94 research outputs found
Penafsiran Ayat-Ayat Mukjizat Ulul Azmi: studi komparatif tafsir the holy qur'an dan tafsir al-mishbah)
Sejarah penafsiran ayat-ayat al-Qur’an sejak periode awal hingga saat ini telah mengalami perkembangan, sehingga menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda walaupun menggunakan metode yang sama. Maulana Muhammad Ali dan M. Quraish Shihab adalah mufasir yang sama-sama menggunakan metode bi al-ra’y (logika), namun dalam menafsirkan ayat-ayat mukjizat ulul ‘azmi memiliki kecenderungan penafsiran yang berbeda. Dari latar belakang masalah di atas, diformulasikan rumusan masalah yaitu, (1). Bagaimana penafsiran Maulana Muhammad Ali dan M. Quraish Shihab terhadap ayat-ayat mukjizat ulul ‘azmi dalam The Holy Qur’an dan Tafsir Al-Mishbah?. (2). Apa yang melatarbelakangi Maulana Muhammad Ali dan M. Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat-ayat mukjizat para nabi ulul ‘azmi. (3). Bagaimana komparasi penafsiran Maulana Muhammad Ali dan M. Quraish Shihab terhadap ayat-ayat mukjizat ulul ‘azmi dalam The Holy Qur’an dan Tafsir Al-Mishbah?. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang berbasis riset kepustakaan (library research). Sumber utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Tafsir The Holy Qur’an Maulana Muhammad Ali dan Tafsir Al-Mishbah M. Quraish Shihab. Dalam analisis data, peneliti menggunakan teknik penulisan memo analitik (analytic memo writing), sebagai tipe khusus catatan analitis yang memanajemen diskusi, pemikiran, refleksi, komentar, dan ide dari peneliti dalam proses klasifikasi, koding dan pentemaan. Studi melakukan integrasi, analisis, dan sintesis selektif dengan memperhatikan teks, konteks dan wacana (discourse). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, penafsiran ayat-ayat mukjizat ulul ‘azmi dalam The Holy Qur’an dan Tafsir Al-Mishbah terdapat perbedaan penafsiran. Maulana Muhammad Ali cenderung menafsirkan dengan “teologis liberalis”. sedangkan M. Quraish Shihab cenderung menafsirkan secara “teologis dogmatis.” Kedua, faktor yang dominan melatarbelakangi penafsiran Maulana Muhammad Ali dan M. Quraish Shihab adalah faktor sosial lingkungan. Hal ini bisa dilihat dari sumber yang digunakan oleh kedua mufasir banyak kesamaan, namun menghasilkan penafsiran yang berbeda. Ketiga, penafsiran ayat-ayat mukjizat ulul ‘azmi antara Maulana Muhammad Ali dan M. Qurais Shihab menemukan beberapa perbedaan dan persamaan. Persamaan yang mendasar adalah kedua mufasir ketika menafsirkan ayat-ayat mukjizat memberikan bukti-bukti ilmiah atas kebenaran al-Qur’an. Perbedaan mendasar adalah Maulana Muhammad Ali inkonsisten dalam memaknai mukjizat, dengan menolak mukjizat para nabi sebelum Muhammad saw, namun menerima mukjizat Muhammad saw berupa al-Qur’an. Berbeda dengan M. Quraish Shihab yang tetap konsisten dalam memaknai mukjizat para nabi dan nabi Muhammad saw
Perancangan Informasi Kisah Para Nabi Ulul Azmi Melalui Video Animasi
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media video animasi pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar pada anak, Ulul Azmi adalah gelar yang di berikan Allah kepada Nabi yang berjumlah 5, yaitu Nabi Muhammad, Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Nuh, dan Nabi Ibrahim, anak-anak sekolah dasar harus mengetahui kisah-kisah beserta mukjizat yang ada pada Nabi Ulul Azmi, penyampaiannya melalui Media Video Animasi sehingga membuat anak menjadi lebih tertarik kerena penyampaian informasinya melalui Video yang di dalamnya juga terdapat music, sehingga membuat anak-anak menjadi lebih tertarik dan tidak bosan. Tujuan Penelitian ini juga untuk menghasilkan media pembelajaran dan mendeskripsikan efektivitas media video animasi untuk meningkatkan motivasi belajar pada anak-anak
Analisis Korelasi Dakwah Tauhid terhadap Kualitas Umat Dalam Kisah Ulul ‘Azmi
This study aims to analyze the correlation of the dakwah of monotheism to the quality of the people through the stories of the ulul ‘azmi in the Qur’an. The method used in this research is library research with a qualitative approach.The results of this study conclude that people who accept the call to monotheism have very good qualities of faith, intellectual or intelligence qualities, and moral and social qualities in their lives and become people who receive salvation from Allah. While people who reject and deny the call to monotheism have very weak qualities of faith, and poor moral qualities which lead them to the wrath of Allah. This study also concludes that there are six dakwah strategies for da’i that can be applied in order to achieve a people with good quality in life.
Keywords: Al-Quran; Dakwah; Monotheism; People and Ulul ‘Azmi
PENGARUH KERUSAKAN SAND FILTER PADA REVERSE OSMOSIS TERHADAP PRODUKSI AIR TAWAR DI MV. TELFORD 25
ABSTRAKSI
Muhammad Ulul Azmi, 551811216651 T, 2022, “Pengaruh kerusakan sand filter
pada reverse osmosis terhadap produksi air tawar di MV. Telford 25”, skripsi
Program Studi Teknika, Program Diploma IV, Politeknik Ilmu Pelayaran
Semarang, Pembimbing I: Dr. F. Pambudi Widiatmaka S. T., M.T,
Pembimbing II: Capt. Eko Murdiyanto, Sp 1, M. Pd., M.Mar.
Reverse Osmosis plant adalah suatu permesinan bantu yang dioperasikan
untuk mengubah air laut menjadi air tawar dengan menggunakan prinsip tekanan.
Tujuan dari perawatan Reverse Osmosis adalah untuk. 1) Untuk mengetahui sebab
mengapa terjadi penurunan produksi air tawar, 2) Untuk mengetahui upaya apa saja
yang harus dilakukan untuk mengatasi penurunan produksi air tawar pada Reverse
Osmosis. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode Deskriptif
Kualitatif dengan teknik SHEL dan USG sebagai metode untuk menentukan
penyebab dan upaya untuk menanggulanginya.
Penurunan produksi air tawar pada reverse osmosis disebabkan oleh rusaknya
filter pasir yang disebabkan oleh tertahanya pipa outlet filter karena banyaknya
endapan yang ada di filter pasir dikarenakan air laut yang kotor dan kurangnya
perawatan pada filter pasir.
Dari hasil penelitian ini disimpulkan outlet filter pasir (prioritas 1),
Komunikasi yang buruk (prioritas 2), Air laut kotor (prioritas 3), Kurang
berjalannya planned maintenance sistem (PMS) diatas kapal khusnya pada reverse
osmosis (prioritas 4). Saran untuk menunjang kelancaran operasional kapal adalah
Meningkatkan kesadaran para crew akan pentingnya melaksanakan pembersihan
dan perawatan komponen Reverse Osmosis secara berkala. Dan Sebaiknya
perusahaan segera melengkapi dan mencarikan manual book yang sesuai dengan
permesinan yang ada di kapal agar seluruh crew tidak mengalami kesulitan dalam
melaksankan perawatan permesinan
PERAN GURU DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK USIA DINI MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL DI TK ULUL AZMI WAY HUWI LAMPUNG SELATAN
ABSTRAK
Karakter merupakan nilai-nilai prilaku manusia yang
berhubungan dengan budaya dan adat istiadat. Media audio visual
yaitu salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan untuk
menyampaikan cerita pada anak guna membantu mengembangkan
karakter anak usia dini Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
bagaiamana peranan guru dalam membentuk karakter anak usia dini
melalui media audio visual di Taman Kanak-kanak Ulul Azmi way
huwi Lampung selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan
deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian 1 guru dan 16 peserta
didik. Alat pengumpulan data yang peneliti gunakan yaitu observasi,
wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis secara kualitatif dengan
menggunakan reduksi, display dan menarik kesimpulan. Hasil
penelitian yang dilakukan penulis dapat dilihat bahwasanya karakter
anak usia dini di Taman Kanak-kanak Ulul Azmi way huwi mulai
berkembang, dapat dilihat dari kondisi anak yang mulai berkembang
(MB) 8 anak Dari 16 anak. penulis meyimpulkan bahwa peran guru
dalam membentuk karakter anak usia dini melalui media audio visual
di Taman Kanak-kanak Ulul Azmi way huwi yaitu sebagai: sumber
belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, motivator,
evaluator, dapat membentuk karakter Anak usia dini melalui kegiatan
menonton cerita dengan memperhatikan langkah-langkah dan
indikator pencapaian yang sesuai dengan perkembangan karakter anak
usia dini
Kata Kunci: Media Audio Visual, Membentuk Karakter, Peran
Guru
iii
ABSTRACT
Character is human behavioral values related to culture and
customs. Audio visual media is one of the learning media that can be
used to convey stories to children to help develop the character of early
childhood. This research aims to find out the role of teachers in forming
the character of early childhood through audio visual media at the Ulul
Azmi Way Huwi Kindergarten. South Lampung. This research used a
qualitative descriptive approach with research subjects of 1 teacher and
16 students. The data collection tools that researchers use are
observation, interviews and documentation. Data was analyzed
qualitatively using reduction, display and drawing conclusions. From
the results of the research carried out by the author, it can be seen that
the character of early childhood children at the Ulul Azmi Way Huwi
Kindergarten is starting to develop, it can be seen from the condition of
the children who are starting to develop (MB) 8 children out of 16
children. The author concludes that the role of teachers in forming the
character of early childhood through audio-visual media at the Ulul
Azmi Way Huwi Kindergarten is as: learning resource, facilitator,
manager, demonstrator, mentor, motivator, evaluator, can form honest,
cooperative, and responsibilities for early childhood through the activity
of watching stories by paying attention to the steps and achievement
indicators that are appropriate to the character development of early
childhood.
Keywords: Audio Visual Media, Character Building, Teacher's
Rol
Family's Messengers Stories of Ulul Azmi in The Quran (A Thematic Interpretation)
This thematic study has based on the verses about the stories (Qaṣaṣ), the kind is the story of the Ulul Azmi messengers. Ulul Azmi messengers are the five prophets who were special by Allah as in Q.46:35, Q.33:7, and Q.42:13. They are messengers who have the high determination and patience in fighting for the Allah’s religion. A messenger was a usual people who certainly lives in a family, they have parents, wives, and children. Whether the special degree that they get was also supported by family support or even their own family which be test for themselves, because defiance or denial of the Allah law. So, how does the Quran explained their family stories and their position as part of a family? This question will be tried to be answered in this thesis research.
The research method is the thematic method (Mauḍū‘ī Method) which is presented based on the description and analysis of the Quran’s verses about family’s messengers stories of ulul azmi as primary data, would be taking from the interpretations of several commentaries book collected and then analyzed carefully by author, after that complement data from histories books and stories of the prophets books and other related readings.
Family’s messengers stories of Ulul Azmi becomes interesting because their family members were not fully obedient people. The Prophet Nuh was preached for 950 years but only a few of people were believers, and among those who did not believe were his wife and child. The Prophet Ibrahim has a father who a carver of idol and he had to awaken his father to follow a straight path, but his father was still stubbornly opposed. Then, Ibrahim married Sarah, then remarried a slave named Hajar. From Hajar he obtained a child named Ismail and from Sarah even they were old, God gave Ishaq to them. And all of the prophets after Ibrahim came from the generations of Ismail and Ishaq. The Prophet Musa, a baby born in the age of a boy must be killed, but Allah gave inspiration to his mother to make a chest and wash it in the Nile, until the chest beyond the king’s unjust palace, he was even cared and becomes king’s foster son. He fled to Madyan, and then he married a shepherd girl. The Prophet Isa was born from the holy girl was a servant of Baitul Maqdis, since his birth his mother had been bombarded with various heinous accusations because puerperal a baby without marriage, so Isa who was still in the cradle spoke and explained to his peoples to defend his mother. The Prophet Muhammad tested when his wives demanded more shopping, and he could only leave them for one month until the verse came down to this problem. There are some verses of the Quran concerned his wives, they are Khadijah, Aishah, Hafṣah, and Zainab.
Based on the results of analysis was getting family’s messengers stories of Ulul Azmi that not all of them was obedient people, some were pious and some were disbelieved to died. Each family’s messengers stories tucked many valuable lessons, about the piety of the parents who descend to their children, family relations in hereafter, family functions, responsibilities as parents, the good children, to obedience and betrayal of a wife.
Keyword: family’s messengers stories, ulul azmi
Bentuk pengendalian emosi dalam Al-Qur'an Studi tematik analisis kisah para nabi ulul azmi
Pengendalian emosi yang baik, tidak hanya mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat, akan tetapi bagaimana bersikap dan memahami perasaan dari diri sendiri atau orang lain. Terkait dengan pengendalian emosi tidak semuanya positif, tetapi ada juga yang sifatnya negatif. Kemudian bagaimana dengan para nabi, apakah mereka yang dianugerahkan ‘ismah langsung dari Allah Swt. akan terbebas dari kesalahan atau justru kesalahannya akan mengurangi kemaksumannya sebagai utusan Allah Swt. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penafsiran ayat-ayat yang mengenai emosi dan bentuk pengendalian emosi dari kisah nabi ulul azmi dalam Al-Qur’an. Adapun data primer yang berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas bentuk pengendalian emosi. Sedangkan data sekundernya menggunakan kitab-kitab tafsir dari Tafsir Al-Qurthubi, Al-Misbah, Al-Azhar, Al-Munir, Fi Zilalil Qur’an. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu studi kepustakaan dengan metode deskriptif-analisis yang fokus kajiannya terletak pada para nabi ulul azmi. Dengan pendekatan psikologi yang dibantu dengan buku dari M. Darwis Hude yang berjudul Emosi Penjelajahan Religio-Psikologis tentang Emosi Manusia di dalam Al-Qur’an dan jurnal yang berkaitan dengan tema pembahasan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari penafsiran Al-Qur’an mengenai bentuk pengendalian emosi dari kisah para nabi ulul azmi memiliki keragaman emosi serta bentuk pengendalian emosinya. Nabi Nuh a.s. pada ayat QS. Nuh [71]: 21 marah dan di ayat QS. Hud [11]: 45 sedang sedih. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. juga menunjukan marahnya pada ayat QS. Al-Anbiya’ [21]: 57-58 dan di ayat QS. As-Saffat [37]: 103 kepasrahan atas perintah-Nya. Nabi Musa a.s. pada QS. Al-A’raf [7]: 150 yang marah dan dalam QS. Al-Qashash [28]: 18 ketakutan. Nabi Isa a.s. QS. Al-Ma’idah [5]: 118 yang memasrahkan semua urusannya kepada Allah. Nabi Muhammad saw. pada ayat QS. Ali ‘Imran [3]: 128 yang hendak marah dan dalam QS. ‘Abasa [80]: 1 memunculkan muka tidak sukanya. Ditemukan dari kisah nabi ulul azmi ini bentuk emosi, diantaranya marah, sedih, sabar dan takut. Kemudian dari para nabi yang mengeluarkan emosinya dalam bentuk yang berbeda-beda dapat dikategorikan dengan model atau bentuk pengendalian emosi menurut buku dari M. Darwis Hude yang membahas religio-psikologis tentang emosi manusia, yang diantaranya; pertama, displacement atau pengalihan yang bentuknya meliputi katarsis, rasionalisasi dan dzikrullah. Kedua, cognitive adjustment meliputi husudzon, empati dan altruisme. Ketiga, coping yang dalam wujudnya ada sabar-syukur, pemberian maaf dan adaptasi-adjustment
The story of the Ulul Azmi Prophets in the Qur\u27an and its relationship with Emotional Intelligence
The Ulul Azmi prophets in the Qur’an—Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, and Muhammad SAW—faced deep psychological conflicts amid severe trials from their communities. This study explores their inner struggles and the moral and psychological lessons (ibrah) relevant to developing emotional intelligence today. Using qualitative thematic interpretation and interdisciplinary analysis combining tafsir and psychology, it reveals unique emotional challenges for each prophet: Nuh’s frustration from rejection, Ibrahim’s dilemma over sacrificing his son, Musa’s trauma and guilt, Isa’s social pressures, and Muhammad’s burden of leadership and rejection. Their responses demonstrated core emotional intelligence traits like regulation, patience, empathy, and resilience. The prophetic narratives thus provide valuable lessons for emotional and spiritual resilience in modern life. The Ulul Azmi prophets in the Qur’an—Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, and Muhammad SAW—faced deep psychological conflicts amid severe trials from their communities. This study explores their inner struggles and the moral and psychological lessons (ibrah) relevant to developing emotional intelligence today. Using qualitative thematic interpretation and interdisciplinary analysis combining tafsir and psychology, it reveals unique emotional challenges for each prophet: Nuh’s frustration from rejection, Ibrahim’s dilemma over sacrificing his son, Musa’s trauma and guilt, Isa’s social pressures, and Muhammad’s burden of leadership and rejection. Their responses demonstrated core emotional intelligence traits like regulation, patience, empathy, and resilience. The prophetic narratives thus provide valuable lessons for emotional and spiritual resilience in modern life
Meneladani Kesabaran dan Ketabahan Rasul Ulul ‘Azmi dalam Berdakwah: Studi Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an
One of the basic substative content of the Qur'an is the the story of the past as a form of dakwah methods of the Qur'an to mankind. Among the story is about the Apostles of Ulul 'Azmi. They were included Noah, Moses, Abraham, Isa, and the Muhammad. They were all prophets and messengers who faced the strong challenges and opposition from their people, but thanks to their courage and patience they remained strong and continued to fight for the sake of upholding the Tawheed on this earth. Their character should be followed by every person who wants to take part in the field of dakwah and concentrate on calling people to the religion of Allah
PENGARUH GIRO WADIAH DAN GIRO MUDHARABAH TERHADAP PROFITABILITAS BANK SYARIAH YANG TERDAFTAR DI BEI
Skripsi dengan judul “Pengaruh Giro Wadiah dan Giro Mudharabah Terhadap Profitabilitas Bank Syariah yang Terdaftar di BEI” ini ditulis oleh Muhammad Ulul ‘Azmi. NIM. 12401183266, pembimbing Dr. Syafrudin Arif Marah Manunggal, M.S.I.
Profitabilitas sebuah perusahaan akan menggambarkan tingkat efektifitas kinerja keuangan bank, menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Pengukuran rasio ini penting dilaksanakan untuk mengetahui stabilitas keuangan suatu perusahaan. Dalam penelitian ini, profitabilitas diukur dengan menggunakan Return on Asset (ROA). Semakin besar nilai ROA suatu bank maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut, dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset. Profitabilitas atau keuntungan merupakan tujuan semua jenis usaha atau perusahaan, termasuk dalam kegiatan perbankan. Kajian dalam penelitian ini penting dilaksanakan untuk mengetahui kondisi terbaru kinerja keuangan Bank Syariah yang terdaftar di BEI, mengenai pengaruh Giro Wadiah dan Giro Mudharabah terhadap Profitabilitas Bank Syariah yang terdaftar di BEI.
Pendekatan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif, dengan jenis penelitian
asosiatif. Sumber data yang akan diolah atau diuji dalam penelitian adalah dari
laporan keuangan triwulan Bank Syariah yang terdaftar di BEI periode 2018 2020. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel pada penelitian ini adalah non probability sampling. Dan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 48 sampel. Teknik analisis yang digunakan yaitu uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda, uji hipotesis, dan uji koefisien determinasi.
Hasil pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukkan bahwa variabel giro wadiah (X1) tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas bank syariah yang terdaftar di BEI dan juga menunjukkan bahwa variabel giro mudharabah (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas bank syariah yang terdaftar di BEI. Akan tetapi melalui uji f atau uji simultan menunjukkan bahwa secara bersama-sama giro wadiah dan giro mudharabah memiliki pengaruh signifikan terhadap profitabilitas bank syariah yang terdaftar di BEI. Mengacu dari hasil pengujian tersebut maka dalam peningkatan profitabilitas Bank Syariah tidak hanya bertumpu pada satu produk perbankan saja, namun memaksimalkan berbagai produk pembiayaan yang ada di Bank Syariah. Dengan tujuan akhir dapat menambah atau menjaga rasio profitabilitas perusahaan.
Kata Kunci : Giro Wadiah, Giro Mudharabah, Profitabilita
- …
