3,630 research outputs found
Genealogi dan Transmisi Pemikiran KH. Mahmud Hasil Tentang Nur Muhammad
Nur Muhammad merupakan salah satu kajian dalam tasawuf falsafi yang
cukup dikenal dan sudah lama diajarkan di Kalimantan. Kuatnya tasawuf dengan
nuansa kajian Nur Muhammad ini hingga dijadikan sebagai asas dalam keilmuan
tasawuf bahkan sampai di Nusantara, khususnya di Kalimantan Selatan. Hal ini
menjadi penting karena sejarah panjang yang telah dilalui perlu dieksplorasi lebih
mendalam. Dalam hal ini penulis meneliti pemikiran KH. Mahmud Hasil tentang
ajaran Nur Muhammad serta genealogi dan transmisinya. KH. Mahmud Hasil
merupakan ulama tasawuf di Kalimantan yang mengajarkan banyak ajaran
tasawuf khususnya ajaran Nur Muhammad serta mengarang beberapa kitab
tasawuf yang telah tersebar ke pelosok pulau Kalimantan, Jawa dan Sumatera.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan mengangkat rumusan
masalah, bagaimana Genealogi dan transimisi pemikiran KH. Mahmud Hasil serta
bagaimana ajarannya tentang Nur Muhammad.
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dan masuk ke dalam
penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah KH. Mahmud Hasil yang
mengajarkan Nur Muhammad. Objek yang diteliti adalah genealogi dan transmisi
pemikiran KH. Mahmud Hasil, ajarannya tentang Nur Muhammad serta isi kitab
karangannya tentang Nur Muhammad. Teknik yang digunakan dalam memperoleh
data yaitu dengan metode dokumentasi dan wawancara.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa genealogi ajaran Nur
Muhammad KH. Mahmud Hasil sangat dipengaruhi oleh dua guru beliau, yakni
Anang Ramli dari Bati-bati dan Abdus Syukur di Teluk Tiram. Selain itu beliau
juga menjadikan sejumlah kitab karangan ulama tentang ajaran Nur Muhammad
sebagai rujukan, diantaranya kitab al-Hikam karya Ibnu Athaillāh as-Sakandarī,
ad-Dur an-Nafis karya Syekh Muhammad Nafis al-Banjary, kitab Sirrul Asrār,
karya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, kitab Insānul Kāmil karya Syeikh Abdul
Karim Al-Jaili, Misykātul Anwar dan Ihya ulum ad-Dīn karya al-Ghazali. Upaya
transmisi pengajaran Nur Muhammad beliau lakukan diantaranya melalui
pengajian majelis ta’lim diberbagai wilayah, kitab-kitab karangan beliau,
mendirikan pondok pesantren, serta melalui para ulama dan murid beliau yang
mengajarkan kitab karangan beliau. Pemikiran KH. Mahmud Hasil tentang Nur
Muhammad berkaitan erat dengan pembahasan mengenai washilah, namun tidak
hanya menawarkan konsep teoritis saja, akan tetapi juga menawarkan kaifiyat
(tata cara) amaliyahnya, yakni washilah pada Nur Muhammad melalui jalan fana
dan istighraq pada Nur Muhama
Kedudukan hukum Family Planning menurut Mahmud Syaltut dan Muhammad Ibn Shalih Al-Utsaimin
Program yang disebut Family Planning (selanjutnya dipakai istilah Keluarga Berencana) diselenggarakan, bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, yakni pengendalian tingkat kelahiran dan penurunan tingkat kematian, Dalam Syari’at Islam tidak adanya nash (sumber hukum) yang secara gamblang memperbolehkan atau melarang pelasanaan program Keluarga Berencana. Dan ini menjadi perbedaan pendapat diantaranya ulama Mahmud Syaltut Dan Muhammad Ibn Shalih Al-Utsaimin. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah: 1) Mengetahui Biografi Mahmud Syaltut dan Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin. 2) Mengetahui dalil hukum dan metode istinbath yang digunakan oleh Mahmud Syaltut dan Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin dalam menghukumi program keluarga berencana. 3) Mengetahui implementasi program keluarga berencana di Indonesia. Pada dasarnya, hukum yang ditetapkan oleh ulama atau pemimpin dimaksudkan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat. Kemaslahatan yang menjadi tujuan syara’, dalam hal ini ialah terjaganya maqosid syari’ah, yakni memelihara agama, akal, harta, jiwa dan keturunan/kehormatan. Penelitian ini merupakan penelitian normatif, yakni penelitian yang dilakukan dengan cara menghimpun, mengkaji dan menelaah sumber bacaan yang berkaitan dengan topik penelitian secara studi kepustakaan (Library Research). Dan metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan perbandingan (Comparatice Approach), dimana penulis memaparkan pendapat dari dua tokoh kemudian membandingkannya demi mendapatkan informasi hukum. Hasil penelitian ini menemukan bahwa: 1) Mahmud Syaltut adalah ulama fuqoha yang tidak mengikuti aliran madzhab tertentu meskipun termasuk orang yang bermadzhab Hanafi. Sementara Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin adalah seorang ulama fuqoha bermadzhab Hanbali. 2) Dalam pandangan Mahmud Syaltut, praktik Keluarga Berencana jenis penundaan kehamilan dan menjarakkan kehamilan (tanzim an-nasl) diperbolehkan dengan alasan tidak menyalahi syariat Islam, sedangkan pembatasan keturunan (tahdid an-nasl) diharamkan. Dalil hukum yang digunakan adalah Al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. Sementara menurut Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin, keduanya diharamkan, dengan alasan menyalahi syariat yang menyatakan bahwa harus memperbanyak populasi umat. Dalil hukum yang digunakan adalah Al-Qur’an dan hadits. 3) Kemenkes mengatakan bahwa keberhasilan program Keluarga Berencana berpengaruh dalam upaya menekan angka kematian Ibu. MUI juga sepakat bahwa program Keluarga Berencana yang diperbolehkan hanya pada batas mengatur interval kehamilan dan menunda kehamilan saja kecuali dalam keadaan darurat
Mahmud Muhammad Taha: l'altra cara de l'Islam
L'autor presenta un personatge islàmic pràcticament desconegut en el món occidental i que representa, segons el seu criteri, una cara desconeguda de l'Islam. Després d'una presentació biogràfica de l'autor en qüestió, el treball recull sintèticament el pensament filosòfic i teològic de Mahmud Muhammad Taha
Mahmud Muhammad Taha: l'altra cara de l'Islam
L'autor presenta un personatge islàmic pràcticament desconegut en el món occidental i que representa, segons el seu criteri, una cara desconeguda de l'Islam. Després d'una presentació biogràfica de l'autor en qüestió, el treball recull sintèticament el pensament filosòfic i teològic de Mahmud Muhammad Taha
Coretan Muhammad Muaz Bin Mahmud / Muhammad Muaz Mahmud
Terima kasih yang tidak terhingga diucapkan kepada warga kerja penerbitan majalah ini, yang telah sudi mengizinkan saya mengisi beberapa helai muka surat dalam majalah EON, untuk berkongsi pengalaman suka dan duka saya sepanjang menuntut di Institusi ini. Sesungguhnya, sukar untuk saya lupakan pengalaman yang telah dilalui disini. Seterusnya, saya melanjutkan pengajian dalam bidang Ijazah Sarjana Muda di UiTM Kampus Shah Alam melalui system penerapan UiTM dalam bidang Kimia (Analisis Forensik). Saya merupakan Yang Dipertua Jawatankuasa Perwakilan Komander Kesatria (JPKK) UiTM Cawangan Negeri Sembilan (UiTMCNS), Kampus Kuala Pilah dahulu. Sepanjang saya dan rakan-rakan memimpin Badan Beruniform ini, banyak kejayaan yang telah kami capai. Antaranya, kami telah dinobatkan sebagai pemenang Anugerah Pemimpin Badan Beruniform Anugerah Tokoh Siswa 2016 yang mana ia adalah julung kalinya dimenangi oleh Komander Kesatria UiTMCNS Kampus Kuala Pilah. Seterusnya, kami telah berjaya merangkul pingat emas untuk acara Tempur Tanpa Senjata dan tempat ketiga keseluruhan acara Komander Kesatria Endurance Challenge (KKEC), yang disertai oleh Komander Kesatria UiTM seluruh Malaysia
1. Palais de Muhammad 'Ali, à Shubra
Greg Robert Hyde, Shafik Muhammad, Home John, Lacau Pierre, Ghalib Kamil Osman, Wiet Gaston, Ahmad Mahmud, Pauty Edmond. 1. Palais de Muhammad 'Ali, à Shubra. In: Comité de Conservation des Monuments de l'Art Arabe. Fascicule 37, exercice 1933-1935, 1940. p. 314
Comparative study about Qawâmah in family between Mahmud Syaltut and Muhammad Syahrur
ABSTRACT
Understanding the concept of Qawâmah or husband and wife leadership in the family is controversial among Islamic scholars, including mutaqaddimîn and contemporary scholars. In general, the thoughts of contemporary scholars are influenced by the issue of gender justice. Even so, it does not mean that modern Islamic law scholars have the same concept, likewise, between Mahmud Syaltut and Muhammad Syahrur.
This study focused on two objectives of research: 1) To explain the thought of Mahmud Syaltut and Muhammad Syahrur about qawâmah in the family; 2) To identify the similarities and differences between Mahmud Syaltut and Muhammad Syahrur’s thoughts about qawâmah in the family.
The type of this research is library research, by tracing, searching, and examining materials in the form of books, including Mahmud Syaltut and Muhammad Syahrur’s books as primary data, and other books, journals, and other sources. The research approach uses a comparative approach.
The results of this study include: Mahmud Syaltut understands qawâmah as a men’s nature as a leader for his wive because of the physical strengths and abilities that are bestowed on him, while Muhammad Syahrur understands qawâmah as the position of leader or family protector that can be owned by male or female as long as they have the characteristics of qawwâm, where these characteristics are not only from physical factors; Although Mahmud Syaltut and Muhammad Syahrur have differences in understanding the concept of qawâmah, both of them have thoughts that elevate the status of women, where husband and wife have an equal position or degree, also rights, obligations, and responsibilities in the family that must be fulfilled with each other so that both of Mahmud Syaltut and Muhammad Syahrur have an idea of equality between men and women. Mahmud Syaltut seemed not to leave the classical thinking pattern about qawâmah truly, besides there are modern patterns of male and female equality in Syaltut’s qawâmah concept. This Syaltut’s qawâmah concept is different from Muhammad Syahrur’s thought which is different from classical thinking. In Indonesian society, the concept of leadership in the family is diverse, but in general, the concept of male leadership is dominant.
ABSTRAK
Pemahaman mengenai Qawâmah atau kepemimpinan suami istri dalam keluarga menjadi salah satu hal yang kontroversial di antara pemikir Islam, termasuk antara pemikir mutaqaddimîn dan pemikir kontemporer, di mana pada umumnya pandangan para pemikir kontemporer dipengaruhi oleh isu keadilan gender. Meski begitu, bukan berarti para pemikir hukum Islam masa modern memiliki konsep yang sama. Begitu pula antara Mahmud Syaltut dan Muhammad Syahrur.
Penelitian ini fokus kepada dua tujuan, yaitu: 1) Untuk menjelaskan konsep Qawâmah dalam keluarga perspektif Mahmud Syaltut dan Muhammad Syahrur, 2) Untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan pemikiran Mahmud Syaltut dan Muhammad Syahrur tentang qawâmah dalam keluarga.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research) dengan cara menelusuri, mencari, dan menelaah bahan yang berupa buku atau kitab Mahmud Syaltut dan Muhammad Syahrur sebagai data primer, kemudian buku-buku lainnya, jurnal-jurnal, dan sumber lainnya. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan komparatif.
Hasil dari penelitian ini di antaranya: Mahmud Syaltut memahami qawâmah sebagai fitrah laki-laki sebagai pemimpin bagi istrinya, sebab kelebihan-kelebihan berupa fisik dan kemampuan yang dianugerahkan kepadanya, sedangkan Muhammad Syahrur memahami qawâmah sebagai keududukan seseorang sebagai pemimpin atau pengayom keluarga yang bisa dimiliki oleh laki-laki maupun perempuan asalkan memiliki karakteristik qawâm, dimana karakteristik tersebut bukanlah dari faktor fisik semata; meskipun Mahmud Syaltut dan Muhammad Syahrur memiliki perbedaan dalam memahami qawâmah, keduanya sama-sama memiliki pemikiran yang mengangkat derajat wanita, di mana sesungguhnya suami dan sitri memiliki posisi dan kedudukan yang setara, juga sama-sama memiliki hak, kewajiban dan tanggungjawab dalam keluarga yang harus dipenuhi satu sama lain, sehingga Mahmud Syaltut dann Muhammad Syahrur memiliki pemikiran kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Mahmud Syaltut terlihat tidak sama sekali meninggalkan corak pemikiran klasik tentang qawâmah, disamping terdapat corak pemikiran modern tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam konsep pemikiran qawâmah-nya, berbeda dengan Muhammad Syahrur dengan pemikirannya yang bebas dari pemikiran klasik. Di dalam masyarakat Indonesia, konsep kepemimpinan dalam keluarga adalah beragam coraknya, namun secara umum konsep kepemimpinan oleh laki-laki lebih mendominasi.
مستخلص البحث
كان مفهوم القوامة في حياة الزوجية في الأسرة شأنا خلافيا بين المفكرين الإسلامية، سواء كان المفكرون المتقدمين والمعاصرين، حيث تتأثر آراء المفكرين المعاصرين بقضية العدالة بين الجنسين. ومع ذلك، فإن هذا لا يعني أن المفكرين المعاصرين لديهم نفس المفهوم. وبالمثل بين محمود شلتوت ومحمد شحرور.
هنا مشكلات البحث وهي: 1) ليعرف مفهوم القوامة في الأسرة بين فكرة محمود شلتوت ومحمد شحرور, 2) ليعرف وجه التشابه والفرق بين فكرة محمود شلتوت ومحمد شحرور عن القوامة في الأسرة.
هذا البحث هو نوع من البحوث المكتبية من خلال تتبع وبحث ودراسة المواد في شكل كتب محمود شلتوت ومحمد شحرور وهذه هي معلومات أولية، ثم كتب ومجلات ومصادر أخرى. نهج هذا البحث نهج مقارن
نتائج هذه الدراسة هي: فهم محمود شلتوت في القوامة على أنها طبيعة الرجل كقائد لزوجته، وذلك بسبب القوة البدنية والقدرات التي تُمنح له، بينما يفهم محمد شحرور في القوامة على أنها درجة القائد أو حامي الأسرة, وأن القوامة يستطيع أن يملكها الرجال النساء طالما أنهما يحملان بصفات القوام، حيث لا تكون هذه الخصائص ناتجة عن عوامل جسدية فقط؛ على الرغم من وجود اختلافات بين محمود شلتوت ومحمد شحرور في فهم القوامة، إلا أن كلاهما لديهما أفكار ترفع درجة المرأة، حيث يكون للزوج والزوجة في الواقع درجة أو منصب أو مكانة متساوية ، كما يتقاسمان الحقوق والواجبات والمسؤوليات في نفس الوقت في الأسرة. يجب أن تتحقق مع بعضها البعض، فلذلك يكون لدى كل منهما فكرة عن المساواة بين الرجل والمرأة. لم يترك محمود شلتوت قط نمط التفكير الكلاسيكي عن القوامة، مع أنه كان من فكرته نمط حديث للمساواة بين الذكور والإناث في مفهومه عن القوامة، كان هذا مختلفا عن محمد شحرور مع أفكاره خالية من التفكير الكلاسيكي. في المجتمع الإندونيسي، يتنوع مفهوم القوامة في الأسرة، ولكن بشكل عام مفهوم القوامة الذكورية هو المعظم
(b) Palais de Muhammad 'Ali
Simaïka Marcus H., Greg Robert Hyde, Shafik Muhammad, Home John, Ghalib Kamil Osman, Verrucci Ernesto, Lacau Pierre, Ahmad Ali Hasan, Pauty Edmond, Ahmad Mahmud. (b) Palais de Muhammad 'Ali. In: Comité de Conservation des Monuments de l'Art Arabe. Fascicule 37, exercice 1933-1935, 1940. pp. 311-312
Gagasan Mahmud Muhammad Taha tentang Evolusi Syariah
This article discusses the thought of Mahmud Muhammad Taha in methodology of istinbat or legal interpretation in ‎Islamic law which emphasizes on the egalitarian values of Islamic law. In his interpretation, he uses the naskh or ‎abrogation method, a method used by pioneering Islamic jurists to find solution for conflicting Qur’anic verses. It is ‎employed by applying the relevant verses revealed latter and postponing the application of other irrelevant verses. ‎However, Mahmud Muhammad Taha convinces that the abrogation method he has proposed is an enabling ‎method for the evolution of Islamic law. It is basically a flexible interpretation of the text that allows movement ‎from one Qur’anic text to another on the basis of relevance. As a result, the application of certain Qur’anic text and ‎abandonment of another is temporary and not conclusive. On other occasion, the abandoned text can be applied ‎whenever it becomes relevant. This study is based on egalitarian values of Islamic law which has been proposed by ‎Taha. He asserts that currently shari’ah or Islamic law is seen as discriminative and incapable of fulfilling the true ‎mission of Islam which is just, prosperous welfare and compassionat
Kritik Mahmud Sa'id Mamduh terhadap Muhammad Nasiruddin al-Albany dalam Sunan al-Arba'ah
Kritik hadis sudah dilakukan oleh ulama hadis terdahulu. Tradisi kritik hadis ini terus berlanjut hingga zaman sekarang. Diantara para ulama kontemporer yang melakukan kritik hadis adalah Muhammad Nasiruddin al-Albany. Al-Albany menggunakan metode yang tidak sama dengan para pendahulunya, yaitu dengan mengelompokkan hadis-hadis da‘if pada kitab khusus, serta hadis-hadis sahih pada kitab khusus. Selain itu ketidakkonsistenan al-Albany dalam menghukumi perawi berakibat kepada banyaknya kritik yang bermunculan dari ulama hadis mancanegara. Salah satunya adalah dari Mesir yang dilakukan oleh Mahmud Sa‘id Mamduh. Pada tulisan ini, penulis menitik beratkan pembahasannya kepada tiga poin penting: 1) Apa yang melatarbelakangi Mahmud Sa‘id Mamduh melakukan kritik kepada Muhammad Nasiruddin al-Albany? 2) Bagaimana metode kritik Mahmud Sa‘id Mamduh terhadap Muhammad Nasiruddin al-Albany? 3) Apa implikasi yang ditimbulkan dari kritik Mahmud Sa‘id Mamduh terhadap metode al-Albany? Untuk membedah rumusan masalah di ats, penulis menggunakan jenis penelitian literer atau studi pustaka dengan naskah-naskah, baik dari buku-buku maupun naskah lainnya yang berhubungan dengan persoalan yang dibahas. penulis berusaha mengambil konsep-konsep yang dipaparkan Mahmud Sa‘id Mamduh dalam al-Ta‘rif, serta kritiknya terhadap metode yang digunakan al-Albany dalam setiap kitabnya. Di akhir pembahasan, penulis menyimpulkan hasil penelitian berupa penerimaan atau penolakan kritik Mamduh terhadap al-Albany. Jika kritik Mamduh dinyatakan benar, maka hal tersebut berimplikasi kepada perlunya melakukan revisi kepada kitab-kitab al-Albany. Lebih jauh lagi, status hukum hadis yang ditetapkan al-Albany perlu ditinjau ulang
- …
