97 research outputs found

    PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DALAM PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN KARENA ADANYA PANDEMI COVID-19

    Full text link
    Pengembangan usaha yang dilakukan oleh masyarakat membutuhkan modal, yang dapat diperoleh dengan cara meminjam melalui pinjaman modal atau pendanaan melalui lembaga perbankan. Pembiayaan atau perkreditan bukanlah masalah yang asing, baik dalam kehidupan kota maupun dalam pedesaan. Kredit merupakan salah satu pembiayaan sebagian besar dari kegiatan ekonomi. Perkreditan merupakan kegiatan yang penting bagi perbankan, karena kredit juga merupakan salah satu sumber dana yang penting untuk setiap jenis usaha. Sebelum dimulainya kegiatan pemberian kredit diperlukan suatu analisis yang baik dan seksama terhadap semua aspek perkreditan yang dapat menunjang proses pemberian kredit, guna mencegah timbulnya suatu risiko kredit. Pembiayaan ini sangat membantu masyarakat didalam pemenuhan kebutuhannya. Hanya saja dalam pemberian fasilitas pembiayaan tersebut, para pihak lembaga keuangan harus bertindak secara ekstra hati-hati. Perjanjian kredit diawali dengan pembuatan kesepakatan antara penerima kredit (debitur) dan yang memberi kredit (kreditur) yang dituangkan dalam bentuk perjanjian. Perjanjian tersebut dapat berupa perjanjian lisan dapat pula dalam bentuk perjanjian tertulis. Perjanjian utang-piutang dalam perjanjian tertulis ada yang dibuat dengan perjanjian kredit. Perjanjian utang antara debitur dan kreditur dituangkan dalam perjanjian kredit. Kata Kunci : Debitur, Kreditur, Kredi

    Kompetensi Guru Agama Dalam Membuat Program Pembelajaran Pada SMPN 1 Amuntai

    Full text link
    Muhammad Rizal Fahmi. 2010. Kompetensi Guru Agama Dalam Membuat Program Pembelajaran Pada SMPN 1 Amuntai. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah. Pembimbing: (I) Drs Muhammad Ramli AR, M. Pd, (II) Dra H. Shafiah, M. Pd.I Guru memegang peranan signifikan dalam menentukan kualitas proses dan out put pendidikan. Dalam konteks ini, Profesionalisme guru dibangun melalui penguasaan kompetensi-kompetensi yang secara nyata diperlukan dalam menyelesaikan pekerjaan. Kompetensi-kompetensi penting jabatan guru tersebut adalah: kompetensi bidang substansi atau bidang studi, kompetensi bidang pendidikan nilai dan bimbingan serta kompetensi bidang hubungan dan pelayanan/pengabdian masyarakat, kompetensi bidang pembelajaran seperti kemampuan merencanakan program pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan tentang kompetensi guru agama dalam membuat program pembelajaran pendidikan agama Islam di SMPN 1 Amuntai. Adapun pokok permasalahnnya adalah bagaimana kompetensi guru agama dalam membuat program pembelajaran mata pelajaran PAI di SMPN 1 Amuntai serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kompetensi guru agama dalam membuat program pembelajaran PAI pada SMPN 1 Amuntai. Subjek penelitian ini adalah guru PAI dengan objek kompetensi dalam membuat program pembelajaran. Teknik yang digunakan dalam penggalian data adalah observasi, wawancara dan dokumenter, kemudian data dianalisis dengan analisis deskriftif kualitatif dan diambil kesimpulan secara induktif. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa 1) Kompetensi guru agama dalam membuat program pembelajaran PAI pada SMPN 1 Amuntai secara umum berada pada tingkat kategori cukup kompeten, yaitu melihat dari tahap perencanaan yang dilakukan guru PAI sudah terlaksana dengan baik, karena selalu membuat program tahunan, program semester, silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Walaupun masih ada sebagian guru yang tidak membuat program pembelajaran tersebut. 2) Faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi guru agama dalam membuat program pembelajaran PAI pada SMPN 1 Amuntai, yaitu: a) Faktor penunjang: Latar belakang pendidikan dan Pengalaman mengajar. b) Faktor yang tidak menunjang, yaitu Sarana dan prasarana yang dimiliki kurang lengkap dan Pelatihan atau penataran guru yang sudah lama tidak di ikut sertakan

    Studi Perancangan Elektrolizer Model Basah Dan Kering Dengan Tenaga Surya

    No full text
    ABSTRACT Fahmi, Muhammad Rizal. 2016. Studi Perancangan Elektrolizer Model Basah Dan Kering  Dengan Tenaga Surya. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro. Program Studi D3 Teknik Elektro, Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: M. Rodhi Faiz. S.T., M.T.Kata Kunci: Elektrolizer, Tenaga Surya, Panel Surya, Wet Cell, Dry CellAir adalah salah satu unsur penting bagi semua makhluk hidup di bumi. Air juga memilik banyak manfaat dan sangat diperlukan, air juga jumlahnya besar dibumi, hampir 70% di bumi adalah air. Hidrogen sangat bermanfaat bagi kehidupan di masa depan. Hidrogen dapat digunakan sebagai bahan bakar, untuk pembangkit listrik, dan pengganti gas alam seperti LPG. Tapi karena hidrogen tidak langsung ada di alam bebas maka harus membentuknya. Maka dibuatlah alat yang disebut elektrolizer yaitu alat penghasil hidrogen dengan proses elektrolisis air dengan aliran listrik. Elektrolizer memiliki dua model, model basah (Wet Cell) dan model kering (Dry Cell), perbedaan dari dua model elektrolizer di atas adalah terletak pada letak elektroda yang digunakan, pada Wet Cell elektroda terletak dalam wadah jadi saat proses berlangsung seluruh permukaan elektroda akan terendam oleh larutan. Sedangkan pada Dry Cell elektroda berada di luar. Dalam proses elektrolisa air menggunakan sumber listrik dari panel surya. Perancangan elektrolizer ini meliputi: 1) perancangan desain alat, 2) persiapan pembuatan, 3) pembuatan alat, 4)   pengujian alat. Alat ini terdiri dari 2 buah elektrolizer, 1panel surya, 1 tangki  air, 2 tangki penyaring, dan 1 tabung penyimpanan.Pengujian alat ini dilakukan pada masing-masing komponen meliputi pengujian: 1) panel surya, 2) elektroda, 3)elektrolizer kering, dan 4) elektrolizer basah. Dari semua hasil pengujian komponen prototipe elektrolizer model basah dan kering dengan tenaga surya berjalan dengan baik dan hasil sudah sesuai dengan yang diinginkan.ABSTRACT Fahmi, Muhammad Rizal. 2016. Study of Design of Wet and Dry Model Electrolizer With Solar Energy. Final Project, Electrical Engineering Department.  Diploma of Electrical Engineering, Faculty of Engineering. State University of Malang. Advisor : M. Rodhi Faiz. S.T., M.T.Keywords : Electrolizer, Solar Energy, Solar Panels, Wet Cell, Dry CellWater is an essential element for all living things on earth. Water also has a lot of benefits and it is necessary for living, the amount of water on earth is large, almost 70% of the earth is water. Hydrogen is very useful for future living. Hydrogen can be used as a fuel, for electricity generation and natural gas substitutes such as LPG. But , hydrogen is not directly provide in nature so generally have to make it. So there is a device called Electrolizer, the function of this device is producing hydrogen by water electrolysis process with electricity flow. Electrolizer has two models, namely wet model (Wet Cell) and dry model (Dry Cell), the difference of the two models of Electrolizer is the location of electrode used, the Wet Cell electrode located inside the container so during the process, the entire surface of the electrodes will submerged in liquid. While in Dry Cell electrodes located outside the container. The process of water electrolysis using solar panels as a power source. The design of this Electrolizer are: 1) Design of device, 2) preparation for producing device, 3) Producing device, 4) Testing Device . This device consists of two pieces Electrolizer, a solar panel, a water tank, two filter tank, and a storage tube

    STUDI PENAMBAHAN BAYAM HIJAU, PANDAN DAN WORTEL SEBAGAI PEWARNA ALAMI DALAM PEMBUATAN MIE SAGU BASAH

    No full text
    STUDI PENAMBAHAN BAYAM HIJAU, WORTEL, DAN PANDAN SEBAGAI PEWARNA ALAMI DALAM PEMBUATAN MIE SAGU BASAHSTUDY OF ADDITIONAL GREEN SPINACH, CARROT AND PANDAN AS NATURAL DYES IN MAKING WET NOODLE SAGOMuhammad Rizal Fahmi,1 Anshar Patria,2 Dian Hasni.21Mahasiswa fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala - Banda Aceh2Staf pengajar Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Syiah KualaABSTRACTSago ( Metroxylon sp ) is one of agricultural commodity in Indonesia . Recently sago starch has not been fully utilized noodles production. This research aims to study the process of making sago noodles by using gel concentration and type of dye as natural food coloring as parameters. This study uses a randomized design two factors concentration of sago gel and (G1 = 20 % , G2 and G3 = 25 % = 30 %) an type (P1 = Spinach, Carrot = P2 , P3 = Pandan). Each treatment was repeated three times in order to get 27 experimental units. Analysis of the sago noodle include moisture content, ash contents, crude fibre content, the percentage of dropping noodles. Results indicate that the effect of the percentage gel (G) was highly significant (P?0,01) on moisture, percentage of noodles broke, color, texture. While this type of dye (P) was significantly different (P?0,05) on water content, percentage of noodles broken, color, texture and aroma. The interaction between the gel and the concentration of the dyes (GP) was highly significant (P?0,01) to masture of a wet noodle. The interaction between the sago gel and the concentration of the dyes (GP) was highly significant (P?0,01) to water content of a wet noodle. These results indicate that corn noodles with best quality is treated with gel percentage of 25% (G3) and the type of dye in carrots (P2). Mie wet sago generated in this study had an average moisture content (64.49%), crude fiber content (2.65%), the percentage dropping noodles (34.9%) and ash (0.70%) and has met the quality requirements SNI average.Keywords: Wet Noodle , Sago Starch , gel concentration , type dyes?ABSTRAKSagu (Metroxylon sp) merupakan salah satu komoditi pertanian di Indonesia. Sejauh ini penggunaan pati sagu belum dimanfaatkan secara maksimal dalam pembuatan mie. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses pembuatan mie sagu dengan menggunakan pengaruh konsentrasi gel dan jenis pewarna untuk menghasilkan produk mie basah yang bermutu baik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri atas 2 (dua) faktor. Faktor I adalah konsetrasi gel pati sagu (G1 = 20 %, G2 = 25 %) dan G3 = 30 %. Faktor II Jenis pewarna (P) (P1 = Bayam, P2 = Wortel, P3= Pandan). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga didapat 27 satuan percobaan. Analisis terhadap mie sagu meliputi kadar air, kadar abu, kadar serat kasar, persentase mie putus dan uji organoleptik (warna, aroma, dan tekstur). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh persentase gel (G) berpengaruh sangat nyata (P?0,01) terhadap kadar air, persentase mie putus, warna, tekstur. Sedangkan jenis pewarna (P) berbeda nyata (P?0,05) terhadap kadar air, persentase mie putus, warna, tekstur dan aroma. Mie sagu basah yang dihasilkan pada penelitian ini memiliki rata-rata kadar air (64,49%), kadar serat kasar (2,65%), persentase mie putus (34,9%) dan kadar abu (0,70%) dan telah memenuhi syarat mutu SNI.Kata Kunci : Mie Basah, pati sagu, konsentrasi gel, jenis pewarna alami

    POLA KOMUNIKASI HUMAS PT KERETA API INDONESIA DAERAH OPERASI 6 YOGYAKARTA DALAM MEMBANGUN CITRA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola komunikasi Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 6 Yogyakarta dalam membangun citra. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini dipilih secara purposif yaitu Manajer, Asisten Manajer, Railfans dan Penerima CSR. Pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian ini dengan menggunakan triangulasi sumber. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, Analisis data menggunakan model Miles Huberman dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan Hasil penelitian menunjukan bahwa pola komunikasi Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 6 Yogyakarta Klaten dalam membangun citra sebagai berikut: 1) Pola Komunikasi Primer Humas dimulai dari lingkup internal yaitu dengan memberi informasi kepada pegawai PT KAI. Sementara itu pada lingkup eksternal humas juga menerapkan pola komunikasi primer yaitu ketika memberi bantuan CSR, 2) Pola komunikasi  sekunder humas PT KAI Daop 6 menggunakan media untuk memberi informasi sekaligus membangun citra. Media yang digunakan adalah media iklan, internet, media cetak juga pers, 3) Pola komunikasi linier humas PT KAI Daop 6 berusaha memberikan informasi pada internal maupun eksternal dengan cara memberi himbauan melalui media atau tidak melalui media, 4) Pola Komunikasi Sirkuler Humas PT KAI Daop 6 adalah ketika humas menangani dan menindaklanjuti complaint. Kata kunci: Pola Komunikasi, Humas, Citra Perusahaan, PT KAI Daop 6  Yogyakarta

    STUDI KRITIS TERHADAP PENELITIAN MUHAMMAD NASIRUDDIN AL-ALBANI TENTANG HADIS-HADIS YANG DIDA'IFKAN DALAM SAHIH MUSLIM

    Full text link
    Penelitian ini difokuskan pada hadis-hadis yang dida’ifkan dalam kitab Sahih Muslim karya Muslim Ibn al-Hajjaj dari segi kualitas. Dengan pertimbangan bahwa kitab Sahih Muslim adalah kitab kedua yang dianggap sahih setelah al-Qur’an dan Sahih Bukhari oleh para ulama mutaqaddimin dan diterima oleh umat muslim secara ijma’. Dengan tinjauan terhadap hadis-hadis pada Sahih Muslim tersebut diharapkan mampu mewakili hadis-hadis yang sama pada kitab induk hadis yang lainya baik dari segi kualitas dan penggunaan dalam kehidupan sehari-hari. Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif analitis dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan di perpustakaan (library research). Metode yang digunakan adalah takhrij hadis, studi kesahihan hadis, dan kritik hadis (naqd al-hadith) yang meliputi analisa sanad (komentar ulama tentang jarh} dan ta’dil perawi dan persambungan sanad), analisa matan dan analisa simultan (shahid dan tabi’). Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah kitab Sahih Muslim karya Muslim Ibn al-Hajjaj, kitab-kitab karya al-Albani dan kitab lain yang berkaitan dengan keilmuan hadis. Hasil penelitian terhadap validitas hadis-hadis yang dida’ifkan dalam Sahih Muslim oleh al-Albani membuktikan bahwa al-Albani keliru dalam menilai kualitas hadis dan terkadang menyalahi kaidah kesahihan hadis menurut jumhur muhaddithin. Kekeliruan yang dilakukan oleh al-Albani disebabkan oleh kurangnya ketelitian dalam mencari komentar dan menyimpulkan pendapat para ulama dalam jarh wa ta’dil terhadap perawi sedangkan sikap al-Albani yang terkadang menyalahi kaidah kesahihan hadis disebabkan kurangnya dalam menggunakan kaidah kesahihan hadis yang telah ditetapkan. Adapun kualitas hadis dalam Sahih Muslim adalah bervariasi antara sahih atau hasan dan tidak terdapat hadis da’if didalamnya

    Pengaruh Sudut Chamfer dan Friction Time terhadap Luas Penampang Memanjang Flash Sambungan Las Gesek A6061 dengan Simulasi FEM

    Full text link
    Dalam industri saat ini penggunaan teknik pengelasan dalam bidang manufaktur sangat luas. Pengelasan logam yang biasa dilakukan yaitu dengan las busur. Akan tetapi las busur mempunyai kekurangan yaitu masalah peleburan dalam proses pengelasanya tidak seragam antara tepi dan tengah pada pengelasan logam bentuk silinder membuat kekuatanya menjadi tidak maksimal. Sehingga ditemukan cara agar peleburanya menjadi maksimal dan seragam antara tepi dan tengah yaitu dengan cara pengelasan gesek (friction welding).Pengelasan gesek yaitu penyambungan akibat panas gesekan perputaran logam satu dengan yang lainya. Penelitian ini menggunakan software berbasis metode elemen hingga. Modelling diatur dengan cara material yang sama A6061 dirotasi dengan kecepatan 1600 Rpm dan friction pressure sebesar 4 Mpa, upset force 500 kgf selama friction time 5,10,15 detik. Pada material A6061 diberikan sudut chamfer dengan variasi 00, 150, dan 300 sedangkan variasi friction time benda kerja yakni 5 detik, 10 detik, dan 15 detik. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada semakin kecil sudut chamfer dan friction time maka semakin kecil luas flash Hal ini dikarenakan semakin kecil sudut chamfer dan sedikit friction time menyebabkan sudut kontak yang bergesekan kecil dan waktu material bergesekan sedikit yang menyebabkan temperatur rendah sehingga luas flash yang didapatkan semakin kecil. Sedangkan semakin besar sudut chamfer dan lama friction time maka semakin besar luas flash Hal ini dikarenakan semakin besar sudut chamfer dan lama friction time menyebabkan sudut kontak yang bergesekan besar dan waktu material bergesekan lama yang menyebabkan temperatur tinggi sehingga luas flash yang didapatkan semakin besar. Luas flash terkecil yaitu 38,50 mm2 terdapat pada variasi sudut chamfer 15o dengan friction time 5 detik. Sedangkan luas flash terbesar dihasilkan oleh variasi sudut chamfer 0o dengan friction time 15 detik yaitu 52,01 mm2

    Pengaruh Variasi Konsentrasi Graphene Oxide sebagai Zat Aditif terhadap Kekuatan Tekan Beton K-300

    No full text
    Penelitian ini berjudul “Pengaruh Variasi Konsentrasi Graphene Oxide sebagai Zat Aditif terhadap Kekuatan Tekan Beton K-300” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik graphene oxide (GO) komersial, mengevaluasi pengaruh variasi konsentrasinya terhadap kekuatan tekan beton K-300, serta mengidentifikasi konsentrasi optimal GO yang mampu meningkatkan sifat mekanis beton secara maksimal. Beton merupakan material konstruksi yang banyak digunakan karena kekuatan tekan dan durabilitasnya yang tinggi. Namun, sifatnya yang rapuh membatasi kemampuannya dalam menahan lentur dan tegangan. Penambahan graphene oxide, material nano dengan luas permukaan besar dan sifat kimia unik, diharapkan dapat meningkatkan performa beton melalui perbaikan struktur mikro, pengurangan porositas, dan peningkatan kekuatan mekanik. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium, di mana variasi konsentrasi GO (0%, 0,1%, hingga 1%) ditambahkan pada campuran beton K-300. Beton diuji kekuatan tekannya pada umur 28 hari menggunakan mesin uji tekan sesuai standar SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan GO sebesar 0,5% memberikan peningkatan kekuatan tekan maksimal hingga 30 N/mm² dibandingkan kontrol sebesar 27 N/mm². Namun, penambahan GO di atas konsentrasi optimal menyebabkan penurunan performa beton akibat aglomerasi partikel GO. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan graphene oxide dapat secara signifikan meningkatkan kekuatan tekan beton pada konsentrasi optimal, tetapi penggunaannya memerlukan kontrol yang tepat untuk menghindari efek negatif. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan material konstruksi yang lebih kuat dan ramah lingkungan. ================================================================================================================================= This study, titled "The Effect of Graphene Oxide Concentration Variations as an Additive on the Compressive Strength of K-300 Concrete," aims to characterize commercial graphene oxide (GO), evaluate the influence of its concentration variations on the compressive strength of K-300 concrete, and identify the optimal GO concentration to maximize the mechanical properties of the concrete. Concrete is widely used in construction due to its high compressive strength and durability. However, its brittle nature limits its ability to withstand bending and tension. The addition of graphene oxide, a nanomaterial with a large surface area and unique chemical properties, is expected to enhance concrete performance by improving microstructure, reducing porosity, and increasing mechanical strength. The research method involved laboratory experiments where GO concentrations (0%, 0.1%, up to 1%) were added to K-300 concrete mixtures. The compressive strength of the concrete was tested at 28 days using a compression testing machine in accordance with SNI standards. The results indicated that the addition of 0.5% GO achieved the highest compressive strength of 30 N/mm², compared to the control's 27 N/mm². However, exceeding the optimal concentration led to a decline in concrete performance due to GO particle agglomeration. This study concludes that adding graphene oxide can significantly enhance the compressive strength of concrete at optimal concentrations, but precise control is required to avoid negative effects. This research contributes significantly to the development of stronger and more environmentally friendly construction materials

    USULAN PERBAIKAN UNTUK MEMINIMASI CACAT COVER/BAGIAN ISI TERBALIK MAJALAH SUARA DAERAH DI PT. KARYA KITA DENGAN PENDEKATAN SIX SIGMA

    Full text link
    ABSTRAK PT Karya Kita adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang manufaktur khususnya percetakan. Salah satu produk yang rutin diproduksi setiap bulan adalah Majalah Suara Daerah untuk PGRI Jawa Barat. Berdasarkan data historis produksi Majalah Suara Daerah periode Januari 2014 – Juli 2015, diidentifikasi bahwa rata-rata presentasi cacat melebihi batas toleransi 0,6%, dan 2 defect terbesar yaitu cacat Cover/Bagian Isi Terbalik dan cacat Cover/Bagian Isi Sobek. Oleh karena itu, perlu perbaikan proses produksi dengan menggunakan pendekatan Six Sigma.Dalam metode Six Sigmaterdiri dari 4 tahapan yang biasa disebut DMAI, yaitu Define, Measure, Analyze, dan Improvement. Tahap Define, dilakukan identifikasi CTQ, identifikasi kebutuhan data dan cara memperoleh data, dan melakukan pemetaan proses produksi dengan diagram SIPOC. Pada tahap Measuredilakukan pengukuran kapabilias proses, dengan rata-rata DPMO 1172 dan rata-rata Level Sigma4,5. Di Tahap Analyze, diperoleh akar penyebab defectyang diidentifikasi dengan tools diagram fishbone dan 5 Why’s. Selanjutnya, dilakukan analisis FMEA untuk menentukan prioritas perbaikan dari 4 faktor penyebab cacat.Pada tahap Improve, diusulkan usulan perbaikan berupa pembuatan training, pemberian fasilitas setelah training, penetapan sistem reward dan punishment, pembuatan work instruction dan poster 5S, pembuatan alat bantu (pokayoke) dan pemberian label, dan pembuatan display jadwal inspeksi dan kartu pemeliharaan mesin. Kata kunci : Continuous Improvement, CTQ , DMAIC,PT.Karya Kita, Six Sigma

    PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU HONORER DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

    Full text link
    Guru merupakan faktor kunci mutu pendidikan dan kemajuan sebuah bangsa. Negara yang kurang memperhatikan tenaga pendidiknya akan sulit majukarena kualitas generasi penerus di tentukan oleh guru. Masalah kesejateraan guru menyebabkan profesi keguruan mulai dianggap oleh sebagian guru hanya sebagai profesi sampingan dan pada faktanya sudah mulai banyak guru yang mulai beralih profesi misal nya menjadi pembisnis, Tukang ojek online dan Menjadi petani. Akibatnya membuat sebagian guru kinerja nya mulai menurun karena sudah tidak terlau menekuni profesinya sebagi guru.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ” Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Honorer Dalam Proses Belajar Mengajar”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Jenis wawancara yang di gunakan adalah wawancara terstruktur, dan tidak terstruktur. Sedangkan teknik pengumpulan data dalam subyek penelitian yaitu menggunakan purposive sampling dan Snowball sampling.Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa peran kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru honorer dalam proses belajar mengajar di SMPN 2 Narmada ataralain meberi motivasi, melakukan evaluasi terhadap kinerja guru, memberi nasehat dan teguran sesuai prosedur yang berlaku, memperjuangkan nasib guru honorer, memberikan bimbingan, dan selalu melibatkan guru honor dalam kegiatan penting serta menyediakan sarana untuk kegiatan belajar mengajar. Kata kunci: Kepala Sekolah, Kinerja, Guru Honorer, Belajar Mengaja
    corecore