1,720,962 research outputs found
Addition of Catfish (Pangasius hypophthalmus) Bone Meal as a Source of Calcium in Catfish Nugget
Tulang ikan mengandung kalsium yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalsium yang diperlukan tubuh. Kalsium berfungsi sebagai pembentukan dan pemeliharaan tulang dan gigi. Tujuan penelitian ini untuk menetapkan kadar kalsium pada nugget ikan patin setelah dilakukan penambahan tepung tulang yang berasal dari ikan patin. Formula yang dibuat terdiri dari F1 (nugget tanpa penambahan tepung tulang maupun kalsium karbonat), F2 (nugget dengan penambahan tepung tulang ikan patin), dan F3 (nugget dengan penambahan kalsium karbonat). Analisis kandungan kalsium menggunakan metode Spektrofotometri serapan atom. Kandungan kalsium pada nugget ikan patin masing-masing adalah pada F1=350,010 mg/100 gram, F2=1025,335 mg/100 gram, dan F3=1498,058 mg/100 gram. Tepung tulang dari ikan patin yang ditambahkan dapat meningkatkan kandungan kalsium pada nugget ikan patin.Fish bones contain calcium which can be used as a source of calcium that the body needs. Calcium functions as the formation and maintenance of bones and teeth. The purpose of this study was to determine calcium levels in catfish nuggets after the addition of bone meal derived from catfish. The formula made consisted of F1 (nuggets without the addition of bone meal or calcium carbonate), F2 (nuggets with the addition of catfish bone meal), and F3 (nuggets with the addition of calcium carbonate). Analysis of calcium content using atomic absorption spectrophotometry method. The calcium content in catfish nuggets were F1=350.010 mg/100 grams, F2=1025.335 mg/100 grams, and F3=1498,058 mg/100 grams. Bone flour from catfish added can increase the calcium content in catfish nuggets
Perbandingan Kadar Air dan NaCl Buah Nenas dan Keripik Nenas
Pineapple (Ananas comosus L.) is a tropical fruit that is widely grown in the village of Kualu Nanas, Kampar, Riau. Pineapple chips are foods made from ripe pineapple flesh, cut or sliced and fried using oil in a vacuum. This study aims to obtain organoleptic test results and water content and NaCl content in pineapple fruit and pineapple chips. The method of determining the water content is gravimetric while the NaCl content uses the argentometric titration method. The organoleptic test on pineapple chips complied with the requirements of SNI 01-4304-1996, namely characteristic odor, sweet-sour taste, normal color, crunchy texture, while the integrity of pineapple chips was only 80%. The average water content of pineapple is 88.68%, while the average pineapple chips is 3.88% and this fulfills the requirements of SNI 01-4304-1996. The average NaCl level in pineapple is 0.0481%, and in pineapple chips the average NaCl level is 0.9359%.Nanas (Ananas comosus L.) merupakan buah tropis yang banyak ditanam di desa Kualu Nanas, Kampar, Riau. Keripik nanas adalah makanan yang terbuat dari daging buah nanas masak, dipotong atau disayat dan digoreng menggunakan minyak secara vakum. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh hasil uji organoleptik dan kadar air serta kadar NaCl pada buah nanas dan keripik nanas. Metode penetapan kadar air secara gravimetri sedangkan kadar NaCl menggunakan metode titrasi argentometri. Uji organoleptik pada keripik nanas memenuhi persyaratan SNI 01-4304-1996 yaitu bau khas, rasa manis asam, warna normal, tekstur renyah, sedangkan keutuhan keripik nanas hanya sebesar 80%. Kadar air buah nanas didapatkan rata-rata 88,68%, sedangkan rata-rata pada keripik nanas 3,88% dan ini memenuhi persyaratan SNI 01-4304-1996. Rata-rata kadar NaCl pada buah nanas sebesar 0,0481%, dan pada keripik nanas kadar NaCl rata-rata 0,9359%
PENETAPAN KADAR RESIDU FORMALIN PADA IKAN TONGKOL YANG DIBERI JERUK NIPIS (Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis)
Formalin adalah senyawa yang dapat digunakan sebagai pengawet tapi tidak boleh digunakan pada pangan karena formalin merupakan senyawa yang bersifat toksik dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Menurut beberapa penelitian formalin dalam pangan dapat berkurang atau bahkan hilang dengan pengolahan. Jeruk nipis adalah salah satu bahan alam yang sering digunakan masyarakat dalam pengolahan bahan pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar residu formalin pada ikan tongkol yang diberi jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Penetapan kadar residu formalin pada sampel menggunakan metode spektrofotometri visibel dengan menggunakan pereaksi Schiff. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Anafarma Universitas Abdurrab pada bulan Februari 2015. Hasil penelitian kadar residu formalin pada sampel yang diberi jeruk nipis 20%, 40%, 60% dan 80% adalah 2453,40; 2030,78; 1907,91 dan 1517,04 µg/g. Hal ini menunjukkan bahwa kadar residu formalin pada sampel berkurang seiring dengan meningkatnya konsentrasi jeruk nipis yang diberikan
PERBANDINGAN SIFAT GELATIN YANG BERASAL DARI KULIT IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) DAN GELATIN YANG BERASAL DARI KULIT IKAN KOMERSIL
Gelatin is widely used in the food, pharmaceutical, and cosmetic industries. The demand for gelatin increases every year, gelatin derived from pigs and cows is the main source of gelatin in the market. Gelatin that is sourced from other animals such as from poultry and fish is only about 1%.
Gelatin from fish becomes a better prospect to develop. Gelatin raw materials can be obtained from the skin, bones, and fish fins. Fish skin is a waste processing of fishery products, such as in the manufacture of meatballs, crackers, and so forth, which has no economic value and even harmful. “Patin” catfish is one of the most developed fish due to the high demand from both domestic and international market. Kampar Regency Riau Province is one of the centers of “patin”catfish development in Indonesia. Gelatin is valuable for the pharmaceutical and cosmetic industries because it is used in various formulations. This study aims to see the quality of gelatin obtained from catfish skin obtained by acidification process which will be continued utilization as additional material in cosmetic manufacture.
In this study, gelatin obtained from “patin” catfish skin extraction was evaluated organoleptically including odor, taste, and shape, moisture content, ash content, pH, and protein contained therein, which results were compared with gelatin derived from commercial fish skins. In organoleptis, the resulting odor is dry powder, odorless, and tasteless, the average water content of commercial fish gelatin is 10.03% and of catatin gelatin is 9.92%, the mean ash content obtained from commercial gelatin fish 2,1958% and “patin” catfish gelatin equal to 0,15%, average protein content on gelatin of commercial fish equal to 85,68% and from “patin” catfish gelatin equal to 88,38%, pH obtained in commercial fish gelatin 6.4 and from “patin”catfish gelatin of 5.7
Karakterisasi Gelatin Hasil Ekstraksi dari Kulit Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) dengan Proses Asam dan Basa
Gelatin in the majority market comes from pigs and cows. The raw material of gelatin manufacture from other sources continue to be studied because it closely related with halal product. Currently gelatin from fish is an alternative to gelatin making. Catfish (Pangasius hypophthalmus) is a fish species developed in Kampar regency of Riau Province. The catfish skin can be used as raw material source in gelatin production. This study aims to compare the characteristics of gelatin extracted from catfish skin with acid and alkaline pretreatment. In the acid pretreatment, sulfuric acid is used until the solution at pH 3, then it is extracted with distilled water at 60ºC. In the alkaline pretreatment, the sample was added by 0.2 N NaOH followed by 0.05 N acetic acid and then extracted with distilled water at 60ºC. Characterizations done were including calculation of rendement value, organoleptic test, moisture content, pH, ash content, viscosity, gel strength and texture profile analysis using texture analyzer, protein content with Kjeldahl method and analysis amino acid with HPLC. Characterization of catfish gelatin with acid process gives the following results: rendement (14.94%), water content (9.80%), pH (5.14), ash (0.19%), viscosity (3.12 cP), protein content (97.71%), and highest amino acids, glycine = 16.90 %, proline = 11.08%, glutamic acid = 9.10 %. The result of gelatin characterizations with alkaline process: rendement (14.30%), water content (7.25%), and pH (5.35), ash content (1.54%), viscosity (5.35 cP), gel strength (141,5 g), protein content (91.92%), the highest amino acid content are glycine = 18.15%, proline = 12.30%, glutamic acid = 10.73%. Catfish gelatin through alkaline pretreatment exhibits better properties than acid pretreatment
VALIDASI METODE ANALISIS VITAMIN C PADA BUAH DAN KERIPIK NANAS SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis
Vitamin C ini banyak ditemukan dalam buah-buahan seperti pada buah nanas. Buah nanas dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan olahan, salah satunya keripik nanas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh hasil validasi metode analisis vitamin C yang terdapat pada buah nanas dan keripik nanas. Penelitian ini menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Metode ini memiliki nilai validitas yang memenuhi parameter validasi sehingga dapat diterima yaitu pada uji stabilitas pengukuran diperoleh pada menit ke 10 sampai 20. Rata-rata hasil uji akurasi buah nanas segar yaitu 98,4765%, sedangkan pada keripik nanas sebesar 80,7633%. Pada uji presisi dengan konsentrasi 5 ppm nilai SD = 0,0265 dan RSD = 5,8434%, konsentrasi 7 ppm nilai SD = 0,0173 dan RSD = 3,0647%, dan konsentrasi 9 ppm nilai SD = 0,02 dan RSD = 3,0520%. Pada uji linearitas didapatkan hasil regresi linear y = 0,0809 x – 0,1239 dan koefisien korelasinya r = 0,9980. Nilai batas deteksi (LOD) = 0,3708 ppm dan batas kuantitasi (LOQ) = 1,2361 ppm. Rata-rata kadar vitamin C pada buah nanas segar 0,4331%, pada keripik nanas 0,2827%. Metode analisis vitamin C pada buah nanas dan keripik nanas secara spektrofotometri UV-Vis sudah tervalidasi
PENETAPAN KADAR PROTEIN PADA NANAS SEGAR DAN KERIPIK NANAS DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS DAN KJEHDAHL
Nanas memiliki kandungan zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh salah satunya protein. Protein berfungsi sebagai zat pembangun dan zat pengatur di dalam tubuh serta pembentuk jaringan baru. Keripik nanas merupakan produk olahan nanas dari Desa Kualu Nanas yang belum diuji kandungan gizinya termasuk protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar protein pada buah nanas segar dan keripik nanas menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dan metode Kjehdahl. Pada metode spektrofotometri diperoleh panjang gelombang maksimum BSA (Bovine Serum Albumin) pada 543 nm, persamaan regresi linier yaitu Y = 0,00005X + 0,1895 dengan nilai koefisien korelasinya (r) sebesar 0,9707. Kadar protein pada nanas segar dan keripik nanas menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis berturut-turut adalah 0,84% dan 2,55%; dengan metode Kjehdahl berturut-turut sebesar 0,65% dan 1,86%
Peningkatan Kualitas Minyak Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) dengan Penambahan Minyak Sereh Sebagai Antioksidan
Ikan patin merupakan salah satu ikan air tawar yang bisa dijadikan sumber asam lemak karena mempunyai kandungan minyak tinggi. Ada proses oksidasi bisa menyebabkan kerusakan pada minyak yang ditandai dengan ketengikan. Penambahan antioksidan diperlukan untuk mencegah terjadinya reaksi oksidasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas minyak ikan patin (Pangasius hypophthalmus) dengan penambahan minyak sereh sebagai antioksidan alami. Metode yang digunakan untuk mengetahui kualitas minyak ikan pada penelitian ini adalah metode titrasi dengan mengukur angka peroksida dan jumlah asam lemak bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah penyimpanan selama 7 hari angka peroksida minyak ikan larutan kontrol meningkat 0,51 meq/kg, sedangkan angka peroksida larutan uji dan larutan pembanding meningkat 0,37 meq/kg dan 0,97 meq/kg masing-masingnya. Kadar asam lemak bebas minyak ikan baik larutan kontrol, larutan uji, dan larutan kontrol adalah 0,25%, 0,08%, dan 0,08%. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan minyak sereh dapat menghambat kenaikan angka peroksida dan kadar asam lemak bebas pada minyak ikan patin
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
