1,721,168 research outputs found

    PARADIGMA MODERASI MUHAMMAD MUTAWALLI AL-SYA’RAWI

    Get PDF
    The focus of this research is to find out more about Muhammad Mutawalli Al-Sya\u27rawi\u27s moderation paradigm in his commentary book, Tafsîr Al-Sya\u27râwî. By presenting Al-Sya\u27rawi\u27s views, understanding, and interpretation of the verses that form the basis of religious moderation directly from his monumental work, Tafsîr Al-Sya\u27râwî, this research uses library research methods. The author collects data and processes the data using descriptive analytical and comparative methods to compare the various opinions foun

    Trend childfree menurut pembacaan Muhammad Mutawalli Sya’rawi: telaah Tafsir Sya’rawi

    Get PDF
    Skripsi ini membahas fenomena trend childfree (pilihan untuk tidak memiliki anak) dalam perspektif Islam, khususnya melalui pembacaan Muhammad Mutawalli Sya'rawi dalam kitab Tafsir Sya'rawi. Trend childfree merupakan fenomena yang semakin populer di kalangan generasi milenial, terutama di negara-negara maju, dan mulai merambah ke Indonesia. Fenomena ini menuai pro dan kontra, terutama ketika dilihat dari sudut pandang agama Islam yang menganggap memiliki keturunan sebagai salah satu tujuan pernikahan dan anugerah dari Allah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan sumber data primer dari kitab Tafsir Sya'rawi dan sumber data sekunder dari buku, jurnal, dan artikel yang relevan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Muhammad Mutawalli Sya'rawi menafsirkan fenomena childfree dan relevansi penafsirannya dengan konteks sosial modern, khususnya di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muhammad Mutawalli Sya'rawi menegaskan pentingnya memiliki keturunan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Dalam tafsirnya, Sya'rawi mengutip beberapa ayat al-Qur'an yang menekankan bahwa anak adalah anugerah dan amanah dari Allah, serta bagian dari tujuan pernikahan. Sya'rawi mengkritik trend childfree yang didasarkan pada alasan-alasan materialistik atau hedonistik, karena hal ini bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengutamakan tanggung jawab sosial dan keluarga. Penelitian ini juga menemukan bahwa meskipun Sya'rawi mengakui hak individu untuk memilih, beliau menekankan bahwa keputusan untuk tidak memiliki anak harus didasarkan pada pertimbangan yang matang dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Relevansi penafsiran Sya'rawi terhadap trend childfree sangat kuat dalam konteks modern, terutama di Indonesia, di mana nilai-nilai keluarga dan agama masih sangat dijunjung tinggi

    Kontekstualisasi ayat-ayat tabarruj dalam penafsiran Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi

    Get PDF
    Islam adalah agama yang sangat menjaga kehormatan dan kemuliaan wanita. Allah telah menetapkan aturan-aturan dan batasan-batasan dalam firman-Nya secara khusus untuk meninggikan derajatnya serta mencegah para wanita dari fitnah dalam bentuk apapun. Salah satunya adalah menganjurkan para wanita untuk berdiam dirumah, namun kenyataannya saat ini banyak wanita yang lebih suka keluar rumah, bahkan kebanyakan wanita zaman sekarang apabila keluar rumah dalam keaadan ber-tabarruj atau berhias. Karna pada dasarnya wanita secara naluri menyukai keindahan dan kecantikan, hal ini sejak dulu wanita dikenal dengan kecantikannya. Oleh karena itu penelitian ini memfokuskan pada penafsiran Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi mengenai tabarruj. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi tentang tabarruj, dan mengetahui kontekstualisasi dalam kehidupan saat ini. Pada penelitian ini difokuskan pada pertanyaan mendasar yaitu bagaimana penafsiran Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi tentang ayat-ayat tabarruj, bagaimana kontekstualisasi makna tabarruj pada masa kini. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode desekriptif analisis dan jenis datanya pendekatan kualitatif. Sumber primer yang digunakan yaitu kitab tafsir Asy-Sya’rawi, adapun sumber skundernya yaitu buku-buku yang berkaitan dengan tabarruj, dan jurnal. Teknis analisis data pada penelitian ini yaitu studi kepustakaan atau library reseach. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi mendefinisikan tabarruj yaitu larangan memperlihatkan perhiasan yang wajib ditutup. Dalam arti bahwa yang biasanya tidak diperlihatkan oleh wanita baik-baik atau mengenakan perhiasan yang berlebihan atau mengenakan sesuatu yang tidak wajar dipakai dengan maksud untuk menarik syahwat laki-laki. Tabarruj pada masa kontemporer ini merupakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh perempuan dizaman sekarang, yang mana perempuan zaman sekarang ini banyak yang berprilaku tidak sesuai dengan syariat Islam. Bahwa perempuan tidak boleh bertingkah genit dihadapan laki-laki

    Penafsiran Muhammad Mutawalli Sya’rawi Tentang Homoseksual (Kajian Tafsir Tematik).

    Get PDF
    Didalam penelitian ini metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan, yang dilakukan dengan cara mendapatkan data melalui buku-buku yang berhubungan dengan objek yang dibahas. Adapun sumber data primer yang digunakan adalah kitab tafsir Sya’rawi karangan Muhammad Mutawalli Sya’rawi sedangkan yang menjadi sumber sekundernya diperoleh dari berbagai literatur, jurnal, artikel, buku-buku, dan referensi lain yang berkenaan dengan Homoseksual. Adapun yang dapat diambil dari pengetahuan ini bahwasanya homoseksual adalah suatu aktivitas seksual yang dilakukan oleh seorang laki-laki dengan lelaki lainnya (sesama jenis) untuk melampiaskan nafsu seksualnya (berhubungan seksual dengan sesama jenis). Yang mana perilaku menyimpang ini telah ada sejak zaman Nabi Luth dan masih terus berkembang hingga saat ini. Bahkan di era milenial sekarang mereka tidak malu-malu lagi untuk menunjukan keeksistensiannya. Tidak hanya itu perbuatan yang sangat dilaknat Allah ini bahkan sudah mulai dilegalkan di berbagai negara eropa atas dalih Hak Asasi Manusia. Sedangkan menurut Muhammad Mutawalli Sya’rawi didalam tafsirnya ia menjelaskan bahwasanya homoseksual adalah sebuah perbuatan seksual menyimpang yang sangat kotor. Orang-orang yang melakukan perilaku tercela ini, melakukannya karena dorongan nafsu yang tidak lagi sehat dan normal. Mereka telah melampaui batas karena telah menyalurkan syahwatnya dalam keadaan yang tidak lagi normal

    Konsep Pembentukan Karakter Pribadi Anak Menurut Pemikiran Albert Bandura Dan Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi

    Get PDF
    Anida Magfirah.1101451181. Konsep Pembentukan Karakter Pribadi Anak Menurut Pemikiran Albert Bandura Dan Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi. Skripsi, Jurusan Psikologi Islam, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora. Pembimbing: (1) Dr. M. Zainal Abidin, M.Ag. (II) Mubarak, M.A. Kata Kunci: Karakter, modeling, teladan. Fenomena globalisasi adalah dinamika yang paling strategis dan membawa pengaruh dalam tata nilai dari berbagai bangsa termasuk bangsa Indonesia. Sebagian kalangan menganggapnya sebagai ancaman yang berpotensi untuk menggulung tata nilai dan tradisi bangsa dan menggantinya dengan tata nilai yang populer dari negara asing. Dampak negatif globalisasi bagi generasi muda begitu cepat masuk kedalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam hal berperilaku. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala negatif yang muncul pada generasi muda sekarang. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, salah satunya adalah karakter yang mulai terkikis. Maka dari itu pentingnya untuk mengetahui bagaimana sebenarnya konsep pembentukan karakter sesuai dengan judul penelitian ini yaitu Konsep Pembentukan Karakter Pribadi Anak Menurut Pemikiran Albert Bandura Dan Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi keilmuan yang berkaitan tentang kajian-kajian dalam pemikiran kontemporer dan menjadi bahan referensi terhadap permasalahan yang terkait dalam Psikologi Islam, khususnya yang berkaitan dengan konsep pembentukan karakter pribadi anak. Secara praktis, penelitian ini diharapkan tidak hanya untuk para akademisi namun juga mencakup masyarakat luas baik dari lembaga resmi khusus pemerhati anak yang tekun dalam memperhatikan dan menjalankan proses bimbingan dalam pembentukan karakter anak di masa mendatang. Penelitian ini adalah satu jenis penelitian kepustakaan. Penelitian ini bersifat analisis komparasi. Adapun sumber data yang penulis gali akan dibagi ke dalam dua bagian yaitu data primer, terdiri dari buku Albert Bandura berjudul Social Learning Theory dan kitab dari Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi berjudul Tafsir asy-Sya’rawi, serta data-data sekunder lainnya. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa konsep pembentukan karakter pribadi anak yang diangkat oleh Albert Bandura adalah konsep modeling yang memiliki fokus kajian pada pembelajaran observasi. Sedangkan konsep yang diangkat oleh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi adalah konsep teladan yang menitikberatkan pada mengikuti akhlak Rasulullah saw. Konsep kedua tokoh memiliki persamaan dan perbedaan yang cukup signifikan. Hal ini ditunjukkan pada sumber pemikiran, tokoh yang dijadikan model, tahap-tahapan dalam pembentukan karakter pribadi anak, pendekatan dalam konsep pemikiran kedua tokoh serta orientasi dalam konsep yang diangkat oleh masing-masing tokoh

    Spiritual Education of Tarekat Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli towards Wetu Telu Community

    Get PDF
    Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Mutawalli is one of the figures who have an important role in shaping and instilling spiritual education for wetu telu worshipers through the naqsyabandiyah wal-qadiriyah tarekat approach. The purpose of this research is to explore and find out TGH Muhammad Mutawalli's opinion on strengthening the spiritual education of the Wetu Telu congregation and the extent to which spiritual education is being strengthened. The method used is qualitative with a phenomenological approach, where this research seeks to uncover the hidden meaning behind the phenomenon of the Wetu Telu community in the Terara sub-district, East Lombok, West Nusa Tenggara. Data collection in this study was conducted using in-depth interviews, observation, and documentation of data found in the field. The results showed that the teachings of TGH Muhammad Mutawalli took the teachings of the Naqsyabandiyah Qadiriyah tarekat as a basis. This tarekat reflects the harmonization of various tarekat teachings, such as Naqsyabandiyah, Syaziliyah, Ghazaliyyah, and Syuhrawardiyyah. The spiritual education of the Sasak Wetu Telu community focuses on developing a love for Allah SWT, respect for nature, oral traditions, literary arts, and pepaosan as a store of spiritual messages. In conclusion, the teachings of TGH Muhammad Mutawalli in strengthening the spiritual education of the wetu telu congregation are indicated by the strength of the spirituality of the wetu telu congregation or the strengthening of belief in Allah SWT, the increasing intensity of worship of the wetu telu congregation, the establishment of houses of worship, and the creation of harmonization in the level of the social life of the community

    Spiritual Education of Tarekat Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli towards Wetu Telu Community

    Get PDF
    Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Mutawalli is one of the figures who have an important role in shaping and instilling spiritual education for wetu telu worshipers through the naqsyabandiyah wal-qadiriyah tarekat approach. The purpose of this research is to explore and find out TGH Muhammad Mutawalli's opinion on strengthening the spiritual education of the Wetu Telu congregation and the extent to which spiritual education is being strengthened. The method used is qualitative with a phenomenological approach, where this research seeks to uncover the hidden meaning behind the phenomenon of the Wetu Telu community in the Terara sub-district, East Lombok, West Nusa Tenggara. Data collection in this study was conducted using in-depth interviews, observation, and documentation of data found in the field. The results showed that the teachings of TGH Muhammad Mutawalli took the teachings of the Naqsyabandiyah Qadiriyah tarekat as a basis. This tarekat reflects the harmonization of various tarekat teachings, such as Naqsyabandiyah, Syaziliyah, Ghazaliyyah, and Syuhrawardiyyah. The spiritual education of the Sasak Wetu Telu community focuses on developing a love for Allah SWT, respect for nature, oral traditions, literary arts, and pepaosan as a store of spiritual messages. In conclusion, the teachings of TGH Muhammad Mutawalli in strengthening the spiritual education of the wetu telu congregation are indicated by the strength of the spirituality of the wetu telu congregation or the strengthening of belief in Allah SWT, the increasing intensity of worship of the wetu telu congregation, the establishment of houses of worship, and the creation of harmonization in the level of the social life of the community

    Keberadaan alam Barzakh menurut tafsir As-Sya’rawi karya Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui penafsiran Muhammad Mutawalli> Al-Syara>wi> tentang alam barzakh dalam tafsirnya, Dan untuk memahami makna alam barzakh secara mendalam. penelitian ini difokuskan pada pertanyaan mendasar yakni bagaimana penafsiran Muhammad Mutawalli> Al-Sya’ra>wi> tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan alam Barzakh dalam tafsir Al-Sya’ra>wi>? Alam barzakh adalah kajian yang bersifat eskatologis, oleh karna itu penulis menggunakan berbagai teori tentang alam barzakh, lalu di cari ayat-ayat yang berkaitan dengan alam barzakh, selanjutnya di carikan pendapat Al-Syara>wi> tentang ayat-ayat tersebut hingga ditemukan data yang cukup. Terakhir, data-data itu dirumusakan sesuai teori yang digunakan yaitu alam barzakh dalam persfektif eskatologis Metodologi penelitian yang di gunakan penulis yaitu menggunakan metode deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber primer yaitu kitab tafsir Al-Syara>wi> dan sumber sekunder berupa buku-buku yang berkaitan dengan alam barzakh. Teknik pengumpulan data di lakukan dengan cara studi pustaka. Penelitian ini menghasilkan bahwa Muhammad Mutawalli> Al-Syara>wi> mendefinisikan alam barzakh ialah pemisah antara dunia dan akhirat. Alam barzakh bukan alam materi, jadi kaeadaan ruh menurutnya terbagi menjadi dua, yaitu ruh yang berbahagia karena selama hidupnya menjalankan ketaatan kepada Allah dan ruh yang sengsara karena selama hidupnya selalu ingkar kepada Allah, Ia juga mengatakan dalam Surat al-Mumin dan Tha ha>, bahwa orang yang telah meninggal dunia akan mendapatkan dua balasan, yaitu nikmat dan siksa barzakh, tergantung amal perbuatan orang itu selama hidup di dunia. Sedangkan amalan-amalan yang bisa mendatangkan Nikmat barzakh yang terdapat dalam penafsiranya pada surat ali imran ialah berjihad di jalan Allah Swt

    Analisis makna ibadah dalam tafsir khawatir Haula Quran al-Karim karya Muhammad Mutawalli Al-Syarawi

    Get PDF
    Agama Islam merupakan satu-satunya jalan yang dapat memberikan petunjuk dan pedoman hidup kepada umat manusia agar senantiasa melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Fenomena manusia dalam mensikapi perkembangan zaman dan teknologi yang semakin maju masa kini juga sangat mempengaruhi dalam memahami suatu penafsiran. ibadah di dalam al-Qur’ān disebut dengan istilah ibadah dengan spesifikasi yang beragam. Seperti halnya dalam Q.S. az-Zariyat (51): 56, disebutkan bahwa illaa liya’budu tidak hanya sekedar beribadah namun, illaa liya’rifun yakni mengenal Allah, sadar serta menyakini secara murni. Untuk itu, diperlukan penafsiran dan penjelasan lebih lanjut mengenai makna ibadah di dalam al-Qur’ān untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat. Sehingga penulis menetapkan Muhammad Mutawalli Al-Sya’rawi dalam menafsirkan ayat-ayat tentang ibadah dalam tafsir Khawatir Ḥaula Qur’ān al-Karim karena tafsir ini merupakan tafsir kontemporer yang mudah dipahami dan berpedoman pada teknik penulisan ilmiah. Sedangkan pokok permasalah yang diangkat penulis yakni : Bagaiamana makna ibadah dalam tafsir Khawatir Ḥaula Qur’ān al-Karim karya Muhammad Mutawali Al-Sya’rawi. Tujuan penelitian ini yakni untuk menganalisis makna ibadah dalam tafsir Khawatir Ḥaula Qur’ān al-Karim karya Muhammad Mutawalli Al-Sya’rawi. Penelitian ini juga berusaha untuk mengetahui makna ibadah dalam setiap ayat-ayatnya melalui penafsiran Muhammad Mutawalli Al-Sya’rawi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif content analysis yang bertujuan untuk menjelaskan bidang tertentu secara cermat dengan cara disusun, dijelaskan dan dianalisis. Jenis penelitiannya kualitatif dengan melalui penelitian kepustakaan (library research). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam al-Qur’ān tersebar sebanyak 84 ayat yang dimuat dalam 33 surat. Selanjutnya, penulis membatasi kajian agar tidak meluas lebih jauh, sehingga mangambil 6 ayat dan surat. Maka penulis membagi dua kategori, yaitu: pertama, kategori umum pada Qs. al-Baqarah [2]: 21 dan Qs. az-Zariyat [51: 56, dari ayat menjelaskan pada seluruh umat manusia untuk mengajak berpegang teguh pada kalimat tauhid serta beribadah kepada-Nya secara murni tanpa ada unsur yang lainnya. Kedua, kategori khusus pada Qs. al-Fatihah [1]: 5, Qs. al-‘Araf [7]: 29, Qs. al-Ankabut [30]: 56, dan Qs. al-Bayyinah [98}: 5, beberapa ayat tersebut, menjelasakan secara terperinci terkait mengenai makna ibadah. Al-Sya’rawi menegaskan lebih dulu tehadap Allah swt yang memiliki dzatullah, sifatullah, asma’ullah dan af’alullah

    Kepemimpinan Spiritual Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli dalam Meningkatkan Sumber Daya Manusia Pendidik di Pondok Pesantren Darul Aitam Jerowaru

    Get PDF
    Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli's spiritual leadership has garnered attention due to his influence at the Darul Aitam Jerowaru Islamic Boarding School. The integrity of educational human resources in issue relates to the morals, ethics, honesty, accountability, and strong Islamic values that instructors and students embody. The goal of this study was to determine how Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli provided spiritual leadership at the Darul Aitam Jerowaru Islamic Boarding School and contributed to the integrity of Educational Human Resources. Qualitative research is a research approach based on the idea of postpositivism, with data collected using triangulation and inductive analytical procedures. The results of this study are spiritual leadership in the Islamic boarding school of the practice of the tarekat taught by Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli is through opening the Majlis Taklim, the Majlis pengajian for the general public, then the strategy used uses only the sharia approach and the role as the leader of the Islamic boarding school, Tuan Guru directs and organizes his students, so a Tuan Guru has a lot of charm and authority in front of his students
    corecore