1,722,742 research outputs found
Praperadilan Kepada KPK Atas Kesalahan Penyitaan Mobil Hasil Tindak Pidana Pencucian Uang (Contoh Kasus: Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Menjerat Tubagus Chaeri Wardana). / oleh May Lady Retnowati Marbun
ABSTRAK (A) Nama : May Lady Retnowati Marbun (NIM : 205092003) (B) Judul Skripsi: Praperadilan Kepada KPK Atas Kesalahan Penyitaan Mobil Hasil Tindak Pidana Pencucian Uang (Contoh Kasus: Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Menjerat Tubagus Chaeri Wardana). (C) Halaman : vii + 89 + Lampiran + 2015 (D) Kata Kunci : Praperadilan, Penyitaan, Tindak Pidana Pencucian Uang (E) Isi : Hukum merupakan suatu pedoman yang mengatur pola hidup manusia yang memiliki peranan dalam mencapai tujuan ketentraman hidup bagi masyarakat. Hukum merupakan apa yang harus dilakukan dan atau apa yang boleh dilakukan serta pengenaan sanksinya. Pada saat ini, lebih dari sebelumnya, pencucian uang atau yang dalam istilah Inggrisnya disebut money laundering, sudah merupakan fenomena dunia dan merupakan tantangan Internasional. Menurut Sarah N. Welling, money laundering dimulai dengan adanya dirty money atau uang kotor atau uang haram. Menurut Welling, uang dapat menjadi kotor dengan dua cara. Cara yang pertama ialah melalui penggelapan pajak (tax evasion), cara yang kedua ialah memperoleh uang melalui cara-cara yang melanggar hukum. Upaya pemerintah untuk menanggulangi tindak pidana pencucian uang ini terwujud dengan pembentukan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Apakah ada kesalahan prosedur penyitaan oleh KPK dapat dilakukan praperadilan. Jenis penelitian yang digunakan di dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif. Kronologi kasus yang ada dalam data penelitian memperlihatkan adanya penyitaan mobil terkait kasus tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh Tubagus Chaeri Wardana. Dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK mengandung ketentuan-ketentuan yang menimbulkan permasalahan hukum, yaitu dalam hal prosedur penyitaan. Maka sebaiknya apabila di dalam UU KPK tidak mengatur secara lengkap maka yang seharusnya yang digunakan adalah ketentuan penyitaan yang ada didalam KUHAP. (F) Acuan : 32 (1959 ? 2012) (G) Pembimbing : Dr. Metty Rahmawati, S.H., M.H (H) Penulis : May Lady Retnowati Marbu
Cendawan coltricioid di Jawa Barat: kajian berdasarkan data morfologi dan molekuler
RETNOWATI.
Cendawan coltricioid merupakan sebutan bagi cendawan yang mempunyai
kemiripan karakter morfologi dengan genus Coltricia. Cendawan coltricioid
berasal dari dua genus yaitu Coltricia dan Coltriciella. Dua genus tersebut
memiliki kemiripan ciri dan kekerabatan yang sangat dekat. Coltricia dicirikan
dengan cendawan yang tumbuh di tanah, bertangkai sentral, himenium berpori,
sistem hifa monomitik, dan permukaan basidiospora tidak berornamentasi.
Sedangkan Coltriciella dicirikan dengan tumbuh di kayu; tubuh buah bervariasi
antara melekat pada substrat, melekat-menudung, menyirap, hingga menggantung;
bertangkai sentral atau lateral; himenium berpori; sistem hifa monomitik;
permukaan basidiospora berornamentasi berbingkahan sangat halus.
Sebanyak 47 nomor sampel digunakan dalam studi ini. Berdasarkan cara
penempelan tubuh buah pada substratnya, 47 sampel tersebut dibagi ke dalam
empat kelompok yaitu kelompok 1: bertubuh buah melekat, kelompok 2: bertubuh
buah menyirap, kelompok 3: bertubuh buah menggantung dan kelompok 4:
bertubuh buah bertangkai. Berdasarkan karakter mikroskopiknya, keempat
kelompok tersebut terpisah ke dalam dua genus Coltricia dan Coltriciella.
Kelompok 1, 2 dan 3 tergolong ke dalam genus Coltriciella, sedangkan kelompok
4 tergolong ke dalam genus Coltricia. Hasil analisis molekuler mendukung hasil
identifikasi morfologi pada level genus yaitu kelompok 1, 2 dan 3 berada dalam
grup Coltriciella, sedangkan kelompok 4 berada dalam kelompok genus Coltricia.
Kelompok 1 dan 2 diidentifikasi sebagai Coltriciella subglobosa berdasarkan
kombinasi cara penempelan tubuh buah pada susbtrat dan karakter
mikroskopiknya. Perbedaan cara penempelan tubuh buah pada substrat yang
diamati pada sampel yang digunakan merupakan variasi karakter C. subglobosa.
Tipe melekat dihipotesakan sebagai tubuh buah yang masih muda dan akan
berkembang menjadi tipe menyirap. Hasil identifikasi ini didukung oleh analisis
data molekuler. Dalam pohon filogenetik pada daerah ITS dan LSU, kelompok
sampel 1 dan 2 memiliki kekerabatan yang sangat dekat dan selalu berada dalam
satu grup dalam seluruh metode yang digunakan. Selain itu keduanya berada
dalam satu kelompok cabang dengan C. subglobosa yang didukung dengan nilai
bootstrap diatas 95%. Oleh karena itu, kelompok 1 dan 2 didentifikasi sebagai C.
subglobosa. Keberadaan C. subglobosa merupakan catatan baru di Indonesia.
Kelompok 3 secara morfologi memiliki ciri yang berbeda dengan spesies lain
anggota genus Coltriciella. Oleh karena itu kelompok 3 diajukan sebagai spesies
baru dan diberi nama Coltriciella minuscula Susan, Retnowati, Sukarno sp. nov.
Kelompok 4 juga diajukan sebagai spesies baru berdasarkan pada ciri-ciri
morfologi yang berbeda dengan spesies Coltricia lainnya. Kelompok 4 dinamakan
Coltricia nangkaensis Susan, Sukarno, Retnowati sp. nov. Pohon filogenetik yang
dihasilkan dari daerah ITS dan LSU mendukung hasil identifikasi secara
morfologi pada kelompok 3 dan 4. Kedua sampel kelompok tersebut signifikan
berbeda dari spesies lain dan mendukung keduanya menjadi spesies baru.
Hasil identifikasi dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa identifikasi
menggunakan morfologi kongruen dengan hasil identifikasi menggunakan data
molekuler dan menghasilkan 3 spesies cendawan coltricioid, yaitu Coltricia
nangkaensis, Coltriciella subglobosa dan Coltriciella minuscula
A new Javanese species of Marasmius (Tricholomataceae)
RETNOWATI, A. 2008. A new Javanese species of Marasmius (Tricholomataceae). Reinwardtia 12(4): 335 – 336. — Marasmius xenopellis is described as a new species based on material collected from Mt. Halimun National Park, West Java
Examination of ANA Test by Inderect Fluoresence Assay in Autoimmune Disease
lndirect Immunofluoresence Assay (IFA) telah digunakan sejak tahun 1950 unhrk mendeteksi
ANA, paling sering menggunakan human epihelioid laryngeal cancer cell (Hep-2) cell line
sebagai substrat IFA memberikan keuntungan dengan menggunakan informasi pola dan
titer IFA merupakan penanda yang sangat spesifik untuk penyakit autoimun sistemik.
Pola fluoresens nukleus dapat menunjukkan jenis antibodi yang terdapat dalam serum pola
homogenous, rim, speckled yang berhubungan dengan jenis penyakit merupakan standar
emas untuk skrining autoantibodi yang berhubungan dengan penyakit autoimun.
ANA Profile bukan sebagai konfirmasi, tetapi sebagai pendukung hasil ANA lF yang positif
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA KELAS IV PADA MATERI PECAHAN SEMESTER II SD JATIROTO 02 TAHUN 2012/2013
Retnowati.2013.Penerapan Model Pembelajaran Realistic Mathematic Education dalamMeningkatkanHasilBelajarMatematikaKelas IV padaMateriPecahan Semester II SD Jatiroto 02 TahunPelajaran 2012/2013.Skripsi.Program StudiPendidikan Guru SekolahDasarFakultasKeguruan Dan IlmuPendidikanUniversitasMuria Kudus.Pembimbing: (i) Drs. Masturi, M.M.,(ii) EkaZuliana, S.Pd, M.Pd
Kata-kata kunci: HasilBelajarMatematika, Pecahan, RME.
Hasilbelajar yang rendahdan gurubelummengaitkanpembelajarandengankonteksnyatamerupakanpermasalahan yang di alamisiswakelasIV di SDJatiroto 02,hasilobservasi yang dilakukanpenelititerhadaphasilbelajarsiswa semester 1 menunjukkanbahwasebanyak 24,24% siswabelumtuntas.Berdasarkanpermasalahantersebutmakapenelitimerumuskanmasalahsebagaiberikut: Apakahdenganpenerapan model pembelajaranRealistic Mathematic Education dapatmeningkatkanhasilbelajarmatematikamateripecahanpadasiswakelas IV SD Jatiroto 02Tahun2012/2013?.
Penelitianinibertujuanuntukmengetahuipeningkatanhasilbelajarsiswadenganpenerapan model pembelajaranRealistic Mathematics Education padamateripecahan di SD Negeri 02 Jatirototahun 2012/2013.
Penelitianinimerupakanpenelitiantindakankelas yang difokuskanpadaupayapeningkatanhasilbelajarmatematikamateripecahanpadasiswakelas IV SD Jatiroto 02Tahun2012/2013. Jumlahsubjekdalampenelitianiniadalah 33 siswa yang terdiridari 17 laki-lakidan 16 perempuan.Analisis data dilakukandenganmenggunakanmetodeanalisiskualitatifdankuantitatif.
Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa:(1) Hasilbelajarmatematikasiswadinyatakantuntasdenganperolehanpersentasepadasiklus I sebanyak33,33% danmengalamipeningkatanpadasiklus II menjadi84,84%, (2) Aktivitassiswadalampembelajaransecarabertahapjugamengalamipeningkatan yang baik, yaitudenganperolehanskor rata-ratasiklus I sebanyak2,13danmeningkatpadasiklusII menjadi3,12. (3) Aktivitaspengelolaanpenelitidalam proses pembelajarandapatmeningkatdengansangatbaik, yaitudenganperolehanskor rata-rata padasiklus I sebanyak2,25danmeningkatpadasiklus II menjadi 3,35. Makadapatdisimpulkanbahwahasilbelajarsiswameningkatsetelahdigunakannya model pembelajaranRealistic Mathematics Education dengandiperolehhasilbelajar yang melebihikriteriakeberhasilanbelajarsiswayaitusebesar75%.
Melihatdari hasil penelitian,beberapa saran untuk meningkatkan hasil belajar siswa sebagai berikut:(1)Bagisiswadiharapkanselaluaktif, berpendapatdalamberdiskusi, danmenanggapihasilpekerjaankelompoktemanya,(2) Bagi guruhendaknyamampumengaitkanpembelajarandenganpermasalahankontekstualuntukmeningkatkanmotivasisiswadalambelajar, (3) Bagipenelitianberikutnya, penelitidiharapkantidakhanyamenggunakanbenda-bendadisekitarsiswasajauntuk di jadikanpembelajarantetapijugabisamemanfaatkanlingkungansekitarsebagaisumberbelaja
- …
