314 research outputs found

    PUASA SUNAT PADA HARI SABTUMENURUT PANDANGAN ABU ABDILLAH MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I DAN MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI

    No full text
    Skripsi ini berjudul: PUASA SUNAT PADA HARI SABTU MENURUT PANDANGAN ABU ABDILLAH MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I DAN MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI. Adapun latar belakang permasalahan dalam penelitian ini adalah apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat tentang puasa sunah pada hari Sabtu itu, Syaikh Nashiruddin Al-Alb ny rahimahull hu berpendapat bahwa puasa sunat pada hari Sabtu hukumnya haram secara mutlak, sedangkan Imam Syafi’i rohimahullahu berpendapat bahwa puasa sunat pada hari Sabtu hukumnya makruh. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan bagaimana pandangan Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani tentang hukum puasa sunat pada hari Sabtu dan bagaimana metode istinbath hukum yang digunakan Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Sedangkan yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pandangan Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani tentang hukum puasa sunat pada hari Sabtu dan bagaimana metode istinbath hukum yang digunakan Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pandangan Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani tentang hukum puasa sunah pada hari Sabtu dan untuk mengetahui bagaimana metode istinbath hukum yang digunakan Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Nashiruddin Al- Albani. Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah library research. Sebagai data primer yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date, Data ini bersumber dari kitab-kitab karya kedua ulama tersebut, yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy- Syafi’i Kitab Al-Umm, Mazhab Imam Asy-Syafi’i Fi al-Ibadat Wa Adillatihah , Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, Nashiruddin Albani Tamam al-Minnah Fi Ta’liq ‘Ala Fiqh Sunnah, Irwa’ al-Ghalil, Tuntunan Fiqh Islam Syaikh Albani dan data sekunder yaitu data yang mendukung dan memperkuat data primer, selanjutnya dilakukan proses analisa dan interpretasi terhadap data-data tersebut sesuai dengan tujuan penelitian. Data ini bersumber dari lliteratur-literatur yang ada hubungannya dengan masalah yang dibahas. Antara lain adalah Sunan Abu Daud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad bin Hanbal dan Sunan al-Dārimi, al-Qur‘an al-Karīm, kitab Fiqh Islam Wa Adillatuhu karya Wahbah Az-Zuhaili, Jarh wa Ta‘dil, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Iqtidha’u Shirathil Mustaqim Mukhalafata ashhabil Jamil, karya Imam al-Hafiz Syihabuddin Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar al-Asqalāni dan lain-lain. Setelah data terkumpul, maka penulis menganalisis data dengan metode analisis data komparatif, sedangkan metode yang digunakan adalah metode induktif, deduktif, dan komparatif. Adapun hasil dari penelitian ini adalah Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i menghukumi makruh berpuasa sunat pada hari Sabtu, jika ia tidak mengkhususkannya dengan keyakinan bahwa ia memiliki keistimewaan. Akan tetapi jika berpuasa sunat pada hari Sabtu itu karena mengistimewakan hari Sabtu maka ia dihukumi haram. Pendapat ini muncul karena Imam Syafi’i mengkompromikan antara kelompok hadits yang melarang dan yang membolehkan.Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menghukumi haram secara mutlak berpuasa pada hari Sabtu. Hadits At-Tirmidzi shahih dan hadits Juwairiyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah tidak kuat untuk digunakan sebagai pengkontradiksi hadits larangan. Karena tujuan yang diperoleh dari ketiga hadits tersebut adalah kebolehan berpuasa hari Sabtu, jika disertai puasa hari Jum’at dan kebolehan ini adalah sebagai penyerta, tidak berdiri sendiri. Kedua ulama tersebut sama-sama menggunakan metode bayani. Dikarenakan adanya dua kelompok hadits yang mukhtalif, yaitu: hadits yang melarang berpuasa pada hari Sabtu dan hadits yang membolehkan berpuasa pada hari Sabtu, Maka mereka berbeda cara pandang dalam menilai hadits tersebut. Imam Syafi’i menggunakan al-jam’u wa at-taufiq dan Syaikh Albani menggunakan tarjih bain al-Nushush

    PENGARUH WANITA BEKERJA TERHADAP KELUARGA DALAM PERSPEKTIF NASHIRUDDIN AL-ALBANI

    No full text
    Muhammad Aulia Rahman. 2022. Pengaruh Wanita Bekerja Terhadap Keluarga dalam Perspektif Nashirudin Al-Albani. Skripsi, Fakultas Syariah, Program Studi Hukum Keluarga Islam Pembimbing: (I) H. Bahran, SH, MH (II) Imam Alfiannor,S.Ag, MHI. Kata Kunci: wanita bekerja, keluarga, Nashiruddin Al-Albani Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya wanita yang bekerja di luar rumah yang menyebabkan sebagian besar kewajibannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus istri menjadi terabaikan. Disamping itu Banyak perkerjaan saat ini yang apabila ditekuni oleh kaum wanita akan mengeluarkanya dari kodrat kewanitaannya, menghilangkan rasa malunya dan mencabutnya dari kefeminimannnya. Dan hal ini sudah pernah ditanyakan kepada syekh nashiruddin al-albani dan fatwa-fatwa beliau sudah dibukukan dan menjadi rujukan oleh karena itu penulis ingin membahas bagaimana fatwa beliau dengan apa yang terjadi sekarang. Penelitian ini bertujuan: 1) Untuk mengetahui wanita bekerja dalam perspektif Nashiruddin Al-Albani, 2) Untuk mengetahui pengaruh wanita yang bekerja terhadap keluarga dalam perspektif Nashiruddin Al-Albani. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian pustaka (library research) dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan. Data dianalisis mengunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan: Pertama: wanita bekerja menurut Nashiruddin Al-Albani adalah wanita yang bekerja di luar rumah akan mengakibatkan dampak negatif terhadap keluarga khusunya kepada anak, karna dengan keluarnya wanita untuk bekerja maka hak-hak anak yang seharusnya diberikan ibu, tidak didapatkan anak sepenuhnya. Disamping itu wanita bekerja sama artinya dengan wanita yang meninggalkan rumah dan akan menjurus kapada ikhtilath (percampuran) antara kaum wanita dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, juga sangat tidak relevan dengan nash-nash syara‟, yang memerintahkan kaum wanita supaya tetap tinggal di rumah. Kedua: Pengaruh wanita yang bekerja terhadap keluarga dalam perspektif Nashiruddin Al-Albani adalah banyak memberikan dampak negatif , karena akan menyebabkan wanita bersangkutan melalaikan kewajiban utamanya dalam keluarga yaitu sebagai ibu dan juga istri yang bertugas mengurus suami dan juga anak serta rumah tangga

    Konsep Tashfiyah Dan Tarbiyah dalam Pemikiran Muhammad Nashiruddin Al Albany

    No full text
    The Muslims in this era can not be denied is in decreased. Prominent Muslims then trying reviewing the causes of these weaknesses and find solutions to new heights with a variety of Islamic thought and concept. Among them, Imam Albany is a figure who is very famous and influential in offering solutions Muslims slump. He offers the concept of Islamic education are motivated by the foundation tashfiyah and tarbiyah as the solution of the problems of the people. Starting from the above reasons, the authors tried to explore the concept of Islamic education according to Imam Albany to examine the subject matter related to how the concept of tashfiyah and tarbiyah according to Imam Muhammad Al Nashiruddin Albany. And how about a favor, criticized the concept. And what about the influence of Imam Albany concepts in the concept of Islamic education. Tashfiyah as a differentiator in the concept of Islamic education Imam Albany so crucial. Education or tarbiyah without preceded by tashfiyah according to Imam Al Albany does not provide a solution to the people. Lack of Muslims in the eyes of his enemies can not be completed. Tashfiyah is a purification of Islam from other element. Tarbiyah is guidance to generations of Muslims today who are growing on a purified Islam. Concept tashfiyah and tarbiyah was not a new concept and has been championed by previous scholars. Nevertheless, the concepts tashfiyah and tarbiyah Imam Albany still causing the pros and cons. Not a few scholars and leaders at the time supported the concept tashfiyah and tarbiyah Albany. And not a few who oppose both scientifically and in a violent manner. Concept tashfiyah and tarbiyah that conveyed by Imam Albany brings great influence on the concept of education today. Books by him to be the main reference. His thoughts also forwarded by scholars after him. Thus the concept tashfiyah and tarbiyah in this era synonymous with Imam AlbanyKeywords: al-Albany, Tashfiyah, Tarbiya

    Ghayat al-amani and the life and times of al-Hadi Yahya b. al-Husayn: an introduction, newly edited text and translation with detailed annotation

    No full text
    The thesis is anchored upon a text extracted from an important 11th / 17th century Yemeni historical work. This text deals primarily with al-Hādī ilā 'I-Haqq, the founder of the Zaydī Imamate in the Yemen that lasted well over a thousand years. AI-Hādīs imamate, of considerable significance in itself, also coincides with one of the most turbulent periods of early Yemeni mediaeval history. The- edited Arabic text, with its accompanying apparatus criticus. Is to be found at the opposite end of this volume. The Introduction considers various aspects of Imam al-Hadī’s life, religious ideas and aspirations and matters directly connected with the edited text and the work of which it forms a part. Among the most important subjects discussed are the MSS used in the production of the edited text, the problem concerning the authorship of Ghāyat al-amānī and the relationship of the latter work to Anbā' al-zaman. A short biography of al-Hādī is provided, together with a treatment of the historical background to ai-Hādīs imamate. The introduction also describes the editorial method followed with regard to the text, and certain key personal names and toponyms are dealt with there. The method employed by the author of the Ghāyat is to record the events of any one year by Itself. I have translated one year at a time and then followed it by the annotations appertaining to it. It is hoped that by means of these annotations. (some of which through necessity are quite detailed ), the text will be better understood. The numerous personages, tribal names and toponyms are considered, as well as problems concerning points of chronology and various matters of historical and religious significance. Specific comment is made upon certain interesting terms or any unusual or striking vocabulary. The thesis concludes with maps, genealogical tables and a comprehensive bibliography

    Pemikiran Ekonomi Dalam Perspektif Agama Islam: Tela’ah Pemikiran Imam Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dan Nashiruddin Al-Tusi

    No full text
    Pemikiran ekonomi dalam Islam memiliki dasar yang kuat pada nilai-nilai moral, keadilan, dan kemaslahatan umat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran ekonomi dari tiga tokoh penting dalam tradisi intelektual Islam, yaitu Imam Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dan Nashiruddin Al-Tusi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis berbagai literatur yang berkaitan dengan konsep ekonomi dalam pemikiran ketiga tokoh tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya etika dan keseimbangan dalam aktivitas ekonomi serta memandang harta sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan dan kemaslahatan. Ibnu Taimiyah menyoroti peran mekanisme pasar yang adil, larangan praktik penipuan, serta pentingnya keadilan dalam penentuan harga. Sementara itu, Nashiruddin Al-Tusi menekankan keterkaitan antara ekonomi, moralitas, dan tata kelola masyarakat yang baik. Ketiga pemikiran tersebut menunjukkan bahwa ekonomi dalam perspektif Islam tidak hanya berfokus pada aspek material, tetapi juga pada nilai moral, keadilan, dan kesejahteraan sosial. Dengan demikian, pemikiran para tokoh ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan konsep ekonomi Islam yang berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah

    Hukum bersalaman setelah sholat menurut Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Muhammad Nashiruddin al-Albani

    No full text
    Dikalangan masyarakat masih banyak terjadi perbedaan pendapat tentang hukum bersalaman setelah sholat, ada yang menganjurkan dan ada juga yang membid’ahkan. Diantara ulama yang menjelaskan tentang hukum bersalaman setelah sholat ini adalah Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz, menurutnya hukum bersalaman setelah sholat ini adalah bid’ah atau tidak ada pada zaman rosul sedangkan menurut Muhammad Nashiruddin al-Albani, menurut beliau hukum bersalaman setelah sholat ini adalah dianjurkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dalil yang digunakan oleh kedua ulama tersebut dalam menetapkan hukum bersalaman setelah sholat, untuk mengetahui metode istinbath hukum dari kedua ulama tersebut dalam menetapkan hukum bersalaman setelah sholat, dan terakhir untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pendapat kedua ulama tersebut dalam menetapkan hukum bersalaman setelah sholat. Penelitian ini didasari dari pemikiran bahwa adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama bisa disebabkan karena perbedaan penggunaan dalil, perbedaan penggunaan metode istinbath hukum, letak geografis dari penetapan hukum dan dipengaruhi juga oleh madzhab yang diikutinya sehingga terjadilah pendapat tentang hukum bersalaman setelah sholat ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analisi-komparatif, yaitu dengan menggunakan kajian pustaka. Metode ini dapat digunakan dalam penelitian dua atau lebih pendapat ulama yang saling bertolak belakang dan juga hal ini bersifat normatif. Hasil dari penelitian ini bahwa: 1) Dalil yang digunakan oleh kedua ulama ini adalah dalil hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thirmidzi, Imam Bukhari, Imam Muslim, dan juga oleh Imam Ahmad. 2) Metode istinbath hukum yang digunakan oleh kedua ulama ini dalam menetapkan hukum bersalaman setelah sholat ini adalah sama-sama menggunakan kaidah Mutlaq dan Muqayyad. 3) Abdul Aziz bin Baz menetapkan bahwasanya hukum bersalaman setelah sholat itu adalah kegiatan bid’ah, sedangkan Syaikh Albani menganjurkan bersalaman setelah sholat karena dapat menggugurkan dosa

    Hadis-hadis tawassul : studi komparasi antara Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dan Muhammad Nashiruddin al-Albani

    No full text
    Tawassul adalah cara berdoa kepada Allah swt melalui perantara untuk lebih mendukung terkabulnya doa baik itu dengan perantaraan amal salih, asmā’ul ḥusna, doa orang salih, kedudukan/kemuliaan makhluk baik yang sudah meninggal ataupun masih hidup. Masalah perantara ini umat Islam berbeda pendapat, dan perbedaan itu didasarkan pada kajian hadis. Baik itu karena perbedaan ulama dalam menetapkan parameter kesahihan hadis ataupun karena perbedaan pemahaman kepada makna hadis. Dalam hal tawassul ini, di lapangan sering terjadi konflik baik secara verbal ataupun non verbal. Karena minimnya pemahaman yang komprehensif, akhirnya terjadilah sikap fanatik buta. Pemahaman tawassul ini terbagi menjadi dua kelompok, yang pertama pemahaman tawassul secara umum, yaitu bolehnya tawassul secara umum baik dengan amal salih, asmā’ul ḥusna dan kemuliaan, hak, kedudukan seorang makhluk baik yang telah meninggal ataupun masih hidup, kelompok ini diwakili oleh syekh Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki. Yang kedua, membatasi tawassul hanya menjadi tiga saja, yaitu dengan amal salih, asmā’ul ḥusna dan doa orang salih, sedangkan selain ketiga hal ini adalah bid’ah, dan bisa terjerumus dengan kesyirikan, kelompok ini diwakili oleh syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Oleh karena itu, peneliti mengambil kedua tokoh ini untuk dijadikan penelitian skripsi karena memilik pemahaman yang berseberangan. Penulisan skripsi ini menggunakan studi komparasi, yang dimaksud studi komparasi dalam penelitianini adalah metode membandingkanPemahaman dua tokoh dalam memahami hadis-hadis tawassul, baik dari segi sanad ataupun matan. Kajian ini bertujuan untuk mencari sebab perbedaan dari masing-masing tokoh baik itu kriteria keṣaḥῑḥan sanad ataupun metode pemahaman matan. Adapun pendekatan yangdigunakan peneliti dalam penelitian skripsi ini adalah pendekatankualitatif, dengan jenis penelitian library research, dan metodepengumpulan data yang digunakan penulis adalah dokumentasi,sehingga buku-buku yang diperoleh berasal dari kajian teks atau buku-bukuyang relevan dengan pokok rumusan masalah. Hasil penelitian ini menunjukan, bahwa ‘Alawi al-Maliki menganggap hadis-hadis tawassul itu ṣaḥῑḥkarena telah diṣaḥῑḥkan oleh para pakar hadis seperti, al-Hakim, Ibnu Hibban, as-Subki. Adapun makna tawassuldengan hak, kemuliaan dan kedudukan seorang makhluk baik itu yang masih hidup atau telah wafat menurut ‘Alawi, sejatinya itu merupakan tawassul dengan amal salih itu sendiri, karena didasarkan pada rasa cinta kepada makhluk itu, karena orang yang bertawassul berprasangka bahwa para wasῑlah itu memiliki kedudukan yang dekat di sisi Allah dan Allahpun mencintai orang-orang yang ditawassuli itu, atas dasar itulah orang yang bertawassul menggunakan mereka sebagai wasῑlah, agar doa mereka lebih terjamin untuk dikabulkan. Sementara itu, al-Albani menganggap hadis-hadis tawassul dengan kemuliaan, hak, atau kedudukan makhluk, semuanya ḍa’ῑf, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam pentaḍ’ῑfannya ia menukil pendapat Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hajar dan adz-Dzahabi. Adapun dalam makna hadis tawassul dengan perantaraan selain amal salih, asmā’ul ḥusna, doa orang yang salih itu bertentangan dengan al-Qur’an. Sehingga andaikata hadis itu ṣaḥῑḥpun tetap tidak bisa diterima, karena bertentangan dengan al-Qur’an yang kebenarannya mutlak/qaṭ’i

    Conversion of African Americans to Islam : a sociological analysis of the Nation of Islam and associated groups

    No full text
    'Conversion of African Americans to Islam: A Sociological Analysis of the Nation of Islam Associated groups' is an empirical study of the religious experience of people who had/have distinctive features in terms of race, ethnicity and historical experience. The purpose of this thesis is to demonstrate how African Americans' (AAs) conversion experience in general, and the Nation of Islam associated groups' conversion in particular, differ from the studies of recruitment and conversion in the sociology of religion and New Religion Movements (NRMs). More specifically, their recruitment and conversion experiences to Islam diverge from those who converted to mainstream Islam. The study investigates how AAs' historical experience, soci-economic difficulties and the racism they encountered shaped and influenced their religious understanding. Research methods involved participant observations, a survey questionnaire, interviews, conversations, personal communications and correspondence. To collect ethnographic data eleven months field research was conducted mainly in the Chicago area and on two short visits to Detroit, and three years continued communications with Muslim officials and academics in the area. During the field research and afterwards through personal communication 181 survey questionnaire responses were received, and 23 Muslim officials, academics and ordinary Muslims were interviewed through semi-structured, unstructured interviews, conversation and correspondence. The thesis begins with a brief history of Islam and Muslims in general and the African American Muslims (AAMs) in particular. More emphasis is given on the historical development of the Nation of Islam (NOl). Then in Chapter III, discussions of schisms in the history of the NOT are examined from sociological perspectives of social and religious movements. In Chapter IV I aimed to formulate my own perspective to analyse and study the conversion experiences of AAMs to Islam. I used a multivariate approach, considering selectively widely held conversion and recruitment theories in the sociology of the religion. I consider in Chapter V the predisposing conditions for AAMs that influence their decision-making to join in the NOT, for example, political and nationalistic sentiments and socio-economic deprivations. In Chapter VI I have applied different terms to describe their religious experiences, such as conversion, alteration and reversion. I have analysed further their encounters with the NOT, the methods of recruitment they used and their major motives for joining the NOT and converting to Tslam. In the concluding chapters (Chapter VII VTTT) I describe the different responses of AAMS to Islam following the death of Elijah Muhammad. It is found out that the Islamic appeal has polarised. While Farakhan's NOT appeared to continue the tradition and style of the old NOI with the emphasis on nationalistic and socio-economic factors, Tmam W. D. Mohammed's community turned more to the religious and spiritual aspects of Tslam. These different approaches led to a polarisation of the appeal of Tslam to AAMS. This thesis contributes to knowledge in four key areas; the sociology of religion and religious movements, the sociology of social and nationalistic movements, religious and Islamic studies

    Studi komparasi pendapat Imam Malik dan Imam Shafi'i terhadap ucapan Istinsha’ dalam ikrar talak

    No full text
    Skripsi ini merupakan hasil penelitian kepustakaan tentang “Studi Komparasi Pendapat Imam Malik dan Imam Shafi’i terhadap Ucapan Istinsha’ dalam Ikrar Talak. Penelitin ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang Bagaimana pendapat Imam Malik terhadap ucapan istinsha’ dalam ikrar talak?, Bagaimana pendapat Imam Shafi’i terhadap ucapan istinsha’ dalam ikrar talak?, Bagaimana perbedaan dan persamaan pendapat Imam Malik dan Imam Shafi’i terhadap ucapan istinsha’ dalam ikrar talak?. Dalam penyusunan skripsi ini, menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sumber primer, yaitu kitab yang berjudul al-Muhadhab, juz , karya Abu Ishaq Ibrahim. an-Nawadir wa al-Ziyadat, jilid , karya Abu Muhammad Abdillah bin Abdul Rahma Abu Zaid al-Qairwani. Sebagai sumber sekunder, yaitu Nihayah al-Muhtaj, juz , karya Syamsuddin Muhammad Abu al-Abbas Ahmad bin Hamzah. al-Muhalla, juz X karya Imam Ibnu Hazm. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, jilid IX karya Wahbah az-Zuhaili. Irwa’ al-Gholil, juz IX karya Muhammad Nashiruddin al-Albani. al-Mughni, juz X karya Ibnu Qudamah. al-Fatawa al-Kubro, jilid V, karya Ibnu Taimiyah. Majmu’ Fatawa, jilid XXXV karya Syaikhul Islam Ahmad Ibn Taimiyah. Serta lainnya yang relevan dengan permasalahan tersebut. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah studi pustaka, yaitu dengan membaca, mencermati sumber-sumber data yang ada. Kemudian data diolah dengan memeriksa kembali semua data terutama dari segi kelengkapannya, kejelasan makna, kesesuaian dan keselarasan antara satu dengan lainnya, kemudian menyusun dan mensistematikan data yang diperoleh dalam kerangka paparan yang sudah direncanakan sebelumnya. Selanjutnya data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan metode komparatif. Metode ini digunakan untuk membandingkan dua masalah yaitu pendapat Imam Malik dan Imam Shafi’i terhadap ucapan istinsha’ dalam ikrar talak, sehingga dapat diketahui perbedaan, persamaan, serta kontroversi dari kedua kajian tersebut. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa, apabila ucapan talak digantungkan pada kehendak Allah maka menurut Imam Malik terjadi atau jatuh talaknya, istinbat hukumnya berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, dan hal tersebut adalah penukilan mengenai ijma’, yaitu ijma’ sukuti. Dengan demikian kehujjahan ijma’ ini masih diperselisihkan. Sedangkan Imam Shafi’i talak yang disyaratkan dengan kehendak Allah tidak jatuh, begitu pula yang berlaku di kalangan ulama Zahiriyah. Metode istinbat hukumnya berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, serta hadits riwayat Ibnu Abbas. Hadits riwayat para pemilik keempat kitab sunan at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. hadits hasan ini hukumnya sama dengan hadits sahih untuk dijadikan hujjah. Sejalan dengan kesimpulan tersebut, maka ada beberapa saran yang perlu dicantumkan. Yaitu, masalah talak merupakan masalah yang sebab akibatnya erat hubungannya dengan putusnya perkawinan, terkait mental serta kehidupan istri dan anak untuk ke depannya. Oleh sebab itu hendaklah seorang suami berhati-hati dalam menjaga perkataannya, serta mempertimbangkan dengan matang dalam setiap tindakan

    Saudara Radhaah menurut Muhammad Al-Ghazali perspektif teori Maqasid Al-Syariah Imam Syatibi

    No full text
    ABSTRAK Asi adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa ditunda (dharuriat) pasca bayi lahir. asal menyusui anaknya bagi seorang ibu hukumnya adalah sunnah, menjadi wajib jika ayah tidak mampu memberi upah kepada orang lain. fenomena sebagian ibu kandung berudzur dalam memberikan persusuannya kepada anak. Alternatif memberikan hak radha’ah kepada orang lain tentu menjadi solusi tepat bagi ibu kandung. kadar radha’ah dengan jumlah tertentu secara hukum islam akan megubah status kemahraman sibayi. menurut muhammad al-ghazali saudara radha’ah disandarkan pada terjadinya persusuan bukan kepada kadar atau jumlah hitungan tertentu. menganalisis sebuah fatwa meggunakan teori maqasid as-syariah adalah langkah yang tepat, hal ini sudah dilakukan oleh para ilmuwan islam terdahulu hingga sekarang. Berdasarkan persoalan diatas, maka penelitian ini membahas tentang metode muhammad al-ghazali dalam menetapkan kadar radha’ah kemudian dipandang dalam persepektif maqasid syari’ah imam syatibi. sebagai sinkronisasi, pendapat muhammad al-ghazali dengan konsep maqasid al-syari’ah. penelitian ini termasukt jenis library research ( kepustakaan) dengan pendekatan deskriptif-analitis. hasil dari penelitian ini adalah: muhammad al-ghazali dalam menentukan kadar radha’ah, didasari dengan metode kritik matan hadis kadar radha’ah minimal lima kali penysusuan. ada empat langkah dalam menguji matan hadis radha’ah :pertama, pengujian dengan al-qur’an, ke-dua, pengujian dengan hadis, ke-tiga, pengujian dengan sejarah, ke-empat, pengujian dengan kebenaran fakta ilmiah. dalam perspektif maqasid al-syari’ah imam syatibi, pendapat muhammad al-ghazali tidak memenuhi kriteria lima penjagaan daruriat al-khamsah, walaupun penulis hanya menerapkan tiga kaidah saja: hifdzun al-din, hifdzun nasab, hifdzun aql. berdasarkan maqâshid ada lima cara untuk mengoperasionalkan ijtihad, yaitu: pertama, memahami tujuan dari teks-teks dan hukum. kedua, mengumpulkan antara kulliyât al-âmmah dan dalil-dalil khusus. ketiga, mujtahid wajib mempertimbangkan dalil-dalil parsial untuk menghadirkan kulliyât al-syarî'ah keempat, jalbu al-mashâlih wa dar’u al-mafâsid (mendatangkan kemashlahâtan dan mencegah kerusakan). kelima, dengan mempertimbangkan akibat suatu hukum (i'tibâr al-maâlât). dari kelima langkah minimal dikerucutkan dua langkah pokok dalam menetukan ijtihad: jalbu al-mashâlih wa dar’u al-mafâsid mutlaqa’n. dan i’tibâr al-maâlât (mempertimbangkan akibat suatu hukum). ABSTRACT Breast milk is a basic need that cannot be postponed (dharuriat) after the baby is born. i) as long as breastfeeding her child for a mother is a sunnah, it becomes obligatory if the father is unable to provide wages to others. the phenomenon of some birth mothers in giving their milk to their children. the alternative of giving radha'ah rights to others is certainly the right solution for biological mothers. the level of radha'ah with a certain amount according to islamic law will change the status of the mahram of the baby. according to muhammad al-ghazali, radha'ah is based on the occurrence of breastfeeding, not on a certain level or number of counts. analyzing a fatwa using the maqasid as-shariah theory is the right step, this has been done by previous islamic scientists until no. based on the problems above, this study discusses the method of muhammad al-ghazali in determining the level of radha'ah then viewed from the perspective of maqasid syari'ah imam syatibi. as a synchronization, muhammad al-ghazali's opinion with the concept of maqasid al-syari'ah. this research is a type of library research (library) with a descriptive-analytical approach. the results of this study are: muhammad al-ghazali in determining the level of radha'ah, based on the method of criticism of the hadith, the level of radha'ah at least five times. there are four steps in testing the matn of radha'ah hadith: first, testing with the qur'an, second, testing with hadith, third, testing with history, fourth, testing with the truth of scientific facts. in the perspective of imam syatibi's maqasid al-syari'ah, muhammad al-ghazali's opinion does not meet the criteria of five daruriat al-khamsah safeguards, although the author only applies three rules: hifdzun al-din, hifdzun nasab, hifdzun aql. based on maqâshid there are five ways to operationalize ijtihad, namely: first, understand the purpose of the texts and the law. second, collecting between kulliyât al-âmmah and specific arguments. third, the mujtahid must consider partial arguments to present kulliyât al-syarî'ah. fourth, jalbu al-mashâlih wa dar'u al-mafâsid (bringing goodness and preventing damage). fifth, by considering the consequences of a law (i'tibâr al-maâlât). of the five steps, at least two main steps are narrowed in determining ijtihad: jalbu al-mashalih wa dar'u al-mafâsid mutlaqa'n. and i'tibâr al-maâlât (considering the consequences of a law). مستخلص البحث لبن الأم حاجة أساسية لا يمكن تأجيلها بعد ولادة الطفل. ط) ما دامت إرضاع ولدها لأم سنة ، وجبت إذا عجز الأب عن أجرة غيره. ظاهرة قيام بعض الأمهات بإعطاء حليبهن لأطفالهن. إن البديل عن إعطاء حقوق الرضا للآخرين هو بالتأكيد الحل الصحيح للأمهات البيولوجيات. إن مستوى الرضا بمقدار معين وفق الشريعة الإسلامية يغير من منزلة محرم المولود. ووفقًا لمحمد الغزالي ، فإن الرضاعة مبنية على حدوث الرضاعة الطبيعية ، وليس على مستوى معين أو عدد من التهم. إن تحليل الفتوى باستخدام نظرية مقاصد الشريعة هو الخطوة الصحيحة، وقد قام بذلك علماء مسلمون سابقون حتى الآن. بناء على المشاكل المذكورة أعلاه ، تناقش هذه الدراسة منهج محمد الغزالي في تحديد مستوى الرضاعة ثم عرضها من منظور مقاصد الشريعة الإمام الشاطيبي. تزامن رأي محمد الغزالي مع مفهوم المقاصد الشريعه. هذا البحث هو نوع من البحوث المكتبية (المكتبة) مع منهج وصفي-تحليلي. ونتائج هذه الدراسة هي: محمد الغزالي في تحديد مستوى الرضا ، بناء على منهج نقد الحديث ، مستوى الرضا خمس مرات على الأقل. هناك أربع خطوات في اختبار متن الحديث النبوي: أولاً: الاختبار مع القرآن ، وثانيًا ، والاختبار بالحديث ، والثالث ، والاختبار مع التاريخ، والرابع ، واختبار حقيقة الحقائق العلمية. من منظور مقاصد الإمام الصياطيبي ، فإن رأي محمد الغزالي لا يفي بمعايير الضمانات الخمس من درية الخمسة ، على الرغم من أن المؤلف يطبق ثلاثة قواعد فقط: حفظ الدين ، حفظ النساب ، حفظ العقل. بناءً على المقاصد ، هناك خمس طرق لتفعيل الاجتهاد ، وهي: أولاً ، فهم الغرض من النصوص والقانون. ثانياً: الجمع بين كلية الأمة والحجج النوعية. ثالثًا ، يجب على المجتهد أن يأخذ في الاعتبار الحجج الجزئية لتقديم كلية السيرة ، ورابعًا ، جلب الخير ودرع المفسد. خامساً: النظر في نتائج القانون. من بين الخطوات الخمس ، تم تضييق خطوتين رئيسيتين على الأقل في تحديد الاجتهاد: جلب المصالح ودرء المفاسد واعتبارالمعلات
    corecore