17 research outputs found

    Pengaruh Sosialisasi, Sanksi, dan Kepercayaan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak dalam Membayar Pajak Pph Pasal 21

    No full text
    A B S T R A C T This study aims to determine the effect of Socialization Taxes, Penalties Tax, and Trust Officers Against Taxes on Individual Taxpayer Compliance in Tax Paying Income Tax Article 21 (Empirical Study KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama). Data were obtained from the questionnaire (primary). analysis of the data model used in this research is multiple regression analysis. Sampling was done by accidental sampling method (Convenience Sampling). Based on the results of data analysis using SPSS 23 shows that the t-test results prove the hypothesis that socialization tax and penalties tax have no effect, while the effect on the confidence of taxpayer compliance in paying taxes Income Tax Article 21 on KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama. F-test results prove the hypothesis that socialization tax, penalties tax, and the trust officers against taxes has a positive influence on tax compliance in paying taxes Income Tax Article 21 on KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama. A B S T R A K Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Sosialisasi Pajak, Sanksi Pajak, dan Kepercayaan terhadap Aparat Pajak dalam Kepatuhan Individu Wajib Pajak Membayar Pajak PPh pasal 21 (Studi Empiris KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama). Data penelitian diperoleh dari kuesioner (primer). analisis model data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling (Convenience Sampling). Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan SPSS 23 menunjukkan bahwa hasil hipotesis t-test membuktikan bahwa sosialisasi pajak dan sanksi pajak tidak berpengaruh, sedangkan kepercayaan terhadap aparat pajak berpengaruh pada kepatuhan dari wajib pajak dalam membayar pajak PPh pasal 21 di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama. Hasil hipotesis f-test membuktikan bahwa sosialisasi pajak, sanksi pajak, dan kepercayaan terhadap aparat pajak memiliki pengaruh positif pada kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak PPh pasal 21 di KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama. JEL Classification: H26, H8

    Reduksi Miskonsepsi Mahasiswa pada Prinsip Kerja Kapasitor melalui Penerapan Simulasi PhET

    No full text
    This study aims to reduce the number of students who have misconceptions about the working principle of capacitors. PhET simulations are used in lectures to overcome these misconceptions. Diagnostic test results using the Four-Tier Test show that an average of 41.3% of students experience misconceptions about each of the concepts tested. However, after the PhET simulation-assisted lectures were held, the average number of students who had misconceptions decreased to 6.9%. The McNemar test shows that there is a significant change in the number of students who have misconceptions about each concept after attending the PhET simulation-assisted lectures. Thus, these results indicate that the application of PhET simulations in lectures is effective in reducing student misconceptions about the working principle of capacitors. Keywords: Misconceptions, PhET, Capacitors, Four-Tier Test, Virtual Laboratory.  Penelitian ini bertujuan untuk mereduksi jumlah mahasiswa yang memiliki miskosnsepsi pada prinsip kerja kapasitor. Simulasi PhET digunakan pada perkuliahan untuk mengatasi miskonsepsi tersebut. Hasil tes diagnostik menggunakan Four-Tier Test menunjukkan bahwa rata-rata 41,3% mahasiswa mengalami miskonsepsi pada setiap konsep yang diujikan. Namun, setelah dilaksanakan perkuliahan berbantuan simulasi PhET, rata-rata jumlah mahasiswa yang memiliki miskonsepsi mengalami penurunan menjadi 6,9 %. Uji McNemar menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan dalam jumlah mahasiswa yang memiliki miskonsepsi pada setiap konsep setelah mengikuti perkuliahan berbantuan simulasi PhET. Dengan demikian, hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan simulasi PhET pada perkuliahan efektif dalam mengurangi miskonsepsi mahasiswa pada prinsip kerja kapasitor. Kataikunci: Miskonsepsi, PhET, Kapasitor, Four-Tier Test, Laboratorium virtual

    Reduksi miskonsepsi mahasiswa Teknik Elektro pada materi induksi elektromagnetik melalui laboratorium virtual PhET

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mereduksi jumlah mahasiswa Jurusan Teknik Elektro yang mengalami miskonsepsi pada 7 konsep Induksi Elektromagnetik. Laboratorium Virtual PhET digunakan dalam perkuliahan untuk mengatasi miskonsepsi. Penelitian ini menggunakan desain one-group pretest-posttest. Pretest dan posttest mengunakan soal diagnostik miskonsepsi Four-tier test. Hasil tes diagnostik miskonsepsi menggunakan Four-tier test menunjukan rata-rata sebanyak 39,86% mahasiswa mengalami miskonsepsi pada tiap konsep, kemudian setelah diterapkan kegiatan laboratorium virtual rata-rata jumlah mahasiswa yang mengalami miskonsepsi berkurang menjadi 10,71%. Uji McNemar menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan jumlah mahasiswa yang mengalami miskonsepsi pada setiap konsep, setelah dilakukan kegiatan laboratorium virtual. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan laboratorium virtual PhET efektif dalam mereduksi miskonsepsi mahasiswa pada materi induksi elektromagneti

    PENERAPAN PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS ICT UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN MELATIH KETERAMPILAN ICT SISWA

    No full text
    Information and Comunication Technologies (ICT) telah berkembang pesat pada beberapa tahun terakhir ini. Sekarang ini ICT sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dari setiap orang, bahkan di dunia pendidikan ICT menjadi bagian yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Menurut teori-teori yang ada, pembelajaran dengan memanfaatkan ICT dapat membuat pembelajaran menjadi lebih berkualitas, terutama untuk pembelajaran fisika yang dianggap sukar oleh kalangan siswa. Berdasarkan hasil studi pendahuluan sebagian besar siswa sebanyak 95 % siswa menyatakan mengalami kesulitan dalam belajar fisika dan sebagian besar siswa sebanyak 52% menyatakan kesulitan tersebut adalah sulit memahami konsep fisika yang abstrak. Pembelajaran fisika berbasis ICT menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran fisika sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep fisika siswa. Hal ini terlihat dari hasil penelitian yang dilakukan dengan metode pre experimental design bahwa penguasaan konsep fisika siswa meningkat dengan nilai gain sebesar 0,30 (sedang), artinya pembelajaran fisika berbasis ICT cukup efektif dalam meningkatkan penguasaan konsep siswa. Selain itu juga, penerapan pembelajaran fisika berbasis ICT dapat melatih keterampilan ICT siswa dengan baik, hal ini terlihat dari rata-rata skor keterampilan ICT siswa sebesar 79,6 % dengan kategori baik. Pembelajaran fisika berbasis ICT tidak cukup hanya tiga kali pertemuan saja, diperlukan waktu yang lebih lama agar siswa menjadi terbiasa ketika bereksperimen menggunakan software komputer sebagai alat bantu

    Perhitungan Numerik Propagasi Soliton Gelap (Dark Soliton) pada Serat Optik dengan Pengaruh Suku Dispersi Orde Tiga

    No full text
    Propagasi pulsa optik pada serat optik nonlinier dapat dipelajari dengan memecahakan Persamaan Schrödinger nonlinier (NLS). Solusi persamaan NLS dapat dicari menggunakan metode perhitungan numerik yang menghasilkan gelombang soliton. Soliton gelap (dark soliton) menjadi salah satu solusi persamaan NLS. Karena keunggulannya soliton gelap dapat dimanfaatkan pada sistem serat optik. Split Step Fourier Method (SFFM) digunakan untuk mempelajari terbentuknya soliton gelap pada panjang gelombang mendekati daerah zero dispersion yang mengakibatkan dominannya suku dispersi orde tiga

    MODELING LARGE-ANGLE PENDULUM OSCILLATIONS WITH QUADRATIC DAMPING AND DAMPING ON THE STRING

    No full text
    This study aims to find the right theoretical approach for real pendulum oscillations with large angles and include the air damping factor. Video of real pendulum oscillations were analyzed using Tracker software, to obtain experimental data. The real pendulum motion equation is modeled by a second order nonlinear differential equation by including linear damping, quadratic damping and damping on the pendulum string. The pendulum motion equation is solved by the 4th Order Runge-Kutta method then the results are compared with the experimental data. Modeling by considering quadratic damping and string damping is closer to the real phenomenon of pendulum motion than only considering linear damping.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pendekatan teoritis yang tepat untuk osilasi bandul nyata dengan  simpangan sudut awal besar dan memperhitungkan faktor redaman udara.  Rekaman video gerak osilasi bandul nyata dianalisis dengan menggunakan software Tracker, untuk mendapatkan data percobaan. Persamaan gerak osilasi bandul nyata dimodelkan dengan persamaan diferensial nonlinier orde dua dengan memperhitungkan redaman linier, redaman kuadrat dan redaman pada tali bandul. Persamaan gerak bandul diselesaikan dengan metode Runge-Kutta Orde 4 kemudian hasilnya dibandingkan dengan data percobaan. Pemodelan dengan memperhitungkan redaman  kuadrat dan redaman pada tali lebih mendekati fenomena nyata pada gerak bandul dibandingkan hanya memperhitungkan redaman linier

    Studi Awal Pengaruh Temperatur terhadap Karakteristik Aliran Fluida Pada Belokan Pipa 90° melalui Simulasi

    No full text
    Penelitian ini sebagai studi awal untuk mengetahui pengaruh temperatur fluida terhadap karakteristik aliran (laminar, transisi atau turbulen) dengan melihat perubahan tekanan, laju aliran dan bilangan Reynold pada belokan pipa. Aliran fluida (air) disimulasikan dengan software Ansys Fluent, kemudian didapatkan data perubahan tekanan, laju dan bilangan Reynold sepanjang pipa dengan belokan pipa 900. Hasil analisis data simulasi menunjukan bahwa setelah melewati belokan pipa 900, fluida dengan temperatur berbeda akan memiliki karakteristik aliran yang berbeda.Â

    The Power Factor Improvement Modelling with the Runge-Kutta 4th Order, Analytical, and Experimental Method

    No full text
    The Power factor improvement modeling is conducted by modeling electrical circuits that have a low power factor, then the power factor will be improved by pairing capacitors in series and in parallel. The capacitance values of the connected capacitors are varied for maximum power factor value. The power factor improvement modeling was analyzed using the Runge-Kutta 4th Order (RK-4) method and the analytical calculations were then compared with the experimental method. The study shows the relationship between the value of the power factor to the capacitance value and the relationship between active power, apparent power, and reactive power to the capacitance value of capacitors installed in series or parallel in the circuit. The results of calculations using the RK-4 method, analytical methods and experimental data show the same pattern, with a relative error below 8%. The results of the analysis show that the parallel installation of capacitors is the most appropriate power factor improvement model

    The Effect of Capacitance on the Power Factor Value of Parallel RLC Circuits

    No full text
    The power factor of the circuit is determined by the amount of pure resistance (R), self-inductance of the coil (L) and the capacitance of the capacitor (C). In this study, the measurement of the power factor value in a parallel RLC circuit was carried out through experimental testing and simulation with the value of C as the independent variable, while the values of R and L were fixed conditioned quantities. The purpose of this study was to determine the effect of capacitance on a parallel RLC circuit. One of the ways to improve the power factor value in a circuit is to install capacitive compensation using a capacitor. The relation between the power factor value and the capacitance and inductive reactance based on the experimental results and the simulation calculation results in the parallel RLC circuit both shows the same pattern with a relative uncertainty below 8%. The experimental results and simulation results both show that the power factor can be improved by using a right capacitance which is around the capacitance value when there is resonance in the circuit
    corecore