1,729,080 research outputs found

    Analisis Dampak Perubahan Norma-norma Sosial dalam Era Media Sosial

    Full text link
    Norma-norma sosial adalah aturan atau pedoman yang tidak tertulis namun diakui dan diikuti oleh anggota masyarakat untuk mengatur perilaku mereka. Norma ini menentukan apa yang dianggap sebagai perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima dalam konteks sosial tertentu. Norma-norma sosial penting karena mereka membantu menciptakan keteraturan dan stabilitas dalam masyarakat, mempromosiskan kerjasama dan kohesi sosial, serta menyediakan kerangka kerja untuk perilaku individu dalam konteks sosial yang lebih luas. Perubahan norma-norma sosial akibat media sosial adalah fenomena kompleks dengan dampak positif dan negatif. Memahami dan mengelola perubahan ini penting untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan dampak negatifnya. Media sosial mempercepat penyebaran informasi dan berita, tetapi juga bisa menjadi saluran untuk penyebaran hoaks dan disinformasi. Studi ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan menggunakan analisis deskriptif. Data dikumpulkan melalui studi literatur. Hasil penelitian meyatakan bahwa media sosial telah menjadi platform untuk gerakan sosial dan kampanye aktivisme, memobilisasi massa secara cepat dan efektif. &nbsp

    Amalan Kepimpinan Multidimensi Pengetua dan Norma-Norma Budaya di MRSM

    Full text link
    Penyelidikan ini dijalankan bertujuan mengenal pasti tahap perbezaan skor min kepimpinan multidimensi pengetua dan norma-norma budaya dari aspek lokasi dan jantina guru di Maktab Rendah Sains MARA. Kajian menggunakan kaedah tinjauan. Beberapa teknik pensampelan digunakan iaitu pensampelan tiga tahap iaitu tahap satu (1) ialah pensampelan rawak kelompok besar; tahap dua (2) ialah pensampelan rawak kelompok kecil dalam kelompok besar; tahap tiga (3) ialah pensampelan rawak elemen dalam kelompok kecil dengan mengedarkan satu set borang soal selidik yang telah diadaptasi daripada penyelidik asal. Seramai 363 orang responden yang terdiri daripada ketua-ketua jabatan akademik dan guru-guru kanan subjek di 20 buah MRSM seluruh Malaysia telah menjawab soal selidik yang diedarkan. Data dianalisis menggunakan perisian IBM SPSS. Dapatan kajian menunjukkan tahap kepimpinan pengetua adalah sangat tinggi dan tahap norma-norma budaya hanyalah tahap tinggi. Seterusnya kepimpinan multidimensi pengetua dan norma-norma budaya terdapat perbezaan skor min yang signifikan pada aras p<.05 dari aspek lokasi. Kepimpinan multidimensi pengetua dari aspek jantina tidak terdapat perbezaan yang signifikan pada aras p<.05 tetapi terdapat perbezaan yang signifikan pada aras p<.05 dalam norma-norma budaya dari aspek jantina

    Amalan Kepimpinan Multidimensi Pengetua dan Norma-Norma Budaya di MRSM

    No full text
    Penyelidikan ini dijalankan bertujuan mengenal pasti tahap perbezaan skor min kepimpinan multidimensi pengetua dan norma-norma budaya dari aspek lokasi dan jantina guru di Maktab Rendah Sains MARA. Kajian menggunakan kaedah tinjauan. Beberapa teknik pensampelan digunakan iaitu pensampelan tiga tahap iaitu tahap satu (1) ialah pensampelan rawak kelompok besar; tahap dua (2) ialah pensampelan rawak kelompok kecil dalam kelompok besar; tahap tiga (3) ialah pensampelan rawak elemen dalam kelompok kecil dengan mengedarkan satu set borang soal selidik yang telah diadaptasi daripada penyelidik asal. Seramai 363 orang responden yang terdiri daripada ketua-ketua jabatan akademik dan guru-guru kanan subjek di 20 buah MRSM seluruh Malaysia telah menjawab soal selidik yang diedarkan. Data dianalisis menggunakan perisian IBM SPSS. Dapatan kajian menunjukkan tahap kepimpinan pengetua adalah sangat tinggi dan tahap norma-norma budaya hanyalah tahap tinggi. Seterusnya kepimpinan multidimensi pengetua dan norma-norma budaya terdapat perbezaan skor min yang signifikan pada aras p<.05 dari aspek lokasi. Kepimpinan multidimensi pengetua dari aspek jantina tidak terdapat perbezaan yang signifikan pada aras p<.05 tetapi terdapat perbezaan yang signifikan pada aras p<.05 dalam norma-norma budaya dari aspek jantina

    UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN TENTANG NORMA-NORMA PERNIKAHAN MELALUI LAYANAN ORIENTASI DENGAN MEDIAAUDIO VISUAL

    Full text link
    Berdasarkan wawancara dari guru bimbingan dan konseling pada tanggal 27 Maret 2014 diperoleh hasil masih banyaknya siswa kelas XI yang belum memahami tentang norma-norma pernikahan, hal ini dilihat dari banyak siswa putri yang berpakaian ketat sehingga dapat menimbulkan hal negatif dilihat dari segi norma bepakaian, serta ada juga yang hamil diluar nikah gara-gara melakukan hubungan yang melampaui batas, hubungan siswa dengan lawan jenis belum ada batasan. Permasalahan yang akan diteliti: Bagaimanakah pelaksanaan layanan orientasi dengan media audiovisual dapat meningkatkan pemahaman norma-norma pernikahan pada siswa kelas XI SMA PGRI 1 Kudus Tahun 2013/2014?. Tujuan penelitian ini adalah: Diperolehnya peningkatan pemahaman norma-norma pernikahan sesudah mendapatkan layanan orientasi dengan media audiovisual pada siswa kelas XI SMA PGRI 1 Kudus tahun 2013/2014. Kegunaan penelitian ini adalah Penelitian ini akan memberikan sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya bimbingan dan konseling tentang model-model pembinaan siswa melalui layanan orientasi dengan media audiovisual untuk meningkatkan pemahaman norma-norma pernikahan. Dalam penelitian mengkaji teori-teori yang berhubungan dengan norma-norma pernikahan dimana norma adalah aturan-aturan atau pedoman sosial yang khusus mengenai tingkah laku, sikap, dan perbuatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan di lingkungan kehidupannya. Pernikahan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hipotesis Penelitian ini adalah: “Layanan orientasi dengan media audiovisual dapat meningkatkan norma-norma pernikahan pada siswa kelas XI SMA PGRI 1 Kudus Tahun 2013/2014” Penelitian ini merupakan penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK). Metode pengumpulan data metode pokok observasi, metode pendukung yaitu wawancara. Analisis data menggunakan deskriptif komparatif. Subjek yang diteliti dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA PGRI 1 Kudus diambil seluruh anak dalam satu kelas yaitu 25 siswa. Variabel penelitian: layanan orientasi (variabel bebas) dan norma-norma pernikahan (variabel terikat). Penelitian dilakukan 2 siklus (siklus I dan siklus II) setiap siklus 3 pertemuan dengan alokasi waktu 45 menit. Berdasarkan hasil penelitian pada observasi pemahaman tentang norma-norma pernikahan, dapat dikatakan bahwa melalui layanan orientasi pemahaman tentang norma-norma pernikahan dapat meningkat. Hal ini terbukti dengan hasil yang diperoleh dari setiap observasi yang dilakukan pra layanan mendapatkan nilai rata-rata 17,16 dalam kategori sangat kurang (SK), siklus I mendapatkan nilai rata-rata 21,39 dalam kategori kurang (K), pada siklus II mendapatkan nilai rata-rata 31,56 dalam kategori baik (B) terjadi peningkatan pada pra siklus sampai siklus II sebesar 14,4. Berdasarkan hasil pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa layanan orientasi dengan media audio visual dapat meningkatkan pemahaman tentang norma-norma pernikahan siswa kelas XI SMA PGRI 1 Kudus. Dengan demikian hipotesis yang diajukan dapat diterima karena sesuai dengan indikator keberhasilan. Melihat temuan dilapangan, peneliti memberikan saran kepada: 1. Kepada Kepala sekolah, sebaiknya kepala sekolah memberikan fasilitas sarana dan prasarana yang mendukung agar program Bimbingan dan Konseling dapat terlaksana dengan baik, khususnya layanan orientasi dalam meningkatkan pemahaman tentang norma-norma pernikahan. 2. Kepada Konselor, sebaiknya konselor sekolah memberikan layanan orientasi berkaitan dengan pemahaman tentang norma-norma pernikahan secara intensif dan pemberian layanan orientasi sesuai dengan kebutuhan siswa agar pemahaman siswa dapat berkembang secara optimal. 3. Kepada Siswa, diharapkan, siswa dapat memperoleh wawasan tentang pemahaman norma-norma pernikahan sehingga siswa mengetahui batasan-batasan dalam berhubungan dengan lawan jenis. Serta dapat meningkatkan diri untuk membiasakan bersikap yang sesuai dengan peraturan yang ada disekolah. 4. Peneliti berikutnya, sebaiknya peneliti berikutnya perlu mengadakan penelitian lebih lanjut dan lebih lengkap yang keterkaitan dengan masalah pemahaman tentang norma-norma pernikahan dengan menggunakan layanan orientasi

    Norma-Norma Kehidupan Keluarga dan Masyarakat Minangkabau dalam Dimensi Filsafat Sosial

    No full text
    Kajian tentang keluarga dan masyarakat dalam era perubahan yang sangat cepat dewasa ini mendesak untuk dilakukan, karena keluarga merupakan inti seluruh sistem kemasyarakatan. Sehingga perubahan norma-norma yang terjadi dewasa ini mempengaruhi sikap dan pandangan hidup anggota-anggota keluarga. Pada akhirnya perubahan norma-norma keluarga juga akan mempengaruhi kelompok bangsa, negara, agama, dan kelompok bebas. Penelitian tentang norma-norma keluarga dan masyarakat dalam tinjauan filsafat sosial sejauh ini jarang dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode hermeneutik-refleksif sebagai berikut : (1). Analisis terhadap norma keluarga dan masyarakat Minangkabau dalam sudut pandang filsafat sosial, dengan metode deduksi dan induksi. (2) Refleksi terhadap norma keluarga dan masyarakat Minangkabau, baik melalui teks-teks, maupun pengamatan empirik. (3) Mengangkat tata hubungan antara norma keluarga dan masyarakat Minangkabau dengan norma kehidupan berbangsa bernegara di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Norma-norma keluarga dan masyarakat Minangkabau terkandung di dalam pepatah-petitih yang diwariskan secara turun-temurun yang terangkum dalam Tambo Adat Minangkabau. (2) Pepatah-petitih adat Minangkabau memiliki dasar-dasar etika sosial (filsafat sosial) yang menjadi landasan bagi pengaturan pola hidup berkeluarga dan bermasyarakat. (3) Landasan etika sosial norma-norma keluarga dan masyarakat minangkabau merupakan perpaduan harmonis antara norma-norma agama islam dengan norma-norma yang terkandung dalam pepatah adat seperti terungkap dalam pepatah: Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. (4) Tungku Tigo Sajarangan yang terdiri atas alim-ulama, ninik-mamak, cerdik-pandai adalah pilar utama bagi pengembangan norma keluarga dan masyarakat Minangkabau dalam memecahkan masalah yang berkembang dalam masyarakat. (5). Sistem adat Minangkabau ada yang bersifat statis, ada yang dinamis. Kedua bentuk norma ini (statika sosial dan dinamika sosial) ini merupakan dua hal yang komplementer, artinya statika sosial sosial membutuhkan dinamika sosial bagi bagi realisasi nilai-nilai itu sendiri, sebaliknya dinamika sosial membutuhkan statika sosial sebagai patokan atau pedoman nilai-nilai yang baku atau standar. (6). Transformasi sosial yang melanda kehidupan dunia dewasa ini merupakan sesuatu yang bersifat semestinya bagi masyarakat Minangkabau. Karena masyarakat Minangkabau itu sendiri akrab dengan perubahan, hal ini terbukti dengan diterimanya norma norma agama Islam dalam norma-norma adat mereka. Perubahan bagi masyarakat Minangkabau merupakan suatu dinamika yang diterima sejauh tidak bertentangan dengan sistem adat. (7). Bentuk-bentuk perubahan yang berkembang dalam kehidupan keluarga dan masyarakat Minangkabau dewasa ini antara lain: menguatnya peranan urang sumando (ayah) dalam keluarga, melemahnya peranan mamak terhadap kemenakannya, terjadinya perkawinan antar nagari, perkawinan antar suku-bangsa keluar lingkungan Minangkabau sendiri, peralihan dari sistem pembagian hasil ke sistem upah langsung (bulanan) di dalam manajemen rumah makan Minang

    SOSIALISASI TENTANG NORMA-NORMA DALAM MASYARAKAT DI KELAS VII SMP ISLAM NURUL FALAH

    No full text
    sosialisasi norma -norma Yang berlaku dalam masyarakat di SMP Islam Nurul Falah sebagai bentuk pendidikan karakter. Sosialisasi norma di sekolah ini merupakan bagian integral dari upaya membentuk siswa yang berakhlak mulia, disiplin, dan mampu menghargai perbedaan dalam masyarakat

    Persepsi Siswa Tentang Norma-norma Sosial Dalam Situasi Belajar Di SMP Negeri 23 Medan Kelurahan Binjai Kecamatan Medan Denai

    Full text link
    Persepsi adalah pengalaman tentang objek peristiwa atau hubungan - hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan yang ada. Persepsi ialah memberikan suatu makna pada stimulus terhadap inderawi ( sensory stimuli ). Persepsi juga dapat di tentukan dengan adanya faktor personal dan juga faktor situasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan terhadap persepsi siswa mengenai adanya norma-norma sosial dalam situasi belajar di SMP Negeri 23 Medan kelurahan Binjai Kecamatan Medan Denai. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah Siswa-siswi yang ada di lingkungan sekolah SMP Negeri 23 Medan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang berupaya untuk menemukan fakta-fakta dan menguraikan hasil temuan penelitian.Dalam hasil penelitian ini dapat di katakan sudah banyak siswa-siswi yang telah mengetahui norma -norma sosial yang berlaku di sekolah sehingga siswa dapat mematuhi dan menanti peraturan-peraturan yang ada di sekolah SMP Negeri 23 Medan tersebut. Walaupun ada beberapa sebagian jawaban yang dapat bersifat miskonsepsi terhadap persepsi siswa tentang norma-norma sosial yang berlaku di sekolah di sebabkan oleh adanya faktor inters dan faktor ekstern yang di terima oleh siswa di SMP Negeri 23 Medan kecamatan Medan Denai. Faktor intern merupakan faktor yang di sebabkan dari luar diri seseorang atau dari luar lingkungannya sedangkan faktor ekstern merupakan faktor yang di dapatkan seseorang dari dalam dirinya atau dari dalam lingkungannya sehingga Siswa-siswi dapat memperbaiki sikap dan perilaku iya menjadi lebih baik lagi dengan adanya norma- norma sosial dalam situasi belajar di sekolah SMP Negeri 23 Medan tersebut

    Prinsip Norma-norma Bertutur yang Beretiket dan Beretika dalam Alquran

    Full text link
    oai:jurnalunj.journal.unj.ac.id:article/1136In linguistic norms, the language of the Quran consists of words, sentences, and paragraphs which are full of meaning. Therefore, based on this aspect, it can be approximated as the other text that can be studied and researched through linguistic elements, as expressed in the form of linguistic structure, both textual and contextual. The language of the Quran is no longer just words, phrases, and sentences as a reading routines Muslims, but also as a sign and message and also information to communicate our Mankind that in the texts of the Quran contained linguistic discourse strands of substitutions. Therefore, this research is an ethnographic study of communication that is qualitative descriptive, and the problem is focused directly to the principles of spoken norms as the main observation variable or formal object, and can be formulated "How are tagged spoken norms and ethics in the Quran?". The purpose of this study was to reveal concretely about the principles the ethical norms and tagged speak contained in the Qur'an. The data contains the discourse of substitutions on the linguistic text of the Quran, searched and analyzed using the ethnographic instrument of communication. This means that this study is based on the theory of speech ethnography or the ethnography of communication with the concept of the English acronym "SPEAKING". The data from the language text of the Quran are discussed in this study showed the disclosure principles of tagged spoken norms and ethics in the Qur'an. This means that the discussion proved that the verses that speak of substitutions are principles, beliefs, attitudes, doctrines, and guidelines for how to speak with  etiquette and ethical speech principles. This principle is universal for anyone and in any language. This is so that communication can take place with a good and harmonious.  Secara norma linguistik, bahasa Al-Quran terdiri dari kata, kalimat, dan paragraph yang sarat makna. Maka dari itu, dilihat dari aspek ini, ia dapat didekati sebagaimana teks-teks lainnya yang dapat dikaji, ditelusuri dan diteliti melalui unsur-unsur linguistiknya, karena diutarakan dalam bentuk struktur kebahasaan, baik secara tekstual maupun kontekstual. Bahasa Al-Quran bukan lagi sekedar kata-kata, frasa, dan kalimat yang menjadi bacaan rutinitas umat Islam, tetapi juga sebagai tanda dan pembawa pesan dan informasi untuk dikomunikasikan kepada umat manusia bahwa di dalam teks-teks kebahasaan  Al-Quran terdapat untaian wacana pertuturan mengenai norma-norma bertutur.  Oleh karena itu, Penelitian ini merupakan kajian etnografi komunikasi yang bersifat kualitatif deskriptif, dan masalahnya difokuskan langsung kepada prinsip norma-norma bertutur sebagai variabel pengamatan utama atau objek formal, dan dapat dirumuskan “Bagaimana norma-norma bertutur yang beretiket dan beretika dalam Al-Quranâ€. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan secara konkret tentang prinsip norma-norma bertutur yang beretiket dan beretika atas dasar teks kebahasaan Al-Quran, Data-data yang mengandung wacana pertuturan pada teks bahasa Al-Quran, dicari dan ditelaah dengan menggunakan instrument etnografi komunikasi. Artinya penelitian ini dilandasi oleh teori etnografi wicara atau etnografi komunikasi dengan konsep akronim bahasa Inggris “SPEAKING“.  Data-data dari teks bahasa Al-Quran yang dibahas dalam penelitian ini menunjukkan kepada terungkapnya prinsip norma bertutur dalam Al-Quran.  Artinya pembahasannya membuktikan bahwa ayat-ayat yang berbicara mengenai pertuturan adalah azas, keyakinan, sikap, ajaran, dan pedoman bagaimana cara bertutur yang beretiket dan beretika. Prinsip ini bersifat universal bagi siapa saja dan dalam bahasa apa saja. Hal ini agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik dan harmonis

    Praktik Baik Norma-Norma Pancasila dalam Kehidupan Mahasiswa di Asrama Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

    No full text
    Pada saat ini mahasiswa dihadapkan dengan pengaruh dari luar dan situasi konflik dimana-mana. Pancasila yang merupakan landasan hidup bernegara mulai tergerus ditengah lingkungan akademis yang dapat berpengaruh pada karakter mahasiswa. Oleh karna itu asrama mahasiswa menjadi solusi sebagai tameng dan wadah dalam membentuk dan mengembangkan karakter Pancasila pada mahasiwa. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjabarkan bagaimana dan sejauh mana praktik baik norma-norma Pancasila di lingkungan asrama mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskrptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil pada penelitian ini menunjukan asrama mahasiswa memiliki performa dan terobosan yang sangat baik  dalam implementasi norma-norma Pancasila namun masih ada kekurangan yang terdapat pada prosedur di asrama mahasiswa. Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi ilmiah dalam evaluasi untuk memperbaiki kekurangan yang ada di asrama. &nbsp
    corecore