1,720,972 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PENGGUNA JASA ANGKUTAN UDARA DALAM PERSPEKTIF PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG PENERBANGAN
The legal protection granted to the users of air transport services in Indonesia is the main thing that should be the main purpose of the rulesof law on air transport businesses, its among others is the responsibility of the airline and the settlement of compensation to passengers delay on flight schedules. Based on the results of the discussions about the problem of delays in flight schedule, the position of service users is powerless. It is often the airline refuge on the stipulations of Article 28 of the Air Transport Ordinance in the terms of responsibility for delays in flight schedules, as such terms are standard klausula contained in airline tickets. Completion of compensation to the passengers delay on the flight schedule is still obstacle because of weak awareness of service users in their rights and there is no strict sanctions for airlines that do not carry out an obligation to award the compensate for service users delays in flight schedules.
Keywords: Legal Protection, Transport, Fligh
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
PENGEMBANGAN MODUL CLIENT PADA SISTEM PARKIR PINTAR BERBASIS QUICK RESPONSE (QR CODE)
Sistem parkir yang sudah ada saat ini masih bersifat manual, yaitu dengan cara petugas menginputkan nomor kendaraan ke dalam komputer, kemudian di print. Tiket parkir yang berisikan nomor kendaraan dan jam masuk. Transaksi pembayaran yang di lakukan petugas juga kurang efisien, karena tingkat kesalahan petugas saat menghitung biaya parkir dan uang kembalian terbilang tinggi. Dengan adanya berbagai masalah tersebut maka timbul ide untuk membuat suatu sistem parkir berlangganan berbasis SmartPhone atau android.
Cara kerja dari sistem perkir belangganan ini dengan melakukan pemindaian QR code yang akan di letakan perlantai gedung parkir dan di pintu keluar gedung parkir tersebut. Pemindaian QR code akan mendeteksi setiap pengguna yang akan memakai area parkir tersebut. Hasil dari pemindaian QR code akan dikirimkan ke server dan diidentivikasi secara online apakah yang melakukan pemindaian tersebut sudah terdaftar sebagai anggota atau belum.
Bentuk keluaran yang diharapkan dari pembuatan tugas akhir ini adalah menghasilkan sebuah prototype sistem parkir berlangganan dengan memanfaatkan teknologi SmartPhone. Keluaran dari proyek ini tidak hanya melakukan sistem pemindaian saja, tetapi juga sistem pemesanan, pembayaran dan pengisian saldo.
Kata kunci: Smartphone, QR code, java
ANALISIS PEMIKIRAN PENDIDIKAN KARAKTER IBNU SINA DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER KI HAJAR DEWANTARA
ABSTRAK
Fokus utama penelitian ini adalah membandingkan pemikiran dua
tokoh besar dalam dunia pendidikan, yaitu Ibnu Sina, seorang filsuf,
dokter, dan pendidik Muslim dari abad ke-10, dengan Ki Hajar
Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Kajian ini
bertujuan untuk menggali gagasan pendidikan karakter menurut Ibnu
Sina, kemudian melihat relevansi dan kesesuaiannya dengan prinsip
prinsip pendidikan karakter yang dikembangkan oleh Ki Hajar
Dewantara.
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan
metode analisis literatur. Data diperoleh melalui studi pustaka dari
berbagai sumber primer dan sekunder, termasuk karya tulis Ibnu Sina
seperti Asy-Syifa dan Kitab an-Najat, serta gagasan Ki Hajar
Dewantara yang terangkum dalam konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha,
Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa meskipun kedua tokoh hidup dalam konteks
sosial dan budaya yang sangat berbeda, terdapat persamaan mendasar
dalam pemikiran mereka terkait pentingnya pendidikan karakter untuk
membentuk individu yang utuh. Ibnu Sina menekankan pendidikan
sebagai proses menyeluruh yang mencakup pengembangan akhlak,
intelektual, dan spiritual. Beliau percaya bahwa pendidikan tidak
hanya berfungsi untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga
membentuk moralitas dan etika individu. Menurut Ibnu Sina, guru
harus menjadi teladan yang baik bagi murid-muridnya, sementara
proses pendidikan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan
anak. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, dan keberanian
sangat ditekankan dalam konsep pendidikan Ibnu Sina.
Di sisi lain, Ki Hajar Dewantara mengembangkan sistem
pendidikan yang bertujuan membangun manusia merdeka, yaitu
individu yang mampu berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab
secara mandiri. Prinsip Tri-N yang diusungnya mencakup aspek
kepemimpinan, pemberdayaan, dan pengawasan yang selaras dengan
pembentukan karakter peserta didik. Gagasannya sangat menekankan
pentingnya pendidikan berbasis budaya lokal, dengan tetap
menjunjung nilai-nilai universal seperti kebersamaan, kejujuran, dan
tanggung jawab. Analisis menunjukkan bahwa terdapat keselarasan
ii
antara gagasan Ibnu Sina dan Ki Hajar Dewantara dalam hal peran
pendidikan sebagai alat pembentuk karakter. Keduanya sepakat bahwa
pendidikan harus diarahkan pada pengembangan manusia secara
holistik, meliputi aspek moral, intelektual, emosional, dan sosial.
Namun, terdapat perbedaan pada pendekatan dan implementasinya.
Ibnu Sina lebih menitikberatkan pada peran agama sebagai fondasi
pendidikan karakter, sedangkan Ki Hajar Dewantara menekankan
pada pengembangan manusia berdasarkan nilai-nilai budaya dan
konteks sosial. Dengan mengintegrasikan konsep Ibnu Sina dan Ki
Hajar Dewantara, diharapkan lahir sebuah pendekatan pendidikan
karakter yang lebih komprehensif, mampu menjawab tantangan
global, namun tetap berakar pada nilai-nilai lokal dan agama.
Penelitian ini juga memberikan rekomendasi untuk mengadaptasi
nilai-nilai kedua tokoh dalam kurikulum pendidikan karakter di era
modern, guna menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi
juga bermoral dan berintegritas.
Kata kunci: Ibnu Sina, Ki Hajar Dewantara, Pendidikan Karakter,
Analisis Pemikiran, Relevansi
iii
ABSTRACT
The main focus of this research is to compare the thoughts of two
great figures in the world of education, namely Ibnu Sina, a
philosopher, doctor and Muslim educator from the 10th century, with
Ki Hajar Dewantara, the Father of Indonesian National Education.
This study aims to explore the idea of character education according
to Ibnu Sina, then see its relevance and suitability to the principles of
character education developed by Ki Hajar Dewantara.
The research approach used is qualitative with literature analysis
methods. Data was obtained through literature study from various
primary and secondary sources, including Ibn Sina's written works
such as Asy-Syifa and Buku an-Najat, as well as the ideas of Ki Hajar
Dewantara which are summarized in the concepts of Ing Ngarsa Sung
Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, and Tut Wuri Handayani . The
research results show that even though the two figures live in very
different social and cultural contexts, there are fundamental
similarities in their thinking regarding the importance of character
education to form a complete individual. Ibn Sina emphasized
education as a comprehensive process that includes moral, intellectual
and spiritual development. He believes that education not only
functions to transfer knowledge, but also shapes individual morality
and ethics. According to Ibnu Sina, teachers must be good role models
for their students, while the educational process must be adjusted to
the child's stage of development. Values such as responsibility,
honesty and courage are highly emphasized in Ibn Sina's educational
concept.
On the other hand, Ki Hajar Dewantara developed an education
system which aims to build independent humans, namely individuals
who are able to think, act and be responsible independently. The Tri-N
principles he promotes include aspects of leadership, empowerment
and supervision that are in line with the formation of student
character. The idea really emphasizes the importance of education
based on local culture, while still upholding universal values such as
togetherness, honesty and responsibility. The analysis shows that there
is harmony between the ideas of Ibn Sina and Ki Hajar Dewantara in
iv
terms of the role of education as a tool for forming character. Both
agree that education must be directed at holistic human development,
including moral, intellectual, emotional and social aspects. However,
there are differences in approach and implementation. Ibnu Sina
focuses more on the role of religion as the foundation of character
education, while Ki Hajar Dewantara emphasizes human development
based on cultural values and social context. By integrating the
concepts of Ibnu Sina and Ki Hajar Dewantara, it is hoped that a more
comprehensive approach to character education will emerge, capable
of responding to global challenges, but still rooted in local and
religious values. This research also provides recommendations for
adapting the values of the two figures in the character education
curriculum in the modern era, in order to create a generation that is not
only intelligent, but also moral and has integrity.
Keywords: Ibnu Sina, Character Education, Ethics, Relevance,
Modern Educatio
MODEL LATIHAN TANGKIS BALAS PADA CABANG OLAHRAGA KARATE USIA 12-13 TAHUN KATEGORI PEMULA
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan model latihan untuk cabang olahraga karate kategori pemula usia 12-13 tahun.
Penelitian ini menggunakan tahapan Borg & Gall, Namun tidak semua tahapan peneliti terapkan, berikut 10 tahapan dengan mengadaptasi penelitian dan pengembangan model Borg & Gall sebagai berikut: (1) research and information collection, (2) planning, (3) Develop preliminary from of product, (4) Preliminary field testing, (5) Main product revision, (6) Main field testing, (7) Operational product revision, (8) Operational field testing, (9) Final product revision, (10) Dissemination and implementation. Validasi terhadap isi produk dilakukan oleh dosen ahli karate sebagai pembimbing I, dosen Tes Pengukuran dan Olahraga sebagai pembimbing II dan pelatih karate UNJ.
Hasil dari penelitian dan pengembangan berupa model latihan tangkis balas untuk cabang olahraga karate kategori pemula usia 12-13 tahun berupa 20 model.
Berdasarkan penilaian para ahli materi, pelatih karate dapat disimpulkan bahwa pengembangan model latihan tangkis balas efektif untuk anak kategori pemula usia 12-13 tahu
Penerapan teori warna pada film animasi 3D Nayla untuk meningkatkan emosional penonton
Color scripting melibatkan pembuatan representasi visual dari perkembangan warna, suasana, dan atmosfer dalam film animasi. Film "Nayla" mengangkat isu gangguan mental skizofrenia. Tujuan utama dari color script tidak hanya sebagai panduan untuk tim 3D dan penghematan waktu serta sumber daya produksi, tetapi juga sebagai elemen kunci dalam membangkitkan aspek emosional secara visual dengan menggambarkan perasaan dan pengalaman karakter utama yang mengalami skizofrenia. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori harmoni warna dari buku yang berjudul basic color theory (Patti Mollica, 2018). Dan metode perancangan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan analysis, design, develop, implement, evaluate (ADDIE). Penelitian ini bertujuan untuk memberikan konsistensi wara dan meningkatkan emosional penonton dengan menerapkan elemen warna dan cahaya dalam film "Nayla" yang mengangkat isu gangguan mental skizofrenia. Hasil penelitian ini berupa penerapan color mood pada sebuah scene contohnya, penggunaan warna gelap dan kontras dapat mencerminkan ketidakstabilan emosional, sementara perubahan warna yang dramatis dapat menunjukkan pergeseran persepsi karakter. Sebaliknya, penggunaan warna cerah secara tiba-tiba dalam momen penting dapat menciptakan kontras dramatis, menandakan perubahan pikiran atau perasaan karakter
Komunikasi Transendental Pada Terbang Gandung Di Desa Watuagung Pasuruan Dengan Teori Pendekatan Interaksionisme Simbolik
Penelitian ini mengaplikasikan Teori Pendekatan Interaksionisme Simbolik dalam upaya untuk menganalisis komunikasi yang terjadi dalam konteks ini. Studi ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana Komunikasi Transendental termanifestasi dalam perayaan Terbang Gandul di Desa Watuagung, yang masih sangat dipengaruhi oleh tradisi kebudayaan Islam. Meskipun tradisi Terbang Gandul memiliki kedalaman komunikasi transendental, namun penelitian ilmiah khususnya dalam bidang Ilmu Komunikasi belum banyak membahasnya. Penelitian ini mengadopsi perspektif pendekatan teori Interaksionisme Simbolik, yang didasarkan pada premis utama George Harbert Mead tentang pikiran, bahasa, dan simbol yang signifikan. Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Sumber data utamanya berasal dari wawancara mendalam dengan narasumber, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Terbang Gandul memiliki makna yang dalam, melambangkan rasa syukur dan permohonan kesuksesan acara kepada Tuhan Yang Maha Esa serta sebagai bentuk hubungan dengan Tuhan sebagai pencipta alam. Temuan penelitian juga mengindikasikan bahwa makna dari ritual Terbang Gandul dapat dianalisis melalui konsep Mead tentang komunikasi transendental. Masyarakat percaya bahwa ritual ini membentuk hubungan khusus melalui simbol-simbol yang diciptakan sebagai penghubung antara pemimpin ritual dan Tuhan Yang Maha Esa
- …
