456 research outputs found
Penerapan Metode Quantum Tipe Mind Mapping dengan Media Timeline untuk Meninkatkan Kemampuan Berpikir Kesejarahan Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 3 Boyolali Tahun Ajaran 2015/2016
Ninik Rahayu. PENERAPAN METODE QUANTUM TIPE MIND MAPPING DENGAN MEDIA TIMELINE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KESEJARAHAN SISWA KELAS XI IPS 2 SMA NEGERI 3 BOYOLALI TAHUN AJARAN 2015/ 2016 Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Juni 2016. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kesejarahan siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 3 Boyolali melalui penerapan metode quantum tipe mind mapping dengan media timeline dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, dengan tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 3 Boyolali yang berjumlah 32 siswa. Sumber data berasal dari guru, siswa dan proses pembelajaran. Teknik pengumpulan data adalah dengan wawancara, tes, observasi dan dokumentasi. Uji validitas data menggunakan teknik triangulasi, yaitu triangulasi data. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif. Model penelitian yang digunakan adalah model spiral (Planning, Acting, Observing, dan Reflecting) Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mampu menerapkan metode Quantum tipe Mind Mapping dengan media Timeline dalam proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik. Aktivitas guru dalam mengajar prasiklus sebesar 55,68% meningkat menjadi 70,60% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 86,78%. Penerapan metode Quantum tipe Mind Mapping dengan media Timeline dapat meningkatkan kemampuan berpikir kesejarahan dilihat dari aktivitas siswa dan prosentase ketuntasan hasil belajar siswa. Aktivitas siswa dalam pembelajaran prasiklus sebesar 35,38% meningkat menjadi 58,31% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 84,19%. . Penilaian mind mapping dalam pembelajaran siklus I sebesar 82,29% meningkat menjadi 86,45% pada siklus II. Ketuntasan hasil belajar siswa kelas XI IPS 2 dari prasiklus 31,3% nemjadi 56,25% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menadi 81,25%. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik simpulan bahwa metode Quantum tipe Mind Mapping dengan media Timeline dapat meningkatkan kemampuan berpikir kesejarahan siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 3 Boyolali. Kata kunci : mind mapping, berpikir kesejarahan, pembelajaran sejara
Penilaian pembelajaran PAI : studi tentang penilaian keterampilan shalat di kelas X SMA Negeri 8 Semarang
Ninik Rahayu (NIM. 3102197). Penilaian Pembelajaran PAI (Studi Tentang Penilaian Keterampilan Shalat) Di Kelas X SMA Negeri 8 Semarang. Skripsi. Semarang Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2008.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Pelaksanaan penilaian pembelajaran PAI pada siswa kelas X di SMA Negeri 8 Semarang; 2) penilaian keterampilan shalat pada siswa kelas X di SMA Negeri 8 Semarang.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Data penelitian yang terkumpul kemudian dianalisis dengan kerangka berpikir induktif. Untuk menganalisis datanya menggunakan analisis data deskriptif kualitatif. Digunakan untuk mengetahui pelaksanaan dan hasil penilaian pembelajaran mata pelajaran PAI pada kelas X SMA Negeri 8 Semarang.
Setelah dilakukan penelitian, diketahui bahwa pelaksanaan penilaian mata pelajaran PAI kelas X SMA Negeri 8 Semarang dibagi menjadi 2 yaitu penilaian proses dan hasil belajar. Penilaian proses terdiri dari pre-test, post-test, angket dan pengamatan. Sedangkan penilaian hasil belajar terdiri dari ulangan teori dan ulangan praktek yang dilaksanakan dengan ulangan harian dan ulangan semester. Penilaian berlangsung dengan baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian seperti berkesinambungan, menyeluruh dan obyektif. Alat ukur yang dipergunakan valid dan reliabel yakni dapat mengukur sesuai dengan apa yang mau diukur dan hasil yang diperoleh dapat dipercaya. Untuk mengukur hasil belajar terhadap kemampuan berfikir atau pengetahuan (aspek kognitif) teknik penilaian berbentuk tes tulisan dan tes lisan. Sedangkan untuk mengukur penilaian kepribadian siswa (aspek afektif) teknik penilaian non-tes melalui observasi dengan skala sikap. Kemudian untuk mengukur keterampilan praktek pelaksanaan ibadah (aspek psikomotorik) teknik penilaiannya berbentuk tes perbuatan dengan metode observasi unjuk kerja dilengkapi instrumen skala penilaian. Pendekatan penilaian menggunakan acuan patokan atau kriteria dengan batas minimal 72 disesuaikan kondisi siswa.
Hasil penilaian pembelajaran PAI pada siswa kelas X SMA Negeri 8 Semarang dibagi menjadi dua, yaitu hasil penilaian proses pembelajaran dan hasil penilaian dari hasil belajar siswa. Hasil penilaian proses pembelajaran yang diperoleh dari pre tes dan post tes, angket dan pengamatan dijadikan tolok ukur dalam rangka memperbaiki kinerja guru dalam mengelola pembelajaran. Sedangkan hasil penilaian dari hasil belajar siswa yang diperoleh dari ulangan teori dan ulangan praktek yang dilaksanakan melalui ulangan harian dan ulangan semester dijadikan tolok ukur untuk mengetahui kemampuan sisiwa dalam penguasaan materi setelah mendapatkan pengalaman belajarnya. Adapun hasil penilaian yang diperoleh dari pengalaman belajar tersebut, meliputi: kemampuan kognitif, melalui penilaian terhadap kemampuan memahami dan menguasai materi yang disampaikan. Selanjutnya afektif, menilai terhadap kepribadian siswa dalam kehidupan kesehariannya. Dan psikomotorik dilakukan dengan mempraktekkan pelaksanaan ibadah yang telah diperoleh dari pengalaman belajar siswa termasuk di dalamnya adalah keterampilan shalat.
Adapun penilaian keterampilan shalat dilaksanakan dengan tes unjuk kerja yaitu siswa diminta untuk melakukan praktek shalat yang mencakup aspek qauliyah dan aspek fi’liyah, kemudian guru menilai ketepatan bacaan dan gerakannya. Hasil yang dicapai merupakan proses penilaian yang berlangsung secara bertahap, kontinue, komprehensif dan obyektif.
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi mahasiswa, para tenaga pengajar, para peneliti, dan semua pihak yang membutuhkan di lingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dalam meningkatkan kompetensi profesionalnya agar dapat menjalankan tugasnya secara optimal
MODEL PERPINDAHAN KALOR PADA MESIN PENGERING PADI
Rahayu, N. 2011. Model Perpindahan kalor pada Mesin pengering padi. Skripsi,
Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Utama Dr. St. Budi Waluya,
M.S. dan Pembimbing Pendamping Drs. Wuryanto, M.Si.
Kata kunci: Persamaan Kalor, Metode Pemisahan Variabel, Keadaan Steady
dan Unsteady.
Matematika merupakan salah satu sarana untuk menyelesaikan suatu
permasalahan. Salah satu kajian matematika yang konsep-konsepnya banyak
diterapkan dalam bidang lain adalah persamaan diferensial. Persamaan diferensial
muncul dalam berbagai bidang sains dan teknologi, bilamana hubungan
deterministik yang melibatkan besaran yang berubah secara kontinu (dimodelkan
oleh fungsi matematika) dan laju perubahannya (dinyatakan sebagai turunan)
diketahui atau dipostulatkan. Ini terlihat misalnya pada masalah perpindahan
kalor.
Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana
permodelan persamaan kalor dan bagaimana solusi model persamaan kalor.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah menentukan masalah, merumuskan
masalah, studi pustaka, analisis pemecahan masalah, dan penarikan simpulan.
Pembahasan dilakukan untuk menemukan model persamaan kalor pada
mesin pengering padi dan menyelesaikan persamaan kalor dengan metode
pemisahan variabel. Pembahasan ini dilakukan dalam dua keadaan, yaitu keadaan
steady (waktu konstan) dan unsteady (waktu berubah-ubah). Pada pembahasan
diperoleh model ııı
ııı ı ı
ıı
ııı
ııı ı ı
ı
ıı
ıı ı ııı
ııı ı ı
ı
ıı
ıı. Pada Persamaan kalor keadaan
steady ııı
ııı ı ı
ıı
ııı
ııı ı ı
ı
ıı
ıı ı ııı
ııı ı 0 diperoleh solusi ııı, ı, ııı ııııı ı
ı ı
Σ ıı ııı cos ıı ı ıı sinııı ∞
ııı , sedangkan untuk keadaan unsteady
Persamaan kalor ııı
ııı ı ı
ıı
ııı
ııı ı ı
ı
ıı
ıı ı ııı
ııı ı ı
ı
ıı
ıı diperoleh solusi ııı, ı,ı, ııı
ıı
ı ı Σ Σ ııı ııı cos ıı ı ıı sin ı ıııııı
ıııı
ı
ıı ısin ıı
ıııııı ∞
ı ıı
∞ı
ıı . Solusisolusi
tersebut kemudian divisualisasikan dengan menggunakan Maple
MODEL PERPINDAHAN KALOR PADA MESIN PENGERING PADI
Rahayu, N. 2011. Model Perpindahan kalor pada Mesin pengering padi. Skripsi,
Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Utama Dr. St. Budi Waluya,
M.S. dan Pembimbing Pendamping Drs. Wuryanto, M.Si.
Kata kunci: Persamaan Kalor, Metode Pemisahan Variabel, Keadaan Steady
dan Unsteady.
Matematika merupakan salah satu sarana untuk menyelesaikan suatu
permasalahan. Salah satu kajian matematika yang konsep-konsepnya banyak
diterapkan dalam bidang lain adalah persamaan diferensial. Persamaan diferensial
muncul dalam berbagai bidang sains dan teknologi, bilamana hubungan
deterministik yang melibatkan besaran yang berubah secara kontinu (dimodelkan
oleh fungsi matematika) dan laju perubahannya (dinyatakan sebagai turunan)
diketahui atau dipostulatkan. Ini terlihat misalnya pada masalah perpindahan
kalor.
Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana
permodelan persamaan kalor dan bagaimana solusi model persamaan kalor.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah menentukan masalah, merumuskan
masalah, studi pustaka, analisis pemecahan masalah, dan penarikan simpulan.
Pembahasan dilakukan untuk menemukan model persamaan kalor pada
mesin pengering padi dan menyelesaikan persamaan kalor dengan metode
pemisahan variabel. Pembahasan ini dilakukan dalam dua keadaan, yaitu keadaan
steady (waktu konstan) dan unsteady (waktu berubah-ubah). Pada pembahasan
diperoleh model ııı
ııı ı ı
ıı
ııı
ııı ı ı
ı
ıı
ıı ı ııı
ııı ı ı
ı
ıı
ıı. Pada Persamaan kalor keadaan
steady ııı
ııı ı ı
ıı
ııı
ııı ı ı
ı
ıı
ıı ı ııı
ııı ı 0 diperoleh solusi ııı, ı, ııı ııııı ı
ı ı
Σ ıı ııı cos ıı ı ıı sinııı ∞
ııı , sedangkan untuk keadaan unsteady
Persamaan kalor ııı
ııı ı ı
ıı
ııı
ııı ı ı
ı
ıı
ıı ı ııı
ııı ı ı
ı
ıı
ıı diperoleh solusi ııı, ı,ı, ııı
ıı
ı ı Σ Σ ııı ııı cos ıı ı ıı sin ı ıııııı
ıııı
ı
ıı ısin ıı
ıııııı ∞
ı ıı
∞ı
ıı . Solusisolusi
tersebut kemudian divisualisasikan dengan menggunakan Maple
Indonesian Migrant Worker Policies and the Vulnerability of Women Migrant Workers to Becoming Trafficking Victims: an Overview of Recent Legislation
This study will provide an overview of how migrant worker protection policies should govern all forms of protection for migrant workers, especially women workers who often face violent abuse as overseas domestic workers in receiving countries, and then problems when they return to their villages. It outlines several laws that deal with problems of abuse associated with migration such as the Law Eradication of Trafficking in Person, and other regulation. Indonesia Government has made a good initiative by amending the policies of migrant workers with the aim of prioritizing protection, including how to harmonize other policies. This is a good starting point for implementing all commitments to the extent that commitments to protect migrant workers, especially women migrant workers who are still vulnerable to violence and threats of trafficking.</jats:p
A STUDY OF SOME GRAMMATICAL ERRORSIN WRITING I MADE BY THE ENGLISH DEPARTMENT STUDENTS OF AIRLANGGA UNIVERSITY
ABSTRAK INI MEMBAHAS TENTANG : A STUDY OF SOME GRAMMATICAL ERRORSIN WRITING I MADE BY THE ENGLISH DEPARTMENT STUDENTS OF AIRLANGGA UNIVERSIT
Typhlocarcinops hirtus Ng & Rahayu 2020, n. sp.
<i>Typhlocarcinops hirtus</i> n. sp. <p>(Figs. 62–64)</p> <p> <b>Material examined</b>. Holotype: male (10.6 × 8.1 mm) (MZB Cru 4810), Kuta, coll. 18 August 2006. Paratypes: 1 female (11.4 × 8.3 mm) (MZB Cru 4811), 2 females (10.9 × 7.5 mm, 13.8 × 10.2 mm) (ZRC 2018.0273), same data as holotype; 1 male (11.8 × 8.1 mm) (MZB Cru 4812), Sekotong, coll. 16 May 2009; 1 male (15.0 × 11.0 mm) (ZRC 2015.0486), Sekotong, coll. 10 May 2007; 1 male (7.1 × 5.2 mm) (ZRC 2018.0274), Teluk Kombal, coll. D.L. Rahayu, April 2014; 1 male (11.7 × 8.4 mm) (ZRC 2015.0485) Jerowaru, coll. 10 May 2004; 1 female (8.6 × 6.1 mm) (ZRC 2013.1756), Medana, coll. 12 June 2007; 3 males (5.3 × 4.0 mm, 5.4 × 4.0 mm, 4.5 × 3.4 mm) (ZRC 2018.0718), Kuta, coll. D.L. Rahayu, 19 August 2008. All locations in Lombok Island, Indonesia.</p> <p> <b>Diagnosis</b>. Carapace (Figs. 62A, B, 63B) 1.4−1.5 times broader than long, surface smooth, covered with short pubescence on surface, longer plumose setae on lateral and frontal margins, regions demarcated, H-shaped gastrocardiac grooves deep, distinct, anterolateral margin arcuate, lined with small granules, granules at junction with posterolateral margin separated by shallow indentation obscured by long setae; posterolateral margin subparallel, surface and margin with scattered tubercles. Front bilobed (Fig. 62B, C), with shallow median cleft, margin of each lobe convex. Orbit (Fig. 62C) short, bulbous ocular peduncles filling orbit, immovable, cornea small, pigmented. Epistome (Fig. 62C) relatively broad, triangular median lobe with median suture. Antennal peduncles long. Third maxilliped (Fig. 64A) with outer surface of merus covered with small granules on distal margin, outer margin straight, anteroexternal angle rounded; ischium squarish, distinctly longer and slightly broader than merus; exopod relatively stout. Chelipeds in male unequal, subequal in females (Figs. 61A, F, G, 63B), fingers of major chela smooth except for few tubercles hidden by row of long setae on dorsal surface of dactylus proximally, longitudinal ridge on dactylus and fixed finger; surface of palm pubescence, and with sparse long setae, outer lower surface of palm with tubercles continued to fixed finger proximally, cutting edges of fingers with prominent broad teeth; carpus and merus pubescence, margins covered with long setae; inner angle of carpus with sharp, denticulate protuberance (Fig. 63A). P2−P5 proportionally short (Figs. 62A, 63B), lateral surface, dorsal and ventral margins fringe with long setae; dactylus straight; merus of P5 not reaching front when folded. Fused thoracic sternites 1, 2 broadly triangular (Fig. 62D), proportionally narrow; thoracic sternites 3, 4 partially fused, with only lateral suture discernible. Male pleon (Figs. 62D, E, 64B) relatively broad; telson long, twice length of somite 6, subtriangular. G1 (Fig. 64 C–F) slender, slightly curved, upper half distinctly longer than lower half, distal part slightly sinuous, tip broad, pointed upward, with rows of setae near opening. Female pleon (Fig. 63C) broad, somite 1 reaching coxae of fourth ambulatory legs, tapering to pointed edge; telson subtriangular; vulva (Fig. 63D) relatively broad, ovate.</p> <p> <b>Etymology</b>. From the Latin <i>hirtus</i>, hairy, in allusion to the long setae covering carapace, chelipeds and ambulatory legs.</p> <p> <b>Remarks</b>. <i>Typhlocarcinops hirtus</i> <b>n. sp.</b> is superficially similar to <i>T. tonsuratus</i> from Australia, which is also a distinctly tomentose species. <i>Typhlocarcinops hirtus</i> <b>n. sp.</b> can be distinguished by its more transversely rectangular carapace with the width to length ratio 1.4‒1.5 (Figs. 62A, 63B) (versus carapace more squarish with the width to length ratio 1.2 in <i>T. tonsuratus</i>; Fig. 34A); the ischium of the third maxilliped is distinctly longer and slightly broader than the merus, with the inner and outer margins straight (Fig. 64A) (versus the ischium of the third maxilliped is only slightly longer than the merus, with the inner margin of the ischium slightly oblique in <i>T. tonsuratus</i>; Fig. 34B); and the G1 is slightly curved on the lower half, with the distal part sinuous, the tip broad and the opening has rows of setae setae (Fig. 64 C–F) (versus G1 strongly curved on lower half, the distal part gently curved upwards, the tip upcurved with two series of short and long setae distally in <i>T. tonsuratus</i>; Fig. 34 E–G).</p> <p> The general carapace shape and degree of setation on <i>T. hirtus</i> <b>n. sp.</b> closely resembles <i>Paraselwynia ursina</i> Tesch, 1918, described from nearby Kei Islands in the Moluccas. The first author managed to examine the type female (and only known specimen) and it is refigured here (Figs. 65, 66) as the original drawings by Tesch (1918) are somewhat schematic. <i>Typhlocarcinops hirtus</i> <b>n. sp.</b> differs from <i>Paraselwynia ursina</i> in having the dorsal surface of the carapace almost flat (Fig. 62C) (versus prominently domed and convex in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 65C); the frontal margin is distinctly bilobed with convex lobes (Fig. 62B, C) (versus frontal margin almost straight and entire in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 65B, C); ischium of the third maxilliped is subrectanguar with the merus quadrate (Fig. 64A) (versus ischium of third maxilliped subtrapezoidal with the merus subovate in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 66A); the setae are concentrated on the dorsal margin of the dactylus of the chela with the pollex mostly glabrous (Fig. 62F, G) (versus both fingers of the chela covered with very dense setae which partially obscures the surfaces in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 65F, G); the female pleon is narrowly ovate with the telson acutely triangular (Fig. 63C) (versus female pleon broadly ovate with the telson semicircular in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 65D); and the vulvae are smaller and positioned closer to the median line (Fig. 63D) (versus vulvae relatively larger and positioned further apart in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 65E).</p> <p> This is the only species of <i>Typhlocarcinops</i> known to live in the intertidal area, collected among seagrass in sandy mud substrate.</p> <p> <b>Type locality</b>. Kuta, southern Lombok Island.</p> <p> <b>Distribution</b>. Known only from Lombok Island, Indonesia, thus far.</p>Published as part of <i>Ng, Peter K. L. & Rahayu, Dwi Listyo, 2020, A synopsis of Typhlocarcinops Rathbun, 1909 (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Pilumnidae), with descriptions of nine new species from the Indo-West Pacific, pp. 1-100 in Zootaxa 4788 (1)</i> on pages 75-78, DOI: 10.11646/zootaxa.4788.1.1, <a href="http://zenodo.org/record/3878222">http://zenodo.org/record/3878222</a>
The Intersection of Islamic Microfinance and Women’s Empowerment: A Case Study of Baitul Maal Wat Tamwil in Indonesia
It is largely assumed that Islamic microfinance institutions (IMFIs) deal with family empowerment instead of women’s empowerment. However, women are the main beneficiaries of Baitul Maal Wat Tamwil (BMT), Indonesia’s first IMFIs. This paper aims to explore the origins, the initiators, and the visions of BMTs and the extent to which they intersect with women’s empowerment. Employing a qualitative approach, this study selected four BMTs in Yogyakarta as a case study. It found that four critical groups that have a significant role in the development of Indonesian BMTs: ICMI (Association of Indonesian Muslim Intellectual), Islamic mass organizations, NGOs, and local governments. The issues of loan sharks and poverty alleviation were the primary factors driving the inception of BMTs. Despite women being crucial clients, none of the studied BMTs explicitly invoked women’s empowerment in their organizational vision. To conclude, the BMTs’ preference for women is not based on an understanding of gender inequality, but rather motivated by pragmatic business considerations, particularly the self-sustainability paradigm that underpins their practices
Assessing the determinant factors affecting green entrepreneurial intention among female entrepreneurs in Indonesia
Women have been identified as critical actors for sustainable entrepreneurship. This study aims to assess women’s ecopreneur intentions by employing the theory of planned behavior. Survey data was collected from 158 females in Indonesia’s small and medium enterprises (SMEs) sector. The results of partial least square-structural equation modeling (PLS-SEM) revealed that self-efficacy and environmental awareness positively impact sustainable entrepreneurial inclinations. Aside from this, these findings indicate that green entrepreneurial motivation plays a vital role in mediating the relationship between self-efficacy, ecological awareness, and the tendency to develop environmentally friendly enterprises. Surrounded by the COVID-19 outbreak, this study implied that the pandemic significantly influences green entrepreneurship self-efficacy and natural consciousness among businesswomen. The results of studies advance the academic debate on the contribution of women in inclusive and sustainable development. Further, it could assist planners and policymakers in strengthening women entrepreneurs’ sustainable business models that allow them to capture opportunities and shape their post-pandemic futures
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah tangga Dan Upaya Penemuan Hak-Hak Korban
Hal. 69-7
- …
