77 research outputs found

    EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera Lamk) DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA TERHADAP KADAR AIR DAN KADAR PROTEIN TELUR ITIK ASIN

    No full text
    ABSTRACT M. FACHRI FATRAH (NIM. 1215140054). The level of effectiveness of Moringa leaf’s extract (Moringa oleifera lamk) with different concentrations to moisture degree and protein degree of salted duck egg, (guided by Intan Dwi Novieta and Irmayani).The aim of this study is to know the influence of Moringa leaf’s extract (Moringa oleifera Lamk) towards moisture degree and protein degree of salted duck egg. This study use completely randomized design (CRD) with 4 treatments level and 3 replications i.e. K0= without moringa leaf’s extract 0%, K1= addition of moringa leaf’s extract 10%, K2= addition of moringa leaf’s extract 20%, K3= addition of Moringa leaf’s extract 30%.The result of the study showed that by addition of moringa leaf’s extract treatment with difference concentration give a real influence (P<0,01) towards moisture degree and rough protein degree of salted duck egg. The average value of the lowest to the highest moisture degree i.e. K0 (35,67%), K2 (36,36%), K1 (38,47%)  and K3 (39,58%). The average value of the highest to the lowest rough protein degree i.e. K0 (20,60%), K2 (19,69%), K3 (19,47%) and K1 (18,98%). Based on the result of the study then the best treatment and can be recommended is the treatment K2 with 20% moringa leaf’s extract  addition.Keywords:     Moringa Leaf’s Extract, Salted Duck Egg, Moisture Degree, Protein Degre

    KUALITAS TAIWAN GRASS (PENNISETUM PURPUREUM CV. TAIWAN) PADA UMUR DEFOLIASI DAN KONSENTRASI EFFECTIVE MICROORGANISMS 4 (EM4) YANG BERBEDA

    No full text
    Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pemeliharaan Taiwan grass dan tahap penentuan kualitas Taiwan grass.  Kualitas hijauan berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan analisis proksimat meliputi kadar protein kasar, serat kasar, kalsium dan fosfor. Dilaksanakan dalam bentuk percobaan eksperimen menggunakan Rancangan Faktorial dua faktor dengan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK).  Faktor pertama yaitu adalah umur defoliasi (P) yaitu 35 hari (P1), 45 hari (P2), dan 55 hari (P3). Faktor kedua adalah konsentrasi EM4 (M) yaitu tanpa pemberian EM4 (M0), 5cc EM4 /liter air (M1), dan 10 cc EM4/liter air (M2). Hasil penelitian menunjukkan umur defoliasi yang baik dilakukan adalah pada umur  55 hari dengan konsentrasi EM4 10 cc. Pada perlakuan tersebut, kandungan protein kasar 11.42; serat kasar 29.41; kandungan Ca (0,37%) dan P (0,29%).  Interaksi antara umur defoliasi (pemotongan) dan konsentrasi EM4 tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas Taiwan Grass

    Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar Ransum Ternak Itik Mojosari (Anas platyrhynchos) dengan Penambahan Tepung Daun Talas (Colocasia esculenta L): Content of Crude Protein and Crude Fiber Rations Mojosari Ducks (Anas platyrhynchos) with the Addition of Leaf Flour Talas (Colocasia esculenta L.)

    No full text
    One alternative feed ingredient that can be used to increase crude protein content and reduce crude fiber content in rations is taro leaves. The purpose of this research is to increase the crude protein content and reduce the crude fiber content in the feed so that it can be used as a nutritional ingredient for animal feed, especially for ducks. The method used in this study was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. The treatments applied were, P0: No treatment, P1: Mixed feed + 1% taro leaf meal, P2: Mixed feed + 2% taro leaf meal, and P3: Mixed feed + 3% taro leaf meal. Based on the results of the study showing that treatment 3 was the best treatment because of the high protein content of 13.79% and the lowest crude fiber content of 11.34%, it can be concluded that the greater the capacity of adding taro leaf flour will increase the crude protein content and reduce Crude fiber content in duck rations.Salah satu bahan pakan alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kandungan protein kasar dan menurunkan kandungan serat kasar pada ransum yaitu daun talas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kandungan protein kasar dan menurunkan kandungan serat kasar dalam pakan sehingga dapat digunakan sebagai bahan nutrisi pakan untuk ternak khususnya untuk ternak itik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Adapun perlakuan yang diterapkan yaitu, P0: Tanpa Perlakuan, P1: Pakan campuran + 1% tepung daun talas, P2: Pakan campuran + 2% tepung daun talas, dan P3: Pakan campuran + 3% tepung daun talas. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 3 merupakan perlakuan terbaik karena kandungan protein yang tinggi yaitu 13,79% dan kandungan serat kasar yg terendah yaitu 11,34%, maka dapat disimpulkan bahwa semakin besar kapasitas penambahan tepung daun talas akan meningkatkan kandungan protein kasar dan menurunkan kandungan serat kasar pada ransum ternak itik

    Konsumsi dan Konversi Pakan Puyuh (Coturnix coturnix japonica) dengan PenambahanTepung Daun Pepaya (Carica papaya L.) sebagai Pakan Alternatif: Feed Consumption and Conversion of Quail (Coturnix coturnix japonica) with Additional Papaya Leaf Flour (Carica papaya L.) as Alternative Feed

    No full text
    The aim of the study was to determine the effect of adding papaya leaf meal (Carica papaya L) to quail feed on consumption and feed conversion as an alternative feed using a completely randomized design (CRD) method with four treatments and three replications. P0: No control treatment 0%. P1: Papaya leaf flour (Carica papaya L) 1% of the amount of feed. P2: Papaya leaf flour (Carica papaya L) 3% of the total feed. P3: Papaya leaf flour (Carica papaya L) 5% of the total feed. The results showed that the addition of leaf flour at different levels had no significant effect (P&gt;0.05) on consumption and feed conversion. Average feed consumption P0 (24.25%), P1 (24.13%), P2 (24.45%), P3 (24.26%), Feed Conversion P0 (2.86%), P1 (2 ,73%) P2 (2.39%) and P3 (2.14%). The best treatment is in the P3 treatment with the addition of 5% papaya leaf flour. &nbsp;Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun papaya (Caricapapaya L) pada pakan puyuh terhadap konsumsi dan konversi pakan sebagai pakanal ternatif dengan menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. P0: Tanpa perlakuan kontrol 0%. P1: Tepung daun pepaya (Carica papaya L) 1% dari jumlah pakan. P2: Tepung daun pepaya (Carica papaya L) 3% dari jumlah pakan. P3: Tepung daun pepaya (Carica papaya L) 5% dari jumlah pakan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan tepung daun pada level yang berbeda tidak berpengaruh&nbsp;nyata (P&gt;0,05) terhadap konsumsi dan konversi pakan. Rata-rata konsumsi pakan P0 (24,25%), P1 (24,13%), P2 (24,45%), P3 (24,26%), Konversi Pakan P0 (2,86%), P1 (2,73%) P2 (2,39%) dan P3 (2,14%). Adapun perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan P3 dengan penambahan tepung daun pepaya sebanyak 5

    Efektivitas Penambahan Bahan Pengenyal yang Berbeda Terhadap Nilai Organoleptik dan pH Bakso Daging Ayam Broiler

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan pengenyal yang berbeda terhadap nilai organoleptik dan pH bakso daging ayam broiler. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan dimana faktor T (konsentrasi). Adapun faktor T (konsentrasi) yaitu T1 (15 g), T2 (10 g), dan T3 (7 g)  Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pengenyal yang berbeda berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap nilai uji organoleptik daging ayam broiler. Adapun penambahan bahan pengenyal yang berbeda terhadap uji organoleptik bakso daging ayam broiler berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap uji organoleptik aroma, rasa, tekstur dan kekenyalan. Sedangkan untuk pH tidak berpengaruh nyata (P&gt;0,05) terhadap pH bakso daging ayam broiler

    Pengaruh Penambahan Agar-Agar Sebagai Bahan Pengental dengan Konsentrasi Yang Berbeda Terhadap Kualitas Daya Leleh dan Nilai Organoleptik Es Krim

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan agar-agar sebagai bahan pengental pada konsentrasi yang berbeda terhadap daya leleh dan nilai organoleptik es krim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengaruh penambahan agar-agar sebagai bahan pengental dengan konsentrasi yang berbeda terhadap kualitas daya leleh dan nilai organoleptik pada es krim, memberikan pengaruh yang sangat nyata. Rata-rata daya leleh tertinggi keterendah yaitu P3 sebesar (28,53 menit), P2 sebesar (20,05 menit), P1 sebesar (13,58 menit), dan P0 sebesar (10,40 menit). Hasil nilai uji organoleptik yaitu untuk karateristik tekstur yang paling lembut diperoleh P3 dengan rerata skor (4,4), karateristik warna yang sangat merah diperoleh P3 dengan rerata skor (4,69),  karateristik aroma  susu dan agar-agar diperoleh P3 dengan rerata skor (4,21),  karateristik rasa  yang paling manis diperoleh P3 dengan rerata skor (4,77). Dari kesimpulan hasil penelitian maka diketahui bahwa perlakuan terbaik yang dapat direkomendasikan yaitu perlakuan P3 untuk daya leleh dan nilai organoleptik es krim

    Pengaruh Penambahan Isi Rumen Sapi dan Indigofera zollingeriana terhadap Konsumsi Ransum dan Pertambahan Bobot Badan Itik Lokal

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian isi rumen dan daun indigofera terhadap konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan itik lokal. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, tiap perlakuan terdiri dari 5 ekor itik untuk perlakuan. Adapun formulasi pakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100% dedak padi tampa ada penambahan isi rumen dan daun indigofera (P0), 70% dedak padi + 20% isi rumen + 10% daun indigofera (P1), 70% dedak padi + 15% isi rumen + 15% daun indigofera (P2), 70% dedak padi + 10% isi rumen + 20% daun indigofera (P3). Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pemberian limbah rumen dan daun indigofera tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai konsumsi tetapi berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan. Adapun perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah P3 dengan penambahan isi rumen sebanyak 10% dan daun indigofera sebanya 20%

    Konsumsi dan Kecernaan Protein Kasar (Crude Protein) Ransum Ternak Kambing yang diberi Pakan Hijauan dengan Suplemen By-Product Limbah Kulit Buah dan Biji Rambutan (Nephelium Lappaceum

    No full text
    Abstract. This study aims to analyze the consumption and digestibility of crude protein fruit skin and rambutan seeds an animals feed suplements in goat rations fed forage. The study was conducted in Sidrap Regency and the Laboratory of Animal Feed chemistery, Fakulty of animal husbandry, Hasanuddin University in Makassar, using a Completely Randomized Design (RAL) with a 4 x 4 pattern (P0: 100 % forage (control), P1: 15 % fruit skin and 5 % seeds rambutan + 80 % forage, P2: 10 % fruit skin and 10 % seeds rambutan + 80 % forage and P3: 5 % fruit skin and 15 % rambutan seeds + 80 % forage), 4 adult goat. The data obtained were statistically analyzed using analysis of variance (ANOVA) and Duncan test, showing forage feeding with rambutan by-product supplements in the form of fruit skin and rambutan seeds as much as 20 % goat fodder had no significant effect (P>0.05) on the consumption of crude protein, and significant effect (P<0.05) on crude protein digestibility, Duncan’ test showed that there were significant differences (P<0.05) between each treatment. The study concluded that a good digestibility rate was obtained in P3 treatment, namely 5 % fruit skin and 15 % rambutan seeds + 80 % forage. It is recommended that further research be carried out to determine the level of feeding and changes in goat animal body weight. Keywords: rambutan skin and seeds, consumption, digestibility, goat

    ANALISIS KANDUNGAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR TONGKOL JAGUNG SEBAGAI PAKAN TERNAK ALTERNATIF DENGAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA

    No full text
    Penelitian bertujuan untuk mendapatkan pakan alternatif yang berkualitas untuk ternak ruminansia dengan memanfaatkan limbah pertanian yaitu tongkol jagung. Tujuan utama penelitian ini untuk mengetahui kandungan nutrisi tongkol jagung setelah difermentasi dengan Aspergillus niger. Penelitian ini merupakan teknologi pakan dengan teknik fermentasi menggunakan mikroorganisme yang selanjutnya dilakukan analisis proksimat, meliputi kandungan protein kasar, serat kasar, lemak kasar, Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN), Kalsium, dan Fosfor. Penelitian eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap, dengan 4 perlakuan yang diulang 3 kali, sehingga terdapat 12 satuan percobaan. Keberhasilan penelitian ini diharapkan akan dapat diperoleh informasi perlakuan yang paling baik dalam fermentasi pakan dengan Aspergillus niger, dan tersedianya pakan ternak ruminansia dengan memanfaatkan limbah-limbah pertanian untuk menunjang program penyediaan pakan lokal. Selain itu meningkatnya profesionalisme dalam penelitian, pengembangan ilmu dan teknologi serta publikasi ilmiah serta menemukan inovasi teknologi yang dapat dengan mudah diaplikasikan kepada petani dan peternak. Hasil penelitian menunjukkan pemberian 1% Aspergillus niger dengan fermentasi 8 hari menghasilkan kandungan protein kasar terbaik, yaitu 4,95%. Sedangkan kandungan serat kasar terbaik pada perlakuan fermentasi 4 hari + 1% Aspergillus niger

    EVALUASI PENURUNAN ANGKA MORTALITAS DAN MORBIDITAS AYAM PEDAGING YANG MENDAPATKAN PENAMBAHAN TEPUNG LEMPUYANG (ZINGIBER AROMATICUM VAL) DALAM RANSUM

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suplementasi tepung lempuyang yang berbeda pada ransum  terhadap penurunan angka mortalitas  dan  morbiditas (penyebab penyakit) dari  kematian ayam pedaging tersebut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak  Lengkap  (RAL) dengan  ulangan sebanyak tiga kali dan tiga taraf perlakuan  yaitu P0=kontrol, P1=0,5% tepung lempuyang, P2=2,5% tepung lempuyang, P3=4,5% tepung lempuyang dan P4=6,5% tepung lempuyang.  Angka mortalitas ayam pedaging pada perlakuan P0 (4 ekor),  P1 (2 ekor) P2 (0 ekor) P3 (0 ekor) dan P4 (1 ekor). P0 (control) berpengaruh sangat nyata terhadap perlakuan P1,P2,P3 dan P4. Perlakuan P1 (2 ekor) berpengaruh nyata terhadap perlakuan P0, P2, P3 tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap     perlakuan P4. Persentase morbiditas atau angka serangan penyakit adalah 7 %  (7 ekor dari 90 ekor). Penyakit yang muncul selama pemeliharaan adalah Tetelo (Newcastle Disease) yang pada akhirnya menyebabkan kematian tujuh ekor ayam pedaging. Ayam yang mati akibat penyakit Tetelo (Newcastle Disease) selanjutnya dilakukan bedah bangkai oleh dokter hewan di Dinas Peternakan Kabupaten Sidrap. Berdasarkan hasil penelitian  pemberian tepung lempuyang dalam ransum dengan dosis 2,5% dan 4,5% dapat meningkatkan kekebalan ayam pedaging dengan angka mortalitas 0%.  Sedangkan  Angka mortalitas tertinggi diperoleh perlakuan P0 yaitu 4%, dan Pemberian tepung lempuyang dengan dosis yang tepat dapat meningkatkan kekebalan ayam pedaging
    corecore