1,720,964 research outputs found
TINJAUAN DESAIN INTERIOR KORIDOR HALL MALL BOEMI KEDATON DI LAMPUNG
The interior design objects are manifestation of sign interactions as a communication system between designers who send their messages in interior architect and the observers or common people who interpret or perceive the interior architect by their own cultural background and interpretation. The focus of this research is to reveal interior elements implementation on the interior design of food court and department store at Boemi Kedaton Mall in Lampung. This observation explored all of interior signs through signs analysis and interior elements classification. Finally, the interpretation of those signs is needed to gain a corresponding interpretation, which can be regarded as an alternative of design concept that gives a new meaning to their observers.Keywords: Semiotics, Interior Architecture, Sign Analysis of Interior Architecture, Sign Meaning of Boemi Kedaton Mall Interior________________________________________________________________Objek rancangan interior merupakan manifestasi dari interaksi tanda-tanda sebagai sistem komunikasi antara desainer yang membuat pesan dalam rancangan interior bangunan dan pengamat/ masyarakat awam untuk menginterpretasi atau mempersepsikannya sesuai dengan latar belakang budaya dan tingkat pemahamannya. Fokus dari penelitian ini bertujuan untuk mengungkap penerapan elemen interior sebagai tanda pada rancangan interior food court dan department store di Mall Boemi Kedaton Lampung melalui analisa tanda dan klasifikasi elemen rancangan interiornya. Interpretasi terhadap makna tanda diperlukan untuk memperoleh sebuah kesepakatan penafsiran, sebagai sebuah usulan untuk memperoleh konsep desain yang memberikan makna baru bagi pengamatnya.Kata Kunci: Semiotika Arsitektural Interior, Analisa Tanda Arsitektural Interior, Makna Tanda pada Rancangan Interior Mall Boemi Kedato
Tinjauan Pembentukan Kawasan Heritage Budaya Kampung Glam di Singapura dengan Pendekatan Analisis Morfologi dan Tipologi Bangunan
Singapura merupakan salah satu negara yang memiliki banyak kawasan heritage multikultural, melalui eksistensi situs kawasan-kawasan cagar budaya China, Melayu, India serta beberapa etnik lain yang juga menetap di sana. Upaya pembentukkan kawasan ini dapat dieksplorasi melalui kajian morfologi kawasan dan tipologi bangunan untuk mengungkap nilai-nilai budaya dan perilaku masyarakat pada awal pembentukkan kawasan hingga dapat terus eksis  saat ini. Kampong Glam merupakan salah satu kawasan heritage kebudayaan yang merupakan sebuah bukti eksistensi kebudayaan Melayu dan Arab yang telah menjadi bagian dari keragaman budaya yang ada di negara ini. Oleh karena itu, penelitian ini dibuat untuk memahami upaya pelestarian kebudayaan lokal di Singapura dengan  mengungkap temuan-temuan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pola pembentukkan kawasan serta klasifikasi elemen arsitektural dengan pendekatan metode morfologi dan tipologi bangunannya. Kata Kunci : Kawasan Heritage Budaya, Morfologi dan Tipologi, Kampong Glam Abstract Singapore is a country that has a lot of areas of multicultural heritage, through the existence of sites of cultural heritage areas of China, Indonesia, India and some other ethnic groups are also settled there. Efforts to form the region can be explored through the study of the morphology of the area and typology of the building to reveal the cultural values ​​and behavior of people in the early formation of the region to be able to continue to exist today. Kampong Glam is one of ​​cultural heritage area, which is a proof of the existence of the Malay and Arab culture that has become part of the diversity of cultures that exist in this country. Therefore, this study was made to understand local cultural preservation efforts in Singapore to unveil the findings of the factors that influence the formation of the pattern of the region as well as the classification of architectural elements with the approach of morphological method and typology of the building. Keywords: Cultural Heritage Region, Morphology and Typology, Kampong Gla
Makna Motif Batik Kawung Sebagai Ide Dalam Perancangan Interior
Batik merupakan salah satu mahakarya Indonesia dan keberadaan batik telah diakui oleh seluruh dunia. Batik juga memiliki banyak corak dan makna didalamnya dan motif Kawung akan menjadi fokus pada artikel ini. Motif batik ini bentuknya berupa bulatan mirip buah kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai aren atau kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. Kadang, motif ini juga ditafsirkan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan empat lembar mahkota bunga yang merekah dengan makna yang terkandung didalamnya menjadikan motif ini sebagai inspirasi untuk diterapkan dalam perancangan interior. Penelitian ini memiliki kontribusi dalam memberikan ide dalam penerapan berbagai makna motif Kawung ke dalam elemen ruang, selain itu memberikan pandangan bahwa batik bukan saja memiliki unsur dekoratif, namun juga memiliki berbagai makna didalamnya. Kata Kunci : Batik Kawung, Makna, Perancangan Interio
Kajian Desain Sosial: Inspirasi Rumah Panggung Tradisional Bagi Solusi Modern Nusantara
Rumah atau hunian modern di Indonesia lambat laun dinilai tidak lagi sesuai dengan aspek sosial yang dimiliki masyarakat Indonesia, bahkan mulai memunculkan konflik ketidak-kontekstualan dengan fenomena sekarang. Hubungan harmonis sosial mulai sulit terbentuk pada masyarakat urban dibandingkan dengan pemukiman di pedesaan. Desain rumah modern tidak mampu mengakomodasi berbagai fungsi hunian masa kini seperti yang terjadi pada pemukiman padat penduduk atau bahkan pada perumahan ekslusif. Konflik kebudayan muncul sebagai dampak pembangunan modern yang didesain tanpa dasar ideologi masyarakat Nusantara tetapi bergeser kepada jebakan kapatialisme Barat. Paradigm shift ini berlangsung menggerus tatanan hunian hingga sub-urban dan pedesaan. Masa depan lingkungan yang dikawatirkan penggerak desain berkelanjutan semakin kritis akan terjadi di sini. Hal ini tidak dapat diabaikan oleh para perancang, sehingga sampailah pada saatnya untuk mengambil perannya yang penting, yakni sebagai ”žagen perubahan.”Ÿ Dipandang perlu untuk mencari kembali model rumah modern yang cocok dengan karakter sosial masyarakat Indonesia. Penelitian ini mencoba memberikan pilihan lain dari penggalian potensi vernakular rumah tradisional Nusantara yang diyakini sebagai akar budaya kita yang suitable.Rumah tradisional Nusantara biasanya berupa panggung dengan beragam fungsi. Keberadaaannya terbukti mampu beradaptasi dengan baik terhadap kondisi: cuaca, alam, tatanan sosial, dll. Sifat adaptif ini adalah potensi yang dapat diadop ke dalam bentuk rumah modern di Indonesia. Model bentuk panggung rumah modern diasumsikan dapat mengatasi masalah teknis dan non-teknis fungsi hunian masa kini. Secara teknis dapat menyelesaikan masalah fasilitas denngan menempatkan area publik dan servis di lantai bawah - digunakan untuk garasi, dapur, dan ruang tamu - sedangkan fasilitas hunian yang bersifat privat ditempatkan di lantai atasnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian analisis komparasi antara data penelusuran rumah tradisional dari berbagai referensi dengan karya arsitektur modern yang berbentuk panggung sehingga didapatkan penajaman dan pembuktian bahwa model rumah panggung dapat menjadi pilihan solusi masalah hunian masa kini. Bahkan model ini dapat menjadi salah satu rumah yang ramah lingkungan
Model penerapan elemen Siger pada fasade dan lingkungan arsitektural di Bandar Lampung
The Indonesian architectural city growth and development are strongly influenced by their heterogenity of sociocultural lives. each region produces various cultural artifacts that traditionally accommodate cultural concepts and noble values in every social activity and environmental arrangement around it. . This existence makes all provinces and regions of Indonesia have a distinctive building typology as a regional symbol that will be found at the region. The Bandar Lampung City Government has a special policy in managing city architecture by applying its cultural artifacts to every architectural environment and fostering it as a concept of regional cultural signs and symbols. Siger is one of the various regional sign concepts that emerge as an architectural sign on public buildings and their built environment in Bandar Lampung City. The implementation this concept is done with a variety of shapes and sizes that greatly affect the architectural form of the building. This inequality needs to be systematically facilitated through the search of scientific design and architecture to produce an ideal application model. This research was conducted using qualitative ethnographic research methods with analysis based on participant descriptive and argumentative observation. The study aims to identify siger as a sign of culture and reveal the relationship of application to the facade of public building architecture, through the classification of buildings. Furthermore, the design concept and the application model of Siger will be used as a proposal for the city government in managing the order of the architecture facade of public buildings and their environment in a sustainable manner. Key words: architecture of Bandar Lampung City, Siger, model of architectural facade managemen
MOTIF HIAS TRADISIONAL SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI BUDAYA DALAM INTERIOR HOSPITALITY: STUDI KASUS RESTORAN HOTEL BLUE SKY BALIKPAPAN
Artikel ini mengkaji perancang interior restoran di Hotel Blue Sky Balikpapan melalui pendekatan design thinking, desain dengan fokus pada integrasi motif hias tradisional Jawa sebagai identitas visual utama. Latar belakang penelitian berangkat dari kebutuhan klien untuk menciptakan ruang yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga mampu mewakili kekayaan budaya Indonesia secara elegan dan relevan dengan konteks lokal. Dalam lanskap hotel multikultural di kawasan perkotaan seperti Balikpapan, muncul tantangan konseptualisasi: bagaimana mengintegrasikan simbolisme budaya ke dalam desain interior restoran tanpa mengorbankan kenyamanan, efisiensi, dan fungsi ruang. Artikel ini menanggapi tantangan tersebut dengan merancang strategi desain yang memadukan nilai estetika, filosofi budaya Jawa, dan karakter lokal Balikpapan, sehingga tercipta harmoni antara identitas visual dan pengalaman pengguna. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan motif hias Jawa tidak hanya memperkuat fungsi restoran sebagai ruang pertemuan lintas budaya, tetapi juga sejalan dengan visi hotel “Be Right” dalam menghadirkan pengalaman menginap yang berkesan. Proses desain melibatkan tahapan observasi kontekstual untuk memahami perilaku pengguna, formulasi naratif untuk membangun cerita ruang, eksplorasi estetika untuk mengolah elemen visual, serta simulasi atmosfer untuk menguji kualitas pengalaman. Kontribusi penelitian ini tidak berhenti pada penyajian layout, sketsa visual, dan prototipe interior, tetapi juga memperkaya wacana akademik tentang komunikasi visual dan konstruksi identitas budaya dalam ruang publik. Oleh karena itu, artikel ini menjadi rujukan penting bagi praktik desain berbasis budaya yang berfokus pada petualangan nilai lokal di tengah dinamika global
Tinjauan Konsep Smart Hospital pada Interior Lobby Rumah Sakit Jantung Paramarta Bandung
Transformasi digital telah menjadi aspek penting dalam fasilitas kesehatan modern, dengan pemerintah secara aktif mendorong para pemangku kepentingan untuk mempercepat digitalisasi di sektor kesehatan. Perkembangan ini membuka peluang baru bagi desain interior rumah sakit untuk mengintegrasikan teknologi secara harmonis ke dalam elemen ruang, sehingga meningkatkan fungsi dan pengalaman pasien. Salah satu rumah sakit yang telah menerapkan pendekatan ini adalah Rumah Sakit Jantung Paramarta (RSJP) Bandung, yang mengusung konsep desain interior berbasis “smart hospital”. Konsep ini menggabungkan teknologi canggih dengan elemen kesejahteraan guna menciptakan lingkungan yang mendukung kenyamanan pasien serta efisiensi operasional rumah sakit. Di antara berbagai ruang dalam rumah sakit, lobby memegang peran penting sebagai pintu masuk utama yang mencerminkan komitmen institusi terhadap pelayanan kesehatan berkualitas tinggi. Sebagai ruang pertama yang ditemui oleh pasien dan pengunjung, lobby menjadi media komunikasi visual yang menampilkan standar layanan, inovasi teknologi, dan pendekatan perawatan yang berpusat pada pasien. Penelitian ini menggunakan metode observasi, dengan pengumpulan data melalui survei lapangan serta kajian literatur terkait. Analisis penelitian ini mengevaluasi tingkat keberhasilan lobby RSJP Bandung dalam menerapkan konsep desain smart hospital. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi dalam optimalisasi desain interior lobby rumah sakit, sehingga di masa depan dapat memperkuat identitas visual, pengalaman ruang, serta mengadopsi inovasi teknologi guna mendefinisikan ulang lingkungan pelayanan kesehatan modern
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Kajian Elemen-Elemen Pendukung Interior CIP Lounge Pada Terminal A Bandara Adisutjipto Yogyakarta
Terminal A Bandara Adisutjipto Yogyakarta kembali dioperasikan. Walaupun menurut data BRS Provinsi D.I.Yogyakarta mengalami penurunan jumlah penumpang pada bulan April 2022 sebesar 47,65 persen, tetapi terdapat tren pertumbuhan jumlah penumpang dan pesawat udara di bandara ini. Tingginya kembali lalu lintas penerbangan membuat Bandara Adisutjipto Yogyakarta harus mengoptimalisasikan layanan kepada pengguna jasa bandara dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat dan optimalisasi fasilitas ruang tunggu Bandara seperti CIP Lounge Concordia. Ruang tunggu khusus dibawah naungan PT Angkasa Pura Hotel ini merupakan fasilitas untuk tamu VIP yang akan melakukan perjalanan udara, sehingga perlu perhatian mengenai kondisi interiornya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi langsung ke Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Kajian ini menunjukan perlunya pembaharuan pada interior CIP Lounge Concordia dengan mempertahankan unsur budaya yang dapat merepresentasikan karakteristik D.I.Yogyakarta kepada para pengunjung bandara. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi perkembangan ilmu desain dan sebagai salah satu referensi bagi professional desainer dan pengembang dalam merancang CIP Lounge di Bandara
- …
