1,804 research outputs found
Marzieh Abbas: Cook Prize 2025, Silver Medal Acceptance Speech
Author Marzieh Abbas gives an acceptance speech for Yasmeen Lari, Green Architect: The True Story of Pakistan’s First Woman Architect (Clarion)https://educate.bankstreet.edu/cook/1014/thumbnail.jp
Catatan ringan diplomasi perempuan : pengalaman diplomasi di lima benua
Buku ini menceritakan catatan pengalaman seorang diplomat perempuan, Musma Musa Abbas yang sudah 34 tahun mengabdi di Departemen Luar Negeri dan melakukan tugas diplomasi di mancanegara
Right to counsel / Azhar Musa
The right to counsel was not an in,tended topic of my oroject paper until I came across an" interesting article by Ta"n Sri Mohammad Salleh bin Abbas. title "Riqht of an arrested person to consult counsel". When the project paper was imposed on every final year students. and upon spotting the article by Tan Sri Mohanvnad Salleh Abbas. it qive me the interest and idea to write on this topic with the intentio'n of hiqhliqhting the adequacy or otherwise of laws pertaining I Right to Counsell and also to see the extend and developments. problems as well as to look into various ways of over coming problems faced by the arrested person to consul this counsel
Introduction to the Special Issue on Decision Analysis and Social Media
Published as:
Ali E. Abbas, Jay Simon, Chris Smith (2017) Introduction to the Special Issue on Decision Analysis and Social Media. Decision
Analysis 14(4):227-228. https://doi.org/10.1287/deca.2017.036
Methodology matters ⋯ but so does interpretation!
[No abstract available]Abbas O, 2009, BRIT J DERMATOL, V161, P228, DOI 10.1111-j.1365-2133.2009.09250.x; Abbas O, 2011, J EUR ACAD DERMATOL, V25, P311, DOI 10.1111-j.1468-3083.2010.03791.x; Amoh Y, 2005, P NATL ACAD SCI USA, V102, P17734, DOI 10.1073-pnas.0508440102; Amoh Y, 2005, P NATL ACAD SCI USA, V102, P5530, DOI 10.1073-pnas.0501263102; Amoh Y, 2004, P NATL ACAD SCI USA, V101, P13291, DOI 10.1073-pnas.0405250101; Amoh Y, 2011, EUR J DERMATOL, V21, P209, DOI 10.1684-ejd.2011.1306; Chiou SH, 2008, CLIN CANCER RES, V14, P4085, DOI 10.1158-1078-0432.CCR-07-4404; FIALKOW PJ, 1967, P NATL ACAD SCI USA, V58, P1468, DOI 10.1073-pnas.58.4.1468; HAMBURGER AW, 1977, SCIENCE, V197, P461, DOI 10.1126-science.560061; Hoang MP, 2009, BRIT J DERMATOL, V160, P609, DOI 10.1111-j.1365-2133.2008.09015.x; Kanoh M, 2008, EUR J DERMATOL, V18, P518, DOI 10.1684-ejd.2008.0485; Li LN, 2003, P NATL ACAD SCI USA, V100, P9958, DOI 10.1073-pnas.1733025100; Lim YC, 2011, ORAL ONCOL, V47, P83, DOI 10.1016-j.oraloncology.2010.11.011; Mahalingam M, 2010, AM J DERMATOPATH, V32, P774, DOI 10.1097-DAD.0b013e3181dafd8c; Mignone JL, 2007, CELL CYCLE, V6, P2161; Misago N, 2009, BRIT J DERMATOL, V160, P1128, DOI 10.1111-j.1365-2133.2009.09075.x; Reya T, 2001, NATURE, V414, P105, DOI 10.1038-35102167; Ryuge S, 2011, CHEST, V139, P862, DOI 10.1378-chest.10-1121; Sakuma H, 2009, J DERMATOL, V36, P453, DOI 10.1111-j.1346-8138.2009.00675.x; Sellheyer K, 2011, J CUTAN PATHOL, V38, P460, DOI 10.1111-j.1600-0560.2010.01671.x; Sellheyer K, 2010, J AM ACAD DERMATOL, V63, P93, DOI 10.1016-j.jaad.2009.07.013; Singh SK, 2004, ONCOGENE, V23, P7267, DOI 10.1038-sj.onc.1207946; Uchugonova A, 2011, J CELL BIOCHEM, V112, P2046, DOI 10.1002-jcb.23122; Wang JCY, 2005, TRENDS CELL BIOL, V15, P494, DOI 10.1016-j.tcb.2005.07.004; Wang Y, 2006, CELL BIOL INT, V30, P144, DOI 10.1016-j.cellbi.2005.09.0050
KISAH MUSA DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TEORI MAKKI-MADANI
Al-Qur’an dinyatakan sebagai petunjuk bagi manusia (QS. 2: 185). Dalam
konteks sejarah, al-Qur’an menjadi petunjuk dengan cara merespons situasi yang
dihadapi Nabi Muhammad dari waktu ke waktu. Penurunan wahyu al-Qur’an
sejalan dengan kebutuhan Nabi Muhammad. Wahyu senantiasa berhubungan
dengan peristiwa, baik secara individu atau sosial kemasyarakatan. Oleh karena
itu, pengetahuan tentang koteks ketika suatu ayat diturunkan akan membantu
pemahaman pesan yang terkandung dalam ayat tersebut. Teori Makki>-Madani>
merupakan salah satu cara untuk mengetahui konteks ayat. Hal ini juga berlaku
bagi ayat-ayat kisah, sebab pemaparan kisah dalam al-Qur’an beriringan dengan
perjalanan dakwah Nabi Muhammad. Itulah urgensi penelitian mengenai kisah al-
Qur’an, apalagi kisah Musa yang paling banyak diceritakan. Nama Musa pun
disebutkan sebanyak 136 kali, paling banyak disebutkan di antara nabi-nabi lain.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan kisah Musa dengan situasi
dan kondisi pada konteks historis, sehingga dapat ditemukan relevansinya dalam
konteks kekinian.
Kisah Musa dalam al-Qur’an ditelusuri melalui kata kunci Musa ( (هىضى
untuk menemukan ayat yang memuat kisah Musa, termasuk ayat sebelum dan
sesudahnya yang berkaitan. Ayat-ayat tersebut dideskripsikan dengan perspektif
teori Makki>-Madani>, yaitu dengan klasifikasi periode Mekah dan periode
Madinah berdasarkan susunan kronologi yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
Selanjutnya dilakukan analisis mengenai keterkaitan kisah dengan konteks
historis, baik periode Mekah maupun periode Madinah. Sebagai langkah
kontekstualisasi, dilakukan juga analisis mengenai relevansi kisah Musa dalam
konteks kekinian.
Setelah melakukan identifikasi, penulis menemukan kisah Musa dalam al-
Qur’an berisi beberapa fragmen pengalaman, yaitu: kelahiran Musa; melarikan
diri ke Madyan; pulang ke Mesir dan mendapat wahyu; berdakwah kepada
Fir’aun; Musa dan Bani Israil; Musa dan Karun; serta Musa dan Khidr.
Selanjutnya analisis dengan teori Makki>-Madani> menghasilkan data bahwa
penyebutan Musa pada periode Mekah dimuat dalam 27 surah dan periode
Madinah dalam 7 surah. Berkenaan dengan konteks historis, penyebutan Musa
pada periode Mekah dapat diklasifikasikan berbicara mengenai beberapa hal,
yaitu: penegasan wahyu dan pembuktian risalah; tantangan dalam dakwah;
kekuasaan Allah; serta kebinasaan orang yang mendustakan rasul dan
kemenangan orang beriman. Pada periode Madinah mengenai beberapa hal, yaitu:
peringatan untuk Bani Israil; peringatan bagi orang beriman agar tidak meniru
Bani Israil; dan konsekuensi kenabian. Berkenaan dengan konteks kekinian,
penulis mengidentifikasi bahwa kisah Musa dalam al-Qur’an relevan setidaknya
bagi pendidik dan pendakwah, penguasa dan orang kaya, serta pemuda
The succession to the Caliph Musa al-Hadi (Harun al-Rashid)
Harun al-Rashid succeeded his elder brother Musa al-Hadi to the caliphate in confused circumstances. It is clear that Musa had not wanted his brother to succeed him, but not whether in his short caliphate Musa had formally replaced Harun as heir apparent with his own young son. The open question is whether Harun succeeded to the caliphate by virtue of being heir apparent, or owing to a military intervention after Musa's sudden death. Al-Tabari clearly manipulates his textual evidence to prove the former case, and is greatly helped by an influential Barmakid tradition making both textual and numismatic evidence that Harun's caliphate was as much the creation of the army as was that of the first Abbasid caliph, Abu'l-Abbas.</p
The succession to the Caliph Musa al-Hadi (Harun al-Rashid)
Harun al-Rashid succeeded his elder brother Musa al-Hadi to the caliphate in confused circumstances. It is clear that Musa had not wanted his brother to succeed him, but not whether in his short caliphate Musa had formally replaced Harun as heir apparent with his own young son. The open question is whether Harun succeeded to the caliphate by virtue of being heir apparent, or owing to a military intervention after Musa's sudden death. Al-Tabari clearly manipulates his textual evidence to prove the former case, and is greatly helped by an influential Barmakid tradition making both textual and numismatic evidence that Harun's caliphate was as much the creation of the army as was that of the first Abbasid caliph, Abu'l-Abbas.</p
Pemikiran Syekh Abbas Kutakarang tentang Hisab Penentuan Awal Bulan Hijriah
Perkembangan keilmuan falak merupakan buah karya atas kembalinya para ulama ke Indonesia dari Makkah maupun Timur Tengah. Mulai saat itu lahir beberapa tokoh falak dengan karyanya dengan model perhitungan yang bermacam-macam dan terus berkembang hingga sekarang. Salah satu ulama Aceh yang masih dikenal adalah Syekh Abbas Kutakarang. Ia terkenal sebagai ahli astronomi maupun astrologi di dunia Melayu. Karya Syekh Abbas Kutakarang yang fenomenal adalah kitab Tāj al-Mulūk, di dalamnya terdapat konsep hisab urfi yang unik dan berbeda dengan hisab aboge dalam penentuan awal bulan Hijriah. Selama ini hisab urfi seperti aboge hanya dikenal di Jawa. Faktanya, Syekh Abbas Kutakarang juga menggunakan hisab seperti sistem aboge tetapi dengan konsep yang berbeda. Ia juga menggunakan kaidah ilmu falak tidak hanya untuk keperluan ibadah, melainkan untuk menghitung hari baik dan buruk, untuk pertanian dan menghitung musim. Berangkat dari hal tersebut, maka penulis ingin menelusuri bagaimana latar belakang, tipologi, dan kontribusi pemikiran Syekh Abbas Kutakarang tentang hisab penentuan awal bulan Hijriah.
Penelitian ini menggunakan historical approach. Penulis menggunakan penelitian jenis library research untuk mengumpulkan data tentang pemikiran Syekh Abbas Kutakarang dengan karyanya Tāj al-Mulūk yang terkait dengan hisab penentuan awal bulan Hijriah sebagai sumber primer. Dengan metode content analysis, penulis menganalisis pemikiran Syekh Abbas Kutakarang berdasarkan latar belakang internal dan eksternalnya. Metode komparasi penulis gunakan untuk membandingkan pemikiran Syekh Abbas Kutakarang tentang hisab penentuan awal bulan Hijriah dengan hisab urfi sistem aboge.
Pada masa Syekh Abbas Kutakarang, penggunaan ilmu falak umumnya bersifat fiqh oriented, akan tetapi Syekh Abbas Kutakarang mempunyai paradigma yang berbeda dalam penggunaan kaidah ilmu falak. Pemikirannya berakulturasi dengan kebudayaan masyarakat Aceh yang berkembang pada waktu itu, misalnya dalam hal penggunaan kaidah falakiyah untuk memprediksikan hari, bulan, dan jam yang baik dalam melaksanakan seluruh ritual kegiatan, baik yang berhubungan dengan ibadah dan kegiatan sehari-hari seperti bertani, dan menentukan hari pernikahan. Oleh karena itu, pemikiran Syekh Abbas Kutakarang dalam kajian ilmu falak tergolong dalam etnomatematik oriented yaitu kajian yang menghubungkan antara matematika dan budaya dalam penggunaan kaidah falak. Kajian falak dalam kitab Tāj al-Mulūk tergolong pada periode awal, di mana ilmu falak masih bercampur dengan ilmu lain, artinya ilmu falak belum berdiri sendiri sebagai suatu disiplin ilmu. Kontribusi pemikiran Syekh Abbas Kutakarang dalam penentuan awal bulan Hijriah berupa konsep yang berbeda yang dapat menambah kekayaan khazanah ilmu falak khususnya sistem hisab urfi. Secara umum kontribusi pemikiran Syekh Abbas Kutakarang terhadap kajian ilmu falak dalam definisi sains masih tergolong minim, karena dalam kitab Tāj al-Mulūk hanya terdapat kajian tentang penentuan awal bulan Hijriah. Meskipun pemikirannya tentang awal bulan Hijriah masih etnomatematik oriented, namun pemikiran Syekh Abbas Kutakarang merupakan embrio ilmu falak di Aceh. Kitab Taj al-Mulūk adalah arus penanda bagi perkembangan ilmu falak selanjutnya di Aceh.
ABSTRACK
The development of the Islamic astronomy is the work of the scholars return from Makkah to Indonesia and the Middle East. From that point were born some of the figures in his work with the model calculations diverse and continues to grow until now. One of which is still known scholars of Aceh was Shekh Abbas Kutakarang. He is the best known as an expert in the world of astronomy and astrology Malay. The work of Syekh Abbas is a phenomenal book Taj al-Mulūk, in which there is a unique concept of hisāb urfi different with hisāb aboge in the initial determination of the Hijri month. All the time, hisāb urfi like Aboge only known in Java. In fact, Syekh Abbas Kutakarang also use it but with a different concept. He also uses the rules of astronomy not only for worship, but to calculate the good and bad days, to agriculture and counting season. Departing from this, the authors wanted to explore how background, typology, and the contribution of Syekh Abbas Kutakarang thinking about computation preliminary determination Hijri month. This study uses a historical approach. The author uses research type of library research to collect data about the thought of Shaykh Abbas Kutakarang with his Taj al-Muluk. With content analysis, the authors analyzed the thought of Syekh Abbas Kutakarang based on internal and external background. Comparative method I use to compare Sheikh Abbas Kutakarang thinking about reckoning with the initial determination of the Hijri month of reckoning urfi Aboge system. This study produce that At the time of Syekh Abbas Kutakarang, the use of Islamic astronomy generally is oriented fiqh, but Syekh Abbas Kutakarang have a different paradigm in the use of the rules of Islamic astronomy. His thoughts acculturated with Acehnese culture that developed at that time. Therefore, Syekh Abbas Kutakarang thinking in the study of Islamic astronomy is classified to etnomatematik oriented. Syekh Abbas Kutakarang thoughtful contributions in the initial determination of a Hijri month is a different concept (the leap year lies in 2, 5 and 7) that can add to the legacy of Islamic astronomy in hisāb urfi
Irrigation scheduling in response to climate change : a GIS approach - by Abbas Hadi Farran.
Thesis (M.S.)--American University of Beirut, Department of Agricultural Sciences, 2011.;"Advisor : Dr. Musa Nimah, Professor, Agricultural Sciences--Members of Committee: Dr. Isam Bashour, Professor, Agricultural Sciences Dr. Hamed Assaf, Assistant ProfIncludes bibliographical references (leaves 77-79)Water is a key element in the survival of life on earth. Despite this importance, this valuable resource is being abused either polluted or wasted. This thesis dealt with water wastage coming from agricultural use, i.e. irrigation. This wastage is the r
- …
