898 research outputs found
BABUR AND MUHAMMAD SALIH
In this article, the opinions of Z.M. Babur are expressed about the creative portrait of the poet Muhammad Salih depicted in Babur\u27s Baburnoma . Babur\u27s style in describing the work of Muhammad Salih and his attitude to his character also draws attention to the influence of the traditions of the literary environment of that time. The place and significance of Muhammad Salih\u27s poems are also discussed in Baburnoma. Muhammad Salih\u27s rise to fame in Persian poetry and his influence on the creativity of the events observed in his biography are also commented on. The article also analyzes the opinions of mature literary critics about Muhammad Salih. The article uses biographical and comparative analysis methods and draws conclusions about the important aspects of Muhammad Salih\u27s creative portrait on the basis of Babur\u27s literary and aesthetic views
Mada'in Salih, a Nabataean town in north west Arabia: analysis and interpretation of the excavation 1986-1990
This research concerns Mada'in Salih, an archaeological site in north-west Saudi Arabia. Historically, it was part of the Nabataean kingdom which flourished in northwest Arabia (Jordan, parts of Syria, Palestine and some parts of Saudi Arabia), with Petra in Jordan as its capital. The Nabataeans were famous for their trading role, as they transported frankincense and myrrh and exported balsam and bitumen. They built monumental tombs in Petra and Mada'in Salih as well as other public buildings such as temples theatres and baths. They were also famous for their skills in hydraulic engineering and the production of very thin, distinctively painted pottery. Mada'in Salih was an important station on the trade route which linked south Arabia with Mediterranean countries. The main feature of the site is the monumental tombs, which are about eighty in number, some of them dated and bearing inscriptions. Those inscriptions are in Aramaic and usually contain information about the owner name, legal rights, and occasionally the mason's name. Little was known about the site's history and other aspects such as the economy, culture, society and religions prior to the excavation. Various questions were raised which the thesis attempts to address. The archaeological work conducted on the site included a survey, several trenches around the town wall and in front of some of the tombs as well as an excavation in the settlement area. The excavation revealed a private house which furnished us with information regarding house planning, building techniques and materials. A large amount of pottery, small finds and coins were recovered, studied and classified. The results added some information to what was already known about the Nabataeans in general and Mada'in Salih in particular. The site had witnessed its peak during the first century A.D. As most previous archaeological work had been carried out in the northern parts of the Nabataean kingdom, the results of this excavation are important for comparative studies between this, the largest Nabataean settlement centre in the south, to the centres of the north. The trade which had been an important factor in the establishment of the site declined when the trade route was shifted from land to sea by the Romans during the last half of the first century A.D
Etika peserta didik dalam pendidikan Islam: Telaah terhadap kitab al-’Ilm karya Muhammad Salih al-’Usaimin
Peserta didik dalam belajar tentunya dituntut untuk beretika. Banyak pemikir Islam yang merumuskan teori etika peserta didik serta proses belajar yang baik. Penelitia ini, dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana etika peserta didik serta faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan peserta didik menurut Muhammad Salih al-’Usaimin dalam karyanya Kitab al-’Ilm.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Etika peserta didik menurut Muhammad Salih al-’Usaimin dalam Kitab al-’Ilm 2) Faktor pendorong kesuksesan peserta didik menurut Muhammad Salih al-’Usaimin dalam Kitab al-’Ilm.
Peneltian ini merupakan analisis teks, metode yang digunakan adalah kepustakaan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumen, kemudian dianalisis dengan cara reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Etika peserta didik menurut Muhammad Salih al-’Usaimin dalam Kitab al-’Ilm adalah niat ikhlas, memberantas kebodohan dari diri sendiri dan masyarakat, membela agama Islam, toleran terhadap perbedaan pendapat, mengamalkan ilmu pengetahuan, menyampaikan ilmu pengetahuan, menjadi panutan, bersabar dalam belajar, menghormati ulama, berpegang teguh terhadap Alquran dan Hadis, teliti dan konsisten, dan cermat dalam memahami tujuan Alquran dan Hadis. 2) Faktor pendorong kesuksesan peserta didik menurut Muhammad Salih al-’Usaimin dalam Kitab al-’Ilm adalah takwa, tekun, menghafal, dan mula>zamah al-‘Ulama>. Sedangkan faktor penghambatnya adalah dengki, berfatwa tanpa pengetahuan, takabbur, fanatik, tampil sebelum menguasai materi, dan berprasangka buruk
Interview with Ruba Salih, by Nadeem Karkabi and Sonia Boulos
On the occasion of publishing a special issue of Palestine/
Israel Review (PIR) on the decolonization of the city of Haifa, PIR interviewed Ruba Salih, a professor of anthropology at the Department of
Arts, University of Bologna. Salih’s research focuses on transnational
migration and diasporas across Europe, the Middle East, and North
Africa; Islam and gender; the Palestine question and refugees; and
trauma and conflict in the Middle East. She is the author of numerous academic works, including the book Gender in Transnationalism:
Home, Longing and Belonging among Moroccan (Routledge, 2003), and
the article “Bodies That Walk, Bodies That Talk, Bodies That Love: Palestinian Women Refugees, Affectivity, and the Politics of the Ordinary” (Antipode, 2017). Currently, she is working on a book on waiting and the politics of return among Palestinian refugees (Cambridge University Press). Ruba herself is the daughter of a Palestinian refugee from
Haifa, and her mother was born in Yafa/Jaffa. PIR held an interview
with her to talk about her work and her own experience of refuge as a
descendant of Palestinian refugees from Haifa. Nadeem Karkabi and
Sonia Boulos conducted the interview for PIR
Analisis komparatif pendapat Syekh Yusuf al Qardhawi dan Syekh Muhammad bin Salih al Uthaymin tentang hukum Zakat Fitrah menggunakan uang
Skripsi yang berjudul, “Analisis Komparatif Pendapat Syekh Yusuf al-Qardhawi dan Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaymin Tentang Hukum Zakat Fitrah Menggunakan Uang” ini merupakan hasil penelitian pustaka yang bertujuan menjawab pertanyaan tentang: bagaimana pendapat Syekh Yusuf al-Qardhawi tentang hukum zakat fitrah menggunakan uang?, bagaimana pendapat Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaymin tentang hukum zakat fitrah menggunakan uang, dan bagaimana analisis komparatif pendapat Syekh Yusuf al-Qardhawi dan Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaymin tentang hukum zakat fitrah menggunakan uang? Data penelitian ini dihimpun dengan teknik dokumentasi dengan memperoleh data dari sumber primer yaitu kitab Fiqh al-zakah karangan Syekh Yusuf al-Qardhawi dan kitab Majmu’ Fatawa wa Rasail karangan Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaymin dan data sekunder sebagai literatur pendukung yang relevan dengan permasalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan teknik deskriptif komparatif dan mendeskripsikan data mengunakan alur berfikir induktif. Hasil penelitian menyimpulkan, bahwa: Syekh Yusuf al-Qardhawi berpendapat tentang bolehnya zakat fitrah dengan uang adalah pada redaksi hadis Ibnu Umar: “Cukupkanlah mereka (orang-orang miskin) pada hari itu (hari raya ldul Fitri).” Garis besarnya adalah apa yang menjadi maslahah atau kemanfaatan bagi kaum fakir miskin, sedangkan Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthayminberpendapat bahwa hukum pembayaran zakat fitrah menggunakan uang adalah dilarang karena berpegang pada nas} apa adanya dimana Nabi Saw. memerintahkan zakat fitrah dengan makanan, maka pelaksanaannya harus dilakukan dengan menyerahkan makanan tersebut dan artinya tidak boleh dengan yang lain. Saran bagi masyarakat dan sebagai muzaki yaitu apapun pandangan dan keyakinan terhadap pembayaran zakat fitrah hendaknya tidak menjadi polemik. Silahkan membayar zakat sesuai dengan waktu dan jenis yang ditentukan. Jangan sampai apa yang telah kita lakukan tidak sesuai dengan kaidah shar’i. Selain itu, bagi pihak amil zakat harus bisa mengelola dan mendistribusikan zakat fitrah dengan baik sehingga para mustahik zakat terpenuhi apa yang menjadi haknya
“Amal-I Salih” As an Important Historical Source
Manuscripts play an important role to fill the gaps and disclose uncertain pages of history. They provide us with the information of witnesses and stories had happened prior to the author who had heard from contemporaries. Besides that, there are some manuscripts that were written by several authors and generations. The manuscript of “Amal-i Salih” is a two-volume source written by Muhammad Salih Kambu of Baburid period in India. The manuscript provides valuable information about political and diplomatic relations between Ashtarkhanids and India, information about the genealogy of the Ashtarkhanid dynasty, information about the representatives of the political, cultural, and spiritual spheres of Central Asia
Studi komparatif pendapat Syekh Yusuf al Qardawi dan Syekh Muhammad bin Salih al 'Uthaymin tentang hukum mengucapkan selamat Hari Natal kepada umat Non Muslim
Skripsi yang berjudul, “Studi Komparatif Pendapat Syekh Yusuf al-Qardawi dan Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaymin Tentang Hukum Mengucapkan Selamat Hari Natal Kepada Umat Non-Muslim” ini merupakan hasil penelitian pustaka yang bertujuan menjawab pertanyaan tentang; bagaimana pandangan Syekh Yusuf al-Qardawi Tentang Hukum Mengucapakan Selamat Hari Natal Kepada Umat Non-Muslim; dan bagaimana pandangan Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaymin Tentang Hukum Mengucapkan Selamat Hari Natal Kepada Umat Non-Muslim; serta bagaimana Analisis Komparatif Pendapat Syekh Yusuf al-Qardawi dan Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaymin Tentang Hukum Mengucapkan Selamat Hari Natal Kepada Umat No-Muslim. Data penelitian ini dihimpun dengaan teknik dokumentasi kemudian dianalisis dengan teknik deskriptif analitis dengan pendekatan komparatif, yaitu penelitian dengan menggambarkan data apa adanya yaitu pendapat Syekh Yusuf Al-Qardawi dan pendapat Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaaymin tentang hukum mengucapkan selamat hari natal kepada umat non-Muslim, kemudian dilakukan analisis secara komprehensif dengan pendekatan komparatif untuk ditarik sebuah kesimpulan. Temuan dari penelitian ini adalah bahwa Syekh Yusuf al-Qardawi berpendapat bahwa hukum mengucapkan selamat hari natal kepada umat non-Muslim adalah boleh selama tidak bertentangan dengan syariat Allah, dengan ucapan yang biasa yang tidak mengandung pengakuan atau kerelaan atas agama mereka. Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaymin memiliki pendapat lain bahwa hukum mengucapkan selamt hari natal kepada umat non-Muslim adalah haram secara ijma karena ucapan selamat terdapat suatu persetujuan, kerelaan atas kekafiran mereka. Syekh Yusuf al-Qardawi dan Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaymin memiliki kesamaan tentang hukum mengucapkan selamat hari natal kepada umat non-Muslim yaitu bahwa mereka sepakat haram jika terdapat persetujuan, kerelaan dalam ucapan selamat. Syekh Yusuf al-Qardawi menggunakan metode penalaran lughawiyyah secara dalalah nas ayat yaitu “berlaku baik” dan dengan hadis secara mutlaq yaitu “pergau;i;ah manusia dengan akhlak yang baik”. Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaymin menggunakan metode penalaran lughawiyyah secara zahir ayat yaitu “Allah tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya” dan dalam dalil lain secara mafhum mukhalafah yaitu “Allah telah meridai Islam itujadi agama bagi kaum Islam”. Saran yang penulis berikan kepada seluruh masyarakat mengenai hukum mengucapkan selamat hari natal kepad umat non-Muslim sebaiknya hendaklah lebih telitih dalam mengambil suatu kesimpulan, jangan sampai apa yang telah kita lakukan tidak sesuai dengan kaidah ‘syariah, dan hendaklah merujuk dari pendapat yang dianggap lebih kuat dan benar dari pendapat kedua ulama kontemporer seperti pendapat Syekh Yusuf a-Qardawi maupun dari pendapat Syekh Muhammad bin Salih al-‘Uthaymin
1) Al-Madaris as-Salihiyya (Mosquée d'as-Salih Ayyoub)
Simaïka Marcus H., Shafik Muhammad, Greg Robert Hyde, Sayyed Ahmad el-, Sayed Metoualli, Pauty Edmond. 1) Al-Madaris as-Salihiyya (Mosquée d'as-Salih Ayyoub). In: Comité de Conservation des Monuments de l'Art Arabe. Fascicule 36, exercice 1930-1932, 1936. p. 52
Hadis-hadis tawassul : studi komparasi antara Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dan Muhammad Nashiruddin al-Albani
Tawassul adalah cara berdoa kepada Allah swt melalui perantara untuk lebih mendukung terkabulnya doa baik itu dengan perantaraan amal salih, asmā’ul ḥusna, doa orang salih, kedudukan/kemuliaan makhluk baik yang sudah meninggal ataupun masih hidup. Masalah perantara ini umat Islam berbeda pendapat, dan perbedaan itu didasarkan pada kajian hadis. Baik itu karena perbedaan ulama dalam menetapkan parameter kesahihan hadis ataupun karena perbedaan pemahaman kepada makna hadis. Dalam hal tawassul ini, di lapangan sering terjadi konflik baik secara verbal ataupun non verbal. Karena minimnya pemahaman yang komprehensif, akhirnya terjadilah sikap fanatik buta.
Pemahaman tawassul ini terbagi menjadi dua kelompok, yang pertama pemahaman tawassul secara umum, yaitu bolehnya tawassul secara umum baik dengan amal salih, asmā’ul ḥusna dan kemuliaan, hak, kedudukan seorang makhluk baik yang telah meninggal ataupun masih hidup, kelompok ini diwakili oleh syekh Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki. Yang kedua, membatasi tawassul hanya menjadi tiga saja, yaitu dengan amal salih, asmā’ul ḥusna dan doa orang salih, sedangkan selain ketiga hal ini adalah bid’ah, dan bisa terjerumus dengan kesyirikan, kelompok ini diwakili oleh syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Oleh karena itu, peneliti mengambil kedua tokoh ini untuk dijadikan penelitian skripsi karena memilik pemahaman yang berseberangan.
Penulisan skripsi ini menggunakan studi komparasi, yang dimaksud studi komparasi dalam penelitianini adalah metode membandingkanPemahaman dua tokoh dalam memahami hadis-hadis tawassul, baik dari segi sanad ataupun matan. Kajian ini bertujuan untuk mencari sebab perbedaan dari masing-masing tokoh baik itu kriteria keṣaḥῑḥan sanad ataupun metode pemahaman matan. Adapun pendekatan yangdigunakan peneliti dalam penelitian skripsi ini adalah pendekatankualitatif, dengan jenis penelitian library research, dan metodepengumpulan data yang digunakan penulis adalah dokumentasi,sehingga buku-buku yang diperoleh berasal dari kajian teks atau buku-bukuyang relevan dengan pokok rumusan masalah.
Hasil penelitian ini menunjukan, bahwa ‘Alawi al-Maliki menganggap hadis-hadis tawassul itu ṣaḥῑḥkarena telah diṣaḥῑḥkan oleh para pakar hadis seperti, al-Hakim, Ibnu Hibban, as-Subki. Adapun makna tawassuldengan hak, kemuliaan dan kedudukan seorang makhluk baik itu yang masih hidup atau telah wafat menurut ‘Alawi, sejatinya itu merupakan tawassul dengan amal salih itu sendiri, karena didasarkan pada rasa cinta kepada makhluk itu, karena orang yang bertawassul berprasangka bahwa para wasῑlah itu memiliki kedudukan yang dekat di sisi Allah dan Allahpun mencintai orang-orang yang ditawassuli itu, atas dasar itulah orang yang bertawassul menggunakan mereka sebagai wasῑlah, agar doa mereka lebih terjamin untuk dikabulkan. Sementara itu, al-Albani menganggap hadis-hadis tawassul dengan kemuliaan, hak, atau kedudukan makhluk, semuanya ḍa’ῑf, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam pentaḍ’ῑfannya ia menukil pendapat Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hajar dan adz-Dzahabi. Adapun dalam makna hadis tawassul dengan perantaraan selain amal salih, asmā’ul ḥusna, doa orang yang salih itu bertentangan dengan al-Qur’an. Sehingga andaikata hadis itu ṣaḥῑḥpun tetap tidak bisa diterima, karena bertentangan dengan al-Qur’an yang kebenarannya mutlak/qaṭ’i
Exclusivism: Religious Constructs in Tafsir Muhammad Bin Salih Al-'Uthaimin
Abstract:
This paper analyzes the exclusive paradigm in the interpretation of Muh}ammad bin S{a>lih} al-‘Uthaimi>n. The methodology used is qualitative descriptive-analytical to describe how the exclusive paradigm of Muh}ammad bin S{a>lih} al-‘Uthaimi>n on his interpretation and implications for his religious concept. This paper uses semantic-linguistic, theological, and sociological approaches. This research found that exclusivism in the interpretation of Muhammad bin Salih al- ‘Uthaimin was built by the textualist-literal interpretation paradigm which is supported by romanticism towards the orthodoxy of traditional interpretation so that it has implications for the conception of religion which exclusively views Islam as one only true religion (truth claim), which can guarantee salvation (salvation claim).
Keywords: exclusivism, textualist, truth claim
- …
