1,970 research outputs found
Pembatalan Hukuman Mati Hanky Gunawan Atas Dasar Tidak Terbukti Secara Sah dan Meyakinkan Memproduksi Narkoba Secara Terorganisir (Studi Kasus Putusan No. 39 PK/Pid.Sus/2011) / oleh Muhammad Fariz Wardhana
abstrak (A)Nama : Muhammad Fariz Wardhana; NIM: 205060185 (B) Judul Skripsi: Pembatalan Hukuman Mati Hanky Gunawan Atas Dasar Tidak Terbukti Secara Sah dan Meyakinkan Memproduksi Narkoba Secara Terorganisir (Studi Kasus Putusan No. 39 PK/Pid.Sus/2011). (C) Halaman : vi + 66 + 4 daftar pustaka + lampiran; 2013 (D)Kata Kunci : Pembatalan Pidana Mati, Peninjauan Kembali, Tindak Pidana Narkotika (E)Isi:Pro dan kontra terhadap pidana mati di Indonesia telah menimbulkan perdebatan dikalangan masyarakat termasuk hukuman mati bagi pelaku tindak pidana narkotika. Pihak yang setuju beralasan bahwa hukuman mati sangat efektif untuk memerangi narkoba, namun ada pihak yang menolak dan memandang bahwa hukuman mati melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Pandangan terhadap hukuman mati melanggar HAM telah masuk ke dalam pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam perkara Peninjauan Kembali (PK) Hanky Gunawan pada Putusan No. 39 PK/Pid.Sus/2011, sehingga telah menurunkan hukuman dari hukuman mati menjadi hukuman 15 tahun penjara. Skripsi ini mempertanyakan apakah pembatalan hukuman mati Hanky Gunawan atas dasar tidak terbukti secara sah dan meyakinkan memproduksi narkoba secara terorganisir sudah tepat dan sesuai dengan fakta-fakta di persidangan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum normatif. Perbuatan Hanky Gunawan telah terbukti unsur terorganisir yang didasarkan fakta-fakta dan barang bukti di persidangan. Karena kegiatan memproduksi psikotropika yang dilakukan oleh Brian, Lingso Direjo, Suwarno, dan Christian Salim alias Awe yang menyewa rumah, menyediakan bahan-bahan kimia, menampung, menjual dan mengedarkan psikotropika, maka unsur terorganisasi seharusnya dinyatakan telah terpenuhi. Sedangkan putusan pembatalan mati menjadi 15 tahun penjara terhadap Hanky Gunawan karena melanggar HAM dinilai tidak tepat, karena masalah pidana mati melanggar HAM bukan kewenangan Mahkamah Agung melainkan kewenangan dari Mahkamah Konstitusi. Jika pendapat hakim bahwa hukuman mati bertentang dengan HAM, maka seharusnya hakim menurunkan 1 (satu) tingkat menjadi hukuman seumur hidup. (F)Daftar acuan : 42 (1945-2013) (G)Dosen Pembimbing : Yuwono Prianto, S.H., M.H. (H) Penulis : Muhammad Fariz Wardhan
An Analytical Study of Women Related Verses of Sūra An-Nisaʾ
Softcover, 220 S.: 19,00 €Softcover, 17x24The issue of women in Islam is highly controversial. It is generally agreed that the rights granted to women in the Qur'an and by the prophet Muhammad were an improvement in comparison to the situation of women prior to the advent of Islam. After the Prophet's death the condition of women in Islam began to decline and revert back to pre-Islamic norms. In the twentieth century women's movement raised the issues of women's right. But the feminists in the Muslim world mostly were upper class women whose feminism was modeled after theories from the Western world. Modern socio-political models in the Muslim world after the colonial period began to shift from Western models of society and government to »Islamic« models, feminism in the Muslim world began to take on Islamic forms rather than following the Western feminist theories. Therefore, one of the main purposes of this book is to try to present an Islamic perspective i.e. Sura an-Nisa' (the forth sura of the glorious Qur'an) which is based on the interpretation of Schech Muhammad Mutawalli Ash-Sha'rawi and Muhammad Hasbi As-Ssiddiqi along with other Muslim feminists and thinkers
Representasi Ideologi Komunisme Dan Kepentingan Politis Dalam Lukisan Hendra Gunawan
Penelitian ini berupaya menggali kepentingan politik dan ideologi komunisme yang dianggap terepresentasi dalam lukisan Hendra Gunawan oleh rezim Orde Baru. Dengan menggunakan metode analisis isi, penelitian ini akan melihat kembali maksud yang berusaha disampaikan Hendra Gunawan dalam l0 lukisan bertema kehidupan rakyat yang berasal dari rentang tahun 1950-1968, suatu fase dimana intervensi partai politik dalam ranah kesenian dicurigai banyak terjadi. Dengan melihat kesesuaian antara pesan yang disampaikan Hendra dalam lukisannya, dengan indikator yang dirancang berdasarkan Prinsip Kesenian 1959 yang banyak memuat kepentingan politik kelompok komunis diranah kebudayaan, dapat dikatakan bahwa lukisan Hendra Gunawan merupakan lukisan yang cukup ideal bagi kepentingan kelompok komunis, dengan memenuhi 4 dari 5 aspek, yaitu aspek ideologis, perjuangan kelas, nilai budaya, dan aspek praktis. Namun tidak terpenuhinya 1 aspek berupa penggambaran kondisi ideal revolusi menghasilkan kemungkinan bahwa idealisme Hendra masih terjaga, satu kemungkinan yang sekaligus menjadi kelemahan dari penelitian ini, selain dari fokus penelitian yang hanya mengangkat 1 tokoh. Terlepas dari hal tersebut upaya pengungkapan fakta tentang Hendra Gunawan sangat penting untuk dilakukan sebab pada masanya Hendra dengan karyanya diakui sebagai salah satu maestro lukis yang dikenal secara luas, maka hilangnya sosok Hendra dari buku-buku sejarah telah menghilangkan salah satu bagian terpenting dari dunia Kesenian Indonesia
Gunawan Tjahjono & Josef Prijotomo: Postcolonial Traditionality
This small booklet contains the inaugural speeches of Gunawan Tjahjono and Josef Prijotomo on their appointments as professors at the University of Indonesiaand Surabaya Institute of Technology, 10 November. The texts provide novel insights into their respective approaches to Indonesian architecture, and appear here for the first time in English. An analytical reflection on their work by the architectural historian Abidin Kusno introduces them.History, Form & Aesthetic
Studi Analisis Isi: Representasi Kritik Politik dan Ideologi Komunis pada Lukisan Karya Hendra Gunawan
This study seeks to explore the political interests and ideology of communism which are considered to be represented in the paintings of Hendra Gunawan by the Orde Baru regime. Using the content analysis method, this study will review the intent that Hendra Gunawan was trying to convey in 10 paintings themed on people\u27s lives from 1950 to 1968, a phase where political party intervention in art is suspected. The results showed that there was a match between the political interests of the communist group and the interpretation of the painting in the form of messages expressed by Hendra in his paintings. By looking at the compatibility between the message conveyed by Hendra in his painting, and the indicators designed based on the Prinsip Kesenian 1959, most of which contain the political interests of the communist group in the cultural realm. So it can be concluded that Hendra Gunawan\u27s painting is a painting that is quite ideal for the interests of the communist group, by fulfilling 4 of 5 aspects, namely ideological aspects, class struggle, cultural values, and practical aspects. However, the non-fulfillment of 1 aspect in the form of describing the ideal conditions of the revolution resulted in the possibility of Hendra\u27s idealism being maintained, a possibility that is also a weakness of this research, in addition to the focus of research which only raises 1 character. Apart from that, it is very important to reveal the facts about Hendra Gunawan, because at that time Hendra with his work was recognized as one of the widely known masters of painting. It is hoped that, even though his paintings contain the ideology of communism, this does not necessarily become the reason for the disappearance of Hendra\u27s figure from history books. Because by eliminating the name Hendra Gunawan, it means you have removed an important part of the Indonesian art heritage.
Key Words : representation, politics, communism, paintings, hendra gunawan
Penelitian ini berupaya menggali kepentingan politik dan ideologi komunisme yang dianggap terepresentasi dalam lukisan Hendra Gunawan oleh rezim Orde Baru. Dengan menggunakan metode analisis isi, penelitian ini akan melihat kembali maksud yang berusaha disampaikan Hendra Gunawan dalam 10 lukisan bertema kehidupan rakyat yang berasal dari rentang tahun 1950-1968, suatu fase dimana intervensi partai politik dalam ranah kesenian dicurigai banyak terjadi. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesesuaian antara kepentingan politik kelompok komunis dengan hasil interpretasi lukisan berupa pesan yang diungkapkan Hendra dalam lukisannya. Dengan melihat kesesuaian antara pesan yang disampaikan Hendra dalam lukisannya, dengan indikator yang dirancang berdasarkan Prinsip Kesenian 1959 yang banyak memuat kepentingan politik kelompok komunis diranah kebudayaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lukisan Hendra Gunawan merupakan lukisan yang cukup ideal bagi kepentingan kelompok komunis, dengan memenuhi 4 dari 5 aspek, yaitu aspek ideologis, perjuangan kelas, nilai budaya, dan aspek praktis. Namun tidak terpenuhinya 1 aspek berupa penggambaran kondisi ideal revolusi menghasilkan kemungkinan bahwa idealisme Hendra masih terjaga, satu kemungkinan yang sekaligus
menjadi kelemahan dari penelitian ini, selain dari fokus penelitian yang hanya mengangkat 1 tokoh. Terlepas dari hal tersebut upaya pengungkapan fakta tentang Hendra Gunawan sangat penting untuk dilakukan, sebab pada masanya Hendra dengan karyanya diakui sebagai salah satu maestro lukis yang dikenal secara luas. Diharapkan, meski ideologi komunisme terdapat dalam karya lukisannya, namun hal itu tidak serta merta dapat dijadikan alasan hilangnya sosok Hendra dari buku-buku sejarah. Karena dengan menghapus nama Hendra Gunawan, berarti telah menghilangkan salah satu bagian penting dari dunia kesenian Indonesia.
Kata Kunci: Komunisme, Ideologi, Lukisan, Hendra Gunawan
 
"Why aren't you a Muslim?"Pride and prejudice through Gunawan Mahmood's teen fiction
This essay examines the role of the dominant Malay intelligentsia in imagining Malaysia, using as platform for discussion two contemporary teen novels by Gunawan Mahmood: This Land (originally published in Malay as Tanah Ini in 1996; out in English translation in 2002) and Namaku Ayoko (My Name is Ayoko; 1994). The chosen author and texts are little known outside of the Malay literary world, which alters not the fact that Gunawan is a multiple award-winning, state-affiliated writer who, like many of his Malay-Muslim contemporaries and predecessors, believes that “those with knowledge ought to write” and “literature should educate, awaken and inspire society” (in Mahmood, 1993:x). Gunawan is an ‘intellectual’ insofar as he participates in the production and distribution of knowledge, as someone who professes a vocation for the art of “representing, embodying, articulating a message, a view, an attitude, philosophy or opinion to, as well as for, a public” (Said, 1996:11). (Text by author
PENGUKURAN BRAND AWARENESS PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS FISIP UPN “VETERAN” YOGYAKARTA (Studi Pada Siswa SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta)
Oleh Muhammad Syafitri Gunawan, Nomor Mahasiswa 152070079,
Program Studi Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Judul
“Pengukuran Brand Awareness Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis
FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta (Studi pada Siswa SMA
Muhammadiyah 3 Yogyakarta)”,2012. Dosen Pembimbing : Bapak
Humam Santosa.U. S.Sos.M.AB dan Ibu Rosalia Dwi Fadma T.J.
S.Sos.M.Si.
Pentingnya meneliti Brand Awareness, karena awareness merupakan
aset yang dapat memberikan nilai tersendiri dimata pelanggannya. Aset
yang dikandungnya dapat membantu pelanggan atou calon konsumen
dalam menafsirkan, memproses, dan menyimpan informasi yang terkait
dengan produk dan merek tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui berada diposisi mana tingkat kesadaran akan program studi
Ilmu Administrasi Bisnis. Penelitian ini beracuan pada kerangka
pemikiran A Aker tentang tingkat Brand Awarenes yaitu Unaware of Brand,
Brand Reconition, Brand Recall, dan Tof of Mind.
Tipe penelitian yang digunakan adalah Deskriptif, yaitu jenis
penelitian yang hanya menggambarkan, meringkas berbagai kondisi dan
stimulasi yang ada. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan
menggunakan kuisioner, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan
memberi daftar pertanyaan kepada responden. Populasi dalam penelitian
ini adalah siswa kelas XI-IPS SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta. dari
populasi tersebut didapat sampel sebanyak 30 responden.
Hasil penelitian mengenai tingkat kesadaran merek terhadap
Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis adalah bahwa dari 30 responden
Top of Mind menjadi posisi pertama dalam benak konsumen. Dengan
demikian jurusan Administrasi Bisnis UPN “veteran Yogyakarta
merupakan jurusan yang paling diingat responden
Kata kunci : Brand Awarenes
Persepsi Ulama di Kota Buntok Kabupaten Barito Selatan Tentang Pemutaran Suara Panggil Walet oleh Pelaku Usaha Walet
Muhammad Gunawan. 2018. Persepsi Ulama dikota Buntok Kabupaten Barito Selatan Tentang Pemutaran Suara Panggil Walet oleh Pelaku Usaha. Skripsi, Jurusan Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah. Pembimbing (I) Prof, Dr, H. M. Fahmi Al Amruzi M. Hum. (II) H. Fuad Luthfi, S.Ag, S.H, M.H.
Kata kunci: Persepsi Ulama Tentang Pemutaran Suara Panggil Walet,
Penelitian ini mengemukakan tentang persepsi ulama di kota Buntok Kabupaten Barito Selatan tentang pemutaran suara panggil walet. Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi ulama di kota Buntok Kabupaten Barito Selatan tentang pemutaran suara panggil walet serta alasan dan dasar hukum dari persepsi tersebut.
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan deskriftif kualitatif. Penelitian ini berlokasikan di Kabupaten Barito Selatan. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap 6 orang ulama di Kabupaten Barito Selatan yang yang telah memenuhi kreteria penelitian. Setelah data terkumpul kemudian diolah dengan teknik editing dan kategorisasi. Untuk memperoleh kesimpulan hukumnya, dilakukan analisis secara kualitatif terhadapat data yang didapat.
Hasil penelitian ini adalah 4 dari 6 ulama menganggap haram hukumnya suara panggil walet yang melebihi batas kewajaran yang membuat orang lain terganggu dari istirahatnya, dan 2 ulama beranggapan boleh saja pemutaran suara panggil walet ini karena masyarakat dianggap sudah terbiasa dengan suara panggil walet tersebut. Dan pendapat para ulama ini didasari dengan ayat Al-Quran, hadis, kaidah ushul fiqih
SHINME DALAM TANPEN HOKUSHU SHOGUN TO SANNIN KYODAI NO ISHA KARYA MIYAZAWA KENJI
ABSTRAK
SHINME DALAM TANPEN HOKUSHU SHOGUN TO
SANNIN KYODAI NO ISHA KARYA MIYAZAWA KENJI
Oleh: Muhammad Hanafi Gunawan
Kajian pada penelitian ini mengenai shinme, yaitu kuda yang dipersembahkan
kepada Kami-sama, yang terdapat dalam tanpen Hokushu Shogun to Sannin Kyodai
no Isha karya Miyazawa Kenji. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
pendekatan Sosiologi Sastra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan ciri
dan karakteristik dari shinme, serta tradisi dalam mempersembahkan shinme yang
terdapat dalam tanpen Hokushu Shogun to Sannin Kyodai no Isha karya Miyazawa
Kenji. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan metode kualitatif dan
metode studi pustaka dalam pengumpulan data. Berdasarkan hasil dari penelitian,
ditemukan bahwa ciri dan karakteristik kuda yang dipersembahkan sebagai shinme
adalah kuda putih milik Shogun. Kuda putih tersebut memiliki fisik yang kuat dan
mampu berlari dengan sangat cepat, meskipun sudah berusia tua bagi kuda yaitu tiga
puluh sembilan tahun. Kuda putih yang juga merupakan peliharaan Shogun yang
telah bersama selama tiga puluh tahun. Kuda putih tersebut kemudian sebagai matsuri
atau ritual untuk shinme. Tradisi mempersembahkan kuda putih tersebut sebagai
shinme dilakukan di sebuah aula kecil atau disebut dengan shinmesha. Diiringi
dengan rangkaian membawa awa atau jawawut, dan menegakkan nobori atau bendera
yang dibuat dengan menggunakan bahan dari rami.
Kata kunci: Shinme, Matsuri, Tradisi, Hokushu Shogun to Sannin Kyodai no Ish
- …
