1,720,960 research outputs found
Fraksinasi Peptida Ikan Selar (Selaroides leptolesis) serta Aktivitasnya sebagai Antioksidan dan Inhibitor ACE
Ikan selar (Selaroides leptolepis) termasuk salah satu spesies dari keluarga Carangidae. Sebaran ikan jenis ini cukup luas, hampir bisa ditemukan di daerah Pasifik bagian barat, tersebar hampir di seluruh Indonesia, Persia, Philippina, Jepang bagian utara, Arafuru bagian selatan dan Australia. Data Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, menunjukkan produksi ikan selar pada tahun 2010 mencapai 179.94 ton dan pada tahun 2015 mencapai 199.67 ton. Potensi ini harus diimbangi dengan penanganan dan pengolahan produk yang baik. Salah satu proses pengolahan produk perikanan adalah dengan pembuatan hidrolisat protein. Penelitian ini menggunakan ikan selar yang berasal dari pasar ikan Muara Baru Jakarta Utara.
Hidrolisat protein dibuat dengan memotong ikatan peptida menggunakan asam, basa atau enzim. Hidrolisat protein ikan selar dibuat menggunakan enzim protease lokal (500 U per 25 gram daging) koleksi Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan dan dihidrolisis selama 0, 3, 5, 6, 7, 8, dan 9 jam. Hidrolisat protein ikan selar diperoleh dengan cara memisahkan supernatan dan endapan hidrolisat.
Karakterisasi hidrolisat protein ikan selar meliputi derajat hidrolisis, kadar protein, kadar peptida, aktivitas antioksidan dan aktivitas inhibitor ACE. Derajat hidrolisis protein ikan selar tertinggi pada jam ke 6 (63.91%) dengan kadar protein sebesar 27.43 mg/mL, kadar peptida 223.32 mg/mL dan nilai IC50 antioksidan paling kuat (1941 ppm) serta inhibitor ACE paling tinggi (87%). Hasil SDS PAGE hidrolisat jam ke 6 terhidrolisis menjadi 4 fraksi peptida yang diketahui melalui pola peptida yang terbentuk dengan berat molekul masing-masing 60.61 kDa, 42.82 kDa, 28.97 kDa, dan 15.77 kDa.
Hidrolisat selanjutnya difraksinasi bertahap untuk mendapatkan peptida yang memiliki aktivitas antioksidan dan inhibitor ACE. Tahap fraksinasi dilakukan dengan membran ultrafiltrasi >10, 5 dan 3 kDa serta kromatografi gel filtrasi menggunakan Sephadex G-25. Hasil fraksinasi pada tahapan ultrafiltrasi didapatkan empat fraksi (>10 kDa, 10-5 kDa, 5-3 kDa dan <3 kDa). Fraksi 5-3 kDa memiliki aktivitas antioksidan kuat (IC50 1336.96 ppm) dan inhibitor ACE terbaik (97.16%). Hasil kromatografi gel filtrasi menghasilkan dua fraksi dari hasil pengujian memperlihatkan bahwa fraksi B memiliki bioaktifitas lebih baik dari fraksi A, yaitu antioksidan (IC50 529.42 ppm) dan inhibitor ACE (96.61%)
PENGUATAN KAPASITAS UMKM TERHADAP PERIZINAN BERUSAHA, SERTIFIKAT HALAL DAN DIGITALISASI PEMASARAN DI KELURAHAN BUGIS KECAMATAN DUMBO RAYA KOTA GORONTALO
Tantangan yang dihadapi UMKM di Kelurahan Bugis Kecamatan Dumbo Raya Kota Gorontalo, diantaranya keterbatasan pengetahuan tentang perizinan usaha, rendahnya tingkat kepatuhan terhadap sertifikasi halal dan minimnya pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran. Oleh karenanya, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan penguatan kepada Pelaku UMKM yang ada di Kelurahan Bugis Kecamatan Dumbo Raya Kota Gorontalo dengan metode: (1) Bimbingan Teknis Pembuatan NIB; (2) Pelatihan dan pendampingan pembuatan akun siHalal dan (3) Sosialisasi terkait digitalisasi pemasaran produk UMKM. Pelaksanaan kegiatan meliputi sosialisasi terkait digitalisasi pemasaran produk UMKM, dilanjutkan dengan pemaparan materi, pelatihan dan bimbingan teknis yang dilaksanakan secara langsung terkait Pembuatan NIB dan pembuatan akun siHalal. Output kegiatan ini, menumbuhkan kesadaran pelaku usaha UMKM agar memiliki legalitas usaha dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sebagai penguatan kapasitas para pelaku usaha UMKM terkait sertifikasi Halal dan Pemasaran produk secara digital
Pengembangan Produk Bumbu Penyedap Lokal dari Ikan Nike dan Tongkol Asap dengan Teknik Penyangraian Bertahap
Penelitian ini mengkaji pengaruh variasi suhu penyangraian terhadap kandungan protein dan mutu sensorik bumbu penyedap berbasis ikan nike dan ikan tongkol asap. Lima perlakuan suhu (70 °C, 80 °C, 90 °C, 100 °C, dan 110 °C) diterapkan dalam proses penyangraian, kemudian dianalisis menggunakan metode spektrofotometri untuk kadar protein dan uji organoleptik skala hedonik 1–5 oleh panelis semi terlatih. Hasil menunjukkan bahwa kadar protein meningkat seiring naiknya suhu, dengan nilai tertinggi pada suhu 110 °C (65,80%). Namun, perlakuan optimal secara sensorik ditemukan pada suhu 100 °C, dengan skor tertinggi untuk rasa (4,50), aroma (4,55), dan warna (4,45), serta kadar protein sebesar 63,10%. Penurunan skor pada suhu ekstrem diduga akibat perubahan karakteristik sensori akibat pemanasan berlebih. Kesimpulan menunjukkan bahwa suhu 100 °C merupakan kondisi terbaik untuk menghasilkan bumbu penyedap alami yang berkualitas secara gizi dan disukai secara sensorik.Penelitian ini mengkaji pengaruh variasi suhu penyangraian terhadap kandungan protein dan mutu sensorik bumbu penyedap berbasis ikan nike dan ikan tongkol asap. Lima perlakuan suhu (70 °C, 80 °C, 90 °C, 100 °C, dan 110 °C) diterapkan dalam proses penyangraian, kemudian dianalisis menggunakan metode spektrofotometri untuk kadar protein dan uji organoleptik skala hedonik 1–5 oleh panelis semi terlatih. Hasil menunjukkan bahwa kadar protein meningkat seiring naiknya suhu, dengan nilai tertinggi pada suhu 110 °C (65,80%). Namun, perlakuan optimal secara sensorik ditemukan pada suhu 100 °C, dengan skor tertinggi untuk rasa (4,50), aroma (4,55), dan warna (4,45), serta kadar protein sebesar 63,10%. Penurunan skor pada suhu ekstrem diduga akibat perubahan karakteristik sensori akibat pemanasan berlebih. Kesimpulan menunjukkan bahwa suhu 100 °C merupakan kondisi terbaik untuk menghasilkan bumbu penyedap alami yang berkualitas secara gizi dan disukai secara sensorik
Perubahan Kandungan Gizi Ikan Nike Pascapengolahan: Nutritional Content of Post Processing Largesnout Goby Juvenile
Ikan nike (Awaous melanocephalus) adalah salah satu sumber daya perikanan di perairan Sulawesi Tengah. Ikan ini juga memiliki kandungan gizi tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan perubahan karakteristik proksimat dan kandungan protein serta mineral ikan nike pascaproses pengolahan panas, yang meliputi pengukusan, perebusan, dan perebusan dengan air garam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan yang dilakukan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (α<0,05) pada komposisi proksimat, mineral, dan protein terlarut. Berdasarkan perlakuan pengolahan yang diberikan disimpulkan bahwa metode pengukusan merupakan metode pengolahan terpilih dalam penelitian ini.Largesnout goby juvenile/Nike fish (Awaous melanocephalus) is a fishery resource in Central Sulawesi waters containing high nutritional content. The purpose of this study was to determine the changes in the proximate characteristics, protein and mineral content of fish after heat processing, which included steaming, boiling, and boiling with saltwater. The results showed that the processing had a significant effects (α<0.05) on the proximate, mineral, and dissolved protein composition. Based on the processing treatment given, it was concluded that the steaming method was the chosen processing method in this study
Fraksinasi Peptida dari Hidrolisat Protein Ikan Selar (Selaroides leptolepis): Fractination of Peptide from Selar Fish Protein Hydrolysate (Selaroides leptolepis)
Ikan selar (Selaroides leptolepis) merupakan ikan dengan sebaran yang cukup luas dengan produksi yang melimpah serta memiliki kandungan gizi protein yang tinggi. Peptida yang berasal dari hidrolisat protein ikan mempunyai manfaat yang besar untuk pengembangan produk pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan mendapatkan fraksi yang memiliki aktivitas antioksidan dan inhibitor ACE dari hidrolisat protein ikan selar. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan fraksinasi peptida menggunakan kolom kromatografi, lalu dikarakterisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksinasi dengan kolom kromatografi filtrasi gel mendapatkan 2 fraksi, yaitu fraksi A dan B dengan IC50 berturut-turut 4.737,95 ppm dan 529,42 ppm, serta memiliki aktivitas inhibitor ACE sebesar 90,65% dan 96.61%. Peptida fraksi B lebih potensial sebagai antioksidan dan inhibitor ACE.Yellowstripe scad (Selaroides leptolepis) is a fish with a fairly wide distribution with abundant production and has a high protein nutritional content. Peptides derived from fish protein hydrolyzate have great benefits for the development of functional food products. This study aims to obtain the fraction that has antioxidant activity and ACE inhibitor from the protein hydrolyzate of yellowstripe scad. The research was conducted by fractionating the peptides using a chromatography column, then characterizing them. The results showed that the fractionation with gel filtration column obtained 2 fractions, namely fractions A and B with IC50 4,737.95 ppm and 529.42 ppm respectively, and ACE inhibitor activity of 90.65% and 96.61%. Peptide fraction B has more potential as antioxidants and ACE inhibitors
Uji Fisikokimia Masker Peel Off Dari Sediaan Rumput Laut (Sargassum Sp) Dan Gelatin Kulit Ikan Tuna
Peel off mask is one type of face mask that has advantages in its use, which is easy to remove or lift like an elastic membrane, which can be made from Sargassum sp seaweed with the addition of gelatin as a gel formation. This study aims to obtain the best formula for seaweed peel off masks (Sargassum sp) with the addition of tuna skin gelatin which varies as a gelling agent, by testing pH, Viscosity, Drying Preparation Time, and Antioxidant Activity. This research method uses a completely randomized design (CRD) and descriptive. The results of the tests that meet the pH values at P0(7.31), P1(7.06), P2(6.83), P3(6.79), P4(6.54), P5(6.41) have according to SNI 16-4399-1996 with a range of 4.5-8.0, the value of Viscosity P5 (28893 Cps) in accordance with SNI 16-6070-1996 with a range of 2.000-50.000, the results of the long drying time test on the selected product are P4 (28 minutes) and P5 (24 minutes) the results are in accordance with the peel off mask time span, which is 5-30 minutes, and the Antioxidant Activity IC50 is 135.648 µg/ml in the medium category.Masker peel off merupakan salah satu jenis masker wajah yang mempunyai keunggulan dalam penggunaan yaitu mudah dilepas atau diangkat seperti membrane elastis, yang dapat dibuat dari rumput laut Sargassum sp dengan penambahan gelatin sebagai pembentukan gel. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula yang terbaik pada masker peel off rumput laut (Sargassum sp) dengan penambahan gelatin kulit ikan tuna yang berfariasi sebagai pembentuk gel, dengan pengujian pH, Viskositas, Waktu Sediaan Mengering, dan Aktivitas Antioksidan. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan Deskriptif. Hasil dari pengujian yang memenuhi nilai pH pada P0(7,31), P1(7,06), P2(6,83), P3(6,79), P4(6,54), P5(6,41) sudah sesuai dengan SNI 16-4399-1996 dengan rentang 4,5-8,0, nilai Viskositas P5(28893 Cps) sesuai dengan SNI 16-6070-1996 dengan rentang 2.000-50.000, hasil uji waktu lama mengering pada produk terpilih yaitu P4(28 menit) dan P5(24 menit) hasil tersebut telah sesuai dengan rentang waktu masker peel off yaitu 5-30 menit, dan Aktivitas Antioksidan IC50 135,648  dengan kategori sedang.Â
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
