JURNAL KIMIA MULAWARMAN
Not a member yet
227 research outputs found
Sort by
Produksi Biogas dari Limbah Peternakan Sapi dengan Konsorsium Mikroorganisme Lokal
Limbah peternakan sapi yang dikumpulkan dari peternak di sekitar Hutan Batukahu, Bali, Indonesia, telah diolah menjadi biogas. Kotoran sapi ini diproses menggunakan sistem digester anaerobik (AD) dengan konsorsium mikroorganisme isolat lokal untuk menghasilkan biogas. Konsorsium tersebut terdiri dari mikroorganisme pengurai limbah yang berasal dari kelompok ragi, metanogen, dan Bacillus. Rancangan penelitian menggunakan desain acak kelompok dengan dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi konsorsium yang ditambahkan, yaitu 10%, 20%, dan 30%, sedangkan faktor kedua adalah perbandingan antara kotoran sapi dan air, yaitu 1:1 dan 1:2, dalam biodigester berkapasitas 250 liter. Variabel yang diamati mencakup volume biogas, pH, tekanan, dan aplikasi penggunaan biogas. Hasil penelitian selama 31 hari menunjukkan bahwa konsentrasi konsorsium tertinggi, yakni 20%, menghasilkan volume biogas sebesar 142.288,266 cm³, dengan suhu bioreaktor antara 30-32°C dan pH 7,1. Pengujian gas dilakukan dua kali, pertama pada hari ke-15 dan kedua pada hari ke-31. Waktu yang dibutuhkan untuk menggunakan biogas untuk memasak adalah 24 menit, dengan tingkat efektivitas sebesar 84,71% dibandingkan dengan LPG
POTENSI PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK RUMAH TANGGA MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR MELALUI PROSES FERMENTASI MENGGUNAKAN BIOAKTIVATOR EM4
Desa Girimukti is a village of East Kalimantan, Penajam Paser Utara. According to data for 2021, a privately owned area of around 16,000 ha will have a population of 6,730 persons and 1,908 occupied homes. The rising creation of garbage, especially home organic waste, is being caused by a sizable population. If handled improperly, it will contaminate the environment. Utilizing fermentation to transform trash into liquid organic fertilizer is one solution that is possible. Study In order to produce liquid organic fertilizer, it is necessary to know the ideal ratio of organic waste to bioactivator as well as the best fermentation time to obtain the highest nutritional content. In this research, EM4, water, and sugar are added to a reactor that already has household organic waste present in the form of vegetables. In order to test the macronutrient content, which includes C-organic, N, P, K, and pH, samples were taken on days 5, 10, and 15 of the 15-day fermentation process. In this study, the addition ratio of EM4 to vegetable waste was 30:100, with a lengthy fermentation period of 10 days. This provided the finest liquid organic fertilizer. The best pH, C-organic content, N, P, and K contents are 11.99%, 4.45%, 5.54%, 4.8200%, and 6.82, respectively. The produced liquid organic fertilizer satisfies the requirements for quality of MOA 70 of 2011
Penentuan Validasi Metode Analisa Kadar Tinbal (Pb) Pada Kosmetik Berbagai macam merek dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Visible
Penelitian tentang validasi metode penentuan kadar timbal (Pb) pada kosmetik menggunakan spektrofotometer UV-Visible telah dilakukan. Validasi metode dilakukan dengan menentukan parameter validitas yang diuji antara lain yaitu uji linieritas dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,9998; limit deteksi 0,161 mg/L, limit kuantitasi 0,537 mg/L, uji akurasi diperoleh dengan persentase perolehan kembali yang memenuhi syarat keberterimaan yaitu 81,5-93,7% dan uji presisi untuk semua konsentrasi secara keseluruhan masih dapat diterima yaitu < 2%; serta nilai RSD yang diperoleh lebih kecil dari 2/3 CV Horwitz. Hasil analisis dari sembilan sampel diperoleh ada satu sampel yang tidak memenuhi syarat yaitu pada kode sampel B2 dengan kadar timbal sebesar 26,6 mg/kg, sehingga tidak aman untuk digunakan. Sedangkan untuk sampel lainnya masih dinyatakan aman karena memiliki kadar timbal dibawah baku mutu cemaran yang telah ditentukan BPOM yaitu ≤ 20 mg/kg
Adsorpsi Sinarcion Red C8B Menggunakan Arang Aktif Magnetik Berbasis Limbah Ampas Tebu
ABSTRAK
Penelitian tentang adsorpsi Sinarcion Red C8B menggunakan arang aktif magnetik berbasis limbah ampas tebu telah dilakukan. Adsorben komposit Fe3O4 arang aktif ampas tebu disintesis dari FeCl3.6H2O dan (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O dengan perbandingan 2:1 yang dikompositkan dengan arang aktif ampas tebu. Adsorben komposit Fe3O4 arang aktif ampas tebu dikarakterisasi dengan menggunakan instrumen Fourier Transform Infrared (FTIR) dan X-Ray Diffraction (XRD) serta dilakukan uji adsorpsi dengan menentukan waktu kontak, berat optimum, menentukan kapasitas adsorpsi dan menentukan persen adsorpsi dari sampel limbah kain tenun Sarung Samarinda. Hasil karakterisasi spektra FTIR komposit Fe3O4 arang aktif menunjukkan telah terbentuknya komposit dengan ditandai munculnya serapan pada bilangan gelombang 1222,25 cm-1 yaitu adanya gugus C-O dan munculnya serapan khas gugus Fe-O pada bilangan gelombang 573,94 cm-1. Difraktogram XRD komposit Fe3O4 arang aktif menunjukkan pola difraksi arang berbentuk amorf. Adsorpsi zat warna Sinarcion Red C8B pada waktu kontak 45 menit, berat optimum 0,1 g, mengikuti pola isoterm Freundlich dengan kapasitas adsorpsi maksimum sebesar 1,0489 mg/g dan persen adsorpsi dari sampel limbah kain tenun Sarung Samarinda sebesar 21,69%.
 
The Potential oOf Butterfly Root Plant (Phanera semibifida Roxb. var. semibifida) Stem as a Source of Antioxidants and Natural Sunscreen Agent
Phanera semibifida Roxb. var. semibifida merupakan tanaman liana yang berasal dari famili Leguminosae. Tanaman ini umum digunakan sebagai tanaman obat oleh berbagai suku bangsa di Kalimantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metabolit sekunder menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT), mengevaluasi aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil), dan menilai potensi tabir surya secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Uji fitokimia menunjukkan bahwa baik ekstrak metanol kasar maupun fraksi etil asetat mengandung alkaloid, steroid, triterpenoid, fenolik, dan flavonoid. Fraksi n-heksana mengandung steroid dan triterpenoid. Fraksi air mengandung alkaloid, fenolik, dan flavonoid. Aktivitas antioksidan diamati dalam ekstrak metanol kasar, n-heksana, etil asetat, dan fraksi air dengan nilai IC₅₀ masing-masing 19,51; 105,08; 16,99 dan 137,30 mg/L. Aktivitas tabir surya ditentukan berdasarkan nilai SPF pada konsentrasi 25, 50, 100, 150, 200, dan 250 mg/L untuk ekstrak kasar, fraksi n-heksana, etil asetat, dan air, yang masing-masing berkisar antara 0,52–6,55, 0,63–6,91, 1,51–17,93, dan 0,23–3,01. Hasil ini menunjukkan potensi Phanera semibifida Roxb. var. semibifida sebagai kandidat alami dengan aktivitas antioksidan dan sifat pelindung matahari
Effect of Eggshell Ca-Alginate on pH, TSS, and TDS of Peat Water
Air gambut memiliki pH rendah, kandungan logam berat yang tinggi, TSS dan TDS yang tinggi sehingga memerlukan pengolahan sebelum digunakan sebagai sumber air untuk budidaya perikanan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh cangkang telur, Ca-alginat, dan Ca-alginat cangkang telur terhadap pH, TSS, serta TDS air gambut. Cangkang telur ayam diketahui mengandung CaCO3 yang bisa digunakan untuk pengolahan air gambut. Namun, penggunaan serbuk cangkang telur memiliki keterbatasan dalam memisahkan adsorben dan adsorbatnya jika digunakan sebagai adsorben. Enkapsulasi cangkang telur menggunakan Ca-alginat dapat mengatasi keterbatasan tersebut. Metode penelitian ini menggunakan metode adsorpsi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pH air gambut dari 4,3 menjadi 6,5, 6,7, dan 6,6 masing-masing untuk adsorben cangkang telur, Ca-alginat, dan Ca-alginat cangkang telur. TSS pada air gambut juga mengalami peningkatan dari 20,5 mg/L menjadi 39 mg/L, 34,5 mg/L, dan 32 mg/L masing-masing untuk adsorben cangkang telur, Ca-alginat, dan Ca-alginat cangkang telur. Peningkatan juga terjadi pada TDS air gambut dari 36,5 mg/L menjadi 94 mg/L, 45 mg/L, dan 42 mg/L masing-masing untuk adsorben cangkang telur, Ca-alginat, dan Ca-alginat cangkang telur. Penggunaan adsorben Ca-alginat cangkang telur meningkatkan nilai pH, TSS, dan TDS air gambut yang masih sesuai dengan baku mutu air kelas tiga berdasarkan PP RI Nomor 22 Tahun 2021
EKSTRAKSI ION Cd2+ DENGAN DITIZON SEBAGAI ZAT PEMBAWA DAN SPAN-80 SEBAGAI SURFAKTAN MENGGUNAKAN TEKNIK EMULSI MEMBRAN CAIR
Penelitian tentang ekstraksi ion logam kadmium Cd2+ dengan teknik emulsi membran cair telah dilakukan. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental di laboratorium menggunakan ditizon sebagai zat pembawa, span-80 sebagai surfaktan, parafin cair sebagai fase membran, larutan HNO3 sebagai fase internal dan larutan kadmium 20 ppm sebagai larutan sampel. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi optimum ion logam Cd2+ yang meliputi pH fase eksternal, konsentrasi fase internal, konsentrasi surfaktan, waktu ekstraksi konsentrasi ion logam Cd2+ yang dapat diekstraksi menggunakan teknik emulsi membran cair. Penentuan konsentrasi sisa ion logam kadmium hasil ekstraksi menggunakan alat Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 518 nm. Kondisi optimum untuk mengekstraksi ion logam Cd2+ menggunakan teknik emulsi membran cair pada penelitian ini adalah pH fase eksternal 7, konsentrasi fase internal 1 M, konsentrasi surfaktan 3,5% dan waktu ekstraksi 15 menit. Pada kondisi optimum tersebut konsentrasi ion logam kadmium yang dapat diekstraksi mencapai 100 ppm dengan nilai persen ekstraksi 77,574%
Adsorption of Methylene Blue using Composite Fe3o4-Activated Charcoal Cassava Skin (Manihot esculenta C.)
Preparation of Fe3O4 activated cassava shell charcoal composite (Fe3O4-AAKS) by coprecipitation method, namely mixing activated cassava shell charcoal (AAKS) with FeCl3.6H2O and FeSO4.7H2O solutions using a mole ratio of 3:2 in alkaline conditions with the addition of 25% NH4OH has been carried out. The Fe3O4-AAKS composite was characterized using Fourier Transform Infra-Red (FTIR) and X-Ray Diffraction (XRD) instruments, then the composite material was applied to adsorb methylene blue with variations in the influence of contact time, optimum concentration and optimum adsorbent mass and determined the adsorption isotherm model. The results of the characterization of Fe3O4-AAKS with FTIR showed that a composite had been formed which was marked by the appearance of absorption at wave number 1033,85 cm-1 indicating the presence of a C-O group and the appearance of a typical absorption of Fe-O groups at 540,07 cm-1. Fe3O4-AAKS XRD results show an amorphous charcoal diffraction pattern at an angle of 20º-30º and a magnetic phase iron oxide diffraction pattern of Fe3O4 at 2 θ at angles of 18.59º, 30.38º, 35.62º, 43.56º, 53.85º, 57.30º, 62.90º and 74.62º. Methylene blue adsorption application using Fe3O4-AAKS composite showed optimum conditions at contact time of 30 minutes, optimum concentration at 60 mg/L with optimum adsorbent mass of 0.05 gram. The adsorption pattern of the composite material follows the Langmuir isotherm with a maximum adsorption capacity of 25.38 mg/g
CHARACTERISATION OF ACTIVATED CARBON FROM WHITE SNAPPER SCALES (Lates calcarife) WASTE
ABSTRACT
Research on the characterisation of activated carbon of white snapper (Lates calcarifer) scales waste, obtained through carbonisation process, fish scales were put in a furnace at 350 oC for 2 hours. Then cooled and sieved with a 100 mesh sieve, characterised by XRD, resulting in three peaks with the strongest intensity at 2θ regions of 26.45o, 32.69o, and 33.60o respectively. The surface acidity of carbon solids before and after activation were (4.48x10-3 and 7.77x10-3) mol/g, respectively. The activation process of white snapper scales (Lates calcarifer), increases the surface area of carbon can react with other chemicals. Subsequently, it was calcined at 450 oC under vacuum conditions for 2 hours with N2 gas, and characterised by XRD. The results showed a shift in 2θ peaks of 26.52o, 29.66o, and 32.77o, respectively. The carbon was activated by soaking with 3 M KOH activator for 15 hours, washed with distilled water, and dried in an oven at 110°C for 1 hour, characterised by XRD, and the peaks with the strongest intensity were obtained at 26.22°C, 29.12°C, and 32.43°C, with increasing basal spacing.
Keywords: activated carbon, white snapper scales, XR
MINYAK ATSIRI DAUN SIRIH HIJAU (PIPER BETLE L.) DAN DAUN SIRIH MERAH (PIPER CROCATUM RULZ AND PAV) : TINJAUAN KOMPREHENSIF TENTANG KOMPONEN, STRUKTUR KOMPONEN, HIBRIDISASI, ADISI, AKTIVITAS BIOLOGIS DAN MANFAATNYA: TINJAUAN KOMPREHENSIF TENTANG KOMPONEN, STRUKTUR KOMPONEN, HIBRIDISASI, ADISI, AKTIVITAS BIOLOGIS DAN MANFAATNYA
Essential oil is an aroma-giving liquid that comes from plant parts such as roots, stem bark, fruit, leaves, seeds, flowers or other parts taken through distillation methods and extraction methods using organic solvents or pressed and enzymatically. Essential oils in each plant have different components and characteristics. One of the plants that can be utilized and has essential oil content is green betel leaves (Piper betle L.) and red betel leaves (Piper crocatum Ruiz and Pav). Several studies have been conducted to identify the content of betel leaves. The largest content present in green betel leaves is limonene, while the largest content of red betel leaves is sabinena which has a special structure. These red and green betel leaves, have many characteristics, and benefits. The method used in this writing uses a descriptive literature review, with the aim of this study is to compile a comprehensive literature analysis of the components, structure, hybridization, isomerization, addition reactions and biological activity of betel leaves covering some information based on the results of literature studies