1,720,964 research outputs found

    Socio-Cultural Changes of Hananu Mate in the Death Song Bei Mate of The Tetun Tribe

    Full text link
    This study examines Hananu Mate , a traditional funeral song of the Tetun people of Timor, East Nusa Tenggara, within the context of the Bei Mate ceremony . As a form of oral expression, Hananu Mate not only expresses grief over the passing of a person but also contains the narrative of the deceased\u27s life, social values, local spirituality, and the community\u27s collective hopes. This study aims to uncover the narrative in Hananu Mate lyrics and the socio-cultural dynamics of the Tetun community as reflected in the changing form and meaning of the song in the modern era. This study uses a narrative approach based on Walter Fisher\u27s narrative theory, which positions narrative as a primary form of human communication and a means of conveying collective values and meanings. In addition, social change theory as explained by Anthony Giddens and Inglehart-Baker is used to understand the cultural dynamics and transition of Hananu Mate\u27s meaning in the context of modernizing Tetun society. The research method used is a qualitative approach with narrative ethnography techniques, in-depth interviews, participant observation, and lyrical text analysis. The findings indicate that Hananu Mate has a distinctive elegiac narrative structure, involving the flow of introducing the deceased, depicting social relations, spiritual reflection, and closing with hopes for future generations. This research confirms that Hananu Mate is a dynamic community narrative, continually transforming in response to modernization, education, and technological developments. Despite changes in form and meaning, this song continues to play a vital role in maintaining the cultural identity and continuity of Tetun social values

    LAPORAN AKHIR PENELITIAN STRATEGIS NASIONAL TEMA:Integrasi dan Harmoni Sosial PEMANFAATAN EKSPRESI SENI KOMUNITAS DALAM FESTIVAL LIMA GUNUNG SEBAGAI REVITALISASI BUDAYA LOKAL

    Full text link
    Penelitian tahun I bertujuan untuk (1) inventarisasi bentuk aktivitas komunitas Lima Gunung sebagai sebuah potensi untuk tempat masyarakat memiliki rasa integrasi sosial; (2) identifikasi fungsi aktivitas seni sebagai ekspresi yang terkait dengan lingkungan alam, sosial, dan ritual ; (3) menyusun rancangan pola integrasi yang berimplikasi pada harmoni sosial dalam komunitas Lima Gunung yang terkait sebagai pengembangan karakter budaya lokal; (4) menyusun artikel ilmiah dalam jurnal terakreditasi. Tujuan penelitian tahun II, yaitu (1) aplikasi rancangan pola integrasi yang terkait dengan lingkungan alam, sosial, dan ritual berbasis budaya lokal; (2) sosialisasi bentuk ekspresi seni komunitas Lima Gunung yang terkait dengan lingkungan alam, sosial, dan ritual setempat; (3) menyusun artikel ilmiah untuk jurnal terakreditasi; (4) menerbitkan buku panduan model revitalisasi yang diimplementasikan dari aspek harmoni sosial dalam komunitas Lima Gunung Target tahun I, yaitu (1) Terinventarisasikannya bentuk aktivitas komunitas Lima Gunung sebagai sebuah potensi untuk tempat masyarakat memiliki rasa integrasi sosial; (2) Teridentifikasikannya fungsi aktivitas seni sebagai ekspresi yang terkait dengan lingkungan alam, sosial, dan ritual ; (3) Tersusunnya rancangan pola integrasi yang berimplikasi pada harmoni sosial dalam komunitas Lima Gunung yang terkait sebagai pengembangan karakter budaya lokal; (4) Tersusunnya artikel ilmiah dalam jurnal terakreditasi. Target penelitian tahun II, yaitu (1) Teraplikasikannya rancangan pola integrasi yang terkait dengan lingkungan alam, sosial, dan ritual berbasis budaya lokal; (2) Tersosialisasikannya bentuk ekspresi seni komunitas Lima Gunung yang terkait dengan lingkungan alam, sosial, dan ritual setempat; (3) Tersusunnya artikel ilmiah untuk jurnal terakreditasi; (4) Diterbitkannya buku panduan model revitalisasi yang diimplementasikan dari aspek harmoni sosial dalam komunitas Lima Gunung Penelitian ini menerapkan metode deskriptif analitis dengan sifat data kualitatif. Data dikumpulkan dengan metode observasi terhadap rumah adat dan budaya masyarakat setempat. Wawancara dilakukan dengan pemuka dan aparat desa, masyarakat, serta para seniman/komunitas pendukung seni budaya yang hidup di lokasi penelitian. Tujuan penelitian tahun pertama dicapai melalui pendekatan action research dengan langkah-langkah meliputi: apresiasi,demontrasi, evaluasi hasil, dan sosialisasi upacara/ritus yang didukung dengan seni budaya setempat

    Konstruksi Musikal Sekar Anyar dalam Tembang Sunda Cianjuran: Analisis Struktur Dongkari dan Formula Ornamen pada Lagu “Wegah”-“Sajeroning Sindang”

    Full text link
    ABSTRACTSekar anyar is tembang sunda cianjuran innovation who created by Ubun Kubarsah. The term of serkar anyar in tembang sunda cianjuran first appeared in the XIX Pasanggiri Tembang sunda cianjuran (PTSC) Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) that goes on Graha Sanusi Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung in December 2009. During this time, sekar anyar in tembang sunda cianjuran is still a debate among the tembang sunda cianjuran community. The discourse that appears in the sekar anyar is basically debating about the terminology itself, the problem of characteristics (in this case, the issue of musical and non-musical), the issue of character assassination, to the issue of whether sekar anyar is fit to be included in the category of the tembang sunda cianjuran genre. The following resarch aims to explain how the musical construction of sekar anyar in the tembang sunda cianjuran from the perspective of using the dongkari structure and the formula ornamen in the song "Wegah" - "Sajeroning Sindang".This research employs the ethnographic method with the theoretical framework of Bruno Nettl's selective approach to musical descriptions. The average use of dongkari and the use of ornaments in the sekar anyar song tends to be minimal. The lack of dongkari and ornamentation in the sekar anyar greatly influenced the achievement of the nuances of character that usually apply to tembang sunda cianjuran. ABSTRAKSekar anyarmerupakan karya inovasi dalam tembang sunda cianjuranyang digagas oleh Ubun Kubarsah. Istilah sekar anyardalam tembang sunda cianjuranpertama kali muncul pada Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran(PTSC) Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) ke-XIX yang berlangsung di gedung Graha Sanusi Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung pada bulan Desember 2009. Keberadaan sekar anyardalam tembang sunda cianjuranhingga saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat tembang sunda cianjuran. Wacana yang muncul pada fenomena sekar anyarpada dasarnya memperdebatkan soal peristilahannya itu sendiri, masalah ciri-ciri mandiri (dalam hal ini adalah persoalan musikal dan non musikal), issue pembunuhan karakter, sampai pada persoalan apakah laik sekar anyardimasukkan ke dalam kategori genre tembang sunda cianjuran. Penelitian ini difokuskan untuk melihat bagaimana konstruksi musikal sekar anyardalam tembang sunda cianjurandari perspektif penggunaan struktur dongkaridan formula ornamen pada lagu “Wegah”-“Sajeroning Sindang”. Penelitian dilakukan menggunakan metode etnografi dengan kerangka teori pendekatan selektif deskripsi musikal Bruno Nettl. Hasil yang didapatkan rata-rata penggunaan dongkaridan penggunaan ornamen pada lagu sekar anyarcenderung minim. Minimnya dongkaridan ornamen pada sekar anyarsangat berpengaruh terhadap pencapaian nuansa karakter yang biasa berlaku pada lagu-lagu tembang sunda cianjuran.

    Strategi Menggerakkan Festival Warga Studi Kasus Penyelenggaraan Layang Lakbok Art and Culture Festival

    Full text link
    ABSTRACTA festival is a cultural event that all cultural communities in the world have. One of the festival's functions is to improve the life energy of the cultural community that organizes it. Layang Lakbok Art and Culture Festival is a festival organized by Lakbok residents, Ciamis Regency, West Java. This festival stems from the spirit of a group of young people who are members of the Pematang Sawah Association to develop the post-harvest celebration of Lakbok residents into a bigger event. This idea and spirit then invite all citizens to be involved in the festival production process. The process of spreading ideas, spirit, and the festival production is carried out using the social capital owned by the youth, in particular, and in general by all citizens. The social capital used covers all aspects that are owned by citizens, starting from kinship relations, friendship, habits, actions, conflict management, arts, culinary, and many others. Thus, Layang Lakbok Art and Culture can be said to be a citizen festival that is owned and produced independently by them. The citizen participation aspect is the key to organizing this festival. This research is an attempt to interpret the practices that the author has alone experienced, together with the residents, to be precise in the production process of the Layang Lakbok Art and Culture Festival. For this reason, the research method used was the action research method where the author is directly involved in the process of procuring the Layang Lakbok Festival. This paper is expected to reveal the various participation done by the residents in organizing Layang Lakbok so that how the Layang Lakbok Festival is developed can be better known. ABSTRAKFestival merupakan sebuah peristiwa budaya, yang dimiliki oleh seluruh komunitas budaya di dunia. Salah satu dari fungsi festival adalah memperbaiki energi kehidupan dari komunitas budaya yang menyelenggarakannya. Layang Lakbok Art and Culture Festival adalah Sebuah festival yang diselenggarakan oleh warga Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Festival ini berangkat dari semangat sekelompok anak-anak muda yang tergabung dalam Paguyuban Pematang Sawah dalam mengemas ulang perayaan pasca panen warga Lakbok menjadi eventyang lebih besar. Ide dan semangat ini kemudian dibagikan kepada seluruh warga untuk ikut terlibat dalam proses produksi festival. Proses penyebaran ide, semangat hingga proses produksi festival dilakukan dengan menggunakan modal sosial yang dimiliki oleh anak-anak muda tersebut pada khususnya dan pada umumnya oleh seluruh warga. Modal sosial yang digunakan mencakup seluruh aspek yang dimiliki oleh warga yaitu mulai dari relasi kekerabatan, pertemanan, kebiasaan, tindakan, manajemen konflik, kesenian, kuliner dan lain sebagainya. Jadi Layang Lakbok Art and Culture merupakan sebuah festival warga, yang dimiliki oleh warga dan diproduksi secara mandiri oleh warga. Aspek partisipasi warga menjadi kunci dalam penyelenggaraan festival ini. Penelitian ini adalah upaya memaknai praktik yang telah dialami sendiri oleh penulis bersama warga dalam proses pewujudan Layang Lakbok Art and Culture Festival. Jadi metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian bertindak, di mana penulis terlibat langsung dalam proses pewujudan Layang Lakbok Festival. Lalu tulisan ini diharapkan dapat meraba lapis-lapis partisipasi warga dalam penyelenggaraan Layang Lakbok sehingga dapat dilihat bagaimana sesungguhnya Layang Lakbok Festival digerakkan.

    DIMENSI RAME: GEJALA, BENTUK, DAN CIRI

    Full text link
    In general rame is considered a commonplace thing. Yet, beyond all this, rame is a life necessity. Rame is indeed created to fill up vacant, lonely, or meaningless living spaces. Rame is always present by some causes or actions. In other words, it is present because of cause and effect relationship, or action and reaction process. This article discusses the dimension of rame based on phenomena, form, and its characteristics. Phenomenologically, rame is different from noise, because in ceremonies rame functions to solidify symbolic, ritual, religious, and social layers. The form could always be experienced by senses it is perceivable, smellable, tasteable, and touchable

    Interpreting the Nasib Kulo Song of Kemas Anwar Beck in Bebaso (Semiotics Study)

    Full text link
    A song is composed of a series of tones that form a melody and support musical elements. It uses the tones of a human voice to beautifully and meaningfully express thoughts or feelings The combination of a song with a lively poem (text) can stir up a lot of emotions in the audience and have a major effect on their soul. This study aims to explore the emotions evoked by Kemas Anwar Beck’s lyrics for his song Nasib Kulo and how his experiences show up in using language and wordplay to give his lyrics a unique and appealing quality. The study focuses on analyzing the content of the song lyrics and interpreting their meaning in a qualitative descriptive manner. A semiotic theory is used to decipher the meaning of the lyrics that were penned in polite Palembang Alus language. Moreover, a musicology approach is also used to analyze the musical form. The results show that the song Nasib Kulo uses two types of symbols, namely, verbal meaning in the form of poetry or lyrics and non-verbal meaning in the form of song elements, that is, chord progression, melody, tempo, and dynamics. As a result of the creativity of the artist, the mindset of life conception and lifestyle are reflected in his artwork. In conclusion, the song Nasib Kulo that is written in Palembang Alus language is very influential for individuals and communities. Keywords: interpretation, Nasib Kulo song, semiotics, artists, Palembang Alu

    Pengelolaan Risiko pada Pertunjukan Pepe-Pepeka ri Makka

    No full text
    Pepe-Pepeka ri Makka merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam pertunjukannya, kesenian Pepe-Pepeka ri Makka menyajikan penari yang berinteraksi dengan api. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana risiko-risiko yang terlibat dalam pertunjukan Pepe-Pepeka ri Makka, dikelola oleh para penampil. Metode kualitatif dan pendekatan performance studies digunakan dalam penelitian ini, guna mengeksplorasi dua dimensi dalam pengelolaan risiko, yaitu dimensi teknis dan nonteknis. Dimensi teknis mencakup keterampilan dan kecakapan penari, sementara dimensi nonteknis melibatkan penggunaan doa, ritual, dan kepercayaan spiritual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan risiko tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis penampil, namun juga dipengaruhi oleh keyakinan spiritual. Oleh karenanya, kombinasi antar kedua dimensi ini sangat berpengaruh terhadap keselamatan para penampil.Pepe-Pepeka ri Makka merupakan kesenian seni tradisional yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam pertunjukannya, menyajikan penari yang berinteraksi dengan api. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana risiko-risiko yang terlibat dalam pertunjukan Pepe-Pepeka ri Makka, dikelola oleh para penampil. Metode kualitatif dan pendekatan performance studies digunakan dalam penelitian ini, guna mengeksplorasi dua dimensi dalam pengelolaan risiko, yaitu dimensi teknis dan nonteknis. Dimensi teknis mencakup keterampilan dan kecakapan penari, sementara dimensi nonteknis melibatkan penggunaan doa, ritual, dan kepercayaan spiritual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan risiko tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis penampil, namun juga dipengaruhi oleh keyakinan spiritual. Oleh karenanya, kombinasi antar kedua dimensi ini sangat berpengaruh terhadap keselamatan para penampil.   Kata kunci: Pepe-Pepeka ri Makka, pengelolaan risiko, dimensi teknis dan nonteknis

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore