1,600 research outputs found
Dibawah panji muhammad : melihat lebih dalam sosok pemimpin terbaik dunia
Nabi Muhammad saw adalah sosok teladan sempurna bagi umat islam. di balik siftanya sebagai manusia biasa, beliau juga sosok pengamal al-qur'an yang merupakan sumber inti ajaran islam, rahmatan lil'alamin. artinya, segala yang dikerjakan beliau berlandaskanNabi Muhammad adalah sosok teladan sempurna bagi umat Islam. Dibalik sifatnya sebagai manusia biasa, beliau juga sosok pengamal Al-Qur'an yang merupakan sumber inti ajaran Islam, rahmatan lil'alamin. Artinya, segala yang dikerjakan beliau berlandaskan sumber hukum paling utama tersebut. Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin terbaik dunia sekaligus tersukses. Beliau menorehkan prestasi yang sangat gemilang nan cemerlangxx, 192 hlm, 21 x 14,1 c
Dibawah panji muhammad : melihat lebih dalam sosok pemimpin terbaik dunia
Nabi Muhammad saw adalah sosok teladan sempurna bagi umat islam. di balik siftanya sebagai manusia biasa, beliau juga sosok pengamal al-qur'an yang merupakan sumber inti ajaran islam, rahmatan lil'alamin. artinya, segala yang dikerjakan beliau berlandaskanNabi Muhammad adalah sosok teladan sempurna bagi umat Islam. Dibalik sifatnya sebagai manusia biasa, beliau juga sosok pengamal Al-Qur'an yang merupakan sumber inti ajaran Islam, rahmatan lil'alamin. Artinya, segala yang dikerjakan beliau berlandaskan sumber hukum paling utama tersebut. Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin terbaik dunia sekaligus tersukses. Beliau menorehkan prestasi yang sangat gemilang nan cemerlangxx, 192 hlm, 21 x 14,1 c
Studi analisis konsep Maulana Muhammad Ali tentang jihad
Jihad merupakan satu konsep dan tuntutan dalam Islam yang agak polemik dan kontroversi. berbagai kesalah fahaman tentang pengertian jihad serta konsep jihad yang sebenarnya menurut Islam, telah menjadi isu yang menarik dan sensitif di kalangan masyarakat dunia dewasa ini. Baik dari kalangan orang islam sendiri maupun dari non-islam lebih lagi dari pemikir bangsa Eropa yang mendiskriditkan Islam identik dengan kekerasan. Pada tahun 1930, pemikir dari Belanda A.J. Wensinck, mengeluarkan buku pedoman tentang hadits yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Handbook of Early Muhammadan Tradition. Dalam buku itu terdapat keterangan mengenai jihad yang berarti "perang suci" dan didalam buku The Religion of Islam F.A. Klean seorang pendeta inggris mengartikan jihad "perang melawan kaum kafir dengan tujuan memaksa mereka memeluk agama Islam"
Melihat banyak kekeliruan dari pemikir bangsa Eropa tersebut ada keterpanggilan Maulana Muhammad Ali untuk meluruskan pengertian berbagai pengarang barat, dan sehingga juga di dalam buku The Religion of Islam karya Muhammada Ali, dia menyoroti dari pemikir orang Islam itu sendiri yaitu, dari golongan ulama ahli fiqih yang menurut Muhammad Ali didalam sebagian besar pembahasan kitab-kitab fiqih ketika membahas tentang jihad mereka mengidentikannya dengan qital (perang), dan lama kelamaan arti istilah jihad yang luas menjadi sempit. Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui konsep jihad menurut Maulana Muhammad Ali. (2) untuk mengetahui apa yang melatar belakangi pemikiran Maulana Muhammad Ali yang menganggap keliru pengertian jihad persfektif ulama fiqih.
Jenis penelitian ini adalah kepustakan (librari reseach) yang bersifat kualitatif. dalam menganalisis penulis menggunakan metode (1) Metode komparatif, yaitu metode pemekaran inti dalam pemikiran yang membandingkan konsep pemikiran Maulana Muhammad Ali dengan ulama fiqih. (2) Metode hermeneutic, yaitu, metode penafsiran isi sebuah teks. (3) Metode historis yaitu sebuah proses yang meliputi pengumpulan dan penafsiran gejala, peristiwa ataupun gagasan yang timbul di masa lampau, untuk menemukan generalisasi yang berguna dalam usaha untuk memahami kenyataan-kenyataan sejarah. (4) Metode Deskriptif Analitis yaitu, cara penulisan dengan mengutamakan pengamatan terhadap gejala, peristiwa dan kondisi aktual di masa sekarang.
Adapun hasil penelitian menujukkan Pertama, Nilai-nilai ajaran yang ditawarkan Maulana Muhammad Ali tentang jihad adalah mengupayakan adanya kelenturan berpikir atas teks-teks jihad yang terkandung di dalam Al-Qur`an dan sunah Rasulullah SAW. Yaitu sikap jihad yang masih bersifat universal dalam konteks penerapannya di segala persoalan kehidupan yang masih komplek dan kontekstual. Implikasi konsep jihad Muhammad Ali akan memberikan pencerahan pemikiran dan pembelaan terhadap Islam dari kalangan yang mendiskriditkan Islam sebagai sarang teroris. Kedua, Adapun yang membedakan persepsi jihad antara ulama fiqih dan maulana Muhammad Ali hanya pada dimensi sudut pandangnya saja. Ulama fiqih lebih mengedepankan aspek formalitas dan otoritas syariah, dalam memberikan makna jihad pada nash Al-Quan dan hadist Nabi SAW. Mereka Mengacu pada makna hakiki syar’i (makna syari’ah). Sedangkan Muhammad Ali cenderung kurang formal tapi lebih pada upaya realisasi konsep jihad yang bersifat universal dan kontekstual. Pemikran Muhammad Ali sendiri di pengarui oleh pemikran Mirza Ghulam Ahmad sebagai pendiri Ahmadiyah yang berorientasi pada pembaharuan pemikiran yang bercorak liberal dan kontekstual
Peranan Mahasiswa Kkn dalam Melaksanakan Kegiatan di Bidang Sosial dan Pendidikan sebagai Wujud Pengabdian di Kelurahan Sei Seluang
KKN Reguler Gelombang 2 Universitas Islam Negeri Aji Muhammad Idris di Kelurahan Sei Seluang Kecamatan Samboja merupakan salah satu bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kuliah Kerja Nyata dilaksanakan sejak tanggal 13 Juli 2023 hingga 23 Agustus 2023. Kegiatan terdiri dari kegiatan inti, kegiatan desa, dan kegiatan tambahan. Artikel ini membahas kegiatan desa dan kegiatan tambahan mahasiswa KKN. Kegiatan KKN bertujuan untuk memberi pengalaman dan sebagai proses pembelajaran bagi mahasiswa untuk menggali potensi-potensi desa yang dapat dikembangkan masyarakat. Metode pelaksanaan KKN di lokasi terdiri dari kegiatan survey, dan perencanaan kegiatan tambahan selain kegiatan inti yang telah direncanakan. Kegiatan di bidang social dan pendidikan ini didukung oleh pemerintah dan bahkan masyarakat setempat . Hal tersebut ditunjukkan dalam kegiatan mahasiswa KKN banyak melibatkan masyarakat dari berbagai golongan. Dari Kelurahan beserta aparatnya banyak melibatkan mahasiswa KKN dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan Kelurahan seperti Gotong Royong, Mengecat Gapura Kelurahan, Senam jantung sehat, Partisipasi dalam kegiatan pawai 1 Muharram dan Kegiatan Posyandu Balita dan juga Posyandu Lansia. Bentuk kegiatan lainnya dari bidang Pendidikan dengan mengajar di MTS N 4 Kukar, TK ABA Samboja, TPQ Al-Jannah, Melatih PBB di SDN 012 Samboja dan Melatih PBB di MI Muhammadiyah Samboja
EPISTEMOLOGI KRITIK MATAN HADIS MUHAMMAD ALFATIH SURYADILAGA
Abstrak
Artikel ini membahas tentang Epistemologi Kritik Matan Hadis Muhammad Alfatih Suryadilaga. Beliau merupakan dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memiliki karya cukup banyak berupa artikel dan buku. Epistemologi merupakan sebuah pemikiran sedangkan kritik matan adalah menyangga atau mengomentari isi dari inti sari hadis. Artikel ini bertujuan untuk Pertama, bagaimana sumber pemikiran Muhammad Alfatih Suryadilaga mengenai kritik matan hadis? Kedua, bagaimana metode kritik matan hadis menurut Muhammad Alfatih Suryadilaga? Ketiga, bagaimana uji validitas hadis menurut Muhammad Alfatih Suryadilaga? Metode penelitian yang digunakn adalah jenis penelitian kualitatif metode deskriptif analitis dan bersifat kepustakaan (Library Research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Muhammad Alfatih Suryadilaga mengenai kritik matan hadis adalah selalu menekankan kontekstualisasi dengan mengkaitkan isu-isu sekarang. Dalam mengkritik matan hadis beliau memiliki cara atau metode tersendiri, seperti mengkritik atau seleksi matan hadis (naqdu al-matan). Menafsirkan makna matan hadis (syarh al-matan). Klarifikasi matan hadis (qism al-matan). Dengan begitu akan mempermudah untuk mengkritik sebuah matan hadis. Mengkritik atau menyangga isi hadis dan melalukan validitas hadis dirasa cukup penting sebab untuk mengetahui kebenaran hadis atau sahih tidaknya hadis. Dalam pemikiran Muhammad Alfatih Suryadilaga selain mengkritik matan beliau juga mencontohkan ilmu sains untuk kevalidan sebuah hadis. Dapat dicontohkan seperti hadis mengenai manfaat air kemih unta serta air susu unta dan hadis tentang menuntut ilmu. Kevalidan dua hadis tersebut sudah terbukti didalam kitab Sahih Bukhari dengan begitu dua hadis tersebut dapat dinyatakan terbukti kesahihannya.
Kata Kunci: Epistemologi, Kritik Matan Hadis, Muhammad Alfatih Suryadilag
Strategi Pembelajaran Menghafal Al-Qur’an pada Program Tahfidz di PTAIN
Program Tahfidz pada perguruan tinggi Islam menjadi salah satu program unggulan. UIN Sultan Aji Muhammad Idris melaksanakan program ini pada Ma’had Al-Jami’ah. Setiap perguruan tinggi pasti menerapkan strategi pembelajaran menghafal al-Qur’an untuk mencapai tujuan program Tahfidz ini. Peneliti ingin mengetahui bagaimana strategi pembelajaran menghafal Al-Qur’an yang diterapkan pada Program Tahfidz Ma’had Al-Jami’ah UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan uji kredibilitas berupa triangulasi sumber dan teknik. Data dianalisis melalui tiga langkah utama yaitu kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran menghafal al-Qur’an pada program Tahfidz di Ma’had Al-Jami’ah terdiri dari, pertama: tahapan perencanaan berupa penyusunan pedoman pelaksanaan (walaupun belum sistematis) dan tujuan program, penentuan metode menghafal berupa sistem klasik (muraja’ah dan ziyadah), sumber pembelajaran berupa Al-Qur’an berstandar Rasm Utsmani, materi setoran hafalan, alat dan media penghubung berupa penggunaan WhatsApp, dan bentuk penilaian secara langsung tanpa ada buku setoran, penentuan tenaga pengajar yakni dosen pengampu yang berkompeten, penerimaan mahasantri pemula maupun lanjutan, dan lingkungan pembelajaran yang fleksibel. Kedua, pelaksanaan pembelajaran terdiri dari kegiatan awal yaitu dilaksanakan secara langsung memulai kegiatan setoran tanpa pemberian motivasi dan kurang variatif, pada kegiatan inti, menerapkan strategi penguatan dan strategi retensi Tahfidz. Pada kegiatan penutup, tidak ada kegiatan tertentu yang dilaksanakan. Ketiga penilaian (evaluasi) yang terdiri dari evaluasi proses berupa evaluasi bulanan (belum disediakan lembar evaluasi) dan evaluasi hasil pencapaian pada setiap akhir semester ganjil/genap
Konsep Fana Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dalam Perspektif Psikologi Integral Ken Wilber
Konsep fana merupakan salah satu inti ajaran tasawuf
yang menggambarkan proses transendensi ego menuju penyatuan eksistensial
dengan Tuhan. Dalam khazanah Islam Nusantara, gagasan ini memperoleh bentuk
yang khas melalui karya Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr
al-Nafis. Kitab tersebut menjelaskan tiga tingkatan fana: fana af‘al, fana sifat, dan
fana dzat, yang secara sistematis menguraikan perjalanan ruhani seorang salik dari
kesadaran perbuatan hingga peniadaan total diri di hadapan Allah. Namun, kajian
akademik terhadap fana selama ini masih dominan dalam ranah teologi, filsafat,
dan filologi sufistik. Sementara itu, perspektif psikologi modern, khususnya
psikologi integral, belum banyak digunakan untuk membaca ulang konsep ini.
Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini berupaya menjembatani kesenjangan
antara tradisi sufistik dan teori kesadaran kontemporer.
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis konsep fana menurut Syekh
Muhammad Nafis al-Banjari serta mengintegrasikannya dengan kerangka psikologi
integral Ken Wilber. Secara khusus, penelitian ini hendak mengidentifikasi korelasi
antara tingkatan fana dengan spektrum kesadaran transpersonal, serta menempatkan
ajaran al-Durr al-Nafis dalam dialog lintas-disiplin yang lebih luas.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka
dengan model hermeneutika integral. Teks klasik al-Durr al-Nafis dianalisis
melalui kerangka AQAL (All Quadrants, All Levels, All Lines, All States, All
Types) Ken Wilber, sehingga pembacaan tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga
intersubjektif, kultural, dan multidimensi. Analisis dilakukan dengan memetakan
ajaran fana dalam tiga tahapannya ke dalam level-level kesadaran Wilber, mulai
dari vision-logic hingga nondual.
Hasil penelitian menunjukkan adanya kesepadanan antara tiga tingkatan fana
dengan tahapan kesadaran transpersonal. Fana af‘al dapat dipadankan dengan
kesadaran vision-logic yang melampaui ego rasional; fana sifat paralel dengan
tahap subtle yang menyingkap realitas batiniah dan simbolik; sedangkan fana dzat
berhubungan dengan kesadaran nondual, yakni kondisi kesatuan mutlak tanpa
dualitas subjek-objek. Integrasi ini menegaskan bahwa pengalaman mistik Islam
memiliki relevansi teoretis dengan perkembangan kesadaran manusia dalam
perspektif psikologi modern.
Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa Integrasi antara konsep fana dan
psikologi integral Wilber mengukuhkan bahwa pengalaman mistik dalam Islam
dapat dijelaskan secara rasional dan sistematik tanpa kehilangan kedalaman
spiritualnya. Tradisi sufistik yang terwujud dalam karya Syekh Muhammad Nafis
terbukti memiliki struktur psikospiritual yang tidak hanya relevan dalam konteks
religius tradisional, tetapi juga sejalan dengan perkembangan teori kesadaran
kontemporer
Komparasi antara ego dalam konsep Muhammad Iqbal dan insan perspektif Ali Syari’ati
Dalam skripsi ini penulis mencoba untuk mengulas pemikiran Muhammad Iqbal dan Ali Syari'ati, mengenai manusia dan falsafahnya. Sebagai seorang pemikir, keduanya memiliki kepercayaan yang mendalam terhadap tujuan Tuhan kepada penciptaan manusia dijagad alam semesta ini. Keduanya pun sama-sama kritis menilai perkembangan peradaban dan kebudayaan modern, yang di kuasai oleh filsafat rasionalisme, utilitarianisme, materialisme, historisme, dan berbagai Ideologi lainnya. Di tengah-tengah sulitnya kehidupan modern untuk menerima agama sebagai suatu faktor penyelamat umat manusia. Islam telah terbukti mampu tetap eksis bertahan dan maju, sebagai agama yang mampu menjawab seluruh tantangan kehidupan modern. Islam jika dilihat dari sisi filsafat penciptaan manusia, bisa membangkitkan inti kebebasan jati diri manusia yang mandiri dan luhur, dalam sosoknya yang ideal dan tetap religius, yang cocok dengan kondisi perkembangan dunia pada setiap zamannya. Agama Islam karena teori Humanisme ke-Ilahiyannya yang awalnya dipusatkan pada asas ketauhidan, pertama menggambarkan manusia pada tingkat analisis sebagai tanah, lalu menaikkannya pada tingkat yang mulia. "Dari tanah menuju Allah", itulah dua dimensi kemahklukan manusia. Kemudian Allah menjadikan manusia sebagai khalifahnya di muka bumi, lalu memberikannya amanat di atas alam semesta guna mengolahnya, sekaligus juga sebagai pemimpin atas alam ini, dan serta sebagai satu-satunya mahkluk yang mampu menentukan masa depan sendiri dengan kehendak bebasnya. Humanisme Barat yang mengarah pacla atheisme, telah menjadi banyak harapan para kaum pemikir diBarat, sebagai pembela ummat manusia sesudah masa Renaissance. Dan utamanya digadang-gadang untuk menggantikan peran agama sebagai jalan utama bagi keselamatan manusia. Sebenarnya justru telah mendudukkan dan menjatuhkan martabat manusia pada sesuatu yang diciptakan oleh alam, lingkungan dan tindak-tanduk prilaku sosial dan individu, pikiran, sampai pada manusia itu sendiri. ltulah kesimpulan dari penulis, setelah menyelami gagasan pemikiran kedua tokoh yang sedang di kaji, yakni Muhammad Iqbal dan Ali Syari'ati
Konsep Fana Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dalam Perspektif Psikologi Integral Ken Wilber
Konsep fana merupakan salah satu inti ajaran tasawuf
yang menggambarkan proses transendensi ego menuju penyatuan eksistensial
dengan Tuhan. Dalam khazanah Islam Nusantara, gagasan ini memperoleh bentuk
yang khas melalui karya Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr
al-Nafis. Kitab tersebut menjelaskan tiga tingkatan fana: fana af‘al, fana sifat, dan
fana dzat, yang secara sistematis menguraikan perjalanan ruhani seorang salik dari
kesadaran perbuatan hingga peniadaan total diri di hadapan Allah. Namun, kajian
akademik terhadap fana selama ini masih dominan dalam ranah teologi, filsafat,
dan filologi sufistik. Sementara itu, perspektif psikologi modern, khususnya
psikologi integral, belum banyak digunakan untuk membaca ulang konsep ini.
Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini berupaya menjembatani kesenjangan
antara tradisi sufistik dan teori kesadaran kontemporer.
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis konsep fana menurut Syekh
Muhammad Nafis al-Banjari serta mengintegrasikannya dengan kerangka psikologi
integral Ken Wilber. Secara khusus, penelitian ini hendak mengidentifikasi korelasi
antara tingkatan fana dengan spektrum kesadaran transpersonal, serta menempatkan
ajaran al-Durr al-Nafis dalam dialog lintas-disiplin yang lebih luas.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka
dengan model hermeneutika integral. Teks klasik al-Durr al-Nafis dianalisis
melalui kerangka AQAL (All Quadrants, All Levels, All Lines, All States, All
Types) Ken Wilber, sehingga pembacaan tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga
intersubjektif, kultural, dan multidimensi. Analisis dilakukan dengan memetakan
ajaran fana dalam tiga tahapannya ke dalam level-level kesadaran Wilber, mulai
dari vision-logic hingga nondual.
Hasil penelitian menunjukkan adanya kesepadanan antara tiga tingkatan fana
dengan tahapan kesadaran transpersonal. Fana af‘al dapat dipadankan dengan
kesadaran vision-logic yang melampaui ego rasional; fana sifat paralel dengan
tahap subtle yang menyingkap realitas batiniah dan simbolik; sedangkan fana dzat
berhubungan dengan kesadaran nondual, yakni kondisi kesatuan mutlak tanpa
dualitas subjek-objek. Integrasi ini menegaskan bahwa pengalaman mistik Islam
memiliki relevansi teoretis dengan perkembangan kesadaran manusia dalam
perspektif psikologi modern.
Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa Integrasi antara konsep fana dan
psikologi integral Wilber mengukuhkan bahwa pengalaman mistik dalam Islam
dapat dijelaskan secara rasional dan sistematik tanpa kehilangan kedalaman
spiritualnya. Tradisi sufistik yang terwujud dalam karya Syekh Muhammad Nafis
terbukti memiliki struktur psikospiritual yang tidak hanya relevan dalam konteks
religius tradisional, tetapi juga sejalan dengan perkembangan teori kesadaran
kontemporer
Komparasi antara ego dalam konsep Muhammad Iqbal dan insan perspektif Ali Syari’ati
Dalam skripsi ini penulis mencoba untuk mengulas pemikiran Muhammad Iqbal dan Ali Syari'ati, mengenai manusia dan falsafahnya. Sebagai seorang pemikir, keduanya memiliki kepercayaan yang mendalam terhadap tujuan Tuhan kepada penciptaan manusia dijagad alam semesta ini. Keduanya pun sama-sama kritis menilai perkembangan peradaban dan kebudayaan modern, yang di kuasai oleh filsafat rasionalisme, utilitarianisme, materialisme, historisme, dan berbagai Ideologi lainnya. Di tengah-tengah sulitnya kehidupan modern untuk menerima agama sebagai suatu faktor penyelamat umat manusia. Islam telah terbukti mampu tetap eksis bertahan dan maju, sebagai agama yang mampu menjawab seluruh tantangan kehidupan modern. Islam jika dilihat dari sisi filsafat penciptaan manusia, bisa membangkitkan inti kebebasan jati diri manusia yang mandiri dan luhur, dalam sosoknya yang ideal dan tetap religius, yang cocok dengan kondisi perkembangan dunia pada setiap zamannya. Agama Islam karena teori Humanisme ke-Ilahiyannya yang awalnya dipusatkan pada asas ketauhidan, pertama menggambarkan manusia pada tingkat analisis sebagai tanah, lalu menaikkannya pada tingkat yang mulia. "Dari tanah menuju Allah", itulah dua dimensi kemahklukan manusia. Kemudian Allah menjadikan manusia sebagai khalifahnya di muka bumi, lalu memberikannya amanat di atas alam semesta guna mengolahnya, sekaligus juga sebagai pemimpin atas alam ini, dan serta sebagai satu-satunya mahkluk yang mampu menentukan masa depan sendiri dengan kehendak bebasnya. Humanisme Barat yang mengarah pacla atheisme, telah menjadi banyak harapan para kaum pemikir diBarat, sebagai pembela ummat manusia sesudah masa Renaissance. Dan utamanya digadang-gadang untuk menggantikan peran agama sebagai jalan utama bagi keselamatan manusia. Sebenarnya justru telah mendudukkan dan menjatuhkan martabat manusia pada sesuatu yang diciptakan oleh alam, lingkungan dan tindak-tanduk prilaku sosial dan individu, pikiran, sampai pada manusia itu sendiri. ltulah kesimpulan dari penulis, setelah menyelami gagasan pemikiran kedua tokoh yang sedang di kaji, yakni Muhammad Iqbal dan Ali Syari'ati
- …
