35 research outputs found
Efektivitas dan Keamanan Furosemid Continuous Infusion Dosis 10 dan 20 mg/jam pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Kondisi Fluid Overload Syndrome disertai Hipoalbumin di RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Furosemide continuous infusion is the first choice drug in overcoming the condition of Fluid overload syndrome with hypoalbuminemia in patients with Chronic Kidney Disease (CKD). However, in these conditions, the dose of furosemide used by clinicians is between 10 and 20 mg/hour. No studies have compared the effectiveness and safety of different doses of furosemide. This study aimed to evaluate the effectiveness and safety of 10 and 20 mg/hour furosemide given in continuous infusion in CKD patients with fluid overload syndrome with hypoalbuminemia. The method is a Single-blind, Randomized Clinical Trial conducted during the period of February-April 2017 in the inpatient ward of Abdul Wahab Sjahranie Hospital. Data processing was carried out by statistical analysis, Two Independent T-Test parametric test for data that normally distributed and those that did not correlate with each other, whereas for data that not normally distributed and those that did not correlate with each other, non-parametric test Mann Whitney and Wilcoxon were used. Outcomes studies were 24-hour urine volume, shortness of breath, duration of oxygen consumption, Ronchi and safety of therapy seen from drug side effects (hypotension, hyperuricemia, hyperglycemia, hyponatremia, hypokalemia). The results of the study, 34 patients with CKD with fluid overload syndrome with hypoalbuminemia (2.5-3.0 g/dL) were registered. On the effectiveness of therapy, there was no significant difference in 24-hour urine volume (P = 0.324; P> 0.05; 95%; CI=714.6-1017.8 ml group 1; CI=818.0-1113.2 ml group 2), shortness of breath (P = 0.781; P> 0.05; 95 % CI=0.68-1.32 group 1; CI=0.72-1.40 group 2), duration of oxygen use (P = 0.363; P> 0.05; 95% CI=1.34-2.66 day group 1; CI=1.72-3.10 day group 2), Ronk (P = 0.692; P> 0.05 ) and the absence of drug adverse events (P = 1.000; P> 0.05) between the two groups. In conclusion, the dose of 10 and 20 mg/hour furosemide has the sam
Paper Sludge Application To Upgrade Quality of Tailing.
Tailings are materials discarded after separating valuable materials from not valuable in ore mining. Sludge is mud come from the waste water treatment process. Based on referrals from previous research, sludge of paper mill can be used as a soil ameliorant, it was significant in reducing levels of heavy metals and in improving pH, CEC, and nutrient availability of ex -coal mining soil. Therefore the use of sludge is also expected to improve the quality of the tailings. The study aims to apply of paper mills to improve properties of gold tailings. Analyses were performed at the Laboratory of Chemistry and Soil Fertility, and the Laboratory of Soil and Water Conservation, Department of Soil Science and Land Resources, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University. This study used two type s of tailing namely tailing dump and tailing pond, and one type of sludge that is the paper industry sludge. According to the research has been done before, the concentration of sludge that gave significant impact impact way 25% and 50% (v/v). Therefore, the usage for each of the sludge using two different concentra tion levels of 25% and 50% (v / v). The results showed that the additi on of sludge in the tailings increased levels of N-total, P-available, CEC, base saturation, and aggregate stability. The addition of sludge by 50% is the most effecti ve dose to improve the chemical and physical properties of tailings.Tailing adalah bahan-bahan yang dibuang setelah proses pemisahan material berharga dari material yang tidak berharga dari suatu proses penambangan bijih. Sludge adalah lumpur yang mengendap dari proses pengolahan limbah cair. Berdasarkan rujukan dari penelitian s ebelumnya, bahwa sludge limbah kertas dapat digunakan sebagai agen pembenah tanah karena dapat memperbaiki pH, KTK, dan ketersediaan unsur hara makro tanah tambang batu bara. Penelitian bertujuan untuk menguji apakah sludge dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas tailing emas, dan mendapatkan dosis yang paling efektif untuk meningkatkan kualitas tailing . Analisis dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, dan Laboratorium Konservasi Tanah dan Air, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini menggunakan dua jenis tailing yaitu tailing d ump dan tailing pond, serta satu jenis sludge yaitu sludge industri kertas. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, konsentrasi sludge yang memberikan pengaruh yang nyata adalah 25% dan 50% (v/v). Oleh karena itu, penggunaan untuk masing - masing sludge menggunakan dua tingkat konsentrasi yang berbeda yaitu 25% dan 50% (v/v). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan sludge pada tailing mampu meningkatkan kadar N-total, P-tersedia, KTK, Kejenuhan Basa, dan meningkatkan kemantapan agregat. Penambahan sludge sebanyak 50% merupakan dosis yang paling efektif untuk memperbaiki sifat kimia dan fis ik tailing
Efektivitas Profilaksis Primer Filgrastim Pada Pasien Kanker Payudara terhadap Insiden Neutropenia
Kejadian febrile neutropenia menyebabkan penundaan jadwal kemoterapi, penurunan dosis kemoterapi, bahkan dapat menghentikan proses kemoterapi yang harus dijalani. Hal ini dapat berakibat pada penurunan tingkat keberhasilan terapi pada pasien kanker payudara. Kejadian neutropenia dapat dicegah dengan pemberian profilaksis primer granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF), seperti filgrastim. Pemberian filgrastim dapat mengurangi risiko terjadinya febrile neutropenia, perawatan di Rumah Sakit, dan kematian pada pasien kanker payudara. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis efektivitas pemberian profilaksis filgrastim primer pada pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan rancang bangun prospective cohort study. Sampel yang digunakan yaitu 87 pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi. Variabel yang diteliti adalah insiden neutropenia dan faktor risiko yang menyebabkan neutropenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang berpengaruh secara langsung terhadap insiden neutropenia adalah usia (p = 0,000), luas permukaan tubuh (p = 0,037), jenis kemoterapi (p = 0,000), siklus kemoterapi (p = 0,000), dan regimen kemoterapi (p = 0,000). Adanya profilaksis filgrastim primer efektif dalam menurunkan insiden neutropenia
UJI . aktlvitas senyawa anti plasmodium darl fungi endofit tanaman Artemisia annua L. , Testing of anti plasmodium activity substance from endophytic fungus of Artemisia annua L.
Malaria adalah penyakit yang disebabkan paraslt Plasmodium yang banyak mengancam kehidupan manusia. Penyebaran begltu cepat dari alaria yang resisten terhadap obat golongan kulnolin mendorong pencarian anti malaria baru. Tanaman Artemisia annua L. yang mengandung metabolit sekunder artemisinin sudah sejak lama digunakan untuk mengobati malaria. Salah satu sumber senyawa bloaktif adalah fungi endofit, yang juga mampu menghasilkan metabolit yang sama atau mirip dengan tanaman Inangnya. Hasil kromatografi lapis tipis menunjukkan bahwa fungi endofit A. annua juga mengandung metabolit yang mirip dengan artemlsinin. Metabolit inl tldak disekreslkan ke dalam media fermentasi tetapi tersimpan dlidalam miselia fungi. Hasil uji penghambatan polimerisasi hem menunjukkan bahwa metabolit tersebut mempunyai aktlvitas penghambatan polimerisasi hem. Ekstrak etil asetat miselia fungi A, E dan F mempunyai nilai ICso terhadap penghambatan polimerisasi hem berturut-turut sebesar 0,824 ± 2,89 µM0,8 61± 2,43 µM dan 1,394 ±3,73 µM
PEMANFAATAN SLUDGE INDUSTRI PULP DAN KERTAS UNTUK AMELIORASI TANAH TAILING TAMBANG EMAS
Mine tailings generally have low fertility, and also high concentration of metals. Amelioration with soil organic is one of proper efforts. Sludge of pulp and paper mills can be an alternative of soil organic source. This research is aimed to improve chemical properties of mine tailing. The study was conducted in randomized completely design with dosages of 25 and 50% of tailing added into tailing pond and tailing dump. Observation of N, P, K, pH and CEC were conducted in the days of 0, 5, 10 and 15 after incubation, whereas the content of S, Pb, Cd, Cu, Fe and CN were measured in the days of 0, 7 and 15 after incubation. The result showed that sludge in dosage 50% was the most effective in improving the properties of the tailings in 15 days after incubation. Efficiency of improvements were, 2,414% for N tailing dump and 3,243% for N tailing pond; P (>440%), CEC (>150%); The dosage of 50% as well as reduce the content of S (82%), Fe (63%), Cu (73%), Cd (90%), Pb (53%), and cyanide (99%), respectively. This research suggested that slude of paper mills is effective to improve mine tailing properties.Keywords: amelioration, mine tailing, pulp and paper mills sludge ABSTRAK Tailing tambang umumnya memiliki kandungan unsur-unsur hara yang rendah atau sifat kimia tanah yang buruk dan mengandung logam-logam yang berbahaya bagi lingkungan. Oleh karena itu, ameliorasi timbunan tailing dengan bahan organik merupakan salah satu upaya yang tepat. Sludge industri kertas merupakan salah satu sumber bahan organik yang dapat dijadikan amelioran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji apakah sludge industri pulp dan kertas dapat memperbaiki sifat-sifat kimia tanah timbunan tailing bekas tambang emas. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan dasar acak lengkap secara faktorial, dengan perlakuan penambahan 25 dan 50% sludge ke dalam tailing pond dan tailing dump, berturut-turut sebagai faktor pertama dan kedua. Parameter-parameter yang diamati meliputi ketersediaan N, P, K, pH, KTK dilakukan pada hari ke 0, 5, 10 dan 15 serta ketersediaan S, Pb, Cd, Cu, Fe, CN pada hari ke 0, 7 dan 15 setelah inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sludge dengan dosis 50% efektif memperbaiki sifat-sifat kimia tailing dengan waktu inkubasi 15 hari. Dosis tersebut dapat meningkatkan ketersediaan N dengan efisiensi 2,414% untuk tailing dump dan 3,243% untuk tailing pond, meningkatkan ketersediaan P lebih dari 440%, dan meningkatkan KTK lebih dari 150%. Dosis tersebut juga efektif dalam menurunkan ketersediaan S (82%), Fe (63%), Cu (73%), Cd (90%), Pb (53%) dan menurunkan ketersediaan sianida sebesar 99%.Kata kunci: ameliorasi, sludge industri pulp dan kertas, tailing tambang </jats:p
The Incidence and Risk Factor Analysis of Drug Induced Liver Injury (Dili) in a Surabaya Hospital
The research has been conducted on the incident and analysis of risk factors drug liver injury (DILI) in a Surabaya Hospital. The aim of this study was to determine the incident of DILI, know which drugs cause DILI, and see the association of risk factors to DILI. The research method was descriptive and analytical observational (prospective cohort). Danan-Benichou scale is a tool used to ascertain drugs that cause DILI. Based on data collected for 3 months, the population was 1202 patients. Samples fulfilling the inclusion and exclusion criteria were 310 patients, the risk drug group of DILI were 285 patients (11 DILI, 274 Non-DILI), and the non-risk drug group 25 patients (11 DILI, 14 Non-DILI). The incident of DILI was 3.55%. Drugs that cause DILI are ranitidine (4 cases), omeprazole (1 case), rifampicin (2 cases), meropenem (1 case), ciprofloxacin (1 case), methotrexate (1 case), and dexamethasone (1 case). Characteristic of patients with DILI (11 patients) are average age of 59.27 ± 15.54 years (23-73 years), belonging to high risk group (54.55%), male gender (81,82%), have moderate comorbid disease (54.55%), and are not comsumsing alcohol (100%). This research use logistic regression analysis through SPSS 17.0 program to see the relation of risk factor to DILI incident. The p results were obtained from sex (0,156), age (0,534), and comorbid isease (0,213)> α (0,05) which means gender, age, and comorbid disease do not significantly affect the incident of DILI
Efektivitas Profilaksis Primer Filgrastim Pada Pasien Kanker Payudara terhadap Insiden Neutropenia
Kejadian febrile neutropenia menyebabkan penundaan jadwal
kemoterapi, penurunan dosis kemoterapi, bahkan dapat menghentikan proses kemoterapi yang harus dijalani. Hal ini dapat berakibat pada penurunan tingkat keberhasilan terapi pada pasien kanker payudara. Kejadian neutropenia dapat dicegah dengan pemberian profilaksis primer Granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF), seperti filgrastim. Pemberian filgrastim dapat mengurangi risiko
terjadinya febrile neutropenia, perawatan di Rumah Sakit, dan kematian pada pasien kanker payudara. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis efektivitas pemberian profilaksis filgrastim primer pada pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan rancang bangun prospective cohort
study. Sampel yang digunakan yaitu 87 pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi. Variabel yang diteliti adalah insiden neutropenia dan faktor risiko yang menyebabkan neutropenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang berpengaruh secara langsung terhadap insiden neutropenia adalah usia (p = 0,000), luas permukaan tubuh (p = 0,037), jenis
kemoterapi (p = 0,000), siklus kemoterapi (p = 0,000), dan regimen kemoterapi (p=0,000). Adanya profilaksis filgrastim primer efektif dalam menurunkan insiden neutropenia
PENGARUH FERMENTASI LIMBAH BERLIGNOSELULOSA 'I'INGGI DENGAN ISI RUMEN TERHADAP KADAR VFA TOTAL DAN KECERNAAN
The main problems on beef cattle development in Indonesia, specially, Central Java is quality, quantity and continuity of roughage's production. One of the solution is improving the quality of highly lignocellulose waste product, mainly, rice straw and sugar cane top.
The objebtive of the experiment was to determine the effect of rumen content fermentation on highly lignocellulose waste product by measuring its physical changes, total VFA concentration, and dry and organic matter digestibility (in vitro).
A Completely Randomized Design with 2 x 3 x 3 factorial, 3 replications was used throughout the experiments. The first factor was highly lignocellulose waste product (L1=rice straw and L2=sugar cane top), the second factor was fermentation time (F1, F2, and F3 were 2, 4, and 6 weeks, respectively). Level of rumen contents was the third factor (Al, A2, and A3 were 5, 10, and 15% dry matter, respectively).
The results showed that during 6 weeks of fermentation good performance of treated highly lignocellulose waste products were obtained i.e. : a light to dark brown color, no off odorous, no clumping, less than 5% fungi and a pH among 4 - 5,17. Statistical analysis revealed the significant effect of treatments, F and A (P<0.01), and also shown interaction effect LF, FA and LFA (P<0.01) on total VFA concentration. Dry matter digestibility (in vitro) was affected by treatment L (P<0.05), and F (P<0.01). Treatment J and F significantly effected organic matter digestibility (P<0.01), but there was no interaction.
Treatment's F and A showed physical characteristics very similar to the natural highly lignocelllulose waste product, improved total VFA concentration and effected in vitro digestibility fermentation product of both rice straw and sugar cane top.
It could be concluded that 10 - 15% DM rumen content and 4 week's fermentation could be used to improve the quality of highly lignocellulose waste product (rice straw and sugar cane top).
Masalah utama dari segi pakan bagi pengembangan peternakan di Indonesia khususnya di Jawa Tengah adalah kualitas, kuantitas dan kontinyuitas penyediaan hijauan pakan. Salah satu alternatif adalah pemanfaatan limbah pertanian berlignoselulosa tinggi antara lain jerami padi dan pucuk tebu dengan cara meningkatkan kualitasnya.
Penelitian ini bertujuan mengkaji sifat phisik , kadar VFA Total dan kecernaan (in vitro) produk fermentasi limbah berlignoselulosa tinggi dengan isi rumen untuk menghasilkan pakan murah yang cukup berkualitas serta dapat mengurangi pencemaran.
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 2 x 3 x 3 , 3 ulangan. Faktor pertama jenis limbah berlignoselulosa tinggi (L) : Jerami padi dan pucuk tebu, faktor kedua lama fermentasi (F) : 2, 4 dan 6 minggu dan faktor ketiga aras isi rumen (A): 5, 10 dan 15% BK,
Flash penelitian menunjukkan bahwa produk fermentasi mencirikan bau khas silase. Uji phisik ( warna, bau, tekstur dan jamur) produk fermentasi sampai lama fermentasi 6 minggu cukup balk. Skore rata-rata uji phisik secara keseluruhan menunjukkan bahwa skore jerami padi lebih tinggi daripada pucuk tabu. Analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap kadar WA Total dipengaruhi oleh perlakuan lama fermentasi dan aras isi rumen (P<0,01), dan terdapat interaksi antara LF, FA dan LFA (P<0,01). Kadar WA Total tertinggi dicapai oleh perlakuan lama fermentasi 6 minggu dan aras isi rumen 15% balk pada jerami padi maupun pucuk tebu masing-masing sebesar 90,17 dan 87,32 mM. Kecernaan Bahan kering (KCBK) dipengaruhi oleh macam limbah (P<0,05) dan lama fermentasi (P<0,01), sedangkan Kecernaan Bahan Organik (KCBO) dipengaruhi macam limbah dan lama fermentasi (P<0,01) serta tidak terdapat interaksi antar perlakuan. Kecernaan tertinggi (KCBK dan KCBO) pada jerami padi dicapai pada lama fermentasi 6 minggu dan aras isi rumen 15% sedangkan pada pucuk tebu pada lama fermentasi 6 minggu dan aras isi rumen 5%.
Lama fermentasi dan aras isi rumen memberikan basil secara phisik hampir sama dengan bahan aslinya, meningkatkan kadar VFA Total dan mempengaruhi kecernaan in vitro (KCBK dan KCBO) produk fermentasi balk jerami padi maupun pucuk tebu. Peningkatan kualitas limbah berlignoselulosa tinggi (jerami padi dan pucuk tebu) disarankan melalui fermentasi limbah tersebut dengan isi rumen 10 -15 %BK limbah dan lama fermentasi minimal 4 minggu
Hubungan Peran Kader Kesehatan Jiwa dengan Tingkat Kunjungan Pasien Gangguan Jiwa di Wilayah Kerja Puskesmas Galur II Kulon Progo Yogyakarta
Latar Belakang: Kunjungan pasien gangguan jiwa yang rutin dapat\ud
mempengaruhi kesembuhan pasien gangguan jiwa dengan kunjungan rutin\ud
pasien dapat terhindar dari kekambuhan.\ud
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan peran kader kesehatan jiwa dengan\ud
tingkat kunjungan pasien gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Galur II\ud
Kulon Progo Yogyakarta.\ud
Metode penelitian: Desain yang digunakan adalah studi korelasional dengan\ud
pendekatan crosssectional. Cara pengambilan sampel yaitu dengan cara\ud
purposive sampling yaitu 32 pasien. Analisis data menggunakan rumus Kendall\ud
Tau.\ud
Hasil: Hasil Uji analisis dengan Kendall Tau didapatkan nilai yang signifikan p\ud
sebesar 0,031 (<0,05) dan nilai ? sebesar 0,356. Sebagian besar pasien menilai\ud
peran kader dalam kategori baik sebanyak 17 pasien (53,1%) dan tingkat\ud
kunjungan pasien dalam kategori rutin sebanyak 18 pasien (56,3%).\ud
Kesimpulan: Ada hubungan antara peran kader kesehatan jiwa dengan tingkat\ud
kunjungan pasien gangguan jiwa dengan nilai signifikan p < 0,05 yaitu 0,031\ud
dan koefisien korelasi sebesar 0,356 sehingga dinyatakan keeratan hubungan\ud
yang rendah.\ud
Saran: Bagi kader diharapkan lebih aktif dalam memotivasi pasien agar mau\ud
melakukan kunjungan ke puskesmas.\ud
Kata Kunci : Peran kader kesehatan jiwa, kunjungan, pasie
Efektivitas Pemupukan Terhadap Pertumbuhan Terubusan Kilemo (Litsea Cubeba L. Persoon) Yang Dipangkas
Kilemo merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri. Bagian tanaman yang dapat diekstrak minyaknya adalah daun dan kulit kayunya. Kebutuhan pasar masih dipasok dari hutan alam dengan menebang pohon untuk diambil kulitnya. Oleh karena itu perlu peningkatan pasokan melalui budidaya. Peningkatan produksi daun dapat dilakukan melalui pemangkasan dan pemupukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemupukan terhadap pertumbuhan terubusan tanaman kilemo yang dipangkas. Pupuk organik tergranulasi buatan pabrik, pupuk daun mengandung unsur-unsur mikro, NPK (15:15:15) dan kontrol diberikan pada tanaman setelah satu bulan pemangkasan. Perlakuan diberikan dalam rancangan acak lengkap dengan jumlah unit perlakuan masing-masing 15 pohon diulang 3 kali. Untuk mengetahui respon pemupukan dilakukan penghitungan jumlah, panjang dan pendugaan total berat (produksi) terubusan terubusan pada hari ke-15, 30, 60, 90 dan 120 hari setelah pemangkasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik merupakan perlakuan yang paling efektif dalam meningkatkan jumlah, panjang dan total berat (produksi) terubusan. Pupuk organik 500 g/batang dapat meningkatkan jumlah terubusan 116%, panjang terubusan 99% serta total berat (produksi) terubusan 475% dibanding kontrol. Perlakuan ini dapat meningkatkan ketersediaan N, P, K dan P total dalam tanah. Ketersediaan unsur-unsur hara tersebut berkaitan sangat erat dalam meningkatkan jumlah, panjang dan total berat (produksi) terubusan sampai tiga bulan setelah pemupukan
