16 research outputs found

    Kepemimpinan kiai dalam pemberdayaan masyarakat muslim minoritas (studi kasus di Pondok Pesantren Baitul Hikmah, Waikabubak, Kab. Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur)

    No full text
    Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang asli (indigenous) dan tertua di Indonesia. Perjalanan dan kiprahnya memiliki pengaruh yang signifikan bagi masyarakat. Penelitian ini akan mengungkap salah satu pesantren yang berkembang pada masyarakat muslim minoritas khususnya di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Dalam hal ini aspek yang lebih ditekankan pada ranah kepemimpinan kiai dan pemberdayaan masyarakat dalam bidang pendidikan. Adapun tujuannya yaitu untuk mengetahui proses berdiri dan berkembangnya lembaga pendidikan Islam (Pondok Pesantren Baitul Hikmah, Waikabubak, Sumba Barat) pada komunitas muslim minoritas, dan juga untuk mengetahui peran seorang kiai dalam pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, yaitu metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan data dan fakta. Adapun teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dengan 5 (lima) informan, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran kiai dalam memberdayakan masyarakat muslim minoritas tidak hanya sebatas menjadi pendidik maupun sebagai pimpinan lembaga pendidikan pesantren saja, tetapi perannya begitu luas seperti menjadi tokoh rujukan masyarakat, memberikan solusi ketika ada permasalahan menyangkut agama, memberikan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat, dan sebagainya. Begitu juga dengan pendidikan yang ada di pesantren, diperlukan keaktifan yang luar biasa dalam mengelola komunikasi dengan baik kepada masyarakat muslim maupun non muslim. Agar proses pendidikan yang ada di dalam pesantren terus berlangsun

    BELAJAR TOLERANSI DARI PESANTREN DI MAYORITAS NON MUSLIM

    No full text
    Pesantren merupakan lembaga pendidikan asli (indigenous) milik bangsa Indonesia. Perjalanan dan kiprah pesantren sudah sangat mengakar di akar rumput masyarakat. Pesantren adalah lembaga yang mengkader dan membina para santrinya untuk menjadi generasi yang memiliki tata krama dan kesopanan yang baik serta memiliki kemampuan ilmu agama yang baik sebagai bentuk jawaban dalam menghadapi tantangan dan persoalanpersoalan yang terjadi di masyarakat. Toleransi yang dikembangkan oleh pesantren tidak hanya sebatas isapan jempol saja, namun jauh lebih dalam, pesantren telah mempraktekannya ratusan tahun yang lalu. Pesantren tidak hanya menjalankan fungsinya sebagai lembaga untuk mendidik dan membentuk karakter santri-santrinya, tetapi juga sebagai benteng akidah masyarakat sekitarnya. Tradisi-tradisi di masyarakat yang berkembang tidak begitu saja dihilangkan tetapi bagaimana pesantren bisa merecovery tradisi-tradisi tersebut sehingga menjadi tradisi yang tetap dilestarikan sebagai khazanah budaya masyarakat, disamping itu juga tidak bertentangan dengan syariat dan akidah Islam. Ada satu pesantren yang bisa menjadi referensi dalam pergulatannya dengan pengembangan toleransi. Pesantren Baitul Hikmah yang berdiri di tanah Sumba, tepatnya di Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Sebuah pesantren yang mengajarkan arti toleransi kepada masyarakat. Karena pesantren ini merupakan satu-satunya pesantren salaf yang berdiri di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas penduduknya adalah non-muslim. Menurut data BPS tahun 2012 penduduk muslim hanya 9 % (persen) dari total penduduk Kabupaten Sumba Barat. Dari pesantren ini, kita belajar bahwa Islam hadir bukan untuk menghancurkan atau memporakporandakan daerah sekitarnya. Islam hadir sebagai wajah yang penuh dengan kasih sayang terhadap sesama manusia. Islam yang diajarkan oleh pesantren adalah Islam yang bisa menjadi rahmat untuk seluruh alam, yang mampu berinteraksi dengan baik secara terbuka dan dengan hati yang lapang tanpa kebencian

    HISTORIOGRAFI MANAJEMEN HAJI DI INDONESIA: DINAMIKA DARI MASA KOLONIAL HINGGA KEMERDEKAAN

    No full text
    Ibadah haji menjadi ritual setiap tahun yang harus dijalani oleh setiap muslim di mana pun berada. Begitu juga dengan masyarakat muslim Indonesia. Perkembangan penyelenggaraan haji dari masa ke masa menjadi menarik untuk didiskusikan. Karena ibadah haji pasti akan berulang. Dengan memahami perkembangan sejarah haji Indonesia, bisa menjadi harapan dan juga pembelajaran bagi para pengampu kebijakan, juga bagi masyarakat yang menginginkan perbaikan penyelanggaraan haji ke depan. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan ibadah haji dari masa kolonial hingga era reformasi, dan juga peran pemerintah dalam perbaikan haji setiap tahunnya, demi mencapai suatu layanan yang diidam-idamkan oleh masyarakat sesuai dengan harapan dengan memperhatikan asas pembinaan, pelayanan, dan perlindungan kepada jamaah haji. Keyword: Sejarah, Perkembangan, Haji, Kolonial, Kemerdekaan

    PENGELOLAAN PELAYANAN JEMAAH HAJI LANJUT USIA DI KELOMPOK BIMBINGAN IBADAH HAJI DAN UMRAH MUSLIMAT NU KULON PROGO

    No full text
    Pelaksanaan ibadah haji merupakan ibadah yang sangat diminati oleh seluruh umat Islam di dunia. Sehingga berdampak pada lamanya waktu keberangkatan menuju Tanah Suci. Masa tunggu haji pun semakin panjang. Sisi yang lain, dalam pelaksanaan ibadah haji tidak hanya melibatkan jemaah haji muda, tetapi juga jemaah haji lansia yang telah mencapai usia lanjut. Artikel ini berupaya untuk membahas tentang pelayanan yang dilakukan oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah Muslimat NU terhadap jemaah haji lanjut usia. Artikel ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan perencanaan pelayanan jemaah haji lanjut usia yang dilakukan oleh KBIHU Muslimat NU Kulonprogo sudah baik. Dalam perencanaan, KBIHU Muslimat NU menetapkan tujuan dan hal-hal yang dibutuhkan dalam proses pelaksanaan bimbingan yaitu, menetapkan prosedur bimbingan, pembuatan jadwal, peninjauan biaya, dan peninjauan sarana dan prasarana yang akan digunakan. Penerapan pelayanan yang dilakukan oleh KBIHU Muslimat NU pada jemaah haji lansia juga menunjukkan kinerja yang baik. Dilihat dari pembimbing yang bertanggungjawab kepada jemaah, memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik, bersertifikasi, berusaha untuk memahami kebutuhan jemaah, serta mampu memberikan kepercayaan kepada jemaah haji

    PELAKSANAAN PENGEMBANGAN KARIR DALAM MENINGKATKAN KINERJA PEGAWAI STUDI KASUS DI PUSAT PENDIDIKAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

    No full text
    Organisasi memiliki pengaruh yang besar dalam karir anggotanya melalui fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia. Melalui manajemen dan pengembangan karir dapat membantu para pegawai untuk merealisasikan tujuan karirnya di masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan diantara lain untuk: (1) Mengidentifikasi pelaksanaan pengembangan karir pada Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan. (2) Mengidentifikasi sistem peningkatan kinerja pegawai Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan. (3) Menganalisis pengaruh pengembangan karir terhadap peningkatan kinerja pada Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan. Adapun metodologi yang dipakai adalah kuantitatif dengan menggunakan regresi linier berganda, dengan variabel dependent (Kinerja) dan variabel independent (kompetensi, dan kualifikasi). Adapun data yang diambil berupa dana primer dengan menyebar kuesioner ke 35 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor kompetensi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja pegawai dengan nilai thitung < nilai ttabel (-0,812 < 2,034), sedangkan faktor kualifikasi berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja pegawai dengan nilai thitung > ttabel (2,472 > 2,034). Pada sisi lain, pada hasil uji simultan antara pengaruh kompetensi, kualifikasi terhadap peningkatan kinerja pegawai berpengaruh secara signifikan dengan nilai Fhitung > Ftabel (5,466 > 3,284). Kata kunci: Pengembangan karir, Kompetensi, Kualifikasi, dan Kinerj

    Menyekolahkan Anak di Pesantren: Antara Kepentingan Orang tua dan Anak dalam Perspektif Kesejahteraan Sosial

    No full text
    This paper aims to find answers to the phenomenon of increasing interest among urban Muslim communities in sending their children to Islamic boarding schools. The phenomenon is intriguing because there is a tendency for this interest to be driven by pressure or influence from the current cultural trend of sending children to boarding schools. Meanwhile, boarding schools are educational institutions with a strong Islamic character that focus on instilling Islamic values in children. So, what motivates parents to send their children to boarding schools? Is it merely following the cultural trend, or is it an expression of religious consciousness? This paper presents the results of qualitative research based on various data sources (books and articles) that discuss the contributions of boarding schools to the national education system. To analyze this phenomenon, the constructive structuralism theory of Bourdieu is used, where parents' preference for sending their children to boarding schools can be understood from their habitus and capital. The research findings show that the cultural and economic capital possessed by parents significantly influences their tendency to send their children to boarding schools. Furthermore, the social structure of parents can also shape their preference for traditional or modern types of boarding schools Keywords: ; Islamic boarding schools, urban Muslim, cultural trend, Tulisan ini bertujuan untuk menemukan jawab atas adanya fenomena meningkatnya animo masyarakat muslim perkotaan dalam menyekolahkan anaknya ke pesantren. Fenomena menjadi menarik karena ada kecenderungan bahwa animo ini didasari oleh adanya tekanan atau pengaruh dari trend budaya masyarakat saat ini yang cenderung menyekolahkan anaknya ke pesantren. Sementara itu pesantren merupakan lembaga pendidikan bercorak ke-Islaman yang sangat kental dengan penanaman karakteristik anak berdasarkan pada nilai-nilai Islam. Maka apakah yang menjadi motif orang tua menyekolahkan anaknya ke pesantren? Sekedar mengikuti trend budaya, ataukah ekspresi kesadaran keberagamaan? Tulisan ini adalah hasil penelitian kualitatif terhadap sejumlah sumber data (karya), berupa buku dan artikel yang membahas hasil penelitian mengenai kontribusi pesantren untuk khasanah pendidikan nasional. Untuk membaca fenomena tersebut, digunakan teori strukturalisme konstruktif Bourdieu, dimana preferensi orang tua menyekolahkan anaknya ke pesantren dapat dilihat dari habitus dan kapital yang dimiliki oleh orang tua tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapital budaya dan ekonomi yang dimiliki orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kecenderungan orang tua menyekolahkan anaknya ke pesantren. Dilihat dari struktur sosial orang tua, juga dapat membentuk pola pilihan jenis pesantren, tradisional ataukah modern.  Kata Kunci: Muslim Perkotaan, Trend Budaya, Pesantre

    Ikhlas adalah Ruh Amal

    No full text
    Niat merupakan hal yang sangat fundamental dalam setiap perbuatan umat manusia. Sebelum seseorang berlayar, ia harus memastikan tunggannya dalam kondisi siap dan aman; memeriksa mesin, mempertimbangkan cuaca, dan kondisi lainnya demi lancarnya perjalanan. Begitu juga dengan hubungan niat dan amal. Artinya, bahwa seseorang yang ingin melakukan sesuatu hendaklah membuat rencana dan tujuan yang matang dan bagus. Selain itu juga memantapkan langkahnya. Adanya niat dalam diri seseorang juga akan membantu seseorang untuk tetap fokus pada arah yang telah ditetapkan, yakni untuk mencari ridha Allah subhanahu wata’ala

    Mengelola Sumber Daya Manusia dalam Menumbuhkan Ketahanan Keluarga di Bidang Pendidikan, Ekonomi, Sosial, dan Keagamaan Pada Masa Pandemi Covid 19

    No full text
    Keluarga merupakan sumber daya yang sangat potensial bagi kemajuan suatu negara. Keluarga merupakan satuan terkecil dari masyarakat dalam pembangunan sumber daya manusia bagi bangsanya. Di masa wabah pandemi ini, ketahanan keluarga sedang diuji. Boleh jadi ketahanan keluarga menghadapi pandemi ini menjadi isu nasional yang harus dicarikan solusinya. Bagaimana pun keluarga itu menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan suatu negara. Ketahanan keluarga dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan keagamaan pada masa sulit ini menjadi hal yang dipertaruhkan. Apalagi jika sebelumnya peran keluarga pada ke empat bidang tersebut sangat lemah dan minim modal insani. Keluarga merupakan salah satu benteng bangsa, maka ketahanan keluarga dari ke empat bidang tersebut mesti diupayakan dengan baik. Salah langkah mengelola keluarga bisa jadi preseden buruk bagi kemajuan masyarakat. Oleh karenanya di masa pandemi ini bisa menjadi titik tolak untuk membangun dan menyadarkan masyarakat kembali akan kemandirian keluarga secara penuh dari bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan keagamaan. Di manapun anda berperan, pasti akan Kembali kepada keluarga. Sesulit apapun kondisi anda, seberapa banyak masalah anda, barangkali tempat ternyaman untuk Kembali adalah kepada keluarga. Karena keluarga adalah madrasah pertama bagi setiap insan yang lahir dari kedua orang tuanya. Mengelola sumber daya manusia unggul bisa dimulai dari ketahanan keluarga dalam berbagai bidang. Hal ini sebagai sebuah upaya bahwa di masa pandemi yang begitu sulit ini, keluarga masih bisa tetap eksis bergerak walau pun dibatasi ruang dan waktu. Keterabtasan ruang tersebut bukan menjadi persoalan di era digital ini, ada ruang lain yang bisa dimanfaatkan, yaitu ruang kreatifitas, ruang inovasi dalam menciptakan ketahanan keluarga agar tidak terkikis habis oleh wabah virus sars covid 19. Ketahanan keluarga pada ke empat bidang ini, bisa menjadi program prioritas ke depan menuju keluarga yang sejahtera sesuai dengan pedoman undang-undang. Di masa pandemi ini, mengelola sumber daya manusia dalam rangka menumbuhkan ketahanan keluarga bidang Pendidikan, ekonomi, sosial, dan keagamaan menjadi sebuah jihad tersendiri. Karena pandemi ini berdampak kepada berbagai sektor yang belum pernah terbayangkan sebelumnya

    PENGEMBANGAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA MANUSIA

    No full text
    Pengembangan dan pelatihan sumber daya manusia secara berkelanjutan merupakan fondasi utama dalam membangun dunia pendidikan yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman. Guru, tenaga kependidikan, dan seluruh pelaku pendidikan membutuhkan dukungan terusmenerus dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalisme agar mampu mendampingi peserta didik secara optimal dalam menghadapi tantangan masa depan. Tentu upaya ini tidak dapat berjalan sendiri. Kolaborasi serta komitmen bersama dapat mewujudkan generasi masa depan yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi dunia yang terus berkembang. Kemajuan dunia pendidikan juga membutuhkan dukungan konkret dari semua lini: kebijakan yang berpihak dari pemerintah, komitmen pengelola lembaga pendidikan, kolaborasi dengan dunia usaha dan industri, serta partisipasi aktif masyarakat sebagai bagian dari menciptakan ekosistem pembelajaran sepanjang hayat dan juga pendidikan yang inklusif dan progresif. Dinamika global yang kian kompleks dan cepat berubah, pendidikan menjadi garda terdepan dalam menciptakan peradaban yang unggul dan berdaya saing. Pendidikan yang bermutu tidak lahir dari sistem yang statis, melainkan yang terus tumbuh dan terus belajar, berkembang, yang berpijak pada investasi berkelanjutan terhadap sumber daya manusianya. Pengembangan dan pelatihan sumber daya manusia di sektor pendidikan bukan sekadar pelengkap administratif, tetapi merupakan kebutuhan esensial dalam membangun kapasitas institusional dan personal. Guru dan tenaga kependidikan bukan hanya pelaku teknis, melainkan agen transformasi yang menentukan arah kemajuan bangsa. Tanpa kompetensi yang terus diperbarui, mereka akan terjebak dalam rutinitas, sementara dunia dan peserta didik terus bergerak maju. Strategi pembangunan pendidikan harus memuat dimensi penguatan SDM secara sistemik dan berkelanjutan. Kemajuan pendidikan tidak dapat hanya diukur dari capaian akademik semata, melainkan dari seberapa besar kita mampu menciptakan sistem yang memberdayakan manusia seutuhnya. Membangun lembaga Pendidikan dimulai dengan membentuk peradaban pembelajar yang berakar pada pengetahuan, berbuah pada kemanusiaan, untuk menuju masa depan. Pengembangan dan pelatihan SDM di sektor pendidikan merupakan aspek yang esensial dalam menciptakan generasi yang inovatif dan siap bersaing di tingkat global. Dengan dukungan yang kokoh dari semua pihak, kita dapat mencapai tujuan ini dan menjadikan pendidikan sebagai investasi terbaik untuk masa yang akan datang menuju Indonesia emas tahun 204

    Memberdayakan Organisasi yang Berkelanjutan Kepemimpinan, Kompetensi dan Siklus Hidup Organisasi

    No full text
    Pemberdayaan diartikan sebagai "suatu proses, cara, atau tindakan memberdayakan (membuat berdaya)" (menjadikan diri sendiri lebih berdaya). Kelompok lemah dalam masyarakat dapat diperkuat atau dioptimalkan melalui serangkaian tindakan proses yang dirancang untuk meningkatkan atau mengoptimalkan pemberdayaan mereka (dalam hal kapasitas atau keunggulan kompetitif). Upaya pemenuhan kebutuhan yang diinginkan oleh individu, kelompok, atau masyarakat yang lebih besar didefinisikan sebagai upaya untuk memberi orang kemampuan untuk membuat pilihan dan mengendalikan lingkungannya untuk mencapai tujuannya, termasuk memiliki akses ke sumber daya yang terkait dengan pekerjaan, kegiatan sosial, dan kegiatan lainnya. lainnya Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat merupakan proses vang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya di berbagai bidang termasuk pendidikan, ekonomi, dan pembangunan daerah buku ini memberikan perspektif baru mengenal proses pemberdayaon organisasi yang berkelanjutan
    corecore