1,720,970 research outputs found
Strategi Pengelolaan Daerah Penangkapan Ikan di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Lingga di Kabupaten Lingga
Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Lingga telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Kabupaten Lingga dengan No.280/KPTS/X/2014 seluas kurang lebih 385. 467,5 Ha diperuntukan perikanan berkelajutan, kegiatan wisata bahari, penelitian dan kegiatan lainnya secara lestari. KKPD Lingga ini diberi nama KKPD Datok Bandar. Mengetahui karakteristik daerah penangkapan ikan di KKPD Lingga sangatlah di perlukan, juga menentukan jenis teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan pada zona perikanan berkelanjutan di KKPD Lingga. Serta menyusun strategi pengelolaan daerah penangkapan ikan yang berkelanjutan di KKPD Lingga.
Secara umum profil kondisi oseanografi dari KKPD Lingga yakni: salinitas, PH, kecepatan arus dan gelombang bervariasi dan menyebar tidak merata., Salinitas 30‰-34‰., PH8,0-8,3, dan kecepatan arus 1,2-2,8 cm/s, tinggi gelombang 0,3 – 0,45 m. Perbedaan kisaran nilai parameter oseanografi ini disebabkan karena perairan daerah penangkapan ikan di KKPD Lingga dominan pada rentang kedalaman 10 - 30 meter. Baiknya kondisi terumbu karang, ikan karang, mangrove dan lamun sebagai daya dukung ketersediakan sumberdaya ikan yang lestari pada KKPD Lingga.
Jenis alat tangkap ikan yang beroperasi di KKPD Lingga adalah alat tangkap bubu, pancing, mini purse seine, jaring, bagan dan mini trawl. Skor tertinggi dari keseluruhan kriteria terdapat pada alat tangkap bubu dengan nilai 34 dan skor terendah adalah alat tangkap mini trawl dengan nilai 16. rekomendasi strategi pengelolaan daerah penagkapan ikan di KKPD Lingga; 1) Peningkatan kesadaran nelayan terhadap kelestarian sumberdaya ikan. 2) Optimalisasi produktivitas perikanan tangkap skala kecil melalui peningkatan kwalitas SDM nelayan. 3) Penegakkan hukum secara tegas dan peningkatan sistem pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan berbasis masyarakat, termasuk penambahan personil pengawas PSDKP. 4) Penggantian alat tangkap ke yang ramah lingkungan guna mendukung memaksimalkan pemanfaatan sumberdaya ikan di KKPD lingga. 5) Peningkatan teknologi peralatan penangkapan yang membantu memaksimalkan penangkapan sumberdaya ikan yang ada
Karakteristik Daerah Penangkapan Madidihang (Thunnus albacares) Berdasarkan Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a di Perairan Provinsi Aceh
Tuna madidihang (Thunnus albacares) merupakan sumberdaya ikan unggulan
yang tersebar di wilayah perairan Provinsi Aceh. Selama ini para nelayan yang
melakukan usaha penangkapan madidihang mengalami kendala dalam menentukan titik
operasional daerah penangkapan ikan. Daerah penangkapan ikan yang tidak pasti dapat
telah menurunkan produktivitas hasil tangkapan. Penentuan daerah penangkapan ikan
dapat diduga dari kondisi perairan yang merupakan habitat dari suatu spesies dan
biasanya digambarkan dengan parameter oseanografi. Suhu permukaan laut (SPL) dan
klorofil-a merupakan parameter oseanografi berperan penting untuk mengetahui
keberadaan ikan tuna madidihang dan mempermudah dalam menganalisis daerah
penangkapan ikan yang potensial yang terdapat di perairan Provinsi Aceh. Penentuan
daerah potensial ikan madidihang dapat diasumsikan dengan mengetahui produksi dan
produktifitas hasil tangkapan, berdasarkan lokasi (spasial) dan waktu (temporal)
penangkapan serta ukuran ikan yang tertangkap pada masing-masing priode.
Pengambilan data tangkapan tuna madidihang diperoleh dari sampel kapal dan
sampel tersebut ditentukan secara purposive sampling. Data SPL dan klorofil-a hasil
deteksi satelit Aqua Modis diolah dengan software ArcGIS. Hasil penelitian
menunjukkan sebaran SPL di perairan Provinsi Aceh pada musim barat, musim
peralihan, dan musim timur, berturut-turut adalah 25.00°C−30.00°C, 25.90°C−29.60°C
dan 25.70°C−29.50°C. Pola penyebarabn suhu permukaan laut (SPL) secara spasial dan
temporal pada bulan Januari−Agustus cenderung fluktuatif. Hal yang sama juga terjadi
pada pola sebaran spasial dan temporal kandungan klorofil-a pada bulan
Januari−Agustus 2015 pada musim barat, musim peralihan, dan musim timur di perairan
Provinsi Aceh berturut-turut 02.00 mg/m³−1.40 mg/m³ 0.11 mg/m³−2.40 mg/m³ dan
0.12 mg/m³−1.60 mg/m³. Konsentrasi sebaran SPL dan kandungan klorofil-a yang
terjadi mengalami pola yang sangat dinamis pada setiap daerah penangkapan.
Produksi dan produktifitas hasil tangkapan ikan madidihang secara spasial dan
temporal pada bulan Januar-Agustus sangat berfluktuasi. Daerah penangkapan ikan
potensial terjadi pada bulan Januari-Februari (musim barat) yang meliputi wilayah
perairan Pulau Aceh, Sabang dan Pulau Rondo, Sedangkan daerah penangkapan kurang
potensial terdapat di wilayah perairan Samudera Hindia, Seumeulu dan perairan Barat
Aceh, terjadi pada bulan Juni-Agustus (musim timur). Untuk perairan tidak potensial
penangkapan ikan madidihang di Provinsi Aceh terdapat di perairan Utara Aceh dan
Selata Malaka. Terjadinya peningkatan dan penurunan produktifitas hasil tangkapan
ikan madidihang secara spasial dan temporal, menggambarkan bahwa keberadaan
sumberdaya ikan madidihang di perairan Aceh di pengaruhi oleh faktor lingkungan dan
lintang bujur
Analisis Antrian Kapal di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lampulo Banda Aceh
Queuing theory is the mathematical study of queues or waiting line events, which is a waiting line of constumers who require the service of the existing system. This study aims to identify the vessel queue landed in PPP Lampulo, identify the degree of usefulness of the system utility of unloading fasilities and identify the ship waiting time in the queue at PPP Lampulo. This study used a standard formula of a multi channel single phase to identify conditions of existing queue. The results showed that the model queue that occurred in PPP Lampulo was (M/M/5): (FCFS / I / I). Based on calculations by the standard formula queuing model, it was obtained that the rate of arrival of the vessel unloading was 14 vessels / day and the rate of the service time was 16 vessels / day. Value of waiting time in the queue was 0 hour and the number of vessels that queue did not exist, while the waiting time in the system was 2.5 hours and the number of ships arriving in the system was 1 ship.The result of the calculation also showed that utility value of the system almost reached the optimum value (0.875) and the probably no ship in a system was 0.42
Strategi Pengembangan Perikanan Tangkap Terpadu Berbasis Sumberdaya Unggulan Lokal: Studi Kasus Perikanan Cumi di Kabupaten Bangka Selatan
Squid resources are the fisheries potention has important economic value in South Bangka Regency. Demand for this commodity in both fresh and processed forms is estimated to continue to increase in the future. This study aims to analyze the contribution of squid fisheries, analyze their development bases, and formulate development strategies in South Bangka Regency. This study used descriptive method, LQ analysis, and AHP method. During the period of 2009-2016, the production of squid fisheries in South Bangka Regency averaged 4187.87 tons with a contribution value of Rp87,736,058,000.00 annually. This squid production follows a polynomial pattern y = -192.1x2 + 1624.x + 1745 (R² = 0.289). The base area for squid fisheries development uses: (1) liftnet is Tukak Sadai District, Lepar Pogok District, and Toboali District, (2) boat liftnet is Pongok Islands District, and (3) squid fishing is Simpang Rimba District, Batu Betumpang District, Toboali District, and Lepar Pongok District. While the priority development strategy is the coaching of human resources for squid fisheries (priority I) and improved management of the squid fisheries business (priority II) in each base area
INDONESIAN BANKING PERFORMANCE OF PRE AND POST OF MERGERS AND ACQUISITIONS
The objective of this study to analyse the performance of banks before and after conducting Mergers and Acquisitions (M&A) using a risk approach and how it affects the value of banking companies. Banking performance was analysed from three years before and three years after conducting mergers and acquisitions. To analyse the impact of banking mergers and acquisitions on company value, paired sample t-test and the fixed effect model (FEM) and Random Effect Model (REM) are utilised to test the research hypothesis. The results show that the banking performance after conducting M&A is decreased. This is demonstrated by the improvement in banking value and performance by using variables PBV, Tobin’s q, LDR and COMIN, which increase relatively after mergers and acquisitions, but the ability to generate profits, as measured by ROA is decreased.This is an implication of the combination of large assets that have not been used optimally to generate profits
Kelayakan Finansial USAha Perikanan Pancing Tonda di Ppp Labuhan Lombok Kabupaten Lombok Timur
Pancing tonda merupakan alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan di PPP Labuhan Lombok. Usaha perikanan pancing tonda tersebut perlu dihitung kelayakan finan-sialnya untuk mengetahui keberlangsungannya di masa yang akan datang. Penelitian ini bertu-juan untuk mengetahui modal awal, biaya produksi, pendapatan serta kelayakan finansial dari USAha perikanan pancing tonda di PPP Labuhan Lombok. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, analisis USAha dan analisis investasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pancing tonda di PPP Labuhan Lombok dioperasikan dengan kapal kayu yang berukuran antara 12-18 GT. Jumlah nelayan dalam satu unit penangkapan pancing tonda tersebut adalah 4-6 orang. Nelayan mengoperasikan pancing tonda di sekitar rumpon. Modal awal yang dibutuhkan untuk USAha pancing tonda di PPP Labuhan Lombok adalah Rp 222.250.000. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk setiap trip penangkapan yaitu Rp 58.525.000 per tahun untuk biaya tetap dan Rp 114.889.500 per tahun untuk biaya tidak tetap. Adapun pendapatan yang diperoleh dari kegiatan penangkapan dengan pancing tonda tersebut yaitu Rp 1.242.600.000 per tahun. Usaha perikanan pancing tonda di PPP Labuhan Lombok merupakan USAha perikanan tangkap yang layak untuk dilakukan hingga 10 tahun ke depan
Strategi Pengembangan Perikanan Cakalang Di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (Skipjack Tuna Fisheries Development Strategy at East Lombok District West Nusa Tenggara Province)
East Lombok District has marine waters area that is transversed by skipjack tuna. This condition makes its production to be the third highest after yellow fin and black marlin. However, there are some conditions related to skipjack tuna fishery in east Lombok District that are necessary to be concerned for its development. Therefore, research on skipjack tuna development strategy in East Lombok District according to its condition in that area is needed to conduct. This research is aimed to formulate skipjack tuna fishing development strategy in East Lombok District. The methodology used in this research are descriptive and SWOT analysis. This study resulting to 7 (seven) alternative strategis for skipjack tuna fisheries development in East Lombok District that are optimizing skipjack tuna utilization, rationalizing the number of skipjack tuna fishing unit, training the fishermen about catch handling, improving fishermen institutional to raise their bargaining position, maximizing market potential for skipjack tuna commodity, and diversifying skipjack tuna processing types
Pengembangan Sistem Informasi Pengelolaan Sumberdaya Dan Lingkungan Perikanan Tangkap Di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Development of Management Information System of Capture Fishery Resources and Environment in Padang Pariaman Regency, Ws)
UU Nomor 45 tahun 2009 pasal 46 dan 47 menekankan perlunya pengembangan pusat data dan informasi perikanan yang mudah diakses untuk kepentingan pemanfaatan danperlindungan sumberdaya ikan dan lingkungannya, termasuk di Kabupaten Padang Pariaman. Penelitian ini bertujuan merancang sistem informasi pengelolaan sumberdaya dan lingkungan perikanan tangkap di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Analisis penelitian ini menggunakan Software Microsoft Access, Microsoft Visual Basic 6, Adobe Photoshop CS,CorelDRAW X4 dan ArcView 3.3. Sistem informasi yang dihasilkan diberi nama SI-PSLP 1.0. SI-PSLP untuk Kabupaten Padang Pariaman ini mempunyai lima menu utama, yaitu menu sumberdaya ikan, menu lingkungan, menu sarana prasarana, menu sosial ekonomi, dan menu manajemen data. Menu sumberdaya ikan memuat informasi jenis ikan, taksonomi ikan, tingkah laku ikan, penyebaran ikan, produksi dan nilai produksi ikan, dan menu lingkungan memuat informasi kondisi lingkungan fisika (suhu, cahaya, arus, gelombang dan bathimetri), kimia (salinitas, pH, fosfat, nitrat, logam berat dan DO), biologi, dan ekosistem pantai. Menusarana prasarana memuat informasi alat penangkapan ikan, kapal perikanan, alat bantu penangkapan dan PPI, sedangkan menu sosial ekonomi memuat informasi nelayan,pemberdayaan nelayan dan kelompok nelayan. Setiap menu terkoneksi dengan menu yang lainnya yang dikendalikan oleh menu manajemen data. SI-PSLP ini memiliki fasilitas dalammelakukan manipulasi data (penambahan, penghapusan, dan pengubahan), dan mencetak keluarannya
Pola Dinamis Penurunan Hasil Tangkapan Udang Akibat Pengendapan Dan Limbah Industri Di Kawasan Segara Anakan (Dynamic Pattern of Degradation of Shrimps Catch as an Effect of Sedimentation and Industrial Waste in Segara Anakan)
Segara Anakan, Cilacap Regency is an important marine fisheries producer in Central Java Province, especially for shrimps. The objective of this study were to analyze the production and fishing ground of shrimps, to analyze dynamic patterns of shrimps cat ch affected by sedimentation and industrial waste in Segara Anakan, and to develop intervention option to the degradation of shrimp catch as well. Some methods were used in this study such as descriptive method, geographic information system, and dynamic model approach included the test of model structural stability and performance. In 2002–2013, the highest production of shrimps in the Segara Anakan was in 2006 (2263.0 ton) and the lowest was in 2010 (884.7 ton). Fishing ground of shrimp in the Segara Anakan already had high total suspended solid, and also low contaminated oil and lead (Pb). Results of dynamic model analysis showed that shrimp catch degraded exponentially along with the increasing of sediment accumulation and industrial waste. Shrimps production in 2013 was 1147.8 tons, and might decrease 43.04 % to be 653.8 tons over 75 years later without intervention. If the model was intervenced by fishing open -close system and limited acces fishing ground, hence shrimps catch showing stable around 902.2–929.1 ton every year. While if the intervention was conducted by the stopping of industrial waste to Segara Anakan, hence shrimps catch only decrease 13.00 % to be 998.6 tons over 75 years later
SELEKSI JENIS DAN KETINGGIAN UMPAN PANCING ULUR UNTUK MENANGKAP IKAN DEMERSAL
Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh perbedaan umpan dan ketinggian umpan pancing ulur terhadap komposisi jenis dan jumlah ikan demersal yang tertangkap. Penelitian menggunakan metode eksperimen. Jenis umpan yang digunakan berupa udang putih (Penaeus merguiensis), udang dogol (Metapenaeus monoceros), dan cumi-cumi (Loligo spp.). Adapun ketinggian umpan adalah 1, 2 dan 3 m dari permukaan dasar perairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis ikan hasil tangkapannya sama, yaitu kakap merah (Lutjanus sp), kuwe (Caranx ignobilis), kerapu (Epinephelus sp), kuniran (Upeneus sulphureus), kerong-kerong (Terapon jarbua). Umpan udang putih ternyata mendapatkan 196 ikan, atau 57,94 % dari seluruh ikan hasil tangkapan, selanjutnya udang dogol (111 ikan; 35,92 %), dan cumi-cumi (24 ikan; 6,13 %). Sementara, ketinggian umpan yang memberikan hasil tangkapan terbanyak adalah 1 m, yaitu 157 ekor, atau 47,43 % dari seluruh ikan hasil tangkapan, sedangkan 2 m (146 ikan; 44,11 %), dan 3 m (28 ekor; 8,46 %).
Kata kunci: ikan demersal, jenis umpan, ketinggian umpan, pancing ulu
- …
