1,720,960 research outputs found
MERETAS BUDAYA MASYARAKAT BATAK TOBA DALAM CERITA SIGALEGALE
Oral art intrinsically is the tradition had bay a group of certain society. Its
existence is confessed, even very close with society group that owning it. In oral
art, its story content oftentimes lay open situation of social cultural of society
bearing it. Usually oral art contain in the form of social background picture,
culture, and artisty drawn in Sigale- Gale story.
Two focus that discussed in this research: (1) how about the story structure
and content of Sigale-Gale, (2) how the cultural concept of Batak Toba society
which there are in story of Sigale-Gale. As approach which used in this thesis
research is art antropoloy, by exploiting structural theory as structural text
analysis foundation, culture theory to analyze cultural concept of Batak Toba
society which there in Sigale-Gale story.
Result of research of Sigale-gale story indicate that Batak Toba society in
Samosir reveal that special target of life of Batak Toba society at former epoch,
that is each and everyone have a mind to reach hamoraon (properties), hagabeon
(offspring) and hasangapon (honorary). Special regarding to the target of life to
get blessinh through offspring (that hagabeon), in the view of traditional Batak
society that owning many child is importance. Batak Toba society that embracing
patrilineal consanguinity sistem , boys have important meaning in life of family.
Family which does not have boy supposed tree which do not hava root. Every boy
have obligation to manage and continue the continuity of family life.
Batak society wish the ideal death according to death custom, which goal
by every member of Batak Toba society, that is have old age, bearing to have,
grandchild and cheeping. All its clan gabe (have many clan) and maduma (secure
and prosperous life), there’s no handicap and inveigh. That death referred as
saurmatua.
Sastra lisan pada hakekatnya adalah tradisi yang dimiliki oleh sekelompok
masyarakat tertentu. Keberadaannya diakui, bahkan sangat dekat dengan
kelompok masyarakat yang memilikinya. Dalam sastra lisan, isi ceritanya
seringkali mengungkapkan keadaan sosial budaya masyarakat yang melahirkan.
Biasanya sastra lisan berisi berupa gambaran latar sosial, budaya, serta sistem
kepercayaan. Kebudayaan masyarakat Batak Toba dengan sistem patrilinealnya,
sistem kepercayaan, serta kesenian tergambar dalam cerita Sigale-gale.
Dua fokus kajian yang dibahas dalam penelitian ini adalah; (1)
bagaimanakah isi dan struktur cerita SGG, (2) bagaimanakah konsep kebudayaan
masyarakat Batak Toba yang terdapat dalam cerita SGG. Adapun pendekatan
yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah antropologi sastra, dengan
memanfaatkan teori struktural sebagai pijakan analisis struktural teks, teori
kebudayaan untuk menganalisis konsep kebudayaan masyarakat Batak Toba yang
terdapat dalam cerita SGG.
Hasil penelitian cerita SGG ini menunjukkan bahwa masyarakat Batak
Toba di Samosir mengungkapkan bahwa tujuan hidup yang utama masyarakat
Batak Toba pada zaman dahulu, yaitu setiap orang berkeinginan mencapai
hamoraon (kekayaan), hagabeon (keturunan) dan hasangapon (kehormatan).
Khusus mengenai tujuan hidup untuk mendapat berkat melalui keturunan
(hagabeon) itu, dalam pandangan masyarakat Batak tradisional bahwa memiliki
banyak anak adalah sangat penting. Bagi masyarakat Batak Toba yang menganut
sistem kekerabatan patrilineal. Anak laki-laki memiliki arti penting di dalam
kehidupan keluarga. Keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki diibaratkan
sebatang pohon yang tidak memiliki akar. Setiap anak laki-laki mempunyai
kewajiban mengurus dan meneruskan kelangsungan hidup keluarga.
Masyarakat Batak menginginkan kematian yang ideal menurut adat
kematian, yang dicita-citakan oleh setiap anggota masyarakat Batak Toba, yaitu
berusia lanjut, beranak, bercucu, bercicit, dan berbuyut. Semua keturunanannya
gabe (banyak keturunan) dan maduma (hidup sejahtera), tidak ada cacat dan
celanya. Kematian itu disebut saurmatua
Meretas Budaya Masyarakat Batak Toba dalam Cerita Sigalegale
Sastra lisan pada hakekatnya adalah tradisi yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat tertentu. Keberadaannya diakui, bahkan sangat dekat dengan kelompok masyarakat yang memilikinya. Dalam sastra lisan, isi ceritanya seringkali mengungkapkan keadaan sosial budaya masyarakat yang melahirkan. Biasanya sastra lisan berisi berupa gambaran latar sosial, budaya, serta sistem kepercayaan. Kebudayaan masyarakat Batak Toba dengan sistem patrilinealnya, sistem kepercayaan, serta kesenian tergambar dalam cerita Sigale-gale.Fokus kajian yang dibahas adalah bagaimanakah konsep kebudayaan masyarakat Batak Toba yang terdapat dalam cerita SGG. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah antropologi sastra, dengan memanfaatkan teori kebudayaan untuk menganalisis konsep kebudayaan masyarakat Batak Toba yang terdapat dalam cerita SGG.Hasil penelitian cerita SGG ini menunjukkan bahwa masyarakat Batak Toba di Samosir mengungkapkan bahwa tujuan hidup yang utama masyarakat Batak Toba pada zaman dahulu, yaitu setiap orang berkeinginan mencapai hamoraon (kekayaan), hagabeon (keturunan) dan hasangapon (kehormatan). Khusus mengenai tujuan hidup untuk mendapat berkat melalui keturunan (hagabeon) itu, dalam pandangan masyarakat Batak tradisional bahwa memiliki banyak anak adalah sangat penting. Bagi masyarakat Batak Toba yang menganut sistem kekerabatan patrilineal. Anak laki-laki memiliki arti penting di dalam kehidupan keluarga. Keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki diibaratkan sebatang pohon yang tidak memiliki akar. Setiap anak laki-laki mempunyai kewajiban mengurus dan meneruskan kelangsungan hidup keluarga. Masyarakat Batak menginginkan kematian yang ideal menurut adat kematian, yang dicita-citakan oleh setiap anggota masyarakat Batak Toba, yaitu berusia lanjut, beranak, bercucu, bercicit, dan berbuyut. Semua keturunanannya gabe (banyak keturunan) dan maduma (hidup sejahtera), tidak ada cacat dan celanya. Kematian itu disebut saurmatua.Kata kunci: Kebudayaan tradisional Batak Toba, struktural, makna buday
MENYUSURI JEJAK SYAIR DI BARUS: KAJIAN ANTROPOLOGIS
Tujuan penelitian ini untuk mengungkap keberadaan syair Hamzah Fansuri, yang namanya menggegerkan dunia Islam melalui syair-syair sufistiknya. Kapur barus tidak dapat dipisahkan dari kota kecil di Pantai Barat Pulau Sumatera yang menjadi tempat asalnya, yaitu Barus yang memiliki nama lain Fansur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, karena tujuannya mengungkap keberadaan syair Hamzah Fansuri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa syair Hamzah Fansuri pernah berkembang sekitar abad ke-XVI hingga ke-XVII, hampir sama terkenalnya dengan kisah kapur barus. Syair hamzah Fansuri sarat dengan ajaran lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik namun, keberlangsungan ajarannya sulit untuk meyakinkan orang. masyarakat Tapanuli Tengah yang mempunyai karakter sangat terbuka dengan pendatang. Sehingga banyak penduduknya dari luar, menyebabkan akutulrasi budaya hingga muncul syair baru yang berkembang hingga sekarang yaitu syair sikambang. Bergeser sedikit ke arah Barat kecamatan Manduamas berbatasan langsung dengan Kabupaten Pakpak Bharat ditemukan juga syair (odong-odong) yang dilantunkan oleh laki-laki yang sedang berada di tengah hutan
Bohong merinang : cerita rakyat dari Sumatera Utara
Ada beberapa cerita rakyat durhaka terhadap orang tua yang terdapat di Sumatra Utara di antaranya cerita rakyat Si Mardan di Tanjung Balai, Sikantan dari Labuhan Bilik, dan Sampuraga di Madina”. Ketiga cerita ini ini merupakan cerita rakyat yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai bukti sejarah pada masa lampau. Daerah Sicike-Cike, Kabupaten Dairi juga memiliki cerita anak yang durhaka terhadap ibunya. Cerita ini berjudul Bohong Merinang Durhaka terhadap Ibu. Cerita ini mengungkap seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Cerita ini banyak mengandung nilai moral dan menghormati orang tua. Hal tersebut dimaksudkan agar pembaca atau orang tidak boleh durhaka. Durhaka kepada orang tua akan mendatangkan malapetaka karena kena kutuk orang tua. Kegiatan penulisan cerita rakyat ini diharapkan untuk terus dilakukan agar masyarakat memiliki sumber bacaan yang mengandung unsur didaktis dan budaya. Semoga buku ini memberi banyak manfaat bagi penikmatnya
SYAIR CERMIN ISLAM DALAM KAJIAN SASTRA PROFETIK
Syair Cermin Islam is a Malay oral text which contains Islamic teachings related to amar ma'ruf and nahi mungkar. This poetry text has elements of transcendence, namely going beyond human experience which is prophetic in nature. This research aims to describe the prophetic reality in the text of Syair Cermin Islam which is still relevant in today's modern world. This research uses a dynamic-structuralism (semiotic) approach and data analysis is carried out using content analysis techniques. The semiotic approach is a sign system approach. Signs in literary literature come in the form of texts, both within the text structure and outside the text structure. Of course it will contribute to the understanding of prophetic reality. The data analysis method refers to the process of determining the unit of analysis which consists of poetry text. The main findings in this research are: Firstly, prophetic reality in the aspect of meaning reconstruction and interpretation related to the transcendence of amar ma'ruf and nahi munkar, with divine awareness and longing for eternal life. Second, the prophetic reality in the liberation aspect is related to the relationship between actions and the consequences received for those actions. The essence of the findings from the analysis of the text of Syair Cermin Islam is in the form of a command to do good deeds and abandon bad deeds so that humans are safe in this world and in the afterlife
PEMELAJARAN TATA BAHASA BERBASIS TEKS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR DI KOTA MEDAN
Penelitian ini mencoba menjawab permasalahan yang dihadapi guru tentang pemelajaran tata bahasa Indonesia yang tidak terdapat pada buku pegangan siswa maupun guru. Di samping itu, siswa kesulitan dalam membedakan imbuhan di- dan kata depan di yang terdapat pada teks. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu bagaimana pemelajaran tata bahasa berbasis teks siswa sekolah dasar di Kota Medan dan bagaimana hasil belajarnya. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dan kuantitatif dengan sumber data proses kegiatan belajar mengajar yang diambil dengan cara observasi langsung dan hasil belajar siswa yang diperoleh dari hasil tes. Lokasi penelitian adalah dua sekolah yang berada di Kecamatan Medan Selayang dan Medan Johor dengan jumlah siswa sebanyak 60 orang. Pemelajaran tata bahasa berbasis teks siswa kelas V sekolah dasar di Kota Medan menciptakan sistem pemelajaran berfokus pada siswa. Siswa dituntut untuk mampu mengidentifikasi, mengklasifikasi, serta mampu menemukan permasalahan dan menjawab permasalahan dengan tuntunan guru. Guru dijadikan sebagai fasilitator dan motivator dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun nilai rata-rata hasil kegitan belajar mengajar belajar dengan menerapan model pemelajaran tata bahasa berbasis teks dengan cara belajar siswa aktif berjumlah 77,75. Nilai 77,75 dikategorikan baik.</jats:p
KEMAMPUAN APRESIASI SASTRA SISWA SMA DI KOTA MEDAN
Literary learning systems have not used the ability to appreciate literature. Many teachers who teach literature only based on knowledge about teaching and learning activities feel monotonous and boring.In the 2013 curriculum, the literature learning system is always for students to appreciate literature based on literary text. Students ability to appreciate literary works is hoped to increase due to the application of the 2013 curriculum. However, there are so many students who have not been able to do it. The purpose of this research to find out the ability to appreciate student literature.theobjectives of the research method was carried out using quantitative descriptive method with a sample of 55 students from 3 schools in Medan City. The data collection technique is done by tests. Students are asked to answer questions about short stories entitled 'JuruMasak. The test refers to the students’ ability to understand literature based on the elements of literature and understand the use of language through literary work. The results of this study indicate that the average value of students' literary appreciation amounts to 88,465 and can be said to be good. While the value of the ability to understand language through literary works the value of the average ability to understand students' language amounts to 66,465. The value of 66,465 shows the results of the ability to understand student language quite well and still need to be improve
DEDENG CERITA RAKYAT LANGKAT KAJIAN ANTROPOLOGIS
This study aims to describe the theme, setting, character, and cultural values. The object of research is a folk tale from the North Sumatra Province Language Center published in 2020. Data collection uses repeated reading and recording techniques. The data analysis technique is descriptive qualitative. The approach used is a literary anthropological approach. Research findings (1) The theme of Dedeng's story is "Forbidden Love". Because these lovers are siblings. (2) The setting of Dedeng's story has a place setting, time setting, and atmosphere setting. The setting in Dedeng's story is the island, the hut, the flower garden, the beach, the sea. The time setting in Dedeng's story is during the day. And the setting of the atmosphere in Dedeng's story is sad and touching. (3) The characters from Dedeng's story are Dedeng, Putri Bulan, Datuk Father of Putri Bulan, Mak Surgeon, Panglima Datuk Pulau Kampai, and Guards. (4) The cultural values of Dedeng's story are, his father is a descendant of Datuk and replaces his grandfather's position, sings poetry and rhymes, nobles cannot marry ordinary people, sings poetry of broken hearts, Kampai Island people who join in singing poetry as Dedeng. (5) The educational value of Dedeng's story is to work diligently and be devoted to parent
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
