1,720,967 research outputs found

    PERTUNJUKAN KARYA “GALUIK BALAM”

    Full text link
    ABSTRAK Karya musik ini mengungkapkan balam-balam yang bermakna terjadinya harmonisasi hubungan antar manusia. Mereka saling berdendang dan saling bagaluik kato (bergelut kata) melalui aktivitas berbalas pantun secara bergantian. Karya ini juga berangkat dari fenomena anak balam. Anak balam adalah bentuk ritual yang melibatkan makhluk halus dengan tujuan untuk mengobati orang sakit, yang disebabkan oleh gangguan makhluk gaib. Di dalam ritual pengobatan anak balam, sebagai wujud pemanggilan roh gaib, juga dilakukan dengan menggunakan dendang. Dendang anak balam di dalam ritual tersebut biasanya dibawakan oleh dukun. Berkaitan dengan dua peristiwa dendang, yaitu balam-balam dan anak balam, karya ini ingin memperlihatkan hal-hal yang berkaitan dengan (1) Materi Karya, (2) Konsep Karya, (3) Cara Penggarapan, dan (4) Penyajian Karya. Isi karya seni berhubungan dengan percintaan, kesetiaan, dan pengobatan. Percintaan mengarah pada pesoalan kasih sayang, dalam hal ini adalah percintaan pasangan manusia. Kesetiaan dimaksud adalah usaha manusia dalam mempertahankan keakraban atau kasih sayang yang dilakukan pada bagian sebelumnya. Pengobatan dengan cara anak balam memiliki fungsi yang religius. Karya ini menggunakan pendekatan budaya Minangkabau dan musik modern/kontemporer. Karya musik “Galuik Balam” menunjukkan; (1) Unsur-unsur konsep interpretasi dalam “Galuik Balam” yang terdiri atas konsep musikal interteks, konsep musikal tradisi, konsep musikal modern, konsep non-musikal, dan konsep musikal kolaboratif; (2) metode mewujudkan musik yang terdiri atas menggali hakekat balam-balam dan anak balam, menciptakan dialog musikal berdasarkan pantun balam-balam, memilih instrumen yang pas, membangun musikal berdasarkan suasana magic anak balam, menggabung instrumen tradisi, modern dan non musikal, mencipta unsur dramatik, membangun tiga bagian karya “Galuik Balam”, merangkai tema masing-masing bagian karya, menyeimbangkan warna bunyi, memberi garis merah antara unsur tradisi dan modern, membuat notasi karya “Galuik Balam”, dan menentukan judul setiap karya; dan (3) mewujudkan pertunjukan karya musik. Kata kunci: “Galuik Balam”, dendang, Minangkabau

    Ritual Basirompak Memiliki Unsur Musikal di Nagari Taeh Baruah Kab. Limopuluah Kota Payokumbuah

    Full text link
    AbstractThis paper discusses the rituals that are in use by the people of Nagari village Taeh Baruah Kab. Limo Puluah Payokumbuah City, located in the middle of the middle-island of Sumatera in West Sumatera Province. Payokumbuah has a variety of ritual art and the nature of entertainment, some of the art itself is sampelong, kucapi sijobang, talempong sambilu, talempong batu, talempong gondang oguang, randai, dance and others. Of the many arts that exist in Payokumbuah and in Kab. 50 City, there is a unique activity where its main function is as a magical ritual of witchcraft, the ritual of basirompak. The ritual of basirompak has a uniqueness in which a ritual possesses an artistic element of some ritual sequence itself. The artistic element contained in the ritual itself has a wind instrument, commonly called as saluang sirompak. Saluang sirompak serves as a herd of charms that have a rhythm like a dendang.Keywords : Saluang Sirompak, Culture, Sirompak FunctionAbstrakTulisan ini membahas tentang ritual yang bersifat guna-guna yang di lakukan oleh masyarakat Nagari Taeh Baruah Kab. Limo puluah Kota Payokumbuah, terletak di tengah-tegah pulau Sumatera yaitu di Propinsi Sumatera Barat. Payokumbuah memiliki berbagai kesenian yang bersifat ritual maupun yang sifatnya hiburan rakyat, beberapa dari kesenian itu sendiri yaitu sampelong, kucapi sijobang, talempong sambilu, talempong batu, talempong gondang oguang, randai, tarian dan lainya, dari banyaknya kesenian yang ada di Payokumbuah maupun di Kab. 50 Kota, terdapat sebuah kegiatan yang unik di mana fungsi utamanya adalah sebagai sebuah ritual magis guna-guna, yaitu ritual basirompak. Ritual basirompak memiliki sebuah keunikan dimana sebuah ritual yang memliki unsur seni dari beberapa rangkaian ritual itu sendiri. Unsur kesenian yang terdapat di dalam ritual itu sendiri memiliki sebuah instrumen musik tiup, yang biasa di sebut dengan sebutan saluang sirompak. Saluang sirompak berfungsi sebagai penggiring dari jampi-jampi yang memiliki irama seperti dendang.Kata kunci : Saluang Sirompak, Budaya, Fungsi Sirompa

    Bahoyak : Pengaruh Postmodern di dalam Pertunjukan Saluang Dendang di Minangkabau

    Full text link
    AbstractThis paper aims to discuss how the characteristics of the saluang show succeeded in being influenced by the postmodern that entered the lives of the people in Minangkabau. Bahoyak is a revealing medium used in the development of saluang jokes that have been somewhat influenced by postmodern culture. This is a new way of development in saluang kicking performances when society is easy to accept and there is no sense of burden when faced with postmodern culture. The people of Minangkabau especially fellow rang pagurau have the same hobby in enjoying the show saluang dendang, even though it is influenced by the development of the cultures that exist in Minangkabau society especially in the audience saluang dendang. The musical concept in saluang kicking on Bahoyak is prioritized with the sharpness of the kicker in making a sarcophagus and the development of the instrument in this show that makes the pagurau dragons dissolve in the show saluang dendang even though the show is already far away and experiencing a shift from the show tradisinya.Keywords : Bahoyak, Minangkabau, postmodern, characteristic, saluang dendangAbstrakTulisan ini bertujuan untuk membahas tentang bagaimana ciri khas dalam pertunjukan saluang dipengaruhi oleh postmodern yang masuk dalam kehidupanmasyarakat di Minangkabau. Bahoyak merupakan sebuah media ungkap yang digunakan dalam pengembangan saluang dendang yang telah dipengaruhi oleh budaya postmodern. Hal ini merupakan sebuah cara pengembangan baru dalam pertunjukan saluang dendang ketika masyarakat dengan mudahnya menerima dan tidak ada rasa beban ketika dihadapkan dengan budaya postmodern. Masyarakat Minangkabau  khususnya sesama rang pagurau  mempunyai hobi yang sama dalam menikmati pertunjukan saluang dendang, sekalipun itu dipengaruhi oleh perkembangan budaya-budaya yang terdapat dalam lingkungan masyarakat Minangkabau. Konsep musikal dalam saluang dendang pada Bahoyak diutamakan pada kejelian pendendang dalam membuatkan sebuah pantun sindiran dan perkembangan instrument di dalam pertunjukan ini, sehingga membuat rang pagurau larut di dalam pertunjukan saluang dendang, meskipun pertunjukan tersebut sudah mengalami penggeseran dari pertunjukan tradisinya.Kata kunci : Bahoyak, Minangkabau, postmodern, ciri khas, saluang dendan

    Komposisi Musik Satanggak Duo Rono Sebagai Representasi Kesenian Qasidah Rabano di Ambun Pagi Kabupaten Agam

    Full text link
    Kesenian kasidah rabano adalah kesenian bernuansa religi yang berkembang di Jorong Kuok Tigo Koto Nagari Ambun Pagi Kecamatan Matua Mudiak Kabupaten Agam. Dalam kesenian kasidah rabano terdiri dari radad dan empat lagu yaitu: Nabi Barampeh, Musajik di Madinah, Kanak-kanak Dalam Sarugo dan Fatimah Manangih. Prinsip irama dalam kesenian kasidah rabano bersifat repetitif dengan scale minor diatonic. Pada lagu Musajik di Madinah, memiliki fenomena musikal yaitu terdapat perubahan irama yang bergerak naik dengan teknik malismatik pada frase akhir lagu Musajik di Madinah. Pola ritme rabano dimainkan sedikit energik dalam bentuk pola yang berulang-ulang dan batingkah. Saat ini kesenian kasidah rabano tidak lagi berkembang, hal tersebut menjadi urgensi bagi pengkarya dengan mengembangkan kembali kesenian kasidah rabano dalam bentuk pendekatan tradisi yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terfokus pada teknik permainan acapella dan bagian kedua terfokus pada teknik permainan kontras dengan judul Satanggak Duo Rono, yang berarti penggarapan dua bentuk irama dan pola ritme rabano yang bersumber dari lagu Musajik di Madinah dalam kesenian kasidah rabano yang dihadirkan dalam kemasan seni pertunjukan. Kata Kunci: Satanggak Duo Rono; Kasidah Rabano; Radad; Musajik di Madinah; Musik Tradisi ABSTRACTKasidah rabano art is a religious art that developed in Jorong Kuok Tigo Koto Nagari Ambun Pagi District Matua Mudiak Agam Regency. In the art of kasidah rabano consists of radad and four songs namely: Nabi Barampeh, Musajik Di Madinah, Children In Sarugo and Fatimah Manangih. The rhythmic principle in the art of kasidah rabano is repetitive with diatonic minor scales. In The Medina's Musajik song, there is a musical phenomenon that is a change in rhythm that moves up with malmismatic techniques in the final phrase of the song Musajik Di Madinah. Rabano's rhythmic patterns are played a little energetic in the form of repetitive patterns and batteries. Currently the art of kasidah rabano is no longer developed, it becomes an urgency for the craftsman by redeveloping the art of kasidah rabano in the form of a traditional approach consisting of two parts. The first part focuses on acapella game techniques and the second part focuses on game techniques in contrast to the title Satanggak Duo Rono, which means the use of two forms of rhythm and rabano rhythm patterns sourced from the song Musajik Di Madinah in the art of kasidah rabano presented in the packaging of performing arts. Keywords: Satanggak Duo Rono; Kasidah Rabano; Radad; Musajik In Medina; Traditional Music

    Pacu Itiak Sebagai Sumber Penciptaan Komposisi “SRIPANGGUNG”

    No full text
    Sripanggung adalah sebutan untuk pemeran utama wanita dalam pertunjukan seni. Sebutan ini terinspirasi dari rasa kecintaan si pemilik itiak terhadap itiknya, dan selalu dianggap seperti primadona dalam setiap perlombaan pacu itiak. Karya ini menggunakan pendekatan deduktif dengan dengan prinsip “ekstramusikal”. Metode yang dipakai pada karya ini adalah observasi dan data lapangan yang bertujuan untuk mengetahui apa saja nilai atau suasana yang ada dalam perlombaan pacu itiak. Hasil dari pengamatan pengkarya, dalam perlombaan pacu itiak tersebut terdapat suasana persaingan/kompetisi dan euforia, dan damai. Suasana inilah yang akan diinterpretasikan kembali menjadi sebuah komposisi musik

    GEMA DI WAKTU SUBUH

    Full text link
    ABSTRACTGema di Waktu Subuh (in English, it’s translated into Echo at the Dawn Time) is the work of multimedia music with the method of sound exploration in the form of sound-design composition. This composition consists of manipulative sounds that describe the atmosphere occurring at the time of Subuh prayer in Salayo Tanang Bukit Sileh, Lembang Jaya sub-district, Solok district. This composition includes in illustration music that explores the sounds of nature at dawn such as river sound, cicada’s sound, rooster’s sound, vehicle sound, the sound of people’s reciting verses in Quran, and Shalawat Tahrim as the sign of the entrance of Subuh prayer time. Gema di Waktu Subuh was processed through the application of Digital Audio Workstation (DAW) cubase5 with the assistance of Virtual Sound Technology (VST) namely Waves 9, processed with producing 3d sound. Keywords: Multimedia Music, Manipulation, Exploration, Breaking Dawn Echo.  ABSTRAKGema di Waktu Subuh merupakan karya musik multimedia dengan metode eksplorasi bunyi dalam bentuk penggarapan Sound Design. Karya ini merupakan suara-suara manipulasi yang menggambarkan suasana yang terjadi ketika akan masuknya waktu sholat subuh di daerah Salayo Tanang Bukit Sileh Kecamatan Lembang Jaya Kabupaten Solok .Karya ini termasuk musik ilustrasi mengeksplorasi suara-suara Alam diwaktu  subuh, seperti: bunyi sungai, bunyi jangkrik, bunyi ayam berkokok, bunyi kendaraan, bunyi orang yang membacakan Tilawah ayat suci Al-Qur’an, dan Shalawat Tahrim sebagai penanda masuknya waktu sholat Subuh.Gema di Waktu Subuh diolah melalui sarana pengaplikasian Digital Audio Workstation (DAW) cubase5 dengan bantuan Virtual Sound Technology (VST) yaitu Waves 9, diolah dengan menghasilkansuara 3d sound. Kata kunci: Musik-Multimedia, Manipulasi, Eksplorasi, Gema-Shubuh.

    Khidmat Dabuih Nagari Situjuah Gadang Kecamatan Situjuah Limo Nagari

    Full text link
    Dabuih is a performance art that is Islamic religious in nature where in this art it shows the attraction of the body's immunity from various objects that can injure. As an art form with Islamic nuances, debuih performances are of course related to religious values. These religious values can be identified from several things, including the use of remembrance and recitation of several verses of the Koran. In this work of composition "KHIDMAT" which originates from the art of Dabuih Situjuah, it is divided into three parts. The first part focuses on dikia's vocal work, part two is composed by rabano and part 3 is a combination of vocals and rabano. In the form of a performance of the composition "KHIDMAT" a deep devotion and inspiration becomes a work achievement so that it can be realized

    KOMPOSISI BAKONSI ATE KOWO

    No full text
    Karya komposisi “Bakonsi Ate Kowo” terinspirasi dari fenomena sosial Bakonsi yang merupakan kegiatan gotong royong atau kerja sama dalam membersihkan ladang dan perkebunan di nagari Koto Tuo Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar. Kegiatan ini dilakukan oleh wanita-wanita paruh baya yang beranggotakan lima sampai dengan sepuluh orang. Hingga saat ini bakonsi menjadi mata pencaharian bagi mereka, adapun wanita-wanita paruh baya ini memiliki suka duka dalam menjalani kehidupan. Hal ini yang mendorong para pelaku bakonsi saling berkomunikasi dengan berbalas pantun sambil berdendang pada saat kegiatan membersihkan ladang dan perkebunan. Apapun dendang yang mereka nyanyikan, mereka menyebutnya dengan dendang Ate Kowo dan  pantun-pantun yang mereka lantunkan berisikan tentang parasaian iduik. Berdasarkan dari kegiatan bakonsi ini maka dapatlah suatu prinsip kerja yang hadir dalam kegiatan tersebut

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore