386 research outputs found

    Site planning for Gudawang Karst Caves, Bogor, Indonesia / Andrianto Kusumoarto, Rahmat Rejoni and Joko Mijiarto

    Get PDF
    The Gudawang Karst Caves Area (GKCA) is a potential area to be developed as a special interest ecotourism destination area and caves conservation ecotourism area. GKCA located in Cigudeg, Bogor Regency. The purpose of this research is to make site plan on GKCA development for ecotourism destination. There are three caves of Si Masigit Cave, Si Menteng Cave, and Si Pahang Cave. Based on the analysis of carrying capacity, the maximum number of entourage entered the cave is less than ten people with a maximum time limit of 20-30 minutes. Based on the site analysis, the area can be developed are the area for special interest ecotourism activities (caves), buffer area activities, and cave conservation area activitie

    PEMILIHAN BENTUK TAJUK POHON DAN PERDU YANG MENDUKUNG TAMPILAN TAMPAK BANGUNAN, STUDI KASUS BANGUNAN TANOTO FORESTRY INFORMATION CENTER IPB, BOGOR

    Get PDF
    Selection of plants in accordance with the appearance of the building is very necessary at this time, this is due to lack of attention to the selection of plants in the design of a building. So in addition to reducing the aesthetic appearance of the building can also reduce the indoor comfort caused by the heat from the sun can directly affect the skin of the building. One method of approach in measuring aesthetics in the science of architecture is to use the approach of Scenic Beauty Estimation (SBE) and Semantic Differential (SD). Visual evaluation produced by the method is calculated quantitatively by SBE method so that it can be assessed in accordance with the perception of the respondents. The aesthetic qualities of a visible building can be strongly influenced by the presence of landscape elements in the form of combinations of trees and shrubs appropriate and dynamic. Using a header shaped form terraced and with a blend of shrub topiary with teh-tehan shrubs. This is because the combination of these plants are dynamic, and can strengthen the character of the building

    Penerapan Sistem Perangkat Penilaian Pada Kawasan Perumahan, Studi Kasus Kawasan Perumahan Di Kota Bogor, Indonesia

    No full text
    Konsep ‘Green Architecture’ atau arsitektur hijau menjadi topik yang menarik saat ini. Salah satunya karena kebutuhan untuk memberdayakan potensi tapak/site dan menghemat sumber daya alam akibat semakin menipisnya sumber energi tak terbarukan. Selain itu juga mengakibatkan peningkatan kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya kualitas lingkungan menjadi lebih baik. Hal ini dimulai sejak deklarasi Stockholm tahun 1972, dengan diselenggarakannya konferensi internasioanal PBB di Rio de Jenairo Brazil yang akhirnya menghasilkan sebuah rumusan yang memuat prinsip-prinsip dan pedoman bagi penyelenggaraan pembangunan yang berwawasan lingkungan yang tercantum dalam Protokol Kyoto tahun 1997. Tingkat kehijauan suatu bangunan harus dapat diposisikan dalam level yang dapat dimengerti atau diukur oleh suatu acuan (standar) tertentu. Setiap negara mempunyai sistem rating masing – masing. Untuk negara Indonesia sendiri terdapat sebuah standar bangunan hijau yaitu GREENSHIP yang dikembangkan oleh Lembaga Konsul Bangunan Hijau Indonesia atau Green Building Council Indonesia (GBCI) yang dibentuk tahun 2009, Amerika Serikat – LEED tahun 1998, Singapura - Green Mark, Australia - Green Star yang dicetuskan oleh Green Building Council Australia (GBCA) tahun 2002, dan lain sebagainya. Namun di Indonesia belum tersedia penilaian terhadap kawasan hijau seperti kawasan perumahan yang disebabkan karena perangkat hijau kawasan saat ini masih berupa draf. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk (1) membandingkan beberapa perangkat hijau di dunia untuk melengkapi draf perangkat penilaian di Indonesia, (2) menilai kawasan perumahan dengan perangkat penilaian, (3) membuat konsep perumahan berkelanjutan sesuai standar perangkat penilaian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei observasi lapang ke lokasi penelitian terpilih secara langsung, wawancara, dan studi pustaka dengan melakukan metode komparasi. Metode komparasi yaitu membandingkan antara beberapa perangkat hijau yang ada terutama yang berhubungan dengan kawasan, dengan melihat persamaan parameter yang ada disetiap perangkat hijau, lalu dibandingkan juga dengan perangkat penilaian Greenship yang ada di Indonesia untuk didapatkan kekurangan atau tambahan bagi perangkat tersebut, Perhitungan untuk persentase tiap aspek pada masing-masing perangkat dapat diperoleh dengan cara menghitung persentase untuk masing-masing kriteria. Hasil rata-rata persentase tertinggi terdapat pada aspek transportasi sebesar 17 persen, Greenship dengan nilai poin tertinggi yaitu 23 persen, dan Leed yaitu sebesar 35 poin terdapat pada tolok ukur tentang jalan yang ramah bagi pejalan kaki, meningkatkan kesehatan masyarakat, nyaman, dan aman. Poin terbesar Greenship terdapat pada beberapa tolok ukur, yaitu: konektivitas jaringan jalan yang mengatur tentang jalan yang efisien untuk aksesibilitas kawasan, transportasi umum yang mengatur penggunaan kendaraan umum sehingga mengurangi emisi, serta jaringan dan fasilitas pedestrian yang bertujuan untuk mendorong gaya hidup sehat. Sehingga diperlukan penyempurnaan draf Greenship Sustainable Neighborhood dengan menambah poin pada kriteria transportasi yang merupakan kriteria terpenting. Aspek rata-rata yang paling rendah terdapat pada aspek limbah yaitu 4%. Sebagian tolok ukur Greenship tentang limbah sudah masuk ke dalam aspek manajemen sehingga nilai pada aspek limbah menjadi berkurang. Sedangkan pada Greenstar aspek limbah sudah masuk dalam aspek material. Terdapat perbedaan yang sangat signifikan pada penilaian aspek energi, terutama oleh perangkat hijau Greenship yang hanya mendapatkan nilai persentase 2%, sangat jauh dibandingkan dengan persentase rata-rata aspek energi yaitu 12%. Hal ini disebabkan untuk aspek energi sendiri sudah diapresiasikan dalam perangkat hijau Greenship homes, sehingga tolok ukur untuk energi menjadi berkurang. Dilakukan evaluasi penilaian terhadap studi kasus perumahan terpilih yaitu Sinbad Green Residence. Hasil evaluasi menunjukkan penilaian akhir dari total nilai yang bisa didapat oleh Perumahan Sinbad adalah 7 poin dengan kesimpulan Perumahan Sinbad bukanlah perumahan yang berbasiskan perumahan hijau atau kawasan berkelanjutan seperti pernyataan yang dibuat oleh pengembang. Untuk menambah nilai pada perumahan Sinbad agar bisa mendapatkan sertifikat sesuai draf greenship adalah dengan membuat beberapa rekomendasi konsep, diantaranya: menambah ruang terbuka publik, mengurangi iklim mikro, area untuk pangan lokal, menambah sarana pedestrian dan fasilitas difabel, pengadaan bus transit dan shelter terintegrasi, pengolahan limbah cair dan padat, keterlibatan ahli profesional greenship serta perwakilan masyarakat, artikel bulanan, unsur lokal, memperkuat keamanan, menambah inovasi dan energi alternatif. Sehingga sertifikat yang dicapai adalah silver dengan total poin adalah 54 poin

    KIPRAH BASUKI RAHMAT DALAM BIDANG MILITER TAHUN 1945-1966

    Get PDF
    ABSTRAK Dalam penelitian yang berjudul “Kiprah Basuki Rahmat dalam Bidang Militer Tahun 1945-1966” ini terdapat beberapa permasalahan yang dikaji di antaranya yaitu mengenai latar belakang kehidupan Basuki Rahmat, faktor yang memengaruhi keputusan Basuki Rahmat untuk berkecimpung ke dalam bidang militer, dan kontribusi Basuki Rahmat terhadap negara Indonesia melalui bidang militer pada tahun 1945-1966. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi yang jelas dan tepat mengenai permasalahan yang dikaji. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian sejarah atau disebut juga sebagai metode historis yang terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, Basuki Rahmat merupakan seorang prajurit yang lahir pada 4 November 1921 di Tuban, Jawa Timur. Pendudukan Jepang dan kondisi Indonesia menjelang kemerdekaan menjadi faktor Basuki Rahmat berkecimpung dalam bidang militer. Kontribusi Basuki Rahmat melalui bidang militer dimulai pada tahun 1945 dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Melalui kecakapan militer yang dimilikinya, Basuki Rahmat selalu ikut andil dalam berbagai peristiwa di Indonesia dari tahun 1945-1966, mulai dari perang kemerdekaan saat melawan Belanda, berbagai pemberontakan dalam negeri, operasi Irian Barat, Gerakan 30 September 1965, dan peristiwa paling bersejarah pada tahun 1966 mengenai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Basuki Rahmat sebagai seorang pemimpin yang bertanggungjawab atas prajurit-prajurit di bawahnya memiliki sifat yang tenang, namun tetap tegas dalam menyikapi suatu permasalahan sehingga ia seringkali dipercaya untuk mengemban jabatan dengan tanggungjawab yang besar dalam bidang militer. Kata Kunci: Basuki Rahmat, Perjuangan, Militer ABSTRACT In this research entitled “The Gait of Basuki Rahmat in the Military Field in 1945-1966” there are several problems studied, including the background of Basuki Rahmat’s life, the factors that influenced Basuki Rahmat’s decision to engage in the military field, and Basuki Rahmat’s contribution to the Indonesian state through the military field in 1945-1965. The purpose of this research is to obtain clear and precise information about the problems studied. In this research, the author uses historical research methods or also known as historical methods which consist of four stages, these include heuristics, source critism, interpretation, and historiography. Based on the result of the research, Basuki Rahmat was a soldier who was born on 4th November 1921 in Tuban, East Java. The Japanese occupation and the condition of Indonesia before independence became a factor in Basuki Rahmat’s involvement in the military. Basuki Rahmat contribution through the military began in 1945 in an effort to defend Indonesia’s independence. Through his military skills, Basuki Rahmat always took part in various events in Indonesia from 1945-1966, starting from the war of independence against the Dutch, various domestic rebellions, the West Irian operation, The 30 September 1965 Movement, and the most historic event in 1966 about the 11 March Order (Supersemar). Basuki Rahmat as a leader who was responsible for the soldiers under him had a calm nature, but was still firm in addressing a problem so that he was often trusted to take positions with great responsibility in the military. Keywords: Basuki Rahmat, Struggle, Militar

    PROSES KREATIF MAMAT RAHMAT DALAM KENDANG TARI TRADISI SUNDA

    Get PDF
    ABSTRAKMamat Rahmat adalah sosok pengendang tari tradisi Sunda yang pada saat ini masih konsisten dalam bidangnya sebagai pengendang. Kemampuannya dalam kendang tari tradisi Sunda banyak didedikasikan untuk ISBI Bandung karena telah memberikan penghidupan bagi dirinya. Di sisi lain, kemampuannya pun banyak diminta oleh sanggar sanggar tari yang ada di kota Bandung seperti Studio tari Indra, Pusbitari, dan sebagainya. Sebagai pengendang tari tradisi Sunda, ia mampu memberikan pengungkapan karakter dalam tari tradisi Sunda melalui tepakan kendangnya. Maka[PO1]  tidaklah berlebihan dan sepantasnya apabila ia menyandang gelar sebagai maestro kendang tari. Dalam tulisan ini akan diungkap bagaimana proses kreatif Mamat Rahmat dalam mencapai kompetensinya sebagai pengendang tari Tradisi Sunda. Penulis akan mengupas pembahasannya melalui metode observasi dan wawancara. Adapun hasil dari penelitian ini adalah Mamat Rahmat mampu menjadi seorang pengendang tari Sunda yang kreatif, karena ditunjang oleh faktor keturunan (genetik), keterampilan, pengalaman, kepribadian, dan juga bisa menari.Kata Kunci: Mamat Rahmat, Proses Kreatif, Kendang Tari Sunda.  ABSTRACTA Creative Process of Mamat Rahmat in Sundanese Traditional Dance Kendang, June 2020. Mamat Rahmat is a figure of drummer of Sundanese traditional dance who is still consistent in his field as a drummer. His skill in Sundanese traditional dance drums (kendang) is mostly dedicated to ISBI Bandung because he has been given his livelihood here. On the other hand, his skill has been much demanded by many dance studios in Bandung such as Indra dance studios, Pusbitari, and so on. As a drummer of Sundanese traditional dance, he is able to provide the expression of character in Sundanese traditional dance through his drum beat. So it is not excessive and appropriate if he bears the title as a maestro of dance kendang. In this paper, it will be revealed how is the creative process of Mamat Rahmat in achieving his competence as a drummer of Sundanese traditional dance. The author will explore the discussion through the method of observation and interviews. The result of this study shows that Mamat Rahmat is able to become a creativeSundanese dance drummer because he is supported by heredity (genetic), skills, experience, personality, and dancing ability.Keywords: Mamat Rahmat, Creative Process, Sundanese Dance Kendang.   [PO1]Oleh sebab itu

    EKODESAIN KONSEPTUAL KAWASAN AGROWISATA CIBUBUR JAAKARTA BERBASISKAN KARAKTER LANSKAP

    Get PDF
    The city of Jakarta seeks to achieve an urban green open space (RTHKP) of 20%. One type of RTHKP is an agricultural area (plantation). One of them is the Cibubur Nursery in East Jakarta with its mission as an agrotourism area. The purpose of this activity is to create a conceptual ecodesign of the Cibubur agrotourism area based on landscape characters, East Jakarta, DKI Jakarta Province. The method used for this activity is a qualitative descriptive method in landscape planning and design with an ecodesign approach. Cibubur nursery area of ​​± 106,307.46 m2 is planned as Cibubur Agrotourism Area. The planned spaces in this area are conservation room, education room, recreation room, and management room. Spaces are planned to support activities as tourist objects. The activities developed are nurseries, collection gardens, animal husbandry, fisheries, education and training, recreation, and management

    Analysis of the Accuracy and Completeness of SINTA Author Data Extraction

    Get PDF
    The advancement of information technology has increased the use of web scraping for scientific data collection, including from the SINTA (Science and Technology Index) platform, which provides researcher profiles, affiliations, publications, and citation data. However, scraping SINTA poses challenges, particularly when multiple authors share identical scores that trigger changes in display order. This instability can lead to duplicated or missing entries when using a single-pass scraping approach. This study evaluates the accuracy and completeness of SINTA author data collection by implementing repeated scraping as a strategy to handle dynamic data ordering. Experiments were conducted on the Universitas Muslim Indonesia (UMI) affiliation, targeting 915 active authors. The methodology involved page-structure analysis, spider development using Python and Scrapy, sequential scraping through pagination, and validation of data completeness and uniqueness. A three-second delay between requests was applied to maintain responsible scraping practices. The results show that a single scraping attempt failed to retrieve all authors, capturing an average of only 877.2 authors (95.86%). Due to unstable ordering, repeated iterations were required. Through 4–8 scraping cycles per trial, all 915 authors were successfully collected without duplication. These findings indicate that for platforms with dynamic data structures such as SINTA, repeated scraping provides a more reliable method for ensuring data completeness and accuracy, supporting the development of stable and responsible publication-data automation systems.The advancement of information technology has increased the use of web scraping for scientific data collection, including from the SINTA (Science and Technology Index) platform, which provides researcher profiles, affiliations, publications, and citation data. However, scraping SINTA poses challenges, particularly when multiple authors share identical scores that trigger changes in display order. This instability can lead to duplicated or missing entries when using a single-pass scraping approach. This study evaluates the accuracy and completeness of SINTA author data collection by implementing repeated scraping as a strategy to handle dynamic data ordering. Experiments were conducted on the Universitas Muslim Indonesia (UMI) affiliation, targeting 915 active authors. The methodology involved page-structure analysis, spider development using Python and Scrapy, sequential scraping through pagination, and validation of data completeness and uniqueness. A three-second delay between requests was applied to maintain responsible scraping practices. The results show that a single scraping attempt failed to retrieve all authors, capturing an average of only 877.2 authors (95.86%). Due to unstable ordering, repeated iterations were required. Through 4–8 scraping cycles per trial, all 915 authors were successfully collected without duplication. These findings indicate that for platforms with dynamic data structures such as SINTA, repeated scraping provides a more reliable method for ensuring data completeness and accuracy, supporting the development of stable and responsible publication-data automation systems

    PENDEKATAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN PADA PERMUKIMAN PADAT PERKOTAAN

    Get PDF
    Sebagai kaum marjinal yang bertinggal di lingkungan padat perkotaan tidak memiliki daya dalam memperbaiki kualitas bertinggal mereka agar tahan terhadap bahaya kebakaran yang sewaktu-waktu dapat menimpa. Kecamatan Tanjungbalai Utara merupakan salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap bencana kebakaran yang ditetapkan sebagai wilayah studi penelitian untuk menemukan rumusan sistem yang bagaimana dapat menanggulangi bencana kebakaran. Sebagai pendekatan dilakukan identifikasi terhadap wilayah studi dengan menggunakan rumusan Model Crunch yang menerjemahkan bahwa tingkat resiko bencana kebakaran (R) merupakan penjumlahan atas sumber bahaya (H) dan kerentanan (V) yang dikurangi dengan ketahanan (C). Sedangkan tindakan mengungkap keberadaan lingkungan mereka digunakan pemikiran tipologi perumahan masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan dan didukung dengan pemikiran-pemikiran para ahli dan instansi, standarisasi serta peraturan pemerintah untuk mengetahui keberadaan lingkungan permukiman mereka terhadap tingkat resiko kebakaran yang ada.   Kemudian dilakukan penilaian yang dimuat melalui variabel-variabel tolok ukur tertentu berdasarkan sumber bahaya, kerentanan dan ketahanan terhadap lingkungan permukiman mereka. Setelah dilakukan penilaian melalui model Crunch yang didukung dengan rumus Sturges atas interval penilaian yang ada, ternyata wilayah studi memiliki status tingkat resiko bencana kebakaran yang cukup tinggi dengan nilai -7. Berdasarkan status tingkat resiko bencana kebakaran wilayah studi, dilakukan analisis praktis dengan melihat potensi yang dimiliki wilayah studi untuk diolah menjadi suatu sistem penanggulangan kebakaran yang dapat meningkatkan nilai ketahanan. Kemudian lahirlah sistem swadaya penanggulangan bencana kebakaran di lingkungan padat perkotaan sebagai rumusan pemikiran yang diharapkan ideal bagi lingkungan permukiman mereka

    Literasi Menulis Sekolah Dasar (Studi Kasus di SD Plus Rahmat Kota Kediri)

    No full text
    Research Purpose. The research conducted by the author aims to describe the stages of wiritng liletacy in SD Plus Rahmat Kediri. Methods. This study uses a qualitative method, with the type of case study research at the 4-6 grade level at SD Plus Rahmat Kota Kediri. The number of informants was 8 people consisting of teachers, students, librarians, and school principals using the purposive sampling technique. Data collection techniques are carried out by observation, Interview and Documentation. Data Analysis. The data analysis technique uses the concept of Miles and Huberman: Reduction, Presentation and Drawing Conclusions. Result and Discussion. The results of the study show that there are 3 stages in writing literacy, namely (1) the Habituation Stage, where students get used to resuming books they have read by writing the author's name, title, and contents. (2) Development Stage, availability of reading spots in the school environment. (3) Learning Stage, literacy classes are provided which are directly given by librarians who teach about writing
    corecore