11 research outputs found
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI KREDIT MIKRO POLA GRAMMEN BANK (Studi Kasus Anggota Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia Cabang Lebak Banten
Musahwi ([email protected])Pitriyani ([email protected])Â Â AbstractPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang pemberdayaan perempuan melalui program kredit mikro Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia yang menggunakan pola Grammen Bank. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukan bentuk pemberdayaan yang diberikan oleh Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia berupa pemberian kredit mikro tanpa aguman khusus untuk perempuan, pelatihan mengelola keuangan keluarga melalui simpanan wajib dan sukarela, kegiatan perkumpulan melalui Rembug Pusat
WACANA BELA ISLAM DAN KEBENCIAN STRUKTURAL (2016-2017)
Studi ini mengulas fenomena kebencian dari wacana ke struktur sosial dengan fokus pada wacana bela Islam 2016-2017. Kekuatan wacana bela Islam 2016-2017 tidak saja mendorong Basuki Tjahaja Purnama/Ahok ke penjara, tetapi juga mengeskalasikan kebencian melalui berbagai kekerasan yang meluas menggunakan simbol-simbol Islam. Agensi di sekitar wacana bela Islam memiliki peran penting, karena melibatkan figur/pemimpin yang menduduki kelas sosial elit dalam struktur keagamaan dan politik. Agensi wacana bela Islam meciptakan ketegangan, bersifat devaluatif, dan dimediasi oleh kebencian antar-kelompok. Untuk menghasilkan kajian yang mendalam, studi ini menggunakan metode kualitatif melalui critical discourse analysis (CDA) dengan berpijak pada perspektif teori dialektika agen dan struktur. Fenomena kebencian ditunjukkan dengan jelas melalui teks dan interaksi sosial di balik wacana bela Islam. Teks yang tersebar di media sosial mengandung kekerasan simbolik terhadap kelompok yang berbeda ideologi agama dan politik. Sementara dalam interaksi sosial, ditunjukkan oleh berbagai kekerasan langsung melalui aksi persekusi terhadap orang/kelompok yang dianggap menghina ulama/pimpinan mereka di sosial media. Fakta ini menunjukkan kebencian pada level yang akut membuncah menjadi kekerasan yang massif dan mewariskan mindset kebencial kolektif satu sama lain
DI BALIK PELARANGAN NEGARA TERHADAP PROSTITUSI: Studi Tentang Politik Kepentingan dalam Wacana Amoralitas Prostitusi dan Perlawanan Kaum Prostitusi di Parangtritis
Pelarangan prostitusi seringkali dimaknai sebagai cara untuk menegakkan moral publik agar kembali ke jalan yang sesuai dengan moralitas budaya dan agama. Karena itu, kehadiran aparatus negara melarang prostitusi juga diasosiasikan dengan misi ke-Tuhan-an yang tidak perlu diperdebatkan, tetapi diapresiasi dan dipatuhi. Kepemimpinan moralistik kekuasaan seperti itu acapkali menghipnotis publik sehingga menutup kesadaran bahwa dalam setiap produk kebijakan penguasa rentan dengan politik kepentingan bahkan di luar penegakan moral publik tersebut. Wacana-wacana amoralitas prostitusi sangat mungkin menutup akal sehat dan daya nalar kritis masyarakat.
Dalam konteks itu, penelitian tentang pelarangan prostitusi di Parangtritis ini bertujuan memperoleh jawaban tentang: (1) hidden interest aparatus kekuasaan dalam wacana amoralitas seksual pelarangan prostitusi di Parangtritis, dan (2) pemahaman pelaku prostitusi dan respon tindakan mereka terhadap wacana amoralitas seksual yang diejawantahkan dalam pelarangan prostitusi tersebut.
Penelitian ini adalah kualitatif menggunakan critical theory paradigm. Dengan metode ini, maka penelitian ini bertumpu pada nilai dan relasi sosial-budaya, ekonomi, gender, dan politik dalam wacana amoralitas seksual dan pelarangan prostitusi yang dihubungkan dengan konteks historis subjek yang diteliti.
Hasil penelitian ini, Pertama, hidden interests dalam pelarangan prostitusi adalah menguasai permukiman warga yang berstatus tanah Kasultanan (Sultan Ground) untuk membanguan mega proyek wisata Parangtritis. Pemerintah mendesain wacana amoralitas seksual dalam prostitusi Parangtritis dan kemudian melahirkan hukum pelarangan prostitusi. Produk hukum itu digunakan untuk menggusur permukiman yang dianggap sebagai tempat praktik prostitusi. Kedua, pelarangan prostitusi tersebut memicu kesadaran kolektif dari warga dan PSK untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah Bantul yang didukung oleh beberapa kalangan LSM dan mahasiswa. Perlawanan itu antara lain: (1) menuntut pencabutan Peraturan Daerah pelarangan prostitusi. (2) aksi-aksi simbolik untuk menyadarkan masyarakat tentang tindakan aparatus kekuasaan yang diskriminatif terhadap mereka. (3) pembangkangan diam-diam terhadap Peraturan Daerah pelarangan prosutitusi yang dilakukan secara terorganisir oleh pelaku prostusi untuk mengelabuhi aparat
Kekerasan berbasis gender dalam kasus perceraian pada masa pandemi Covid-19 di Kabupaten Cirebon
Divorce cases during the Covid-19 Pandemic experienced a significant increase. In Cirebon Regency, an increase in the divorce rate was followed by many cases of violence against women in the family environment during the 2020-2023 Pandemic. This research seeks to understand the problem of gender-based violence in divorce cases and the various psycho-social implications arising from this condition for victims. In order to analyze the problem comprehensively, this study uses the framework of structural violence, cultural violence, and direct violence (physical and symbolic). Based on the results of the description and theoretical analysis, this study yielded findings including: (1) victims of violence were experienced by families with a weak economic basis, coming from poor families; (2) victims experience physical, psychological, sexual violence and neglect of the household; (3) the victim chooses a divorce to escape violence rather than asking for protection from women's protection services; (4) victims experience multiple psycho-social pressures after violence and divorce, namely: as victims of domestic violence, unemployment and economic instability, as well as the burden of raising children without the perpetrator's responsibilities as a father
FENOMENA RESESI SEKS DI INDONESIA (Studi Gender Tren ‘Waithood’ Pada Perempuan Milenial)
Artikel ini mengulas fenomena waithood di kalangan perempuan milenial sebagai bentuk kekhawatiran perempuan terhadap ketergantungan ekonomi dan budaya patriarki. Kemorosotan ekonomi global tidak saja menciptakan “ketakutan†atas daya tahan negara dari krisis, tetapi juga berimplikasi pada mindset individu perempuan terkait kesetaraan gender; hak-hak ekonomi, kemandirian sosial dan budaya yang menciptakan kekhawatiran perempuan untuk membina rumah tangga. Kemajuan teknologi informasi dan masalah ekonomi telah mendorong perempuan milenial untuk memperjuangkan kesataraan ekonomi dan budaya di ruang publik dan privat. Waithood dalam kajian feminisme adalah cerminan perempuan mandiri, cerdas dan memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Studi literatur dalam artikel ini menunjukkan terdapat empat dasar perempuan menunda menikah, yaitu: (1) terbukanya ruang informasi media sosial yang membuka pola pikir perempuan; (2) takut menjadi bagian dari generasi Sandwich; (3) kontrol kuasa atas diri perempuan dalam menempuh pendidikan dan berkarir; dan (4) maraknya kasus kekerasan gender yang merugikan fisik dan psikis perempuan serta ketidak percayaan terhadap lembaga pernikahan.Kata Kunci:  Fenomena Waithood, Perempuan, Budaya Patriark
Seni Melawan Pedagang Asongan di Kereta Api Lokal Ekonomi Merak-Rangkasbitung Banten
This study attempts to uncover the resistance of hawkers against the prohibition of selling at stations and trains by taking the locus of Merak-Rangkasbitunglocal train. Specifically the purpose of this study is to uncover the daily hidden resistance that is concealed by hawkers. This kind of resistance model refers to Scott's concept from his theory which is the domination of the art of resistance or noted by the weapon of the weak againts of the elite or the policies which opressed them. In this study, used the qualitative-phenomenology methods. This approach is chosen to reveal the phenomena based on the perspectives of those who experience them directly, with an in-depth expression of the phenomenon of consciousness within them during resistance. The results of this study include: a) disobedience (keepselling) against the law by pretending not to know. b) sellingpretend as passengers. c) negotiating "as if" with the officer, meaning they end up violating, and d) resisting the ban on selling by rebel. The daily, unorganized and invidual resistance to this is done because there is no alternative to the economic solution for them; they have no capital; social, educational, and political. They are weak people, and according to them are increasingly weakened by the policy of the ban
SEKS DAN RITUAL DI PARANGKUSUMO: ANTARA KOMODITAS DAN SPIRITUAL
Seks merupakan kebutuhan manusia. Namun, manusia tidak dapat mengeksprsesikan
seks secara bebas. Aktivitas seks selalu melalui serangkaian aturan
agama dan budaya yang ketat, yang menjadikan seks berada dalam penjara
normatifitas. Karena itu, apabila seks di ekspresikan berdasarkan libido manusia
tanpa aturan, seringkali dicap sebagai aktivitas yang menyimpang dari norma
agama dan budaya. Di Parangkusumo libido dan ekspresi seks berupa pelacuran
dibiarkan telanjang di dalam lingkungan yang ritualistik dari suatu kepercayaan
mistisisme yang sakral. Dalam perspektif masyarakat secara umum, menjadi
semacam anomali yang menimbulkan kerancuan, di mana dalam kepercayaan
apapun, aktivitas seks tidak dibiarkan bebas terutama di lingkangan yang sifatnya
spritual. Sebab, pelacuran adalah ekspresi seks yang radikal yang berorientasi
pada pemuas libido dan hasrat mendapatkan uang.
Penelitian ini ingin menjawab kerancuan itu antara lain: Bagaimana seks
dalam kepercayaan dan ritual di Parangkusumo? Bagaimana implikasi dari
kegiatan pelacuran dan ritual bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat
Parangkusumo? Pertanyaan penelitian yang terakhir didasarkan pada kegiatan
seks pelacuran dan ritual. Dalam setiap aktivitas sosial selalu ada implikasi bagi
masyarakat yang menjalankannya. Karenanya, hal tersebut juga penting untuk
diungkap. Jenis penelitian ini merupakan kualitatif yang bersifat deskriptifeksploratif
melalui pendekatan fenomenologis. Mengungkap fakta kontekstual
melalui pandangan subjek yang diteliti.
Seks merupakan bagian yang includ dalam kepercayaan ritual, atau
terpisah samasekali? Pelacuran tidak lain adalah ekspresi seks yang lahir karena
kesenjangan ekonomi, bagi pelacur juga bagi masyarakat Parangkusumo.
Kawasan ritual sakral, pada akhirnya dimodifikasi ke dalam kebutuhan-kebutuhan
material. Secara sadar, praktik pelacuran memanglah sesuatu yang kontras dalam
kepercayaan masyarakat Parangkusumo. Motif ekonomi dari praktik pelacuran
merupakan pilihan logis yang akhiranya dibiarkan di dalam lingkungan ritual.
Seks dan ritual mempunyai relasi ekonomi. Karena itu, kedudukan seks bukanlah
suatu kepercayaan melakukan kegiatan ritual. Seks dan ritual semakin tampak
oleh modifikasi ekonomi, ketika unsur kekuasaan melarang praktik pelacuran di
lingkungan ritual. Razia terhadap kaum pelacur menekankan denda dengan
nominal tertentu, dan pelacur pun kembali keprofesinya semula, dan begitu
seterusnya. Parangkusumo ibarat panggung sosial yang mempertontonkan ritual
sebagai sesuatu yang suci dari praktik pelacuran. Namun dibalik itu, uang adalah
orientasi yang tidak bisa ditepis keberadaannya
Jaringan Sosial dan Pemberdayaan Komunitas Difabel Kabupaten Cirebon Desa Durajaya
People with disabilities still face various structural and systemic barriers in gaining equal access to economic and social services. In Cirebon Regency, the disabled community has begun developing social networks as an empowerment strategy, one of which is through the formation of Joint Business Groups. This study aims to examine how social networks are formed, managed, and utilized by the disabled community in an effort to achieve economic independence and social inclusion. Using a qualitative approach with a case study method, data were collected through in-depth interviews and participant observation within the disabled community in Durajaya Village, Cirebon Regency. The analysis was conducted thematically with reference to Putnam's social capital theory, which includes elements of trust, norms, and social networks as the foundation for bonding and bridging social capital. The results show that social networks play a crucial role in enhancing solidarity, opening access to resources, and encouraging constructive social transformation. However, limited marketing and external support remain major challenges. Therefore, cross-sector collaboration, capacity building, and inclusive policies are crucial factors in strengthening the sustainable empowerment of the disabled community
RESOLUSI KONFLIK PERSPEKTIF LEWIS A. COSER (Studi Tentang “Tradisi Damai†Masyarakat Desa Batu Badak Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur)
Memberi arti pada konflik sosial secara positif bagi masyarakat Indonesia cenderung sulit ditemukan. Kebanyakan konflik sosial dipahami secara destruktif terhadap tatanan sosial. Hal ini dapat berakibat pada cara menghadapi dan menyelesaikan pertentangan dengan cara menentang atau setidak-tidaknya, menegasikan salah satu pihak. Sehingga resolusi konflik sosial hanya mampu meredam dengan tekanan dan sewaktu-waktu konflik dapat menyala seperti api dalam sekam. Artikel ini ingin menghadirkan hal sebaliknya melalui perspektif konflik dari Lewis Coser dengan mengkaji “Tradisi Damai†pada masyarakat Desa Batu Badak Lampung Timur. Tesis Lewis Coser menempatkan konflik secara positif dan fungsional terhadap tatanan struktur sosial. Pada masyarakat Desa batu Badak banyak dihuni oleh para pendatang sejak program transmigrasi bergulir. Konflik sosial sering menyebabkan ketegangan antar etnis maupun agama. Namun, masyarakat memiliki cara unik menyelesaikan konflik, yaitu membangun “Tradisi Damai†di antara masyarakat yang berkonflik, sehingga resolusi konflik sosial berakhir dengan keintiman dan sistem keanekaragaman sosial berjalan secara harmoni. “Tradisi Damai†selaras dengan konsep katup penyelamat (safety valve) gagasan utama resolusi konflik Lewis Coser
Ekploitasi Buruh Perempuan pada Perusahaan Tekstil di Brebes
Artikel ini mengkaji secara mendalam mengenai eksploitasi pada buruh perempuan yang bekerja di PT. X, Kabupaten Brebes dengan status pekerja tidak tetap. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam pada buruh yang masih aktif bekerja dan mantan buruh yang pernah bekerja di PT. X. Penelitian ini fokus pada pengalaman eksploitasi buruh perempuan selama bekerja. Selain wawancara mendalam, data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi yang berhubungan dengan topik penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa buruh perempuan mengalami berbagai bentuk eksploitasi seperti jam kerja yang berlebihan, upah lembur yang tidak sesuai dengan regulasi, ketimpangan fasilitas kerja antar shift, jaminan sosial seperti BPJS yang tidak merata, status kerja yang tidak pasti sehingga buruh rentan mengalami pemutusan hubungan kerja secara sepihak dan juga kekerasan simbolik melalui perkataan kasar. Kondisi ini memperlihatkan ketidakberdayaan buruh perempuan yang berstatus pekerja tidak tetap
