202 research outputs found

    Transliterasi manuskrip melayu dural-nafis (mss 2488) / Fairuzah Basri, Nafisiah Abdul Rahman and Musa Ahmad

    No full text
    Penyelidikan ini merupakan kajian teks dan transliterasi naskhah MSS 2488 yang didapatkan dari Pusat Manuskrip Melayu (PMM), Perpustakaan Negara Malaysia (PNM). Naskhah ini merupakan koleksi beberapa kitab dan risalah yang telah disalin oleh penyalin naskhah. Terdapat 8 judul karya dalam naskhah ini yang ditulis oleh pengarang asal yang berbeza. Namun, kelapan-lapan judul karya yang dikumpulkan oleh penyalin dalam satu naskhah ini mengandungi aspek perbincangan yang sama, iaitu aspek tasawuf falsafah yang berkait rapat dengan akidah umat Islam, iaitu tauhid. Oleh kerana kitab pertama yang terkandung pada naskhah MSS 2488 ini ialah kitab Dur al-Nafis, maka PMM, PNM telah menamakan naskhah ini sebagai Dur al-Nafis. Pengarang asal kitab Dur al-Nafis ialah Muhamad Nafis al-Banjari yang merupakan seorang ulama Melayu yang terkenal berasal dari Banjarmasin, Kalimatan Selatan, Indonesia. Kitab ini dan risalah lain yang terkandung dalam naskhah MSS 2488 ini membicarakan aspek tasawuf falsafah secara terperinci. Selain dari perbincangan teks naskhah, penyelidikan ini juga melibatkan aspek estetika pada naskhah khususnya penggunaan iluminasi pada setiap akhir satu kitab atau risalah. Iluminasi yang dilakarkan oleh penyalin memberi satu identiti tersendiri pada naskhah ini dari naskhah asal setiap satu judul kitab atau naskhah salinan lain yang mempunyai judul yang sama tetapi penyalin yang berbeza. Justeru itu, naskhah ini merupakan karya penyalin yang mempunyai satu wajah baru

    ENT 530 Social Media Portfolio: Francesc Fragrance by Alha / Muhammad Nafis Firdaus Abdul Rahman

    No full text
    Francesc Fragrance by Alha is an online operating business that sells perfume such as body fragrance and car fragrance. It is an online business that is a dropship under a local brand owner, Francesc Fragrance. We operate on several different social media platforms, namely Facebook, Instagram, and WhatsApp, for any inquiries or buying and selling processes. as such, Francesc Fragrance customers are free to choose any of the available platforms to contact us according to their preference or whichever is convenient for them. Although Francesc Fragrance is a business that fully operates through the online platform, the location of an online operation mainly takes place in Kok Lanas, Kelantan. Moreover, We aim to serve our customers with only the best and high-quality products at reasonable prices. Francesc fragrance aspires to give customers an exceptional and original online shopping experience. Next, we prioritize the relationship between customers. The comfort and satisfaction of our customers are very important. As such, we offer aroma and flavor features that uphold each person’s values and lifestyle that are best for customers. In addition, there are many scents and aromas to choose from. In addition to body fragrances, we also sell car fragrances as well. Since we are only a dropship business, the operating plan used by Francesc Fragrance consists of promotion and advertising. Beside that, We also want to strive to be one of the most successful dropship businesses in Malaysia. To achieve our goals, we intend to make improvements in our business from time to time to ensure we are in competition with international businesses

    Konsep Fana Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dalam Perspektif Psikologi Integral Ken Wilber

    No full text
    Konsep fana merupakan salah satu inti ajaran tasawuf yang menggambarkan proses transendensi ego menuju penyatuan eksistensial dengan Tuhan. Dalam khazanah Islam Nusantara, gagasan ini memperoleh bentuk yang khas melalui karya Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr al-Nafis. Kitab tersebut menjelaskan tiga tingkatan fana: fana af‘al, fana sifat, dan fana dzat, yang secara sistematis menguraikan perjalanan ruhani seorang salik dari kesadaran perbuatan hingga peniadaan total diri di hadapan Allah. Namun, kajian akademik terhadap fana selama ini masih dominan dalam ranah teologi, filsafat, dan filologi sufistik. Sementara itu, perspektif psikologi modern, khususnya psikologi integral, belum banyak digunakan untuk membaca ulang konsep ini. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini berupaya menjembatani kesenjangan antara tradisi sufistik dan teori kesadaran kontemporer. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis konsep fana menurut Syekh Muhammad Nafis al-Banjari serta mengintegrasikannya dengan kerangka psikologi integral Ken Wilber. Secara khusus, penelitian ini hendak mengidentifikasi korelasi antara tingkatan fana dengan spektrum kesadaran transpersonal, serta menempatkan ajaran al-Durr al-Nafis dalam dialog lintas-disiplin yang lebih luas. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan model hermeneutika integral. Teks klasik al-Durr al-Nafis dianalisis melalui kerangka AQAL (All Quadrants, All Levels, All Lines, All States, All Types) Ken Wilber, sehingga pembacaan tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga intersubjektif, kultural, dan multidimensi. Analisis dilakukan dengan memetakan ajaran fana dalam tiga tahapannya ke dalam level-level kesadaran Wilber, mulai dari vision-logic hingga nondual. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesepadanan antara tiga tingkatan fana dengan tahapan kesadaran transpersonal. Fana af‘al dapat dipadankan dengan kesadaran vision-logic yang melampaui ego rasional; fana sifat paralel dengan tahap subtle yang menyingkap realitas batiniah dan simbolik; sedangkan fana dzat berhubungan dengan kesadaran nondual, yakni kondisi kesatuan mutlak tanpa dualitas subjek-objek. Integrasi ini menegaskan bahwa pengalaman mistik Islam memiliki relevansi teoretis dengan perkembangan kesadaran manusia dalam perspektif psikologi modern. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa Integrasi antara konsep fana dan psikologi integral Wilber mengukuhkan bahwa pengalaman mistik dalam Islam dapat dijelaskan secara rasional dan sistematik tanpa kehilangan kedalaman spiritualnya. Tradisi sufistik yang terwujud dalam karya Syekh Muhammad Nafis terbukti memiliki struktur psikospiritual yang tidak hanya relevan dalam konteks religius tradisional, tetapi juga sejalan dengan perkembangan teori kesadaran kontemporer

    Konsep Fana Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dalam Perspektif Psikologi Integral Ken Wilber

    No full text
    Konsep fana merupakan salah satu inti ajaran tasawuf yang menggambarkan proses transendensi ego menuju penyatuan eksistensial dengan Tuhan. Dalam khazanah Islam Nusantara, gagasan ini memperoleh bentuk yang khas melalui karya Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr al-Nafis. Kitab tersebut menjelaskan tiga tingkatan fana: fana af‘al, fana sifat, dan fana dzat, yang secara sistematis menguraikan perjalanan ruhani seorang salik dari kesadaran perbuatan hingga peniadaan total diri di hadapan Allah. Namun, kajian akademik terhadap fana selama ini masih dominan dalam ranah teologi, filsafat, dan filologi sufistik. Sementara itu, perspektif psikologi modern, khususnya psikologi integral, belum banyak digunakan untuk membaca ulang konsep ini. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini berupaya menjembatani kesenjangan antara tradisi sufistik dan teori kesadaran kontemporer. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis konsep fana menurut Syekh Muhammad Nafis al-Banjari serta mengintegrasikannya dengan kerangka psikologi integral Ken Wilber. Secara khusus, penelitian ini hendak mengidentifikasi korelasi antara tingkatan fana dengan spektrum kesadaran transpersonal, serta menempatkan ajaran al-Durr al-Nafis dalam dialog lintas-disiplin yang lebih luas. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan model hermeneutika integral. Teks klasik al-Durr al-Nafis dianalisis melalui kerangka AQAL (All Quadrants, All Levels, All Lines, All States, All Types) Ken Wilber, sehingga pembacaan tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga intersubjektif, kultural, dan multidimensi. Analisis dilakukan dengan memetakan ajaran fana dalam tiga tahapannya ke dalam level-level kesadaran Wilber, mulai dari vision-logic hingga nondual. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesepadanan antara tiga tingkatan fana dengan tahapan kesadaran transpersonal. Fana af‘al dapat dipadankan dengan kesadaran vision-logic yang melampaui ego rasional; fana sifat paralel dengan tahap subtle yang menyingkap realitas batiniah dan simbolik; sedangkan fana dzat berhubungan dengan kesadaran nondual, yakni kondisi kesatuan mutlak tanpa dualitas subjek-objek. Integrasi ini menegaskan bahwa pengalaman mistik Islam memiliki relevansi teoretis dengan perkembangan kesadaran manusia dalam perspektif psikologi modern. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa Integrasi antara konsep fana dan psikologi integral Wilber mengukuhkan bahwa pengalaman mistik dalam Islam dapat dijelaskan secara rasional dan sistematik tanpa kehilangan kedalaman spiritualnya. Tradisi sufistik yang terwujud dalam karya Syekh Muhammad Nafis terbukti memiliki struktur psikospiritual yang tidak hanya relevan dalam konteks religius tradisional, tetapi juga sejalan dengan perkembangan teori kesadaran kontemporer

    Nafis al-Banjari : Muhammad Nafīs b. Idrīs al-Banjarī

    No full text
    NAFIS AL-BANJARI (MUHAMMAD NAFĪS B. IDRĪS AL-BANJARĪ) [Indonesia; late 18th century] [Dictionnaire biographique des savants et grandes figures du monde musulman périphérique, du XIXe siècle à nos jours, Fasc. no 2. Paris: CNRS-EHESS, 1998, p. 24-25] Muhammad Nafīs was an 18th-century Malay Sufi from the sultanate of Banjar in southeast Borneo. He is the author of the once widely read Malay Sufi work al-Durr al-nafīs, that has frequently been condemned by other `ulamā as heterodox because of its unmitigated wahdat alwujûd metaphysics

    The Concept of Wahdaniyah Allah Perspective of Muhammad Nafis in the Book of Ad-Durrun Nafis as an Effort to Instill Aqidah in Early Childhood Generation Alfa

    No full text
    Wahdaniyah means the oneness of the substance of Allah SWT, singular and not numbered. Every Muslim needs to understand and believe in it, especially the alpha generation, the generation born in the midst of sophisticated technological advances. Parents need to make special efforts so that the alpha generation can be instilled with God's divine qualities. This study uses the library research method with the results of the research that in the book Addurrun Nafis wahdaniyah is the Oneness of Allah SWT which is divided into 4 parts which have the same meaning as the word One for Allah, namely: Oneness of Deeds (Tauhidul Af'al) , Oneness of Names (Tauhidul Asma'), Oneness of Nature (Tauhidush Shifat), Oneness of Essence (Tauhidudz Dzat. Efforts to instill faith in early childhood alpha generation are by the method of praying, advising, teaching, tell stories, and singin

    Pencegahan dan Penanggulangan Dampak Bullying Menggunakan Metode Sosialisasi Bullying dan Konseling di MTs Hidayatur Rahman

    No full text
    Kasus bullying merupakan permasalahan yang banyak ditemui di lingkungan sekolah, yang dapat berpengaruh pada kesehatan mental korban. Faktor yang menyebabkan seseorang melakukan bullying adalah dengan dalih kesenangan, kepuasan diri, dan keinginan menjadi penguasa di lingkungan sekolah. Sosialisasi bullying merupakan sebuah langkah pencegahan yang bisa dilakukan guna meminimalisir kasus bullying di dunia pendidikan Indonesia, seperti konseling. Tujuan dari program konseling atau ruang dengar ialah menyadarkan para siswa terkait dampak bullying serta membantu para korban bully untuk berkonsultasi dan menerima dukungan. Sasaran kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah 35 siswa dan siswi MTs Hidayatur Rahman. Kegiatan pengabdian masyarakat dengan metode wawancara, kuesioner, sosialisasi, dan konseling. Hasil dari kegiatan sosialisasi dan konseling di MTs Hidayatur Rahman adalah meningkatnya pemahaman siswa tentang cara menghadapi perilaku bullying (88,9%) dan terbantunya dukungan emosional melalui program konseling atau ruang dengar (72,2%). Diharapkan siswa dapat memahami dampak bullying serta berkurangnya kasus bullying, sehingga menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan mendukung

    Women and Power in Tuhfat Al-Nafis: Gender Studies in Malay History

    No full text
    In classical Malay literature, female characters are often not given the opportunity by the author to defend their rights. Women are considered passive in facing life. In Malay literature the role of female figures in public is often depicted as achieving hegemony of power through marriage and alliances with allied kingdoms. A passive attitude is the image of women, but in the Tuhfatun Nafis Manuscript, Tengku Tengah is told as a woman who was active in the political turmoil between Raja Kecik and the Kingdom of Johor. For this reason, the author aims to establish the role of Tengku Tengah in the political turmoil at that time. This article uses qualitative methods in collecting sources. With this, the researcher carried out a library research using a text content analysis approach

    Batavia in the memoirs of an eye-witness: autobiographical notes from the chronicle Tuhfat an-Nafis

    No full text
    The chronicle Tuhfat an-Nafis (“The Precious Gift”) is one of the most significant sources for the history of Johor, a very important independent Muslim state in the Malay Archipelago which existed between the seventeenth and nineteenth centuries. Tuhfat an-Nafis was written around 1866 by Raja Ali Haji (1809–1872), one of the most profound intellectuals of his time. It was written in Malay language with Jawi script and sheds light on many aspects of Malay-Indonesian history. Besides the main storylines, the text contains different additional materials, including autobiographical passages. Among them is a report of the official visit to Batavia of a group of representatives of Johor’s vice-king Raja Jafar (1773– 1831) in early 1238 (1822), which the author took part in. In this passage, Batavia appears in the description of a fourteen-year-old Malay/Bugis boy who would soon become one of the most famous writers of his time. By comparing his simple story with the realities of Batavia’s life in 1822, which were reflected in archival documents, memoirs and academic publications, we clarify some personalities, toponyms and dates described in the text. It should be also emphasized that this is a new type of source for the study of the colonial Batavia, the history of which is used to be written only on the basis of European works, primarily Dutch ones

    The Translation and Commentary of Ibn Al-Nafis Work Titled Risalat Al-a'za

    No full text
    İnsanlık tarihi ile birlikte ortaya çıktığına inanılan bazı tedavi yöntemlerinin olduğu düşünülmektedir. Dönemden döneme ve bölgeden bölgeye nasıl ki toplumların çeşitli özellikleri değişebilmekte ise insanların tedavide kullandığı birçok uygulamada da farklılıklar görülmesi olağan bir durum olarak karşılanmaktadır. Bu araştırmamızda Müslüman bir hekim olan İbnü'n-Nefis'in örnekliği üzerinden Orta Çağ'da, İslam dünyasında kullanılan tedavi yöntemlerinin, tıbbi gelişmelerin tarihi seyri incelenmeye çalışılacaktır. Tezimiz İbnü'n-Nefis'in hayatının, hocalarının, öğrencilerinin, eserlerinin ve yaşadığı toplumun sosyo kültürel, ekonomik ve siyasi yönlerinin alındığı bölüm ile başlamaktadır. Müellifimizin konuyla ilgili kaleme aldığı 'Risâlet'ül-A'za'' eserinin Arapça'dan Türkçeye ilk kez tercümesini gerçekleştirdiğimiz çeviri metni ve eserdeki bilgilerin günümüz yaklaşımları ile yer yer karşılaştırma yapmaya çalıştığımız kısım ise tezimizin ikinci bölümünü oluşturmaktadır. Son bölüm olarakda eserin anlaşılabilirliğini arttırmak adına İbnü'n-Nefis'in eserde başvurduğu kavramları açıklamak üzere kaleme aldığımız kısımdan müteşekkildir. Anahtar Kelimeler: Risâlet'ül-A'za', İbnü'n-Nefis, Memlükler, Tıp, Bilim, Orta Çağ.It is considered that there are some treatment methods emerging with humanity. The various features of society can change from period to period. Also, it is possible that many methods which are used in treatment may vary. In this study, it is tried to examine treatment methods, the historical process of medicine developments which are used in the Islamic world and Middle era through the example of Ibn al-Nafis, a physician. Our dissertation starts with a chapter which includes the life of Ibn al- Nafis, his teachers, students, works and socio-cultural, economic and political aspects of the society in which he lives. The second chapter of our dissertation starts with the tranlation of the Risalat al-A'za' which our author has written about the subject. We have tranlated it from Arabic to Turkish first time and have tried tp compare information in the work with today's approaches. As the last chapter, it consists of the part that we have written to explain the concepts that Ibn al- Nafis refers to in the work in order to increase the comprehensibility of the work. Key Words: Risalat al-A'za', Ibn al- Nafis, Mamluks, Medicine, Science, Middle Era
    corecore