18 research outputs found
ESTIMASI EROSI DAN SEDIMENTASI LAHAN PADA DAS LANGSA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)
DAS Langsa terus mengalami kerusakan lingkungan akibat perubahan tutupan lahan. Kerusakan lingkungan mempengaruhi besaran erosi pada DAS dikarenakan pada saat hujan menghasilkan energi kinetik membawa butiran tanah yang disalurkan menuju lahan terendah, tetapi proses pengangkutan erosi berpengaruh terhadap kerapatan vegetasi dan lereng lahan yang dilintasinya, semakin besar nilai kerapatan vegetasi lahan maka penyaluran erosi akan semakin mudah dan cepat. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengestimasi besaran erosi dan sedimentasi lahan menggunakan persamaan USLE dan persamaan Vestraten 2007 dengan menyajikan estimasi menggunakan SIG. Hasil analisa menyatakan bahwa tingkat bahaya erosi (TBE) pada DAS Langsa masuk dalam kategori sedang dan proses penyaluran erosi dari tiap unit lahan berdasarkan arah aliran menghasilkan sedimentasi lahan yang tertinggi sebesar 908,39 ton/ha/tahun dan umumnya berada pada bagian hulu DAS dan yang paling rendah berada sub DAS bagian hilir sebesar 3,447 ton/ha/tahun dan bahkan ada beberapa sub DAS tidak terjadi sedimentasi lahan seluas 2.944,63 ha dan volume erosi yang tersalurkan di estuari kuala langsa sebesar 10.512,25 m3/tahun sebagai penyebab pendangkalan disepanjang alur estuari kuala langsa.
Kata Kunci: Erosi Lahan, kapasitas angkutan sedimen, sedimentasi lahan dan SI
Analisis Pengaruh Serbuk Cangkang Kerang Hijau (Perna Viridis) Sebagai Agregat Terhadap Kuat Tekan Campuran Beton
Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang telah umum digunakan untuk bangunan gedung, jembatan, jalan dan lain lainnya. Karna banyaknya limbah disekitar lingkungan penelitian ini memanfaatkan limbah cangkang kerang hijau berasal dari Desa Serang Jaya Hilir Kecamatan Pematang Jaya Kabupaten Langkat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingkan kuat tekan beton pada tiap variasi serbuk cangkang kerang terhadap agregat halus yaitu 0%, 5%,10% dan 15% dan mengetahui kuat tekan beton dengan campuran serbuk cangkang kerang hijau dari tiap variasi campuran pada umur 14 hari dan 28 hari. Setelah penelitian didapatkan hasil bahwa; [1] kuat tekan beton umur 14 hari pada campuran beton campuran 0% serbuk cangkang kerang hijau terhadap berat agregat halus yaitu 12,00 Mpa,5% yaitu 12,34 Mpa,10% yaitu 11,88 Mpa dan 15% sebesar 12,17 Mpa. Sedangkan hasil rata-rata nilai kuat tekan beton umur 28 hari pada campuran beton 0% serbuk cangkang kerang hijau terhadap berat agregat halus yaitu 26,30 Mpa,5% yaitu 27,17 Mpa,10% yaitu 24,75 Mpa dan 15% sebesar 26,53 Mpa. [2] kuat tekan beton tertinggi terjadi pada persentase campuran serbuk cangkang kerang 5% yaitu 27,17 Mpa dan persentasi terendah terjadi pada campuran serbuk cangkang kerang 10% yaitu 24,75%
Penerapan Building Information Modeling (BIM) Pada Bangunan Gedung Bertingkat Menggunakan Tekla Structures
Building Information Modeling (BIM) is a digital representation that has transformed the way the construction industry operates through the digitalization and digital data management. This advancement digitalization is also supported by the Ministry of Public Works and Housing (PUPR) through Ministerial Regulation number 22/PRT/M/2018, which mandates the use of BIM methods in the construction of state buildings with more than two floors. The BIM Implementation Policy in PUPR infrastructure development, published by the Research and Development Center for Policy and Technology Application in 2019. The success of construction projects is determined by the accuracy of quality, time, and cost, both in the planning and construction stages. The research object is the multi-story lecture building of the Faculty of Economics at Universitas Samudra. The study was conducted by modeling the building structure using Tekla Structures, then comparing the Bill of Quantity (BOQ) generated by the BIM concept with the BOQ calculated manually. Data were obtained from the planning documents Detail Engineering Design (DED) and BOQ by the Planning Consultant, referring to the SNI 2847:2019 standard Requirements for Structural Concrete for Buildings. The research results show that the comparison of BOQ work using the BIM method on structural components produced a concrete volume of 432.20 m³ (97.26%), a deformed bar weight of 44,138.38 kg (90.49%), and a plain bar weight of 37,023.87 kg (97.09%) of the planned calculation. The differences obtained are due to the different calculation methods in BIM, manual calculation errors (human error), and rebar detailing calculations using general equations.Building Information Modeling (BIM) merupakan representasi digital yang telah mengubah cara kerja di dunia konstruksi melalui digitalisasi dan manajemen data digital. Kemajuan digitalisasi ini juga didukung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Peraturan Menteri nomor 22/PRT/M/2018, yang mewajibkan penggunaan metode BIM pada pembangunan Gedung Negara lebih dari dua tingkat. Kebijakan Implementasi BIM pada pembangunan infrastruktur PUPR, yang dipublikasikan oleh Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi pada tahun 2019. Obyek penelitian ini adalah Gedung ruang kuliah bersama Fakultas Ekonomi Universitas Samudra. Penelitian dilakukan dengan memodelkan struktur bangunan gedung menggunakan Tekla Structures, kemudian membandingkan Bill of Quantity (BOQ) yang dihasilkan oleh konsep BIM dengan BOQ yang dihitung secara manual. Data diperoleh dari dokumen perencana Detail Engineering Detail (DED) dan BOQ Konsultan Perencana, merujuk pada standar SNI 2847:2019 Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan pekerjaan BOQ menggunakan metode BIM pada komponen struktur menghasilkan volume beton sebesar 432,20 m³ (97.26%), berat pembesian ulir sebesar 44.138,38 kg (90,49%), dan berat pembesian polos sebesar 37.023,87 kg (97,09%) dari hitungan perencanaan. Perbedaan hasil yang didapat disebabkan oleh perbedaan metode perhitungan pada BIM, kesalahan perhitungan secara manual (human error), serta perhitungan pendetailan tulangan yang menggunakan persamaan umum
INOVASI TEKNOLOGI ULIR FILTER UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI GARAM RAKYAT DI KABUPATEN ACEH TIMUR
Desa Kuala Idi Cut adalah salah satu desa pesisir pantai yang berada di kecamatan Darul Aman kabupaten Aceh Timur provinsi Aceh sebagai penghasil garam. Pengolahan garam dilakukan oleh kelompok tani (mitra). Setiap petani garam di Desa Kuala Idi Cut sudah menjalankan usaha pengolahan garam secara turun temurun. Mitra adalah masyarakat ekonomi produktif. Pengolahan garam di lokasi mitra masih bersifat tradisional, yaitu diawali dengan meratakan kolam penuaan air laut, kemudian air laut dialirkan ke kolam tersebut untuk diuapkan, setelah tingkat kepekatan (kadar 0Be) air laut meningkat (air tua) kemudian dimasak sampai terbentuk kristal garam. Mitra bisa menghasilkan garam mencapai 15-20 kg setiap hari apabila cuaca mendukung. Tujuan kegiatan PKM ini adalah menyelesaikan masalah yaitu meningkatkan kualitas garam dengan menerapkan teknologi ulir filter dan teknologi filter menggunakan zeolite. Tahapan kegiatan pengabdian ini adalah sosialisasi program, perispan lahan, pembuatan filter, pembuatan kolam peninihan, sosialisasi mengkur kadar kepekatan air laut, dan pendampingan penerapan teknologi. Hasil kegiatan pengabdian ini adalah air laut yang digunakan sebagai bahan baku pengolahan garam menggunakan teknologi filter sudah memiliki warna yang jernih dan mengurangi kadar kotoran
Analisis Kerentanan Struktur Gedung C Rumah Sakit Rujukan Regional Kota Langsa Menggunakan Metode Pushover Analysis
Abstrak Fenomena gempa merupakan gejala alam yang sangat berpengaruh terhadap bangunan, terutama pada bangunan tinggi. Perencanaan struktur bangunan gedung tahan gempa sangat penting di Indonesia, mengingat sebagian besar wilayahnya terletak dalam wilayah gempa dengan intensitas sedang hingga tinggi. Kajian penelitian adalah Rumah sakit rujukan regional kota Langsa dengan struktur bangunan 4 lantai dan tinggi 19,25 meter. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kriteria level kinerja struktur dan mengetahui pola keruntuhan bangunan sehingga dapat diketahui joint-joint yang mengalami kerusakan dan kehancuran. Metode analisis pushover merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menganalisis beban gempa guna mengetahui perilaku keruntuhan struktur dari hasil nilai performance point menggunakan ATC-40 dan nilai target displacement FEMA-356 dan FEMA 440. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa berdasarkan ATC-40 untuk arah-x diperoleh nilai drift aktual sebesar 0,0082 mm berada di level kinerja Immediate occupancy dan untuk arah-y sebesar 0,0072 berada di level kinerja Imediated Occupancy. Sedangkan menurut FEMA 356 dan FEMA 440 drift aktual untuk arah-x sebesar 0,015 yang berada di level kinerja Damage Control, sementara arah-y sebesar 0,037 berada pada level kinerja Life safety. Kata kunci: kerentanan struktur, rumah sakit, gempa, pushover analysis, level kinerja Abstract Earthquake phenomena are natural phenomena that greatly affect buildings, especially tall buildings. The planning of earthquake-resistant building structures is very important in Indonesia, considering that most of the area is located in an earthquake area with moderate to high intensity. The research study was the Langsa city regional hospital with a 4-storey building structure and a height of 19.25 meters. The purpose of this study was to determine the criteria for the level of structural performance and to determine the pattern of building collapse so that the joints that were damaged and destroyed could be identified. The pushover analysis method is one of the methods used to analyze earthquake loads to determine the collapse behavior of structures from the results of performance point values using ATC-40 and displacement target values of FEMA-356 and FEMA 440. The results show that based on ATC-40 for the x-direction the actual drift value of 0.0082 mm is obtained at the Immediate Occupancy and for the y-direction of 0.0072 at the Immediate Occupancy performance level. Meanwhile, according to FEMA 356 and FEMA 440 the actual drift for the x-direction is 0.015 which is at the Damage Control, while the y-direction is 0.037 at the Life safety performance level. Keywords: structure vulnerability, hospital, earthquake, pushover analysis, performance leve
Analisis Pengaruh Abu Tempurung Kelapa terhadap Kuat Tekan Beton Memadat Sendiri (Self Compacting Concrete)
Research in the concrete industry aims to improve the quality of concrete using advanced technology and techniques. One of the innovations carried out is the use of additional materials in SCC concrete, namely coconut shell ash. This research uses coconut shell ash as an additional material with the proportion of coconut shell ash used being 0%, 5%, 15% and 25% of the cement weight with a maximum aggregate accuracy of 20 mm. The reference used in making the concrete mix is the EFNARC Mix Design with a design compressive strength (f'c) of 20 MPa. The test object is cylindrical with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm. The tests carried out were compression tests with treatment for 14 and 28 days. The results of adding coconut shell ash to SCC concrete have an influence on the workability characteristics of concrete in the form of a maximum slump flow value in the SCC0 concrete variation without additional coconut shell ash of 650 mm and a minimum slump flow value found in the unmixed concrete (BN) variation of 330 mm and The results of the v-funnel test experienced a decrease in flow time as the coconut shell ash increased, this was caused by the higher the percentage of coconut shell ash used, the thicker the concrete properties would be. The results of the comparison value of unmixed concrete (BN) and SCC concrete with variations in the addition of coconut shell ash to the compressive strength of concrete at the ages of 14 and 28 days showed a decrease in the compressive strength value of concrete along with increasing the percentage of coconut shell ash used. The highest decrease in the compressive strength value of unmixed concrete (BN) occurred in the SCCA25 variation, 55.50% at 14 days and 61.06% at 28 days.Penelitian dalam industri beton bertujuan untuk meningkatkan kualitas beton dengan menggunakan teknologi dan teknik canggih. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah dengan penggunaan bahan tambah pada beton SCC, yaitu abu tempurung kelapa. Penelitian ini menggunakan abu tempurung kelapa sebagai bahan tambah dengan proporsi abu tempurung kelapa yang digunakan adalah 0%, 5%, 15%, dan 25% terhadap berat semen dengan akuran agregat maksimum 20 mm. Acuan yang digunakan dalam pembuatan campuran beton adalah Mix Design EFNARC dengan kuat tekan rencana (f’c) 20 MPa. Benda uji berbentuk silinder dengan ukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Pengujian yang dilakukan yaitu uji tekan dengan perawatan selama 14 dan 28 hari. Hasil dari penambahan abu tempurung kelapa pada beton SCC memberikan pengaruh terhadap karakteristik workability beton berupa nilai slump flow maksimum pada variasi beton SCC0 tanpa tambahan abu tempurung kelapa sebesar 650 mm dan nilai slump flow minimum terdapat pada variasi beton tanpa campuran (BN) sebesar 330 mm dan hasil dari pengujian v-funnel mengalami penurunan waktu mengalir seiring bertambahnya abu tempurung kelapa, hal ini disebabkan oleh semakin tingginya persentase abu tempurung kelapa yang digunakan, maka sifat beton akan semakin kental. Hasil nilai perbandingan beton tanpa campuran (BN) dan beton SCC dengan variasi penambahan abu tempurung kelapa terhadap kuat tekan beton pada umur 14 dan 28 hari diperoleh penurunan nilai kuat tekan beton seiring dengan bertambahnya persentase penggunaan abu tempurung kelapa. Penurunan nilai kuat tekan beton tanpa campuran (BN) terhadap beton variasi paling tinggi terjadi pada variasi SCCA25 sebesar 55,50% pada umur 14 hari dan 61,06% pada umur 28 hari
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG TIDAK BERATURAN CAMPUS HOSPITAL SEGMEN B MENGGUNAKAN ETABS
Dalam merencanakan suatu struktur bangunan bertingkat tinggi, perencana harus memperhatikan beban-beban yang bekerja pada struktur seperti beban hidup, beban mati, dan beban gempa. Komponen struktur terbagi atas dua bagian yaitu struktur atas dan struktur bawah, yang dibahas dalam penelitian ini hanya dibatasi pada struktur atas meliputi kolom, balok, pelat lantai, dan pelat atap. Struktur gedung terdiri dari 5 lantai. Peraturan-peraturan yang digunakan untuk perhitungan struktur menggunakan peraturan SNI 2847-2019 tentang Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung. Untuk perhitungan beban minimum menggunakan SNI 1727-2020 tentang Beban Desain Minimum Dan Kriteria Terkait Untuk Bangunan Gedung Dan Struktur Lain. Untuk perhitungan pembebanan gempa menggunakan SNI 1726-2019 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung Dan Non Gedung, serta untuk menentukan baja tulangan bangunan menggunakan SNI 2052-2017 tentang Baja Tulangan Beton. Analisis dan pemodelan struktur menggunakan bantuan program ETABS V18. Hasil dan analisis desain dimensi balok B1 75/95 cm, balok B2 70/90 cm, balok B3 55/75 cm, balok B4 40/55 cm, dimensi kolom K1 80/80 cm, kolom K2 65/65 cm, tebal pelat lantai 13 cm, tebal pelat atap 10 cm.Dalam merencanakan suatu struktur bangunan bertingkat tinggi, perencana harus memperhatikan beban-beban yang bekerja pada struktur seperti beban hidup, beban mati, dan beban gempa. Komponen struktur terbagi atas dua bagian yaitu struktur atas dan struktur bawah, yang dibahas dalam penelitian ini hanya dibatasi pada struktur atas meliputi kolom, balok, pelat lantai, dan pelat atap. Struktur gedung terdiri dari 5 lantai. Peraturan-peraturan yang digunakan untuk perhitungan struktur menggunakan peraturan SNI 2847-2019 tentang Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung. Untuk perhitungan beban minimum menggunakan SNI 1727-2020 tentang Beban Desain Minimum Dan Kriteria Terkait Untuk Bangunan Gedung Dan Struktur Lain. Untuk perhitungan pembebanan gempa menggunakan SNI 1726-2019 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung Dan Non Gedung, serta untuk menentukan baja tulangan bangunan menggunakan SNI 2052-2017 tentang Baja Tulangan Beton. Analisis dan pemodelan struktur menggunakan bantuan program ETABS V18. Hasil dan analisis desain dimensi balok B1 75/95 cm, balok B2 70/90 cm, balok B3 55/75 cm, balok B4 40/55 cm, dimensi kolom K1 80/80 cm, kolom K2 65/65 cm, tebal pelat lantai 13 cm, tebal pelat atap 10 cm
Implementasi BIM pada Struktur Gedung Laboratorium Terpadu Universitas Samudra Menggunakan Software Revit
This research applied three working methods, namely 3D modeling, quantity take-off (QTO), and bar bending schedule (BBS). The main objective of this research was to compare the calculation results of the conventional method with the Building Information Modeling (BIM) method in the construction of the Samudra University Integrated Laboratory Building. The implementation of BIM showed significant differences compared to the conventional approach, especially in 3D visual output and cost estimation (5D). The application of BIM facilitated more accurate 3D modeling and faster and more efficient cost estimation. In addition, BIM also improved the construction inspection process as it allowed the checking of work items without the need for manual inspection one by one. The QTO results using BIM (Revit Student Version) show a difference in calculation volume compared to the conventional method. In the concrete work, there had been a difference of 23.27 m³ or 2.08%, while in the screw reinforcement work, there had been a difference of 9,597.69 kg or 10.33%. For plain reinforcement, there had been a difference of 3,497.28 kg or 3.86%, and the total weight of reinforcement had been 13,094.96 kg or 7.14%.Penelitian ini mengaplikasikan tiga metode pengerjaan, yaitu pemodelan 3D, Quantity Take Off (QTO), dan Bar Bending Schedule (BBS). Tujuan utama penelitian ini adalah membandingkan hasil perhitungan metode konvensional dengan metode Building Information Modeling (BIM) dalam pembangunan Gedung Laboratorium Terpadu Universitas Samudra. Implementasi BIM menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan pendekatan konvensional, terutama dalam output visual 3D dan estimasi biaya (5D). Penerapan BIM mempermudah pemodelan 3D yang lebih akurat serta estimasi biaya yang lebih cepat dan efisien. Selain itu, BIM juga meningkatkan proses inspeksi konstruksi karena memungkinkan pengecekan item pekerjaan tanpa perlu pemeriksaan manual satu per satu. Hasil QTO menggunakan BIM (Revit Student Version) menunjukkan perbedaan volume perhitungan dibandingkan dengan metode konvensional. Pada pekerjaan beton, terdapat selisih 23,27 m³ atau 2,08%, sedangkan pada pekerjaan tulangan ulir terdapat selisih 9.597,69 kg atau 10,33%, tulangan polos 3.497,28 kg atau 3,86%, dan total berat tulangan sebesar 13.094,96 kg atau 7,14%. Penerapan BIM memberikan keunggulan dalam akurasi, efisiensi waktu, dan kemudahan dalam pengawasan proyek konstruksi
EVALUASI FIRE SAFETY MANAGEMENT PADA GEDUNG LABORATORIUM PGSD UNIVERSITAS SAMUDRA
Perkembangan pembangunan gedung semakin lama semakin meningkat. Tingginya peningkatan pembangunan tersebut, harus didukung dengan adanya penerapan sistem proteksi terhadap bangunan gedung guna mengantisipasi kecelakaan dan bencana, salah satunya adalah dengan penerapan sistem proteksi kebakaran. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah untuk mengetahui tingkat kesesuaian dan keandalan manajemen proteksi kebakaran di Gedung laboratorium PGSD Universitas Samudra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa Metode analisis deksriptif, bertujuan untuk mengetahui penerapan sistem proteksi kebakaran terhadap bahaya kebakaran, melalui pengamatan langsung, berdasarkan peraturan Menteri pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008 dan lembar penilaian Pd-T-11-2005-C, tentang Pemeriksaan Keselamatan Keabakaran Bangunan Gedung. Hasil dari penelitian ini, pada penerapan sarana penyelamatan menghasilkan nilai bobot nilai 2,163 ≈ 2 yang menyatakan kondisi penerapan fire savety management Laboratorium PGSD Universitas samudra sudah sesuai dengan peraturan, dan sistem proteksi pasif menghasilkan bobot nilai 2,542 ≈ 3 yang menyatakan, kondisi penerapan fire savety management Laboratorium PGSD Universitas samudra sudah sangat sesuai dengan peraturan, sedangkan untuk perhitungan, Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan (NKSKB) sebesar 77,34 % hal ini menunjukan bahwa nilai keandalan bangunan Laboratorium PGSD Universitas Samudra cukup
Tekla Structure Penerapan Building Information Modeling (BIM) Pada Gedung Kuliah Pascasarjana IAIN Langsa Menggunakan Software Tekla Structures
Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat di berbagai bidang, khususnya pada bidang konstruksi memberikan banyak manfaat pada pekerjaan konstruksi yang mempunyai tingkat kesulitan yang kompleks dalam proses pengerjaannya. Pada pelaksanaan Pembangunan Gedung Pascasarjana IAIN Langsa tidak menerapkan BIM pada pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemodelan gedung kuliah pascasarjana IAIN Langsa dengan software BIM dalam bentuk 3D dan quantity take-off. Dalam penelitian ini Tekla Structures akan digunakan untuk membuat pemodelan gedung Pascasarjana IAIN Langsa. Hal pertama yang dilakukan ialah pembuatan grid, Setelah membuat grid dilanjutkan dengan pemodelan secara 3D. Pemodelan dimulai dari pondasi, sloof, balok dan kolom beserta pemodelan tulangannya. Dalam pemodelan software Tekla Structures dimensi, stadart material dan nilai kuat tekan beton dapat dipilih langsung dan disesuaikan dengan SNI. Penyaluran tulangan Gedung kuliah pascasarjana IAIN Langsa tidak sesuai dengan SRPMK dan SRPMM yang tertera diperaturan SNI 2847:2019, Namun penyaluran tulangan masih sesuai dengan standart SNI. Diperoleh perbandingan hasil Tekla Structures terhadap RAB sebesar 95,94% untuk beton dan 103,00% untuk pembesian. Penerapan konsep BIM pada software Tekla Structures menghasilkan perhitungan yang lebih akurat dan mempermudah perkerjaan sehingga lebih cepat sehingga menghemat waktu dan sumber daya manusia, serta dapat dipertanggung jawabkan dengan objek yang dimodelkan pada Tekla Structures
