1,720,967 research outputs found

    MENIMBANG CATATAN MEDELLKOOP (1809) TENTANG REGLEMENT VAN DE TANDAK OF RONGGENG INHOLEN TE CHERIBON (SEKOLAH RONGGENG DI KERATON CIREBON)

    No full text
    MENIMBANG CATATAN MEDELLKOOP (1809) TENTANG REGLEMENT VAN DE TANDAK OF RONGGENG INHOLEN TE CHERIBON (SEKOLAH RONGGENG DI KERATON CIREBON)AbstraksiDunia ronggeng dalam masyarakat Sunda memiliki kedudukan dan nilai tersendiri, di samping unik juga penyajiannya memiliki keragaman yang khas.Oleh karena itu, ditemukannya sebuah manu skrip dengan tebal 15 halaman koleksi Museum Arsip Nasional Indonesia di Jakarta, berisi tentang Sekolah Ronggeng di Keraton Cirebon judul “Reglement van de Tandak of Ronggeng Inholen te Chirebon (1809)”, menjadi sangat penting untuk segera dikaji dan diinformasikan kepada masyarakat Jawa Barat padau mumnya, dan kalangan akademisi pada khususnya. Apalagi bila dicermati secara seksama, manuskrip tersebut memiliki kadar informasi yang multi dimensi. Tidak saja tergambarkan aktivitasp endidikannya, yaitu melalu isebuah kurikulum yang khusus, tetapi di dalamnya juga tersirat situasi dan kondisi kehidupan masyarakat Cirebon di masa yang menyertainya.Hal ini juga menarik untuk disimak, karena kehidupan dunia ronggeng di Tatar Sunda yang sudah sedemikian merata di berbagai daerah tersebut, hingga saat ini masih ramai dibicarakan/diwacanakan.Kata kunci :Ronggeng, Sejarah, Sunda, politik

    RUWATAN NGARUMAT LEMBUR MASYARAKAT DESA NGAMPRAH MENUJU PEMAJUAN KEBUDAYAAN BERBASIS SENI PERTUNJUKAN

    Full text link
    Ngamprah merupakan salah satu wilayah kecamatan yang beradadi Kabupaten Bandung Barat, dengan luas 3608.08 Ha. Wilayahkecamatan ini menjadi pusat dari kegiatan Pemerintahan KabupatenBandung Barat, dilintasi beberapa jalur antarkota, di antaranya; jalantol Padalarang dan rel kereta Padalarang. Bahkan di sebelah timurWilayah Kecamatan Ngamprah merupakan kawasan wisata alamLembang.Salah satu daerah yang termasuk ke dalam Kecamatan Ngamprahadalah Desa Ngamprah, dikelilingi oleh pemandangan alam yangindah, termasuk pegunungan dan sawah yang hijau. MasyarakatDesa Ngamprah mayoritas bekerja sebagai petani, pedagang, danburuh tani, sehingga mata pencahariannya banyak bergantung padasektor pertanian. Tanah subur di daerah ini mendukung berbagai jenistanaman seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan tanaman panganlainnya

    NGIGELKEUN LAGU MODEL KREATIVITAS KEPENARIAN DALAM JAIPONGAN

    Full text link
    ABSTRAKRepertoar tari dalam genre tari Jaipongan pada umumnya merupakan bentuk sajian tunggal, kalaupun ada yang disajikan dalam bentuk kelompok (rampak) adalah semata-mata sebagai upaya kreatif dalam mencari bentuk sajian lain sesuai kebutuhan pengembangan estetik dan artistik sekaligus. Bahkan dalam bentuk penyajian tunggal, walaupun tariannya sama seringkali disajikan berbeda oleh setiap penari. Faktor apa saja yang menjadi pembeda dari setiap penari, sehingga menghasilkan kualitas kepenarian yang khas? Untuk mendapatkan jawaban, digunakan suatu model kreativitas kepenarian yang disebut ‘ngigelkeun lagu’.Berdasarkan hasil analisis terhadap struktur koreografi Jaipongan, maka diketahui bahwa setiap penari Jaipongan yang handal (piawai; mahir) dalam menyajikan tarinya menggunakan 5 (lima) teknik yaitu; mungkus, maling, metot, ngantep, dan ngeusian sehingga mampu menciptakan gaya penyajian khas miliknya. Key word: kreativitas, kepenarian, jaipongan, ngigelkeun lagu, mungkus, maling, metot, ngantep, ngeusian.  ABSTRACTThe dance repertoire in Jaipongan genre is generally a single presentation form, if there is presented in the form of a group (rampak), it is solely as a creative effort in searching other forms of presentation in accordance with the needs of aesthetic and artistic development as well. Even in the form of a single presentation, altrhrough the dance is the same, it is often presented differently by each dancer. What factors are to be distinguishing, so as to produce a typical quality of dance? To get the answer, is by using a model of dance creativity called ‘ngigelkeun lagu’.Based on the analysis to the structure of Jaipongan choreography, it is figured out that every reliable (proficient: skillfull) Jaipongan dancer in presenting her dance using 5 (five) techniques namely: mungkus, maling, metot, ngantep, and ngeusian so as to create her own typical presentation style. Keyword: creativity, dance, Jaipongan, ngigelkeun lagu, mungkus, maling, metot, ngantep, ngeusian.

    SIRNANING NISKALARASA REPERTOAR TARI JAIPONGAN DENGAN PENDEKATAN TEKNIK PENYAJIAN PARASIRAMA

    Full text link
    Sirnaning Niskalarasa merupakan karya repertoar tari Jaipongan yang memiliki makna yaitu idealisme, dilandasi oleh ketegasan niat, keteguhan hati, dan kebulataan tekad. Makna tersebut, terkait dengan keberadaan konstruksi tari meliputi; struktur koreorafi, struktur musik tari, dan desain busana tari yang menjadi pilihan dan ketetapan penulis dalam menciptakan setiap repertoar tari Jaipongan. Pada karya tari ini digunakan teknik ‘Parasirama’ meliputi; mungkus, maling, metot (ngabesot), ngantep, dan ngeusian. Oleh sebab itu, permasalahan difokuskan pada bagaimana mewujudkan konsep garap menjadi sebuah bentuk karya tari “Sirnaning Niskalarasa” yang berlandaskan pada penggunaan teknik “Parasirama”?. Untuk mewujudkannya digunakan pendekatan paradigma estetika instrumental yang menjelaskan, bahwa “Semua benda atau peristiswa kesenian mengandung tiga aspek yang mendasar, yaitu; wujud (bentuk; form) dan sususunan (struktur; structure); Bobot terkait dengan suasana (mood), gagasan (idea), dan pesan (message); Penampilan (Penyajian; Performent). Adapun hasil yang dicapai adalah teknik Parasirama dalam membangun bentuk, isi, dan penampilan karya repertoar tari Jaipongan “Sirnaning Niskalarasa” memiliki peranannya yaitu; membangun dinamika irama tari, suasana, pesan, menambah daya pesona baik melalui bentuk maupun isi. Kata Kunci: Sirnaning Niskalarasa, Jaipongan, Teknik Parasirama. ABSTRACT: Sirnaning Niskalarasa Jaipongan Dance Repertoar With The Parasirama Presentation Technical Approach. December 2022. Sirnaning Niskalarasa is a work of the Jaipongan dance repertoire which has the meaning of idealism, based on firmness of intention and determination. These meanings, related to the existence of dance constructions include; the choreograph structure, dance music structure, and dance dress design are the author\u27s choice and determination in creating each Jaipongan dance repertoire. In this dance work the \u27Parasirama\u27 technique is used including; mungkus, maling, metot (ngabesot), ngantep, and ngeusian. Therefore, the problem is focused on how to realize the concept of working into a form of dance work "Sirnaning Niskalarasa" which is based on the use of the "Parasirama" technique?. To achieve this, an instrumental aesthetic paradigm approach is used which explains that “All artistic objects or events contain three basic aspects, namely; form (form) and composition (structure); Weight is related to mood, idea, and message; Appearance (Presentation; Performent). The results achieved are the Parasirama technique in building the form, content, and appearance of the Jaipongan dance repertoire "Sirnaning Niskalarasa" which has a role, namely; building the dynamics of dance rhythms, atmosphere, messages, adding charm to both form and content. Keywords: Sirnaning Niskalarasa, jaipongan, parasirama technique

    Tari Berthema"Munding laya dikusumah"

    No full text
    Tari Berthema"Munding laya dikusumah" Karya: Lalan Ramlan, Yeti Haryadi, Ujian penyajian Tari, Pendapa Surakart

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Jaipongan: Genre Tari Generasi Ketiga dalam Perkembangan Seni Pertunjukan Tari Sunda

    Full text link
    ABSTRAK Seni pertunjukan tari Sunda hingga saat ini telah diisi dengan tiga genre tari yang diciptakan oleh tiga tokoh pembaharu tari Sunda, yaitu Rd. Sambas Wirakusumah yang menciptakan genre tari Keurseus sekitar tahun 1920- an, Rd. Tjetje Somantri yang menciptakan genre tari Kreasi Baru sekitar tahun 1950-an, dan Gugum Gumbira Tirasondjaya yang menciptakan genre tari Jaipongan pada awal tahun 1980-an. Ketiga genre tari tersebut memiliki citra estetiknya sendiri-sendiri sesuai latar budaya generasinya masing-masing. Genre tari Jaipongan yang kini sudah lebih dari 30 tahun belum tergantikan di dalamnya menunjukkan nilai-nilai yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Sunda. Untuk mengekplanasi berbagai aspek penting yang melengkapi pembentukan sebuah genre tari ini digunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa genre tari Jaipongan dibentuk oleh konsep dasar etika dan estetik egaliter dengan menghasilkan struktur koreografi yang simpel dan fl eksibel yang terdiri dari empat ragam gerak, yaitu bukaan, pencugan, nibakeun, dan mincid. Kata kunci: Gugum Gunbira, genre tari, dan Jaipongan   ABSTRACT Jaipongan: The Genre of Third Dancing Generation in the Development of Sundanese Dance Performing Arts. Sundanese dancing performance art recently has been fi lled with three dancing genres created by three prominent reformers of Sundanese dances, namely Rd. Sambas Wirakusumah who created the dance genre of Keurseus around 1920, Rd. Tjetje Somantri who created the dance genre of Kreasi Baru (New Creation) 1950s, and Gugum Gumbira Tirasondjaya who created the dance genre of Jaipongan in the early 1980s. The three genres of the dances have their own aesthetic image based on their cultural background respectively. The Jaipongan dance genre which now has been more than 30 years and not yet been changed shows the values rooted in Sundanese community life. To explain various important aspects which complete the creation of a dance genre it applies qualitative method employing a phenomenological approach. Based on the research, it is concluded that Jaipongan dance genre is shaped by ethical and aesthetic concepts of egalitarian policies to produce a simple structure and fl exible choreography of four modes of motion, i.e. aperture, pencugan, nibakeun, and mincid. Keywords: Gugum Gunbira, dance genres, and jaiponga

    PELATIHAN TARI JAIPONGAN BOJONGAN DI SANGGAR TARI GIRI MAYANG KABUPATEN BANDUNG

    Full text link
    Dinamika perkembangan tari Jaipongan hingga saat ini didominasi oleh tarian putri, sehingga kondisi ini menumbuhkan pemahaman bahwa tari Jaipongan itu adalah tarian putri. Untuk mengembalikan eksistensi penari putra (jalu; Sunda), salah satu upaya yang dipandang tepat adalah melakukan kegiatan pelatihan kepada siswa-siswi di Sanggar Giri Mayang dengan materi tari berpasangan putra dan putri bernuansa pergaulan. Untuk kepentingan tersebut, digunakan metode Participation Action Reseach (PAR) yang di dalamnya menempatkan tiga kata kunci saling berkaitan satu sama lain, yaitu meliputi; partisipasi, riset, dan aksi. Adapun hasil dari kegiatan pelatihan ini adalah terjadinya alih keterampilan materi repertoar tari Jaipongan Bojongan dari pelaksana PKM kepada para siswa-siswi sanggar Giri Mayang, sehingga materi ini menjadi perbendaharaan baru yang selanjutnya dijadikan sebagai materi pelatihan di sanggar Giri Mayang. Dengan demikian terjadi alih generasi, terutama tumbuhkembangnya animo anak laki-laki (pria; putra) untuk mempelajari tari Jaipongan yang bermuara pada kembalinya keberadaan (eksistensi) penari ‘Jalu’. Kata kunci: pelatihan, jaipongan, Bojongan, berpasangan, penari jal
    corecore