16 research outputs found

    MANAJEMEN TATA KELOLA PENDARATAN IKAN LAUT DI UPTD PANGKALAN PENDARATAN IKAN KOTA GORONTALO , KOTA GORONTALO, PROVINSI GORONTALO

    No full text
    Pembangunan prasarana pelabuhan merupakan salah satu penunjang keberhasilan pembangunan perikanan. Pemerintah Indonesia memiliki perhatian khusus terhadap pemasaran ikan di tingkat nelayan. Salah satu program pemerintah untuk mengembangkan sistem pemasaran hasil perikanan adalah dengan membangun Pangkalan Pendaratan Ikan. Kota Gorontalo merupakan kota dengan karakteristik berada pada daerah pesisir sekaligus muara sungai. Pada kota gorontalo terdapat Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Permasalahan yang dihadapi PPI Kota Gorontalo adalah perlunya peningkatan daya tampung PPI karena kebutuhan nelayan yang semakin meningkat, namun peluang peningkatan kapasitas PPI akan menemui kendala dikarenakan lahan yang sempit, peluang pengembangan ke sungai yang tidak memungkinkan karena akan mengganggu alur pelayaran pelabuhan. Permasalahan lain yang dihadapi PPI Kota Gorontalo adalah managemen dalam menerima hasil tangkapan laut kurang terstruktur, sehingga hasil tangkapan tidak bisa ditampung secara maksimal. Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode deskriptif, yaitu metode yang menggambarkan keadaan atau kejadian pada suatu daerah tertentu. Hasil dalam praktek kerja lapang ini adalah alur pendaratan diawali dengan pemilik kapal melapor bahwa kapal miliknya akan merapat, selanjutnya setelah mendapat persetujuan dari petugas PPI, maka kapal diperbolehkan merapat. Langkah selanjutnya adalah pemilik kapal menghitung jumlah tangkapan, setelah itu dilakukan penyortiran hasil tangkapan yang nantinya akan dibeli oleh pedagang besar. Setelah tahap pendaratan selesai , maka ikan siap dipasarkan, pada PPI Kota Gorontalo terdapat 3 macam model saluran pemasaran. Permasaahan pada PPI Kota Gorontalo yaitu kurang optimalnya penerimaan hasil tangkapan dikarenakan beberapa faktor antara lain saranaprasarana yang tidak memadahi yang mengakibatkan hasil tangkapan tidak stabil. Terbukti pada rentang 2013 sampai 2015 terjadi penurunan hasil tangkapan pada beberapa ikan komoditas utama PPI Kota Gorontalo. Ikan tersebut antara lain ikan ekor kuning sebanyak 42%, cakalang 18%, layang 29% dan oci sebanyak 34%. Hasil tangkapan yang tidak stabil berakibat pula pada sulit nya pencatatan prediksi pendapatan daerah dari sektor perikanan tangkap

    EFEKTIFITAS KOMBINASI BIOFILTER RUMPUT LAUT (Gracilaria sp.), KERANG ( Anadara sp.) DENGAN ZEOLIT DALAM PENURUNAN KADAR LOGAM KADMIUM (Cd) PADA LIMBAH PUPUK NPK

    No full text
    1. Penggunaan biofilter rumput laut, kerang dengan zeolit memberi pengaruh terhadap kandungan logam berat kadmium (Cd) pada limbah pabrik pupuk NPK. 2. Kombinasi biofilter rumput laut, kerang dengan zeolit memiliki pengaruh terhadap penurunan logam kadmium (Cd) pada P2 yaitu 0,0205 ppm lebih rendah dari P1 yaitu 0,0222 ppm; P0 yaitu 0,0225 ppm; P4 yaitu 0,0242 ppm dan P3 yaitu 0,0251 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan P2 (Kombinasi 50% (105g) rumput laut, 50% (300g) kerang dengan zeolite) adalah kombinasi terbaik dalam penurunan kadar logam berat kadmium (Cd)

    The Early Warning System Effectiveness of the Maritime Security Agency of the Republic of Indonesia (Bakamla RI) in the Prevention of Drug Invention through the Sea Lane

    No full text
    The Republic of Indonesia Maritime Security Agency (Bakamla RI) was formed based on the mandate of Article 59 Paragraph 3 of Law Number 32 of 2014 concerning Maritime Affairs. Bakamla RI has implemented an early warning system to ensure security and safety in Indonesian waters and jurisdiction. The Bakamla RI Early Warning System (EWS), known as a choke point for maritime security and safety, has already been built and spread throughout Indonesian waters. However, in reality, drug smuggling by sea is still common. Drug smuggling by sea is still dominant today. The United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) revealed that 80% of drug trafficking is carried out by sea. Narcotics transactions in the middle of the sea are very safe transactions, this is due to very weak supervision in the middle of the sea by officers.  The purpose of this study is to analyze the mechanism and effectiveness of an early-stage warning system in preventing drug smuggling by sea. This study uses a qualitative descriptive method with interview data collection techniques. Research shows that the Early Warning System Series produces ship detection and assistance data that can be processed into ship anomaly information. The application of the Bakamla RI early warning system to prevent drug smuggling by sea has not been effective. The difficulty of realizing information between agencies and the weak synergy in exchanging information are the main obstacles to the efficiency of the early warning system. Therefore, it is recommended to increase the capability of the Bakamla RI Early Warning System by integrating the Command and Control Center (Puskodal) or Control Center (Pusdal) of related agencies, as well as equipping it with monitoring equipment that integrates the Early Warning System

    ANALISIS CATCH PER UNIT EFFORT POLE AND LINE CAKALANG (Katsuwonus Pelamis) di PERAIRAN KUPANG

    No full text
    Salah satu komoditas perikanan yang ada dikota Kupang adalah cakalang yang biasa ditangkap di perairan sekitar Kupang. Cakalang dimanfaatkan oleh para nelayan Kupang dengan pole and line. Tujuan utama dari kegiatan penelitian ini adalah untuk melakukan analisis mendalam mengenai nilai CPUE serta untuk mengeksplorasi berbagai faktor yang berpengaruh terhadap volume produksi ikan cakalang di wilayah Kupang. Penelitian ini dilaksankan pada pelabuhan perikanan pantai (PPP) Oeba dan Pelabuhan Pendaratan Ikan Tenau. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis nilai CPUE dan regresi linier berganda menurut model Cobb-Douglas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan beberapa temuan penting: (1) Nilai CPUE untuk ikan cakalang yang didaratkan di Kupang mengalami fluktuasi selama lima tahun terakhir (2014-2018), dengan rata-rata 3,318 ton per trip. Puncak nilai CPUE tercatat pada tahun 2016 dengan 6,03 ton per trip, sementara nilai terendah terjadi pada tahun 2014, yaitu 2,56 ton per trip. (2) Faktor-faktor seperti usia, pengalaman, dan posisi pemancing terbukti secara signifikan mempengaruhi produktivitas pemancing yang menggunakan metode pole and line untuk menangkap ikan cakalang, ketiga faktor tersebut, posisi pemancing adalah yang paling dominan dan memberikan pengaruh kuat terhadap hasil tangkapa

    PENANGANAN TUMPAHAN MINYAK TENAGA SURYA MENGGUNAKAN MEDIA LIMBAH KULIT DURIAN

    No full text
    The problem of oil pollution in the sea is starting to get serious attention from the public. This incident caused the mass death of various types of marine organisms. Many cases only become government records without any complete response. An example of a case is oil pollution in Seribu Island. It is known that pollution has occurred since 2003 and in the 2003-2004 period it was recorded that it had occurred 6 times. To prevent and control marine pollution due to oil spills, there are several prevention methods. We know that the case is difficult to do because the oil spill is very done, both in terms of time, continuous work, and in terms of the costs involved. In this study, the design and construction of oil extraction using absorbent media in the oil waste area in the water. The purpose of this research is to design and conduct a study of the efficiency of a belt type oil skimmer using durian skin waste which is moved using a solar panel. It absorbs oil from the air which can be retrieved and collected onto the vessel by providing a piping arrangement. The collected oil can be reused for various purposes

    The MEKANISASI BAGAN TANCAP MENGGUNAKAN ROLLER PENGANGKAT JARING DI PANGANDARAN, JAWA BARAT

    No full text
    Pangandaran is located in the southern coast of the Java Island. Some of Pangandaran fishers operate lift net (bagan) to catch fish and shrimp. During hauling process, the net is lifted manually using a roller that potentially harm the fishers. The purpose of this study was to design a mechanical roller that applicable for lift net. The analysis of design requirement, such as calculation of torque, horse power, and reduction power with gear mechanism for operating the roller were applied in this research. The results showed that the net lifting operation required 4.8 HP or 3.6 KW of diesel engine to power a hydraulic pump. For the maximum load, when the net is fully loaded with fish, the operation required 67.91 HP or 50.64 KW. It means power from the diesel motor was not enough to support at maximum load. Therefore, a gear mechanism with a ratio of 1:14 was applied. However, this method reduces the angular speed of the gear which leads to reduction on net pulling speed. Keywords: Lift net, hydraulic, horse power, power, and lifnet rolle

    ANALISIS TEKNIS DAN FINANSIAL BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI PERAIRAN ATAPUPU, KABUPATEN BELU NUSA TENGGARA TIMUR

    No full text
    Belu merupakan kabupaten yang memiliki potensi sumberdaya perikanan yang melimpah seperti pesisir pantai yang berpotensi dalam pengembangan budidaya rumput laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek teknis dan finansial pada usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Belu provinsi Nusa tenggara Timur. Metode analisis yang digunakan yaitu deskriptif dan kelayakan finansial dimana menggunakan indikator payback period (PP), B/C ratio danLaba/Rugi . Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa usaha budidaya rumput laut ditinjau dari aspek teknis sudah layak. Hasil analisis menyebutkan bahwa budidaya rumput laut di kabupaten Belu apabila dilihat dari tiga aspek finansial yaitu analisis Laba/Rugi, payback period (PP), dan B/C Ratio laut termasuk usaha yang menguntungkan dimana memiliki nilai PP pada angka 0,3 tahun, B/C ratio >1 yaitu 3,3 dan memiliki nilai pendapatan rata-rata padasetiap bualnya sebesar Rp 583.333 maka dapat disimpulkan bahwa budidaya rumput laut merupakan kegiatan usaha yang menguntungkan. Namun rata-rata pendapatan bulanan tersebut masih di bawah ratarata UMK kabupaten Belu. Sehingga perlu adanya perhatian khusus agar kegiatan usaha budidaya rumput laut di kabupaten Belu dapat meningkat dan berkontribusi besar terhadap ekonomi daerah.

    PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI PELABUHAN INTERNASIONAL (KIPI) MALOY UNTUK MENDUKUNG BLUE ECONOMY

    No full text
    Pelabuhan Maloy merupakan pelabuhan yang terletak di Kalimantan Timur dan direncanakan berskala Internasional karena memiliki letak yang sangat strategis. Kawasan Industi Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy telah diproyeksikan dapat meningkatkan laju pertumbuhan perekonomian Kalimantan Timur. Mengingat lokasi KIPI Maloy yang strategis yaitu terletak pada ALKI II dan Provinsi Ibu Kota Baru Indonesia maka pelabuhan ini juga dapat berpotensi meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Penelitian terkait pengembangan terkait pengembangan Pelabuhan Maloy sebelumnya telah dilakukan. Namun, penelitian terkait perkembangan pembangunan Pelabuhan Maloy menjadi pelabuhan berskala internasional yang dikaitkan dengan potensi ekonomi di KIPI Maloy belum banyak dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisa deskriptif kualitatif dan triangulasi data untuk menguji keabsahan data. Sesuai dengan grand strategi pembangunan ekonomi Pemprov Kaltim, proyeksi kegiatan perekonomian KIPI Maloy mengarah pada pembangunan berkeadilan dan berkelanjutan dengan mengembangkan industri eksisting (minyak bumi, pupuk, gas, crude palm oil (CPO) dan batubara) dan membangun industri berbasis pertanian dengan pendekatan skala ekonomi dan klaster. KIPI Maloy sebelumnya telah mengembangkan konsep green economy yang juga merupakan bentuk pembangunan keberlanjutan utamanya dalam sektor ekonomi. Produk dan jasa green economy cenderung lebih mahal karena membutuhkan banyak investasi sedangkan blue economy menggunakan konsep mempelajari cara kerja alam dan memanfaatkan potensi alam tanpa merusaknya. Blue economy direkomendasikan oleh peneliti perlu diterapkan sebagai bentuk pengalihan  pada konsumsi energi hijau, bersih, hasil daur ulang atau terbarukan

    Sardine (Sardinella sp.) Quality Based on Organoleptic Tests in Atapupu Waters, Belu Regency, East Nusa Tenggara

    No full text
    One of the fish handling techniques needed to maintain fish freshness is the cold chain application. Cold chain system is very important to be applied in the post-catch handling process to extend the fish rigor mortis phase. Fishermen and fishmongers are people who play an important role in maintaining fish freshness. The purpose of this study was to determine the fresh sardine organoleptic quality after catching until reaching consumers or initial selling. The method used is a survey method through on board direct fish handling activity observation conducted by fishermen and fishmongers at selling locations, as well as fish organoleptic tests using score sheets for fresh fish with observations based on transit time starting from fishing vessel after catching, collectors, fishmongers to the first consumers. Organoleptic quality measurement of sardine taken from fishmongers in Atapupu waters showed that sardine quality fitted for consumption with an organoleptic value of >7
    corecore