291 research outputs found

    Patrawidya: seri penerbitan penelitian sejarah dan budaya

    No full text
    Jurnal ini berisikan beberapa artikel seperti: 1. Mutiah Amini - Melawat ke Barat : Westernisasi Pendidikan Keluarga Paku Alam V (hlm. 1 - 10). 2.I Wayan Suardana - Aspek-Aspek Ikonografi Penggambaran Tokoh Ramayana Seni Prasi di Desa Sidemen Karangasem Bali (hlm. 11 - 28). 3.Christriyati Ariani - Jinem : Lumbung Padi Petani Blora (hlm. 29 - 54) 4.Bambang H. Suta Purwana - Merapi yang Suci dan Pariwisata yang Kotor : Benturan Nilai-Nilai Religi dan Ekonomi yang Memperlemah Potensi Ritual Sebagai Mitigasi Bencana di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman(hlm. 55 - 72) 5.Sudrajat - Persepsi Petani Terhadap Nilai Sosial-Budaya dan Ekonomi Lahan Sawah di Pinggiran Kota Yogyakarta (hlm. 73 - 94). 6.Sukari - Usaha Kerajinan Ukir Kayu Desa Mulyoharjo Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara (hlm. 95 - 114). 7.Theresiana Ani Larasati - Calung: Musik Tradisional Masyarakat Purbalingga, Jawa Tengah (hlm. 115 - 134). 8.Titi Mumfangati - Serat Atmawiyata Kajian Aspek Moral dan Didaktik (hlm.135 - 166). 9.Baha' Uddin- Resensi Buku : Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro(1785-1885)(hlm. 167-170)

    PERKAWINAN DALAM SEJARAH KEHIDUPAN KELUARGA JAWA 1920an-1970an

    No full text
    Abstrak. Tulisan ini mendiskusikan tentang perkawinan keluarga Jawa dalam periode 1920an-1970an. Sebuah periode ketika perkawinan mengalami tarik menarik kepentingan, baik bagi perempuan sendiri, organisasi sosial-politik, maupun negara. Hal itu tampak melalui solusi atas permasalahan sosial yang muncul terkait dengan perkawinan. Perempuan memiliki cara sendiri untuk hadir di dalam mengatasi permasalahan tersebut. Demikian juga organisasi sosial-politik dan negara. Solusi atas permasalahan perkawinan, dengan demikian, menunjukkan bagaimana perempuan menarasikan dirinya sendiri, bagaimana pula sebenarnya perempuan dinarasikan oleh organisasi sosial-politik dan negara. Untuk menemukan realitas historis terkait dengan perkawinan di masa lalu, tulisan ini menggunakan data tertulis, baik buku, artikel, maupun gambar yang dihasilkan dari surat kabar dan majalah yang terbit dalam kurun waktu tersebut.Kata-kata kunci: perkawinan, perempuan, JawaAbstract. This paper will discuss the Javanese family’s marriage in the period between 1920’s and 1970’s. The marriage faces some interests comprising the women’s interest, social-political organization’s and nation’s interest. This is seemed by the solution of the appeared social problem related to the marriage, social-political organization, and the nation. Therefore, women describe themselves, likewise women are described by social-political organization and the nation. To find the historical phenomena related to the past marriage, this paper used the written data like books, articles, and pictures produced by the newspaper and magazine which were published in this period.    Keywords: marriage, woman, JavaDOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v10i12016p05

    Perempuan dan Media Massa Surabaya Awal Abad Ke-20

    No full text
    Abstract: Industrialisasi di kota Surabaya pada akhir abad ke-19 merupakan unsur pendorong yang sangat penting bagi tumbuh dan suburnya media massa di kota terse-but. Hal itu disebabkan media massa yang dikembangkan di kota Surabaya pada awalnya memiliki tujuan sebagai sarana untuk memasarkan produk dan sebagai sarana untuk bersosialisasi bagi para industrialis, terutama industrialis gula. Seiring dengan perkembangan waktu, pada awal abad ke-20 pertumbuhan surat kabar dan majatah semakin pesat dengan tujuan, sasaran pembaca, dan pemilik yang makin beragam. Mereka tidak lagi terbatas dari kalangan industrialis gula (Eropa), tetapi juga sudah merambah ke berbagai kelas sosial. etnis, dan jenis kelamin. Bahkan, bahasa yang dipergunakan pun semakin bervariasi. Tidak hanya bahasa Belanda, tetapi juga bahasa Melayu, Arab, dan Jawa. Keywords: Perempuan dan Media Massa, Surabaya-Abad Ke-2

    Dari Poro hingga Paketik: AKTIVITAS Ekonomi Orang Kalang di KOTAGEDE pada masa depresi-1930

    No full text
    The aim of this article is to discuss The Kalang People in Tegalgendu, Kotagede in the Depression era. In historical term, depression era is the time when all of the society have difficulties economically. Unlike the common people, The Kalang people can solve that problem by working as a juragan in Poro and Paketik. Poro means retailer or agent of everything and paketik means someone who owns a pawnshop. By reading this article we can know deeply what activities of Kalang people did during the depression era, and why Kalang people chose to become Poro and Paketik in their economic activities. Further, we can learn how Kalang people teach their skills to the next generation

    Sejarah organisasi perempuan Indonesia (1928-1998)

    No full text
    Membaca perempuan adalah membaca dunia penuh warna. Dalam penulisan sejarah perempuan, pemanfaatan rekam jejak perempuan merupakan langkah pertama yang paling penting untuk dilakukan. Dalam buku ini dibahas tentang sejarah organisasi perempuan pada tahun 1928-1998, dimana jejak-jejak yang ditinggalkan oleh perempuan dalam periode tersebut merupakan sumber utama penulisan buku ini. Menarasikan dinamika organisasi dalam berbagai periode yang berbeda, dan tema-tema penting yang dialami perempuan melalui organisasi sejak diselenggarakannya Kongres Perempuan Pertama hingga berakhirnya Orde Baru. Dalam buku ini terbagi ke dalam beberapa tema penting. Dimulai dari hadirnya kelas sosial baru di perkotaan pada awal abad kedua puluh sebagai hasil dari pendidikan formal hingga terinstitusionalisasinya sebuah organisasi. Dilanjutkan dengan transformasi organisasi, baik secara sosial maupun politik yang pada akhirnya menimbulkan sebuah kontestasi organisasi dan menginspirasi hadirnya pendefinisian ulang organisasi pada akhir perode Orde Baru

    Sejarah organisasi perempuan Indonesia (1928-1998) tahun 2024

    No full text
    Membaca perempuan adalah membaca dunia penuh warna. Ada cita-cita, perjuangan, dan tantangan yang seluruhnya dapat dilihat dari Sejarah Organisasi Perempuan dalam buku ini. Sebagai sebuah buku tentang cita-cita, perjuangan, dan tantangan organisasi perempuan, buku ini menghadirkan warna lain dari perempuan yang tidak pernah hadir dalam historiografi Indonesia.Dengan mengambil judul Sejarah Organisasi Perempuan 1928-1998, buku ini tidak saja menarasikan dinamika organisasi dalam berbagai periode yang berbeda, tetapi juga tema-tema penting yang dialami perempuan melalui organisasi sejak diselenggarakannya Kongres Perempuan Pertama hingga berakhirnya Orde Baru. Sehingga, melalui dinamika organisasi tersebut dapat dicermati mengapa pendidikan dan media memiliki arti penting bagi perempuan di dalam periode kolonial dan mengapa pula Hari Ibu, Ibu Negara, Undang-Undang Perkawinan menjadi sangat berarti bagi perempuan dalam periode yang lain.Untuk menarasikan sejarah organisasi perempuan, buku ini terbagi ke dalam beberapa tema penting. Dimulai dari hadirnya kelas sosial baru di perkotaan pada awal abad kedua puluh sebagai hasil dari pendidikan formal hingga terinstitusionalisasinya sebuah organisasi. Dilanjutkan dengan transformasi organisasi, baik secara sosial maupun politik yang pada akhirnya menimbulkan sebuah kontestasi organisasi dan menginspirasi hadirnya pendefinisian ulang organisasi pada akhir perode Orde Baru.xvi, 142 hlm, 23 x 15,5 c

    PRIVATE ISSUES IN PESAT IN LATE COLONIAL JAVA

    No full text
    Pesat was a local newspaper in Semarang published in the 1940s during the late colonial era. The establishment of Pesat could not be separated from the couple of I.M. Sajoeti and S.K. Trimurti, the owners of the newspaper, who were best-known as activitists of Political Party and senior journalists in Semarang at that time. As a local newspaper, the content of this publication differed considerably from the other local newspaper which mostly focused on news and advertisements. Pesat continuously published some information that had not been addressed by the media anywhere before. Pesat published transparently on the problems of family life and household. In particular, Pesat pointed the problems of marriage which placed women in domestic area in which they were not permitted to speak about the problems they were facing to other people in the public domain. This meant that a matter concerning the life of household which was previously considered private space was now published as news available to newspaper readers. Keywords: Pesat, private, colonial, Semarang, Java.   Pesat adalah sebuah koran lokal di Semarang yang diterbitkan pada 1940-an selama era kolonial akhir. Pembentukan Pesat tak lepas dari pasangan IM Sajoeti dan SK Trimurti, pemilik surat kabar, yang dikenal sebagai aktifis Partai Politik dan wartawan senior di Semarang pada waktu itu. Sebagai koran lokal, isi dari publikasi ini berbeda jauh dari koran lokal lainnya yang berfokus pada berita dan iklan. Pesat terus menerbitkan beberapa informasi yang belum ditangani oleh media manapun sebelumnya. Dalam publikasi mereka, Pesat dipublikasikan secara transparan pada kehidupan masalah keluarga dalam rumah tangga. Secara khusus, diangkat masalah seputar pernikahan yang menempatkan perempuan dalam ruang domestik dan perempuan tidak diperbolehkan untuk berbicara tentang masalah yang mereka hadapi kepada orang lain dalam domain publik. Ini berarti bahwa masalah yang berkenaan dengan kehidupan rumah tangga yang sebelumnya dianggap ruang pribadi yang ada di luar keluarga diizinkan untuk tahu tentang itu sekarang telah diterbitkan sebagai berita tersedia bagi pembaca surat kabar. Kata kunci: Pesat, pribadi, kolonial, Semarang, Jawa.  </p

    BUILDING CHILD IN THE MIDDLE OF CHANGING SOCIETY AT SEMARANG IN THE EARLY TWENTIETH CENTURY MEMBESARKANANAK PEREMPUAN DALAM KELUARGAJAWA DI SEMARANG PADAAWALABAD KE-20

    No full text
    The early twentieth century was known as a period of changing, when the manner and style of the society changed in many cases. In the middle of the changing, some chance gave to the society, like the possibility to be accepted in the education system, having friends from the different ethnicities, and getting work in any job. Beside, the changing era gave a wider chance to the society to have a new life style which difference before, that era gave a society to have some possibility, like have a new appearance, watching night performance, fill up the time zone, recreation in the holiday, joint to the advertising industry, having hobbies to cares the animals, using cosmetic from fabricant, and enjoy to new kind of various food. Finally, it interested to discuss how Javanese family build women child in the middle of the changing, especially to the Javanese family that live in Semarang, who geographily and culturally was not in the center of Javanese culture like Surakarta and Yogyakarta. Women child become important to this paper because from the various source prove us that there are a different pattern to care for a children between women and man. It also, there were a different chance to the women and man, both in the privet and public sphere. Because of the importance of this theme to be discussed, this research use historical method to attend the fact, with using some source, like news papers, magazines, books, artides, archives, decision from the social politicalorganizations, direction ofthe roles that publish or related to the Javanese society in Semarang in the early twentieth century. Then, all of that source compared to the record of audio-visual (photograph and film),and some information from the interviewer.</p

    Sejarah organisasi perempuan Indonesia (1928-1998) tahun 2024

    No full text
    Membaca perempuan adalah membaca dunia penuh warna. Ada cita-cita, perjuangan, dan tantangan yang seluruhnya dapat dilihat dari Sejarah Organisasi Perempuan dalam buku ini. Sebagai sebuah buku tentang cita-cita, perjuangan, dan tantangan organisasi perempuan, buku ini menghadirkan warna lain dari perempuan yang tidak pernah hadir dalam historiografi Indonesia.Dengan mengambil judul Sejarah Organisasi Perempuan 1928-1998, buku ini tidak saja menarasikan dinamika organisasi dalam berbagai periode yang berbeda, tetapi juga tema-tema penting yang dialami perempuan melalui organisasi sejak diselenggarakannya Kongres Perempuan Pertama hingga berakhirnya Orde Baru. Sehingga, melalui dinamika organisasi tersebut dapat dicermati mengapa pendidikan dan media memiliki arti penting bagi perempuan di dalam periode kolonial dan mengapa pula Hari Ibu, Ibu Negara, Undang-Undang Perkawinan menjadi sangat berarti bagi perempuan dalam periode yang lain.Untuk menarasikan sejarah organisasi perempuan, buku ini terbagi ke dalam beberapa tema penting. Dimulai dari hadirnya kelas sosial baru di perkotaan pada awal abad kedua puluh sebagai hasil dari pendidikan formal hingga terinstitusionalisasinya sebuah organisasi. Dilanjutkan dengan transformasi organisasi, baik secara sosial maupun politik yang pada akhirnya menimbulkan sebuah kontestasi organisasi dan menginspirasi hadirnya pendefinisian ulang organisasi pada akhir perode Orde Baru.xvi, 142 hlm, 23 x 15,5 c
    corecore