1,720,962 research outputs found
HUBUNGAN ANTARA PERSAHABATAN DENGAN ATTACHMENT AYAH DAN IBU
Menjalin persahabatan merupakan kemampuan level tinggi dalam relasi sosial. Dalam persahabatan, individu lebih mendekat, membuka diri, berbagi, memahami adanya perbedaan dan saling menerima. Kemampuan menjalin persahabatan terbentuk dari hubungan antara orang tua – anak. Attachment atau kelekatan antara orang tua-anak menjadi dasar dari pembentukan kepribadian seseorang, termasuk menjalin persahabatan.Penelitian ini bertujuan untuk mengukur hubungan antara persahabatan dengan attachment ayah dan attachment ibu. Sebagai variabel bergantung adalah persahabatan, sedangkan variabel bebas yaitu attachment ayah dan attachment ibu. Pengukuran ketiga variabel dengan menggunakan skala Likert. Subyek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Lampung. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik incidental sampling. Sebanyak 60 mahasiswa yang menjadi sampel penelitian. Analisa data dilakukan dengan uji deskriptif dan uji inferensial yaitu regresi berganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa Fakultas Psikologi UM Lampung memiliki kemampuan menjalin persahabatan yang baik, attachment dengan ibu dan ayah yang nyaman. Attachment dengan ibu lebih tinggi dibandingkan dengan ayah. Ibu sebagai figur kelekatan yang utama, memilki hubungan yang lebih erat dan nyaman bersama subyek dibandingkan hubungan ayah dengan subyek.Pengujian ketiga hipotesis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara persahabatan dengan attachment ibu, persahabatan dengan attachment ayah serta persahabatan dengan attachment ayah dan ibu secara bersama-sama
Self-Compassion, Grit dan Adiksi Internet pada Generasi Z
Pemakaian internet tidak lagi menjadi suatu komoditas yang langka. Sebaliknya, yang tidak menggunakan internet akan jauh tertinggal dan tidak akan mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Disisi lain, penggunaan internet secara berlebihan akan menimbulkan masalah yang lebih besar seperti kecanduan. Generasi yang paling terdampak perkembangan teknologi informasi yang pesat adalah generasi Z. Generasi Z lahir tahun 1995-2009 sehingga masuk ke dalam kategori remaja awal sampai dengan akhir di tahun 2020. Adiksi terhadap internet dapat memberikan dampak negatif berupa masalah psikologis maupun sosial pada diri remaja. Contoh masalah tersebut antara lain rasa kesepian, depresi hingga penurunan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh self-compassion dan grit terhadap adiksi internet pada generasi Z. Metode penelitian kuantitatif dengan skala jenis likert akan digunakan. Subjek penelitian melibatkan 318 individu yang termasuk dalam usia generasi Z dengan teknik purposive sampling. Hasil akhir menunjukan bahwa self-compassion dan grit berpengaruh secara signifikan (p<0.01) terhadap adiksi internet generasi Z sebesar 20.8%. Secara terpisah, grit berpengaruh terhadap adiksi internet sebesar 17% sedangkan self-compassion berpengaruh terhadap adiksi internet sebesar 18%. Penjelasan mengenai dinamika hubungan diantara ketiga variabel dijelaskan dalam pembahasan
Self-Compassion, Grit dan Adiksi Internet pada Generasi Z
Pemakaian internet tidak lagi menjadi suatu komoditas yang langka. Sebaliknya, yang tidak menggunakan internet akan jauh tertinggal dan tidak akan mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Disisi lain, penggunaan internet secara berlebihan akan menimbulkan masalah yang lebih besar seperti kecanduan. Generasi yang paling terdampak perkembangan teknologi informasi yang pesat adalah generasi Z. Generasi Z lahir tahun 1995-2009 sehingga masuk ke dalam kategori remaja awal sampai dengan akhir di tahun 2020. Adiksi terhadap internet dapat memberikan dampak negatif berupa masalah psikologis maupun sosial pada diri remaja. Contoh masalah tersebut antara lain rasa kesepian, depresi hingga penurunan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh self-compassion dan grit terhadap adiksi internet pada generasi Z. Metode penelitian kuantitatif dengan skala jenis likert akan digunakan. Subjek penelitian melibatkan 318 individu yang termasuk dalam usia generasi Z dengan teknik purposive sampling. Hasil akhir menunjukan bahwa self-compassion dan grit berpengaruh secara signifikan (p<0.01) terhadap adiksi internet generasi Z sebesar 20.8%. Secara terpisah, grit berpengaruh terhadap adiksi internet sebesar 17% sedangkan self-compassion berpengaruh terhadap adiksi internet sebesar 18%. Penjelasan mengenai dinamika hubungan diantara ketiga variabel dijelaskan dalam pembahasan
Resiliensi pada Anak Remaja dari Keluarga Broken Home: Resilience in Adolescents from Broken Home Families
Broken home occurs because the family structure is not intact, because the parents are divorced and the family is not harmonious. This research aims to determine the resilience process in broken home teenagers in Tanjung Senang District Bandar Lampung City. The method used in this research is a qualitative research method. The research results show the teenagers who experience broken homes can develop resilience skills with support from relatives and their mother’s family. Able to get through the critical period of 8 to 1 year in his own way, namely, doing lots of positive activities outside the home. Accept the situation, focus on achieving your dreams and making your mother happy. Take lessons from family problems and use the learning as provisions for future life
KEMAMPUAN KOMUNIKASI SOSIAL ANAK AUTIS
Autis merupakan permasalahan perkembangan yang banyak diperbincangkan karena gangguan yang dialami memberikan dampak yang kompleks, serta semakin meningkatnya angka penyandang autis. Pemahaman mengenai penyebab, kompleksitas gangguan serta dampak terhadap perkembangan menjadi kebutuhan untuk dijadikan landasan dalam membuat program intervensi bagi penyandang autis. Salah satu ciri autis adalah gangguan komunikasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai kemampuan komunikasi sosial. Aspek yang diukur adalah perilaku verbal, non-verbal serta upaya untuk menjalin komunikasi dan interaksi dengan lingkungan. Subyek penelitian adalah tiga anak autis yang sedang menjalani terapi di Biro Psikologi Harmoni. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi terhadap anak autis serta wawancara dengan terapis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua subyek yang mengalami gangguan komunikasi sosial level sedang. Kemampuan bahasa ekspresifnya sudah ada, meski masih sebatas memberikan respon, adanya perilaku non-verbal yang bertujuan untuk menjalin komunikasi secara timbal balik dalam tingkat yang sederhana. Anak masih kesulitan bila berkomunikasi dengan lingkungan yang lebih kompleks. Satu subyek mengalami gangguan level berat, yang ditandai dengan belum adanya bahasa ekspresif, respon yang sangat jarang muncul serta tidak adekuat, tidak adanya upaya untuk berkomunikasi secara non-verbal
Dinamika Psikologis pada Pelaku Pembunuhan Berencana (Study Kasus pada Pelaku Pembunuhan)
This research aims to investigate and understand the psychological dynamics of perpetrators of premeditated murder, with a focus on a case study detailing the incident on 18 May 2020. This case involves a suspect, who traveled from Pandeglang Regency, Banten, to Lampung Province to celebrate Eid. This tragic event raises questions about the psychological factors that may have contributed to the perpetrator's decision to plan and carry out such violent acts. This research aims to identify and analyze the psychological factors involved in premeditated murder cases, provide further understanding of the perpetrator's motivation, and explore the impact on the victim and the surrounding environment. This research uses a descriptive qualitative approach with case study analysis. Data was collected through interviews with related parties, document analysis, and chronological reconstruction of events based on witness statements. In-depth analysis reveals that the psychological dynamics of perpetrators of premeditated murder involve factors of interpersonal conflict, trauma experiences, and lack of social support. Conflicts with family members, especially wives, as well as traumatic experiences related to the COVID-19 pandemic and social rejection, form the perpetrator's psychological background. The results of this research provide insight into the complexity of factors that influence perpetrator decisions and their impact on victims and the surrounding community
KECEMASAN PADA WANITA YANG TELAT MENIKAH DALAM PERSPEKTIF PERSON CENTERED THERAPY
ANXIETY AMONG LATE MARRIED WOMEN IN PERSON CENTERED THERAPY PERSPECTIVEThis study aim to find data about anxiety among late married women. Discussion about this problem will be based on Person Centered Therapy form Carl R Rogers. The method used in this study was a qualitative method with case study approach. The subject of this study was three unmarried women, 28-30 years old, live in Bandar Lampung. Data obtained by interview and observation. To improve data credibility, interviews were also conducted on the third parties pf each subject. The result of this study shows that anxiety found in women who get married late is varied from low, mideum, and high. As adult women who already have self-concept, the subjects choose and realize a number of experiences that are in accordance with themselves. If it does not match, it will be ignored or changed. The self finally forms the ideal self and self concept. Self-confidence and independence help the subject to accept the reality of the problem. Unconsciousness of experiences that are seen, heard and felt, can reduce anxiety in one side, but increased anxiety on the other side, because it is contrary to the reality. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai kecemasan yang dialami oleh wanita yang telat menikah. Pembahasan masalah ini akan dilandasi pendekatan teori Person Centered Therapy dari Carl R. Rogers. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subyek penelitian adalah tiga orang wanita yang belum menikah, berusia 28-30 tahun yang tinggal di Bandarlampung. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan observasi. Untuk lebih memperkuat kredibilitas data, maka dilakukan wawancara terhadap pihak ketiga dari masing-masing subyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan karena telat menikah pada para subyek bervariasi dari level rendah, sedang dan tinggi. Sebagai wanita dewasa yang telah memiliki konsep diri, para subyek memilih dan menyadari sejumlah pengalamannya yang sesuai dengan diri. Bila tak sesuai maka akan diabaikan atau diubah. Diri akhirnya membentuk konsep diri dan diri ideal. Kepercayaan diri dan kemandirian membantu subyek untuk dapat menerima kenyataan mengenai permasalahannya. Ketidaksadaran terhadap pengalaman yang dilihat, didengar dan dirasai, satu sisi dapat meredam kecemasan namun di sisi lain mendorong meningkatnya kecemasan karena bertentangan dengan realita yang ada
PENGARUH PEMBERIAN INFORMASI MELALUI BROSUR DAN CERAMAH TERHADAP MINAT DONOR DARAH PEMULA DI SEKOLAH
THE EFFECT OF GIVING INFORMATION THROUGH BROCHURE AND LECTURES TO BEGINNER BLOOD DONORS’ INTEREST IN SCHOOL.Introduction: In order to improve interest in blood donors, one step that can be taken is by giving information and education to change community understanding and behavior about blood donors.Purpose: This study aims to determine the effect of giving information through brochures and lectures on the interest of beginner blood donors in schools.Methods: The subjects of this study were 70 students from two classes of XI in Computer Engineering Network of Natar Budi Karya Vocational School. Interest scale was used as data collection methods and data was analyzed using the Wilcoxon test.Results: The result obtained shows there is an effect of giving information either through brochures or lectures on the interest of beginner blood donors in schools. There are differences in interest among beginner blood donors between groups given information through brochures and lectures in schoolsConclusion: Brochure found to be more effective than lectures as a media for socialization. It’s better for Lampung province UTD PMI officer to give socialization, doing a seminar, and spreading brochure about blood donors in schools so that beginner blood donors interest can be improved Pendahuluan: Untuk menumbuhkan minat donor darah, salah satu langkah yang dapat diambil adalah pemberian informasi dan edukasi dengan tujuan merubah pemahaman dan perilaku masyarakat terhadap donor darah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian informasi melalui brosur dan ceramah tentang minat donor darah pemula di sekolah.Metode: Subjek penelitian ini adalah 70 siswa dari dua kelas XI di Jaringan Teknik Komputer Sekolah Kejuruan Natar Budi Karya. Metode pengumpulan data menggunakan skala minat dan analisis data menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Hasil yang didapat menunjukkan adanya pengaruh pemberian informasi baik melalui brosur maupun melalui ceramah terhadap minat donor darah pemula di sekolah. Lebih lanjut, juga ditemukan adanya perbedaan minat donor darah pemula antara kelompok yang diberi informasi melalui brosur dan ceramah di sekolah.Simpulan: Brosur ditemukan lebih efektif daripada metode ceramah sebagai media sosialisasi. Kepada petugas UTD PMI Provinsi Lampung sebaiknya lebih banyak memberikan sosialisasi, mengadakan seminar dan penyebaran brosur di sekolah-sekolah yang bertujuan meningkatkan minat donor darah pemula di sekolah
- …
