1,720,965 research outputs found
Karakterisasi dan Pemanfaatan Alga Merah Jenis Eucheuma Cottonii dan Karaginannya Sebagai Bahan Penyerap Ion Logam Berat
Alga laut dapat ditemukan disepanjang samudra di seluruh dunia dan telah dikonsumsi oleh manusia selama berabad-abad. Ada banyak macam jenis alga laut komersial yang dapat dimakan karena mengandung nilai gizi yang tinggi dan kandungan bahan obat-obatan. Walaupun demikian, pencemaran dapat menyebabkan adanya kandungan logam-logam berat di laut dan beberapa diantaranya beracun. Algalaut juga telah digunakan sebagai bio indikator untuk memantau polusi lingkungan dan untuk penyerapan unsur-unsur beracun dari air yang tercemar [Crawford, 2002]. Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis alga laut merah yang telah banyak digunakan masyarakat sebagai obat tradisional. Air rebusan atau tepung E. cottonii telah digunakan untuk mengobati gondok karena kandungan iodium yang dimiliki E. cottonii tersebut. Sumatera Barat memiliki potensi untuk pengembangan E. cottonii di daerah Bungus, Pulau Pisang, Sungai Nyalo, Pulau Mandeh, Pulau Bungin, Kawasan Pesisir Selatan dan Pasaman. Namun sampai saat ini budidaya E.cottonii belum mendapat perhatian yang khusus. Pengembangan budidaya dan proses pengolahan dari ini E. cottonii sangat diharapkan agar dapat meningkatkan pendapatan petani dan perekonomi masyarakat kita [Bustanul, 2005]. Karena selama ini Indonesia masih menjual E. cottonii kering yang akan diolah menjadi karaginan oleh negara-negara yang sudah maju. E. cottonii mempunyai nilai komoditi untuk memproduksi karaginan. Karaginan merupakan nama umum dari polisakarida yang diektrak dari E. cottonii yang terdiri dari natrium, kalium, magnesium, dan ester kalsium sulfat dari galaktosa dan unit-unit 3.6-anhydrogalactose [Anas, 2003]. Karaginan yang berasal dari E. cottonii bermanfaat bagi kesehatan, industri makanan, kosmetik, farmasi, cat, tekstil dan lainnya. Indonesia masih mengimpor karaginan, dikarenakan keterbatasan proses industri dari E. cottonii, dan masih kurang tepatnya metoda pengekstraksi karaginan. Jenis ini asal mulanya didapat dari perairan Sabah (Malaysia) dan Kepulauan Sulu (Filipina). Selanjutnya dikembangkan ke berbagai negara sebagai tanaman budidaya. Lokasi budidaya alga merah di Indonesia antara lain Lombok, Sumba, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Lampung, Kepulauan Seribu, Perairan Pelabuhan Ratu dan Aceh (Atmadja 1996). Banyak laporan mengenai Alga coklat dan alga hijau baik komposisi kimia yang dikandungnya ataupun sebagai penyerap ion logam berat, namun untuk E. cottonii masih belum ada dilaporkan oleh karena itu dilakukan penelitian tentang karakterisasi dan pemanfaatan E. cottonii sebagai bahan penyerap ion logam kadmium yang diambil secara acak di daerah Seurapong, kecamatan Pulau Aceh kabupaten Aceh Besar, Nangro Aceh Darussalam, pada bulan Mei 2007, yang berumur 40 hari. Perairan disekitar lokasi pembudidayaan E.cottonii ini mengandung O₂ 4.18 mL/L, Cu 1.651 mg/L, Zn 0.4256 mg/L, Pb 0.55 mg/L, Cd 0.0802mg/L dan Cr 0.452mg/L dan pH 8.08. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mendapatkan metoda ekstraksi karagina yang tepat dari E. cottonii. 2. Untuk mengetahui kandungan kation dan anion anorganik dari E. cottonii dan karaginannya menggunakan HPLC (High Performance Liquid Chromatography). 3. Untuk mengetahui konsentrasi logam berat yang terkandung dalam E. cottonii dan karaginannya menggunakan ICP-MS, 4. Untuk mengetahui kandungan nutrisi yang terdapat dalam E. cottonii dan 5. Untuk megetahui kapasitas penyerapan ion kadmium oleh E. cottonii dan karaginannya. Penelitian tentang parameter-parameter yang mempengaruhi proses ekstraksi karaginan dari E.cottonii telah dipelajari. Parameter tersebut adalah ukuran partikel E.cottonii, pH dari larutan alkali, waktu pemanasan dan suhu pemanasan. Sekitar 64.30% karaginan telah berhasil diekstrak dari E. cottonii pada kondisi optimum; ukuran partikel 425µm, larutan alkali (pH 8.5), pemanasan pada 95 °C selama 18 jam. FTIR telah digunakan untuk melihat gugus-gugus fungsi dari karaginan hasil ekstraksi dan dibandingkan dengan karaginan murni. Spektrum FTIR dari karaginan hasil ekstraksi terlihat sama dengan spektrum karaginan murni. Kation dan anion anorganik dipisahkan dengan menggunakan kromatografi ion dengan asam trimellitik 1.0mM sebagai fasa gerak dan telah berhasil digunakan untuk memisahkan kation dengan kecepatan alir 0.8mL/min, pada suhu kamar, volume injeksi 20µL menggunakan kolom penukar kation-TSKgel super-IC-Kation (150x4.6mm.id) dari Tosoh (Tokyo, Jepang) dan detektor konduktivitas. Kation Na", NH, K, Mg² dan Ca dapat dipisahkan kurang dari 30 menit dengan RSD 0.02-0.37 dan anion dengan kecepatan alir eluent 1.4mL/min, kolom TSKgel super IC-anion PWXL(50x4.6 mm id) dapat memisahkan F, H2PO4, NO₂, Cl, Br, NO', Γ', SO4 kurang dari 15 menit dengan RSDs 0.00-0.45. Dari data penentuan kation dan anion dalam E. cottonii dan karaginan dengan menggunakan kondisi di atas dapat dilihat bahwa dalam E. cottonii dan karaginan terkandung kation Na, K, Mg, Ca dan anion H2PO4, NO₂, CI, Br, NO, I', SO
Disebabkan sinyal yang dihasilkan pada penentuan anion di atas sangat rendah maka dilakukan penelitian penentuan anion anorganik dalam E. cottonii dan karaginan menggunakan kromatografi ion dengan sistim suppressor. Campuran natrium karbonat dan bikarbonat digunakan sebagai fasa gerak untuk mengurangi gangguan hantaran dan untuk meningkatkan sinyal analit yang tetap terjaga pada batas deteksi terendah. Simpangan baku relatif (RSDs) untuk waktu retensi, luas puncak dan tinggi puncak dari delapan anion anorganik (masing-masing 0.3 mM untuk F, CI, NO₂, Br', NO3, H2PO4, SO, dan I') berturut-turut adalah 0.0-0.2, 0.1-0.4 dan 0.1-0.3%. Dari data dapat dilihat bahwa E. cottonii dan karaginannya mengandung anion F, CI, NO₂, Br', NO, H₂PO, SO. Metoda Inductively Couple Plasma-Mass Spectroscopy (ICP-MS) merupakan teknologi yang telah dikembangan untuk penentuan logam dengan batas deteksi yang rendah. Dalam penelitian ini untuk menentukan kandungan beberapa logam berat dalam E. cottonii dan karaginannya digunakan ICP-MS. Logam yang terkandung dalam E. cottonii dan karaginan terlebih dahulu diekstrak dengan asam nitrat pekat kemudian diencerkan kemudian diukur dengan menggunakan ICP-MS. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa E. cottonii dari Aceh mengandung logam-logam berat Cr, Mn, Fe, Ni, Cu, Zn, Mo, Cd dan Pb. Kandungan logam Pb yang terdapat dalam E. cottonii dari Aceh 1.5 µg/g, ini melebihi nilai ambang batas 1.0 µg/g. Hal ini disebabkan oleh air di lingkungan budidaya E. cottonii mengandung 0.55mg/L Pb. Tingginya kadar Pb di perairan Aceh ini mungkin disebabkan tercemar oleh limbah cair industri dan Tsunami. Sementara untuk logam yang lain masih dalam konsentrasi di bawah nilai ambang batas. Komposisi kimianya seperti, protein, karbohidrat, lemak, serat kasar, vitamin B1, B2, dan C, kandungan air dan kadar abu dari E. cottonii juga dianalisa dengan menggunkan metoda standar AOAC. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan data mengenai nilai gizi dari E. cottonii yang bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan dari E.cottonii dalam bidang kesehatan, industri, teknologi, dan makanan. Pencemaran oleh logam berat merupakan salah satu permasalahan yang paling serius dalam lingkungan. Beberapa jenis ganggang telah dikenal sebagai suatu biomaterial yang dapat digunakan sebagai bahan penyerap ion-ion logam baik dalam sel hidup ataupun sel mati seperti bakteri, jamur, ragi, dan ganggang sebagai suatu bioteknologi yang maju. Berbagai riset sudah membuktikan bahwa gugus fungsi dari ganggang dapat membentuk kompleks koordinat dengan ion logam yang terserap. Gugus fungsi tersebut adalah karboksil (- COOH), amida(- NH2), fosfat(- PO₄), thiol(- SH), dan kelompok hidroksil(- OH). (Deng, 2006, Istini, 1985, Rupe'rez, 2002). Kapasitas penyerapan kadmium oleh E. cottonii dan karaginan dipelajari dengan mengunakan sistim statis. Konsentrasi kadmium diukur dengan Spektrofotometer Serapan Atom. Kapasitas penyerapan Kadmium berturut-turut adalah 3.87, 3.84 dan 0.95mg/g untuk karaginan murni, karaginan hasil ekstraksi, dan E. cottonii. Berdasarkan data analisis EDX dan FTIR mekanisme penyrapan ion logam kadmium oleh E. cottonii dan karaginannya adalah melalui pertukaran kation dan gugus fungsi yang dimiliki oleh E. cottonii dan karaginan tersebut. Dapat disimpulkan, dari hasil penelitian ini telah ditemukan metoda dalam pengekstrksian karaginan dari E. cottonii ya. Karaginan yang dihasilkan hampir sama dengan karaginan murni baik secara fisik maupun gugus fungsi yang dimiliki. 2-E. cottonii yang berasal dari Aceh dan karaginannya mengandung kation Na+, K+, Mg2+, Ca2+ dan anion H2PO4, NO₂, Cl, Br, NO3, I dan SO42 yang ditentukan dengan metoda kromatografi ion menggunakan fasa gerak asam trimelitik. Sedangkan penggunaan kromatografi ion dengan sistim suppressor anion F, CI, NO2, Br, NO3, H2PO4, SO42 dan I terpisah dengan sinyal yang lebih jelas. Sinyal F yang tadinya tidak jelas dengan kromatografi ion sistim suppressor jelas terlihat puncaknya. E.cottonii mengandung logam berat Cr, Mn, Fe, Ni, Cu, Zn, Mo, Cd dan Pb, logam ini diserap oleh E.cottonii dari perairan di ligkungan tempat hidupnya. E.cottonii mengandung nilai nutrisi yang cukup tinggi, akan tetapi E.cottonii ini tercemar oleh logam Pb karena logam Pb yang terkandung didalamnya1.5 ppm yang melebihi nilai ambang batas 1.0 ppm. Hal ini disebabkan karena lingkungan tempat tumbuh E.cottonii mengandung Pb 0.55mg/L. E.cottonii dan karaginannya dapat digunakan sebagai bahan penyerap ion logam kadmium dengan mekanisme penyerapan melalui proses pertukaran kation dan peran dari gugus fungsi. Berdasarkan hasil di atas telah diperoleh informasi tentang E. cottonii, informasi ini nantinya dapat digunakan untuk pengembangan penelitian berikutnya
PENENTUAN KANDUNGAN ANTIOKSIDAN DAN FENOLIK TOTAL DARI EKSTRAK TUMBUHAN SEBAGAI BIOREDUKTOR DALAM PEMBENTUKAN NANOPARTIKEL PERAK
The formation of metal nanoparticles (silver, gold, platinum) by biological methods (green synthesis) has advantages over chemical and physical methods because it is easier, faster, simpler, and environmentally friendly. One of the substances used in this method is plant extracts. The presence of secondary metabolites that act as antioxidants such as phenolics and flavonoids play roles in the formation of silver nanoparticles. In this study, phytochemical screening was carried out from several herbal plants as bioreductors in the formation of silver nanoparticles, such as Phyllanthus buxifolius, Pachira aquatica, Peperomia pellucida, Ageratum conyzoides, and Piper crocatum leaf extracts. The total antioxidant content was determined using the modified phenanthroline method, and the total phenolic content determined using the Folin-Ciocalteu method. The formation of silver nanoparticles was carried out by mixing silver nitrate solution with each plant extract. Colloidal silver nanoparticles formed were then measured for their absorption spectra. The results of the antioxidant content of the five consecutive samples were 26,90 ± 0,19; 26,09 ± 0,14; 18,25 ± 0,02; 42,76 ± 0,14; dan 30,94 ± 0,14 mg AA/g, while the total phenolic contents were 48,44 ± 0,45; 21,08 ± 0,92; 17,42 ± 0,27; 57,71 ± 0,47; dan 49,83 ± 0,60 mg GA/g. Silver nanoparticles mediated by Ageratum conyzoides leaf extracts provided the highest absorbance value compared to other plants. The antioxidants and phenolic contained in the extract acts as reducing agent from silver ions into silver nanoparticles
Determination of Total Antioxidant and Phenolic Content from Malvaceae Family Leaves Infusion by Spectrophotometry
The use of plants as a source of medicine has been increasing lately. The plants used generally have bioactivities such as anti-bacterial, antioxidant, and others. Plants that contain antioxidants are widely used because of their ability to capture free radicals so that they can protect the body from various diseases. One of the plants that is often used is plants from the Malvaceae family. In this study, the antioxidant and total phenolic contents of five types of plants were determined. These plants were extracted by infundation method and analyzed using MPM (Modified Phenanthroline Method) and Folin-Ciocalteu methods. The highest antioxidant and total phenolic contents were found in kapok randu and waru leaves
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Kulit Salak sebagai Biosorben Potensial untuk Pengolahan Timbal(II) dan Cadmium(II) dalam Larutan
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
