136 research outputs found
Raja-Raja dalam Al Qur’an dan As Sunnah serta pandangan Islam terhadap pemerintahan beraja
Seminar Institusi Raja (SIRaj) 2013 telah dianjurkan oleh Universiti Malaysia Perlis pada 5-6 Jun 2013 bertempat di Lanai Kijang, Bank Negara Malaysia, Kuala Lumpur, MalaysiaPemerintahan beraja adalah salah satu sistem pemerintahan tertua di dunia. Dalam
tradisi Islam sistem pemerintahan pertama ialah kenabian sejak Adam Alaihisalam.
Tamadun dan peradaban besar seperti Mesopotamia, Mesir, China, Indus dan
banyak lagi diperintah oleh raja. Sejarah Islam juga mencatatkan adanya kerajaan
yang diperintah oleh raja secara dinasti. Sejak dinasti Umaiyah diasaskan
sehinggalah jatuhnya kerajaan Turki Uthmaniyah. Kertas ini akan menyorot raja-raja
yang disebutkan dalam al Qur’an dan hadis Nabi serta kerajaan yang mereka kuasai.
Ada beberapa raja yang adil dan soleh menguasai kerajaan yang makmur dan besar.
Kemudian akan dibawakan raja-raja yang wujud pada zaman Nabi Muhammad dan
interaksi dakwah Nabi dengan kerajaan mereka. Sebilangan raja menerima dakwah
Nabi dengan baik dan beriman, manakala sebilangan yang lain tidak beriman. Pada
bahagian berikutnya dibawakan permulaan pemerintahan sistem beraja selepas era
khulafa ar-rasyidin serta pendapat ulama’ terhadap sistem pemerintah beraja
Kearifan Raja-Raja dalam Hikayat Raja Pasai
Judul skripsi ini adalah “Kearifan Raja-Raja Dalam Hikayat Raja Pasai” adapun yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini, bagaimanakah unsur intrinsik meliputi (alur,latar dan penokohan) dalam naskah HRP, bagaimana kearifan raja-raja dalam naskah HRP. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan unsur intrinsik meliputi (alur,latar dan penokohan) dalam naskah HRP, mendeskripsikan kearifan raja-raja dalam HRP. Teori yang penulis gunakan untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah teori struktural dan teori kearifan (Jeilani). Metode yang digunakan penulis yaitu metode kualitatif deskritif,
Hasil yang penulis peroleh dalam HRP memiliki unsur intrinsik yang meliputi alur lurus, latar yang ada dalam HRP yaitu latar tempat, latar waktu dan latar sosial-sosial budaya dan tokoh dan penokohan raja-raja yang terdapat dalam HRP terdiri dari Raja Ahmad, Raja Muhammad, Merah Silau/Sultan Malikul Saleh, Sultan Malikul Mahmud, Sultan Malikul Mansur dan Sultan Ahmad Perumal Perumundal dan kearifan raja-raja dalam HRP yang terdiri atas raja harus memahami tugas dan tanggung jawab, penulis menemukan tugas dan tanggung jawab yaitu menerima keluhan masyarakat dan melindungi negeri dari ancaman. Raja harus beriman dan beramal saleh, penulis menemukan agam Islam sebagai iman yang diyakini dan beribadah dalam bentuk berdoa dan membaca Quran, raja menjadi contoh dimasa lalu, penulis menemukan contoh kegiatan yang tidak bermoral berupa inses dan kezaliman, raja bersikap sederhana, penulis menemukan rendah hati, sederhana dan bersyukur, raja harus mendampingi masyarakat, penulis menemukan Sultan Malikul Saleh berperang bersama rakyat, raja harus bersifat adil, penulis menemukan perilaku adil dalam pembagian warisan, perilaku adil menjatuhi hukum dan perilaku adil dalam pembagian derma, raja menghormati tokoh agama, penulis menemukan menerima perintah pengucapan kembali dua kalimat syahadat, Raja yang bijaksana, penulis menemukan pemimpin yang kurang bijaksana dalam menjatuhi hukuman karena seorang perempuan yang tidak direstuinya, raja harus memiliki sifat kasih sayang, penulis menemukan kasih sayang tehadap bawahan dan rakyat dan kasih sayang dalam konteks pengasuhan, raja harus memiliki kepribadian yang baik, penulis menemukan kepribadian yang religius dan idealisme.109 HalamanSkripsi Sarjan
Keadilan teras kepimpinan raja-raja melayu: dari era tradisi ke kontemporari
Kajian ini membincangkan mengenai konsep keadilan dalam kepimpinan raja-raja Melayu yang
menjadi fokus pembicaraan karya-karya ketatanegaraan Melayu tradisional. Hal ini menjadikan
karya-karya ketatanegaraan Melayu tradisional amat penting sebagai wadah pembentukan
peradaban manusia bagi melahirkan pemimpin yang adil dalam memenuhi tanggungjawabnya
sebagai khalifah Allah dan sekali gus hamba-Nya di muka bumi. Bagi menganalisis konsep
keadilan raja-raja Melayu semasa era tradisi, data kajian melibatkan karya-karya ketatanegaraan
Melayu tradisional yang dihasilkan atau disalin dari abad ke-15 hingga ke-19. Antara lain karyakarya
tersebut meliputi Taj al-Salatin, Bustan al-Salatin, Kitab Nasihat Raja-Raja, dan
Thamarat al-Muhimmah. Analisis konsep keadilan raja-raja Melayu dalam era kontemporari
pula bersumberkan Perlembagaan Malaysia. Kajian ini mengaplikasikan pendekatan adab
berasaskan model kerangka pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas (2001). Hasil kajian
membuktikan bahawa karya-karya ketatanegaraan Melayu tradisional berperanan sebagai
penanam adab bagi melahirkan pemimpin yang adil, yang seimbang dari segi rohani dan jasmani
serta ukhrawi dan duniawi. Karya-karya ketatanegaraan Melayu tradisional menjadi panduan
kepada khalayak menjalin hubungan dengan Tuhan selaku Pencipta (hablumminallah) dan
hubungan sesama manusia (hablumminannas) di samping menjelaskan status peranan bagi
setiap manusia di dunia - sebagai khalifah Allah dan pada masa yang sama selaku hamba-Nya.
Prinsip keadilan ini diteruskan oleh raja-raja Melayu dalam era kontemporari
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK NABI MUHAMMAD DALAM BUKU MUHAMMAD: PROPHET FOR OUR TIME KARYA KAREN ARMSTRONG
Latar belakang penelitian ini karena di zaman seperti sekarang ini, meskipun Islam sudah tersebar ke seluruh penjuru tanah air, masih banyak sekali terdapat kemerosotan akhlak di berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan sekarang memasuki masa pemilihan presiden 2019, kemerosotan akhlak sangat terlihat di berbagai media, baik social media, media cetak, maupun media elektronik dengan beredarnya berita hoax, saling memfitnah, saling membenci, saling menghina, saling menghujat, bahkan tak segan-segan mengeluarkan kata-kata kotor ketika berdebat untuk membela calon presiden yang didukungnya atau untuk menjatuhkan kandidat calon presiden lawan.
Pada zaman sekarang, mempelajari akhlak bisa dilakukan melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Pada media cetak salah satunya adalah buku. Selanjutnya peneliti tertarik untuk meneliti nilai-nilai pendidikan akhlak Nabi Muhammad dalam buku Muhammad: Prophet for Our Time. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah apa sajakah nilai-nilai pendidikan akhlak Nabi Muhammad yang terdapat dalam buku Muhammad: Prophet for Our Time. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan akhlak Nabi Muhammad yang terkandung dalam buku Muhammad: Prophet for Our Time.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan obyek penelitian berupa buku yang berjudul Muhammad: Prophet for Our Time. Pengumpulan data dilakukan dengan mencari dan menelusuri bahan dokumentasi yang tersedia. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis isi yaitu teknik menarik kesimpulan dari sebuah buku.
Hasil penelitian menunjukkan: terdapat banyak nilai-nilai pendidikan akhlak dari Nabi Muhammad yang terdapat dalam buku Muhammad: Prophet for Our Time karya Karen Armstrong. Nilai-nilai pendidikan akhlak tersebut berupa nilai pendidikan akhlak Nabi Muhammad dalam hubungannya dengan Allah serta nilai-nilai pendidikan akhlak Nabi Muhammad dalam hubungannya terhadap sesama manusia. Nilai-nilai akhlak dalam hubungannya dengan Allah antara lain tawakal, raja’, takwa kepada Allah, melaksanakan ritual keagamaan. Dan nilai-nilai akhlak dalam hubungannya dengan sesama manusia antara lain jujur, optimis dan kerja keras, bijaksana, cinta damai, tegas, kerjasama dan tolong-menolong, cinta keluarga dan sahabat, musyawarah, sabar, menepati janji, empati, adil, mengajak manusia kepada kebaikan, pemaaf, dermawan.
Kata kunci : nilai, pendidikan akhlak, akhlak Muhammad, Pendidikan agama Isla
A New Perspective on the Origins of Yusuf Adil Shah, Founder and First Ruler of the Adil Shahi Sultanate
The Adil Shahi Sultanate was an important state founded in 1489 by Yusuf Adil Shah in the Deccan region of India, centered in Vijayapura. The sultanate witnessed eight different rulers until it was destroyed by the army of Babur in 1686. Some researchers generally base their studies on Muhammad Qasim Hindu Shah’s work titled Ferishtah’s History of Deccan, which is one of the main sources for this sultanate. According to researchers and based on this resource,Yusuf was the son of the Ottoman ruler Murad II. However, other claims about Yusuf’s lineage appear to have not been included in these studies. Thus, these academic studies can be said to be methodologically incomplete or insufficient. In fact, Fuzuni Astarabadi was another author to write about the sultanate and attributed Yusuf’s origins to the Ottoman ruler Suleiman the Magnificent in his work titled Futuhat-i-Adil Shahi. Another author, Rafiuddin Ibrahim Shirazi, wrote Tazkirat ul-Muluk, in which he attributed Yusuf’s origins to the Aq Qoyunlu Sultan Uzun Hasan. The novel claims about Yusuf’s origins in these works that researchers have ignored necessitate an examination of the issue in full detail. This study analyzes each of these claims by making use of Ottoman and Aq Qkoyunlu chronicles. As a result, the research reveals that the accuracy of these allegations should be questioned. The authors who put forward these claims are assumed to have aimed to strengthen the legitimacy of the sultan of the period due to their own interests or the political circumstances of the sultanate. In this context, the current study has focused on the question of who Yusuf Adil Shah was. As a result, the research has concluded him to have been an ordinary Turk who belonged to the Shiite sect and who’d originally migrated from the city of Save in Iran to the Bahmani lands. The obtained findings provide an important new perspective on Yusuf’s lineage that researchers should take into account
Ibn Jinni's Role And Contributions To Arabic Semantics [PJ6184. R165 2007 f rb].
Kajian ini menganalisis peranan dan sumbangan Ibn Jinni terhadap semantik Arab melalui tinjauan idea-idea dan pandangan-pandangannya yang terdapat dalam buku-bukunya seperti, “al-Muhtasab” – Perbendaharaan -, “al-Hasais” –
Yang Tertentu -, dan “al-Munsif” – Manusia yang Adil. Kajian ini juga membincangkan pandangan dan idea Ibn Jinni terhadap isu-isu tertentu tentang semantik, seperti semantik sosial, semantik morfologi, semantik fonetik, dan
semantik tatabahasa.
This study analyzes Ibn Jinni’s role and contribution to Arabic semantics by surveying his ideas and opinions presented in his books, such as “al Muhtasab”- The Treasurer-, “al-Hasa’is”-The Particularity-, and “al- Munsif”-The Just Man. It discusses Ibn Jinni’s opinions on certain issues of semantics, such as, social semantics, morphological semantics, phonetic semantics, and grammatical semantics
Conversion of African Americans to Islam : a sociological analysis of the Nation of Islam and associated groups
'Conversion of African Americans to Islam: A Sociological Analysis of the Nation of
Islam Associated groups' is an empirical study of the religious experience of people
who had/have distinctive features in terms of race, ethnicity and historical experience.
The purpose of this thesis is to demonstrate how African Americans' (AAs) conversion
experience in general, and the Nation of Islam associated groups' conversion in
particular, differ from the studies of recruitment and conversion in the sociology of
religion and New Religion Movements (NRMs). More specifically, their recruitment
and conversion experiences to Islam diverge from those who converted to mainstream
Islam. The study investigates how AAs' historical experience, soci-economic
difficulties and the racism they encountered shaped and influenced their religious
understanding.
Research methods involved participant observations, a survey questionnaire, interviews,
conversations, personal communications and correspondence. To collect ethnographic
data eleven months field research was conducted mainly in the Chicago area and on two
short visits to Detroit, and three years continued communications with Muslim officials
and academics in the area. During the field research and afterwards through personal
communication 181 survey questionnaire responses were received, and 23 Muslim
officials, academics and ordinary Muslims were interviewed through semi-structured,
unstructured interviews, conversation and correspondence.
The thesis begins with a brief history of Islam and Muslims in general and the African
American Muslims (AAMs) in particular. More emphasis is given on the historical
development of the Nation of Islam (NOl). Then in Chapter III, discussions of schisms
in the history of the NOT are examined from sociological perspectives of social and
religious movements. In Chapter IV I aimed to formulate my own perspective to
analyse and study the conversion experiences of AAMs to Islam. I used a multivariate
approach, considering selectively widely held conversion and recruitment theories in the
sociology of the religion. I consider in Chapter V the predisposing conditions for AAMs
that influence their decision-making to join in the NOT, for example, political and
nationalistic sentiments and socio-economic deprivations. In Chapter VI I have applied
different terms to describe their religious experiences, such as conversion, alteration and
reversion. I have analysed further their encounters with the NOT, the methods of
recruitment they used and their major motives for joining the NOT and converting to
Tslam. In the concluding chapters (Chapter VII VTTT) I describe the different responses
of AAMS to Islam following the death of Elijah Muhammad. It is found out that the
Islamic appeal has polarised. While Farakhan's NOT appeared to continue the tradition
and style of the old NOI with the emphasis on nationalistic and socio-economic factors,
Tmam W. D. Mohammed's community turned more to the religious and spiritual aspects
of Tslam. These different approaches led to a polarisation of the appeal of Tslam to
AAMS.
This thesis contributes to knowledge in four key areas; the sociology of religion and
religious movements, the sociology of social and nationalistic movements, religious and
Islamic studies
Konsep adil dalam Poligami: Analisis kritis komparatif terhadap pemikiran Musdah Mulia dan Muhammad Syahrur
ABSTRAK
Keadilan dalam poligami merupakan masalah yang turun menurun sampai saat ini karena banyak penolakan terhadap pelegalan poligami. Poligami dianggap pendiskriminasian dan pelecehan terhadap perempuan. Hal ini mendorong para cendikiawan muslim saat ini untuk mengkaji kembali hukum poligami serta aturan-aturan di dalamnya dengan merekonstruksi penafsiran ter-hadap Surah An-Nisa Ayat 3. Dalam tesis ini penulis mengangkat pemikiran dua tokoh besar yaitu Musdah Mulia dan Muhammad Syahrur dengan metode Komparasi.
Fokus Penelitian yaitu; pertama, Bagaimana pemikiran Musdah Mulia tentang keadilan dalam poligami? Kedua, Bagaimana pemikiran Muhammad Syahrur tentang keadilan dalam poligami? Ketiga, Bagaimana komparasi pemikiran Musdah Mulia dan Muhammad Syahrur tentang keadilan dalam poligami serta implikasinya?.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research, dimana pencarian data dilakukan dengan menelusuri dokumen-dokumen tertulis yang berkaitan dengan pokok. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis komparatif. Dalam hal ini penulis membandingkan pemikiran Musdah Mulia dan Muhammad Syahrur mengenai konsep keadilan dalam poligami serta menganalisis tentang implikasi jika pemikiran kedua tokoh tersebut diterapkan di Indonesia.
Didapatkan hasil yaitu (1) Musdah Mulia berpendapat keadilan dalam poligami merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh suami terhadap istri-istrinya dalam segala hal, termasuk pembagian cinta. Musdah menghukumi poligami Haram Lighairihi. (2) Muhammad Syahrur berpendapat bahwasanya keadilan dalam poligami adalah sebatas sosial kemasyarakatan, tidak dalam rana biologis ataupun cinta. Poligami menurtnya Halal dan dalam situasi tertentu poligami disunnahkan untuk dilakukan. (3) Perbedaan antara keduanya yaitu: Musdah Mulia mewajibkan adil dalam ranah biologis dan menghukumi poligami haram ligairihi. Muhammad Syahrur mewajibkan keadilan dalam rana sosisal kemasyarakatan, menghukumi poligami sunnah dalam keadaan tertentu. Implikasi pemikiran Musdah Mulia yaitu perlu adanya revisi karena ketidak konsistenan dalam aturan poligami di Indonesia. Implikasi pemikiran Muhammad Syahrur yaitu praktik poligami dapat menjadi solusi dalam UUPA yaitu untuk melindungi para anak anak yatim dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.
مستخلص البحث
العدالة في تعدد الزوجات مشكلة تنازلها حتى الآن. والسبب هو أن هناك الرد من تقنين تعدد الزوجات. يعتبر تعدد الزوجات تحرسشا وإساءة للمرأة. وهذا يشجع العلماء المعاشرون على مراجعة قانون تعدد الزوجات والأحكام فيه من خلال إعادة بناء تفسير سورة النساء الآية الثاللث. في هذه رسالة الماجستير يقدم المؤلف رأي شخصيتين عظيمتين هما مسدة موليا ومحمد شحرور بالطريقة المقارنة.
التركيز البحثي ، وهي ؛ أولاً ، كيف رأئ مسدة موليا في العدالة في تعدد الزوجات؟ ثانيًا ، كيف رأي محمد شهرور في العدالة في تعدد الزوجات؟ ثالثًا ، كيف مقارن رأي مسدة موليا ومحمد شهرور في العدالة في تعدد الزوجات وآثاره النظرية؟?
تهدف طريقة البحث المستخدمة في هذا البحث هي البحث في المكتبات ، حيث يتم البحث عن البيانات من خلال تتبع الوثائق المكتوبة المتعلقة بموضوع البحث.و تقنية تحليل البيانات المستخدمة هي التحليل المقارن. في هذه الحالة ، يقارن المؤلف رأيهما فيما يتعلق بالعدالة في تعدد الزوجات
و ينال الحصول هو (1) ترى مسدح موليا أن العدالة في تعدد الزوجات يجب على الزوج الى زوجاته في جميع الأمور ، بما في ذلك توزيع الحب. مسدح ترى ان تعدد الزوجات حرام للغيره. (2) و يرى محمد شهرور أن العدالة في تعدد الزوجات تقتصر على الاجتماع الانساني ، وليس الجنسي. و يري ان تعدد الزوجات حلال وفي بعض سنة. (3) الفروق بين الاثنين هي: مسدح مليا تلزم العدل في العدل الجنسي و تري ان تعدد الزوجات حرام لغيره. و محمد شهرور يتطلب العدالة في الاجتماع الانساني فقد، و انه السنة في حالة معينة. دلالة تفكير مسدح موليا هي أن هناك حاجة للمراجعة بسبب التناقضات في قواعد تعدد الزوجات في إندونيسيا. إن المعنى الضمني لأفكار محمد سهرور هو أن ممارسة تعدد الزوجات تمكن أن تكون حلاً في UUPA ، أي حماية الأيتام في تلبية احتياجات حياتهم.
ABSTRACT
Justice in polygamy is a problem passed down from generation to generation. The reason is that there are many rejections of the legalization of polygamy. Polygamy is considered discrimination and harassment against women. This phenomenon encourages modern Muslim scholars to review the law of polygamy and its rules by reconstructing the interpretation of Surah An-Nisa Verse 3.
The data analysis technique used in this research is comparative analysis. In this case, the author compares the thoughts of the two figures regarding the concept of justice in polygamy. This research is to find out (1) how Musdah Mulia thinks about justice in polygamy, (2) how Muhammad Syahrur thought about justice in polygamy, and (3) how do Musdah Mulia and Muhammad Syahrur think about justice in polygamy and its theoretical implications.
In this thesis, the author discusses the thoughts of two significant figures, namely Musdah Mulia and Muhammad Syahrur, with the comparative method. This study aims to describe the ideas of Musdah Mulia and Muhammad Syahrur and analyze the opinions of the two figures to find points of similarities and differences regarding their thoughts on the concept of justice in polygamy.
The results obtained are (1) Musdah Mulia believes that justice in polygamy is an obligation that husbands must fulfill towards their wives in all respects, including in terms of the distribution of love. Therefore, Musdah considers that polygamy is Haram Lighairihi. (2) Muhammad Syahrur argues that justice in polygamy is limited to social justice, not in terms of biology or love. According to him, polygamy is Halal, and in certain situations, polygamy is sunnah to do. (3) The difference between the two is Musdah Mulia requires justice in the biological realm and considers polygamy unlawful. Muhammad Syahrur requires justice in the social sphere and considers polygamy a sunnah in certain circumstances.Musdah Mulia's opinion implies a need for revision due to inconsistencies in the rules of polygamy in Indonesia. On the other hand, Muhammad Syahrur's thoughts suggest that the practice of polygamy can be a solution in the UUPA, namely to protect orphans in fulfilling their life needs
Muhammadiyah’s Views and Actions on the Protection of Civilians during the Japanese Invasion of the Netherlands Indies, 1941-1942
Studies on Muhammadiyah largely ignore Muhammadiyah’s perceptions of war. This study explores Muhammadiyah’s thoughts and practices on the protection of civilians in a so far neglected war, namely Japanese invasion of the Netherlands Indies in 1941-1942. Using historical research method, this study scrutinizes previously unexamined primary sources, the weekly magazine Adil, which was published by Surakarta branch of Muhammadiyah, in editions between 1941-1942. By examining edicts from the Central Board of Muhammadiyah as well as the writings of individuals affiliated with Muhammadiyah published by Adil, this study argues that Muhammadiyah was highly attentive to efforts to protect the civilians in times of war, by basing its thoughts on the interplay between Islamic principles and modern ideas about the rights of non-combatants in battle. Muhammadiyah strongly emphasized that during the war the civilians must be protected by the state. It moreover advised people to build spiritual and mental strength so that they can survive the war and advocated a self-protection of civilians by encouraging every resident of the Indies to help each other during the war. It campaigned for the protection of civilians with various methods and by establishing a special agency to organize the protection efforts. This study elucidates the role of Muhammadiyah in providing information, religious guidance and practical supports to its members and the Indonesian people in general regarding the protection of civilians in a war that finally overthrew European colonial powers in Southeast Asia.Studi-studi tentang Muhammadiyah masih mengabaikan tema persepsi Muhammadiyah tentang perang. Kajian ini mengeksplor pandangan dan tindakan Muhammadiyah terkait perlindungan warga sipil di masa perang, dalam konteks yang selama ini terabaikan, yaitu invasi Jepang ke Hindia Belanda pada 1941-1942. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, studi ini mengkaji sumber-sumber primer yang belum pernah diteliti sebelumnya, yaitu majalah mingguan Adil yang diterbitkan oleh Muhammadiyah cabang Surakarta, di edisi antara tahun 1941-1942. Dengan menelaah maklumat-maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta tulisan individu-individu yang berafiliasi dengan Muhammadiyah yang diterbitkan oleh Adil, penelitian ini berargumen bahwa Muhammadiyah menaruh perhatian besar pada upaya melindungi warga sipil di masa perang, dengan mendasarkan pemikirannya pada saling interaksi antara prinsip-prinsip Islam dan ide-ide modern tentang hak-hak non-kombatan dalam pertempuran. Muhammadiyah sangat menekankan bahwa selama perang warga sipil harus dilindungi oleh negara. Selain itu, Muhammadiyah mengajak masyarakat untuk membangun kekuatan spiritual dan mental sehingga mereka dapat bertahan dari perang dan menganjurkan agar warga sipil berupaya melindungi diri mereka sendiri dengan mendorong setiap penduduk Hindia untuk saling membantu selama perang. Muhammadiyah mengkampanyekan perlindungan warga sipil dengan berbagai metode dan dengan membentuk badan khusus untuk menyelenggarakan upaya perlindungan. Kajian ini menjelaskan peran Muhammadiyah dalam memberikan informasi, panduan keagamaan, dan dukungan praktis kepada anggotanya dan masyarakat Indonesia pada umumnya mengenai perlindungan warga sipil dalam perang yang akhirnya menggulingkan kekuatan kolonial Eropa di Asia Tenggara.
Menemukan Benih Muhammad SERI MUHAMMAD 1
Menelaah sejarah kehidupan manusia terbaik sepanjang sejarah peradaban, menoreh ketakjuban dan kekaguman yang tak pernah pudar di telan zaman. Satu-satunya sosok manusia yang mampu memimpin dan memenangkan pertempuran tanpa tebasan pedang, mampu menata peradaban terbaik dan memberikan pencerahan bagi ummat terbaik dengan keluhuran akhlak serta budi pekerti yang agung, ia adalah Muhammad Saw.
Akhlak dan pribadi Muhammad Saw yang di akui di seantero jagat raya, lintas budaya dan lintas agama, tak diragukan kebenarannya. Bagi yang beriman dan berilmu, mengenal Muhammad Saw menguatkan seseorang untuk meyakini bahwa Muhammad adalah Utusan Allah Swt. Menarik untuk menyimak pengakuan tulus tidak hanya dari sejarawan muslim namun, juga pengakuan yang tulus dari para sejarawan dunia tentang pribadi Muhammad :
“Setengah penulis yang bukan Islam, menuduh Muhammad menyiarkan agama dan keyakinannya ini lantaran berharap kebesaran dan kemegahan dunia. Kita tidak dapat menerima perkataan itu, karena tidak ada bukti ilmiah, apalagi sejarah perjalanan hidup Muhammad cukup jelas meunjukkan bahwa ia bekerja dengan ikhlas dan tulus.... seandainya ia tidak membenarkan dakwah yang di bawanya itu; kalau bukan Utusan Tuhan, niscaya ia tidak akan lama untuk bisa bertahan menerima siksaan dan penderitaan yang hebat itu dari kiri dan kanannya,” demikian perkataan seorang ahli sejarah beragama kristen, Jarji Zaidan.
Orang yang ingkar atas kebenaran Muhammad tidak dapat mengingkari bahwa sampai akhir hayatnya, Muhammad tetaplah seorang yang teguh pendirian. Dia menutup mata setelah cukup dilakukan semua kewajibannya. Bacalah tarikh-tarikh bangsa Arab. Tidak satupun yang berselisih; semuanya ada dalam kesatuan, mengatakan bahwa sampai mati, Muhammad tetap seorang Rasul yang benar. Benarnya keterangan ahli-ahli sejarah itu tidak dapat ditolak lagi kalau di dalam menyelidiki sejarah kita masih tetap berdasarkan kepada ilmu pengetahuan,” ujar Henri de Castries.
“Saya amat suka Muhammad, karena Ia teguh pendirian. Ia mendidik dirinya sendiri, tidak mau menyatakan barang yang tidak ada pada dirinya sendiri, dan sekali-kali tidak pernah terkena keseombongan; meskipun ia bukan pula orang yang hina. Ia sendiri yang menambal bajunya yang robek; ia sendiri yang menjahit terompahnya. Dalam ketawadhu’annya itu, ia berani menyatakan perkataan yang benar kepada Raja Parsi dan Kaisar Romawi. Dinyatakan kepada mereka apa yang wajib mereka lakukan terhadap rakyat. Ia tahu hakikat sesuatu, bukan hanya sekadar kulitnya dari dunia di dunia ini. Ia melihat dan memperhatikan sekalian tanda-tanda dan kesempurnaan Tuhan, dan ia sadar benar akan kelemahannya sebagai seorang manusia,” demikian tuisan Thomas Carlyle.
“Adalah Muhammad, kepala dari satu negara yang sangat memperhatikan kehidupan bangsa yang dipimpinnya serta kemerdekaannya. Dihukumnya orang yang berani berbuat kesalahan menurut keadaan pada zamannya, serta menurut bentuk masyarakat kaumnya yang setengah liar. Nabi menyeru kepada satu agama yang mengakui bahwa Tuhan Hanya Satu. Di dalam menyeru, ia seorang yang lemah lembut dan santun, sampai kepada musuhnya sekalipun. Ia memiliki dua macam sifat yang semulia-mulianya, yaitu adil dan penyayang,” kata Laura Veccia Vaglierie dalam Apologi del’Islamisme.
“Muhammad adalah orang yang sangat bijak (shopia), seorang yang sangat penyayang dan santun,” ujar Bartholomeus Saint Heller.
“Bila kita lihat pembawa-pembawa syari’at yang datang ke dunia ini, kita dapati Muhammad mengembangkan agamanya dengan jalannya sendiri, yaitu dengan penaklukan. Memang, meskipun hampir segenap agama itu dijalankan dengan api dan besi, tidak seorang pun jua yang merangkap dengan sikap gagah dan berani, sebagaimana Muhammad. Itulah kelebihan yang ada pada agama Islam sehingga ketuhanan dapat dipertahankan seorang diri oleh seorang nabi,” kata Voltaire.
“sejak kecil hingga dewasa, Muhammad adalah seorang manusia yang paling agung. Kesopanannya tinggi, pemaaf, pandai menjawab pertanyaan orang, perkataannya lancar dan dapat di pegang, jauh dari keji dan termasyhur di lingkungan kaumnya dengan nama al- Amii, artinya “yang dapat dipercaya”. Meskipun ia seorang ummi, akalnya sangat cerdas, pendapatnya sangat jitu, mukanya sangat manis, banyak diam daripada berkata-kata, dan mudah bergaul. Dalam mempertahankan kebenaran, ia sama adilnya terhadap orang yang jauh maupun terhadap orang yang dekat. Sayang kepada kaum miskin, tidak melalikan yang fakir, tidak gentar terhadap yang bekuasa lantaran kekuasaannya. Ia sanggup mengumpulkan dan mempersatukan sahabat-sahabatnya dan begitu sabar dalam berhadapan dengan mereka. Kalau ada sahabatnya yang tak datang, ia sendiri yang mencarinya. Ia duduk di tikar bersama sahabat-sahabatnya. Terompahnya ia buat sendiri. Bajunya ia sulam sendiri. Susu kambingnya ia perah sendiri,” demikian Sedilot.
“Kalau kita akan menaksir kebesaran seseorang lantaran melihat budi pekertinya, niscaya kita akan berkata bahwa Muhammad memang sebesar-besar manusia yang telah ditemukan sejarah,” demikian Gustave le Bon menulis.1
Buku yang di tangan pembaca ini, di buat secara berseri sejak kelahiran hingga Wafat baginda Rasululllah Muhammad Saw. , merupakan satu dari sekian upaya mengenal dan mencintai Rasulullah Saw yang kesempurnaan benih akhlak kebaikannya sampai kepada Nabi Ibrahim As.,
Semoga buku ini memberikan setetes kebaikan bagi seluruh pembaca pecinta Rasulullah Muhammad Saw., yang Allah berkahi dengan anugerah iman, ilmu serta petunjuk dalam menjalani kehidupan ini
- …
