1,721,214 research outputs found
BAHAYA LATEN MATERIALISME-HISTORIS DALAM PEMIKIRAN KH. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI
Kajian pemikiran KH. Muhammad Hasyim Asy‟ari sebagai pemikir Islam dari Indonesia terus menarik untuk ditelusuri oleh para peneliti. Kajian tentang pemikirannya telah banyak menemukan tema yang menarik dan masih relevan sampai sekarang. Kapasitas dia sebagai ulama di Indonesia ketika berbicara mengenai kondisi dan situasi umat Islam di Indonesia tentu bukan sesuatu yang mengejutkan. Tetapi kapasitas dia sebagai ulama dan pemikir Islam ketika berbicara tentang penyebaran pemikiran materialisme-historis yang dinilai merupakan sebuah bahaya laten tentu perlu ditelusuri dan dikaji secara konferhensif. Pemikiran tersebut tercermin dalam khotbah „iftitah pembukaan muktamar Nahdlatul Ulama ke-17 di Madiun tahun 1947 M. Berangkat dari pemikirn tersebut, penelitian ini dilaksanakan untuk mengungkapkan pemikiran KH. Muhammad Hasyim Asy‟ari tentang materialisme-historis di Indonesia. Pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah mengapa KH. Muhammad Hasyim Asy‟ari mengungkapkan pemikiran tantang materialisme-historis?.
Penelitian ini adalah penelitian sejarah kajian pustaka, maka sumber-sumber buku, jurnal-jurnal, artikel dan karya lainnya yang membahas mengenai KH. Muhammad Hasyim Asy‟ari menjadi referensi utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan biografi dan hermeneutika. Teori yang dipakai adalah teori kuntowijoyo tentang sejarah pemikiran. Metode penelitian yang dipakai oleh peneliti adalah metode penelitian sejarah, yaitu: heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.
Hasil penelitian ini adalah bentuk respon KH. Muhammad Hasyim Asy‟ari terhadap kehadiran pemikiran materialisme-historis secara epistimologi adalah pemikiran yang menolak metafisika. Dia mendeskripsikan bahwa pemikiran ini adalah sebuah bahaya laten. Pertama, dalam bidang keagamaan pemikiran ini menurutnya menggiring umat Islam kepada kekufuran dan pengingkaran kepada Allah swt. Kedua, kehidupan politik, berbangsa dan bernegara dia mendeskripsikan pemikiran ini bertentangan dengan empat pilar kebangsaan Indonesia, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Pemikiran ini secara politik mengedepankan kekuasaan yang dibangun atas dasar material dan menolak segala kekuatan metafisika dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai cita-cita komunis. Sosialisasi pemikiran KH. Muhammad Hasyim Asy‟ari terlaksana melalui muktamar Nahdlatul Ulama ke-17 di Madiun tahun 1947 M dan respon terhadap pemikiran KH. Muhammad Hasyim Asy‟ari terlihat dari tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama dan tokoh-tokoh Partai Masyumi yang memiliki pendapat yang sama dengan pemikiran tersebut bahwa materialisme-historis
Metode Syarah hadis dalam Kitab Adabul 'Alim Wal Muta'allim karya KH. Muhammad Hasyim Asy'ari
Salah satu kitab karya KH. Muhammad Hasyim Asy'ari yang sangat terkenal adalah kitab "Adabul Alim Wal Muta'allim". Kitab ini sangat populer dan sering dikaji di berbagai pesantren di seluruh Nusantara, zkarena isinya yang mendalam tentang adab dan etika antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Latar belakang dari penelitian ini adalah adanya penggunaan syarah hadis dalam kitab "Adabul Alim Wal Muta'allim", yang menarik untuk diteliti lebih lanjut guna memahami metode dan pendekatan yang digunakan oleh penulis dalam menjelaskan hadis-hadis tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara mendalam metodologi syarah hadis dalam kitab "Adabul Alim Wal Muta'allim", baik dari segi sistematika penulisan kitab maupun metode syarah hadis yang diterapkan oleh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan ilmu hadis menggunakan metode deskriptif analitik, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis metode syarah hadis secara komprehensif. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah kitab "Adabul Alim Wal Muta'allim" karya KH. Muhammad Hasyim Asy'ari, yang menjadi fokus utama analisis. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan sumber data sekunder, yang meliputi literatur-literatur pendukung seperti buku-buku tentang ilmu hadis, karya-karya keilmuan umum, serta berbagai karya tulis ilmiah termasuk skripsi, tesis, disertasi, dan artikel jurnal yang relevan dengan topik penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, yang memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan dan mengkaji berbagai sumber secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mensyarah hadis, KH. Muhammad Hasyim Asy'ari menggunakan metode syarah ijmali, yaitu metode penjelasan hadis secara singkat dan global tanpa uraian yang panjang lebar. Metode ini diterapkan dengan tujuan agar penjelasan hadis mudah dipahami oleh berbagai kalangan, baik masyarakat awam maupun intelektual. Eksistensi hadis dalam kitab "Adabul Alim Wal Muta'allim" sebagian besar merupakan terjemahan dari hadis-hadis tanpa penjelasan yang terlalu mendalam, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami makna inti dari hadis tersebut. Hal ini menunjukkan keahlian KH. Muhammad Hasyim Asy'ari dalam menyampaikan ilmu dengan cara yang sederhana namun tetap kaya akan makna
PEMIKIRAN PENDIDIKAN K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY'ARI
Sebagai intelektual muslim, K.H Muhammad Hasyim Asy'ari mempresentasikan hasil refleksinya tentang berbagai aspek kehidupan, khususnya di bidang agama, termasuk refleksi di bidang pendidikan. Sistem pendidikan diterapkan oleh K.H. Hasyim Ash'ari didasarkan pada Alquran sebagai paradigma, karena didasarkan pada wahyu Tuhan bahwa sistem pendidikan lengkap didirikan yang mencakup tiga aspek kognitif, emosional dan psikomotorik. Nilai-nilai yang berbeda harus dikembangkan dalam pengelolaan sistem pendidikan Islam, khususnya: nilai-nilai teosentris, nilai-nilai sukarela dan saleh, nilai-nilai kebijaksanaan, nilai-nilai kesederhanaan, nilai-nilai solidaritas, restu dari para pemimpin (kyai
Konsep pendidikan akhlak perspektif K.H. Muhammad Hasyim Asy`ari
ABSTRAK
Ihsan dalam arti akhlak mulia atau pendidikan ke arah akhlak mulia sebagai puncak keagamaan dapat dipahami juga dari beberapa hadits terkenal seperti “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran akhlak dan sabda Beliau lagi bahwa yang paling memasukkan orang ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran akhlak”.
Sesungguhnya makna-makna di atas itu tidak berbeda jauh dari yang secara umum dipahami oleh orang-orang muslim, yaitu bahwa dimensi vertical pandangan hidup kita (iman dan taqwa “habl min al-Lah”, dilambangkan oleh takbir pertama atau takbirat al-Ihram dalam shalat) selalu, dan seharusnya, melahirkan dimensi horizontal pandangan hidup kita (amal salih, akhlaq mulia, habl min al-nas, dilambangkan oleh ucapan salam atau taslim pada akhir shalat). Jadi makna-makna tersebut sangat sejalan dengan pengertian umum tentang keagamaan. Maka sebenarnya di sini hanya dibuat penjabaran sedikit lebih mendalam dan penegasan sedikit lebih kuat terhadap makna-makna umum itu.
Berpijak dari latar belakang diatas, maka permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep pendidikan akhlak perspektif K.H. Muhammad Hasyim Asy‟ari. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep-konsep pendidikan akhlak perspektif K.H. Muhammad Hasyim Asy‟ari.
Penelitian yang penulis lakukan ini adalah termasuk dalam penelitian library research dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif analisis kritis. Dan agar penelitian berjalan dengan baik, maka dalam pengumpulan datanya, penulis menggunakan metode dokumentasi. Sedangkan untuk menganalisisnya, penulis menggunakan teknik analisis isi (content analysis).
Hasil penelitian yang penulis lakukan, dapat disampaikan disini bahwa konsep pendidikan akhlak perspektif K.H. Muhammad Hasyim Asy‟ari dalam menanamkan nilai-nilai moral pada peserta didik terdiri dari beberapa komponen, yaitu: Belajar merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah. Belajar harus diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan hanya untuk sekedar menghilangkan kebodohan. Pendidikan hendaknya mampu menghantarkan umat manusia menuju kemaslahatan, menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, hal mendasar yang harus dikembangkan dalam pendidikan adalah masalah adab ilmu. Ilmu yang baik akan lahir dari ketaatan semua, guru dan murid, terhadap adab-adab ilmu ini. Jadi, proses pembelajaran dan pendidikan bukan semata transfer ilmu, melainkan sebuah usaha melahirkan manusia-manusia beradab (ta‟dîb). Manusia beradab adalah manusia yang berilmu tinggi sekaligus takut pada Allah Subhanahu Wa Ta‟ala. Mendidik dengan menggunakan metode- metode yang relevan dengan pendidikan tradisional yaitu sorogan, bandongan, muhawarah, dan mudzakarah. Materi pendidikan akhlak dapat diambil dari al- Qur‟an, al-Hadits dan juga kitab-kitab klasik yang telah diverifikasi oleh K.H. Hasyim Asy‟ari. Lingkungan pendidikan akhlak yaitu: keluarga dan pondok pesantren.
Dari kesimpulan yang telah diuraikan diatas, perlu kiranya penulis memberikan sumbangan pemikiran berupa saran-saran antara lain, pendidikan akhlak menurut K.H. Hasyim Asy‟ari memiliki maksud dan tujuan yang mulia, dan tetap relevan hingga saat ini, ditengah degradasi moral yang melanda bangsa ini. Konsep pendidikan akhlak tersebut perlu diterapkan sebagai usaha dalam memperbaiki moral bangsa saat ini. Dan sebagai seorang pendidik hendaknya dapat menjadi uswah hasanah bagi peserta didiknya.
ABSTRAK
The meaning Ihsan in noble character or education toward noble character as top of religiousness can be understanding from some popular hadith like “In the truth I was delegated just to completely all of nobleness of character, and the other utterance of prophet that the most thing make human put into heaven is godfearing to Allah and nobleness of character”
Actually, the purpose above not different from the common that muslim can be understand, that is vertical dimension about point of view in our life (faith and godfearing “habl min Allah”, symbolized with first recitation of laudation (at opening of prayers) always and be supposed, think out horizontal dimension about point of view in our life (good deeds, noble character, “habl min al-nas”, symbolized with say salam or taslim in the end of pray). Thus meanings are very much in line with the common understanding of religion. So here is actually just made the translation a little bit deeper and stronger affirmation of the common meanings.
Base of the background above, the issues to be answered in this study is how the concept of character education perspective K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari. The purpose of this study was to determine the concepts of character education perspective K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari.
Research by the author are included in the library research using a qualitative descriptive approach to critical analysis. In order that the research behave right, to collect the data, the author uses the method of documentation. Whereas for analyzing them, the authors use content analysis techniques.
The results of research by the author, can be submitted that the concept of
character education perspective K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari in instilling character values in students consists of several components, namely: Learning is worship for the sake of Allah. Learning must be intended to develop and preserve the Islamic values, not just to eliminate ignorance. Education should be able to deliver to the benefit of mankind, to the happiness of the world and the hereafter, basic things that should be developed in education is a science of manners. Good science will be born of all obedience, teachers and students, to the civilized manners of this science. Thus, the learning and education is not simply a transfer of knowledge, but rather an attempt delivery of civilized human beings (ta'dib). Civilized man is a man of high knowledge and fear on the Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Educate by using the relevant methods with traditional education is sorogan, bandongan, muhawarah, and mudzakarah. Character education materials can be taken from al-Qur'an, al-Hadith, as well as classic books that have been verified by K.H. Hasyim Asy'ari. Character education environment are: family and boarding school.
The conclusions described above, we should bear the thought of authors to contribute suggestions, among others, character education by K.H. Hashim Ash'ari has noble aims and objectives, and remain relevant to the present, amid the character degradation that swept this nation. The concept of character education needs to be implemented in an effort to improve the character nation today. And as an educator should be a uswah hasanah for learners
Sufism from the Perspective of Hadratus Syaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy\u27ari and Its Relation to Islamic Psychology
Gerakan pembaruan atau modernisasi telah mengantarkan umat Muslim untuk perlahan meninggalkan ajaran murni agama Islam yang diajarkan seperti ilmu Tasawuf. Ajaran Islam klasik dirasa telah kuno dan ketinggalan zaman. Padahal, dengan meninggalkan ajaran-ajaran murni Islam, hanya akan membuat kaum Muslim semakin tertinggal dan tidak mengenal jati dirinya sendiri. Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari merupakan salah satu ‘Ulama’ yang menentang gerakan Modernisasi ini melalui pendidikan Tasawuf yang ia ajarkan. Hadratus Syaikh menuliskan konsep-konsep dasar ilmu Tasawuf dalam kitabnya, seperti Adāb al-‘Ālim wa al-Muta’alim, Haẓihi ar-Risālah Jāmi’at al-Maqāṣid, Risālah ad-Durar al-Muntaṡiroh fī al-Masāil at-Tis’a ‘Asyrah, Tamyīz al-Ḥaq min al-Bāṭil, Risālah fī at-Taṣawuf. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang mengkaji lima kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pendidikan Tasawuf Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asyari merupakan Tasawuf Sunni atau Akhlaki yang menggunakan ajaran Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) dan Tarbiyah Ruhaniyah (pendidikan spiritual). Maka, hasilnya adalah keseimbangan antara spiritual dan ritualnya. Konsep pendidikan Tasawuf ini, perlu diajarkan di setiap lembaga pendidikan untuk membentuk karakter siswa, sehingga ajaran ini sangat relevan dengan pendidikan masa kini yang memulai adanya pendidikan karakter.
Kata Kunci: Tasawuf, Pendidikan, Hasyim Asy’ariThe reform or modernization movement has gradually led the Muslim community to depart from the pure teachings of the religion of Islam, such as the knowledge of Sufism. Classical Islamic teachings are perceived as outdated and antiquated. However, by abandoning the pure teachings of Islam, the Muslim community will only become more left behind and lose touch with their own identity. Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy\u27ari was one of the scholars who opposed this modernization movement through the Sufi education he taught. Hadratus Syaikh wrote the basic concepts of Sufi knowledge in his books, such as Adāb al-\u27Ālim wa al-Muta\u27alim, Haẓihi ar-Risālah Jāmi\u27at al-Maqāṣid, Risālah ad-Durar al-Muntaṡiroh fī al-Masāil at-Tis\u27a \u27Asyrah, Tamyīz al-Ḥaq min al-Bāṭil, and Risālah fī at-Taṣawuf. This research is a literature study that examines five books written by Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy\u27ari. The research findings reveal that the Sufi education of Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy\u27ari represents Sunni or Ethical Sufism, which utilizes the teachings of Tazkiyatun Nafs (purification of the soul) and Tarbiyah Ruhaniyah (spiritual education). The result is a balance between the spiritual and the ritual aspects. This concept of Sufi education needs to be taught in every educational institution to shape the character of students, as it is highly relevant to the current era of character education.
Keywords: Sufism, Education, Hasyim Asy\u27ar
PEMIKIRAN KYAI HAJI MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI DALAM KITAB ADABUL ‘ALIM WAL MUTA’ALIM TENTANG ETIKA GURU DAN MURID DALAM PEMBELAJARAN DI PONDOK PESANTREN
DANIYANTO : Pemikiran Kyai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari
NIM (1410110042) dalam kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’alim tentang
Etika Guru dan Murid dalam Pembelajaran di
Pondok Pesantren
Kyai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari adalah seorang ulama yang
mempunyai perhatian khusus terhadap masalah pendidikan islam terutama
pendidikan etika (moral), konsep sentral beliau adalah menanamkan kebiasaan
yang baik dari setiap aktivitas belajar dan mengajar pada guru dan murid dalam
pengertian yang umum bahwa belajar harus diniati dengan ibadah dan dalam
rangka membentuk akhlakul karimah yang merupakan kewajiban dari setiap
pendidik dan peserta didik supaya menjadikan dirinya menjadi pribadi yang baik
serta semata-mata hanya mengharapkan ridho dari Allah SWT.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh penjelasan tentang
Biografi Kyai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari dan pemikiran tentang etika guru
dan murid serta implementasi pemikiran Kyai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari
terhadap pendidikan kontemporer.
Penelitian ini bertitik tolak dari pemikiran bahwa dalam proses belajar
mengajar guru dan murid dianggap tidak bermuatan etika baik bagi guru maupun
murid padahal guru merupakan faktor penentu keberhasilan pembelajaran.
Berdasarkan persoalan ini penulis memberikan perhatian khusus pada etika gurumurid
dan penerapannya dalam pendidikan di pondok pesantren yang dirumuskan
dalam karya beliau Adabul ‘alim Muta’allim, sehingga kajian teks ini dapat
dipandang sebagai usaha yang efektif untuk mengkaji secara langsung tentang
etika guru-murid yang dirumuskan dalam kitab tersebut dan bagaimana
penerapannya dalam pendidikan di pondok pesantren.
Langkah-langkah penelitian yang ditempuh penulis dalam penelitian ini
adalah identifikasi pandangan Kyai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari tentang
pendidikan etika guru dan murid dengan melakukan kategori analisa terhadap data
primer.
Kesimpulan penelitian ini adalah analisa pandangan pemikiran Kyai Haji
Muhammad Hasyim Asy’ari tentang etika guru dan murid dalam pembelajaran di
pondok pesantren, Implementasi pemikiran Kyai Haji Muhammad Hasyim
Asy’ari terhadap pendidikan kontemporer adalah upaya memanusiakan manusia
secara utuh, sehingga manusia bisa taqwa kepada Allah SWT dan mengamalkan
segala perintahnya, sehingga pantas mendapatkan predikat makhluk yang lebih
tinggi derajatnya dari makhluk lainya. Pemikiran pendidikan Kyai Haji Hasyim
Asy’ari senantiasa mendasarkan pada nilai moral dan etika serta Konsisten
mengacu pada rujukan Al-Qur’an dan Al-Hadist, dan cenderung mengacu pada
madzhab Imam syafi’i
Kontribusi Hadratussyeikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Pergerakan Nasional di Indonesia tahun 1908-1947 M
Hadratussyeikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari adalah salah satu tokoh Islam yang memiliki kontribusi signifikan dengan menyumbangkan ide-ide yang mempengaruhi isi dan bentuk hukum nasional dari perspektif Islam, itulah sebabnya ia diakui sebagai pahlawan nasional religius. Secara umum, penilitian ini mencakup bentuk dan sikap nasionalisme Hadratussyeikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari, serta partisipasinya dalam perjuangan nasional Indonesia dari tahun 1908 hingga 1947. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, melalui empat tahap kerja yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sebagai bahan rujukan, penelitian ini menggunakan sumber primer dan sekunder. Sumber primer yang digunakan adalah karya-karya tulis yang ditulis pada masanya, dan beberapa arsip yang mendokumentasikan peristiwa yang berkaitan dengan penelitian ini. Sementara sumber sekunder berupa buku, jurnal, skripsi dan karya ilmiah lainya. Hadratussyeikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari lahir pada tanggal 14 Februari 1871 M di Gedang, Jombang. Seorang pemimpin ummat Islam sekaligus pejuang nasional. Pertama, dia mendirikan pesantren Tebuireng terlebih dahulu sebagai alat untuk mentranformasikan pemikirannya. Kedua, ia mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama sebagai wadah persatuan umat Islam tradisional. Ketiga, dalam hal politik, Hadratussyeikh berperan penting dalam partai-partai Islam seperti MIAI dan Masyumi. Dan keempat, ia juga diangkat sebagai kepala Kantor Urusan Agama “shumubu.” Sikap politik non-kooperatif dan perlawanan Hadratussyeikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari kepada pemerintah kolonial menjadi bagian dari nasionalismenya. Pada masa kolonial Belanda, ia mengeluarkan beberapa fatwa diantaranya bahwa pertama, dalam pertempuran melawan kolonial Belanda, bagi umat muslim Indonesia hukumnya wajib, kedua, dalam urusan haji, ia melarang umat Islam berangkat ke Mekkah dengan menggunakan kapal-kapal Belanda, ketiga larangan bagi umat Islam, mengenakan pakaian yang memiliki karakteristik seperti penjajah, keempat larangan mendonorkan darah (bloedtranfusion), dan kelima Menolak pemberlakuan Ordonansi Milisi Bumiputra. Adapun pada masa kolonial Jepang, Hadratussyeikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari dengan tegas menolak upacara seikerei. Sedangkan pada masa perjuangan kemerdekaan, Fatwa Resolusi Jihad yang diucapkannya mampu menjadi pemicu gelora semangat perjuangan ummat dalam pertempuran 10 November di Surabaya
REVOLUSI PEMIKIRAN K.H MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI: MENGUBAH PARADIGMA TRADISIONAL DAN MENYONGSONG ERA MODERNITAS
K.H Muhammad Hasyim Asy’ari adalah salah satu cendekiawan muslim dan mujaddid yang berasal dari Indonesia, beliau memainkan peran penting dalam pembentukan intelektual muslim di indonesia pada awalan abad ke 20. K.H Muhammad Hayim Asy’ari berkontribusi penting dalam upaya mendamaikan ajaran Islam tradisional dengan Modernitas. Dahulu, Islam diajarkan dan dipraktikan dengan cara-cara tradisional, dan orang-orang pada saat itu ragu untuk merangkul modernitas karena takut kehilangan identitas dan kebudayaan meraka. Reformasi yang digaungkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini bukan tanpa kontroversi, karena ada sebagian yang menganggap bahwa K.H Muhammad Hasyim Asy’ari telah menyimpang dari Islam tradisional. Namun dunia modern ini nampaknya ada bibit-bibit ancaman terhadap nilai luhur manusia, spiritualitas dan agama. Fenomena saintisme dunia barat misalnya, yang dipertontonkan kepada kita bahwa ilmu menjadi ideologi baru bahkan agama baru (preudi religion). Maka signifikansi peran agama dalam menjawab tantangan modernitas, merupakan suatu hal yang sangat penting, karena persoalan hidup dan kehidupan manusia semakin kompleks. Adapaun metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan (library research). Metode ini merupakan metode pengumpulan data dengan cara memahami dan mempelajari teori-teori yang ditemukan, tentunya dari berbagai literatur yang ada hubungannya dengan penelitian
sj-docx-2-sgo-10.1177_21582440231209634 – Supplemental material for Ritual Performance as Gradual Recognition: Sere Bissu Maggiriq Dance of South Sulawesi Indonesia
Supplemental material, sj-docx-2-sgo-10.1177_21582440231209634 for Ritual Performance as Gradual Recognition: Sere Bissu Maggiriq Dance of South Sulawesi Indonesia by Andi Muhammad Akhmar, Harry Isra Muhammad, Muhammad Hasyim and Fathu Rahman in SAGE Open</p
sj-docx-1-sgo-10.1177_21582440231209634 – Supplemental material for Ritual Performance as Gradual Recognition: Sere Bissu Maggiriq Dance of South Sulawesi Indonesia
Supplemental material, sj-docx-1-sgo-10.1177_21582440231209634 for Ritual Performance as Gradual Recognition: Sere Bissu Maggiriq Dance of South Sulawesi Indonesia by Andi Muhammad Akhmar, Harry Isra Muhammad, Muhammad Hasyim and Fathu Rahman in SAGE Open</p
- …
