1,008 research outputs found
Hakikat tafakkur menurut Muhammad Husein Thabathaba'i dalam Tafsir al-Mizan
Tafakkur yaitu merenungi ayat-ayat keEsaan Allah Swt. dan kebesaran-Nya. Kata tafakkur dalam Alquran banyak disebut termasuk kata-kata yang memiliki kedekatan makna dengan kata tafakkur. Pemaknaan dan konsep tafakkur mesti merujuk kepada tafsir-tafsir Alquran. Secara bahasa tafakkur diterjemahkan menjadi “berfikir”. Term berfikir memerlukan kajian terhadap tafsir filosofis. Thabathaba’i adalah salah satu mufassir yang banyak menafsirkan dengan analisis filsafat termasuk makna-makna esote.ris.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hakikat tafakkur (berfikir) dalam Alquran menurut Muhammad Thabathaba’i dalam tafsir al-Mizan.
Dalam mengkaji kata tafakkur dalam Alquran, yaitu dari kata fakara yang berarti ‘berfikir’. Kata fakara diulang satu kali dalam Alquran, kemudian kata tafakkur sebanyak 17 kali. Dalam tafsir al-Mizan terdapat tiga ayat yang tidak ditafsirkan, dan 14 ayat yang ditafsirkan.
Penelitian ini menggunakan jenis data kualitatif dengan mengoprasikan metode tafsir tematik, kitab-kitab, karya-karya ilmiah yang berhubungan dengan pembahasan yang diteliti. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analitik yaitu dengan menganalisis kata tafakkur, kemudian menguraikan hasil atau jawaban dari permasalahan melalui pemikiran Muhammad Thabathaba’i dalam tafsirnya, al-Mizan. Metode ini termasuk ke dalam riset tematik tokoh, yakni kajian tematik yang dilakukan melalui tokoh untuk mendapatkan jawaban dari hasil pemikirannya. Adapun sumber primer dari penelitian ini yaitu kitab al-Mizan fii Tafsir Alquran karya Muhammad Thabathaba’i disertai sumber sekundernya yaitu referensi-referensi yang berkaitan dengan objek penelitian yaitu tafakkur. Sehingga dapan menjadi penguat atau pendukung dalam penelitan.
Hasil penelitian ini, menunjukan bahwa tafakkur menurut Muhammad Husein Thabathaba’i sedikit berbeda dengan ulama/mufassir yang lain. Kebanyakan para ulama berpendapat tafakkur adalah merenungkan akan kekuasaan Allah atas semua ciptaan-Nya. Sedangkan menurut Muhammad Thabathaba’i tidak hanya merenungkan, menghayati, tetapi disertai dengan pikiran yang kritis akan sesuatu yang diciptakan dan yang terjadi, dan mengambil hikmah pelajaran akan penomena yang terjadi. Menurutnya, tafakkur yaitu berfikir, merenungkan hakikat kehidupan dunia dan akhirat. Maksusdnya yaitu mengkaji hakikat wujud yaitu hakiakat semua yang ada seperti alam, manusia, keadaan sosial masyarakat, dan apa sebab akibat manusia bisa bahagia dan menderita. sehingga tafakkur yaitu berfikir dengan akal yang kritis
Kata Mizan Dalam Prespektif Tafsir Al-Mizan Dan Implikasinya Terhadap Nilai Pendidikan (Kajian Surat Ar-Rahman dan Al-Hadid)
Artikel ini membahas makna kata mizan dalam Al-Qur’an prespektif tafsir Al-Mizan dan implikasinya terhadap nilai pendidikan, penafsiran ini merupakan kitab tafsir karya Muhammad Husain Thabathaba’i. Dalam Al-Qur’an terdapat lafadz mizan, kemudian dari lafadz itu kami bahas dengan Tafsir Al-Mizan karya Muhammad Husain Thabathaba’i, sehingga tujuan dalam artikel ini yaitu mengetahui makna lafadz mizan dan implikasinya terhadap nilai pendidikan prespektif tafsir Al-Mizan. Adapun fokus dalam permasalahan, penelitian ini menggunakan metode Library research dengan menggabungkan deskriptif dan kualitatif. Adapun data yang dikumpulkan berupa pendapat-pendapat para tokoh ataupun mufassir Muhammad Husain Thabathaba’i dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema yang diambil, kemudian mengumpulkan beberapa referensi seperti buku, jurnal, dan riset-riset yang sudah ada. Riset ini menghasilkan bahwa makna lafadz mizan prespektif tafsir Al-Mizan adalah keadilan dan keseimbangan yang terdapat pada surat Ar-Rahman ayat tujuh sampai delapan dan Al-Hadid ayat 25
Manhaj Tafsir Al-Mizan Fi Tafsir al-Quran karya Muhammad Husain Thabathaba’i
The affirmative era is a continuation of the formative era. This era occurred in the Middle Ages, when the tradition of interpreting the Qur\u27an already had many specific and varied features. This era is also judged to be based on ideological reasoning. Tafsir al-Mizan is included in the category of interpretation in the affirmative era because some of its interpretations are based on the ideological rationale of the exegete, namely Muhammad Husain Tabataba\u27i. This study aims to describe the manhaj used in Tafsir Al-Mizan Fi Tafsir al-Quran by Muhammad Husain Tabataba\u27i in studying a verse of the Koran. The methods used in this research are the library research method and descriptive analysis. The results from this research are: Tafsir al-Mizan is a phenomenal work by Muhammad Husain Tabataba\u27i. His work is inseparable from the author\u27s thoughts, who has a philosophical background in thinking. Even so, the interpretation uses the uslub of the Qur\u27an, bil Qur\u27an, and also contains many other commentators\u27 opinions. So the interpretation is called a "very complete interpretation" because it contains many fields of knowledge. The special manhaj or method of writing the interpretation of al-Mizan, namely interpreting the book in sequential order, explains the purpose of the interpreted surah or verse, cites the opinions of the reviewers of the Qur\u27an and also presents his view, has its section on the discussion of history, specializes in the discussion of philosophical aspects, and provides general conclusions from the verse or letter being studied
Muhammad Husain Tabataba'i dan Tafsir Al-Mizan:: Kajian Syafa’at dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah
This research is focused on the views and interpretations of Muhammad Husain Thabahaba'i regarding intercession in his commentary, al-Mizan Fi Tafsir al-Qur'an. Discussion of intercession is a debate between Sunni and Shia groups. One of these debates is conveyed in the form of interpretation of the Koran or interpretation of the Koran. Interpretation of verses regarding intercession is influenced by ideological interests, such as Sunni and Shia interests. This means that the Sunni group has a different interpretation from the Shia group regarding intercession, the intercessor, the form of intercession in the Qur'an. This research is a library (Library Research) with the research object focused on Tafsir al-Mizan Fi Tafsir al-Qur'an. This study uses a thematic approach (Maudlu'i), the analytical method used is descriptive-analytical. This study found two major conclusions. First, Tabataba'i understands syafa'at in the sense of obtaining benefits and to keep harm away. As for the group of intercessors, Tabataba'i divides them into two: (a) intercessors in the life of the world and (b) intercessors in the hereafter. Second, in interpreting QS. al-Baqarah: 48, 123, and 254, Tabataba'i understands it as a rejection of giving absolute intercession to the Jews. Meanwhile, in interpreting QS. al-Baqarah: 255. Tabataba'i understands that intercessors are absolutely given by Allah SWT and by groups who get permission or are pleased from Allah, such as the Prophet Muhammad SAW and the Shia Imams.Peneltian ini difokuskan pada pandangan dan penafsiran Muhammad Husain Thabahaba’i mengenai syafa’at dalam tafsirnya, al-Mizan Fi Tafsir al-Qur’an. Pembahasan mengenai syafa’at menjadi perdebatan antara kelompok Sunni dan Syi’ah. Perdebatan ini salah satunya disampaikan dalam bentuk interpretasi al-Qur’an atau tafsir al-Qur’an. Tafsir ayat-ayat mengenai syafa’at dipengaruhi oleh kepentingan ideologi, semisal kepentingan Sunni dan Syi’ah. Artinya, kelompok sunni memiliki tafsir yang berbeda dengan kelompok Syi’ah mengenai syafa’at, pemberi syafa’at, bentuk syafa’at dalam al-Qur’an. Penelitian ini adalah kepustakaan (Library Research) dengan objek penelitian terfokus pada kitab Tafsir al-Mizan Fi Tafsir al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan tematik (Maudlu’i), metode analisis yang digunakan, deskriptif-analitis. Penelitian ini menemukan dua kesimpulan besar. Pertama, Thabathaba’i memahami syafa’at dalam pengertian memperoleh keuntungan dan untuk menjauhkan mudharat. Adapun kelompok pemberi syafa’at oleh Thabathaba’i membaginya menjadi dua: (a) pemberi syafa’at dalam kehidupan dunia dan (b) pemberi syafa’at di akhirat. Kedua, dalam menafsirkan QS. al-Baqarah: 48, 123, dan 254, Thabathaba’i memahaminya sebagai penolakan pemberian syafa’at secara mutlak kepada orang yahudi. Sedangkan dalam menafsirkan QS. al-Baqarah: 255. Thabathaba’i memahaminya bahwa pemberi syafa’at itu mutlak diberikan oleh Allah SWT dan oleh kelompok yang mendapatkan izin atau ridha dari Allah, seperti Nabi Muhammad SAW dan para Imam Syi’a
Ahlubait dalam surat Al-Ahzab ayat 33: Studi komparatif antara Tafsir Al-Mizan dan Tafsir Al-Misbah
ABSTRAK
Penafsiran ahlubait dikalangan para ulama seringkali terjadi perbedaan. Hal ini disebabkan oleh berbedanya setiap inidividu mufassir beserta latar belakangya. salah satu surat yang membahas ahlubait adalah surat al-Ahzab ayat 33, dimana pada tafsir ini para ulama banyak berbeda pendapat mengenai siapa saja yang masuk sebagai ahlubait dan penyucian ahlubait sebagai orang-orang yang memiliki keutamaan dan kekhususan, karena memiliki nasab yang tersambung dengan Rasulullah SAW. Penelitian ini membahas terkait bagaimana persamaan dan perbedaan tafsir al-Mizan dan tafsir al-Misbah mengenai penafsiran ahlubait dalam surat al-Ahzab ayat 33 dan bagaimana kelebihan dan kekurangan tafsir al-Mizan dan tafsir al-Misbah mengenai penafsiran ahlubait dalam surat al-Ahzab ayat 33.
Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Penulis menggunakan studi komparatif sebagai metode untuk membandingkan penafsiran antara tafsir al-Mizan dan tafsir al-Misbah. Kemudian data pada penelitian ini diperoleh dari sumber-sumber primer yaitu surat al-Ahzab ayat 33, tafsir al-Mizan, dan tafsir al-Misbah. Sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, artikel, jurnal, dan sumber-sumber pendukung lainnya.
Hasil kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat persamaan penafsiran antara tafsir al-Mizan dan tafsir al-Misbah pada poin yang dimaksud sebagai ahlubait adalah nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, dan Husain. Kedua, terdapat perbedaan diantara dua kitab tersebut yang juga masuk dalam maksud dari ahlubait secara definitif dan poin penyucian ahlubait, Ketiga, terdapat kelebihan dan kekurangan pada penafsiran yang ada pada kedua tafsir, kelebihan dan kekurangan yang ada dapat ditemukan pada tafsir al-Mizan yang lebih condong ke salah satu golongan saja, sedangkan pendapat yang terdapat pada al-Misbah lebih luas dengan dengan tidak condong kesalah satu golongan.
ABSTRACT
The interpretation of ahlubait among scholars often differs. This is due to the differences in each individual interpreter and their background. One of the letters that discusses the ahlubait is surah al-Ahzab verse 33, where in this interpretation the scholars have many different opinions regarding who is included as an ahlubait of the prophet Muhammad SAW. Differences of opinion also occur in the discussion of the purification of the ahlubait as people who have virtues and specialties, because they have a lineage that is connected to the Prophet Muhammad. This research discusses the similarities and differences between the tafsir al-Mizan and tafsir al-Misbah regarding the interpretation of the ahlubait in surah al-Ahzab verse 33 and the advantages and disadvantages of the tafsir al-Mizan and tafsir al-Misbah regarding the interpretation of the ahlubait in surah al-Ahzab verse 33.
This research is research using qualitative methods with the type of library research. The author uses comparative studies as a method to compare interpretations between tafsir al-Mizan and tafsir al-Misbah. Then the data in this research was obtained from primary sources, namely surah al-Ahzab verse 33, tafsir al-Mizan, and tafsir al-Misbah. Meanwhile, secondary data was obtained from books, articles, journals and other supporting sources
The conclusion of this research is that there are similarities in interpretation between the tafsir al-Mizan and the tafsir al-Misbah at the point that those referred to as ahlubait are the prophet Muhammad SAW, Ali bin Abi Talib, Fatimah, Hasan, and Husain. Second, there are differences between the two books which are also included in the definitive meaning of ahlubayt and the point of purification of ahlubayt. Third, there are advantages and disadvantages in the interpretations of both tafsir. The advantages and disadvantages that exist can be found in the interpretation of al-Mizan which is more inclined towards one group only, while the opinions contained in al-Misbah are broader and do not lean towards one group.
مستخلص البحث
غالبًا ما يختلف تفسير أهل البيت بين العلماء. ويرجع ذلك إلى الاختلافات في كل مترجم على حدة وخلفياتهم. ومن الرسائل التي تتحدث عن أهل البيت سورة الأحزاب الآية 33، حيث اختلف العلماء في هذا التفسير حول من يدخل في أهل البيت من أهل النبي محمد صلى الله عليه وسلم. كما يحدث اختلاف في الحديث عن تطهير أهل البيت من أصحاب الفضائل والاختصاصات، لأن لهم نسبا متصلا بالنبي محمد. يتناول هذا البحث أوجه التشابه والاختلاف بين تفسير الميزان وتفسير المصباح في تفسير أهل البيت في سورة الأحزاب الآية ٣٣ ومزايا ومساوئ تفسير الميزان وتفسير المصباح في التفسير أهل البيت في سورة الأحزاب الآية ٣٣.
هذا البحث هو بحث يستخدم الأساليب النوعية مع نوع البحث المكتبي. ويستخدم المؤلف الدراسات المقارنة كوسيلة لمقارنة التفسيرات بين تفسير الميزان وتفسير المصباح. ثم تم الحصول على البيانات في هذا البحث من المصادر الأولية وهي سورة الأحزاب الآية 33، وتفسير الميزان، وتفسير المصباح. وفي الوقت نفسه، تم الحصول على البيانات الثانوية من الكتب والمقالات والمجلات وغيرها من المصادر الداعمة
وخلاصة هذا البحث أن هناك تشابها في التفسير بين تفسير الميزان وتفسير المصباح، حيث أن الذين يشار إليهم بأهل البيت هم النبي محمد صلى الله عليه وسلم، وعلي بن أبي طالب، وفاطمة، والحسن، والحسين. . ثانياً: هناك اختلافات بين الكتابين، وهي متضمنة أيضاً في المعنى القطعي لأهل البيت ونقطة تطهير أهل البيت.ثالثاً، هناك مزايا ومساوئ ضعف في تفسيرات والمزايا والعيوب الموجودة نجدها في تفسير الميزان الذي يميل إلى جماعة واحدة فقط، في حين أن الآراء الواردة في المصباح أوسع ولا تميل إلى جماعة واحدة
‘Allamah al-Tabataba‘i dan Tafsir al-Mizan Fi Tafsir al-Qur’an : (Suatu Tinjauan Manhaj Tafsir)
‘Allamah Sayyid Muhammad Tabataba‘i adalah seorang ulama tafsir yang memiliki nasab bersambung langsung dengan Nabi Muhammad saw. Lahir di Tabriz pada tahun 1271 H/ 1892 M dan wafat pada bulan November 1981 M di kota Qum. Ia menulis kitab tafsir al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an yang terdiri dari 20 jilid. Sebagai ulama tafsir, ‘Allamah al-Tabataba‘i, menjelaskan bahwa metode menafsirkan Alquran dengan Alquran adalah metode yang ideal. Menurutnya, lewat bukti verbal kita mengetahui bahwa Alquran sendiri mengabsahkan sabda dan penafsiran nabi saw, dan begitu pula nabi saw pun mengabsahkan penafsiran Ahlulbaitnya. Dalam menulis kitab tafsirnya, ia menempuh metode tafsir tahlili dalam menyusun kitab tafsirnya dengan menyajikan corak tafsir yang beragam yang mencakup sejarah, riwayat, irfan, filsafat, fiqhi, bahasa dll.
Analisis al-Mizan al-sarfiy dalam pembentukan kata kerja dan kata nama mushtaq Bahasa Arab / Muhammad bin Idris
Kajian ini dilakukan bertujuan menerangkan ciri-ciri al-Mizan al-sarfiy dalam proses pembentukan kata kerja dan kata nama mushtaq bahasa Arab , dan mengenalpasti bentuk-bentuk persamaan dan perbezaan yang wujud antara wazan ’aÎliy dan kata al-mawzËn serta menganalisis faktor-faktor perubahan morfologi yang berlaku pada struktur kata kerja dan kata nama mushtaq . Oleh itu, Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kajian perpustakaan. Melalui metode ini semua data yang dirujuk dan dikumpulkan berasal dari bahan perpustakaan dan diperolehi dari sumber primer dan sumber sekunder yang berkaitan. Kajian ini mengandungi tujuh bab dan skop kajian adalah tertumpu kepada bentuk-bentuk wazan kata kerja dan kata nama mushtaq serta proses pembentukannya. Hasil kajian yang diperolehi menunjukkan bahawa al-Mizan al-sarfiy merupakan kayu pengukur kepada kesahihan suatu kata dan menjadi mekanisma penting dalam proses pembentukan kata bahasa Arab. Hasil kajian juga membuktikan bahawa sebahagian besar kata kerja dalam bahasa Arab dibentuk melalui kaedah qiyÉs kecuali kata kerja thulÉthiy mujarrad yang dibentuk melalui kaedah samÉ‘iy. Oleh itu, mengaplikasikan al-Mizan al-sarfiy ke atas kata kerja dalam kategori thulÉthiy mujarrad adalah amat sukar dan rumit berbanding kata kerja dalam kategori rubÉ‘iy mujarrad , thulÉthiy mazÊd dan rubÉ‘iy mazÊd. Hasil kajian juga mendapati bahawa bahawa semua subgolongan kata kerja didasarkan kepada bentuk kala lepasnya dan boleh menerima pelbagai variasi pada bentuk dan struktur katanya menyebabkan berlaku perbezaan antara wazan ’aÎliy dan al-mawzËn kata kerja mengikut aras perubahan morfologi. Perbezaan amat ketara pada kata kerja yang susunan hurufnya terdiri daripada huruf ‘illah ( semi vokal ) berbanding huruf ÎaÍÊÍ ( konsonan ). Justeru , kajian ini mencadangkan satu pendekatan alternatif bagi proses pembentukan kata kerja dan kata nama mushtaq seperti menjadikan rumusan-rumusan wazan terakhir sebagai rujukan langsung kepada pembentukan kata kerja dan kata nama mushtaq tanpa melihat kepada aspek perubahan morfologi dan fonologi yang berlaku . Kajian ini diharap dapat memberi sumbangan kepada bidang morfologi bahasa Arab khususnya aspek pembentukan kata kerja dan kata nama mushtaq . Seterusnya diharap dapat menonjolkan al-Mizan al-sarfiy sebagai mekanisma penting dalam kajian pembentukan kata bahasa Arab
Tafsir al-Mizan: Karakteristik dan Corak Tafsir
Tafsir al-Mizan: Karakteristik dan Corak Tafsir Tamrin Tamrin Tamrin
Tafsir Mizan karya Muhammad Thaba’thabai merupakan salah satu tafsir yang kontroversial dan terkadang bahan perdebatan panjang baik dari sisi sumber, corak dan tokoh penafsir sendiri.Mazhab Syiah yang melekat terkadang tidak menjadi penting bagi pembaca, tapi justru dikagumi ketika membaca karya ini.Olehnya latar belakang dan keluasan ilmu dari penafsir, baik aspek teologi keagamaan itu sendiri maupun aspek sosial kemasyarakatan dan pemerintahan, menjadi wujud bukti bahwa tafsir ini sangat layak untuk terus dikaji.Sehingga posisi Alquran wahyuhidai dapat berfungsi secara luas dan tanpa batas batas waktu.Terbuka untuk terus dilakukan pengkajian sesuai tingkat kemampuan dan basis berpikir.
10 16 2019 1 26 10.24239/al-munir.v1i1.21 http://jurnalalmunir.com/index.php/al-munir/article/view/21 http://jurnalalmunir.com/index.php/al-munir/article/download/21/6 http://jurnalalmunir.com/index.php/al-munir/article/download/21/
The Tradition of Istisal (Instant Punishment) and the Ummah of Muhammad (PBUH) (Comparative Analysis of al-Manar and al-Mizan Perspectives)
The purpose of this study is the comparative analysis of the exegetical views in al-Manar and al-Mizan about the tradition of Istisal (instant punishment) in the Ummah of Muhammad (PBUH). In this regard, the present research seeks an answer to the question on whether the tradition of instant punishment can be practiced in the Ummah of Muhammad (PBUH). Therefore, the theoretical principles of the discussion are first mentioned; and then the relationship between the tradition of Istisal and other divine traditions such as Imhal (giving opportunity to the wrongdoer), sending prophets, and repentance are explained. Afterwards, by classifying verses on the tradition of Istisal, the viewpoints in the exegetical books al-Manar and al-Mizan are comparatively analyzed. The results of this comparative analysis show that there is disagreement between Allameh Tabatabaii and Rashid Riza on the interpretation of the verses about Istisal tradition. According to the views of Allameh Tabatabaii, the tradition of Istisal is viable in the Ummah of Muhammad, while form the standpoint of Rashid Riza and other renown commentators, it is not possible due to some reasons. In conclusion, the two aforementioned arguments reach one common result, that is to say, Istisal or instant punishment cannot be practiced in the Ummah of Muhammad. Received: 3/10/2018 | Accepted: 22/4/201
PENAFSIRAN MUHAMMAD HUSAIN AT-TABATABA’I TERHADAP SURAT AL-AHZAB AYAT 56 (KAJIAN KITAB TAFSIR AL-MIZAN FI TAFSIR AL-QUR’AN)
Sebagai sebuah kitab pedoman, kitab al-Qur’an senantiasa menyuguhkan
sebuah petunjuk dan arahan kepada umat Islam dalam menyikapi kehidupan.
Petunjuk itu terkadang berupa kisah, perintah, mau’idhah hasanah, dan dalam
petunjuk-petunjuk lainnya. Lantaran penyampaiannya diamanatkan kepada utusan
terakhir-Nya, yakni Nabi Muhammad saw. Sebagai seorang pemuka umat Islam,
perjuangan beliau yang telah mampu mengenalkan Islam dan menyiarkannya
hingga saat ini, patut mendapat penghargaan yang tak terhingga. Tidak jarang
Allah dalam firman-Nya memberikan penghargaan yang ditujukan kepada beliau,
disamping mengisahkan dan memberikan pengahargaan juga terhadap perjuangan
nabi-nabi sebelumnya.
Terdapat satu ayat yang unik yang ditujukan kepada Nabi Muhammad dan
tidak ada diantara ayat-ayat lain yang serupa yang ditujukan kepada selain Nabi
Muhammad. Yakni, surat al-Ahzab ayat 56. Di kalangan Sunni ayat ini begitu
populer sebagai dalil atas setiap kegiatan bershalawat. Di kalangan ulama sendiri
tidak ada pertentangan mengenai makna umum ayat ini. Semua sepakat, bahwa
ayat ini merupakan ayat yang menunjukkan perintah bershalawat kepada Nabi
Muhammad saw. Untuk mengetahui pandangan yang berbeda pada kajian ini
akan diarahkan pada penafasiran Muhammad Husain at-Tabataba’i yang
merupakan salah satu tokoh terkemuka di kalangan Syi’ah, terhadap surat al-
Ahzab ayat 56 melalui kajian dalam salah satu kitab monumentalnya, yakni kitab
tafsir al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an. Kitab al-Mizan terdiri dari 20 jilid. Dalam
pembahasannya kitab ini merupakan kitab yang menghindari akan
pembabahasan-pembahasan hukum. Sedangkan ayat ini merupakan ayat perintah
yang identik dengan hukum. Sehingga dirasa menjadi menarik melakukan kajian
dengan kitab ini.
Ada beberapa hal terkait dengan hasil penelitian ini. Pertama, sebagai
kitab yang menghidari pembahasan-pembahasan hukum, Tabataba’i memberikan
penafsiran terhadap ayat ini dengan begitu sederhana yang menyatakan, ayat ini
merupakan ayat yang memerintahkan secara tegas kepada umat mukmin untuk
bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. Kedua, terkait kekurangan dan
kelebihannya, dalam menafsirkan beliau memiliki metode yang unik. Di sisi lain
menggunakan metode tahlili, beliau juga menggunkan metode maudu’i. Beliau
juga menyisipkan riwayat-riwayat bil ma’tsur serta mengambil riwayat tidak
hanya dari kalangannya sendiri. Namun, sebagai kitab yang terdiri dari 20 jilid,
penafsiran terhadap surat al-Ahzab ayat 56 tergolong minim dan kurang luas
pembahasannya. Selain itu, meskipun beliau mencoba melepaskan diri dari
belenggu fanatisme madzhab, namun kecenderungan beliau terhadap riwayat
Ahlul Bait juga masih begitu nampak. Sehingga belum bisa dikatakan sebagai
tafsir yang obyektif
- …
