dan kelas-kelas perkuliahannya, ia menyebarkan teori dan hasil kajiannya terhadap Alquran. Beberapa teorinya yang menarik perhatian sarjana Muslim adalah teori kronologis dan teori naskh mansukh. penelitian ini hanya akan terfokus pada teori naskh mansukh Richard Bell. Teori naskh mansukh milik Richard Bell ini merupakan topik yang sangat menarik untuk dikaji dan dianalisis lebih dalam karena dalam teorinya tersebut Bell melakukan rekonstruksi ulang terhadap teori naskh mansukh milik umat Islam yang mengalami stagnasi sejak masa ulama klasik. Dalam penelitian ini permasalahan yang akan dibahas yakni perbedaan yang sangat jelas antara teori naskh mansukh Richard Bell dengan teori naskh mansukh pada umumnya serta implikasi dari adanya teori naskh mansukh Richard Bell. Jika naskh mansukh pada umumnya berarti menghapus atau mengganti, maka naskh mansukh menurut Bell memiliki arti yang lebih luas yakni revisi, penambahan, sisipan, salinan atau koreksi. Ketentuan-ketentuan serta ayat-ayat naskh mansukh menurut Bell juga berbeda dengan naskh mansukh pada umumnya. Karena teori milik Richard ini sangat berbeda dengan apa yang telah diketahui umat Muslim, maka pasti akan memberikan dampak pada kajian keislaman terutama terhadap kajian tentang naskh mansukh. Untuk menjawab permasalah tersebut maka digunakan metode penelitian deskriptif yakni mendeskripsikan permasalahannya terlebi dahulu, kemudian permasalahan tersebut akan dianalisis dengan tujuan untuk menemukan hasil dari penelitian ini. Selain itu juga menggunakan metode library research, oleh karena itu, data-data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari literatur-literatur yang terkait. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa perbedaan teori naskh mansukh antara milik Richard Bell dengan milik ulama klasik dikarenakan analisis yang dilakukan oleh Richard Bell tidak dapat diterapkan dalam ayat-ayat Alquran, karena apabila diterapkan maka akan timbul kerancauan dalam Alquran. Serta implikasi dari adanya teori milik Richard Bell ini adalah mendorong sarjana Muslim untuk menganalisis kembali Alquran beserta merekonstruksi teori-teori yang telah dicetuskan oleh ulama klasik agar sesuai dengan kondisi masyarakat Islam saat ini
Studi analisis teori nasikh-mansukh Richard Bell dalam buku Bell’s Introduction to the Quran
Skripsi ini membicarakan tentang kata nasikh dalam al-Qur’an, kata ini diulang sebanyak empat kali, yaitu dalam QS: 2: 106, 7: 154, 22: 52 dan 45: 29.
Masing-masing dapat diartikan menghapus, membatalkan, mengganti dan memindahkan. Dalam perkembangannya ayat-ayat di atas dipergunakan sebagian ulama’ menjelaskan arti nasikh-mansukh dalam al-Qur’an.
Untuk masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah Bagaimana Pandangan Richard Bell terhadap Nasikh-Mansukh? Bagaimana pandangan Cendikiawan terhadap persoalan nasikh-mansuk? Bagaimana kontribusi Richard Bell terhadap pengembangan Ilmu tafsir dan Ulum al-Qur’an.
Secara eksplisit orientalis ini mengakui nasikh al-Qur’an dalam arti pembatalan, penghapusan, dan penggantian ayat terdahulu dengan ayat yang datang kemudian. Menurut Richard Bell bahwa al-Qur’an memiliki kegandaan sumber wahyu, yaitu Allah sebagai sumber utama dan Muhammad SAW. Menurut Bell, unit-unit wahyu orisinal terdapat dalam bagian-bagian pendek alQuran. Hal ini disebabkan pandangannya yang menempatkan Muhammad sebagai revisor al-Quran, walaupun dalam koridor inisiatif ilahi.
Richard Bell, dipengaruhi dan termotivasi dengan kepentingan politis serta mengikuti jejak pendahulunya, sehingga kajiannya terlihat prejudistik, dari pada karya yang objektif. Ia juga mengatakan bahwa al-Qur’an yang ada sekarang merupakan hasil `dari modifikasi orang-orang Muslim setelah kematian
Muhammad. Richard Bell juga mengatakan bahwa sumber historis utama dari ajaran-ajaran al-Qur’an adalah agama Kristen, sehingga dengan metodologi historis dan filologis yang digunakan Richard Bell, dalam hal ini menurutnya sudah dapat mengupas al-Qur’an, dari sisi penafsirannya.
Di dalam memahami dan mengeksplorasi ayat-ayat al-Qur’an yang menurut Richard Bell mengalami nasikh-mansukh, dia berusaha memaksakan (takalluf) al-Qur’an agar dapat berbicara sendiri dengan menekankan pada aspek metodologinya. Akibatnya penafsirannya terhadap teori (revisi) nasikh-
mansukhnya tersebut menjadi ahistoris.
Hanya saja kemudian Richard Bell memosisikan nasikh dengan menggunakan arti revisi yang berimplikasi pada makna (perbaikan), koreksi, serta tambahan, suatu ayat terhadap ayat berikutnya. Bagi Bell, arti nasikh sama dengan derevasi yang mempunyai dua titik kesamaan yaitu: berulang turunnya ayat-ayat al-Qur’an dan proses tentang perbaikan kandungan ayat yang dilakukan Muhammad. Dalam khazanah kaidah-kaidah kajian Tafsir dan Ulum al-Qur’an yang sudah dirumuskan oleh mufassir, apa yang dilakukan Richard Bell di dalam konsepnya terhadap teori nasikh-mansukh ternyata kurang memperhatikan disiplin kedua ilmu tersebut secara komprehensif, salah satunya mengenai ilmu munasabah (korelasi ayat atau antar surat)
Portrait of James Richard Bell, his wife Isabella and daughter Hazel, WWI [picture].
Title from caption on compactus card.; Condition: Fair.; "James Richard Bell, with wife Isabella & daughter Hazell, WWI" --On label on reverse.; Lent for copying
KONSEP KRONOLOGI AL-QUR’AN MENURUT RICHARD BELL
Dewasa ini, kitab suci tidak hanya berhenti pada “penghambaan literal” para
penganutnya sebagai kitab yang dipercaya sebagai manifestasi kalam Tuhan tersebut. Sejarah
mencatat, telah banyak kritik yang dilontarkan oleh para agamawan hingga akademisi
terhadap berbagai kitab suci yang ada. Melihat kondisi seperti ini, al-Qur’an sebagai petunjuk
dan sumber rujukan utama bagi umat Islam menjadi menarik untuk dikaji. Telah banyak
kalangan yang menunjukkan ketertarikannya dalam mengkaji al-Qur’an dan memutuskan
concern di bidang keilmuan tersebut. Bahkan beberapa di antaranya telah membuat lembagalembaga
yang menaungi segala macam kegiatan terkait pengkajian al-Qur’an.
Para pengkaji dan peneliti al-Qur’an tidak hanya muncul dari kubu internal kaum
Muslim sendiri, melainkah juga banyak dari kelompok non-Muslim. Pasca pecahnya Perang
Salib yang melibatkan kelompok Islam dan Kristen, transfer pengetahuan dari belahan dunia
Timur ke Barat tidak bisa terbendung lagi. Masyarakat Barat mulai berbondong-bondong
tertarik untuk mengkaji segala hal yang berkaitan dengan dunia ketimuran, atau yang biasa
disebut sebagai “orientalisme”. Dalam hal ini kemudian posisi al-Qur’an menjadi salah satu
peran sentral pengkajian, mengingat al-Qur’an merupakan kitab suci agama Islam, yakni
agama yang memiliki basis penganut terbesar di belahan dunia Timur.
Dalam skripsi ini, penulis mengangkat salah satu pemikiran tokoh orientalis yang
tidak asing lagi dalam khazanah kajian al-Qur’an, yakni Richard Bell. Bell merumuskan
konsep turunnya al-Qur’an secara kronologis, serta kaitannya pada penyusunan ayat-ayat
yang terhimpun dalam suatu surat. Sebelumnya, terdapat nama Theodor Noldeke yang
menjadi pencetus konsep serupa. Namun kemudian banyak kritik yang dilontarkan oleh
akademisi setelahnya terkait konsepnya tersebut. Dalam menjabarkan pemikiran Bell, penulis
berlandaskan pada karya monumentalnya, yaitu The Qur’an: Translated with a Critical Rearrangement
of the Surahs, yang sekaligus menjadi rujukan utama bagi penulis. Dalam
penelitian ini, penulis menggunakan metode analisis-kritis untuk mengkaji semua literatur
yang berkaitan dengan kajian kronologi al-Qur’an dan pemikiran Richard Bell. Penulis juga
memaparkan pengaruh gagasan Bell serta kritik dan komentar para akademisi lain
terhadapnya.
Penulis menemukan kesimpulan bahwa konsep kronologi al-Qur’an Bell cukup
berbeda dengan para sarjana lainnya, baik Muslim maupun Barat. Jika pada umumnya para
sarjana mengklasifikasikan penanggalan al-Qur’an dalam bentuk surah-surah secara
kronologis, Bell mengklasifikasikan penanggalannya terhadap al-Qur’an yaitu dalam bentuk
unit-unit wahyu yang lebih kecil. Selain itu, Bell juga menambahkan keterangan-keterangan
adanya revisi pada unit-unit wahyu tertentu yang diduga dilakukan oleh nabi sendiri.
Pada akhirnya, hasil dari penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumbangsih dalam
khazanah keilmuan Islam, khususnya ilmu al-Qur’an. Selain itu, dengan hadirnya penelitian
ini, diharapkan mampu menjadi antitesis dari berbagai teori tentan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Vera Sloman, Richard Bell, Iris Sloman Bell and Bert Sloman [n.d.]
This black and white family photo is undated yet believed to be in 1939 on the wedding day of Richard and Iris Bell. Pictured in this photo are, from right, Vera, Richard Bell, Iris Sloman Bell, and Bert Sloman. This photo was in the possession of Rick Bell, of St. Catharines, son of Richard and Iris. The Bell - Sloman families have descendants who are former African American slaves.Bert Sloman (Albert Edward Sloman) passed away in 1986 at Kitchener - Waterloo, Ontario. His wife, Vera Matilda Sloman, passed away January 4, 2011 at Cambridge Memorial Hospital. They had a son, Ron Sloman
- …
