10 research outputs found
استخدام نموذج تعلم على ضوء تنشيط الطلاب في تعلم اللغة العربية للصف السابع بالمدرسة المتوسطة الإسلامية الفتاحية بيولانجو تولونج أجونج للعام الدراسي 2020/ 2021 م
البحث العلمي بالموضوع "استخدام نموذج تعلم على ضوء تنشيط الطلاب في تعلم اللغة العربية للصف السابع بالمدرسة المتوسطة الإسلامية الفتاحية بيولانجو تولونج أجونج للعام الدراسي 2020/ 2021 م" الذي كتبه محمد عين الرفيق، رقم القيد 12202173074 قسم تعليم اللغة العربية، كلية التربية و العلوم التعليمية، الجامعة الإسلامية الحكومية تولونج أجونج، تحت إشراف الدكتور أحمد نور خالص الماجستير رقم التوظيف 197808012009011006.
الكلمات الأساسية : نموذج تعلم على ضوء تنشيط الطلاب، تعلم اللغة العربية
خلفية البحث : إن نموذج التعّلم في على ضوء تنشيط الطلاب هي عملية لتدرس الطلاب حتى ينتمون مع نشاطتهم نحوى المفهم والنظرية بوجد تنشيط البيئة لد الطلاب، وتلك البيئة حول المدرسة أو خارج المدرسة. ولذلك كان دور المدرس مُهِمّ جدا في تنشيط الطلاب عند عملية التعَلُّم ليكون تَعَلُّماً جيدا. ولقد لحض البحث في مدرسة المتوسطة الإسلامية الفتاحية بيولانجو خصصا نحوى المدة اللغة العربية، مع استخدم النموذج التعلم تنشيط الطلاب، ورئ البحث أنّ هذا النموذج يُرفع فهم الطلاب في كثيرٍ من المفردات مع معنها عند التَعلُم و تعلم.
مسائل البحث : 1) كيف عمليات إستخدم نموذج التعلم على ضوء تنشيط الطلاب ؟، 2) كيف مشكلات التعلم باستخدام نموذج التعلم على ضوء تنشيط الطلاب ؟، 3) كيف حل المشكلات عند تعلم اللغة العربية باستخدام النموذج التعلم على ضوء تنشيط الطلاب؟.
وأما منهجية البحث هي إستخداما البحث التشميم الكيفي مع المدخل الوصفي عن الظواهر الموجودة عند التعلم. وأما طريقة جمع البيانات ثلاثة المقابلة والملاحظة والوثيقة. وطريقة تخليل الحقائق باستخدام ثلاث مراحل هي القليص وعرض البيانات وتخقيق البيانات. البيانات المخللة ستفتيش صحتها بالملاحظة والتثليث والمناقشة بين الأصدقاء.
نتائج البحث : 1) إنّ عمليات التعلم اللغة العربية باستخدام النموذج التعلم تنشيط الطلاب على عشر الحُطوات. 2) إنّ مشكلات تعلم باستخدام النموذج التعلم تنشيط الطلاب تُنقسم الى قسمين داخلية وخارجية. 3) إنّ محاولات حل المشكلات التعلم باستخدام النموذج التعلم تنشيط الطلاب تُنقسم إلى ثلاثة اقسم وهي من نحية الطلاب و من نحية المدرسين و من نحية المدرسة
MANAJEMEN KURIKULUM TERPADU DI PONDOK PESANTREN AL-KAMAL WONODADI KABUPATEN BLITAR
Artikel ini bertujuan untuk membahas manajemen kurikulum terpadu di Pondok Pesantren Al-Kamal yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentas. Sedangkan keabsahan data yang digunakan melalui ketekunan pengamatan, diskusi dengan teman sejawat, trianggulasi sumber, metode dan waktu. Adapun hasi penelitian meliputi (1) Perencanaan kurikulum terpadu pada pembelajaran bahasa arab di pondok pesantren al-kamal dalam kriteria pembagian mata pelajaran sangat disesuaikan dengan tujuan adanya progam bahasa asing disini, dimana madrasah diniyah dipondok tersebut secara khusus mempelajari bahasa arab dari segi tata bahasa, menulis, cara membaca selain itu juga mempelajari tentang hadist, ushul fiqih agar membiasakan seorang santri ketika nantinya terjun ke masyarakat. Sedangkan, untuk pembelajaran bahasa arab modern di bawah naungan LPBA secara khusus di pondok tersebut untuk mempelajari muhadatsah sehingga nantinya diharapkan para santri tidak hanya mampu mempelajari bahasa arab dari segi kaidah tapi juga dari segi berbicara bahasa asing khususnya dalam bahasa arab. (2) Pelaksanaan kurikulum terpadu pada pembelajaran antara madrasah diniyah dan idhofiyah lughah di pondok al-kamal di ada tiga langkah inti yaitu kegiatan pendahuluan, inti dan penutup. kurikulum terpadu dalam pembelajaran bahasa arab terbagi dalam dua bagian. Pertama, salafiyah dibawah naungan madrasah diniyah untuk mempelajari kitab-kitab berbahasa arab. Kedua, kegiatan bahasa arab modern yang di bawah naungan LPBA terbagi dalam dua kelas besar yakni kelas persiapan (santri baru) dan kelas lanjutan, dimana kegiatan tersebut untuk melatih para setiap santri terbiasa menggunakan percakapan bahasa asing khususnya dalam bahasa arab, karena di pesantren ini pada kehidupan sehari-harinya menggunakan percakapan bahasa asing. (3) Evaluasi yang digunakan oleh pondok al-kamal secara garis besar yang di evaluasi meliputi : Pertama, tujuan pembelajaran yang memuat (ujian tulis, ujian lisan, ujian praktek). Kedua, evaluasi muatan kurikulum yang memuat (progam, strategi, kriteria ketuntasan belajar), Ketiga, hasil belajar, Keempat, evaluasi pengembangan kurikulum
Dinamika Modernisasi Lembaga Pendidikan Islam di Tengah Perubahan Sosial dan Teknologi
Modernisasi lembaga pendidikan Islam merupakan respons terhadap dinamika zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan tantangan globalisasi. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk modernisasi yang diterapkan pada lembaga pendidikan Islam di Indonesia, faktor-faktor pendorong dan penghambatnya, serta dampaknya terhadap kualitas pendidikan dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber literatur ilmiah. Hasil kajian menunjukkan bahwa modernisasi mencakup integrasi kurikulum agama dan umum, pembaruan metode pembelajaran, penguatan infrastruktur teknologi, serta profesionalisasi manajemen kelembagaan. Faktor pendorong utama meliputi tuntutan masyarakat, kebijakan pemerintah, perkembangan teknologi, dan kepemimpinan visioner. Di sisi lain, tantangan berupa resistensi terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya manusia, dan masalah pendanaan masih menjadi hambatan. Modernisasi terbukti meningkatkan mutu lulusan dan daya saing lembaga, meski tetap diperlukan keseimbangan agar nilai-nilai dasar Islam tidak tergerus. Studi ini merekomendasikan perlunya inovasi berkelanjutan yang tetap berakar pada prinsip-prinsip keislaman dalam pengembangan pendidikan Islam di masa depan
PENINGKATAN STRATEGI PENJUALAN PUPUK KOMPOS PADA BSM SUBUR DI DESA TAMBAK REJA KAB. CILACAP
Permasalahan yang banyak ditemui dalam mayarakat perkotaan adalah masalah sampah, dengan banyaknya jumlah penduduk pada masyarakat perkotaan setiap hari pasti menghasilkan sampah baik organik maupun non organik. Salah satu usaha yang ada di desa Tambak Reja adalah Bank Sampah Mandiri (BSM) SUBUR. Dimana unit usaha utama dari BSM SUBUR adalah pengolahan limbah/sampah menjadi pupuk organik. Kendala yang dihadapi pada unit usaha yang sedang dijalankannya saat ini. Beberapa diantaranya yaitu proses pengemasan produk pupuk organik masih belum menarik. Desain kemasan produk yang menarik dan mampu memberikan informasi produk yang dipasarkan. Desain kemasan produk sebelum dilakukan branding dan setelah diredesain. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa produk-produk BSM Subur sudah mulai dikenal oleh masyarakat di luar kabupaten Cilaca
Problematika penentuan awal waktu subuh di Indonesia: Kajian Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 187
ABSTRAK
Problematika penentuan awal waktu subuh mulai muncul ketika ada beberapa pihak yang berpendapat bahwa waktu subuh di Indonesia terlalu cepat 15-23 menit. Sebagian dari mereka berargumen bahwa kondisi langit sekarang sudah berbeda dengan dulu, sementara sebagian yang lain berargumen dengan beracuan pada subuh yang berada di negara lain, diantaranya Maroko dan Mesir yang mana waktu subuh disana memang lebih lambat. Beberapa penelitian lapangan pun dilakukan oleh para ahli astronomi dan falak terkait kemunculan fajar Shâdiq ini, dengan harapan agar hal ini tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
selain itu perlu juga dilakukan kajian khusus terhadap ayat Al-Qur’an terkait fajar Shâdiq ini, sehingga nantinya bisa dilakukan kontekstualisasi ayat Al-Qur’an terhadap kondisi tempat dan waktu pada masa sekarang. Dari hal tersebut penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang problematika penentuan awal waktu subuh ditinjau dari segi tafsir ayat dengan rumusan masalah: Bagaimana interpretasi Mufassirin terhadap idiom fajar Shâdiq sebagai penanda awal waktu subuh? dan Bagaimana pandangan Ulama falak dan astronomi terhadap idiom fajar Shâdiq sebagai penanda awal waktu subuh?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka penulis menggunakan metode normatif-empiris yang ditinjau dari data kitab tafsir serta didukung dengan data hasil observasi secara astronomi oleh peneliti terdahulu. Penulis memilih Surah al-Baqarah ayat 187 yang menjadi acuan untuk analisis tafsir.
Dari tulisan ini dapat disimpulkan bahwa 1) Jumhur Ulama Mufassirin sepakat bahwa waktu subuh dimulai pada waktu ghalas dan diakhiri dengan terbitnya Matahari, namun mereka berselisih pendapat dalam waktu fadhilah subuh, ada yang mengatakan waktu ghalas lebih utama, ada yang mengatakan waktu isfar lebih utama, bahkan ada pula yang berpendapat bahwa akhir waktu subuh adalah waktu isfar. 2) Dalam penentuan waktu ghalas, ulama falak berbeda pendapat dalam penentuan ketinggian Matahari, berkisar antara 18o sampai 20o, dengan ini maka wacana terlalu cepatnya waktu subuh 15-23 menit dapat ditolak. Sementara waktu isfar jika ditentukan dalam nilai ketinggian matahari bernilai 6o atau 24 menit sebelum matahari terbit, hal ini diperlukan untuk kehati-hatian (ikhtiyat) karena ada ulama yang berpendapat bahwa akhir waktu subuh adalah waktu isfar.
مستخلص البحث
دأت مشكلة تحديد وقت الفجر المبكر في الظهور عندما كان هناك العديد من الأطراف الذين جادلوا بأن وقت الفجر في إندونيسيا كان ١٥-٢٣ دقيقة سريعًا جدًا. يجادل بعضهم بأن ظروف السماء الآن مختلفة عما كانت عليه من قبل ، بينما يجادل بعضهم بالإشارة إلى الفجر في بلدان أخرى ، بما في ذلك المغرب ومصر حيث يكون الفجر أبطأ بالفعل. كما أجرى علماء الفلك وعلماء الفلك العديد من الدراسات الميدانية فيما يتعلق بظهور فجر الصادق هذا ، على أمل ألا يسبب ذلك اضطرابات في المجتمع. إلى جانب ذلك ، من الضروري أيضًا إجراء دراسة خاصة لآيات القرآن المتعلقة بفجر صادق ، بحيث يمكن إجراء سياق لاحق لآيات القرآن على ظروف المكان والزمان في الوقت الحاضر. من هنا يريد الكاتب أن يتعمق أكثر في مشكلة تحديد وقت الفجر المبكر من حيث تفسير الآية مع صياغة المشكلة: كيف يمكن تفسير المفصرين لمصطلح فجر صادق كعلامة لبداية الفجر؟ فَجر؟ وما هي آراء علماء الفلك والفلك في اصطلاح فجر صادق كعلامة لبداية الفجر؟
للإجابة على السؤال أعلاه ، يستخدم الكاتب الطريقة المعيارية التجريبية التي يتم عرضها من بيانات كتاب التفسير والمدعومة ببيانات من الملاحظات الفلكية للباحثين السابقين. اختار المؤلف سورة البقرة الآية ١٨٧ وهي المرجع لتحليل التفسير.
يستنتج من هذه الورقة أن ١) يتفق جمهور العلماء المفسرين على أن وقت الفجر يبدأ على وقت الغلا وينتهي بزوغ الشمس ، لكنهم يختلفون في وقت الفضيلة عند الفجر ، والبعض يقول أن الوقت. الغلاس أهم ، والبعض يقول إن وقت العصف أهم ، والبعض يرى أن آخر الفجر هو وقت العصفار. ٢) عند تحديد وقت غلاس ، يكون لعلماء الفلك آراء مختلفة في تحديد ارتفاع الشمس ، والتي تتراوح من ١٨ درجة إلى ٢۰ درجة ، وبذلك يمكن رفض الخطاب القائل بأن وقت الفجر سريع جدًا لمدة ١٥-٢٣ دقيقة. وأما وقت العصفار إذا حُدِّد في قيمة ارتفاع الشمس قبل شروق الشمس بستة درجات أو أربع وعشرين دقيقة ، فهذا ضروري للخطية لأن هناك علماء يجادلون في أن آخر الفجر هو وقت عصفار.
ABSTRACT
The problem of determining the dawn, the beginning of ṣubḥ/fajar prayer time raises when there were several parties who argued that the dawn time in Indonesia was 15-23 minutes earlier. Some of them argue that the sky conditions are now different from before, while some of them argue with reference to dawn time in other countries, including Morocco and Egypt in which the dawn is somewhat later. Some astronomers and falak scholars conduct field studies to observe the appearance of the so-called fajar Shâdiq, with the hope that this would not cause confusion in the community.
On the other hand, it is also necessary to conduct a special study of the Quranic verses related to fajar Shâdiq, in a wider agenda to contextualize the verses in such an up-to-date way by considering the present conditions of place and time. Having this on mind, the author wants to examine more deeply about the problem of determining the beginning of dawn in the tafsīrs (interpretation) of some verses through questioning: the ways in which Muslim scholars interpret the idiom fajar Shâdiq being a marker of the beginning of dawn? And specifically the astronomers and scholars of falak?
In doing so, the author uses the normative-empirical method in delving the books of tafsīr and considers supporting data from astronomical observations by previous research. The author chooses Q. 2:187 as the limitation for the analysis of the tafsīrs.
This paper argues that 1) majority of the exegetes agree that the time of fajar begins at the time of ghalas and ends with the rising of the sun. Yet they disagree on the faḍīla time for fajar prayer. Some scholars state that the time of ghalas is more important, while others say that the time of isfar is more important. Some scholars even argue that the end of the dawn is the time of isfar. 2) In determining the time of ghalas, astronomers have different opinions in determining the height of the sun, ranging from 18o to 20o. This rejects the assumption that the dawn time is 15-23 minutes earlier. On the other hand, the height of the sun for isfar is of the altitude of 6o or 24 minutes before sunrise. This data is needed for caution (ikhtiyāṭ) for there are scholars who argue that the end of dawn is the time of isfar
Pelatihan Penggunaan Google Apps untuk Pengajaran bagi Para Guru SMPN 43 Bandar Lampung
SMPN 43 Kota Bandar Lampung tidak luput dari penyelenggaraan pembelajaran secara daring akibat adanya pandemi Covid-19. Program pelatihan optimalisasi Google Apps ini diharapkan dapat mendukung proses belajar mengajar agar bisa berjalan efektif dan optimal. Tujuan pengabdian ini adalah untuk mengenalkan Google Apps (Forms, Docs, Sheets, Slides), Google Meet dan Google Classroom kepada para guru SMPN 43 Kota Bandar Lampung sehingga bisa proses belajar mengajar menjadi lebih optimal. Peserta pelatihan adalah 19 guru SMP Negeri 43 Bandar Lampung dengan berbagai background pendidikan. Pelatihan dilaksanakan secara daring melalui Google Meet. Survei dilakukan kepada peserta untuk mendapatkan kondisi sebelum dan setelah pelatihan. Evaluasi terhadap peserta dilakukan berdasarkan respon peserta terhadap pertanyaan dalam angket sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil menunjukkan bahwa 100% guru merasa terbantu dengan adanya pelatihan ini. Tingkat keberhasilan sebesar 100% terlihat pada pengetahuan guru tentang Google Apps yang meliputi Google Form, Google Meet, Google Classroom, Google Docs, Google Sheet, dan Google Slide bertambah setelah mengikuti pelatihan
PENERAPAN HFSM PADA GAME 3D “PETUALANG QUR’AN”
Game is a game that is very liked by children and adults. In making this game the author applies Islamic learning, namely Adventurers of the Qur'an. In making this game, the author uses the Hirarchical Finite State Machine (HFSM) method. This game is an adventure in a forest, countryside, road and river. When the player is on an adventure, he will find a Qur'an quiz that must be answered and solved. When the player cannot answer and cannot pass the Non Playable Character (NPC), the game will repeat to the initial start. In this game there are four Non Playable Character (NPC), namely Small Parasites, Boats, Vehicles and Pigs. The four Non Playable Character (NPC) can make decisions on what to do with players. The decision making of the four Non Playable Character (NPC) is implemented using the Hirarchical Finite State Machine (HFSM) method using the Unity game engine.Game merupakan permainan yang sangat disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa. Dalam pembuatan game ini penulis menerapkan pembelajaran Islami yaitu Petualang Al-Qur'an. Dalam pembuatan game ini, penulis menggunakan metode Hirarki Finite State Machine (HFSM). Game ini adalah sebuah petualangan di hutan, pedesaan, jalan dan sungai. Saat pemain berpetualang, ia akan menemukan kuis Alquran yang harus dijawab dan dipecahkan. Ketika pemain tidak dapat menjawab dan tidak dapat melewati Non Playable Character (NPC), maka permainan akan diulang ke awal awal. Dalam game ini terdapat empat Non Playable Character (NPC) yaitu Small Parasites, Boats, Vehicles dan Pigs. Keempat Non Playable Character (NPC) dapat membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan dengan pemain
METODE DAKWAH DALAM PEMBINAAN AKHLAK ANAK YATIM PIATU DI PANTI ASUHAN SYARIF HIDAYATULLAH DESA LABUHAN RATU KECAMATAN PASIR SAKTI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
ABSTRAK
Metode dakwah adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk
mengajak atau memanggil dalam kebaikan dalam bentuk lisan, tulian,
tingkah laku yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha
mempengaruhi orang lain baik dilakukan secara individual maupun
secara kelompok supaya timbul dalam dirinya suatu pengertian,
kesadaran, serta pengamalan terhadap ajaran agama sebagai pesan
yang disampaikan kepada anak-anak panti asuhan Syarif hidayatullah
untuk membina akhlak anak, sehingga akhlak anak panti menjadi
lebih baik lagi, karena akhlak menempati posisi penting dalam ajaran
Islam. Oleh karena itu, seorang muslim mempunyai kewajiban untuk
membina akhlak sesuai ajaran islam yang dicontohkan Rasulullah
saw.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
metode dakwah dalam pembinaan akhlak anak yatim, piatu, yatim
piatu dan anak terlantar di panti asuhan Syarif Hidayatullah. Metode
yang digunakan dalam penelittian ini adalah metode lapangan (Field
Research) yang bersifat deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan
data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi
kemudian data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan metode
berfikir induktif.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka penulis
menjelaskan Hasil penelitian ini adalah
1) Metode dakwah yang digunakan di Panti Asuhan Syarif
Hidayatullah, menggunakan lebih dari satu metode dikarenakan tidak
semua metode cocok diterapkan pada anak-anak di panti asuhan
tersebut, jenis metode dakwah yang digunakan dipanti asuhan adalah
metode dakwah Al-Hikmah, Mau’idza hasanah atau nasihat yang baik,
nasihat yang baik ini diberikan oleh pengasuh panti kepada anak asuh
agar pesan yang disampaikan bisa tersalurkan, metode dakwah yang
selanjutnya yaitu al-Mujadalah yaitu metode dengan mengajak diskusi
tanya jawab jadi melatih anak berani mengutarakan pendapat. 2)
Metode dakwah yang digunakan di panti asuhan Syarif Hidayatullah,
berdampak kepada perilaku dan tingkah laku anak yang menjadi lebih
iv
baik yaitu mengerjakan hal yang baik dan meninggalkan hal yang
buruk contohnya melakukan sholat 5 waktu berjamaah di masjid, anak
selalu terbiasa membaca al-Quran. Keberhasilan metode dakwah yang
digunakan di panti asuhan yaitu dari jumlah 28 anak diantaranya 13
anak perempuan dan 15 anak laki-laki, sekitar 17 anak panti asuhan
yang laki-laki maupun perempuan yang mengalami perubahan akhlak
menjadi lebih baik dan sisanya 11 anak yang belum mengalami
perubahan signifikan. Faktor penghambat dan pendukung dalam
pembinaan akhlak di panti asuhan Syarif Hidayatullah, yaitu
pergaulan anak di luar panti merupakan faktor penghambat pembinaan
akhlak, dikarenakan anak asuh yang sedang mencari jati diri
terpengaruh dengan pergaulan. Faktor pendukung pembinaan akhlak
yaitu banyak pengajar/ pengasuh yang selalu memberikan pembinaan
akhlak sesuai dengan ajaran islam.
Kata Kunci : Metode Dakwah, Pembinaan Akhlak, Yatim Piatu,
Panti Asuhan.
v
ABSTRACT
The da'wah method is an activity that aims to invite or call for
goodness in the form of verbal, written, behavior carried out
consciously and planned in an effort to influence other people,
whether carried out individually or in groups so that an
understanding, awareness and practice arises in them. towards
religious teachings as a message conveyed to the children of the
Syarif Hidayatullah orphanage to develop children's morals, so
that the morals of orphaned children become even better,
because morals occupy an important position in Islamic
teachings. Therefore, a Muslim has an obligation to develop
morals according to Islamic teachings as exemplified by the
Prophet Muhammad.
The aim of this research is to find out the da'wah method in
developing the morals of orphans, orphans and neglected
children at the Syarif Hidayatullah orphanage. The method used
in this research is a field method (Field Research) which is
descriptive qualitative in nature. Data collection techniques were
carried out using observation, interviews and documentation,
then the data collected was analyzed using inductive thinking
methods.
Based on the research conducted, the author explains the results
of this research are
1) The da'wah method used at the Syarif Hidayatullah
Orphanage uses more than one method because not all methods
are suitable for application to children in the orphanage. The
type of da'wah method used in the orphanage is the Al-Hikmah,
Mau'idza Hasanah da'wah method. or good advice, this good
advice is given by orphanage caretakers to foster children so that
the message conveyed can be transmitted, the next da'wah
method is al-Mujjadi, which is a method by inviting a question
and answer discussion to train children to dare to express their
vi
opinions. 2) The da'wah method used at the Syarif Hidayatullah
orphanage has an impact on children's behavior and behavior
becoming better, namely doing good things and leaving behind
bad things, for example praying 5 times a day in congregation at
the mosque, children are always used to reading the Koran. The
success of the da'wah method used in the orphanage is that out
of a total of 28 children, 13 girls and 15 boys, around 17
children from the orphanage, both boys and girls, experienced
changes in their morals for the better and the remaining 11
children have not experienced any changes. significant.
Inhibiting and supporting factors in developing morals at the
Syarif Hidayatullah orphanage, namely the interaction of
children outside the orphanage is an inhibiting factor in moral
development, because foster children who are looking for their
identity are influenced by social interactions. The supporting
factor for moral development is that there are many
teachers/caregivers who always provide moral guidance in
accordance with Islamic teachings.
Keywords: Da'wah Method, Moral Development, Orphans,
Orphanages
PKM Revitalisasi Islam Wasatiyah: Moderasi Pemikiran Kader PMII Komisariat Universitas Nurul Jadid
Di tengah maraknya gerakan Islam dengan beragam ideologi, paham dan latar belakang di negara kita belakangan ini, cukup menghawatirkan citra Islam dan keutuhan bangsa. Gerakan tersebut tidak hanya menyentuh basis kultur dan organisasi yang selama ini dianggap ekstreim, radikal dan intoleran, tapi sudah mulai masuk pada basis kultur dan organisasai yang afiliasi ideoginya dikenal toleran dan moderat. Oleh karenanya, PKM ini mencoba melakukan pendampingan pada organisasi pengkaderan tertentu yaitu, Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Nurul Jadid (UNUJA) yang berbasis di pesantren sebagai upaya internaliaisasi pemahaman Islam wasatiyah. PMII yang berbasis di pesantren ini setidaknya menjadi ujung tombak dalam penguatan kader gerakan Islam yang lebih toleran, adil dan berimbang dalam gerakan guna menularkan paham Islam yang ramah, toleran moderat.Moderasi pemikiran keislaman, utamanya pada kalangan muda dan organisasi kader dirasa sangat penting agar Islam yang berkembang di negeri kita lebih ramah, adil dan membawa rahmat untuk semua. Cara pandang dan pemahaman Islam wasatiyah mengajak setiap individu memiliki tanggungjawab terhadap individu lain dengan solidaritas yang terbangun secara organik. Posisi tengah dijadikan Islam wasatiyah sebagai medium untuk menjalankan fungsi Islam melihat dua sisi secara seimbang. Paradigma Islam wasatiyah menyajikan nilai toleransi, humasnis-dialogis, mengutamakan kekuatan persaudaraan, keadilan, menjunjung toleransi antar umat beragama, suku dan golongan guna menghindari perilaku ekstrem yang mengancam keutuhan bangsa. Berangkat dari fenomena di atas, PKM melalui pendampingan moderasi pemikiran keislaman kader PMII Komisariat UNUJA menjadi penting sebagai wahana kaderisasi mahasiswa Islam agar masyarakat terhidar dari berbagai macam konflik atas nama agama. Kata Kunci: Revitalisasi, Islam wasatiyah, Mederasi Islam, PMII Nurul Jadid
Peningkatan Produktifitas Usaha Keripik Singkong Melalui Pendampingan Teknologi di Desa Geneng Kabupaten Jepara
Cassava chips are one of the snacks favored by residents because of their crunchy texture and can be enjoyed in any circumstances while relaxing. However, most cassava chips entrepreneurs still use packaging that is fairly monotonous and old-fashioned so that cassava chips are mostly only enjoyed by the elderly. This was also experienced by the partners chosen by the Geneng Village Community Service Team. The packaging used by partners is still in the form of clear plastic with a piece of paper inside that says "Taqiya Chips". In addition to packaging that is still ancient, marketing can also be said to be still in a limited reach, namely only in shops around the production site. This is what underlies the Geneng Village Community Service Team to serve these partners. The method that the author uses in this research is Community-Based Research where the author involves partners as work partners. The method used in this community service activity is Asset Based Community Development (ABCD) where this method utilizes the assets and potentials around them. The owner of Taqiya Chips has the potential to make a product from his private garden which becomes a chip product that can be sold. The problems faced are packaging that is still monotonous and unattractive, logos that are only in the form of writing, and marketing targets that are still narrow. The KKN team provided an innovation for branding Taqiya Chips. Then carry out packaging updates and create a logo with a new design appearance, then do product marketing that will be branded through Shopee, Instagram and Tokopedia, then the products will start to be distributed
