1,729,821 research outputs found
Empowerment of Goat Farmer Through Mutual Trusf (Tanri Giling Rasyid)
-Empowerment of Goat Farmer Through Mutual Trusf (Tanri Giling Rasyid
Empowerment of Goat Farmer Through Mutual Trusf (Tanri Giling Rasyid)
-Empowerment of Goat Farmer Through Mutual Trusf (Tanri Giling Rasyid
Desa Pattedong pada Masa Pemerintahan Ismail Sangga dan Rasyid Rauf
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terbentuknya Desa Pattedong, Perkembangan Desa Pattedong pada masa pemerintahan Ismail Sangga dan Rasyid Rauf. Desa Pattedong terbentuk pada tahun 1982, dari hasil pemekaran dari Desa Je’ne Maeja. Setelah tahun 1999 Desa Pattedong pada
masa pemerintahan Ismail Sangga mengalami perkembangan dilihat dari segi sosial yaitu keharmonisan dan eksistensi tradisi adat istiadat serta budaya gotong royong masih berlaku, bidang ekonomi dapat dilihat dari banyaknya pembangunan infrastruktur desa yang dibangun seperti jalan
desa, bidang pendidikan dapat dilihat dari pemberian pendidikan sejak dini, sedangkan bidang kesehatan dapat dilihat dari adanya pemeriksaan kesehatan dari anak kecil hingga yang lanjut usia.Begitu pula dengan pemerintahan Rasyid Rauf yang mengalami banyak perkembangan dalam bidang
ekonomi yaitu ekonomi pembangunan seperti pembangunan jalan tani, drainase, plat dekker disetiap dusun di Desa Pattedong. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah yang menggunakan metode sejarah melalui tahapan kerja yakni heuristic atau pengumpulan data, kritik sumber,interpertasi, historiografi atau penulisan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian lapangan terdiri dari wawancara (Rasyid Rauf, Damir, Sulaeman dan warga Desa
Pattedong) dan mengumpulkan sumber arsip (dokumen dari kantor desa dan BPS kabupaten Luwu) serta literatur-literatur yang berhubungan.
Kata Kunci : Pemimpin, Desa Pattedon
The Role of Agents on The Marketing of Buffalo in North Toraja (Penulis: Kasmiyati Kasim, Veronika Sri Lestari, Hastang, T. Rasyid)
-The Role of Agents on The Marketing of Buffalo in North Toraja\ud
(Penulis: Kasmiyati Kasim, Veronika Sri Lestari, Hastang, T. Rasyid
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM KEPEMIMPINAN KHALIFAH HARUN AR-RASYID
AbstrakKhalifah Harun ar-Rasyid merupakan sosok pemimpin yang dermawan, suka memberi baik karena kemauannya sendiri ataupun karena diminta. Harun terkenal sebagai pemimpin berkarisma yang dikagumi oleh rakyatnya, sholeh, taat beragama serta piawai dalam memegang pemerintahan. Oleh sebab itu penulis mengangkat sosok Harun ar-Rasyid menjadi pemeran utama karena beliau sosok tokoh yang mesti untuk dijadikan contoh pada pemimpin di lembaga pendidikan Islam zaman sekarang. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif deskriptif serta tergolong penelitian kepustakaan. Inilah yang peneliti gunakan untuk mengumpulkan data, buku Harun Ar-Rasyid Amir Para Khalifah dan Raja Teragung di Dunia sebagai sumber primernya dan jurnal-jurnal atau makalah sebagai sumber pendukungnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Dalam pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid banyak mengalami kemajuan-kemajuan. Dan salah satu indikator berkembang pesatnya pendidikan dan pengajaran ditandai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam.Kata kunci: Nilai Pendidikan Islam; Kepemimpinan; Khalifah Harun Al-Rasyid AbstractCaliph Harun ar-Rashid is a generous leader, likes to give either on his own volition or on demand. Harun ar-Rashid is known as an authoritative caliph, loved by the people, pious, religious and skilled in holding the government. Therefore, the author makes the figure of Harun ar-Rasyid as the main character because he is a figure who must be used as an example with the reality of today\u27s leaders in Islamic educational institutions. This study uses a descriptive qualitative approach and includes library research, because in collecting the data the researcher uses Harun Ar-Rasyid Amir\u27s book The Caliphs and the Greatest King in the World as the primary source and journals or papers as a supporting source. The results show that: During the reign of Caliph Harun ar-Rashid, many progresses were made. And one indicator of the rapid development of education and teaching is marked by the expansion of Islamic educational institutions.Keywords: Values of Islamic Education; Leadership; Caliph Harun Al-Rasyi
PEMIKIRAN RASYID RIDHA TENTANG PEMBAHARUAN HUKUM ISLAM
Muhammad Rasyid Ridho dilahirkan pada tahun 1865 M di Alqolamun suatu desa di lebanon Latar belakang pendidikannya dimulai dari madrasah tradisional di Al-Qolamun. Kemudian dia meneruskan pelajarannya kesekolah nasional Islam (madrasah Al-Wathoniyah Al- Islamiyah) di Tripoli. Disekolah ini selain pengetahuan agama dan bahasa arab, diajarkan pula pengetahuan modern dan bahasa Perancis serta Turki. Rasyid Rida adalah murid dari Syaikh Muhammad Abduh, rasyid ridolah yang meneruskan karya penafsiran tersebut, yang dimulai dari surat An-Nisa ayat 126, karena Muhamad Abduh hingga wafatnya hanya berhasil menafsirkan Al-Quran sampai ayat 125 dari surat An-Nisa. Rasyid Rida seorang pembaharuan asal Libanon ini wafat pada agustus 1935M. Pemikiran-pemikiran pembaharuan yang dimajukan Rasyid Rida, tidak banyak dengan ide-ide gurunya. Muhamad Abduh dan Jamaludin Al- Afghani, ia juga berpendapat bahwa umat Islam mudur karena tidak lagi menganut ajaran-ajaran Islam sebenarnya. Pengertian umat Islam tentang ajaran-ajaran agama salah dan perbuatan-perbuatan mereka telah menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam sebenarnya. Kedalam islam telah banyak masuk bid‟ah yang merugikan bagi perkembangan dan kemajuan umat. Di antara bid‟ah itu pendapat bahwa dalam Islam terdapat ajaran kekuatan bathin yang membuat pemiliknya dapat memperoleh segala apa yang dikehendakinya, sedang kebahagian diakhirat dan didunia diperoleh melalui hukum alam yang diciptakan tuhan, demikian rasyid rida berpendapat. Rasyid Rida sebagaimana Muhamad Abduh menghargai akal manusia. Sungguh pun penghargaanya terdapat akal tidak setinggi penghargaan yang diberikan gurunya. Menurutnya akal dapat dipakai terhadap ajaran-ajaran mengenai hidup kemasyarakatan, tetapi tidak untuk ibadah, ijtihad diperlukan hanya untuk soal-soal ibadah tidak di berikan lagi. Ijtihad diperlukan hanya untuk soal-soal hidup masyarakat terhadap ayat dan hadist yang mengandung arti tegas. Ijtihad tidak dipakai lagi. Akal dapat dipergunakan terhadap ayat-ayat dan hadist yang tidak mengandung TAZKIYA Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan & Kebudayaan 29 arti yang tegas. Dan terhadap persoalan-persoalan yang tidak tersebut dalam al quran dan hadist
PERANAN HARUN AL-RASYID DALAM KEKHALIFAHAN ABBASIYAH TAHUN 786-809
Harun al-Rasyid adalah salah seorang figure pemimpin yang berada pada
pemerintahan dinasti Abbasiyah, suatu dinasti yang tumbuh dan berkembang
setelah dinasti Umayyah runtuh pada tahun 750. Harun al-Rasyid juga seorang
khalifah yang mampu mengembangkan dinasti Abbasiyah secara menyeluruh
dalam komponen pemerintahannya. Dalam mengembangkan kekhalifahan
Abbasiyah Harun al-Rasyid telah mampu meletakkan fondasi dan prinsip-prinsip
dengan kokoh seperti dibidang politik, ekonomi, sosial sehingga tercipta kerja
sama yang baik antar komponen pemerintahan dan masyarakat. Harun al-Rasyid
selain terkenal sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan, juga dikenal
sebagai seorang khalifah yang gemar mencintai ilmu pengetahuan. Akan tetapi
dalam masa pemerintahannya hal yang paling menonjol ialah dalam bidang ilmu
pengetahuan. Kecintaan para khalifah kepada ilmu pengetahuan sangat
mendukung bahkan rakyat pun sangat berminat dan memiliki peranan penting.
Hal ini menunjukkan bahwa dinasti Abbasiyah sangat menekankan pembinaan
pada peradaban dan kebudayaan Islam.
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana latar
belakang Harun al-Rasyid menjadi khalifah di dinasti Abbasiyah tahun 779 –
786?; (2) Bagaimana peranan Harun al-Rasyid dalam kekhalifahan Abbasiyah
tahun 786 - 809?. Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis adalah: (1) Mengetahui
dan mengkaji tentang latar belakang Harun al-Rasyid menjadi khalifah di dinasti
Abbasiyah tahun 779 - 786?; (2) Mendeskripsikan dan mengkaji peranan Harun
al-Rasyid sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan dalam kekhalifahan
Abbasiyah tahun 786 - 809?. Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu:
(1) Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sarana latihan dalam melakukan penelitian dan karya ilmiah, latihan berfikir dan memecahkan masalah
secara kritik dan logis; (2) bagi mahasiswa calon guru sejarah, dapat memberikan
sumbangan dalam mengembangkan studi ilmu sejarah sebagai suatu cabang ilmu
pengetahuan khususnya yang menyangkut studi sejarah Asia Barat; (3) Bagi
almamater FKIP Universitas Jember, Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
informasi dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan sebagai wujud nyata
dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu dharma penelitian
serta dapat menambah khasanah kepustakaan Universitas Jember; (4) Dapat
dijadikan pelengkap bagi penelitian yang lebih luas dan mendalam dalam rangka
menambah atau memperdalam mengenai Peranan Harun Ar-Rasyid Dalam
Kekhalifahan Abbasiyah Tahun 786-809. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode penelitian sejarah, langkah-langkahnya yaitu 1) Heuristik; 2)
Kritik; 3) Interpretasi; 4) Historiografi.
Hasil penelitian ini adalah Harun al-Rasyid menjadi khalifah kelima dalam
dinasti Abbasiyah, hal ini dikarenakan Harun al-Rasyid dibaiat oleh
pendukungnya untuk menjadi khalifah setelah meninggalnya al-Hadi (kakak
Harun al-Rasyid). Dalam mengembangkan kekhalifahan Abbasiyah Harun al-
Rasyid telah mampu meletakkan fondasi dan prinsip-prinsip dengan kokoh seperti
dibidang politik, ekonomi, sosial sehingga tercipta kerja sama yang baik antar
komponen pemerintahan dan masyarakat. Pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid
tidak bisa terlepas dari dua hal dimana khalifah Harun al-Rasyid sebagai
pemimpin agama dan pemimpin negara atau kepala pemerintahan. Akan tetapi
dalam masa pemerintahannya hal yang paling menonjol ialah dalam bidang ilmu
pengetahuan. Kecintaan para khalifah kepada ilmu pengetahuan sangat
mendukung bahkan rakyat pun sangat berminat dan memiliki peranan penting.
Hal ini menunjukkan bahwa dinasti Abbasiyah sangat memperhatikan pembinaan
pada peradaban dan kebudayaan Islam. Dalam hal pembelajaran ilmu
pengetahuan khalifah Harun al-Rasyid mempergunakan fasilitas yang ada pada
zaman itu seperti masjid, rumah sakit, majelis dan perpustakaan. Selain itu,
khalifah Harun al-Rasyid juga mendirikan lembaga penerjemahan ilmu
pengetahuan yang disebut Baitul Hikmah. Baitul Hikmah adalah lembaga penerjemah dari berbagai bahasa Yunani, Sansekerta dan lain-lain kedalam bahasa
Arab.
Saran yang akan peneliti kemukakan yaitu, bagi peneliti dapat dijadikan
salah satu bahan perbandingan apabila ada penelitian yang sama diwaktu-waktu
mendatang. Bagi mahasiswa dapat menambah materi ilmu pengetahuan sosial
(IPS) serta sejarah tentang kekhalifahan Harun al-Rasyid. Bagi almamater sebagai
salah satu pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Dharma pendidikan
Peranan Harun Al-Rasyid Dalam Kekhalifahan Abbasiyah Tahun 786 – 809;
Harun al-Rasyid adalah salah seorang figure pemimpin yang berada pada
pemerintahan dinasti Abbasiyah, suatu dinasti yang tumbuh dan berkembang
setelah dinasti Umayyah runtuh pada tahun 750. Harun al-Rasyid juga seorang
khalifah yang mampu mengembangkan dinasti Abbasiyah secara menyeluruh
dalam komponen pemerintahannya. Dalam mengembangkan kekhalifahan
Abbasiyah Harun al-Rasyid telah mampu meletakkan fondasi dan prinsip-prinsip
dengan kokoh seperti dibidang politik, ekonomi, sosial sehingga tercipta kerja
sama yang baik antar komponen pemerintahan dan masyarakat. Harun al-Rasyid
selain terkenal sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan, juga dikenal
sebagai seorang khalifah yang gemar mencintai ilmu pengetahuan. Akan tetapi
dalam masa pemerintahannya hal yang paling menonjol ialah dalam bidang ilmu
pengetahuan. Kecintaan para khalifah kepada ilmu pengetahuan sangat
mendukung bahkan rakyat pun sangat berminat dan memiliki peranan penting.
Hal ini menunjukkan bahwa dinasti Abbasiyah sangat menekankan pembinaan
pada peradaban dan kebudayaan Islam.
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana latar
belakang Harun al-Rasyid menjadi khalifah di dinasti Abbasiyah tahun 779 –
786?; (2) Bagaimana peranan Harun al-Rasyid dalam kekhalifahan Abbasiyah
tahun 786 - 809?. Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis adalah: (1) Mengetahui
dan mengkaji tentang latar belakang Harun al-Rasyid menjadi khalifah di dinasti
Abbasiyah tahun 779 - 786?; (2) Mendeskripsikan dan mengkaji peranan Harun
al-Rasyid sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan dalam kekhalifahan
Abbasiyah tahun 786 - 809?. Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu:
(1) Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sarana latihan dalam
ix
melakukan penelitian dan karya ilmiah, latihan berfikir dan memecahkan masalah
secara kritik dan logis; (2) bagi mahasiswa calon guru sejarah, dapat memberikan
sumbangan dalam mengembangkan studi ilmu sejarah sebagai suatu cabang ilmu
pengetahuan khususnya yang menyangkut studi sejarah Asia Barat; (3) Bagi
almamater FKIP Universitas Jember, Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
informasi dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan sebagai wujud nyata
dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu dharma penelitian
serta dapat menambah khasanah kepustakaan Universitas Jember; (4) Dapat
dijadikan pelengkap bagi penelitian yang lebih luas dan mendalam dalam rangka
menambah atau memperdalam mengenai Peranan Harun Ar-Rasyid Dalam
Kekhalifahan Abbasiyah Tahun 786-809. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode penelitian sejarah, langkah-langkahnya yaitu 1) Heuristik; 2)
Kritik; 3) Interpretasi; 4) Historiografi.
Hasil penelitian ini adalah Harun al-Rasyid menjadi khalifah kelima dalam
dinasti Abbasiyah, hal ini dikarenakan Harun al-Rasyid dibaiat oleh
pendukungnya untuk menjadi khalifah setelah meninggalnya al-Hadi (kakak
Harun al-Rasyid). Dalam mengembangkan kekhalifahan Abbasiyah Harun al-
Rasyid telah mampu meletakkan fondasi dan prinsip-prinsip dengan kokoh seperti
dibidang politik, ekonomi, sosial sehingga tercipta kerja sama yang baik antar
komponen pemerintahan dan masyarakat. Pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid
tidak bisa terlepas dari dua hal dimana khalifah Harun al-Rasyid sebagai
pemimpin agama dan pemimpin negara atau kepala pemerintahan. Akan tetapi
dalam masa pemerintahannya hal yang paling menonjol ialah dalam bidang ilmu
pengetahuan. Kecintaan para khalifah kepada ilmu pengetahuan sangat
mendukung bahkan rakyat pun sangat berminat dan memiliki peranan penting.
Hal ini menunjukkan bahwa dinasti Abbasiyah sangat memperhatikan pembinaan
pada peradaban dan kebudayaan Islam. Dalam hal pembelajaran ilmu
pengetahuan khalifah Harun al-Rasyid mempergunakan fasilitas yang ada pada
zaman itu seperti masjid, rumah sakit, majelis dan perpustakaan. Selain itu,
khalifah Harun al-Rasyid juga mendirikan lembaga penerjemahan ilmu
pengetahuan yang disebut Baitul Hikmah. Baitul Hikmah adalah lembaga
x
penerjemah dari berbagai bahasa Yunani, Sansekerta dan lain-lain kedalam bahasa
Arab.
Saran yang akan peneliti kemukakan yaitu, bagi peneliti dapat dijadikan
salah satu bahan perbandingan apabila ada penelitian yang sama diwaktu-waktu
mendatang. Bagi mahasiswa dapat menambah materi ilmu pengetahuan sosial
(IPS) serta sejarah tentang kekhalifahan Harun al-Rasyid. Bagi almamater sebagai
salah satu pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Dharma pendidikan
PERANAN HARUN AL-RASYID DALAM KEKHALIFAHAN ABBASIYAH
Harun al-Rasyid adalah salah seorang figure pemimpin yang berada pada pemerintahan dinasti Abbasiyah, suatu dinasti yang tumbuh dan berkembang setelah dinasti Umayyah runtuh pada tahun 750. Dinasti Abbasiyah merupakan kekhalifahan Islam yang berkuasa di Baghdad. Harun al-Rasyid juga seorang khalifah yang mampu mengembangkan dinasti Abbasiyah secara menyeluruh dalam komponen pemerintahannya. Dalam mengembangkan kekhalifahan Abbasiyah Harun al-Rasyid telah mampu meletakkan fondasi dan prinsip-prinsip dengan kokoh seperti dibidang politik, ekonomi, sosial sehingga tercipta kerja sama yang baik antar komponen pemerintahan dan masyarakat. Harun al-Rasyid selain terkenal sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan, juga dikenal sebagai seorang khalifah yang gemar mencintai ilmu pengetahuan. Akan tetapi dalam masa pemerintahannya hal yang paling menonjol ialah dalam bidang ilmu pengetahuan. Kecintaan para khalifah kepada ilmu pengetahuan sangat mendukung bahkan rakyat pun sangat berminat dan memiliki peranan penting. Hal ini menunjukkan bahwa dinasti Abbasiyah sangat menekankan pembinaan pada peradaban dan kebudayaan Islam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis lebih mendalam tentang peranan Harun al-Rasyid dalam kekhalifahan Abbasiyah tahun 786 - 809. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Sejarah dengan metode penelitian sejarah. Pengumpulan dat
GERAKAN LITERASI MASA ABBASYIAH (KEKHALIFAAN HARUN AL-RASYID DAN MAKMUN AL-RASYID)
AbstrakPenelitian ini membahas tentang gerakan literasi pada masa Abbasyiah, terkhusus dalam periode kekhalifaan Harun al-Rasyid dan Ma’mun al-Rasyid (786 – 833 M). Dalam ulasannya, dijabarkan berbagai hal yang menjadi pokok permasalahan. Mulai dari hakikat gerakan literasi, gerakan literasi yang diterapkan pada masa Abbasyiah, hingga dampak dari gerakan literasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan masa Abbasyiah.Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kualitatif yang berdasar pada penelitian kepustakaan (library research). Kajian yang penulis teliti ini berkenaan dengan penelitian sejarah, maka penelitian ini menggunakan metode sejarah sebagai pemecahan masalah yang telah dirumuskan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa gencarnya gerakan literasi masa Abbasyiah memberikan banyak kontribusi positif untuk peradaban Islam kala itu. Di bawah kepemimpinan Harun al-Rasyid, lahir sejumlah pusat gerakan literasi yang didirikan seiring berkembangnya konsep pengembangan ilmu pengetahuan. Seperti kuttab, madrasah, masjid, perpustakaan, toko buku, istana, dan sebagainya. Di sisi lain, masa kepemimpinan Ma’mun al-Rasyid juga tak kalah memberi kontribusi kemajuan ilmu pengetahuan. Pada masa kepemimpinannya, telah lahir sejumlah tokoh ilmuan dan cendekiawan yang berasal dari latar belakang keahlian yang berbeda-beda. Mulai dari ilmu agama hingga ilmu umum. Kemajuan ilmu agama meliputi tafsir Alquran, hadits, fiqih, tasawuf, dan lainnya. Sedangkan ilmu umum itu meliputi etika, matematika, filsafat, astronomi, kedokteran, dan lainnya.Sebagai impilkasi, Diharapkan penelitian ini menjadi acuan bagi lembaga dewasa ini (pemerintahan maupun swasta) dalam menggalang gerakan literasi. Mengingat gerakan literasi menjadi salah satu aspek pemicu berkembanganya pengetahuan, sebagaimana yang tergambar dalam sejarah peradaban masa Abbasyiah
- …
