24 research outputs found
PANDANGAN DUNIA DEWI ANGGRAENI DALAM NOVEL MY PAIN MY COUNTRY: KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK LUCIEN GOLDMANN (DEWI ANGGRAENI’S WORLD VIEW IN MY PAIN MY COUNTRY: LUCIEN GOLDMANN GENETIC STRUCTURALISM STUDY)
Abstract Dewi Anggraeni’s World View in My Pain My Country: Lucien Goldmann Genetic Structuralism Study. This research aims to uncover human facts, collective subject, the structure of the novel My Pain My Country, which illustrates the character's problems, both concerning other characters and the environment, and the worldview expressed by the author as part of a social class group supported by Dewi Anggraeni's authorship helped to reconstruct the author's worldview. The analysis uses genetic structuralism with a dialectical method based on the concept of understanding and explanation in finding coherence of meaning. The data source is Dewi Anggraeni’s novel ”My Pain My Country”. The results showed that the author described “My Pain My Country” as human facts through geographical, sociological, psychological, historical, and ideological facts. Dewi Anggraeni describes the collective subject in two different social classes, namely the Chinese ethnic group to be described as the capitalists and indigenous people as the proletarians. The structure of “My Pain My Country” was constructed by relating the characters and the environment. The author represented the relationship between the characters in human opposition. Meanwhile, the relationship between the characters and the environment were represented through natural, social and cultural oppositions. The structure of the novel reflected the Dewi Anggraeni’s worldview as a form of sympathy, not only towards the victims of the 1998 tragedy from Chinese but also towards the lower middle class of indigenous people; and world views on nationalism, justice, and Chinese integration. Key words: genetic structuralism, human fact, world view Abstrak Pandangan Dunia Dewi Anggraeni dalam Novel My Pain My Country: Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fakta kemanusiaan; subjek kolektif; struktur novel My Pain My Country yang menggambarkan permasalahan tokoh, baik dalam hubungannya dengan tokoh lain maupun dengan lingkungannya; dan pandangan dunia yang diekspresikan pengarang sebagai bagian dari kelas sosial yang didukung oleh jejak kepengarangan yang turut merekonstruksi pandangan dunia Dewi Anggraeni. Analisis menggunakan strukturalisme genetik dengan metode dialektik yang berdasarkan pada konsep pemahaman dan penjelasan dalam menemukan koherensi makna. Sumber data adalah novel My Pain My Country karya Dewi Anggraeni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel My Pain My Country sebagai fakta kemanusiaan digambarkan pengarang melalui fakta geografis, sosiologis, psikologis, historis, dan ideologis. Subjek kolektif dimunculkan Dewi Anggraeni dalam dua kelas sosial yang berbeda, yaitu kelompok etnis Tionghoa yang digambarkan sebagai kaum kapitalis dan pribumi sebagai proletar. Struktur novel My Pain My Country dibangun oleh hubungan antartokoh, serta tokoh dan lingkungan. Hubungan tokoh dan tokoh digambarkan dalam oposisi manusia. Sementara itu, hubungan tokoh dan lingkungan digambarkan melalui oposisi alamiah, sosial, dan kultural. Struktur novel itu merefleksikan pandangan dunia Dewi Anggraeni sebagai wujud keprihatinan, baik terhadap korban tragedi 1998 dari Tionghoa maupun kelompok menengah ke bawah, serta pandangan tentang nasionalisme, keadilan, dan integrasi Tionghoa. Kata-kata kunci: strukturalisme genetik, fakta kemanusiaan, pandangan duni
Dampak Kekerasan Anak Dalam Rumah Tangga (Studi Deskriptif pada Korban KDRT di Lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (PPT) Kabupaten Situbondo); Ratna Dewi Anggraeni; 080910301020
Latar Belakang. Tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia
walaupun UU No.23 Tahun 2004 tentang undang-undang penghapusan kekerasan
dalam rumah tangga telah disahkan. Tingginya kasus kekerasan yang terjadi dan di
Jawa Timur Situbondo menduduki urutan ketiga kasus terbesar pada tahun 2009
sebanyak 119 kasus. Data yang terdapat di pusat pelayanan terpadu dimana kasus
kekerasan yang terjadi pada anak tiap tahun mengalami peningkatan. Sebagian
masyarakat melakukan sistem reward dan punishment terhadap anak-anak mereka,
praktek penurunan kekerasan antar generasi menjadi pilihan bagi orang tua yang dulu
pernah mengalami sehingga bentuk-bentuk kekerasan yang terlapor beragam dari
kekerasan fisik, psikis, seksual dan sosial.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan Jenis penelitian
deskriptif. Arah penelitian ini mengenai bentuk-bentuk dan dampak kekerasan anak
dalam rumah tangga. Metode analisa yang digunakan berdasarkan triangulasi sumber
dan teori.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Pertama, penulis mengetahui bentukbentuk
kekerasan yang terjadi terhadap anak dalam rumah tangga, kekerasan fisik,
kekerasan psikis maupun kekerasan anak secara sosial. Kedua, dampak kekerasan
yang dialami anak berupa luka, memar, benjolan, rasa malu bertemu orang lain,
mengasingkan diri dari lingkungan keluarga, dan renggannya hubungan antara pelaku
kekerasan dengan anak yang menjadi korban kekerasan
PENGARUH TERAPI KELOMPOK TERAPEUTIK TERHADAP KEMAMPUAN ORANG TUA DALAM MENSTIMULASI PERKEMBANGAN INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS DI SLB – B DAN AUTIS TPA BINTORO KABUPATEN JEMBER
Autis diartikan sebagai salah satu gangguan pada anak yang ditandai
munculnya gangguan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi,
perilakunya dan interaksi sosial. Interaksi sosial dapat diartikan sebagai salah satu
bentuk hubungan antar individu dengan lingkungannya, terutama lingkungan
psikisnya. Anak autis yang mengalami gangguan interaksi sosial nantinya akan
cenderung menutup diri, dan mengalami kebingungan untuk menghubungkan
banyak kejadian, orang, tempat, suara dan penampakan serta sulit untuk menjalin
persahabatan dengan orang lain sampai usia dewasa. Mengatasi masalah interaksi
sosial yang dialami anak autis, peran orang tua sebagai keluarga dari anak autis
sangat penting untuk mencegah peningkatan gangguan yang terjadi, baik
gangguan komunikasi juga interaksi sosial pada anak autis. Terdapat alasan untuk
meyakini bahwa pendidikan yang diberikan oleh orang tua lebih bermanfaat bagi
anak dibandingkan dengan terapi medis lain yang diberikan baik oleh tenaga
kesehatan maupun rumah sakit. Orang tua mampu hadir dalam setiap situasi yang
berbeda sehingga dapat membantu anak dalam menerapkan secara umum manfaat
yang mereka peroleh.
Pentingnya peran orang tua ini juga harus diimbangi dengan pengetahuan
yang cukup. Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan orang tua
dalam upayanya merawat dan memenuhi kebutuhan anak autis. Disamping
melalui pendidikan kesehatan, upaya peningkatan kemampuan kesehatan keluarga
dalam hal ini orang tua dapat dilakukan terapi keluarga dalam bentuk
psikoedukasi keluarga. Terapi psikoedukasi keluarga ini memiliki beberapa jenis
terapi lagi di dalamnya yaitu terapi kelompok (terapeutik, suportif), psikodrama,
terapi keluarga, dan terapi lingkungan.
Terapi kelompok terapeutik merupakan salah satu jenis dari terapi
kelompok yang memberi kesempatan kepada anggotanya untuk saling berbagi
pengalaman, saling membantu satu dengan lainnya, untuk menemukan cara
menyelesaikan masalah dan mengantisipasi masalah yang akan dihadapi dengan
mengajarkan cara yang efektif untuk mengendalikan stres. Peningkatan
kemampuan keluarga dalam hal ini orang tua anak autis dapat dilakukan melalui
Terapi Kelompok Teraputik (TKT) yang berdasarkan lebih sedikit teori.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh Terapi Kelompok
Terapeutik terhadap kemampuan orang tua dalam menstimulasi perkembangan
interaksi sosial anak autis di SLB – B dan Autis TPA Bintoro Kabupaten Jember.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre eksperimental
dengan rancangan pretest – posttest design. Populasi dalam penelitian ini
berjumlah 21 orang dengan menggunakan total sampling. Sampel akhir dalam
penelitian sejumlah 15 orang. Data analisis dengan uji tatistik wilcoxon match
pair test untuk mengetahui perbedaan kemampuan menstimulasi interaksi sosial
sebelum dan setelah perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kemampuan kognitif
dan psikomotor dari responden setelah diberikan perlakuan terapi kelompok
terapeutik. Kemampuan kognitif sebelum perlakuan pada kategori cukup yaitu 11
responden (78,6%) dan pada kategori baik 3 responden (21,4%), kemudian setelah
diberikan perlakuan naik menjadi 11 orang responden (78,6%) dengan kategori
baik dan 3 orang responden (21,4%) dengan kategori cukup. Kemampuan
psikomotor sebelum perlakuan dengan kategori kurang yaitu 2 responden
(14,3%), kategori cukup 11 responden (78,6%), dan kategori baik 1 responden
(7,1%). Setelah diberikan perlakuan naik menjadi tidak ada responden dengan
kategori kemampuan kurang, 10 responden (71,4%) dengan kategori cukup, dan 4
responden (28,6%) dengan kategori baik. Berdasarkan hasil uji wilcoxon match
pair test, diperoleh hasil bahwa p value (0,005) < α (0,05) untuk kemampuan
kognitif, sedangkan untuk kemampuan psikomotor didapatkan p value (0,025) <
α (0,05). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada pengaruh terapi kelompok
terapeutik terhadap kemampuan orang tua dalam menstimulasi interaksi sosial
anak autis di SLB – B & Autis TPA Bintoro Kabupaten Jember.
Peningkatan kemampuan orang tua selain dari terapi kelompok terapeutik
yang diberikan juga karena adanya dukungan dari pihak SLB dengan mengadakan
konsultasi dengan tenaga psikolog, sebagai sarana penambahan wawasan orang
tua dari anak autis, namun selama dilakukan terapi kelompok terapeutik kegiatan
konsultasi dengan psikolog tidak dilakukan sama sekali. Hasil penelitian
menyimpulkan bahwa ada pengaruh terapi kelompok terapeutik terhadap
kemampuan orang tua dalam menstimulasi interaksi sosial anak autis di SLB – B
& Autis TPA Bintoro Kabupaten Jember, sehingga diharapkan terapi kelompok
terapeutik dapat dimasukkan dalam agenda pertemuan rutin orang tua anak autis,
dan guru atau pihak SLB selaku penanggung jawabnya
PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PERJUDIAN TOGEL ONLINE DI KEPOLISIAN RESOR TULUNGAGUNG
Dewi Anggraeni Syaputri, Dr. Bambang Sugiri, S.H., M.S., Mufatikhatul Farikhah S.H., M.H. Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya [email protected]  ABSTRAK Penelitian artikel ini berdasarkan pada penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis penyidikan tindak pidana perjudian togel online di Kepolisian Resor Tulungagung. Serta upaya dan kendala yang di hadapi dalam proses penyidikan tindak pidana perjudian togel online di Kepolisian Resor Tulungagung. Penulis memilih tema tersebut dilatar belakangi berdasarkan data rekapitulasi kasus perjudian togel online yang mengalami peningkatan di akhir tahun 2018. Serta perjudian togel online berbeda dengan tindak pidana pada umumnya. Karena tindak pidana ini dilakukan dunia maya, sehingga dalam proses penyidikan terdapat perbedaan dengan tindak pidana pada umumnya. Penelitian ini merupakan penelitian menggunakan metode pendekatan yuridis empiris yang hasilnya bahwa proses penyidikan tindak pidana perjudian togel online di kepolisian resor tulungagung menggunakan ketentuan berdasarkan prosedur yang telah di tetapkan dalam Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana dan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No 14 Tahun 2012 Tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana. Dan kendala yang dihadapi oleh penyidik terbagi menjadi dua yaitu kendala yuridis dan kendala non yuridis. Kendala yuridis yang di hadapi oleh penyidik adalah Tindak pidana perjudian togel online tidak di jerat menggunakan pasal 27 ayat (2) Undang – Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pelaku di jerat dengan pasal 303 KUHP mengenai perjudian yang dilakukan secara konvensional.sedangkan kendala non yuridis yang dihadapi oleh penyidik adalah Alat yang kurang mumpuni dalam proses penyidikan perjudian togel online. Untuk mengatasi kendala dalam proses penyidikan perjudian togel online. Penyidik  melakukan koordinasi dengan Kepolisian daerah guna memohon bantuan dalam proses pemunculan alat bukti yang sengaja di hapus oleh pelaku. Kata Kunci : Penyidikan, Tindak Pidana, Perjudian Togel Online  ABSTRACT This research aims to find out and analyze the investigation of online toggle gambling in Tulungagung District Police. As well as the efforts and obstacles faced in the process of investigating the crime gambling at the District Police in Tulungagung. The author chooses the theme based on the data recapitulation of online gambling cases which increased at the end of 2018. The criminal characteristics of the gambling online toggle is different compared to the general criminal. Because of this crime is carried out by the cyberspace, so the investigation process is different. This research used empirical legal method, and the result shows that the investigation process of online toggle gambling at District Police in Tulungagung uses the provisions based on procedures that have been set out in the Criminal Procedure Code and Regulation of the Head of the Indonesian National Police No 14 Year 2012 concerning The Management of Criminal Investigations. Furthermore, the obstacles faced by investigators are divided into two categories, namely juridical constraints and non-juridical constraints. Juridical obstacle faced by investigators is that the crime of online toggle is not snared by Article 27 Paragraph (2) concerning the Information and Electronic Transaction Act. The perpetrators are snared by Article 303 of Criminal Code regarding gambling conducted conventionally. While non-juridical obstacles faced by investigators are less qualified tools in the process of online toggle gambling investigations. To overcome obstacles in the process investigation, Investigators coordinate with the regional police to ask for help in the process of generating evidence that was intentionally deleted by the perpetrators. Keywords: Investigation, Crime, Online Toggle Gamblin
Perlindungan Konsumen Pemakai Obat Produk Pan Pharmaceutical Ltd Australia
Konsumen pemakai produk asing jika menderita kerugian setelah mengkonsumsi produk tersebut memperoleh perlindungan hukum baik dari segi pandang UUPK maupun hukum keperdataan. Perihal perlindungan hukum bagi konsumen dari terjadi karena adanya pertanngungjawaban atas dasar kontrak maupun pertanggung jawaban atas produk yang dihasilkan. Pertanggungjawaban atas kontrak atau contract liablility jika kerugian tersebut disebabkan karena perjanjian baku sebagaimana pasal 8 UUPK, sedangkan pertangungjawaban produk atau product liability jika kerugian tersebut diseabkan karena adanya pelanggaran kewajiban maupun laranganlarangan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan
Dampak Kekerasan Anak dalam Rumah Tangga
Latar Belakang. Tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia
walaupun UU No.23 Tahun 2004 tentang undang-undang penghapusan kekerasan
dalam rumah tangga telah disahkan. Tingginya kasus kekerasan yang terjadi dan di
Jawa Timur Situbondo menduduki urutan ketiga kasus terbesar pada tahun 2009
sebanyak 119 kasus. Data yang terdapat di pusat pelayanan terpadu dimana kasus
kekerasan yang terjadi pada anak tiap tahun mengalami peningkatan. Sebagian
masyarakat melakukan sistem
reward dan punishment terhadap anak-anak mereka,
praktek penurunan kekerasan antar generasi menjadi pilihan bagi orang tua yang dulu
pernah mengalami sehingga bentuk-bentuk kekerasan yang terlapor beragam dari
kekerasan fisik, psikis, seksual dan sosial.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan Jenis penelitian
deskriptif. Arah penelitian ini mengenai bentuk-bentuk dan dampak kekerasan anak
dalam rumah tangga. Metode analisa yang digunakan berdasarkan triangulasi sumber
dan teori.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa,
Pertama, penulis mengetahui bentuk-
bentuk kekerasan yang terjadi terhadap anak dalam rumah tangga, kekerasan fisik,
kekerasan psikis maupun kekerasan anak secara sosial. Kedua, dampak kekerasan
yang dialami anak berupa luka, memar, benjolan, rasa malu bertemu orang lain,
mengasingkan diri dari lingkungan keluarga, dan renggannya hubungan antara pelaku
kekerasan dengan anak yang menjadi korban kekerasan
Dampak Kekerasan Anak Dalam Rumah Tangga
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk dan dampak kekerasan anak dalam rumah tangga .
Banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga, terlebih lagi terhadap anak yang kondisinya memungkinkan menjadi korban
kekerasan tersebut. Melihat fenomena yang ada, dimana kabupaten Situbondo berada di urutan ketiga di Provinsi Jawa
Timur terkait kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga sudah tidak bisa berfungsi lagi sesuai fungsinya ini karena kasus
KDRT, sehingga keluarga sudah tidak menjadi tempat yang aman untuk berlindung bagi anggota keluarganya terutama anak
mereka. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan Jenis penelitian deskriptif. Pada
pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi, kemudian dianalisa menggunakan triangulasi
sumber dan teori . Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Pertama, penulis mengetahui bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi
terhadap anak dalam rumah tangga, kekerasan fisik berupa pemukulanmenggunakan alat maupun tidak menggunakan alat.
Kekerasan psikis anak menerima kata-kata kasar, dituduh dan penghinanaan. Kekerasan anak secara sosial berupa kurangnya
perhatian dari orang tua, anak tidak diberikan biaya hidup, anak tidak mendapatkan biaya pendidikan dari orang tua . Kedua,
dampak kekerasan yang dialami anak berupa luka, memar, benjolan, rasa malu bertemu orang lain, mengasingkan diri dari
lingkungan keluarga, dan renggangnya hubungan antara pelaku kekerasan dengan anak yang menjadi korban kekerasa
DAMPAK KEKERASAN ANAK DALAM RUMAH TANGGA (Studi Deskriptif pada Korban KDRT di Lembaga Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Kabupaten Situbondo)
Latar Belakang. Tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia
walaupun UU No.23 Tahun 2004 tentang undang-undang penghapusan kekerasan
dalam rumah tangga telah disahkan. Tingginya kasus kekerasan yang terjadi dan di
Jawa Timur Situbondo menduduki urutan ketiga kasus terbesar pada tahun 2009
sebanyak 119 kasus. Data yang terdapat di pusat pelayanan terpadu dimana kasus
kekerasan yang terjadi pada anak tiap tahun mengalami peningkatan. Sebagian
masyarakat melakukan sistem
reward dan punishment terhadap anak-anak mereka,
praktek penurunan kekerasan antar generasi menjadi pilihan bagi orang tua yang dulu
pernah mengalami sehingga bentuk-bentuk kekerasan yang terlapor beragam dari
kekerasan fisik, psikis, seksual dan sosial.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan Jenis penelitian
deskriptif. Arah penelitian ini mengenai bentuk-bentuk dan dampak kekerasan anak
dalam rumah tangga. Metode analisa yang digunakan berdasarkan triangulasi sumber
dan teori.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa,
Pertama, penulis mengetahui bentuk-
bentuk kekerasan yang terjadi terhadap anak dalam rumah tangga, kekerasan fisik,
kekerasan psikis maupun kekerasan anak secara sosial. Kedua, dampak kekerasan
yang dialami anak berupa luka, memar, benjolan, rasa malu bertemu orang lain,
mengasingkan diri dari lingkungan keluarga, dan renggannya hubungan antara pelaku
kekerasan dengan anak yang menjadi korban kekerasan
Dampak Kekerasan Anak Dalam Rumah Tangga (Studi Deskriptif pada Korban KDRT di Lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (PPT) Kabupaten Situbondo)
Latar Belakang. Tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia
walaupun UU No.23 Tahun 2004 tentang undang-undang penghapusan kekerasan
dalam rumah tangga telah disahkan. Tingginya kasus kekerasan yang terjadi dan di
Jawa Timur Situbondo menduduki urutan ketiga kasus terbesar pada tahun 2009
sebanyak 119 kasus. Data yang terdapat di pusat pelayanan terpadu dimana kasus
kekerasan yang terjadi pada anak tiap tahun mengalami peningkatan. Sebagian
masyarakat melakukan sistem
reward dan punishment terhadap anak-anak mereka,
praktek penurunan kekerasan antar generasi menjadi pilihan bagi orang tua yang dulu
pernah mengalami sehingga bentuk-bentuk kekerasan yang terlapor beragam dari
kekerasan fisik, psikis, seksual dan sosial.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan Jenis penelitian
deskriptif. Arah penelitian ini mengenai bentuk-bentuk dan dampak kekerasan anak
dalam rumah tangga. Metode analisa yang digunakan berdasarkan triangulasi sumber
dan teori.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa,
Pertama, penulis mengetahui bentuk-
bentuk kekerasan yang terjadi terhadap anak dalam rumah tangga, kekerasan fisik,
kekerasan psikis maupun kekerasan anak secara sosial. Kedua, dampak kekerasan
yang dialami anak berupa luka, memar, benjolan, rasa malu bertemu orang lain,
mengasingkan diri dari lingkungan keluarga, dan renggannya hubungan antara pelaku
kekerasan dengan anak yang menjadi korban kekerasan
Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis dan Sikap Kemandirian Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Radec (Read, Answer, Discuss, Explain, Create) Materi Indonesiaku Kaya Budaya di Kelas IV SDN 1 Bantarsoka
The learning model used in 21st century teaching must be able to provide the development of several skills. These include problem-solving, decision-making, critical thinking, understanding information and communication technology, creative thinking, communication and collaboration, and essential skills for living in society, both domestically and internationally. The RADEC learning model is an active learning model that is quite supportive of student learning success. This research was conducted using the classroom action research (PTK) model. The class action research was conducted over two periods, generally contained in two cycles. The research was conducted using the RADEC model in each lesson. The stages of classroom action research in several cycles include planning, implementation, observation, and reflection. The results stated that the use of RADEC model can improve students' critical thinking. This improvement is evident with an average score of 69 and a percentage of completeness of 48.34% in cycle I and an increase in the average score of about 88.83 and 96.67% in cycle II. The use of the RADEC model also increased student learning independence, where the average student learning independence increased to 4.243 in cycle II with very good learning independence criteria, previously there were only 3.466 students with good student learning independence criteri
