182 research outputs found

    Dakwah dalam pendekatan Mujadalah : Analisis deskriptif teknik debat Ustad Muhammad Idrus Ramli pada akun Youtube "Muhammad Idrus Ramli

    Get PDF
    Teknik debat merupakan salah satu metode dakwah yang jarang digunakan oleh kebanyakan mubaligh, hal ini juga didasari oleh penggunaannya yang cukup sulit serta beresiko memunculkan perselisihan antara kedua pihak jika tidak dilakukan dengan cara yang benar. Walaupun tidak banyak yang menggunakan metode ini, faktanya berdakwah dengan debat dapat lebih mempengaruhi jamaah, sebab dalam berdebat harus mengedepankan unsur logis yang dapat diterima oleh akal pikiran. Dalam dakwah sendiri, Teknik debat disebut dengan mujadalah. Namun pada penelitian kali ini, peneliti lebih memfokuskan pada teknik debat dalam lingkup kajian retorika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik mujadalah Ustad Muhammad Idrus Ramli dalam kajian Retorika. Dalam debat terdapat beberapa jenis metode yaitu dengan metode problem solving dan metode logic. Penelitian ini menggunakan kajian teori retorika oleh Dori Wuwur Hendrikus. Menurut Hendrikus, terdapat dua jenis retorika yaitu monologika (pidato dan ceramah), kemudian retorika dialogika (diskusi, debat, dan tanya jawab). Pada penelitian ini lebih mengkaji kegiatan instrument debat dalam kegiatan mujadalah Ustad Muhammad Idrus Ramli. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengkaji akun youtube Muhammad Idrus Ramli. Secara spesifikasi, penelitian ini membahas teknik debat, maka dari itu penelitian ini lebih mengarah kepada konten-konten debat, diskusi, dan tanya jawab yang pada akun youtube Idrus Ramli. Setelah dianalisa, ditemukan penggunaan instrument-instrument debat pada pelaksanaan kegiatan mujadalah Idrus Ramli pada akun youtube beliau yang berjudul "Debat dengan Salafi Part 1 & 2" menggunakan metode problem solving dan metode logic

    Local Wisdom Pemikiran Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin dalam Kitab Kabanti “Bula Malino”

    Get PDF
    Masuknya agama Islam di Kesultanan Buton, telah membawa kedamaian dan perubahan dalam segala bidang termasuk pada aspek Local Wisdom ( kearifan local).  Hal  ini melahirkan ulama-ulama yang memiliki pemikiran yang cemerlang berusaha menjadikan budaya Islam mewarnai budaya lokal. Salah satu ulama di Buton sekaligus sebagai Sultan yaitu Muhammad Idrus Kaimuddin  Ibnu Badaruddin Al-Buthuni (1824-1851). Pemikiran Sultan Kaimuddin  menemukan  esensi konsep ta krama menurut ajaran leluhur dalam Kabanti Bula Malino. Kabanti yang ditulis menggunakan tulisan Arab berbahasa Wolio menjadi tradisi sekaligus tuntunan norma masyarakat di Kesultanan Buton  yang di dalamnya  banyak berisi petuah falsafah yang bersumber dari ajaran Islam. Jenis penelitian ini ialah  penelitian kepustakaan (library research), di mana data-data yang dipakai adalah data kepustakaan. Data dalam penelitian ini adalah buku induk dan jurnal ilmiah tentang tema terkait. Metode analisis yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui narasi Kabanti dan menelaah nilai-nilai Local Wisdom yang dituangkan oleh Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin dalam karyanya Kabanti bula malino. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, melalui  Kabanti  bula  malino  berusaha  menyampaikan  kembali  ajaran-ajaran Islam, yang ia sampaikan dalam bahasa Wolio, bahasa yang dimengerti oleh masyarakat yang ia pimipin pada saat itu. Pemikiran dalam hal religiustas, etika,moral, tata krama, maupun nasehat Sultan Kaimuddin yang dituangkan dalam karyanya tersebut menjadi sebuah tradisi yang mampu menjaga kearifan lokal (Local Wisdom) masyarakat muslim di pulau Buton. Kata Kunci: Sultan Muhammad Idrus, Kabanti, dan Local Wisdom AbstractIslam in the Sultanate of Buton, has brought peace and change in all fields, including aspects of Local Wisdom (Local Wisdom). This gave birth to scholars who have intelligent minds trying to make Islam reflect local culture. One of the scholars in Buton as Sultan was Muhammad Idrus Kaimuddin Ibn Badaruddin Al Buthuni (1824-1851). Sultan Kaimuddin's thought found the essence of the concept of ta manners according to the teachings of the ancestors in the Malanti District. Kabanti, which was written using Wolio in Arabic, became a tradition that was completed in complete community norms in the Buton Sultanate, which contained many philosophical advices derived from Islamic teachings.This type of research is library research, where the data used is library data. The data in this study are the main book and scientific journal on related themes. The analytical method used by the writer is descriptive qualitative method.The purpose of this study is to study the narratives of Kabanti and examine the values of Local Wisdom expressed by Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin in his work Kabanti bula malino. The results showed that Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, through Kabanti bula malino, was asked to return to follow the teachings of Islam, which he conveyed in Wolio, the language understood by the people he led at that time. Thought in terms of religiousness, ethics, morals, manners, and the advice of Sultan Kaimuddin which is spoken in his work becomes a tradition that is able to provide Local Wisdom (Local Wisdom) Muslim community on the island of Buton. Keywords: Sultan Muhammad Idrus, Kabanti, dan Local Wisdo

    LOCAL WISDOM PEMIKIRAN SULTAN MUHAMMAD IDRUS KAIMUDDIN DALAM KITAB KABANTI “ Bula Malino” (Telaah Kitab Sastra Kabanti “Bula Malino”

    Get PDF
    Masuknya agama Islam di Kesultanan Buton, telah membawa kedamaian dan perubahan dalam segala bidang termasuk pada aspek Local Wisdom (kearifan local). Hal ini melahirkan ulama-ulama yang memiliki pemikiran yang cemerlang berusaha menjadikan budaya Islam mewarnai budaya lokal. Salah satu ulama di Buton sekaligus sebagai Sultan yaitu Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al Buthuni (1824-1851). Pemikiran Sultan Kaimuddin menemukan esensi konsep ta krama menurut ajaran leluhur dalam Kabanti Bula Malino. Kabanti yang ditulis menggunakan tulisan Arab berbahasa Wolio menjadi tradisi sekaligus tuntunan norma masyarakat di Kesultanan Buton yang didalamnya banyak berisi petuah falsafah yang bersumber dari ajaran Islam. Jenis penelitian ini ialah penelitian kepustakaan (library research), dimana data-data yang dipakai adalah data kepustakaan. Data dalam penelitian ini adalah buku induk dan jurnal ilmiah tentang tema terkait. Metode analisis yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui narasi Kabanti dan menelaah nilai-nilai Local Wisdom yang di tuangkan oleh Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin dalam karyanya Kabanti bula malino. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, melalui Kabanti bula malino berusaha menyampaikan kembali ajaran-ajaran Islam, yang ia sampaikan dalam bahasa Wolio, bahasa yang dimengerti oleh masyarakat yang ia pimipin pada saat itu. Pemikiran dalam hal religiustas, etika,moral, tata krama, maupun nasehat Sultan Kaimuddin yang di tuangkan dalam karyanya tersebut menjadi sebuah tradisi yang mampu menjaga kearifan lokal (Local Wisdom) masyarakat muslim di pulau Buton. Keywords: Sultan Muhammad Idrus, Kabanti, dan Local Wisdo

    Penerapan metode dakwah mujadalah (as-ilah wa ajwibah) Muhammad Idrus Ramli dalam buku Madzhab Al-Asyari benarkah Ahlussunnah wal Jama’ah?

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode yang digunakan oleh Muhammad Idrus Ramli dalam menjawab petanyaan dari seseorang tentang kebenaran Madzhab Asyariah sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam penelitian ini seluruh data diperoleh melalui proses analisis kualitatif deskriptif dengan pola pikir induktif yaitu buku dianalisis melalui pendekatan-pendekatan ilmiah dalam studi Islam berdasarkan data langsung dari subyek penelitian. Penelitian ini pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan secara bersamaan. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah: Hasil akhir penelitian ini menunjukan metode yang dilakukan oleh Muhammad Idrus Ramli adalah dakwah melalui tulisan (dakwah bil qolam), cara menjawab pertanyaaan yang dilakukan oleh Muhammad Idrus Ramli dengan menggunakan pendekatan sejarah (history) dan pendekatan filosofis. Pendekatan tersebut digunakan untuk menjelaskan kembali tentang sejarah dan ajaran-ajaran akidah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Penggunaan metode dakwah Mujadalah (as-ilah wa ajwibah) yang dilakukan oleh Muhammad Idrus Ramli dengan melalui media buku termasuk dellayed feed-back artinya proses tanya jawab tidak terjadi secara langsung, melainkan antara pertanyaan dan jawaban terjadi rentang waktu yang cukup lama. Keberhasilan dakwah Muhammad Idrus Ramli, disebabkan adanya beberapa pemilihan metode dakwah yang sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini terjadi dengan pergeseran akidah akibat banyak aliran-aliran yang ada di Indonesia, sehingga perlu ditekankan adanya akidah yang sesuai dengan masyarakat Indonesia yang memang terdiri dari dari berbagai macam suku, budaya dan agama. Muhammad Idrus Ramli mengambil peran untuk mempertegas akidah Islam rahmatan lil alamin yang dijadikan simbol perjuangan oleh masyarakat nahdliyin. Penjelasan Idrus Ramli mengenai akidah Islamnahdliyin inilah yang menjadi dasar pembuatan buku tersebut. Menurut penulis secara keseluruhan dakwah yang dilakukan Muhammad Idrus Ramli merupakan khazanah dakwah yang harus terus dikembangkan bagi calon da’imasa depan. Karena tantangan kedepan akan semakin kompleks. Sehingga, selain seorang da’imempunyai kemampuan untuk berceramah, juga harus mempunyai kemampuan untuk menulis. Inilah tantangan yang harus dijawab oleh generasi masa depan

    Sayyid idrus bin salim al jufri pendiri alkhairaat dan kontribusinya dalam pembinaan umat tahun 2014

    No full text
    Sang pencerah yang dapat memberikan penerangan pada gelapnya hati dan pikiran manusia bagai pelita di kegelapan malam yang mampu menerangi alam semesta. Itulah deskripsi singkat yang pantas diucapkan dan terlintas dalam benak pikiran kami ketika memulai menulis dan mengedit naskah buku "Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri Pendiri Alkhairaat dan Kontribusinya dalam Pembinaan Umat". Sang pencerah, tidak berlebihan jika ungkapan itu disematkan kepada Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri, mengingat beliau hadir di Palu di ranah Kaili, dalam waktu dan kondisi yang tepat untuk melakukan pencerahan.xxx, 423 hlm, 25 x 17,4 c

    Sayyid idrus bin salim al jufri pendiri alkhairaat dan kontribusinya dalam pembinaan umat tahun 2014

    No full text
    Sang pencerah yang dapat memberikan penerangan pada gelapnya hati dan pikiran manusia bagai pelita di kegelapan malam yang mampu menerangi alam semesta. Itulah deskripsi singkat yang pantas diucapkan dan terlintas dalam benak pikiran kami ketika memulai menulis dan mengedit naskah buku "Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri Pendiri Alkhairaat dan Kontribusinya dalam Pembinaan Umat". Sang pencerah, tidak berlebihan jika ungkapan itu disematkan kepada Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri, mengingat beliau hadir di Palu di ranah Kaili, dalam waktu dan kondisi yang tepat untuk melakukan pencerahan.xxx, 423 hlm, 25 x 17,4 c

    Sayyid idrus bin salim al jufri pendiri alkhairaat dan kontribusinya dalam pembinaan umat tahun 2014

    No full text
    Sang pencerah yang dapat memberikan penerangan pada gelapnya hati dan pikiran manusia bagai pelita di kegelapan malam yang mampu menerangi alam semesta. Itulah deskripsi singkat yang pantas diucapkan dan terlintas dalam benak pikiran kami ketika memulai menulis dan mengedit naskah buku "Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri Pendiri Alkhairaat dan Kontribusinya dalam Pembinaan Umat". Sang pencerah, tidak berlebihan jika ungkapan itu disematkan kepada Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri, mengingat beliau hadir di Palu di ranah Kaili, dalam waktu dan kondisi yang tepat untuk melakukan pencerahan.xxx, 423 hlm, 25 x 17,4 c

    Budaya Pendidikan Islam di Kesultanan Buton pada Masa Pemerintahan Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin (Abad Ke -19 )

    No full text
    This study aimed to analyze the network of Islamic education in the Sultanate of Buton during the reign of Sultan Muhammad K. Kaimuddin. In addition, this study was also aimed to determine the factors that support public acceptance of the teachings application of Islam in the Sultanate of Buton during the reign of Sultan Muhammad K. Kaimuddin. The method used in this study was the historical method with a qualitative approach. Data collections techniques used were interviews, the study documentation through texts, literature study and observation. The results showed that: 1) a network of Islamic education in the Sultanate of Buton on 19th century had implemented an education system that integrates the local culture with the values ​​of the Qur\u27an based Sufism. The education system had been able to provide the ability for the Sultanate to build a political system, governance and security. Islamic education during the Sultanate still clearly visible on the implementation of the attitudes diversity of Buton society capable in integrating the noble values ​​of local with the noble values ​​of the Qur\u27an that are universal; 2) learning process that starts from the capital city of the Sultanate (the palace) and then spread to Kadie-Kadie onwards to barata region, which was a small kingdoms that had a structure of government and the community itself, take a long time and the process of distribution was quite long. Keywords: cultural education, Islam, Sultanate, ButonPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis jaringan pendidikan Islam di Kesultanan Buton selama masa pemerintahan Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. Selain itu, juga bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung penerimaan masyarakat terhadap penerapan ajaran Islam di Kesultanan Buton selama masa pemerintahan Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. Metode penelitian ini adalah menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, studi dokumentasi melalui naskah-naskah dan studi kepustakaan serta observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) jaringan pendidikan Islam di Kesultanan Buton pada abad ke-19 telah menerapkan sebuah sistem pendidikan yang mengintegrasikan antara budaya lokal dengan nilai-nilai Al-Qur\u27an yang berbasis Tasawuf. Sistem pendidikan ini telah mampu memberikan kemampuan bagi Kesultanan untuk membangun sistim politik, pemerintahan dan keamanan. Pendidikan Islam pada masa Kesultananan masih tampak dengan jelas implementasinya yakni pada sikap keberagaman masyarakat Buton yang mampu mengintegrasikan antara nilai-nilai luhur lokal dengan nilai-nilai luhur Al-Qur\u27an yang bersifat universal; 2) proses pembelajaran yang dimulai dari Ibu Kota Kesultanan (istana) kemudian menyebar ke kadie-kadie dan seterusnya ke wilayah barata, yang merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang memiliki struktur pemerintahan dan masyarakat sendiri, memakan waktu yang panjang dan proses penyebarannya cukup lama. Kata kunci: budaya pendidikan, Islam, Kesultanan, Buto

    نزهة المشتاق شرح لمع الشيخ أبي إسحاق على المنهج التوثيق والنقدي من أول الكتاب إلى مباحث الحقيقة والمجاز

    Get PDF
    ARABIC: خلفية البحث : لقد كان لعلماء البلد الحرام عنايةٌ خاصَّةٌ بكتاب «اللمع» للإمام الشيخ أبي إسحاق إبراهيم بن علي الشيرازي (ت ٤٧٦هـ) ، وإقبال خاصٌّ على تدريسه ، وقد شرحه الشيخ محمد يحيى أمان الحنفي المكي (ت ١٣٨٢هـ) في كتابه «نزهة المشتاق»، وأهمية الكتاب ترجع إلى أهمية العلم المبحوث فيه وهو علم أصول الفقه، وإلى المتن المشروح فيه وهو كتاب «اللُّمَع» ، وإلى مكانة الشارح الشيخ محمد يحيى أمان العلمية ، وإلى أن المتن المذكور يقرر مسائل أصول الفقه على طريقة الجمهور بينما شارح المتن من علماء الحنفية ، وقد طبع الكتاب في حياة المؤلف مع اشتماله على كثير من الأخطاء النصية والسقطات المطبعية، لأجل ذلك حاول الباحث أن يتحصل على نسخته الخطية حتى تحصل على معلومات بأنها ضاعت بعد طباعته، ومع ذلك فقد تحصَّل بعد ذلك على نسخة من المطبوعة وعليها تصحيحات المؤلف نفسه، مما يساعد كثيرًا على تصحيح ودراسة هذا الكتاب خلال هذا البحث . الهدف من البحث : إخراج جزء من الكتابِ المذكورِ محقَّقًا مُصحَّحًا منقَّحًا على الوجه الذي يغلب على الظن أن المؤلِّف الشيخ محمد يحيى أمان أراده وارتضاه ، مع دراسة عن كتاب اللمع ومؤلفه ، وكتاب نزهة المشتاق ومؤلفه ومنهجه وما فيه من مميزات ومآخذ . منهج البحث : اتخذ الباحث المنهج النقدي والتوثيقي في تحقيق الكتاب المذكور ، وقدَّم على ذلك مقدمة تشتمل على دراسة حول متن «اللمع» ومصنِّفه الشيخ الشيرازي ، ودراسة حول كتاب «نزهة المشتاق» ، وقام بترجمة المؤلف الشيخ محمد يحيى أمان مع دراسة الأحوال السياسية والعلمية والحركة الأصولية من تدريس وتأليف في القرن الرابع عشر الهجري الذي عاش فيه المؤلف ، كما قام بمقارنة كتاب «نزهة المشتاق» بكتاب «بغية المشتاق» للشيخ محمد ياسين الفاداني ، وبيَّن أهمَّ الفروقات التي يختص كلُّ كتاب به دون الآخر، ثم حقَّق الباحث نصَّ كتاب «نزهة المشتاق» من أوَّله إلى آخر مباحث الحقيقة والمجاز ، وعزا المسائل الأصولية وغيرها إلى المصادر التي يظَنُّ أن الشارح رجع إليها ، مع تحقيق الأقوال ، وترجمة الأعلام الواردة في النصّ ، وتخريج الآيات القرآنية والأحاديث النبوية والشواهد الشعرية . النتائج والتوصيات: توصَّل الباحث إلى أن الكتاب مطبوع في حياة المؤلف وقد فقدت نسخته الخطية وأن هذا غير مانع من تحقيقه ودراسته ، بل تُعَدُّ من الأصول الثانوية التي ينبغي الرجوع إليها في التحقيق ، وأن ما بقي من الكتاب حقيق بأن يوضع في أولوية الاهتمام بالدراسة والبحث في نصوصه على النهج والأسلوب المقرَّر في علم تحقيق النصوص ونشرها . ENGLISH: Background: The book The Refulgence of the Principles of Islamic Jurisprudence (Al-Luma’) had been given a special care by the scholars of Makkah who also had a special interest in teaching it. Sheikh Muhammad Yahya Aman Al-Hanafi Al-Makki (died in 1382AH) had explained Al-Luma’ in his book Nuzhat Al-Mushtaq. The importance of his book is attributed to the importance of the science it discussed which is principles of Islamic jurisprudence (Usul Al-fiqih), to the text discussed in it which is from Sheikh Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali Al-Shirazi Al-Shafi’i’s Al-Luma’, to the scientific status of Sheikh Muhammad Yahya Aman, as well as to the fact that the text aforementioned approves the issues of the principles of jurisprudence in the manner of the majority of scholars, while the text had been explained by a Hanafi scholar. The book was printed when the author is still alive, but it contained many mistakes and typographical errors. For that reason, the researcher have tried to look for a written copy for the book but he found out that the copy was lost after printing it. Fortunately, the researcher have obtained a printed copy containing the author’s corrections on those errors which helped a lot in correcting and studying this book through this research. Research aim: The aim of the research is to produce a part of the aforementioned book, Nuzhat Al-Mushtaq, edited, corrected and revised in a way that the author Sheikh Muhammad Yahya Aman would most likely accept it, with a study of Al-Luma and its author and Nuzhat Al-Mushtaq and its author in addition to an explanation of the author’s approach in his book and stating its characteristics and drawbacks. Methodology: The researcher have used the critical and the documentary approach to review the book aforementioned. He presented an introduction contained a study about Al-Luma’ and its author Al-Shaikh Al-Sherazi in addition to a study about the book Nuzhat Al-Mushtaq. He also wrote a biography of the author Al-Shaikh Mohammed Yahya Aman, with a study about the political and the scientific conditions and the fundamentalist movement back then during the author’s life in the 14th century AH. Moreover, The researcher has compared Nuzhat Al-Mushtaq with Al-Shaikh Mohammed Yassin Al-Fadani’s Bughiyat Al-Mushtaq and explained what distinguished each book from the other. The researcher also, investigated Nuzhat Al-Mushtaq’s text from the beginning to the end of the investigation of the truth and metaphor, and attributed the fundamentalist issues and others to the references which believed the author have used back then. In addition he reviewed the quotes and wrote biographies of each scholars who had been mentioned within the book, and provided authentications and verifications of Qur’an verses, Hadith and poetries that have been mentioned in the book. Research recommendation: The researcher concluded that even though the book Nuzhat Al-Mushtaq was printed during the lifetime of the author and its written copy was lost, it does not preclude it from being revised and studied. Rather, the book is considered to be one of the secondary assets that should be referred to; and what is left from the book should be put into priority for studying and and researching on the approach and method established by the science of textual criticism and publication. INDONESIA: Latar belakang: Para ulama di Kota Suci Mekkah memiliki perhatian khusus pada kitab Alluma' karya Al-Imam Asy-Syaikh Abu Ishaq Ibrahim Bin Ali Asy-syirazi (wafat 476 H.) dalam mengajarkannya. Juga As-Syaikh Muhammad Yahya Aman Al-Hanafi Al-Makki (wafat 1382 H.) telah menjelaskan kitab tersebut dalam karangannya Nuzhatul Musytaq. Orgensi suatu kitab kembali pada orgensi bidang ilmu yg dibahas di dalamnya yaitu Ilmu Ushul Fikih, pada matan yg dijelaskan yaitu Alluma’, juga pada kedudukan pengetahuan yang menjelaskan kitab tersebut yaitu As-Syaikh Muhammad Yahya Aman dan pada objek pembahasan dalam matan tersebut yaitu Ilmu Ushul Fikih menurut metodologi Aljumhur padahal yang menjelaskan matan tersebut bermadzhab Hanafi. Kemudian Kitab Nuzhatul Musytaq telah diterbitkan semasa hidup pengarangnya yaitu As-Syaikh Muhammad Yahya Aman, akan tetapi terdapat di dalamnya banyak kesalahan tekstual dan beberpa kata yang terhapus, oleh karena hal itu Peneliti mencarikan manuskrip kitab tersebut sehingga dapat informasi bahwa manuskripnya sudah tidak ditemukan lagi, cuman setelah itu peneliti mendapatkan naskah cetakan kitab itu dengan koreksian pengarangnya yang sangat membantu untuk mengkoreksi juga mengkaji ulang dalam penelitian ini. Tujuan Penelitian: Menerbitkan sebagian dari kitab tersebut yg telah diteliti, dikaji ulang dan dikoreksi sesuai dengan tata cara yang sekiranya ditujukan dan diinginkan oleh pengarang kitab tersebut. Juga memabahas tentang kitab Alluma' dan Pengarangnya, juga tentang kitab Nuzhatul Musytaq, pengarangnya, metode pembahasannya dan menjelaskan kelebihan juga kekurangan dari kitab tersebut. Metode Penelitian: Peneliti memilih Metode Documenter dan Metode Kritis untuk penelitian dalam kitab tersebut. Dan memulai dengan pembukaan yang mencakup atas Pembahasan sekitar matan Alluma’ juga pengarangnya syaikh Syirazi. Dan Pembahasan sekitar kitab Nuzhatul Musytaq. Kemudian peneliti membahas tentang biografi Pengarang yaitu Syaikh Muhammad Yahya Aman juga Mengkaji keadaan Politik, keilmuan dan pengembangan Ilmu Ushul Fikih dalam pembelajaran dan pengarangan pada abad 14 hijriyyah masa kehidupan pengarang tersebut. Juga melakukan komparasi kitab Nuzhatul Musytaq dengan kitab Bughyatul Musytaq karangan Syaikh Muhammad Yasin Al-Fadani, dan menjelaskan perbedaan terpenting yang membedakan satu kitab dengan yang lainnya. Kemudian meneliti teks kitab Nuzhatul Musytaq dari awal sampai akhir pembahasan hakikat dan Majas. Juga merujukkan setiap pembahasan Ushul atau selainnya pada sumbar yang dianggap sebagai rujukan. Dengan mengkaji juga meneliti pendapat-pendapat para ulama yang terdapat dalam kitab tersebut. Juga menjelaskan biografi setiap orang yang tercantum namanya di dalam teks kitab tersebut dan menyebutkan rujukan setiap ayat dari Al-Qur'an, hadits-hadits Nabi saw dan bait-bait syair. Simpulan dan Saran: peneliti mendapatkan kesimpulan bahwa kitab Nuzhatul Musytaq telah dicetak semasa hidup pengarang dan manuskripnya tidak ditemukan. Hal ini tidak menjadi penghalang untuk dijadikan sebagai bahan penelitian. Bahkan dianggap sebagai rujukan sekunder yang harus dijadikan referensi. Dan sisa kitab yang tidak diteliti dalam Tesis ini sangat pantas untuk diberi perhatian khusus supaya dijadikan bahan penelitian dengan metode yang ditetapkan dalam Ilmu Filologi

    KARAKTERISTIK KITAB HADIS SABĪL AL-SALĀM LI BULŪGH AL-MARĀM KARYA SULTAN MUHAMMAD IDRUS BUTON SULAWESI TENGGARA

    Get PDF
    Not many kings are also scholars. Not many scholars are also writers. Sultan Muhammad Idrus is a rare figure. He was a sultan (king) who had produced  numerous works in the fields of religion and literature. If all of his works were calculated, they would total more than fifteen. One of his works that needs to be shown to public is SabÄ«l al-SalÄm li BulÅ«gh al-MarÄm. This book is still manuscipt form. The research method used by the author in this article employs a method of library research. This research reveals several characteristics of the manuscript form of SabÄ«l al-SalÄm li BulÅ«gh al-MarÄm, Those are, first, the themes addressed in this hadith book, namely, targhÄ«b wa tarhÄ«b, and second, the hadiths are mentioned in short version without including their transmission system (sanad) except for those at the level of companions. Third, the hadiths are not solely derived from the al-kutub al-tis’ah, but also from other sources of hadith books. Additionally, it places the topic of sincerity (ikhlÄá¹£) not in the first chapter
    corecore