14 research outputs found
IMAJINASI ESKATOLOGIS DALAM TAFSIR MELAYU-JAWI (STUDI TAFSIR NŪR AL-IHSĀN KARYA MUHAMMAD SAID AL-KEDAHI)
Tema eskatologis, terutama tentang kebangkitan setelah kematian menjadi
bahan diskusi yang tiada habisnya di kalangan filsuf. Pada konteks yang sama, kitabkitab
suci termasuk juga al-Qur’an merupakan salah satu teks yang menarasikaan
eskatologi. Kendati demikian narasi al-Qur’an masih terkesan global dan penuh
metafora. Sebab itu, dibutuhkan tafsir sebagai produk interpretasi untuk
menjelaskannya lebih rinci. Namun, teks-teks tafsir yang ada masih didominasi
pengaruh nalar Arab, dari aspek ini menarik untuk melihat bagaimana nalar tafsir
lokal Melayu berimajinasi tentang eskatologi. Penelitian ini menjawab persoalan
teoritis dan praktis, yakni tentang bagaimana konstruksi imajinasi eskatologis tafsir
Nūr al-Ihsān? dan bagaimana aplikasi imajinasi eskatologis dalam tafsir Nūr al-
Ihsān?
Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan (library reseach) yang menjadikan
teks tafsir Nūr al-Ihsān karya Muhammad Said al-Kedahi sebagai sumber primer.
Model penelitian ini tergolong model penelitian tokoh tafsir. Data-data mengenai
tokoh dan penafsirannya dianalisa menggunakan teori hermeneutika Hans-Georg
Gadamer dan Fazlur Rahman.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konstruksi imajinasi eskatologis tafsir
Nūr al-Ihsān bersumber dan terbentuk akibat terjadinya dialektika antara teks-teks
keagamaan (intertekstual) dan weltanschauung alam Melayu (ekstratekstual).
Dialektika ini terus berproses dan membentuk produk imajinatif berupa tafsir Nūr al-
Ihsān. Dalam proses ini pula terklasifikasi dua model imajinasi, imajinasi eskatologis
reproduktif yang terkesan objektif sesuai dengan horizon pengarang teks dan
imajinasi eskatologis produktif yang lebih subjektif sesuai dengan horizon pengafsir
teks. Kemudian aplikasi imajinasi eskatologis yang termuat dalam tafsir Nūr al-Ihsān
terbagi menjadi tiga kategori: figur eskatologis, transisi eskatologis dan terminasi
eskatologis. Pembacaan terhadap masing-masing tema ini memperlihatkan pengaruh
imajinasi Arab (reproduktif) dan imajinasi lokal (produktif). Ayat-ayat eskatologis
yang diterjemahkan atau ditafsirkan dengan diksi yang abstrak lebih tinggi nilai
imajinasinya dibanding menggunakan diksi yang konkret. Misalnya kata jannah dan
nār yang masing-masing telah dimaknakan sebagai surga dan neraka. Umumnya
pengaplikasian ini merupakan hasil negosiasi, transformasi, dan titik temu bahasa
atau istilah simbol agama di alam Melayu
AL-FÂTIHAH DALAM PERSPEKTIF MUFASIR NUSANTARA: Membandingkan Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur dan Tafsir al-Azhar
Abstrak: Artikel ini mendiskusikan tentang penafsiran surah al-Fâtihah menurut mufasir Indonesia, Hasbi ash-Shiddieqy dengan karyanya tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur dan Hamka dengan karyanya tafsir al-Azhar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analisis-komparatif. Penafsiran terhadap surah al-Fâtihah dapat diklasifikasikan mejadi dua komponen penting: komponen eksternal dan komponen internal. Komponen eksternal membicarakan tentang unsur-unsur luar surah al-Fâtihah, yaitu tentang penamaan surah, tempat dan periode turunnya surah, jumlah ayat dalam satu surah, fadhilah surah, asbâb al-nuzûl, lafal ta‘awudz dan âmîn. Sedangkan komponen internal merupakan unsur dalam surah al-Fâtihah, yaitu tauhid, janji dan ancaman, ibadah, jalan memperoleh kebahagiaan, dan kisah umat terdahulu. Hasil penelaahan terhadap kedua tafsir tersebut ditemui titik-titik perbedaan, namun perbedaan itu tidak prinsipil tetapi menarik untuk diungkap, misalnya Hasbi meyakini bahwa basmallâh merupakan ayat tersendiri yang terpisah dari surah al-Fâtihah. Hal ini berbeda dengan Hamka dan kebanyakan ahli tafsir yang umumnya menganggap basmallâh merupakan ayat pertama dari surah al-Fâtihah. Abstract: Perspectives of Nusantara’s Mufassirs on al-Fâtihah: Comparing Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur and Tafsir al-Azhar. Using descriptive-analytical-comparative approach, this article discusses the interpretations of surah al-Fâtihah according to Hasbi ash-Shiddieqy’s masterpiece Tafsir al-Qur’an al-Majîd al-Nûr and Hamka’s Tafsir al-Azhar. The interpretation of surah al-Fâtihah can be classified into two important components: external components and internal components. The external components speak about the external elements of the surah al-Fâtihah, namely: the naming of surah, places and periods of revelation of the surah, its number of verses, asbâb al-nuzûl, pronunciation ta‘awudz and âmîn. While the internal component is the messages contained surah al-Fâtihah, namely: monotheism, promises and threaths, worship, the way of gaining happiness, and story of the past. The study found that the two authors differ at some points, although not principel ones. For example, Hasbi believes that basmallâh is a separate verse from surah al-Fâtihah, while Hamka, as do most commentators, considers basmallâh as the first verse of surah al-Fâtihah.Kata Kunci: quran, mufasir, Nusantara, HAMKA, M. Hasbi ash-Shiddieqy</p
TAFSIR AT-TANWIR MUHAMMADIYAH DALAM SOROTAN (Telaah Otoritas Hingga Intertekstualitas Tafsir)
This paper reviews Tafsir at-Tanwir (2015) written by the Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. This research focuses on behind the scenes writing Tafsir at-Tanwir. Besides, it also examines the idea of progressing Qur’anic interpretation, in the form of direction and importance of interpretation, systematic and technical interpretation, and sources of reference of interpretation. This type of research is library research by relying on Tafsir at-Tanwir as primary data and other literature as secondary sources. Content review using the descriptive-analysis method is supported by historical and hermeneutic approaches. Based on the analysis conducted in this study, several results were obtained: first, the authors of the interpretation are academics and activists of Muhammadiyah, they work at leading Islamic universities in Indonesia, it is very appropriate to call this interpretation as “academic interpretation”. This interpretation is not only written by men but also involves the role of women writers. The performance of the interpretations of each team of interpreters varies, some are individual and some are collective, at most interpret 29 verses and at least 1 verse. Secondly, the importance of writing Tafsir at-Tanwir is to mobilize the puritan ideology of Muhammadiyah. In addition, to create responsive interpretations, generate dynamics, and contain the ethos of Muhammadiyah, in the form of an ethos of worship, economic, social, and science. Writing interpretation is very systematic. As a progressive interpretation of the Qur’an, Tafsir at-Tanwir also dares to refer to Arabic and English references, but unfortunately, some still refer to translated books
KEGIATAN GEBYAR TAHUN BARU HIJRIAH DI MASJID NURUL YAQIN TEMBILAHAN
Kegiatan Gebyar Tahun Baru Hijriah sudah menjadi tradisi di Masjid Nurul Yaqin Tembilahan. Kegiatan ini diadakan untuk memperingati Hijrahnya nabi Muhammad dari Mekkah Ke Madinah, peristiwa inilah dijadikan titik awal pembentukan kalender Islam. Ada banyak kegiatan yang dilakukan di Masjid Nurul Yaqin dalam momentum ini, di antaranya adalah mengadakan lomba hafalan surah-surah pendek pilihan, lomba adzan, lomba shalawat nariyah, dan lomba rangking satu. Dengan diadakannya kegiatan ini anak-anak termotivasi untuk belajar Islam,serta mampu mengembangkan minat dan bakat. Kegiatan ini mendapat respon yang sangat positif, terlihat dari banyaknya peserta yang mendaftar berjumlah 60 orang peserta dengan rincian: 34 orang peserta lomba hafalan surah pendek pilihan, 12 orang peserta lomba adzan, dan 14 orang peserta lomba shalawat nariyah, ramainya pengunjung yang hadir, dan dukungan para donator. Sehinggga, kegiatan ini berlangsung dengan mudah, lancar, dan sukses
Penerapan Metode Kunci ABC (Aneka Berhitung Cepat): Pembelajaran Konsep Operasi Perkalian Matematika pada Siswa Sekolah Dasar
This article reports the result of a classroom action research focusing on elementary school students’ development in multiplication under Aneka Berhitung Cepat (ABC) key method. Data were gathered from 19 students by means of tests, observations, documentation, and reflection within two cycles under planning, action, observation, and reflection stages.The result ofqualitative analysis showed an increase in students’ participation in learning activities and students’ learning outcomes. This study implies that ABC key method could be of consideration for math teachers to apply in the classroom.Keywords: ABS key method, elementary school, mathematics
Penerapan Metode Kunci ABC (Aneka Berhitung Cepat): Pembelajaran Konsep Operasi Perkalian Matematika pada Siswa Sekolah Dasar
This article reports the result of a classroom action research focusing on elementary school students’ development in multiplication under Aneka Berhitung Cepat (ABC) key method. Data were gathered from 19 students by means of tests, observations, documentation, and reflection within two cycles under planning, action, observation, and reflection stages.The result ofqualitative analysis showed an increase in students’ participation in learning activities and students’ learning outcomes. This study implies that ABC key method could be of consideration for math teachers to apply in the classroom.
Keywords: ABS key method, elementary school, mathematic
Eksistensi Literatur Tafsir Nusantara-Indonesia dalam Tafsir al-AzharKarya Hamka
This paper attempts to explore the Indonesian-Indonesian interpretation literature contained in the Tafsir al-Azhar by Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). This research was conducted to detect the existence, intensity, and involvement of the Nusantara-Indonesian interpretations as a reference for the writing of Tafsir al-Azhar. After conducting a search, it was found that the literature on the interpretation of the Archipelago-Indonesian in Tafsir al-Azhar was very varied. The author classifies them into four categories. First, the exegetical literature written explicitly in the commentary text and listed in the bibliography of Tafsir al-Azhar, consists of 4 works of commentary. Second, the exegetical literature written explicitly in the commentary text, but not listed in the bibliography, consists of one work of commentary. Third, literature that is not written explicitly in the text of commentary, but is listed in the bibliography, this category consists of three works of interpretation. Fourth, exegetical literature that is not written explicitly in the text of commentary or in the bibliography or is referred to as "ignored interpretation" literature. Even though it is very possible to be used as a reference for writing Tafsir al-Azhar, which falls into this category consists of three works of interpretation
Tafsir Tarjumân Al-mustafîd Karya ‘Abd Al-rauf Al-fanshuri: Diskursus Biografi, Kontestasi Politis-teologis dan Metodologi Tafsir
Artikel ini mengkaji tafsir Tarjumân al-Mustafîd karya ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri. Penelitian ini difokuskan pada surah al-Fâtihah dan surah al-Baqarah yang menghabiskan setidaknya lima puluh halaman dari tafsir Tarjumân al-Mustafîd. Pendekatan deskriptif dan kuantitatif dalam penelitian ini sangat perlu dilakukan untuk menggapai hasil yang tepat sesuai dengan fakta dan realitas yang ada. Tafsir ini ditulis ketika ‘Abd al-Rauf menduduki jabatan mufti di kerajaan Aceh yang waktu itu dipimpin oleh empat orang sultanah secara bergantian. Meskipun begitu, hampir dapat dikatakan nuansa politis itu tidak meresap ke dalam penafsirannya. Sisi keunikan tafsir ‘Abd al-Rauf ini, ia sangat kontiniu dalam menggunakan kata kunci tertentu untuk mengawali sebuah penafsiran, ditambah lagi dengan bahasa dan aksara yang melekat dalam tafsir semakin menambah kekayaan khazanah tafsir Nusantara yang jarang dimiliki oleh tafsir lain
TAFSIR MELAYU: MENGENAL TAFSIR NŪR AL-IHSĀN KARYA SYEKH MUHAMMAD SA’ĪD AL-QADHĪ
Artikel ini secara spesifik untuk mengenal dan mengkaji tafsir Melayu Nūr al-Ihsān karya Syekh Muhammad Sa’īd al-Qadhī. Penelitian ini membuktikan bahwa tafsir berbahasa Melayu beraksara Arab-Jawi masih eksis dan bertahan hingga abad ke-20 M. Menarik untuk melihat praktik penafsiran yang diterapkan oleh Muhammad Sa’īd dalam tafsirnya. Setelah melakukan penelitian secara deskriptif-analitis, karya ini sangat kaya dengan berbagai nuansa dan corak penafsian terutama berkaitan dengan teologis, fiqh, dan sufistik. Fakta ini tidak mengherankan, karena disamping sebagai seorang agamawan, Muhammad Sa’īd merupakan seorang ahli hukum (qādhi) bermazhab Imam al-Syafi’i di negeri Kedah, dan penganut setia tarekat Naqsyabandiyah Ahmadiyah</jats:p
TAFSIR TARJUMÂN AL-MUSTAFÎD KARYA ‘ABD AL-RAUF AL-FANSHURI: Diskursus Biografi, Kontestasi Politis-Teologis dan Metodologi Tafsir
Abstrak: Artikel ini mengkaji tafsir Tarjumân al-Mustafîd karya ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri. Penelitian ini difokuskan pada surah al-Fâtihah dan surah al-Baqarah yang menghabiskan setidaknya lima puluh halaman dari tafsir Tarjumân al-Mustafîd. Pendekatan deskriptif dan kuantitatif dalam penelitian ini sangat perlu dilakukan untuk menggapai hasil yang tepat sesuai dengan fakta dan realitas yang ada. Tafsir ini ditulis ketika ‘Abd al-Rauf menduduki jabatan mufti di kerajaan Aceh yang waktu itu dipimpin oleh empat orang sultanah secara bergantian. Meskipun begitu, hampir dapat dikatakan nuansa politis itu tidak meresap ke dalam penafsirannya. Sisi keunikan tafsir ‘Abd al-Rauf ini, ia sangat kontiniu dalam menggunakan kata kunci tertentu untuk mengawali sebuah penafsiran, ditambah lagi dengan bahasa dan aksara yang melekat dalam tafsir semakin menambah kekayaan khazanah tafsir Nusantara yang jarang dimiliki oleh tafsir lain.Abstract: ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri’s Tarjumân al-Mustafîd: Biography, Political and Theological Contestation and Tafsir Methodology. This article is an attempt to provide insight to the reader on the interpretation of Tarjumân al-Mustafîd by ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri focusing on the sura al-Fâtihah and sura al-Baqarah which consumes at least fifty pages of the Tarjumân al-Mustafîd tafsir. This commentary was written when ‘Abd al-Rauf assumed the position of mufti in the kingdom of Atjeh, which was then led by four sultanahs in turn, although, it is almost arguable that the political nuance did not seep into his interpretation. The unique aspect of the interpretation of ‘Abd al-Rauf, he constantly uses certain keywords to start an interpretation, coupled with the language and script inherent in the interpretation increasing the wealth of the wealth of interpretation of the Nusantara that is rarely owned by other exegetes.Kata Kunci: Nusantara, Aceh, tafsir, ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri, Tarjumân al-Mustafî
