1,721,238 research outputs found
Pemikiran Muhammad Taqi Misbah Yazdi relasi fitrah dan iman
Manusia menjadi salah satu misteri kecil dari semesta alam ini. Seluruh tingkah lakunya merupakan cerminan kesempurnaan atas pengenalan dirinya. Jalan pengenalan yang menjadikan tingkat sensitifitas kemanusiaan terbentuk dengan baik dan sempurna. Pengenalan diri yang membawa kepada arah kajian fitrah dan iman yang mencakup berbagai wacana tentang daya-daya terkuat yang dimiliki manusia yang diletakkan oleh Sang pencipta. Hal itu meliputi kecenderungan mengetahui, berkuasa atau menguasai, cinta dan penghambaan, mencari kenikmatan, kecenderungan tak terbatas.
Tujuan penulisan buku ini dimaksudkan untuk mencapai pada suatu pemahaman yang khas kaitannya dengan pemikiran Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Diantaranya untuk mengetahui lebih dalam lagi bagaimana konsepsi Muhammad Taqi Mishbah Yazdi tentang fitrah dan iman, serta relasi yang terbentuk.
Penulisansecara kualitatif ini dilakukkan dengan metode deskripsi, yaitu dengan menguraikan secara teratur pemikiran Muhammad Taqi Mishbah Yazdi tentang fitrah dan iman. Sedangkan teknik yang digunakan adalah studi kepustakaan, yaitu dengan menggunakan data primer karya Muhammad Taqi Mishbah Yazdi dan data skunder yang berhubungan dengan pemikiran Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Dengan demikian penulisan ini dapat menjawab perumusan masalah.
Dari data-data yang ditemukan menunjukan bahwa fitrah dan iman merupakan dasar pokok ke arah sempurnanya kehidupan. Sehingga penting adanya jalinan relasi yang kuat antara keduanya, yang meliputi. Pertama, relasi eksistensial fitrah dan iman. Kedua, relasi timbal balik fitrah dan iman. Ketiga, relasi gerak menyempurna.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Muhammad Taqi Mishbah Yazdi memandang fitrah dan iman bukanlah hanya sebagai suatu pemberian dan potensi belaka. Setiap manusia haruslah berusaha menemukan dan mengarahkan dirinya kepada kesempurnaan insaninya dengan mengarahkan berbagai aktifitas. Usaha pengenalan fitrah dan iman melalui rasio dan nalar akan membawa kepada sikap penghargaan dan tanggung jawab manusia itu sendiri, sehingga terbentuklah sosok manusia sempurna (insan kamil)
Pemikiran Epistemologi Islam Muhammad Taqi Mishbah Yazdi
Tesis ini mengeksplorasi secara kritis atas pemikiran epistemologi Islam Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, terkait dengan corak pemikiran, prinsip dan konstruksi epistemologi serta kontribusinya terhadap kemajuan filsafat Islam di
masa yang akan datang. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi merupakan tokoh ulama sekaligus filosof kontemporer yang mampu menghadirkan gagasan-gagasan filsafat yang kreatif
dan kritis. Ia juga banyak memainkan peran penting dalam menciptkan kondisi yang kondusif bagi kelanjutan dan perkembangan wacana filsafat Islam, ia dengan
background pendidikannya yang kritis mengantarkannya untuk berusaha mengharmonisasikan antara pemikiran filsafat paripatetik Ibnu Sina, filsafat
Illuminasi Suhrawardi dan filsafat Hikmah Muta’alliyah Mulla Sadra, ia juga diyakini mampu memberikan respon terhadap wacana-wacana pemikiran kontemporer, termasuk sejumlah aliran pemikiran modern hingga pascamodern.
Oleh karena itu, pandangan-pandangan filsafat Muhammad Taqi Mishbah Yazdi mencerminkan sosok rasionalis yang sangat berani mendobrak tradisi pemikiran filsafat para filosof sebelumnya yang menurutnya telah menjadi semacam postulat
dan disakralkan.Pengetahuan menurut Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, terbagi menjadi dua yaitu: Pertama: melalui pengetahuan taṣawwūr diperoleh melalui konsep
partikular dan konsep universal. Konsep universal ini digunakan untuk mendefiniskan suatu objek. Sekaligus konsep ini juga sebagai kritik terhadap empirisisme, bahwa konsep ini tidak berasal dari persepsi indera. Melalui
pengetahuan taṣawwūr juga diperoleh konsep primer terdiri dari konsep māhiyah dan konsep sekunder yang terdiri dari konsep sekunder filsafat dan konsep sekunder logika. Dengan konsep sekunder ini manusia bisa sampai pada
pengetahuan yang mandiri, karena dalam konsep ini bukan berasal dari alam melainkan dari analisis akal dan melalui tindakan perbandingan. Misalnya adalah konsep kausalitas. Kedua, Pengetahuan taṣdῑq (afirmasi)adalah menilai konsep,
berarti taṣdῑq berkaitan dengan proposisi, menurut Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, dalam taṣdῑq yang berperan dan menjadi prioritas adalah akal, bahkan tidak membutuhkan pengalaman inderawi, misal: Pertama dalam proposisi analitis yang
konsep predikatnya sudah terkandung pada subjek. Kedua, dalam proposisi yang badῑhῑ tidak membutuhkan pada pengalaman inderawi, meskipun dalam taṣawwūr
atau konsepsinya membutuhkan pancaindera. Misalnya: badῑhῑ sekunder “tembok itu putih”. Ketiga, proposisi-proposisi yang diperoleh melalui ilmu hudlūrῑ di alam
mental, karena proposisi ini bersifat intuitif. Keempat, Pengetahuan yang eksistensi objek tidak secara langsung tersaksikan oleh subjek, tetapi subjek
menangkapnya melalui perantara yang mencerminkan (represent) objek. Refresentasi ini disebut dengan istilah form/shurah atau konsep mental (mental
concept/al-Mafhum al-dzihni). Pengetahuan ini dikenal dengan istilah hushuli yakni pengetahuan yang ditangkap lewat perantara konseptual.
Pandangan-pandangan kritis Muhammad Taqi Misbhah Yazdi terhadap filsafat bukan ditujukan untuk mendekonstruksi filsafat trensendental yang dibangun oleh Mulla Sadra maupun filsafat paripatetis yang dikumandangkan
oleh Ibnu Sina dan Thabathaba’i. Muhammad Taqi Misbhah Yazdi berusaha membangun gagasan dan mensintesakan keduanya ke dalam konsep epistemologi Islam yang kuat, namun tetap didasarkan pada sejumlah keberatan substansial,
formal dan material. Ia mampu mereformasi sejumlah pemikiran filosofis yang diwariskan Ibnu Sina, Suhrawardi, Mulla Sadra dan Thabatabha’i sehingga sebagian kalangan menganggap bahwa kehadiran Muhammad Taqi Mishbah Yazdi merupakan pelopor filsafat “Paripatetisme Baru” atau “transendentalisme
non-mistis
Relasi fitrah dan Iiman dalam pemikiran Muhammad Taqi Misbah Yazdi
Manusia menjadi salah satu misteri kecil dari semesta alam ini. Seluruh tingkah lakunya merupakan cerminan kesempurnaan atas pengenalan dirinya. Pengenalan ini akan menjadikan tingkat sensitifitas kemanusiaan terbentuk dengan baik dan sempurna. Pengenalan ini juga akan membawa kepada arah kajian fitrah dan iman yang mencakup berbagai wacana tentang daya-daya terkuat yang dimiliki manusia yang diletakkan oleh Sang pencipta. Hal ini meliputi kecenderungan mengetahui manusia, berkuasa atau menguasai, cinta dan penghambaan, mencari kenikmatan, kecenderungan tak terbatas.
Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mencapai pada suatu pemahaman yang khas kaitannya dengan pemikiran Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Diantaranya untuk mengetahui lebih dalam lagi bagaimana konsepsi Muhammad Taqi Mishbah Yazdi tentang fitrah dan iman, serta relasi yang terbentuk.
Penelitian kualitatif ini dilakukkan dengan metode deskripsi, yaitu dengan menguraikan secara teratur pemikiran Muhammad Taqi Mishbah Yazdi tentang fitrah dan iman. Sedangkan teknik yang digunakan adalah studi kepustakaan, yaitu dengan menggunakan data primer karya Muhammad Taqi Mishbah Yazdi dan data skunder yang berhubungan dengan pemikiran Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Dengan demikian penelitian ini dapat menjawab perumusan masalah.
Dari data-data yang ditemukan menunjukan bahwa fitrah dan iman merupakan dasar pokok ke arah sempurnanya kehidupan. Sehingga penting adanya jalinan relasi yang kuat antara keduanya, yang meliputi. Pertama, relasi eksistensial fitrah dan iman. Kedua, relasi timbal balik fitrah dan iman. Ketiga, relasi gerak menyempurna.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Muhammad Taqi Mishbah Yazdi memandang fitrah dan iman bukanlah hanya sebagai suatu pemberian dan potensi belaka. Setiap manusia haruslah berusaha menemukan dan mengarahkan dirinya kepada kesempurnaan insaninya dengan mengarahkan berbagai aktifitas. Usaha pengenalan fitrah dan iman melalui rasio dan nalar akan membawa kepada sikap penghargaan dan tanggung jawab manusia itu sendiri, sehingga terbentuklah sosok manusia sempurna (insan kamil)
Implementasi Baik dan Buruk dalam Filsafat Akhlak Menurut Perspektif Muhammad Taqi Mishbah Yazdi
This study discusses the theory of good and bad in the moral conception of Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, one of the contemporary Iranian philosophers. an Iranian Shia cleric as well as a conservative political activist who serves as the spiritual leader of the Islamic Revolutionary Stability Front in Iran. He was born in the city of Yazd, Iran, on Rabi'ul Awal 1353 Hijri (1934). It was also in the city of Yazd that Muhammad Taqi Mishbah Yazdi began and completed the basic studies of Islamic sciences by reading classical texts. Where Muhammad Taqi Mishbah Yazdi stands on his rational argument, he considers that humans are able to know what good and bad mean independently. And the moral arguments of Muhammad Taqi Mishbah Yazdi are built on epistemological conditions. In his formulation, he also makes references to western thought (pragmatism and utilitarianism). And what influenced him the most was the idea of transcendentalism in the philosophy of Mull Shdr. But Muhammad Taqi Mishbah Yazdi only capitalized on these ideas and gave his own original thoughts.Penelitian ini membahas tentang teori baik dan buruk pada konsepsi akhlak dari Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, salah satu filsuf kontemporer asal Iran. seorang Ulama Syiah Iran serta aktivis politik konservatif yang berperan sebagai pemimpin spiritual dari Front Stabilitas Revolusi Islam di Iran. Beliau Lahir di kota Yazd, Iran, pada 17 Rabi’ul Awal 1353 Hijriah (1934). Di kota Yazd ini pula Muhammad Taqi Mishbah Yazdi memulai serta menamatkan pelajaran dasar dari ilmu-ilmu Islam dengan cara membaca naskah-baskah klasik. Dimana Muhammad Taqi Mishbah Yazdi berdiri pada argumen rasionalnya, ia menganggap bahwa manusia mampu mengetahui apa makna baik dan buruk secara mandiri. Dan argumen-argumen akhlak dari Muhammad Taqi Mishbah Yazdi dibangun dari keadaan epistemologis. Dalam formulasinya, ia juga mendapat referensi dari pemikiran barat (pragmatism dan utilitarianisme). Dan yang paling banyak mempengaruhinya adalah gagasan filsafat transendentalisme dari Mullā Shādrā. Namun Muhammad Taqi Mishbah Yazdi hanya memanfaatkan gagasan-gagasan tersebut dan memberikan pemikiran orisinilnya sendiri
22 Nasihat abadi penghalus budi: buku pertama
Buku ini merupakan komentar dan penjelasan Prof. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi terhadap kandungan surat wasiat Ali bin Abi Thalib kepada putranyam Hasan Mutjaba.viii, 365 hlm.; 28,5 c
22 Nasihat abadi penghalus budi: buku pertama
Buku ini merupakan komentar dan penjelasan Prof. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi terhadap kandungan surat wasiat Ali bin Abi Thalib kepada putranyam Hasan Mutjaba.viii, 365 hlm.; 28,5 c
STUDI KOMPARASI KONSEP MANUSIA MENURUT MUHAMMAD TAQI MISHBAH YAZDI DAN DISKURSUS TEKNOLOGI KECERDASAN BUATAN
Penelitian pada skripsi ini berusaha untuk mengidentifikasi keterkaitan konsep manusia menurut Muhammad Taqi Mishbah Yazdi dengan diskursur Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Teknologi kecerdasan buatan atau AI ini telah begitu merasuki kehidupan umat manusia saat ini hingga pada akhirnya menimbulkan permasalahan bagi kemanusiaan. Permasalahan tersebut antara lain sejauh mana posisi manusia dipengaruhi oleh teknologi kecerdasan buatan dalam mngambil keptutusan dan apa saja dampak yang berpotensi dirasakan oleh manusia dengan semakin massifnya penggunaan AI ini di kehidupan. Pemikiran Muhammad Taqi Mishbah Yazdi tentang manusia oleh penulis coba dikaitkan dengan permasalahan kemanusiaan yang terjadi.
Penelitian skripsi ini menggunakan metode studi pustaka dengan mengumpulkan berbagai data pustaka yang terkait dengan tema pemikiran tokoh Muhammad Taqi Mishbah Yazdi tentang manusia dan tema diskursus kecerdasan buatan, utamanya terkait dengan permasalahan kemanusiaan yang ditimbulkannya.
Hasil dari penelitian skripsi menemukan adanya beberapa persamaan maupun perbedaan antara konsep manusia menurut Muhammad Taqi Mishbah Yazdi dengan kemapuan kecerdasan buatan dan permasalahannya terkait kemanusiaan. Persamaannya antara lain manusia dan AI sama-sama mempunyai pengetahuan yang membuatnya menjadi cerdas. Adapun yang membedakan dari keduanya yaitu segala yang dimiliki oleh manusia semuanya bersifat alami dan ia peroleh langsung melalui serangkaian usahanya. Sedangkan pada sistem AI, segala kemampuannya bagaimanapun hebatnya tetap bergantung pada manusia yang telah memprogramnya. Pada akhirnya penulis berpendapat bahwa posisi manusia tetaplah lebih mulia jika dibandingkan dengan kemampuan kecerdasan buatan yang telah mampu meniru perilaku manusia
21 Nasihat abadi penghalus budi : buku kedua
Buku ini merupakan buku kedua yang berisi komentar dan penjelasan Prof. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi terhadap kandungan surat wasiat Ali bin Abi Thalib kepada putranya, Hasan Mujtaba. Tema yang dibahas pada buku kedua ini antara lain mencakup, metode hidup, kawan yang baik, penyakit hubungan sosial, menjaga hati, adab pertemanan hingga persoalan keutamaan dan kerendahan akhlak.xii, 385 hlm; 23,3 x 15,1 cm
21 Nasihat abadi penghalus budi : buku kedua
Buku ini merupakan buku kedua yang berisi komentar dan penjelasan Prof. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi terhadap kandungan surat wasiat Ali bin Abi Thalib kepada putranya, Hasan Mujtaba. Tema yang dibahas pada buku kedua ini antara lain mencakup, metode hidup, kawan yang baik, penyakit hubungan sosial, menjaga hati, adab pertemanan hingga persoalan keutamaan dan kerendahan akhlak.xii, 385 hlm; 23,3 x 15,1 cm
EPISTEMOLOGI ISLAM DALAM FILSAFAT MUHAMMAD TAQI MISHBAH YAZDI
The article explored critically the Islamic epistemology thought of Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi was a religious leader and a contemporary philosopher as well who was able to present critical and creative philosophical ideas. He played an important role in creating conducive conditions to the continuation and development of Islamic philosophical discourse, and tried to harmonize between peripatetic philosophy of Ibn Sina, Suhrawardi illumination philosophy, and philosophy of Muta'alliyah Mulla Sadra Wisdom. He was also believed to be able to respond to the discourses of contemporary thought, including a number of modern to postmodern school of thought. Therefore, the philosophical views of Mishbah Yazdi Mohammad Taqi reflected a rationalist who was very brave to break the philosophical tradition of the previous philosophers whom he said had become a sort of postulate and sacred. According to Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, knowledge was divided into two parts: First, tasawwur was gained through the particular and universal concepts of knowledge. This universal concept was used to define an object. It was also as a critique towards empiricism, and that this concept was not derived from sense perception. Through tasawwur, it was gained the primary concept i.e. māhiyah concept, and secondary concepts consisting of philosophical and logical secondary concepts. By the secondary concept, humans could come to the independent since it was not derived from nature but from reason and action analysis comparison. The concept of causality for instance. Second, the knowledge of taṣdῑq (affirmation) was assessing the concept, meaning that taṣdῑq was related to a proposition, according to Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, the role and priority was reasonable in taṣdῑq, did not even need a sensory experience, for example: First, the analytical propositions that concept of the predicate was already included in the subject. Second, the badῑhῑ proposition did not require the sensory experience, although it required the senses in tasawwur or its conception. For instance: secondary badῑhῑ "the wall is white". Third, propositions obtained through hudlūrῑ science in mental nature, because this proposition was intuitive. Fourth, the knowledge that was the existence of the object was not directly referred to the subject, but the subject captured it through intermediaries that represented the object. The representation was named as form/ shurah or mental concept (mental concept/al-Mafhum al-dzihni). This knowledge was known as hushuli, the knowledge captured through conceptual intermediaries.
- …
