18 research outputs found

    Perempuan Dalam Telikungan Teks Keagamaan: Tela’ah atas Wacana Spiritualitas Perempuan Perspektif Hadis Karya Nurun Najwah

    No full text
    Tulisan ini bertujuan menyemarakkan arus wacana gender yang akhir-akhir ini cukup menggema di balantika intelektual, baik nasional maupun internasional. Karenanya, sebuah keniscayaan jika menguatnya tradisi patriarkhi yang menjadi lawan dari wacana feminisme salah satunya disebabkan oleh pemahaman keagamaan yang dinilai “timpang”. Pembebasan dan kesetaraan perempuan atas hak dan kewajiban dalam berbagai aspek—termasuk keagamaan—nampaknya menjadi sebuah tujuan yang tidak bisa ditawar. Secara utuh konstruk metodologi model Nurun Najwah pada dasarnya melakukan takhrij hadis. Teori yang ia gunakan dalam melakukan takhrij hadis mengekor pada model takhrij hadisnya Mahmud Thahhan. Setelah itu, kajian historis yang berhubungan dengan tema tertentu (baca: spiritualitas perempuan)—baik mikro maupun makro—diulas guna melihat kondisi real pada saat hadis tersebut terucap dari Nabi. Dalam hal ini, konteks mikro-makro yang dilihat oleh Nurun hanya di wilayah jazirah Arab. Sedangkan aspek trans-konteksnya penulis sama sekali tidak melihat ulasannya Nurun. Padahal tidak bisa dipungkiri jika konstruk pemahaman suatu masyarakat juga dipengaruhi oleh masyarakat sekitarnya. Selain itu, langkah ini ditempuh dalam rangka mencari—meminjam bahasanya Fazlur Rahman—ideal-moral (maqashid al syari’ah) atau—meminjam bahasanya Nasr Hamd Abu Zayd—maghza dari konstruksi hukum yang telah dibangun oleh Syari’ (pembuat hukum), yang dalam hal ini Allah dan Nabi-Nya.  Langkah terakhir yang dilakukan oleh Nurun dalam mengupas persoalan di atas adalah kontekstualisasi.. Di mana, Nurun tidak serta merta melupakan aspek ruang di mana buku itu disusun dan dikonsumsi. Adapun konteks ke-Indonesiaan yang dimaksud adalah konstruksi pemahaman yang mengakar pada masyarakat Indonesia secara umum dan beberapa aturan hukum yang telah dibangun oleh beberapa institusi, baik yang bersifat kepemerintahan maupun swast

    Analisis Pragmatik Tindak Tutur Lokusi Dan Ilokusi dalam lirik lagu “Rahmatan Lil Alamin” Karya Maher Zain

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tindak tutur lokusi dan ilokusi yang ditemukan dalam lirik lagu Rahmatan Lil Alamin karya Maher Zain. Lagu ini dipilih karena mengandung pesan dakwah dan nilai-nilai religius yang menggambarkan kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai rahmat bagi seluruh alam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan pragmatik. Data penelitian berupa teks lirik lagu yang dianalisis menggunakan teori tindak tutur John Searle, yaitu representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu Rahmatan Lil Alamin mengandung berbagai jenis tindak tutur lokusi dan ilokusi, dengan dominasi tindak tutur ekspresif. Tindak tutur ekspresif digunakan untuk mengungkapkan perasaan cinta, syukur dan penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw. sekaligus sebagai sarana dakwah melalui ungkapan bahasa yang lembut dan menyentuh hati pendengar. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang kajian pragmatik, khususnya dalam analisis tindak tutur pada karya sastra dan lagu religi. Kata kunci: tindak tutur; lokusi; ilokusi; lirik lagu; Rahmatan Lil Alami

    GENDER ANALYSIS ON THE MISIOGYNIS HADITHS IN AL-KUTUB AL-TIS’AH

    No full text
    In patriarchal culture, some hadith texts are as main sources of legitimacy for dehumanization of women. The hadith texts are documented in the popular hadith books. This, encourages the strong notion that Islam supports discrimination against women. Whereas, the Prophet Muhammad SAW. has made great efforts in humanizing women. The role of the Prophet in humanizing women is manifested in the discourse of hadith. thus, a new understanding is needed in interpreting misogynistic hadiths. In this context, this study aims to reread the misogynistic hadiths in al-Kutub al-Tis\u27ah (Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Turmudzi, Sunan Ibn Majah, Sunan ad-Darimi, Musnad Muwaththa\u27 Iman Malik, Musnad Ahmad bin Hanbal) that related to women as personal, worship, marriage, and public spaces. To achieve this purpose, this study uses takhrij method by confirming from various hadith. As part of the data analysis, this study used gender analysis to map the form of discrimination and reinterpretation of the hadiths. The study conclude that there are 60 misogynistic hadith texts in five forms (22 subordinations, 18 violence, 15 stereotypes, 3 marginalizations, and 2 double burdens), caused by textual, partial and unhistorical interpretations. The rereading of the hadith texts is done holistically by linking and presenting verses of the Qur\u27an, hadiths and other texts integratively, comprehensively, taking into account historical aspects, and basic ideas of hadith. Keywords: Hadith Text, Misogynist, al-Kutub al-Tis`ah, Humanizing Wome

    Sistem Informasi Berbasis Web Dengan Menerapkan Metode Waterfall Studi Kasus Masjid Al-Muhajirin

    No full text
    Teknologi informasi saat ini memberikan dampak postif bagi perkembangan layanan informasi bagi setiap organisasi. Dengan cepat, tepat dan efisien, menjadi poin positif dari perkembangan teknologi informasi saat ini. Organisasi yang masih masih menerapkan cara manual akan sangat kesulitan bila menyampaikan informasi ke publik. Saat ini, lembaga masjid masih banyak menerapkan cara manual untuk menyampaikan informasi tentang kegiatan dan pengelolaan keuangan masjid. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah Waterfall, tahapan penelitian yang rapi dan terarah dalam merancang aplikasi, tahapan yang diterapkan pada metode ini adalah, Planing, Designing, Coding dan Testing. Tahapan Planning dengan melibatkan pengurus DKM masjid pembangunan sistem menjadi lebih efektif dan terarah. Sistem informasi ini diharapkan dapat memudahkan pengurus mengelola dan memberikan layanan informasi dan pengelolaan keuangan dan kegiatan, serta dapat memudahkan jamaah untuk  dapat mengakses informasi keuangan  dan kegiatan masjdi  dari layanan website masjid

    Pembacaan Ulang Terhadap Imamah Sholat Perempuan

    No full text
    The debates over the degree of authority belong to women have been heavily developed on the ground of religious discourse. One of the most ctusial points is the leadership of women in mixed congregation where women and men are aprticipating in the prayers. The majority of Muslim scholars consider that women leadership in mixed congregation is out of question of contextulization reasoning of religious precept. On the one hand, the presence of Muhammad as the Prophet who conveyed the divine revelation has been seen as improving the status of women and their space as so equal to men as shoum clearly in surat An-Niso\u27 (4): 124. On the other hand, however, there are also verses that claimed by scholars, which reduce women\u27s rights, and there are also scholars who have denied women\u27s access and rights to compete with men in good deeds (fastabiqul khairat). This article is specifically addressing and arguing for reinterpreting the right of women to lead mixed congregated prayers by ways of integrating dialectic discourse of Qur\u27anic verses and prophetic examplary actions

    ANALISIS GENDER DALAM HADITS-HADITS MISIOGINIS DI AL-KUTUB AL-TIS’AH

    No full text
    Dalam kultur patriarkhi, beberapa teks hadis dianggap sebagai sumber utama legitimasi berbagai bentuk dehumanisasi terhadap perempuan. Teks-teks Hadis tersebut terdokumentasikan dalam kitab-kitab hadis popular. Hal ini mendorong kuatnya anggapan bahwa Islam mendukung diskriminasi terhadap perempuan. Padahal, Nabi Muhammad SAW. telah melakukan usaha yang besar dalam memanusiakan perempuan. Peran Nabi dalam memanusiakan perempuan termanifestasikan dalam diskursus hadis. sehingga, diperlukan pemahaman yang baru dalam memaknai hadishadis misoginis. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk melakukan pembacaan ulang terhadap hadis-hadis misoginis dalam al-Kutub al-Tis`ah (Shahih al Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Turmudzi, Sunan Ibn Majah, Sunan ad- Darimi, Musnad Muwaththa` Iman Malik, Ahmad bin Hanbal) yang terkait dengan perempuan sebagai individu, ibadah, pernikahan, dan ruang publik. Untuk mencapai tujuan itu, Penelitian ini menggunakan metode takhrij dengan mengkonfirmasi dari berbagai pensyarahan hadis. Sebagai bagian dari analisa data, penelitian ini menggunakan analisis gender untuk memetakan bentuk diskriminasi serta reinterpretasi terhadap hadis-hadis tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada 60 teks hadis misogini dalam lima bentuk (22 subordinasi, 18 kekerasan, 15 stereotipe, 3 marjinalisasi, dan 2 beban ganda), yang disebabkan oleh pemaknaaan secara tekstual, parsial, dan tidak menghadirkan konteks historisnya. Pembacaan ulang terhadap teks-teks hadis tersebut dilakukan secara holistik dengan mengkaitkan dan menghadirkan ayat al- Qur`an, hadis-hadis dan teks-teks lain secara integratif, komprehensif, dengan mempertimbangkan aspek historis, dan ide dasar hadi

    Pornografi dan Pornoaksi Dalam Perspektif Hadis

    No full text
    Issues on pornography and porno action have actually been circulated around since a long time, probably as early as human civilization developed. In Indonesia, however, pornography has become the centre of debates when a legal draft on anti pornography and porno action was socialized. There are pro and contra camps developed in respond to the issue and legal draft proposed by the DPR. This article attempts to elaborate the reported written traditions of the Prophet with regard to porn issues: in what ways and how deep did the Prophet say about pornography? As far as the author\u27s research is concerned, she has no trace of any single hadis that directly addressing pornography or porn pictures in the same way the Prophet responded to other problems of his time through hadis. This article therefore seeks to discover how far the Prophet had appreciated graphic arts and how he had set certain behaviors that might lead to illicit sexuality. It is found that the Prophet had required that Muslims should observe several practices that will prevent them from falling into illegitimate sexual engagements, such as covering up the aurat (shame), two people sharing one blanket, and courtship in privacy. While giving such warnings, however, the Prophet did not explicitly set penalties to those who have transgressed the boundaries

    Spiritualitas dalam Bikers Subuhan Jogja Keterkaitan antara hobi dan Ibadah

    No full text
    The research examines the Bikers subuhan community where in carrying out motorized hobbies there is a value of benefits ranging from time, energy and so on by inviting to go to morning prayers in congregation through the hobby method, namely motoring. The method in this research used a qualitative approach. Data collection in scientific article research by interview, observation, and literature study. As for the object of this research, the author seeks to explore the messages of how hobbies have worship value in the Subuhan Bikers community in Yogyakarta City. Thus, the results of this study in its implications have an important role, this community dismisses the perspective on the bikers community which is seen as negative, then with the presence of subuhan bikers dismisses that not all motorcycle communities are far from usefulness but there are motorcycle communities that actually have the value of worship.Penelitian mengkaji mengenai komunitas Bikers subuhan dimana dalam menjalankan hobi bermotor terdapat nilai manfaat mulai dari waktu, tenaga dan sebgainya dengan mengajak untuk menuju sholat subuh berjamaah melalui metode hobi yakni motoran. Metode pada penelitian yang diteliti ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian artikel ilmiah dengan wawancara, observasi, dan studi literartur. Adapaun objek dari penelitian ini penulis mengusahakan untuk menggali pesan-pesan bagaimana hobi yang mempunyai nilai Ibadah pada komunitas Bikers Subuhan yang ada di Kota Yogyakarta. Penelitian ini, menepis persfektif terhadap komunitas bikers yang dipandang negatif, maka dengan penelitian ini membuktikan terdapat komunitas motor yang justru mempunyai nilai ibadah Dengan demikian, hasil penelitian ini  dalam implikasinya memiliki peran penting, komunitas ini menepis persfektif terhadap komunitas bikers yang dipandang negatif, maka dengan hadirnya bikers subuhan menepis bahwa tidak semua komunitas motor jauh dari kebermanfaatan akan tetapi terdapat komunitas motor yang justru mempunyai nilai ibada

    Spiritualitas dalam Bikers Subuhan Jogja Keterkaitan antara hobi dan Ibadah

    No full text
    The research examines the Bikers subuhan community where in carrying out motorized hobbies there is a value of benefits ranging from time, energy and so on by inviting to go to morning prayers in congregation through the hobby method, namely motoring. The method in this research used a qualitative approach. Data collection in scientific article research by interview, observation, and literature study. As for the object of this research, the author seeks to explore the messages of how hobbies have worship value in the Subuhan Bikers community in Yogyakarta City. Thus, the results of this study in its implications have an important role, this community dismisses the perspective on the bikers community which is seen as negative, then with the presence of subuhan bikers dismisses that not all motorcycle communities are far from usefulness but there are motorcycle communities that actually have the value of worship.Penelitian mengkaji mengenai komunitas Bikers subuhan dimana dalam menjalankan hobi bermotor terdapat nilai manfaat mulai dari waktu, tenaga dan sebgainya dengan mengajak untuk menuju sholat subuh berjamaah melalui metode hobi yakni motoran. Metode pada penelitian yang diteliti ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian artikel ilmiah dengan wawancara, observasi, dan studi literartur. Adapaun objek dari penelitian ini penulis mengusahakan untuk menggali pesan-pesan bagaimana hobi yang mempunyai nilai Ibadah pada komunitas Bikers Subuhan yang ada di Kota Yogyakarta. Penelitian ini, menepis persfektif terhadap komunitas bikers yang dipandang negatif, maka dengan penelitian ini membuktikan terdapat komunitas motor yang justru mempunyai nilai ibadah Dengan demikian, hasil penelitian ini  dalam implikasinya memiliki peran penting, komunitas ini menepis persfektif terhadap komunitas bikers yang dipandang negatif, maka dengan hadirnya bikers subuhan menepis bahwa tidak semua komunitas motor jauh dari kebermanfaatan akan tetapi terdapat komunitas motor yang justru mempunyai nilai ibada

    HADIS LARANGAN PENGGUNAAN PARFUM BAGI PEREMPUAN (Studi Ma’ani Al-Hadis)

    No full text
    Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Tirmidzi nomor 2786 yang berbicara tentang perempuan yang memakai parfum lalu ia melewati sekumpulan laki-laki agar aroma parfumnya itu tercium oleh mereka, perbuatan tersebut dianggap sebagai perilaku pelacur/pezina. Namun melihat perkembangan zaman yang sudah berbeda saat munculnya hadis ini menyebabkan problematik bagi para pengguna parfum baik laki-laki ataupun perempuan. Oleh karena itu penelitian ini mengupas bagaimana memahami isi hadis dan kualitas hadis larangan penggunaan parfum bagi perempuan serta mengkontekstualisasikan pada zaman sekarang, Dengan kajian Ma’anil Hadis menurut Nurun Najwah, pendekatan ini tidak melepas kedinamisan masyarakat dan keberadaan teks-teks hadis sebagai produk masa lalu. Penelitian ini bersifat kepustakaan (Liberary Research) dengan metode deskriptif-analitis untuk mencapai fokus kajian yang kompleks. Penelitian ini memberikan hasil bahwa pemahaman hadis larangan penggunaan parfum bagi perempuan harus dipandang dengan dua sudut tekstual dan kontekstual. Secara tekstual, aspek otentisitas hadis tersebut baik internal dan eksternal tidak diragukan lagi keotentikannya, dalam arti status hadisnya bernilai shahih dan dapat dijadikan hujjah. Pemahaman kandungan redaksi hadis juga menunjukkan bahwa larangan perempuan memakai parfum ini disebabkan pemakaian yang berlebihan dan adanya motif yang melatarbelakangi pelaku. Secara kontekstual, pemahaman hadis larangan perempuan penggunaan parfum ini tidak tertuju pada gender tertentu, melainkan konteks larangan ini berlaku juga untuk laki-laki dan perempuan. Sehingga keberadaan teks hadis tidak terkesan menyudutkan kaum perempuan dan maksud yang disampaikan Nabi Muhammad Saw, tersampaikan secara utuh kepada umatnya
    corecore