31 research outputs found
TAYUB NINTHING: TARI KREASI BARU YANG BERSUMBER PADA KESENIAN TAYUB
ABSTRAK Pratiwi, Ajeng Ratri. 2011. Tayub Ninthing: Tari Kreasi Baru Yang Bersumber Pada Kesenian Tayub. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari Jurusan Seni Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Supriyono, (II) Tri Wahyuningtyas, S. Pd, M. Si Kata kunci: Kesenian Tayub, Tari Kreasi Baru, Tayub Ninthing Kesenian Tayub merupakan suatu kesenian tradisional yang berkembang di masyarakat khususnya di Kabupaten Tulungagung. “Tayub” atau “nayub” yang erat hubungannya dengan minuman keras, dimana di dalam tayuban itu sendiri minuman keras selalu mendapatkan tempat penting dalam suatu pertunjukan Tayub. Kehidupan para ronggeng atau ledhek atau tandhak itu sangat dilekati dengan kehidupan prostitusi yang karena perubahan nilai-nilai dalam suatu masyarakat menyebabkan turunnya martabat mereka, baik untuk masyarakat pada umumnya, ataupun menyangkut penilaian orang terhadap dunia tari itu sendiri, terutama tanggapan orang terhadap para remaja putri yang akan belajar menari. Penciptaan tari Tayub Ninthing ini bertujuan untuk menciptakan tari kreasi baru yang diharapkan anggapan negatif yang telah melekat pada kesenian Tayub dapat hilang dan para remaja bisa tertarik pada kesenian tradisi. Metode penciptaan meliputi langkah sebagai berikut: eksplorasi, eksperimantasi (imitasi, improvisasi, evaluasi), pembentukan (forming), peramuan (composing), serta melalui rangsang dengar (auditif), rangsang visual, rangsang gagasan, dan rangsang kinestetik. Tari Tayub Ninthing sebuah bentuk tari kreasi baru yang ditarikan oleh lima orang penari. Dengan tata rias cantik yang semakin menonjolkan kesan remaja, serta didukung kostum atasan kebaya dengan warna dasar biru muda dan bawahan jarik dengan warna dasar hitam bermotif bunga, tidak lupa dengan memberikan asesoris pelengkapnya. Properti yang digunakan dalam tarian ini adalah sampur. Panggung prosenium dipilih sebagai tempat pementasan karena tarian akan dinikmati dari arah depan saja. Menciptakan suatu karya tari harus melalui suatu proses dan langkah-langkah yang terstruktur. Dengan terciptanya sebuah tari Tayub Ninthing diharapkan bisa diterima di masyarakat dan menjadi obyek apresiasi.
Persepsi Guru Sekolah Dasar Negeri pada Penilaian Portofolio Kurikulum 2013 Se-Gugus II Kecamatan Blimbing Kota Malang.
ABSTRACT Peningkatan Kemampuan Komunikasi Sosial Anak dengan Bermain Peran pada Kelompok B1 di PAUD AL-QURAN Kabupaten MalangAtika, Aisyah Nur. 2016. Peningkatkan Kemampuan Komunikasi Sosial Anak dengan Bermain Peran pada Kelompok B1 di PAUD AL-QURAN Kabupaten Malang. Skripsi Prodi S1 – Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Jurusan Kependidikan Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ahmad Samawi, M.Hum, (II) Eny Nur Aisyah, S.Pd, I. M.PdKata Kunci:bermain peran, komunikasi sosial, anak Kelompok B Penelitian ini dilakukan berdasarkan temuan masalah yang berkaitan dengan kemampuan komunikasi sosial anak kelompok B1 di PAUD AL-QURAN yang ditunjukkan dengan belum dapat berbicara dengan sopan, mau memohon dan memberi maaf, serta menyapa teman, sehingga sebagian anak cenderung kurang dapat menjalani hubungan baik dan menyenangkan dengan teman sebayanya. Hal tersebut menjadi alasan yang mendasari rumusan masalah, yaitu (1) bagaimana penerapan metode bermain peran dalam meningkatkan kemampuan komunikasi sosial anak kelompok B1 di PAUD AL-QURAN Kabupaten Malang, (2) apakah bermain peran dapat meningkatkan kemampuan komunikasi sosial anak kelompok B1 di PAUD AL-QURAN Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian adalah anak kelompok B1 PAUD AL-QURAN Kabupaten Malang berjumlah 14 anak. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan,refleksi. Teknik pengumpulan data untuk mendukung penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perubahan terhadap kemampuan komunikasi sosial anak dan kegiatan bermain peran lebih menyenangkan.bermain peran dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar anak kelompok B1 PAUD AL-QURAN Kabupaten Malang terbukti ketuntasan kelas pada siklus I pertemuan pertama 36% atau 5 anak yang sudah berkembang, pada siklus I pertemua kedua 50% atau 7 anak yang sudah berkembang, pada siklus II pertemuan pertama 71% atau 10 anak yang sudah berkembang, dan pada siklus II pertemuan kedua 93% atau 13 anak yang sudah berkembang.Bermain peran diterapkan dengan cara anak-anak memerankan suatu tokoh dan memerankan sesuai dengan perannya dengan cerita yang sudah ditentukan oleh guru. Kegiatan bermain peran dalam pembelajaran sosial emosional terbukti dapat meningkatkan kemampuan komunikasi sosial anak karena sudah mencapai target yang ditentukan yaitu ≥ 75%. Bagi guru anak usia dini disarankan memanfaatkan kegiatan bermain peran ini karena dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi sosial anak
Museum Sejarah dan Kebudayaan Surabaya
Sejarah merupakan cikal bakal terbentuknya perilaku sebuah masyarakat. Terkenal
sebagai Kota Pahlawan, Surabaya adalah salah satu kota di Indonesia yang sangat dikenal
melalui kisah perjuangannya dalam membela kota mereka tercinta pada masa Kemerdekaan.
Keberanian pemuda pemudi Surabaya dalam memperjuangkan kota mereka layaknya patut
dikenang sepanjang masa.
Namun, dewasa ini sudah begitu banyak generasi muda yang hampir melupakan sejarah
kota mereka sendiri. Bahkan tidak banyak dari mereka yang tidak mengetahui asal usul kota
tempat mereka tinggal. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh tidak tersedianya tempat
informasi yang menampung segala sesuatu mengenai sejarah kota Surabaya. Oleh karena itu,
keberadaan Museum Sejarah dan Kebudayaan Surabaya ini dapat menjadi jawaban atas
persoalan tersebut. Mengusung konsep rekreatif, informatif, dan edukatif, museum ini
menyajikan suasana pameran yang berbeda dari museum lainnya. Dengan tema Bunglon,
museum ini mencoba menyamarkan dirinya dengan kota dia berada, yaitu Surabaya. Suasana
pameran yang dikonsep dengan pameran tematik diharapkan dapat menjauhkan museum dari
kesan kumuh dan menyeramkan. Dengan sasaran pengguna obyek adalah seluruh kalangan
umum, khususnya generasi muda, museum ini dapat kembali membangkitkan kenangan akan
sejarah dan Surabaya. Seperti kata pepatah, Negara yang besar adalah Negara yang menghargai
sejarahnya.
================================================================================================================
History is the root of society behavior formation. Known as the City of Heroes, Surabaya
is one of the cities in Indonesia that famous for its people struggle in defending their beloved
city in Independence period. The courage of Surabaya youth in fighting for their city should be
remembered for all time.
However, nowadays a lot of young people almost forget the history of their own city.
Even,not many of them know about the origin of the city where they live. This matter partly
influenced by the unavailability of a place that holds information about the history of Surabaya.
Therefore, the existence of Surabaya Museum of History and Culture can be the answer to this
problem. Carrying recreational, informative, and educational concept,this museum provide a
different exhibition atmosphere from other museums. With Chameleon as a design theme, the
museum is trying to disguise itself with the city where it is, which is Surabaya. The exhibition
atmosphere that conceptualized with a thematic exhibition is expected to keep the museum
from being shabby and creepy. By targeting general public, especially the younger generation as
the object user, this museum can bring back the memory of the history of Surabaya. As the
saying goes, a great country is the country that respects its history
SOUL DEVICE (CIPTA KARYA TARI PROSES PENCARIAN JATI DIRI MELALUI PENGGAMBARAN WATAK MANUSIA BERDASARKAN SEDULUR PAPAT LIMO PANCER)
ABSTRAK Pratiwi, Ika. 2015. Soul Device Proses Pencarian Jati Diri melalui Penggambaran Watak Manusia berdasarkan Sedulur Papat Limo Pancer. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik, Jurusan Seni dan Eksplorasi Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Robby Hidajat, M.Sn, (II) Tri Wahyuningtyas, S.Pd.,M.Si Kata Kunci: karya tari, soul device, jatidiri, dan sedulur papat limo pancer. Kiblat papat lima pancer sebagai falsafah Jawa merupakan salah satu perwujudan konsep mandala. Pandangan ini disebut juga “dunia waktu, artinya penggolongan empat dimensi ruang yang berpola empat penjuru mata angin dengan satu pusat. Hal ini berkaitan dengan kesadaran manusia akan hubungan yang tidak terpisahkan antara dirinya dengan alam semesta. Konsep ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia terlahir dengan membawa hawa nafsu yang bersumber dari dirinya sendiri. Proses koreografi terdapat empat tahap yakni, eksplorasi, eksperimentasi, forming, composing. Eksplorasi adalah pengamatan dan penyerapan suatu obyek, melalui eksplorasi maka akan didapatkan sumber ide yang akan dituangkan kedalam gerak maupun tema didalam koreografinya. Eksperimentasi yaitu tahap mencoba, menerapkan, merefleksikan, menuangkan dan menciptakan hasil eksplorasi ke dalam suatu gerak maupun alur. Forming yaitu tahap mempertimbangkan kebutuhan maupun hal lain dianggap perlu kemudian dibentuk berdasarkan pada pola-pola, baik pola lantai, level, dan lain sebagainya. Composing adalah penggabungkan dari seluruh tahapan koreografi terdahulu, dengan tahap peramuan ini maka pada dasarnya proses koreografi adalah proses perancangan (penciptaan desain tari). Pada karya ini, bentuk penggarapannya berupa tari kreasi dengan beberapa gerak tradisional dan gerak kontemporer. Karya tari ini memiliki alur cerita sehingga bertipe dramatik. Dengan 5 penari sebagai pertimbangan 2 penari laki-laki dan 3 penari perempuan. Musik yang mengiringi berupa musik kreasi yang berfungsi sebagai ilustrasi untuk memperkuat alur cerita dan memberi suasana, kemudian berfungsi sebagai pengiring gerak tari dan berfungsi sebagai penegas gerak. Selain berupa musik kreasi juga terdapat tembangan yang mengiring yaitu jenis tembang-tembang jawa. Karya ini dipagelarkan dan didokumentasi sebagai bahan apresiasi dan pengetahuan tentang proses penjacian jati diri manusia menuju tuhannya. Penyajian karya tari ini merupakan gabungan dari mode penyajian simbolis (non representasional) dan mode penyajian representasional. Pementasan karya tari kelompok ini, panggung yang digunakan adalah panggung Prosenium. Kegiatan penelusuran yang dilakukan pencipta dapat diangkat menjadi sebuah karya tari dengan melihat rangkaian kegiatan, peralatan, dan busananya. Peneliti berharap untuk mahasiswa program studi pendidikan seni tari dan musik dapat mengembangkan tarian soul device menjadi karya seni tari. Sehingga dapat melestarikan budaya bangsa. ABSTRACT Pratiwi, Ika. 2015. Soul Device Search Process Identity Through the depiction of Human Character Based Sedulur Papat Limo Pancer. Skripsi, Study Departemen Art Dance And Music Education. Faculty Of Letters, The Learning Of University. Advisor: (I) Dr. Robby Hidajat, M.Sn, (II) Tri Wahyuningtyas, S.Pd.,M.Si. Keyword : dance, soul device, identity, and sedulur papat limo pancer. Kiblat papat lima pancer as the philosophy of Java is one embodiment of the concept of mandala. This view is also called the "world time", meaning that the classification of four-dimensional space that patterned the four winds by the center. This relates to human consciousness inseparable relationship between himself and the universe. This concept basically states that humans are born with a passion that comes from himself. In the process of choreography going on four stages namely, exploration, experimentation, forming, composing. Exploration is an object of observation and absorption, through exploration it will get a source of ideas that will be poured into motion as well as a theme in his choreography. Experimentation is the stage of trying, implement, reflect, pouring and creating exploration results into a movement and groove. Forming is the stage of considering the needs and anything else deemed necessary then established based on the patterns, good floor patterns, levels, and so forth. Composing or peramuan is the merging of all phases of the previous choreography, the stage is then basically peramuan choreography process is the design process (design creation dance). At this work penggarapannya forms such as dance creations with some of the traditional movement and contemporary movement. This dance work has a dramatic storyline that type. With 5 dancers as consideration two male dancers and three female dancers. The music that accompanies the form of musical creations that serve as illustrations to reinforce the storyline and provide an atmosphere, then serves as a dance accompanist and serves as a confirmation of motion. In addition there is also a form of music creation that mengiring tembangan that kind of song-songs Java. This work dipagelarkan and documented as a material appreciation and knowledge about the process of human identity penjacian headed god. Presentation of the dance work is a combination of symbolic presentation mode (non-representational) and representational presentation mode. Performance of this group dance, the stage is used proscenium stage. Dancers use stage makeup, fashion, and properties that are tailored to the theme. Search activities undertaken creator can be lifted into a dance work by looking at a series of activities, equipment, and clothing. Researchers hope to students of dance and music education can develop a soul dance dance device into works of art. So as to preserve the national culture. This dance work will be documented in a video to be used as public appreciation and students who majored in dance
STRATEGI GURU DALAM PEMBELAJARAN APRESIASI DAN ESKPRESI PADA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA BIDANG STUDI SENI TARI DI SMA NEGERI 1 KERTOSONO NGANJUK
ABSTRAK Pratiwi, Agustina Catur. 2013. Strategi Guru Dalam Pembelajaran Apresiasi dan Ekspresi Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Bidang Studi Seni Tari Di SMA Negeri 1 Kertosono Nganjuk. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Ida Siti Herawati, M.Pd, (II)Tri Wahyuningtyas, S.Pd, M.Si Kata Kunci: strategi pembelajaran, apresiasi dan ekspresi, bidang studi seni tari Berdasarkan analisis awal di SMA Negeri 1 Kertosono, prestasi yang diperoleh pada bidang studi seni tari membanggakan terbukti dengan diraihnya juara pada setiap festival tari tingkat kabupaten maupun propinsi. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Guru menggunakan metode yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa. interaksi antara guru dan siswa terjalin dengan komunikatif. Siswa antusias memperhatikan arahan guru. Karena keberhasilan guru dalam pembelajaran tersebut, maka peneliti ingin meneliti strategi yang digunakan guru dalam pembelajaran apresiasi dan ekspresi seni tari. Penelitian dilaksanakan dengan tujuan (1) mendeskripsikan strategi pembelajaran apresiasi seni tari di SMA Negeri 1 Kertosono, dan (2) mendeskripsikan strategi pembelajaran ekspresi seni tari di SMA Negeri 1 Kertosono. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang diperoleh berupa hasil wawancara, hasil observasi dan perangkat pembelajaran dari guru seni tari. Lokasi penelitian di SMA Negeri 1 Kertosono. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi langsung, wawancara, dan studi dokumen. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi, catatan lapangan, lembar wawancara. Sumber data guru seni tari. Untuk mengetahui keabsahan data, dilakukan trianggulasi data, model analisis content. Kegiatan analisa data dimulai dari reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan. Kesimpulan penelitian yang pertama, guru menerapkan strategi Contextual Teaching Learning (CTL) pada pembelajaran apresiasi, mengarah pada model akademik dengan materi tari nusantara, multi metode, interaksi multiarah, serta menggunakan media pandang dan dengar. Kedua, pada materi ekspresi guru menggunakan strategi Contextual Teaching Learning (CTL), yang lebih mengarah ke model progresif. Materi ekspresi yang diajarkan berkarya tari berdasarkan pada tarian nusantara, menggunakan multi metode, interaksi multi arah, dan media dengar. Strategi yang diterapkan guru telah menghantar SMA Negeri 1 Kertosono berprestasi di bidang seni tari. Hal itu dikarenakan guru dengan terampil menerapkan ketrampilan dasar mengajar didalam proses pembelajaran apresiasi maupun ekspresi seni tari. Saran yang diberikan, hendaknya guru mempertahankan strategi pembelajaran yang diterapkan agar dapat mempertahankan bahkan memperoleh prestasi yang lebih lagi di bidang seni tari. Penggunaan multi metode lebih ditingkatkan agar hasil belajar maksimal dan prestasi meningkat. Pada guru seni tari di kabupaten Nganjuk disarankan untuk banyak belajar pada guru seni tari SMAN 1 Kertosono agar mengusai ketrampilan mengajar yang optimal.
PENGARUH TANGGUNG JAWAB SOSIAL, DIMENSI-DIMENSINYA, DAN LEVERAGE TERHADAP AGRESIVITAS PAJAK (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan masuk ke dalam kategori LQ45 Tahun 2014-2017)
This study aims to examine the effect of social responsibility, dimensions, and leverage on corporate tax aggressiveness. This research uses social responsibility and its dimensions such as social, governance, economy, and environment, and one of the characteristics of the company is leverage as an independent variable. While the dependent variable of this study is tax aggressiveness. In addition, there are several control variables used in this study such as size, ROA, and capital intensity.
The sample of this study are companies listed on the Indonesia Stock Exchange and included in the LQ 45 category in 2014-2017. The sample was chosen using the random sampling method, so the number of samples obtained was 43 companies. The data analysis method used in this study is multiple regression analysis.The results showed that in the first regression model, social responsibility had a significant influence on tax aggressiveness, while leverage had no significant effect on tax aggressiveness. The second regression model shows that social and economic dimensions of social responsibility, as well as leverage have a significant effect on tax aggressiveness.
The results of the study show that in the first regression model, social responsibility and leverage have a significant effect on tax aggressiveness. Whereas, in the second regression model shows that the social and economic dimensions of social responsibility, and leverage have a significant effect on tax aggressiveness
Kesenian Bantengan Malang: Memahami Makna Simbolis sebagai Kajian Budaya Lokal
Kota Malang merupakan kota yang terkenal dengan kota pendidikan, pariwisata, maupun kebudayaan yang beragam. Salah satu kebudayaan yang saat ini berkembang di kota Malang adalah kesenian pertunjukan Bantengan. Seni pertunjukan ini pada umumnya menggabungkan seni musik gamelan dan tarian silat yang memiliki makna simbolik dan biasanya diakhiri dengan kesurupan (trance). Saat ini, masyarakat di daerah Kidal Tumpang Kabupaten Malang dihebohkan dengan adanya eksistensi Kesenian Bantengan di mana banyak sanggar yang mempertontonkan pertunjukan ini sehingga banyak pertunjukan yang berkreasi dan meninggalkan aturan yang ada. Berdasarkan persoalan tersebut penulis memiliki tujuan untuk melestarikan budaya lokal dengan mengkaji makna simbolik yang ada dalam kesenian ini dengan upaya mempertahankan aturan yang ada sehingga kesenian ini tetap sakral dan terjaga. Untuk terwujudnya tujuan tersebut maka penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui sumber primer observasi wawancara dan sekunder melalui media cetak maupun online. Penulis juga menggunakan metode pendekatan semiotika oleh C.S Pierce. Makna simbolik yang ada meliputi simbol-simbol dari atribut utama yakni topeng kepala banteng sampai prosesi puncaknya yakni kesurupan (keranjingan). Simbol tersebut memiliki makna utama yakni sebagai sarana pengajaran nilai moral dan spiritual bagi masyarakat yang perlu diketahui dan diteladani. The Bantengan Performance in Malang: Interpreting Symbolic Meanings in the Context of Local Cultural Studies ABSTRACTMalang is a city known for its diverse education, tourism and culture. One of the cultures that is currently developing in Malang is the Bantengan performance art. According to this performance art generally combines gamelan music and martial arts dances that have symbolic meanings and usually end with trance. Currently, the community in the Kidal Tumpang area of Malang Regency is excited by the existence of Bantengan art where there are so many studios that perform this performance that many performances are creative and leave the existing rules. Based on this problem, the author aims to preserve local culture by examining the symbolic meaning in this art with an effort to maintain existing rules so that this art remains sacred and maintained. To realize this goal, the author uses a descriptive skin approach method through primary sources of observation interviews and secondary through print and online media. The author also uses the semiotic approach method by C.S Pierce. The existing symbolic meaning includes symbols from the main attribute, namely the bull's head mask to the peak procession, namely trance (keranjingan). The simbol has the main meaning as a means of teaching moral and spiritual values for the community that need to be known and emulated.
The Influence of Organizational Culture and Career Development Opportunities on the Job Satisfaction of dr. Tjitrowardojo Class B Purworejo
The existence of Human Resources (HR) is very important in achieving organizational goals, so good HR management, including paying attention to job satisfaction, is crucial. At dr. Tjitrowardojo Class B Purworejo, job satisfaction will be created by implementing a good organizational culture and adequate career development opportunities. This research aims to determine the influence of organizational culture and career development opportunities on employee job satisfaction at the RSUD. The method used is quantitative with data collection techniques through questionnaires filled out by 167 civil servant employees. The sampling technique used is probability sampling with simple random sampling, and data analysis using SEM-PLS. The research results show that organizational culture and career development opportunities have a positive and significant influence on employee job satisfaction. The author suggests that hospitals continue to pay attention to employee job satisfaction by optimizing the application of organizational cultural values and career development through transparency of employee points, dissemination of career information, and ease of career advancement systems
ANALISIS KELAYAKAN PEMBERIAN KREDIT DENGAN MENGGUNAKAN KRITERIA 5C UNTUK MENGATASI KREDIT MACET
Jika membutuhkan abstrak atau isi jurnal silahkan menghubungi author melalui email [email protected], [email protected], [email protected] Terima kasih  Â
Peran Jesuit Refugee Service (JRS) Dalam Penanganan Pengungsi di Indonesia
Dinamika geopolitik yang fluktuatif mendorong kompleksitas gelombang pengungsi sebagai isu global menjadi penting ditangani dengan aksi kolektif. Posisi Indonesia yang yang tidak meratifikasi Konvensi Status Pengungsi tahun 1951 ternyata tetap menjadi 'rumah' bagi sekitar 13.743 pengungsi lintas batas negara. Pengungsi kehilangan hak-hak dasar mereka karena status yang melekat. Penelitian ini menyoroti peran dan kontribusi aktor non-pemerintah (NGO) dalam upaya mendukung penanganan pengungsi di Indonesia sejalan dengan pemikiran kosmopolitanisme. Penggunaan konsep belas kasih atau sosial compassion juga hadir sebagai implementasi pandangan sosial yang diwujudkan dengan hubungan antara penderita (pengungsi) dan bukan penderita dalam bentuk aksi solidaritas di tengah ketidakpastian dan ketiadaan hukum. Metode pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan hubungan sebab akibat dari suatu fenomena sosial. Penulis menggunakan studi kasus untuk mendeskripsikan masalah dengan melalui triangulasi data. Penelitian ini menemukan JRS sebagai NGO dan mitra dari Organisasi Internasional dan pemerintah berperan dalam mendukung penanganan pengungsi di Indonesia dengan merealisasikan hak-hak dasar pengungsi. Penulis memfokuskan pada penyediaan akses pendidikan dari JRS dengan merangkul RLN organisasi berbasis komunitas melalui program pendampingan hak dasar pengungsi, pelatihan rutin dan penyediaan ruang kelas./ The fluctuating geopolitical dynamics has pushed the complexity of the refugee wave as a global issue to become an important issue to be addressed with collective action. Indonesia's position which did not ratify the Convention on the Status of Refugees in 1951 turned out to be a 'home' for around k refugees across national borders. Refugees lose their basic rights because of their inherent status. This study highlights the role and contribution of non-governmental actors (NGOs) in supporting the handling of refugees in Indonesia related to cosmopolitanism. The use of the concept of compassion or social compassion is also present as an implementation of social views that are realized by the relationship between sufferers (refugees) and non-affected people in the form of solidarity actions in the midst of uncertainty and the absence of law. The qualitative approach method is used in this study to explain the causal relationship of a social phenomenon. The author uses a case study to describe the problem through triangulation of data. This study found that JRS as an NGO and partner of international organizations and the government played a role in supporting the handling of refugees in Indonesia by realizing the basic rights of refugees. The author focuses on providing access to education from JRS by embracing RLN community-based organizations through assistance for basic rights of refugees, routine training and provision of classrooms
