1,723,272 research outputs found
Polemik naskah Pangeran Wangsakerta
Sejak tahun 1980-an Ayatrohaedi, Saleh Danasasmita, dan Yoseph Iskandar melalui media massa mengumumkan tentang penemuan naskah-naskah Pangeran Wangsakerta beserta isinya. Sambutan masyarakat tersebut ada yang kontradiktif. Argumen tersebut dibahas di dalam buku ini291 hlm.: ilus.; 21 cm
Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga untuk Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) di Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro, Depok Sleman
Sampah rumah tangga (SRT) yang berasal dari ponpes merupakan potensi untuk dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai seperti pupuk organik cair (POC). Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dilakukan di Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro yang terletak di Dusun Sembego, Maguwoharjo, Depok Sleman dengan pemanfaatan sampah tersebut. Adapun beberapa tahapan yang ditempuh pada kegiatan PKM ini terdiri atas 1) diskusi dan sosialisasi tentang SRT dan POC, 2) diskusi dan praktik pembuatan POC, dan 3) evaluasi kegiatan. Diskusi tentang permasalahan ponpes dan ide sudah dilakukan pada bulan Juni 2023 dan kegiatan sosialisasi dilakukan pada tanggal 31 Juli 2023 yang diikuti oleh santri-santri yang menginap beserta guru-guru. Dalam kegiatan sosialisasi tersebut tidak hanya berdiskusi dan ceramah, tetapi juga santri sekaligus praktik pembuatan POC dari sampah yang sudah disediakan. Proses terbentuk POC memerlukan waktu beberapa minggu, dan perkembangan nya sudah baik. Luaran sementara yang diperoleh adalah pengetahuan tentang pembuatan POC dari sampah dapur ponpes sudah didapatkan oleh para santri. Pelatihan budidaya tanaman secara vertikultur tanaman sayuran dilaksanakan guna melengkapi kegiatan PKM sebagai aplikasi penggunaan POC sampah rumah tangga. Kata Kunci: Sampah rumah tangga, pondok pesantren, pupuk organik cair
PERANG SUKSESI JAWA II 1719-1723 (SIASAT AMANGKURAT IV MELAWAN PANGERAN BLITAR DAN PANGERAN PURBAYA)
Abstrak
Pada Februari 1719, Paku Buwana I wafat sebagai raja di Kartasura dan digantikan oleh Amangkurat IV. Pengangkatan Amangkurat IV menimbulkan konflik dan pemberontakan di Kartasura. Pada Juni 1719, kedua adiknya, Pangeran Blitar dan Pangeran Purbaya melancarkan serangan terhadap istana namun, mereka dapat dipukul mundur oleh garnisun VOC yang ada di istana. Mereka akhirnya mengambil tempat pemberontakan di Kartasari. Amangkurat IV meminta bantuan kepada VOC yang ada di semarang untuk mengirim serdadunya ke Kartasura. Patih Cakrajaya dan Admiral Bergman dikirim untuk memimpin pasukan gabungan VOC-Kartasura. Mereka bertugas untuk merebut Kartasari dari tangan Pangeran Blitar dan Pangeran Purbaya, karena merasa terdesak, Pangeran Blitar dan Pangeran Purbaya akhirnya memindahkan perlawanan ke arah timur Jawa, yaitu Madiun, Panaraga, dan Malang. Pada tahun 1721, Pangeran Blitar meninggal karena sakit dan perlawanan dilanjutkan oleh Pangeran Purbaya. Perang Suksesi Jawa II baru berakhir setelah pasukan VOC-Kartasura menangkap Pangeran Purbaya dan pengikutnya dengan cara diberi janji oleh komisaris Jacob W. Dubbeldekop bahwa mereka akan diampuni oleh raja, namun pada tahun 1723 mereka tetap dijatuhi hukuman oleh Amangkurat IV dengan di asingkan di Tanjung Harapan dan Sri Lanka sedangkan Pangeran Purbaya diasingkan di Tangerang dibawah pengawasan VOC. Perang Suksesi Jawa II ini menyebakan kerajaan Kartasura terjerat tunggakan hutang yang sangat besar kepada VOC, melebihi tunggakan hutang pada masa Paku Buwana I.
Kata Kunci : Amangkurat IV, Pangeran Blitar dan Purbaya, VO
Biografi Pangeran Antasari
Pangeran Antasari merupakan Raja Banjar yang lahirnya di perkirakan sekitar tahun 1790 di kampung yang dikenal Sungai Batang, Martapura. Beliau merupakan anak dari keturunan bangsawan Banjarmasin yaitu Pangeran Mas’ud(Masohot) merupakan Ayahnya dan Mas Teroda merupakan Ibunya. Walau ia adalah keturunan bangsawan ia memiliki sifat sopan santun dalam pergaulan dan watak yang rendah hati. Tujuan penulisan artikel ini adalah membahas biografi dari salah satu raja pada masa kesultanan yaitu Pangeran Antasari. Guna membahas sejarah di Indonesia yang lebih mengarah tentang Pahlawan Nasional. Dengan menggunakan metode membaca beberapa referensi
Konflik Pangeran Mangkunegara I dengan Pangeran Mangkubumi Dalam Pupuh ke 10-15 Naskah Babad Kemalon Tahun 1743-1753.
Konflik yang terjadi antara Pangeran Mangkunegara I dan
Pangeran Mangkubumi terjadi pada Tahun 1752. Penelitian ini
bertujuan untuk menjelaskan kedekatan Pangeran Mangkunegara I
dan Pangeran Mangkubumi serta menjelaskan awal konflik antara
keduanya, yang terdapat dalam naskah Babad Kemalon, pupuh ke
10-15.
Metode penelitian yang digunakan terdiri dari empat tahap,
diantaranya: Pertama, Heuristik yaitu tahap pengumpulan data
primer dan data sekunder. Kedua, Verifikasi yaitu tahap Kritik
internal dan eksternal. Ketiga, Interpretasi atau penafsiran data
yang disusun menjadi rangkaian kata yang mengandung fakta.
Keempat, Historiografi yaitu penulisan sejarah.
Adapun hasil dari penelitian ini ialah: Pertama, Hubungan
aliansi Pangeran Mangkunegara I dan Pangeran Mangkubumi
sebagaimana tercatat dalam Pupuh ke 10-15 Naskah Babad
Kemalon, yang dimana kedua tokoh ini awalnya menjalin aliansi
erat pada tahun 1743, dalam perjuangan melawan VOC dan Paku
Buwono II, yang berhasil merebut wilayah strategis. Kedua,
Konflik antara Pangeran Mangkunegara I dan Pangeran
Mangkubumi yang terjadi akibat konflik personal, seperti ketidak
jujuran Pangeran Mangkunegara I terkait hasil rampasan perang
berupa dua penari bedhaya. Konflik ini diperburuk oleh strategi
devide et impera yang diterapkan VOC, sehingga Pangeran
Mangkunegara I memutuskan untuk berpisah pada tanggal 17
Maret 1753
Makna Simbolis Rumah Pangeran Keraton Kasunanan Surakarta
Buku ini menjabarkan makna simbolis yang terkandung dalam elemen arsitektural rumah Pangeran di kompleks Baluwarti. Adanya buku ini diharapkan mampu memberikan pengalaman penghayatan terkait makna simbolis terhadap hasil karya arsitektur leluhur bagi generasi masa kini. Keraton Kasunan Surakarta memiliki peran besar dalam proses kelahiran rumah pangeran di lingkungan Baluwarti. Kehadiran rumah-rumah pangeran tersebut merupakan hasil karya yang terbentuk dari pedoman yang dibuat dari pengaruh leluhurnya. Keberadaan rumah pangeran sangat penting dalam mencerminkan nilai sejarah yang dilestarikan, meskipun secara arsitektural rumah pangeran berbeda dengan bentuk Keraton Kasunanan Surakarta. Namun demikian, nuansa nilai-nilai yang muncul memancarkan muatan makna yang cenderung selalu menghargai gagasan masa lalu yang diproses dalam rentang waktu sejarah yang panjang. Supaya lebih paham baca terlebih dahulu daftar isi Buku Budaya terbaik ini
REKAM JEJAK PANGERAN ARIA SOERIA ATMADJA: Bupati Sumedang 1883-1919
Skripsi ini berjudul “Rekam Jejak Pangeran Aria Soeria Atmadja (Bupati Sumedang 1883-1919)”. Penelitian ini mengkaji mengenai peranan Pangeran Aria Suria Atmadja yang menjabat sebagai bupati Kabupaten Sumedang dari tahun 1883 hingga 1919. Masalah utama dalam skripsi ini adalah “Bagaimana Peranan Bupati Pangeran Aria Soeria Atmadja dalam membangun dan menyejahterakan Kabupaten Sumedang (1883-1919) ?”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial politik Kabupaten Sumedang sebelum kepemimpinan Pangeran Aria Suria Atmadja, latar belakang kehidupan Pangeran Aria Soeria Atmadja, kebijakan bupati Pangeran Aria Soeria Atmadja dalam bidang pertanian, peternakan, ekonomi, dan seni budaya saat menjabat sebagai bupati Kabupaten Sumedang. Metode yang digunakan adalah metode penelitian historis dengan melakukan tiga langkah penelitian Sejarah yaitu heuristik, kritik sumber (eksternal dan internal), serta historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, Kabupaten Sumedang pada masa pemerintahan Pangeran Aria Soeria Atmadja membuat kebijakan yang membawa perubahan baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Kebijakan tersebut antara lain dalam bidang sosial Pangeran Aria Soeria Atmadja membangun pola pikir masyarakat dengan mendirikan sekolah rakyat, dan mendirikan sekolah pertanian. Dalam bidang ekonomi, Pangeran Aria Soeria Atmadja membuat saluran irigasi, membuat areal persawahan menjadi terasering dan memperluas lahan pertanian sehingga produksi tanaman di Kabupaten Sumedang meningkat, dan dalam bidang politik, Pangeran Aria Soeria Atmadja memiliki kedekatan dengan pemerintah kolonial sehingga jasa-jasa Pangeran Aria Soeria Atmadja sangat dihargai oleh pemerintah kolonial dan kedekatan ini dimanfaatkannya untuk meningkatkan pembangunan di Kabupaten Sumedang.
Kata Kunci : Bupati, kebijakan sosial, ekonomi dan politik, Pangeran Aria Soeria Atmadja, Kabupaten Sumedang.
The title of this paper is “Track Record of Pangeran Aria Soeria Atmadja ( as Sumedang Regent in 1883-1919)” the study of this research is about the role of Pangeran Aria Soeria Atmadja of Sumedang Regency from 1883 until 1919. The main problem of this paper is “How is the role of Pangeran Aria Soeria Atmadja in developing and prosperousizing Sumedang Regency (1883-1919)?. The purpose of this research is to know the social-political condition of Sumedang Regency before the leadership of Pangeran Aria Soeria Atmadja, the life background of Pangeran Aria Suria Atmadja, the policies of Pangeran Aria Soeria Atmadja in agriculture, ranch, economy and art culture field as Sumedang Regency. Research method that used is historical method that comprised by three steps, which of are heuristic, source critic (external and internal), and historiography. Based on the result of this research, Sumedang Regency at the time of Pangeran Aria Soeria Atmadja goverment a made the policies that brought better changes in social, economy and politic field. The policies of Pangeran Aria Soeria Atmadja in social field are build community mindset with developing school for society and build school of agriculture. In economy field, Pangeran Aria Soeria Atmadja made an irrigation canal, made rice field area became terassering, and extended agriculture area so that the crop production in Sumedang Regent improved. In political field, Pangeran Aria Soeria Atmadja has the proximity with colonial goverment so that the merit of Pangeran Aria Soeria Atmadja was really appreciated by colonial goverment and this proximity used by Pangeran Aria Suria Atmadja to improved the development in Sumedang Regency.
Keywords : Regent, social, economy and political policy, Pangeran Aria Soeria Atmadja, Sumedang Regenc
Penciptaan Naskah Drama Nyanyian Di Ujung Malam : Hypogram Perjuangan Pangeran Trunojoyo dan Pangeran Cilik karya Antoine de Saint-Exupery
Pangeran Cilik adalah fabel karya Antoine Saint-Exupery yang menceritakan perjalanan Pangeran Cilik setelah mengalami kekecewaan pada bunga mawarnya. Pangeran Cilik bepergian ke planet-planet yang masing-masing dihuni oleh seseorang dengan satu karakternya seperti orang sombong, pemabuk, pennyulut lentera, dsb. Peristiwa tutur Pangeran Cilik merupakan hasil dari ucapan keingin tahuan pangeran yang amat tinggi, terdapat banyak pengulangan terus menerus. Pengulangan ini berkaitan dengan motif situasi dalam kekecewaan tukoh Pangeran Cilik pada hasil jawaban disetiap pertanyaannya. Kisah perjuangan Trunojoyo melawan kompeni dan pemerintahan Mataram yang lalim dijamanya. Menghubungkan kedua bentuk cerita berbeda dengan pola tutur Pangeran Cilik dengan persoalan yang terjadi pada perjuangan Trunojoyo. Peristiwa tutur terjalin berkesinambungan membentuk nyanyian tentang cerita perjuangan, dijadikan hipogram penciptaan naskah drama Nyanyian di Ujung Malam. Hipogram merupakan dasar penciptaan untuk menghasilkan karya baru, bisa dipatuhi atau pun dibedakan dengan dasar penciptaan
Dinamika Partai Nahdlatul Ulama pada Pemilihan Umum 1955 di Jawa Barat
The first Islamic Congress in Cirebon in 1922 was one of the seeds of opposition between Reformers and Traditionalists. This was followed by a compilation of two camps which were agreed to hold the Masyumi Party as a symbol of the unity of the Muslims. However, in reality, there was a successful conflict between the Traditionalist and Reformist camps so that the Traditional camp represented by NU was canceled by the Masyumi ties by holding the 19th NU Conference in Palembang 1952. This had implications for the existence of the NU Party in West Java to invoke its hegemony. together with Masyumi so that in the 1955 general election the NU Party only voted under Masyumi, PNI and PKI. This paper will explain how the dynamics faced by the West Java Nahdlatul Ulama when jamiyah changed course became a political party that had implications for the existence of the West Java NU Party before the election took place or afterwards. This research is descriptive with a qualitative methodology. The use of this method is to be able to explain a phenomenon that occurs in the Nahdlatul Ulama organization as a result of becoming a Political Party by using a Politological approach through the stages of Heuristics, Criticism, Interpretation and Historiography
- …
